Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

TEKNIK INSTRUMENTASI HERNIA
INGUINALIS

Di Susun Oleh :
Kelompok 1
1. Islina sari Frianti
1501410001
2. Cristoforus Frumensius Pay
1501410002
3. Reni Julianita
1501410005
4. Siti Umayah
1501410009
5. Maria Dianisa Tasmi Hau
1501410016
6. Muhammad Panji As`ari
1501410018
7. Intan Riski Andini
1501410024
8. Avrizal Pahlevi
9. Risa Dya Pratiwi
1501410032

NIM
NIM
NIM
NIM
NIM
NIM
NIM
NIM 1501410028
NIM

10.
Mikhael Waton Runtu
1501410036

NIM

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D IV KEPERAWATAN MALANG
2015
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah
yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga makalah teknik
instrumentasi hernia inguinalis ini dapat diselesaikan dan disusun dengan
baik.
Makalah ini kami susun untuk memahami bagaimana penerapan
teknik insrumentasi hernia inguinalis di kamar operasi.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu kami mengharap masukan berupa kritik dan saran yang
bersifat membangun, demi kelengkapan makalah kami.
Kami berharap, dengan makalah ini dapat menjadikan peningkatan
dalam proses belajar kami dalam mata kuliah keperawatan perioperatif.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan
pembaca pada umumnya.

Penyusun

....................................................................................................................................................... ........ G......................................................................................................................................................................................................................... ...................................................................................................................................... B....... .................. TEHNIK INSTRUMENTASI........................................... ...................................... REGIO......................................... . .......... ... E............... C................................ BAB II PEMBAHASAN ...... KLASIFIKASI............................................... ETIOLOGI............................. KOMPLIKASI......i Daftar isi................................... BAB III DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................... ......................... ...... ....................ii BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... GAMBARAN KLINIK......................................................................................................................................................................................................... H.Daftar Isi Kata pengantar............. .............. PENATALAKSANAAN...................................................... DIAGNOSIS.......................... ........................................ D......... PENGERTIAN....... F......................................................... ............................................... ....... A................. I......

Pada hernia abdomen. hernia dibagi atas hernia bawaan atau kongenital dan hernia dapatan atau akuisita. Hernia terdiri dari cincin. isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Berdasarkan terjadinya. kantong dan isi hernia. .ii BAB I PENDAHULUAN Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.

tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai hernia strangulata. Hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk. atau hernia strangulata (tercekik). Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap.Femoral. Pada keadaan sebenarnya gangguan vaskularisasi telah terjadi pada saat jepitan dimulai. hernia dapat disebut hernia reponibel dan hernia ireponibel.Hernia diberi nama Umbilikal. disebut hernia inkarserata (terperangkap). Usus keluar jika posisi pasien berdiri dan masuk lagi jika posisi pasien berbaring atau bila isi hernia didorong masuk. Dikatakan hernia ireponibel bila isi kantong hernia tidak bisa dikembalikan kedalam rongga peritoneum. Nama yang lazim dipakai adalah hernia strangulata walaupun tidak ada gejala dan tanda strangulasi. Hernia ini disebut akreta (perlekatan karena fibrosis) bila tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus. tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. berdasarkan letaknya. Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. misalnya Inguinal. Menurut sifatnya. . Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia. dll.

Operasi darurat untuk hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor dua setelah operasi darurat untuk appendisitis. Gambaran klinik hernia Jenis Reponibel / bebas Ireponibel / akreta Inkarserasi Strangulasi Reponibel + - Nyeri + ++ Obstruk si + + Sakit Toksik + ++ ++ Jika yang mengalami strangulasi hanya sebagian dinding usus disebut Hernia Richter (Ahli Bedah Jerman). Selain itu hernia inkarserata merupakan penyebab obstruksi usus nomor satu di Indonesia. Biasanya pasase usus masih .

ada. mungkin terganggu karena usus terlipat sehingga disertai obstruksi usus. Hernia interna adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lobang dalam rongga perut seperti foramen Winslow. Kalau kantong suatu hernia menonjol kedalam celah antara lapisan dinding perut dinamakan hernia interparietalis atau hernia interstisialis. pinggang atau peritoneum. ancaman akan terjadi) merupakan hernia indirek yang berada di kanalis inguinalis yang ujungnya tidak keluar dari anulus eksternus. Hernia insipiens (memulai. resesus retrosekalis atau defek dapatan pada mesenterium. . misalnya setelah anastomosis usus. Hernia eksterna adalah hernia yang menonjol keluar melalui dinding perut.

. 5% ialah femoral dan 3% adalah umbilikalis. dan 25% langsung. Hernia ventralis membentuk 10% dari semua hernia. 1987).Hernia indirek Hernia interstisialis Sebagian besar hernia terjadi di kanalis inguinalis : 50% bersifat tidak langsung. Sisanya adalah jenis hernia yang jarang terjadi ( Kortz & Sabiston.

BAB II PEMBAHASAN HERNIA INGUINALIS A. Atapnya adalah apponeurosis muskulus oblikus eksternus. Kanal berisi tali sperma pada pria. dan didasarnya terdapat ligamentum inguinale.bagian trerbuka dari apponeurosis muskulus oblikus eksternus. REGIO HERNIA INGUINALIS Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan apponeurosis muskulus transversus abdominis. Di medial bawah. PENGERTIAN Hernia inguinalis merupakan suatu kondisi keluarnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui suatu defek pada area inguinal. diatas tuberkulum pubikum. kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus. dan ligamentum rotundum pada wanita. B. .

C. KLASIFIKASI .

.1. pembuluh epigastrika inferior dibagian lateral dan tepi otot rektus dibagian medial. sekitar kanalis inguinalis. daerah yang dibatasi oleh ligamentum inguinale dibagian inferior. menonjol langsung kedepan melalui segitiga Hesselbach (Ahli Ilmu Anatomi. dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimomedial. Jerman). tonjolan akan sampai ke skrotum. Hernia Inguinalis Indirek Disebut juga Hernia Inguinalis Lateralis. karena keluar dari rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior. serta sensibilitas kulit regio inguinalis. Dasar segitiga Hesselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat oleh serat apponeurosis muskulus transversus abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjadi lemah. kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. Nervus ilioinguinal dan nervus iliofemoralis mempersarafi otot di regio inguinalis. Hernia Inguinalis Direk Disebut juga Hernia Inguinalis Medialis.dan tali sperma. karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke skrotum. ini disebut hernia skrotalis. Hernia medialis. 2. Apabila hernia ini berlanjut. skrotum. umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin cincin hernia longgar.

Lebih banyak pada pria daripada pada wanita. Disamping itu diperlukan juga faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut. yaitu kanalis inguinalis yang .D. Pada orang yang sehat ada tiga mekanismne yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis. ETIOLOGI Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Hernia dapat dijumpai pada semua usia.

Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka. sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%. abdominis yang adanya struktur menutup muskulus anulus oblikus inguinalis internus internus ketika berkontraksi. kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. konstipasi dan asites sering disertai hernia inguinalis. Insidens hernia meningkat denagn bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik. Pada anak dengan hernia unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo. dan adanya fasia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hesselbach yang Gangguan pada mekanisme umumnya hampir tidak berotot. bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Tidak sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan nervus iliofemoralis setelah appendiktomi.berjalan miring. peninggian tekanan didalam rongga perut. . Pada neonatus kurang lebih 90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur 1 tahun sekitar 30% prosesus vaginalis belum tertutup. hipertrofi prostat. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Umumnya disimpulkan bahwa adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar.. ini dapat menyebabkan terjadinya hernia. Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis.

E. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking. bersin atau mengedan dan menghilang setelah berbaring. Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. berarti hernia inguinalis lateralis. batuk. omentum (seperti karet). Keluhan nyeri jarang dijumpai. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera. pada palpasi mungkin teraba usus. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri. pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. DIAGNOSIS Diagnosis dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia.Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis. atau ovarium. dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren. kalau ada biasanya dirasakan didaerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. . Kalau kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya. pasien diminta mengedan. tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Pada inspeksi saat pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat biasanya terdiri dari ovarium. Kalau hernia menyentuh ujung jari. Dalam hal hernia dapat direposisi. Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. pada waktu jari masih berada didalam anulus eksternus.

Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan atau keadaan asimetri dapat dilihat. Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan sebagian kolon asendens. dan kadangkadang perut kembung. kadang cincin hernia dapat diraba berupa anulus inguinalis yang melebar. batuk. diraba konsistensinya dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat direposisi. atau mengengkat beban berat. Pada bayi dan anak. F. . Hernia insipien berupa hernia membakat apabila tonjolan hanya dapat dirasakan menyentuh ujung jari didalam kanalis inguinalis tetapi tidak keluar. batuk atau mengedan. akan tampak tonjolan berbentuk lonjong sedangkan pada hernia medialis berbentuk tonjolan bulat. Palpasi dapat dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia. kadang didapatkan tanda sarung tangan sutera. Dalam hal ini perlu dilakukan palpasi tali sperma dengan membandingkan yang kiri dan yang kanan. Hernia geser dapat terjadi disebelah kana atau kiri. Pada bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipat paha biasanya diketahui oleh orangtua. banyak menangis. skrotum atau labia dalam posisi berdiri dan berbaring. sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens. hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum.Pada pemeriksaan hernia lateralis. Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak-anak. GAMBARAN KLINIK Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan dilipat paha yang timbul pada waktu mengedan. dan menghilang waktu istirahat baring. Pada inspeksi diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi lipat paha. harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi sering gelisah. Pada bayi dan anak-anak kadang tidak terlihat adanya benjolan pada waktu menangis.

dan sampai sekarang masih merupakan operasi baku. Dalam hal ini diperlukan hernioplastik yang dilakukan secara cermat dan teliti. Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. prolene mesh. Hernioplastik lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dengan herniotomi. Metode Bassini merupakan tehnik herniorafi yang pertama dipublikasi tahun 1887. dan menjahitkan pertemuan muskulus transversus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale Poupart menurut metode Bassini (ahli bedah. Kadang ditemuakan insufisiensi dinding belakang kanalis inguinalis dengan hernia inguinalis medialis besar yang biasanya bilateral. menutup dan memperkuat fascia transversa. hanya dilakukan herniotomi tanpa hernioplastik. Dikenal sebagai metode hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan herniorrafi / hernioplastik. atau menjahitkan fascia transversa. Pada hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Namun ahli bedah harus memilih dan memodifikasi tehnik mana yang akan dipakai sesuai dengan temuan pada operasi dan patogenesis hernia menurut usia dan keadaan penderita. kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan kemudian direposisi.G.Italia). Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Tidak satupun tehnik yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi residi. atau marleks untuk menutup defek. Pada bayi dan anak-anak dengan hernia kongenital lateral yang faktor penyebabnya adalah adanya prosesus vaginalis yang tidak menutup sedangkan anulus inguinalis internus cukup elastis dan dinding belakang kanalis cukup kuat. muskulus transversus abdominis. Yang penting diperhatikan adalah . muskulus oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper pada metode Mc Vay(ahli ilmu anatomi dan ilmu bedah.Amerika Serikat). Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintetisseperti mersilene. Pembedahan sering dilakukan terhadap hernia yang besar atau terdapat resiko tinggi untuk terjadi inkarserasi. PENATALAKSANAAN Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan.

diantaranya karena diseksi kantong yang kurang sempurna. Langkah-langkah penting yang harus dipertimbangkan dalam perbaikan hernia adalah (1). Pada hernia inguinalis medialis penyebab residif umumnya karena tegangan yang berlebihan pada jahitan plastik atau kekurangan lain dalam tehnik. Apabila perbaikan defeknya terlalu besar atau hernianya rekuren. Perbaikan defek fasia. Angka residif operasi hernia umumnya mendekati 10%. dan (2). Dacron. Pada hernia inguinalis lateralis penyebab residif yang paling sering ialah penutupan anulus inguinalis internus yang tidak memadai. atau tandur jala lainnya dalam perbaikan tersebut.1989).mencegah terjadinya tegangan pada jahitan dan kerusakan pada jaringan. Umumnya dibutuhkan plastik dengan bahan sintetis prolene mesh misalnya. Manajemen kantong peritoneum dan isinya. Tandur jala kemungkinan besar akan ditolak karena jaringan disekitarnya akan tumbuh kedalam tandur (Morton. adanya lipoma preperitoneal. maka mungkin perlu disertakan polipropilen. Terjadinya residif lebih banyak dipengaruhi oleh tehnik reparasi dibandingkan dengan faktor konstitusi. atau kantong hernia tidak ditemukan. .

Bila cincin hernia sempit. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponibel. . kurang elastis.H. Disini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa benjolan. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia Richter. organ ekstraperitoneal (hernia geser) atau hernia akreta. atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria. lebih sering terjadi jepitan parsial. KOMPLIKASI Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Jarang terjadi inkaserasi retrogard yaitu dua segmen usus terperangkap didalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam rongga peritoneum seperti huruf W. ini dapat terjadi kalau isi hernia terlalu besar atau terdiri dari omentum.

dapat dijumpai tanda . Gambaran klinik hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan. Timbulnya udem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan terganggu. Kalau isi hernia terdiri dari usus. disertai nyeri tekan. elektrolit dan asam basa.Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal. Penderita mengeluh nyeri lebih hebat ditempat hernia. dan tergantung keadaan isi hernia. Bila telah terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi terjadi keadaan toksik akibat gangren. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus. gambaran klinik menjadi kompleks dan sangat serius. Pada pemeriksaan lokal ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan kembali. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur didalam hernia dan transudasi kedalam kantong hernia. atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut. fistel. Nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneum.

Mengatur alat secara sisternatis di meja instrumen b. Hernioraphy dan Hernioplasti (mengikat leher hernia dan menggantungkannya ke conjoint tendon. karenanya perlu mendapat pertolongan segera. I. Alat Steril  Di Meja Linen  Duk lubang besar  Duk tulang/duk buntu besar :2  Duk kotak/duk kecil :4  Gaun steril :1 :3 . Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah perawat instrumentator untuk : a. Alat On Steril  Meja operasi  Lampu operasi. Persiapan  Persiapan pasien dan lingkungan 1) Persetujuan operasi 2) Alat-alat dan obat-obatan 3) Puasa 4) Lavement 5) Skiren 6) Setelah penderita dilakukan anesthesi mengatur posisi terlentang 7) Memasang plat diatermi di bawah betis pasien  Persiapan alat 1). Pengertian Adalah suatu cara yang dilakukan perawat kamar operasi dalam menyiapkan dan membantu tindakan operasi Herniotomy (suatu tindakan membuka dan memotong kantong hernia serta mengembalikannya isi kantong hernia ke dalam cavum abdominalis) sedangkan. Mempertahankan kesterilan alat-alat instrumen selama operasi 3. Memperlancar handling instrumen pada operasi herniotomi dan herniorrafi / hernioplasti c.peritonitis atau abses lokal.  Tempat sampah medis dan non medis 2). Hernia strangulata merupakan keadaan gawat darurat.) 2. TEHNIK INSTRUMENTASI HERNIOTOMI DAN HERNIORRAFI 1.  Mesin suction dan mesin coutter.

cutting  Guiding probes kocher ( krops sonde ) :1 :1 .  Handuk steril :3  Underped steril Di Baskom Steril  Baskom besar :2  Kabel couter :1 :1  Di meja mayo  Washing & dressing forcep ( desinfeksi klem) :1  Towel clamps (duk klem) :5  Dissecting forceps (pinset chirurgis) :2  Tissue forceps (pinset anatomis) :2  Scalpel blade & handle :1  Delicate hemostatic forceps pean (mosquito klem pean bengkok) :2  Haemostatic forceps pean (klem pean bengkok tanggung) : 6  Retractor Us Army (Langeenbeck) :2  Haemostatik Forceps kocher curved straight (kocher sedang lurus) :5  Haemostatik Forceps kocher curved curved(kocher sedang bengkok) :5  Delicate metzenboum scissors (gunting jaringan kasar bengkok) :1  Surgical scissors (gunting benang lurus) :1  Needle holder :2  Nierbekken (bengkok) :1  Di Meja Instrumen  Staples kulit  Surgical needle : round body. taper.

Underped steril 1 untuk sisi bawah/bagian simpisis b.0/polipropilene 3. . deepers dan iodine 10% dalam cucing pada asisten operator untuk melakukan desinfeksi pada lapangan operasi. Berikan kassa basah dan kering pada operator untuk membersihkan lapangan operasi dari iodine. Perawat sirkuler meminta ijin kepada pasien untuk membersihkan lapang operasi dengan sabun desinfektan. kemudian pasanglah. Mangkok :2 3.0 1/1/1 : :1 :10 :5 :1 : 1 Roll : :1 : 4. 6.Duk kotak/kecil 2 untuk bagian kanan/kiri e. dan gloving.0 :1 j) Plain 2. Duk lobang besar 1 pada sisi yang akan dioperasi 7.Fiksasi dengan towel clamps / duk klem 4 f. 4. Pasang handpiece / kabel couter dan fiksasi dengan towel clamps/duk klem 1. underped onsteril dibawah badan pasien. 2.5 / 7 / 7.5 2/1/1 b) Mess no 10 c) Kassa lembar d) Deepers e) Deepers ”kacang” f) Rol pita g) Povidon Iodine 10% 100 cc h) Normal Saline 0. Perawat instrumen membantu operator dan asisten untuk mengenakan gaun steril dan handscone steril. Berikan Washing & dressing forcep ( desinfeksi klem). sesuai dengan lokasi / sisi yang akan dioperasi. gowning. Lakukanlah drapping dengan memberikan: a. Bahan Habis Pakai a) Handscone steril No 6.Duk besar buntu 1 untuk bagian atas d. Setelah pasien diberikan anestesi SAB dan diposisikan supinasi. lalu pasang arde dibetis pasien. 8. Prosedur 1.Duk tulang/besar buntu 1 diatas underped steril c.9 % : 500 cc i) Polyglactin 2. 3.0 :1 k) Mesch l) Klip kulit/monofilamen 3. dan pasang anastetic screen di atas dada pasien. Instrumentator melakukan surgical scrubbing. 5.

0 b. Herniorafi dengan memasang mesch pada abdominal wall difiksasi ke tuberkulum pubikum.0 26.0 c.9. tissue forceps dan guiding probes kocher juga juga surgical scissors mayo untuk menggunting jahitan.0. Berikan scalpel blade and handle. Kantong proximal dipotong diatas simpul jahitan dan digantung ke conjoint tendon dengan memberikan loss nald. Kulit : klip. polipropilene 3.0. 10. Funikulus spermatikus dipreparasi dengan dengan steel deppers kecil basah dijepit haemostatic forceps kocher lurus dan ditegel dengan pita tampon basah diklem dengan haemostatic forceps kocher lurus 16. Berikan pada operator Dissecting forceps (pinset chirurgis) untuk menandai area insisi. Kantong hernia dicari dengan 2 tissue foeceps dan kantong dibuka dengan metzenboum scissors 17. Kantong dijepit 4 tampat dengan haemostatic forceps kocher curved 18.0 jarum usus 23. Luka operasi dibersihkan dengan kassa basah dan ditutup dengan tulle + kassa + hipavix . Incisi diperdalam sampai fascia dengan menggunakan scalpel blade and handle dan dissecting forceps 13. Kantong distal yang tidak diambil dijahit marsupialisasi dengan needle holder+ catgut plain no 2. Berikan delicate hemostatic forceps pean (mosquito klem pean bengkok) dan kassa kering pada asisten dan rawat perdarahan dengan coutter. Fascia : absorbable (mis:vicril/safil) 2. Kantong distal dipisahkan dari jaringan yang melekat dengan tissue forceps. Fat : catgut plain no 2. 12. Fascia yang terbuka dijepit dengan haemostatic forceps kocher straight 2 14. Rawat perdarahan dengan haemostatic forceps dan kassa 25. ligamentum inguinale dan conjoint tendon dengan needle holder dan polipropilene no 2.monofilament 3. Incisi diperpanjang dengan surgical scissors mayo dan diperlebar dengan US Army retractors 15. kassa dan dissecting forceps pada operator untuk insisi pada kulit 11. Kantong proximal dijahit dengan catgut plain nomer 1 atau benang absorbable yang lain sesuai permintaan operator 20. Luka operasi ditutup lapis demi lapis: a. surgical scissors mayo 24. 21. metzenboum Scissors dan kassa basah 22. Kantol distal dan proksimal dipisahkan dengan metzenboum scissors dan kassa basah 19.

BJ dan Fernsebner. Buku ajar Keperawatan Perioperatif Volume 2:Praktik. Asuhan Keperawatan Perioperatif. de J. Jakarta: EGC Muttaqin. Edisi Revisi. B. Jakarta : EGC . A. 2009. Dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Bedah. 1997. Dan W.. BAB III DAFTAR PUSTAKA Gruendemann. Banjarmasin Sjamsuhidayat. R.