Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai sumber energi utama, listrik telah menjadi salah satu kebutuhan penting
masyrakat. Listrik dapat dikategorikan sebagai kebutuhan sekunder yang mendekati primer.
Keberadaan listrik saat ini tidak dapat dipisahkan dari kegiatan apapun
Sebagai sumber salah satu kebutuhan penting, suplai listrik ke masyarakat haruslah tetap
dijaga ketersediaannya. Oleh sebab itu, perusahaan listrik telah mempersiapkan banyak hal untuk
menjaga pasokan listrik tersebut seperti dengan mempersiapkan pembangkit listrik cadangan
sebagai back up jika terjadi masalah pada salah satu atau lebih pembangkit listrik. selain itu,
maintanance dan pengendalian dilakukan secara optimal untuk memastikan ketersediaan dan
kualitas listrik yang sampai ke masyarakat. Namun, bagaimanapun usaha yang dilakukan oleh
pihak pemerintah/ perusahaan listrik(PLN) untuk menjamin ketersediaan pasokan listrik tersebut,
kadangkala hal-hal yang tidak diinginkan dan menyebabkan terputusnya pasokan listrik tetap
terjadi. Kondisi ini tentu merugikan masyarakat secara umum terlebih perusahaan/industriindustri yang mengandalkan pasokan listrik PLN sebab dapat menurunkan produktifitas
perusahaan/industri. Untuk perusahaan/industri besar, bisa saja memiliki pembangkit listrik
sendiri sehingga ketergantungannya terhadap pasokan listrik dapat dikurangi atau bahkan tidak
lagi bergantung pada pasokan listrik PLN.
Untuk rumah

tangga, perusahaan, dan industri kecil-menengah yang tidak mungkin

membuat pembangkit sendiri, cadangan listrik bisa didapatkan dengan menggunakan genset.
Penggunaan genset tentu memerlukan modal besar untuk membeli set generator genset dan untuk
menyediakan bahan bakarnya. Biaya bahan bakar untuk genset jauh lebih besar dibanding harga
listrik per-KWh dari PLN. Oleh sebab itu, genset haruslah dioperasikan secara optimal. Optimal
Disini berarti, genset dapat segera bekerja saat dibutuhkan (sumber PLN tidak ada) dan segera
berhenti bekerja saat tegangan PLN telah kembali dengan tetap memperhatikan maintenance-nya
untuk menjaga usia pakai lebih lama. Sebab perlu diingat, ON-OFF yang terlalu sering serta
tidak adanya waktu jeda akan dapat mengurangi usia kerja dari genset tersebut. Untuk
1

menghindari pengoperasian yang tidak benar serta agar lebih praktis, maka sebuah panel control
otomatis sangat diperlukan. Panel tersebut bernama panel ATS.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan praktek bengkel ini, mahasiswa diharapkan dapat :
Merancang bangun Automatic Transfer Switch (ATS)/Automatic Main Failure (AMF)
berbasis Programable Logic Controller (PLC)
Mendapatkan waktu peralihan PLN genset yang cepat jika suplai energi listrik dari PLN
tidak tersedia atau mengalami gangguan, sehingga suplai energi listrik dari genset yang

berfungsi sebagai back-up daya.


Membuat diagram Ladder melalui flowchart
Mengerti prinsip kerja genset dan pengoperasiannya
Mengubah diagram kerja menjadi uaraian perencanaan kerja.
Membuat ladder diagram sistem back-up genset
Membuat sebuah daftar bahan dan peralatan untuk perencanaan instalasi.
Membuat laporan hasil praktek sesuai waktu yang ditentukan.

1.3 Persiapan
Hal yang harus diperhatikan dalam praktek bengkel selain praktek instalasi itu sendiri
adalah Kesehatan dan keselamatan kerja serta kedisiplinan. Berikut adalah hal yang harus
diperhatikan :
Menggunakan pakaian bengkel sesuai dengan ketentuan Politeknik Negeri Ujung
Pandang.
Selalu menggunakan sepatu safety
Selalu memastikan sambungan listrik yang sampai ke panel diputuskan terlebih dahulu

saat melakukan pengerjaan instalasi.


Menyimpan peralatan pada tempatnya.
Memastikan seluruh komponen listrik telah terpasang sempurna saat pengetesan
Memastikan tidak ada kabel telanjang dibagian tengah rangkaian.
Memastikan tidak ada sambungan-sambungan kabel yang membahayakan.
Masuk, istirahat, dan keluar dari ruangan praktek pada jam/waktu yang telah ditetapkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Interkoneksi


Sistem interkoneksi adalah suatu sistem tenaga listrik yang terdiri dari beberapa pusat
listrik (Pembangkit) dan beberapa gardu induk (GI) yang saling terhubung (Terinterkoneksi)
antara satu dengan yang lain melalui sebuah saluran Transmisi dan melayani beban yang ada
pada semua gardu induk (GI) yang terhubung.
Sebuah sistem interkoneksi yang terdiri dari sebuah PLTA, sebuah PLTU, sebuah PLTG,
dan sebuah PLTGU serta 7 buah GI yang satu sama lain dihubungkan oleh saluran transmisi.
Di

setiap

GI

terdapat beban berupa subsistem distribusi. Secara listrik, masing-masing

subsistem distribusi tidak terhubung

satu sama lain. Dalam sistem interkoneksi, semua

pembangkit perlu dikoordinir agar dicapai biaya

pembangkitan yang minimum, tentunya

dengan tetap memperhatikan mutu serta keandalan. Mutu dan keandalan penyediaan tenaga
listrik menyangkut frekuensi, tegangan, dan gangguan. Demikian pula masalah penyaluran
daya yang juga perlu diamati dalam sistem interkoneksi agar tidak ada peralatan

penyaluran

(transmisi) yang mengalami beban lebih.


Sistem yang terisolir adalah sistem yang hanya mempunyai sebuah pusat listrik saja dan
tidak ada interkoneksi antar pusat listrik serta tidak ada hubungan dengan jaringan umum
(interkoneksi milik PLN). Sistem yang terisolir misalnya terdapat di industri pengolah kayu
yang berada di tengah hutan atau pada pengeboran minyak lepas pantai yang berada di tengah
laut. Pada sistem yang terisolir umumnya digunakan PLTD atau PLTG. Pada Sistem yang
terisolir, pembagian beban hanya dilakukan di antara unit-unit pembangkit di dalam satu pusat
listrik sehingga tidak ada masalah penyaluran daya antar pusat listrik seperti halnya pada sistem
interkoneksi. PLN juga mempunyai banyak sistem yang terisolir berupa sebuah PLTD dengan
jaringan distribusi yang terbatas pada satu desa, yaitu pada daerah yang baru mengalami
elektrifikasi.
Operasi pembangkitan, baik dalam sistem interkoneksi maupun dalam sistem

yang

terisolir, memerlukan perencanaan pembangkitan terlebih dahulu yang di antaranya adalah :


1.
2.
3.
4.

Perencanaan Operasi Unit-unit Pembangkit.


Penyediaan Bahan Bakar.
Koordinasi Pemeliharaan.
Penyediaan Suku Cadang.
3

5. Dan lain-lain.

2.2 Generator
Generator

listrik adalah

sebuah

alat

yang

memproduksi energi listrik dari

sumberenergi mekanik, biasanya dengan menggunakan induksi elektromagnetik. Proses ini


dikenal sebagai pembangkit listrik. Walau generator dan motor punya banyak kesamaan,
tapi motor adalah alat yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Generator
mendorong muatan listrik untuk bergerak melalui sebuah sirkuit listrik eksternal, tapi generator
tidak menciptakan listrik yang sudah ada di dalam kabellilitannya. Hal ini bisa dianalogikan
dengan sebuah pompa air, yang menciptakan aliran air tapi tidak menciptakan air di dalamnya.
Sumber enegi mekanik bisa berupa resiprokat maupun turbin mesin uap, air yang jatuh melakui
sebuah turbin maupun kincir air, mesin pembakaran dalam, turbin angin, engkol tangan, energi
surya ataumatahari, udara yang dimampatkan, atau apa pun sumber energi mekanik yang lain.

Gambar 2.1 Generator Listrik

Prinsip kerja generator listrik sekarang ini dan umumnya, merupakan pergerakan
medanmagnet pada rotor terhadap kumparan tetap pada stator. Medan magnet yang dihasilkan
adalah dengan cara memberikan tegangan DC (Direct Current) pada kumparan penguat medan
pada rotor, yang bisa dihasilkan dari penguat sendiri maupun penguat terpisah. Untuk penguat
sendiri dapat dihasilkan oleh tegangan dan arus sendiri yang dihasilkan oleh kumparan stator.
Untuk kumparan stator generator listrik ini tergantung dari pabrik pembuatnya bisa saja
4

dirancang dengan sistem 3 fasa maupun sistem 1 fasa dengan sifat tegangan bolak balik (AC =
Alternating Current), sehingga tegangan AC yang dihasilkan harus di Jadikan tegangan DC oleh
rangkaian Penyearah Dioda maupun slip-ring dialirkan pada kumparan penguat medan magnet.

Gambar 2.2 Prinsip kerja generator

Generator Listrik dengan penguat sendiri selalu dirancang dengan AVR ( Automatic
Voltage Regulator ) yang berfungsi pengontrol tegangan output stator. Jika tengangan yang
diharapkan adalah 220 Volt atau 380 Volt maka AVR akan mengotrol besar kecilnya arus dan
tegangan yang masuk pada kumparan pada penguat utama (Main Exciter), dan akan di lanjutkan
dengan menyalurkan tegangan DC pada pada lilitan penguat medan melalui slip ring maupun
penyearah Dioda.
AVR tidak dirancang untuk penstabil Frekuensi, karena Frekuensi didapat dari putaran
rotor. Jika penggerak generator listrik adalah mesin diesel maka harus ada suatu alat penstabil
putaran mesin meskipun beban generator relatif tidak tetap dengan mengatur pasokan bahan
bakar pada mesin disel tersebut atau alat lain yang di sebut dengan ELC (Electronic Load
Controller)/DLC (Digital load Controller) pada generator sinkron atau sistem governor pada
PLTMH ( Pusat Listrik Tenagan Micro Hidro ).
Untuk generator listrik dengan penguat terpisah yaitu dengan memberikan suplay tegangan
DC dari luar generator tersebut misalnya dari sistem penyearah dari luar yang di alirkan ke
kumparan penguat medan magnet. Namun jenis generator dengan penguat terpisah mungkin
tidak ada di pasaran disebabkan kurang efektif.
Berdasarkan jenis arus listrik yang dohasilkan, generator listrik terbagi atas 2, yakni :

Generator Listrik AC

Gambar 2.3 Generator listrik AC

Pada generator listrik AC ini terdapat 2 buah stator. Kutub - kutub magnet yang
berlawanan saling dihadapkan sehingga diantara kedua kutub magnet tersebut
dihasilkan medan magnet. Di alam medan magnet tersebut terdapat kumpran yang
mudah berputar pada porosnya. Karena kumparan selalu berputar, maka jumlah gaya
magnet yang masuk ke dalam kumparan juga selalu berubah - ubah. Sifat dari arus
listrik yang dihasilkan oleh generator listrik AC ini berjenis bolak - balik dengan bentuk
seperti gelombang; amplitudonya bergantung pada kuat medan magnet, jumlah lilitan
kawat, dan luas penampang kumparan; serta frekuensi gelombangnya sama dengan
frekuensi putaran kumparan.

Generator Listrik DC

Gambar 2.4 Genartor listrik DC

Cara kerja generator listrik DC mirip dengan cara kerja generator listri AC. Yang
membedakan hanya pada generator listrik DC ini menggunakan sebuah cincin belah
atau yang biasa disebut dengan komutator di bagian outputnya. Komutator ini
memungkinkan arus listrik induksi yang dialirkan ke rangkaian listrik berupa arus listri
DC meskipun kumparan yang berada di dalamnya menghasilkan arus listrik AC.

2.3 Genset

Gambar 2.5 Genset

Genset (generator set) diesel menghasilkan tenaga listrik dengan menggunakan alternator
dan mesin diesel. Mesin ini menggunakan bahan bakar solar untuk beroperasi. Kekuatan mesin
(disajikan sebagai RPM) ditransformasikan oleh alternator menjadi arus listrik yang dapat
digunakan. Arus ini kemudian didistribusikan ke bangunan yang terhubung ke jaringan. Ini dapat
termasuk rumah, bangunan komersial dan lokasi konstruksi. Karena akses ke tegangan sangat
penting untuk rumah dan bisnis, generator diesel sering diandalkan untuk memberikan sumber
yang dapat dipercaya kekuasaan. Di bawah ini, kami akan menjelaskan keadaan dimana
generator ini digunakan dan beberapa keuntungan dari penggelaran mereka.
Generator diesel yang umum digunakan saat bekerja, rumah, atau bangunan tidak memiliki
akses dengan sumber listrik. Misalnya, lokasi konstruksi kadang-kadang terletak di daerah di
mana akses ke jaringan listrik tidak mungkin. Demikian pula, kapal transportasi memerlukan
7

sumber energi diandalkan untuk navigasi dan sistem propulsi. Sebuah generator diesel dapat
digunakan untuk menghasilkan tegangan yang diperlukan.
Di

sisi

lain,

generator

diesel

juga

digunakan

untuk

tujuan

yang

sama

sebagai Uninterruptible Power Supply (UPS). Artinya, jika jaringan listrik mengalami outage,
generator dapat memberikan redundansi. Ini redundansi daya dapat menjadi kritis. Hal ini
memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan operasi mereka, rumah sakit untuk
mempertahankan penggunaan instrumen mereka dan bandara untuk menjaga integritas sistem.
Setiap organisasi yang mengontrol aplikasi misi kritis bisa mendapatkan keuntungan dari
memiliki sebuah generator tersedia sebagai sumber daya yang handal.
Ketika terjadi pemadaman catu daya utama (PLN) maka dibutuhkan suplai cadangan listrik
dan pada kondisi tersebut Generator-Set diharapkan dapat mensuplai tenaga listrik terutama
untuk beban-beban prioritas. Genset dapat digunakan sebagai sistem cadangan listrik atau "offgrid" (sumber daya yang tergantung atas kebutuhan pemakai). Genset sering digunakan oleh
rumah sakit dan industri yang membutuhkan sumber daya yang mantap dan andal (tingkat
keandalan pasokan yang tinggi), dan juga untuk area pedesaan yang tidak ada akses untuk secara
komersial dipasok listrik melalui jaringan distribusi PLN yang ada.
Suatu mesin diesel generator set terdiri dari :
1. Prime mover atau pengerak mula, dalam hal ini mesin diesel (dalam bahasa inggris
2.
3.
4.
5.
6.
7.

disebut diesel engine).


Generator
AMF (Automatic Main Failure) dan ATS (Automatic Transfer Switch)
Baterai dan Battery Charger
Panel ACOS (Automatic Change Over Switch)
Pengaman untuk Peralatan
Perlengkapan Instalasi Tenaga

2.3.1

Mesin Diesel
Mesin diesel termasuk mesin dengan pembakaran dalam atau disebut dengan motor

bakar, ditinjau dari cara memperoleh energi termalnya (energi panas). Untuk membangkitkan

listrik, sebuah mesin diesel dihubungkan dengan generator dalam satu poros (poros dari
mesin diesel dikopel dengan poros generator).
Keuntungan pemakaian mesin diesel sebagai penggerak mula :

Desain dan instalasi sederhana


Auxilary equipment (peralatan bantu) sederhana
Waktu pembebanan relatif singkat

Kerugian pemakaian mesin diesel sebagai Penggerak mula :

Berat mesin sangat berat karena harus dapat menahan getaran serta kompresi yang

tinggi.
Starting awal berat, karena kompresinya tinggi yaitu sekitar 200 bar.
Semakin besar daya maka mesin diesel tersebut dimensinya makin besar pula, hal

tersebut menyebabkan kesulitan jika daya mesinnya sangat besar.


Konsumsi bahan bakar menggunakan bahan bakar minyak yang relatif lebih mahal
dibandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar jenis
lainnya, seperti gas dan batubara.

Cara Kerja Mesin Diesel

Prime mover atau penggerak mula merupakan peralatan yang berfungsi menghasilkan
energi mekanis yang diperlukan untuk memutar rotor generator. Pada mesin diesel/diesel
engine terjadi penyalaan sendiri, karena proses kerjanya berdasarkan udara murni yang
dimampatkan di dalam silinder pada tekanan yang tinggi ( 30 atm), sehingga temperatur di
dalam silinder naik. Dan pada saat itu bahan bakar disemprotkan dalam silinder yang bersuhu
dan bertekanan tinggi melebihi titik nyala bahan bakar sehingga bahan bakar yang
diinjeksikan akan terbakar secara otomatis. Penambahan panas atau energi senantiasa
dilakukan pada tekanan yang konstan.
Tekanan gas hasil pembakaran bahan bakar dan udara akan mendorong torak yang
dihubungkan dengan poros engkol menggunakan batang torak, sehingga torak dapat bergerak
bolak-balik (reciprocating). Gerak bolak-balik torak akan diubah menjadi gerak rotasi oleh
poros engkol (crank shaft). Dan sebaliknya gerak rotasi poros engkol juga diubah menjadi
gerak bolak-balik torak pada langkah kompresi.
9

Berdasarkan cara menganalisa sistim kerjanya, motor diesel dibedakan menjadi dua,
yaitu motor diesel yang menggunakan sistim airless injection (solid injection) yang dianalisa
dengan siklus dual dan motor diesel yang menggunakan sistim air injection yang dianalisa
dengan

siklus

diesel

(sedangkan

motor

bensin

dianalisa

dengan

siklus otto).
Perbedaan antara motor diesel dan motor bensin yang nyata adalah terletak pada proses
pembakaran bahan bakar, pada motor bensin pembakaran bahan bakar terjadi karena adanya
loncatan api listrik yang dihasilkan oleh dua elektroda busi (spark plug), sedangkan pada
motor diesel pembakaran terjadi karena kenaikan temperatur campuran udara dan bahan
bakar akibat kompresi torak hingga mencapai temperatur nyala. Karena prinsip penyalaan
bahan bakarnya akibat tekanan maka motor diesel juga disebut compression ignition engine
sedangkan motor bensin disebut spark ignition engine.
Pada mesin diesel, piston melakukan 2 langkah pendek menuju kepala silinder pada setiap
langkah daya :
1. Langkah ke atas yang pertama merupakan langkah pemasukan dan penghisapan, di
sini udara dan bahan bakar masuk sedangkan poros engkol berputar ke bawah.
2. Langkah kedua merupakan langkah kompresi, poros engkol terus berputar
menyebabkan torak naik dan menekan bahan bakar sehingga terjadi pembakaran.
Kedua proses ini (1 dan 2) termasuk proses pembakaran.
3. Langkah ketiga merupakan langkah ekspansi dan kerja, di sini kedua katup yaitu
katup isap dan buang tertutup sedangkan poros engkol terus berputar dan menarik
kembali torak ke bawah.
4. Langkah keempat merupakan langkah pembuangan, disini katup buang terbuka dan
menyebabkan gas akibat sisa pembakaran terbuang keluar. Gas dapat keluar karena
pada proses keempat ini torak kembali bergerak naik keatas dan menyebabkan gas
dapat keluar. Kedua proses terakhir ini (3 dan 4) termasuk proses pembuangan.
5. Setelah keempat proses tersebut, maka proses berikutnya akan mengulang kembali

proses yang pertama, dimana udara dan bahan bakar masuk kembali.
Berdasarkan kecepatan proses diatas maka mesin diesel dapat digolongkan menjadi 3 bagian,
yaitu :

10

1. Diesel kecepatan rendah (< 400 rpm)


2. Diesel kecepatan menengah (400 - 1000 rpm)
3. Diesel kecepatan tinggi ( >1000 rpm)

Sistem starting atau proses untuk menghidupkan/menjalankan mesin diesel dibagi menjadi 3
macam sistem starting yaitu :
1. Sistem Start Manual
Sistem start ini dipakai untuk mesin diesel dengan daya mesin yang relatif kecil
yaitu < 30 PK. Cara untuk menghidupkan mesin diesel pada sistem ini adalah dengan
menggunakan penggerak engkol start pada poros engkol atau poros hubung yang
akan digerakkan oleh tenaga manusia. Jadi sistem start ini sangat bergantung pada
faktor manusia sebagai operatornya.
2. Sistem Start Elektrik
Sistem ini dipakai oleh mesin diesel yang memiliki daya sedang yaitu < 500
PK. Sistem ini menggunakan motor DC dengan suplai listrik dari baterai/accu 12 atau
24 volt untuk menstart diesel. Saat start, motor DC mendapat suplai listrik dari
baterai atau accu dan menghasilkan torsi yang dipakai untuk menggerakkan diesel
sampai mencapai putaran tertentu. Baterai atau accu yang dipakai harus dapat dipakai
untuk menstart sebanyak 6 kali tanpa diisi kembali, karena arus start yang dibutuhkan
motor DC cukup besar maka dipakai dinamo yang berfungsi sebagai generator DC.
Pengisian ulang baterai atau accu digunakan alat bantu berupa Battery Charger dan
pengaman tegangan. Pada saat diesel tidak bekerja maka Battery Charger mendapat
suplai listrik dari PLN, sedangkan pada saat diesel bekerja maka suplai dari Battery
Charger didapat dari generator. Fungsi dari pengaman tegangan adalah untuk
memonitor tegangan baterai atau accu. Sehingga apabila tegangan dari baterai atau
accu sudah mencapai 12/24 volt, yang merupakan tegangan standarnya, maka
hubungan antara Battery Charger dengan baterai atau accu akan diputus oleh
pengaman tegangan.
3. Sistem Start Kompresi
11

Sistem start ini dipakai oleh diesel yang memiliki daya besar yaitu > 500 PK.
Sistem ini memakai motor dengan udara bertekanan tinggi untuk start dari mesin
diesel. Cara kerjanya yaitu dengan menyimpan udara ke dalam suatu botol udara.
Kemudian udara tersebut dikompresi sehingga menjadi udara panas dan bahan bakar
solar dimasukkan ke dalam Fuel Injection Pump serta disemprotkan lewat nozzle
dengan tekanan tinggi. Akibatnya akan terjadi pengkabutan dan pembakaran di ruang
bakar. Pada saat tekanan di dalam tabung turun sampai batas minimum yang
ditentukan, maka kompressor akan secara otomatis menaikkan tekanan udara di
dalam tabung hingga tekanan dalam tabung mencukupi dan siap dipakai untuk
melakukan starting mesin diesel.

2.3.2 Sistem Pengaman Genset


Sistem pengaman harus dapat bekerja cepat dan tepat dalam mengisolir gangguan agar tidak terjadi
kerusakan fatal. Proteksi pada mesin generator ada dua macam yaitu :
1) Pengaman alarm
Bertujuan memberitahukan kepada operator bahwa ada sesuatu yang tidak normal dalam operasi mesin
generator dan agar operator segera bertindak.
2) Pengaman trip
Berfungsi untuk menghindarkan mesin generator dari kemungkinan kerusakan karena ada sistem yang
berfungsi tidak normal maka mesin akan stop secara otomatis.
Jenis pengaman trip antara lain :
1) Putaran lebih (over speed)
2) Temperatur air pendingin tinggi
3) Tekanan minyak pelumas rendah
4) Emergency stop
5) Reverse power

2.3.3 Relay pengaman pada genset


a) Relay arus lebih
Thermal Over Load Relay (TOLR) digunakan untuk melindungi motor dan perlengkapan kendali motor
dari kerusakan akibat beban lebih atau terjadinya hubungan singkat antar hantaran yang menuju jaring
atau antar fasa.
b) Relay tegangan lebih
bekerja bila tegangan yang dihasilkan generator melebihi batas nominalnya.
c) Relay diferensial
bekerja atas dasar perbandingan tegangan atau perbandingan arus, yaitu besarnya arus sebelum lilitan
12

stator dengan arus yang mengalir pada hantaran yang menuju jaring-jaring.
d) Relay daya balik
berfungsi untuk mendeteksi aliran daya aktif yang masuk ke arah generator.

2.4 AMF (Automatic Main Failure) dan ATS (Automatic Transfer Switch)

Gambar 2.6 AMF/ATS

AMF merupakan alat yang berfungsi menurunkan downtime dan meningkatkan keandalan sistem
catu daya listrik. AMF dapat mengendalikan transfer Circuit Breaker (CB) atau alat sejenis, dari catu daya
utama (PLN) ke catu daya cadangan (genset) dan sebaliknya. Dan ATS merupakan pelengkap dari AMF
dan bekerja secara bersama-sama.
Cara Kerja AMF dan ATS
Automatic Main Failure (AMF) dapat mengendalikan transfer suatu alat dari suplai utama ke
suplai cadangan atau dari suplai cadangan ke suplai utama.AMF akan beroperasi saat catu daya utama
(PLN) padam dengan mengatur catu daya cadangan (genset). AMF dapat mengatur genset beroperasi jika
suplai utama dari PLN mati dan memutuskan genset jika suplai utama dari PLN hidup lagi.
2.5 Baterai (baterry / accu)

Gambar 2.7 Baterai

13

Battery merupakan suatu proses pengubahan energi kimia menjadi energi listrik yang berupa sel
listrik. Pada dasarnya sel listrik terdiri dari dua buah logam/ konduktor yang berbeda dicelupkan ke dalam
larutan maka akan bereaksi secara kimia dan menghasilkan gaya gerak listrik antara kedua konduktor
tersebut. Proses pengisian battery dilakukan dengan cara mengalirkan arus melalui sel-sel dengan arah
yang berlawanan dengan aliran arus dalam proses pengosongan sehingga sel akan dikembalikan dalam
keadaan semula. Battery yang digunakan pada sistem otomatis GenSet berfungsi sebagai sumber arus DC
pada starting diesel.

2.6 PLC OMRON CPM 1A


PLC (Programmable Logic Controller) diperkenalkan pertama kali pada
tahun 1969 oleh Richard E. Morley yang merupakan pendiri Modicon
Corporation. Menurut National Electrical Manufacturing Assosiation (NEMA)
PLC didefinisikan sebagasi suatu perangkat elektronik digital dengan memori
yang dapat diprogram untuk menyimpan instruksi-instruksi yang
menjalankan fungsi-fungsi spesifik seperti: logika, sekuen, timing, counting,
dan aritmatika untuk mengontrol suatu mesin industri atau proses industri
sesuai dengan yang diinginkan. PLC mampu mengerjakan suatu prosesterus
menerus sesuai variabel masukan dan memberikan keputusan sesuai
keinginan pemrograman sehingga nilai keluaran tetap terkontrol.
PLC merupakan komputer khusus untuk aplikasi dalam industri,
untuk memonitor proses, dan untuk menggantikan hard wiring control dan
memiliki bahasa pemrograman sendiri. Akan tetapi PLC tidak sama
akan personal computer karena PLC dirancang untuk instalasi dan perawatan
oleh teknisi dan ahli listrik di industri yang tidak harus mempunyai skill
elektronika yang tinggi dan memberikan fleksibilitas kontrol berdasarkan
eksekusi instruksi logika. Karena itulah PLC semakin hari semakin
berkembang baik dari segi jumlah input dan output, jumlah memory yang
tersedia, kecepatan, komunikasi antar PLC dan cara atau teknik
pemrograman. Hampir segala macam proses produksi di bidang industri
dapat diotomasi dengan menggunakan PLC. Kecepatan dan akurasi dari
operasi bisa meningkat jauh lebih baik menggunakan sistem kontrol ini.
Keunggulan dari PLC adalah kemampuannya untuk mengubah dan meniru
proses operasi di saat yang bersamaan dengan komunikasi danpengumpulan
informasi-informasi vital.
Operasi pada PLC terdiri dari empat bagian penting:
1. pengamatan nilai input
14

2. menjalankan program
3. memberikan nilai output
4. pengendalian
Dari kelebihan diatas PLC juga memiliki kekurangan antara lain yang
sering disoroti adalah bahwa untuk memrogram suatu PLC dibutuhkan
seseorang yang ahli dan sangat mengerti dengan apa yang dibutuhkan
pabrik dan mengerti tentang keamanan atau safety yang harus dipenuhi.
Sementara itu orang yang terlatih seperti itu cukup jarang dan pada
pemrogramannya harus dilakukan langsung ke tempat dimana server yang
terhubung ke PLC berada, sementara itu tidak jarang letak main
computer itu di tempat-tempat yang berbahaya. Oleh karena itu diperlukan
suatu perangkat yang mampu mengamati, meng-edit serta menjalankan
program dari jarak jauh.
PLC Omron CPM1A merupakan salah satu tipe PLC yang memiliki kecepatan
yang tinggi yang dirancang untuk operasi kontrol yang memerlukan jumlah I/O dari
10 sampai 100 buah I/O. Selain itu, PLC ini memiliki kemudahan dalam
penginstalan, pengembangan, dan pemasangan sistem.

Gambar 2.8 PLC OMRON CPM 1A

Keuntungan PLC dibandingkan dengan suatu sistem logika relay atau rangkaian
konvensional, antara lain :

Sistem PLC
o Mudah dalam pengoperasian,
o Mudah dalam perawatan,
15

o Mudah dalam pelacakan gangguan,


o Konsumsi daya listrik relative rendah,
o Modifikasi sistem lebih sederhana.

Panel Kontrol Konvensional


o Perawatan relatif komplek,
o Komplek dalam pengoperasian,
o Mahal dalam perawatan,
o Pelacakan kesalahan sistem lebih sulit,
o Konsumsi daya listrik relatif tinggi,
o Modifikasi sistem membutuhkan waktu yang lama.
Keuntungan dari penggunaan PLC dalam otomasi, antara lain:
o Waktu implementasi proyek singkat,
o Modifikasi lebih mudah dilakukan,
o Biaya proyek dapat dikalkulasi dengan akurat,
o Training penguasaan teknik lebih cepat,
o Perancangan mudah diubah dengan software, perubahan dan
penambahan dapat dilakukan pada software.
o Aplikasi kontrol yang luas,
o Perawatan yang mudah, Indikator dan output dengan cepat dan mudah
dapat segera diketahui.
o Keandalan tinggi,

Spesifikasi Umum PLC Omron CPM1A


SPESIFIKASI UMUM
Nama
Tipe
Power Supply
Operating Voltage Range

CPM1A CPU 40

Spesifikasi
100 - 240 VAC ; 50/60 Hz
85 264 VAC
16

Inrush Current

30 A max.

Power Consumption

60 VA max.

External Power Supply (Output


Capacity)

24 VDC ;
(300mA)
150 x 90 x 85 mm

Dimension

(Width x Heightx Depth)

Weight

700 gram max.

Communication connector

RS 232C

Struktur Memori PLC OMRON CPM1A


Beberapa bagian dalam memori PLC Omron CPM1A memiliki fungsi khusus. Masingmasing lokasi memori memiliki ukuran 16 bit atau 1 word, beberapa word
membentuk daerah atau region. Daerah tersebut terdiri atas :
Daerah IR
Memori ini berfungsi sebagai tempat menyimpan status keluaran dan masukan PLC.
Beberapa bit berhubungan langsung dengan terminal masukan dan keluaran PLC.
Bit IR 000 berhubungan dengan terminal masukan ke-I, sedangkan terminal ke-IV
berhubungan dengan IR000.5. daerah IR ini terdiri dari 3 macam area diantaranya,
Area masukan, keluaran, dan Area kerja.
Tabel Pembagian Area IR
Area Memori
Area IR

Area
masukan

Word

Bit

Fungsi

IR000-IR009

IR000.00IR009.15

Bit ini dapat


dialokasikan
dalam terminal
I/O.

(10 word)

(16 bit)
Area keluaran

IR010-IR019
(10 word)

IR010.00IR019.15
(160 bit)

Area kerja

IR200-IR231
(32 word)

IR200.00IR231.15

Bit ini bebas


dipakai dalam

17

(512 bit)

program.

BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1 DAFTAR ALAT
N
o
1
2
3

Nama Komponen

Spesifikasi/Merek

Jumlah

Satuan

Tang kombinasi
Terminal
Obeng

Deko

4
5

Tespen
Multimeter

2
1
3
3
2
1

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

Negatif
Positif

3.2 DAFTAR BAHAN


No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama Komponen

Spesifikasi/Merek

PLC

Telemeqanic Zelio
Logic

Box panel
Wire duet
Profil U
Line up terminal
Kontaktor
MCB 3 fasa
Fuse

Merlin Gerlin
4 Amper

Jumla
h
1

Satua
n
Unit

1
3
3
20
3
2
5

Buah
Meter
Meter
Buah
Buah
Buah
Bauh
18

9
10

Selector switch
Kabel NYA 1x2.5 mm
Eterna

11
12
13
14
15

Emergency stop
Push button
Pilot light
Baterai
Kabel Skun

16
17
18
19
20
21

Genset
Trafo
Baut dan mur
Relay
Inverter
Alat Ukur

Merah
Kuning
Hitam
Biru

12 VDC

Arus
8 mm
3 mm
Omron
Voltmeter
Ampheremeter

2
20
20
20
20
1
2
3
2
1
1
3
4
8
5
1

Buah
Meter
Meter
Meter
Meter
Buah
Buah
Buah
Buah
Bungk
us
Unit
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

BAB IV
LANGKAH KERJA

Membuat bon pinjaman alat dan meminjam alat pada teknisi.


Menyiapkan alat yang akan digunakan pada praktikum bengkel sistem interkoneksi ini
dan memriksa kelayakannya.
Menyiapkan panel Job yang akan kita kerjakan.
Memasang komponen-komponen pada panel seperti MCB, kontaktor, TOR, terminalterminal di badan panel dan lampu tanda, push button di pintu panel atau komponenkomponen lain yang diperlukan.
Memastikan tidak ada sambungan dari sumber ke panel atau terminal-terminal.
Merangkai rangkaian kontrol pada panel dan PLC sesuai gambar rangkaian diagram
kerja.
Membuat Ladder diagram sesuai flowchart pada cx-programmer. Kemudian memastikan
boudrate dan port yang digunakan dalam proyek CX-Programmer sama dengan port
komputer.
Memasang suplai PLN 1 fasa untuk line PLC, sumber PLN, dan sebagai simulasi sumber
genset. Pada tahap ini, kita belum memasang genset dan sebagai pengganti, sumber
genset digantikan dengan sumber PLN 1 fasa.
Melakukan pengecekan fungsi I/O PLC dan memastikan I/O yang digunakan berfungsi
dengan baik.
Mentransfer data di CX-Programmer ke PLC kemudian me-RUN CX-Programmer.
19

Melakukan pengecekan program dengan panel tanpa menghubungkan ke genset terlebih


dahulu dan memastikan program yang telah dibuat telah sesuai dengan flowchart yang
diinginkan dan tidak ada yang salah.
Memastikan semua sakelar dan MCB dalam keadaan OFF.
Menghubungkan panel ATS ke genset, menghubungkan sumber PLN sebagai suplai
utama, menghubungkan beban, dan sumber untuk PLC.
menaikkan MCB, kemudian melakukan pengetesan sesuai dengan langkah-langkah pada
flowchart.

BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

SISTEM OTOMATIS

Flow Chart
C
Start

ON Genset

Inisialisasi relay
Sebagai sensor

Baca tegangan genset


Tidak

Baca tegangan PLN

Baca Tegangan PLN


ya

Tidak

ya

ya

Delay 10 s

Ada tegangan PLN

Ada tegangan PLN

Beban genset

Baca tegangan PLN

Tidak
Jumlah = 3
ya

Stop

20

OFF genset

Tidak
Tidak
ya
Delay 10 s

Beban PLN

Delay 10 s cek lagi


OFF Genset
Cek lagi = 2
Delay 30 s

ya

Flow chart diatas menunjukkan bagaimana sistem kerja dari panel ATS secara otomatis.
Ketika pada kondisi normal, yakni ketika ada tegangan PLN dan ketiga fasa dari PLN
bertegangan, maka genset haruslah dalam keadaan OFF Karena genset tidaklah diperlukan ketika ada
suplai dari PLN. Dan tentunya beban dihubungkan ke sumber PLN. Ketika sumber PLN terus ada, maka
hal ini akan menyebabkan relay R1, R2, dan R3 sebagai pendeteksi tegangan PLN juga akan terus
bekerja. ketika ketiga relay ini bekerja, iya akan menjaga kontaktor K1 sebagai penghubung suplai PLN
ke beban bekerja, sehingga beban tetap akan tersuplai oleh sumber PLN.
Saat kondisi normal lalu tiba-tiba suplai dari PLN berhenti dengan alasan apapun, dengan delay
sekitar 3 detik, genset akan mulai starting dan bekerja. Switch genset terdiri dari 2, yakni starting dan
fuel. Starting hanya bekerja 3 detik sebagai pemantik, selanjutnya yang terus menjaga genset bekerja
adalah fuel. Dimana selama switch fuel bekerja, maka bahan bakar akan terus disuplai untuk genset
sehingga genset akan terus bekerja. dalam flow chart, tahap ini akan membentuk siklus,
baca tegangan PLN

ada tegangan PLN

Beban PLN

Off genset

baca tegangan PLN

Siklus 1
ON genset/ Starting
R7(starting
)
1
0

R8(Fuel
)
1R7(startin
1g)
1
0

OFF Genset

R8(Fuel)
1
1
21

Saat tidak ada suplai PLN, maka relay-relay pendeteksi tegangan PLN akan berhenti bekerja. saat
relay-relay tersebut tidak lagi bekerja, maka anak kontak normaly close-nya yang pada saat ada tegangan
PLN membuka, akan menutup sehingga timer yang terhubung ke anak-anak kontak NC tersebut akan
bekerja. setelah selesai menghitung, koil 10.01 yang terhubung ke R7 yang merupakan relay yang
terhubung ke switch starting genset serta koil10.03 yang terhubung ke R8 yang merupakan relay yang
terhubung ke switch fuel genset akan bekerja. setelah 3 detik, starting akan berhenti. Ketika starting
genset berhasil membangkitkan tegangan dari generator set, maka kontaktor K3 dan relay R4, R5, R6
sebagai pendeteksi tegangan genset akan bekerja. ketika relay-relay dan kontaktor pendeteksi bekerja,
maka timer akan melai menghitung selama 10 detik. Setelah selesai menghitung, maka beban akan
dialihkan dari PLN ke genset. Saat teganagn berhasil dibangkitkan oleh generator, beban tidak boleh
langsung dialihkan ke genset. Sebab beberapa detik setelah starting, tegangan genset masih belum stabil.
Pembacaan tegangan PLN akan terus dilakukan selama genset bekerja. jika masih tidak ada
tegangan PLN, maka beban akan terus disuplai oleh genset. Siklus ini kita namakan siklus 2.
Start genset

ada tegangan genset

beban genset

tidak ada tegangan PLN

Siklus 2
Jika setelah starting 3 detik tidak ada tegangan yang dibangkitkan oleh generator, dilalukan
pembacaan tegangan PLN lagi. Jika ternyata ada tegangan PLN, maka genset anak OFF dan terjadi
pembacaan tegangan lagi, selanjutnya akan mengulang siklus 1. Namun, jika ternyata ada tegangan
PLN, maka timer akan mulai menghitung delay 10 detik, lalu genset akan di-OFF-kan. Setelah genset
OFF, ada delay 30 detik lagi, lalu starting akan dimulai lagi. Starting kedua ini sama 3 detik dan seperti
yang pertama, fuel akan dipertahankan. Namun jika masih tidak ada tegangan, maka genset akan di-OFFkan lalu starting kembali dengan delay-delay yang masih sama dengan yang sebelumnya.
Starting

Baca teg genset

tidak ada

baca teg PLN

tidak ada

offgenset

Siklus 3
Pada siklus kedua di atas, kita memberikan cukup banyak delay antara lain, pada saat sebelum di-ON-kan
dan sebelum di-OFF-kan. Hal ini dilakukan, sebab pada saat baru dihidupkan, genset tidak boleh
langsung dimatikan karena hal ini akan merusak atau mempersingkat usia pakai genset. Dengan kata lain,
genset tidak boleh di-ON-kan dan di-OFF-kan terlalu cepat.
Ketika Genset telah bekerja, namun tiba-tiba ada tegangan PLN, genset tidak boleh langsung
dimatikan. Sebab, tegangan genset yang terdeteksi bisa saja hanya tegangan sesaat. Dan ketika sudah
terlanjur OFF, starting ulang akan memakan lebih banyak energi. Maka ketika ada tegangan PLN yang
terdeteksi, pengecekan tegangan PLN kembali dilakukan sebanyak 2 kali. Ketika pada saat pengecekan
tiba-tiba tidak ada tegangan PLN, maka sistem akan kembali pada ke siklus 2. Namun, jika pada saat 2
kali pengecekan tegangan PLN kemungkinan besar, tegangan PLN bukan lagi sesaat, dan pengecekan 2
kali yang juga berfungsi sebagai dela, memastikan tegangan PLN sudah stabil. Pada kondisi ini, barulah
genset di-OFFkan, kemudian sistem akan mengulang siklus 1.

22

Pada saat penggantian sumber beban dari PLN ke genset, maupun dari genset ke PLN harus ada
delay minimal sekitar 3 detik agar tidak terjadi tabrakan antara sumber genset dengan sumber PLN. Hal
ini terjadi sebab K1 yang merupakan penghubung antara sumber PLN ke beban dan K2 yang merupakan
penghubung antara sumber genset ke beban dihubung paralel ke beban. Artinya, hanya boleh ada 1 yang
mensuplai kebeban.

SISTEM MANUAL

Secara manual, artinya sistem tidak lagi bekerja secara otomatis, yang juga
berarti flowchart yang tergambar di atas tidak lagi berpengaruh.
Saat berkerja secara manual, ON dan OFF genset benar-benar hanya
dikontrol oleh satu push button. Push button ini yang mengontrol fuel dan starting
genset. Hanya saja, starting dikontrol tanpa pengunci, yang artinya saat kita tidak
lagi menekan push button, genset juga tidak lagi starting, namun fuel genset
dikontrol dengan pengunci, yang artinya ketika kita tidak lagi menekan push button,
fuel tidak berhenti bekeja. Seperti fungsi kedua switch genset ini, starting memang
hanya bekerja beberapa detik sebagai pemantik dan fuel akan selalu bekerja agar
genset bekerja. fuel baru akan berhenti bekerja saat push button STOP ditekan. Dan
di saat yang sama, genset juga akan berhenti bekerja. Sistem manual ini
dibutuhkan saat sistem otomatis mengalami masalah.
Jadi, pada sistem manual ini, hanya ada dua push button yang digunakan,
yakni tombol ON dan tombol OFF, dimana tombol OFF manual sama dengan tombol
OFF otomatis. Saat kita menekan tombol ON Manual, genset akan bekerja dengan
starting selama kita menekan tombol. Dan akan berhenti bekerja pada saat tomol
OFF ditekan. Pada sistem manual, ketika genset sedang bekerja, ada/tidak adanya
tegangan PLN tidak mepengaruh kerja genset, sebab genset hanya dipengaruhi
oleh tombol ON manual dan OFF.

23

BAB VI
GAMBAR RANGKAIAN

24

BAB VII
25

PENUTUP
7.1 Kesimpulan

Genset atau generator set adalah sebuah mesin/generator yang dapat menghasilkan listrik dengan
bahan bakar minyak/ solar yang digunakan sebagai back-up ketika tidak ada tegangan PLN.
Dengan menggunakan panel ATS, pengoperasian genset dapat lebih mudah, otomatis, dan dapat
lebih optiomal baik dari segi pengoperasian, kehematan, maupun dari segi keamanan.
Pada saat pengoperasian genset, peralihan dari PLN ke genset ataupun sebaliknya, butuh delay
beberaap detik agar sumber dari PLN dan genset tidak bertabrakan.
Sebelum memasukkan beban, butuh delay beebrapa detik untuk PLN maupun genset sebelum
beban dihubungkan. Sebab ketika baru dioperasikan, tegangan genset PLN mupun genset belum
stabil. Sehingga adanya delay berfungsi untuk menunggu kestabilan sumber listrik.
Ketika tidak ada tegangan yang dibangkitkan, starting dan stop genset dilakukan berulang kali.
Start-stop ini tidak boleh dilakukan terlalu cepat, sehingga diberikan delay.

7.2 Kritik dan Saran

Meja bengkel perlu ditambah

BAB VIII
26

DAFTAR PUSTAKA
Marsudi Djiteng. 2005. Pembangkitan Energi Listrik. Erlangga: Jakarta.
http://akhdanazizan.com/generator-listrik
http://carapedia.com/kerja_generator_listrik_info2559.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Generator_listrik

http://id.wikipedia.org/wiki/Kontrol_logika_terprogram
http://www.apsgenset.com/blog/post/definisi-dan-pengertian-mesin-genset
http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/10/generator-set-genset.html

LAMPIRAN
27

Ledder Diagram

28

29

30

31

32

33

Ta
mpilan CIMON SCADA Sistem Interkoneksi

Database CIMON SCADA Sistem Interkoneksi

34

35