Anda di halaman 1dari 4

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Glukosa adalah monosakarida berkarbon enam (heksosa) yang
digunakan sebagai sumber energi oleh sel heterotrofik (Stansfield W, Cano R,
Colome J. 2006). Glukosa mempunyai peran penting dalam metabolisme otak.
Transportasi glukosa di otak difasilitasi oleh proses difusi yang sangat
bergantung kepada konsentrasi glukosa (Adcock, 2008).
Kadar glukosa pada janin selama dalam kandungan sangat bergantung
pada kadar glukosa ibu yang ditransfer melalui plasenta. Setelah lahir, bayi
harus menjaga kadar glukosa dalam darahnya dengan memproduksi dan
mengatur suplai glukosa sendiri. Sistem homeostasis glukosa tergantung pada
keseimbangan antara keluaran glukosa hepatik dengan penggunaan glukosa
perifer. Keluaran glukosa hepatik berhubungan dengan fungsi glikogenolisis
dan glukoneogenesis yang dipengaruhi faktor hormonal, serta perubahan
metabolik selama bayi dalam kandungan dan setelah lahir (Basu P, 2008).
Keseimbangan produksi dan penggunaan glukosa harus dijaga agar
tidak terjadi hipoglikemia atau hiperglikemia karena kedua keadaan ini akan
berpengaruh buruk terhadap bayi terutama untuk metabolisme otak. Kadar
glukosa harus dipertahankan antara 70-150 mg/dL sebagai substrat yang
adekuat bagi otak. Kadar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan peningkatan
laktat di otak sehingga akan merusak integritas otak, peningkatan edema, dan
mengganggu auto regulasi vaskular. Kadar yang rendah akan menyebabkan
eksitotoksik asam amino sehingga akan memperluas infark (Merrill JD, 2005).
Kadar glukosa plasma normal pada bayi, anak dan dewasa adalah 70–
200 mg/dL. Jika kadar di bawah rentang normal maka disebut hipoglikemia.
1

Rapid test sama halnya dengan alat uji diagnostik yang lain seperti spektrofotometer yang sering digunakan di rumah sakit sebagai alat penunjang suatu diagnosis. Bayi prematur biasanya menunjukkan kadar glikemik yang buruk (Le Compte et al.2 Tanda hipoglikemi neurofisiologi terjadi pada kadar 50–70 mg/dL. Oleh karena itu dibutukan alat pengukur glukosa yang baik untuk deteksi dini sebagai dasar penanganan yang diperlukan (Ho et al. oleh karena itu diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui perbandingan rapid diagnostic test (RDT) dengan standar baku uji glukosa darah dan juga untuk mengetahui . Hipo dan hiper glikemi merupakan keadaan yang sering terjadi pada neonatus. Hipoglikemia dapat disebabkan oleh berkurangnya glukosa karena pelepasan katekolamin atau karena hiperinsulinisme yang dijumpai pada 82% bayi yang menderita asfiksia (Basu P et al. Terapi biasanya berhasil bila kadar glukosa lebih dari 60 mg/dL (Stanley CA. Pemeriksaan kadar glukosa secara dini dan berulang sangat diperlukan untuk deteksi dini dan mencegah terjadinya hasil yang buruk (Norman et al. 2010). Kelebihan rapid test adalah jumlah sampel yang dibutuhkan hanya sedikit. 2003). Hipoglikemia berat terjadi bila kadar glukosa kurang dari 40 mg/dL. Rapid test glukosa dan spektrofotometer mempunyai kegunaan dan fungsi yang sama. Kadar glukosa darah dapat diukur menggunakan rapid test. 2005). Glukosa darah yang rendah pada bayi baru lahir sulit untuk dideteksi secara klinis. 2003). sehingga cocok untuk pemeriksaan pada neonatus karena pada neonatus biasanya sulit dilakukan pengambilan darah. 2009).

dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: “ bagaimana perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah pada neonatus antara rapid test dengan alat spektrofotometer ? ” C. Mengetahui hasil pemeriksaan glukosa darah pada neonatus dengan alat spektrofotometer. 2. Tujuan umum Mengetahui perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah pada neonatus antara rapid test dengan alat spektrofotometer. Tujuan Penelitian 1.3 apakah dapat digunakan sebagai alat uji diagnosis atau hanya sebagai alat uji skrining (Prabowo dan Gugun. Berdasarkan latar belakang tersebut. Mengetahui hasil pemeriksaan glukosa darah pada neonatus dengan rapid test. b. 2012). D. Tujuan Khusus a. Manfaat Penelitian 1. penulis ingin mengetahui hasil perbandingan pemeriksaan glukosa darah pada neonatus dengan menggunakan rapid test dan spektrofotometer. Manfaat Teoritis . Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian. B.

. Bagi Peneliti Hasil penelitian dapat digunakan sebagai tambahan informasi bagi penelitian selanjutnya di bidang PK dan Ilmu Kesehatan Anak.4 Menambah ilmu pengetahuan dan menambah wawasan di bidang PK dan Ilmu Kesehatan Anak mengenai pemeriksaan glukosa darah pada neonatus antara rapid test dengan alat spektrofotometer. 2. Bagi Praktisi Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat 1) Memperoleh gambaran hubungan kualitas glukosa darah pada neonatus antara rapid test dengan alat spektrofotometer. 2) Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan Rumah Sakit dan Puskesmas dalam rangka untuk deteksi dini hipoglikemia atau hiperglikemia. 3) Menambah wawasan serta pengetahuan yang berkaitan dengan masalah pada PK dan Ilmu Kesehatan Anak. Manfaat Praktis a. b.