Anda di halaman 1dari 11

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Korupsi
Kata “korupsi” berasal dari bahasa Latin “corruptio” atau “corruptus”.
Selanjutnya dikatakan bahwa “corruptio” berasal dari kata “corrumpere”,
suatu bahasa Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin tersebut kemudian
dikenal istilah “corruption”, “corrupt” (Inggris) “corruption” (Perancis) dan
“corruptie” atau “korruptie” (Belanda). Arti kata korupsi secara harfiah
adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak
bermoral, penyimpangan dari kesucian.
Istilah korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa
Indonesia, adalah “kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral,
kebejatan dan ketidakjujuran”. Pengertian lainnya, “perbuatan yang buruk
seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya”.
1.

Selanjutnya untuk beberapa pengertian lain, disebutkan bahwa :
Korup artinya busuk, suka menerima uang suap atau sogok, memakai

2.

kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan sebagainya;
Korupsi artinya perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan

3.

uang sogok, dan sebagainya; dan;
Koruptor artinya orang yang melakukan korupsi.
Dengan demikian arti kata korupsi adalah sesuatu yang busuk, jahat dan
merusak, berdasarkan kenyataan tersebut perbuatan korupsi menyangkut
sesuatu yang bersifat amoral, sifat dan keadaan yang busuk, menyangkut
jabatan instansi atau aparatur pemerintah, penyelewengan kekuasaan dalam
jabatan karena pemberian, menyangkut faktor ekonomi dan politik dan
penempatan keluarga atau golongan ke dalam kedinasan di bawah kekuasaan
jabatan.

2.2 Penyebab Korupsi
2.2.1 Faktor Penyebab Korupsi
4
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi, baik
berasal dari dalam diri pelaku atau dari luar pelaku. Sebagaimana

Nur Syam memberikan pandangan bahwa penyebab seseorang melakukan korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Aspek organisasi 3. yang dapat pula dikatakan sebagai keinginan.5 dikatakan Yamamah bahwa ketika perilaku materialistik dan konsumtif masyarakat serta sistem politik yang masih “mendewakan” materi maka dapat “memaksa” terjadinya permainan uang dan korupsi. Sifat tamak manusia b. . Cara pandang terhadap kekayaan yang salah akan menyebabkan cara yang salah dalam mengakses kekayaan. Moral yang kurang kuat menghadapi godaan c. Dengan demikian. Aspek masyarakat tempat individu dan organisasi berada Pendapat lain juga menyebutkan bahwa. Rendahnya integritas dan profesionalisme. maka salah satu penyebab korupsi adalah cara pandang terhadap kekayaan. Lemahnya komitmen dan konsistensi penegakan hukum dan peraturan perundangan 4. jika menggunakan sudut pandang penyebab korupsi seperti ini. Tidak mau (malas) bekerja keras 2. tingginya kasus korupsi di negeri ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: 1. niat atau kesadaran untuk melakukan. maka jadilah seseorang akan melakukan korupsi. Gaya hidup konsumtif d. Rendahnya gaji Pegawai Negeri Sipil 3. Kurang keteladanan dan kepemimpinan elite bangsa 2. Pandangan lain dikemukakan oleh Arifin yang mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi antara lain: 1. Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidak mampu ditahan sementara akses ke arah kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi. “Dengan kondisi itu hampir dapat dipastikan seluruh pejabat kemudian `terpaksa` korupsi kalau sudah menjabat”. Lebih jauh disebutkan sebab-sebab manusia terdorong untuk melakukan korupsi antara lain : a. Aspek perilaku individu Sebab-sebab seseorang melakukan korupsi dapat berupa dorongan dari dalam dirinya.

1. bahkan ketika meraih dan mempertahankan kekuasaan. keuangan dan birokrasi belum mapan 6. Lemahnya keimanan. tergolong korupsi yang di sebabkan oleh konstelasi politik. Korupsi politik misalnya perilaku curang (politik uang) pada pemilihan anggota legislatif ataupun pejabat-pejabat eksekutif. faktor hukum. dana ilegal untuk pembiayaan kompanye. kejujuran.6 5. Korupsi pada level pemerintah adalah dari sisi pemerintah. sebagaimana dalam buku berjudul Peran Parlemen dalam Membasmi Korupsi yang mengidentifikasikan empat faktor penyebab korupsi yaitu faktor politik. politik uang merupakaan fenomena yang sering terjadi. pencurian barangbarangg politik untuk kepentingan pribadi. kepentingan politis para pemegang kekuasaan. D adalah discretionary (kewenangan). faktor penyebab korupsi dapat terjadi karena faktor politik. pemerasan uang suap. rasa malu. pemberian perlindungan. Perilaku korupsi seperti penyuapan. Faktor Politik Politik merupakan salah satu penyebab terjadinya korupsi. Penjelasan atas simbol tersebut dapat dikatakan bahwa korupsi adalah hasil dari adanya . hukum dan ekonomi. tugas jabatan dan lingkungan masyarakat 7. moral dan etika Secara umum. Robert Klitgaard (2005) menjelaskan bahwa proses terjadinya korupsi denngan formulasi M+D-A = C. A adalah accountability (pertanggungjawaban). faktor ekonomi dan birokrasi serta faktor transnasional. penyelasaian konflik perlemen melalui cara-cara ilegal dan tekniik lobi yang menyimpang. Simbol M adalah monopoli. Terkait dengan hal itu Terrece Gomes (2000) memberikan gambaran bahwa politik uang (money politic) sebagai use of money and material benefist in the pursuitof political influence. Mekanisme pengawasan internal di semua lembaga perbankan. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi instabilitas politik. Kondisi lingkungan kerja.

rumusan yang tidak jelas-tegas (non lex certa) sehingga multi tafsir. peraturan perundang-undanganyang bermuat kepentingan pihak-pihak tertentu Kualitas peraturan perundang-undangan kurang memadai Peraturan kurang disosialisasikan Sanksi yang terlalu ringan Penerapan sanksi yang tidak konsisten dan pandang bulu . mudah ditemukan dalam aturan-aturan yang diskriminatifdan tidak adil. c. d. e. Sanksi yang tida equivalen dengan perbuatan yang dilarang sehingga tidak tepat sasaran serta dirasa terlalu ringan atau terlalu berat. semua itu memungkinkan suatu peraturan tidak kompatibel dengan realitas yang ada sehingga tidak fungsinal atau tidak produktif dan mengalami resistensi. Praktek politik uang dalam pembuatan hukum berupa suapmenyuap (political bribery). Tidak baiknya subtansi hukum. Faktor Hukum Faktor hukum dapat dilihat dari dua sisi.7 monopoli (kekuasaan) ditambah dengan kewenangan yang begitu besar tanpa terbukaan dan pertanggungjawaban. namun yang dominan adalah: a. penggunaan konsep yang berbeda-beda untuk sesuatu yang sama. 2. Penyebab kaadaan ini sangat beragam. b. kontradiksi dan overlapping dengan peraturan lain (baik yang sederajad maupun yang lebih tinggi). tindakan korupsi mudah timbul karena ada kelemahan di dalam peraturan perundang-undang yang mencakup: a. Salaras dengan hal itu. Akibatnya timbul peraturan yang elastis dan multitafsir serta tumpang-tindih dengan aturan lain sehingga mudah dimanfaatkan untuk menyelamatkan pihak-pihak pemesan. Tawar-menawar dan pertarungan kepentingan antara kelompok dan golongan di perlemen. utamanya menyangkut perundangundangan dibidang ekonomi dan bisnis. di satu sisi dari aspek perundang-undangan dan sisi lain lemahnya penegakan hukum. sehingga memunculkan aturan yang bias dan diskriminatif. Adanya b.

Bilamana organisasi tersebut tidak membuka peluang sedikitpun bagi seseorang untuk melakukan korupsi. Kurang adanya teladan dari pimpinan b. maka korupsi tidak akan terjadi. Pendapatan ini tidak mutlak benar karena dalam teori kebutuhan Maslow. Pernyataan demikian tidak benar sepenuhnya. Organisasi yang menjadi korban korupsi atau dimana korupsi terjadi biasanya memberi adil tejadinya korupsi karena membuka peluang atau kesempatan untuk terjadi korupsi. bukan disebabkan oleh kemiskinan. Dengan demikian. Namun saat ini korupsi di lakukan oleh orang kaya dan berpendidikan tinggi. 4. Faktor Organisasi Organisasi dalam hal ini adalah organisasi dalam arti yang luas. banyak pendapat yang menyatakan bahwa kemiskinan merupakan akar masalah korupsi. diantaranya adalah kekuasaan pemerintah yang di barengi dengan faktor kesempatan bagi pegawai pemerintah untuk memenuhi kekayaan mereka dan kroninya. Terkait faktor ekonomi dan terjadinya korupsi. kemiskinan disebabkan oleh korupsi. Faktor Ekonomi Faktor ekonoomi juga merupakan salah satu penyebab terjadinya korupsi. korupsi seharusnya hanya dilakukan oleh orang yang memenuhi dua kebutuhan yang paling bawah dan logika lurusnya hanya dilkukan oleh komunis masyarakat yang pas-pasan yang bertahan hidup. Tidak adanya kultur organisasi yang benar c. termasuk sistem pengorganisasian lingkungan masyarakat. Selain rendahnya gaji pegawai. Hal itu dapat dijelaskan dari pendapatan atau gaji yang mencukupi kebutuhan. Lemahnya bidang evalusi dan revisi peraturan perundangundangan 3. Aspek-aspek penyebab terjadinya korupsi dari sudut pandang dari organisasi meliputi: a.8 f. sebab banyak korupsi yang di lakukan oleh pemimpin Asia dan Afrika dan mereka tidak tergolong orang miskin. Sistem akuntabilitas di instansi pemerintah kurang memadai . banyak aspek ekonomi lain yang menjadi penyebab terjadinya korupsi. tetapi justru sebaliknya.

Mempunyai hasrat besar untuk memperkaya diri. Godaan itu bisa berasal dari atasan. yaitu sifat tamak dan rakus. wajib hukumannya. Korupsi adalah kejahatan orang profesional yang rakus. Faktor-faktor penyebabnya bisa dari internal pelaku-pelaku korupsi. Ia berfungsi untuk membantu para anggotanya menentukan cara terbaik dalam melaksanakan tugas dan melakukan suatu tindakan. tapi serakah. 1. Dengan demikian secara garis besar penyebab korupsi dapat dikelompokan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Tujuan organisasi juga berfungsi menyediakan pedoman-pedoman (praktis) bagi para anggotanya.9 d. 2. tujuan organisasi dapat dijadikan oleh para anggota sebagai dasar keabsahan dan kebenaran tindakan-tindakan dan keputusankeputusannya. Faktor Internal Faktor pendorong korupsi dalam diri. Perilaku korupsi menyangkut berbagai hal yang bersifat kompleks. tujuan organisasi menghubungkan para anggotanya dengan berbagai tata cara daLam kelompok. bawahanya atau pihak yang lain yang memberikan kesempatan untuk itu. teman setingkat. 3) Gaya Hidup yang Konsumtif . Aspek Perilaku Individu 1) Sifat Tamak atau Rakus Manusia Korupsi. Menajemen cendrung menutupi korupsi di dalam organisasinya Dalam fungsinya sebagai dasr legitimasi atau pembenaran. tindak korupsi pada dasarnya bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. tetapi bisa juga bisa berasal dari situasi lingkungan yang kondusif bagi seseorang untuk melakukan korupsi. 2) Moral yang Kurang Kuat Seorang yang moralnya tidak kuat cendrung mudah tergoda untuk melakukan korupsi.2. Sudah berkecukupan. yang dapat dirinci menjadi: a. bukan kejahatan kecil-kecilan kerena mereka membutuhkan makan.2 Faktor Internal dan Eksternal Penyebab Korupsi Dari beberapa uraian di atas. Maka tindakan karas tanpa kompromi. Dalam fungsinya demikian. Unsur penyebab korupsi pada pelaku semacam itu datang dari dalam diri sendiri.

Aspek Sosial Perilaku korupsi dapat terjadi karena dorongan keluarga.10 Kehidupan di kota-kota besar sering mendorong gaya hidup seseorang konsumtif. Kaum behavioris mengatakan bahwa lingkungan keluargalah yang secara kuat memberikan dorongan bagi orang untuk korupsi dan mengalahkan sifat baik seseorang yang sudah menjadi traits pribadinya. asensinya yang paling rugi adalah masyarakat juga. Perilaku konsumtif bila tidak di imbangi dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk melakukan berbagai tindakan untuk memenuuhi hajatnya. Misalnya. masyarakat menghargai seseorang karena kekayaan yang dimilikinya. Oleh karena itu sikap masyarakat yang berpotensi menyuburkan tindak korupsi terjadi karena: 1) Nilai-nilai di masyarakat kondusif untuk terjadi korupsi. 2. Anggapan masyarakat umum terhadap peristiwa korupsi. 2) Masyarakat kurang menyadari bahwa korban utama korupsi adalah masyarakat sendiri. misalnya dari mana kekayaan itu di dapatkan. b. Korupsi bisa di timbulkan oleh budaya masyarakat. Padahal bila negara merugi. Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan melakukan korupsi. Aspek Sikap Masyarakat Terhadap Korupsi Pada umumnya jajaran manajemen selalu menutupi tindak korupsi yang di lakukan oleh segelintir oknum dalam organisasi. yang dapat dirinci menjadi: a. Sikap ini sering membuat masyarakat tidak kritis pada kondisi. Faktor Eksternal Pemicu perilaku korupsi yang disebabkan oleh faktor di luar diri pelaku. karna proses anggaran . Akibat sifat tertutup ini pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk. sosok yang paling di rugikan adalah negara. Lingkungan dalam hal ini malah memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.

4) Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa di cegah dan diberantaskan bila masyarakat ikut aktif dalam agenda pencegahan dan pemberantasan. Setiap perbuatan korupsi pasti melibatkan anggota masyarakat. b. kepentingan politis. Kontrol sosial tersebut dijalankan dengan menggerakkan berbagai aktivitas yang melibatkan penggunaan kekuasaan negara sebagai suatu lembaga yang diorganisasikan secara politik. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi itu bisa diberantas hanya bila masyarakat ikut melakukannya. Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi. Dengan demikian intabilitas politik. meraih dan mempertahankan kekuasaan sangat potensi menyebabkan perilaku korupsi. d. Aspek Organisasi 1) Kurang Adanya Sikap Keteladanan Pimpinan . Hal ini kurang disadari oleh masyarakat. Dalam rentangan kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. melalui lembaga-lembaga yang dibentuknya.11 pembangunan bisa berkurang sebagai akibat dari perbuatan korupsi. c. 3) Masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat korupsi. Pada umumnya mayarakat berpandangan bahwa masalah korupsi adalah tanggungjawab pemerintah semata. Aspek Ekonomi Pendapatan tidak mencukupi kebutuhan. Bahkan sering kali masyarakat sudah terbiasa terlibat pada kegiatan korupsi sahari-hari dengan cara-cara terbuka namun tidak disadari. Aspek Politis Kontrol sosial adalah suatu proses yang dilakukan untuk mempengaruhi orang-orang agar bertingkah laku sesuai dengan harapan masyarakat.

Pada posisi demikian perbuatan negatif. Akibatnya. 3) Kurang Memadainya Sistem Akuntabilitas Institusi pemerintahan umumnya pada satu sisi belum di rumuskan dengan jelas visi dan misi yang di embannya. akan menimbulkan berbagai situasi tidak kondusif mewarnai kehidupan organisasi. 2) Tidak Adanya Kultur Organisasi yang Benar Kultur organisasi biasanya punya pengarah kuat terhadap anggotanya. 5) Lemahnya Pengawasan Secara umum pengawasan terbagi menjadi dua. seperti korupsi memiliki peluang untuk terjadi. Akibat lebih lanjut adalah kurangnya perhatian pada efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki.12 Posisi pemerintah dalam suatu lembaga formal maupun informal mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya. Bila pemimpin tidak bisa memberikan keteladanan yang baik di hadapan bawahannya. terhadap instansi pemerintah sulit dilakukan penilaian apakah instansi tersebut berhasil mencapai sasarannya atau tidak. Keadaan ini memunculkan situasi organisasi yang kondusif untuk peraktik korupsi. 4) Kelemahan Sistem Pengendalian Manajemen Pengendalian manajemen merupakan salah satu syarat bagi tindak pelanggaran korupsi dalam sebuah organisasi. dan belum di rumuskan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam periode tertentu guna mencapai hal tesebut. Apabila kultur oranisasi tidak dikelola dengan baik. maka kemungkinan besar bawahannya akan mengambil kesempatan yang sama dengan atasannya. misalnya berbuat korupsi. yaitu pengawasan internal (pengawasan funsional dan pengawasan langsung oleh pemimpin) dan pengawasan bersifat eksternal (pengawasan dari legislative atau . Semakin longgar atau lemahnya pengendalian menajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka perbuatan tindak korupsi anggota atau pegawai di dalamnya.

3. Gagalnya pendidikan agama dan etika.8 korupsi > kerugian bila tertangkap. Langkanya lingkungan yang antikorup.3. Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang karena takut dianggap 2. imbalan jasa dan hadiah. Rendahnya pendapatan penyelenggaraan negara.3.3. penegakan hukum hanya sebagai meke-up politik. sistem dan pedoman 2.7 Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan korupsi.6 dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Sehingga agama nyaris tidak berfungsi dalam memainkan peran . karena sering terjadi.3.3 Motivasi Korupsi Motivasi yang menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi. tidak mau tahu. Pedapatan yang diperoleh harus mampu memenuhi kebutuhan penyelenggara negara. Saat tertangkap bisa menyuap penegak hukum sehingga dibebaskan atau setidaknya diringankan hukumannya.3. keserakahan. tidak pernah puas 2. Budaya memberi upeti. asal kepentingannya sendiri terlindungi. Rumus: Keuntungan 2.3. Kemiskinan.5 memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. 2.9 perduli orang lain. Pengawasan ini kurang efektif karena beberapa faktor. Masyarakat kurang mampu melakukan korupsi karena kesulitan ekonomi.13 masyarakat). Menganggap biasa bila ada korupsi. diantaranya: 2.3. Budaya permisif atau serba membolehkan. Tidak 2. diantaranya adanya tumpang tindih pengawasan pada berbagai instansi. Pemeluk agama menganggap agama hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja. mampu mendorong penyelenggara negara untuk berprestasi dan 2.3 bodoh bila tidak menggunakan kesempatan. Sedangkan mereka yang berkecukupan melakukan korupsi karena serakah.1 Penegakan hukum tidak konsisten.4 antikorupsi hanya dilakukan sebatas formalitas. 2. bersifat sementara dan selalu berubah tiap pergantian 2. kurangnya profesional pengawasan serta kurangnya kepatuhan pada etika hukum maupun pemerintah oleh pengawas sendiri.3.2 pemerintahan.

14 sosial. Sebenarnya agama bisa memainkan peran yang besar dibandingkan institusi lainnya. . Karena adanya ikatan emosional antara agama dan pemeluk agama tersebut jadi agama bisa menyadarkan umatnya bahwa korupsi dapat memberikan dampak yang sangat buruk baik bagi dirinya maupun orang lain.