Anda di halaman 1dari 9

Patofisiologi Luka Bakar

Oleh : Trismoria Sinurat, 1106089161
Luka bakar adalah luka yang disebabkan karena pengalihan energi dari
sumber panas ke tubuh. Panas dapat dipindahkan klewat hantaran atau radiasi
elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi tiga luka bakar
termal, radiasi, atau kimia (Smeltzer, Suzzanne C. Vol 3.2001.)
Luka bakar disebabkan karena tranfer energi panas dari sebuah sumber
energi ke tubuh, panas akan menyebabkan kerusakan jaringan. Keparahan luka
bakar menentukan derajat perubahan yang tampak di dalam organ-organ dan
sistem tubuh. Kerusakan jaringan tubuh akibat panas tersebut tergantung dari
beberapa faktor, yaitu : temperature sumber panas, lamanya kontak dengan
sumber panas serta jaringan tubuh yang terkena. Faktor jaringan tubuh yang
terkena merupakan faktor yang paling penting dalam menentukan derajat
konduktivitas jaringan, yaitu : kandungan air dalam jaringan tersebut, adanya
sekresi lokal, pigmentasi jaringan, ketebalan kulit, efektifitas barier tahan panas
seperti aliran darah dalam jaringan.
Oleh karena banyaknya faktor yang berpengaruh, trauma yang terjadi pada
kulit sangat bervariasi. Umumnya trauma termal kulit pada suhu <45 0 C hanya
minimal, meskipun terjadi kontak dengan sumber panas lebih dari 20 menit.
Kontak dengan panas >600 C selama 1 menit akan mengakibatkan full thickness
injury.
Efek dari luka bakar dapat digolongkan menjadi 3 kategori, yaitu efek pada
kulit, efek pada pembuluh darah dan elemen darah, serta respon metabolik dan
perubahan hemodinamik.
Fungsi utama kulit adalah sebagai barier terhadap panas dan kehilangan air
dari tubuh serta sebagai pertahanan dari invasi kuman. Pada keadaan normal kulit
yang intak mampu membatasi proses evaporasi cairan tubuh 5% dibandingkan
jaringan kulit tidak intak. Rata-rata kehilangan cairan melalui jaringan kulit intak
sekitar 15 ml/m2/jam sedangkan pada luka bakar derajat III akan terjadi
kehilangan cairan sebesar 200 ml/m2/jam. Evaporasi cairan pada luka bakar
derajat II dan III akan disertai dengan meningkatnya kehilangan panas tubuh.
Peningkatan panas ini, akan disertai dengan peningkatan kebutuhan O 2, keadaan
ini akan meningkatkan metabolisme tubuh dan produksi energi untuk

Pada penderita luka bakar akan terjadi dehidrasi hipertonis disertai hipernatremi.mempertahankan homeostatis panas tubuh. umumnya terjadi pada 24 jam pertama. Kehilangan cairan tubuh pada penderita luka bakar terutama terjadi pada 24 jam pertama. sehingga terjadi udem. Setelah 48 jam kemudian permeabilitas kapiler akan kembali normal serta timbul udem. meskipun pada kulit yang intak juga terdapat kuman. Sedangkan pada luka bakar derajat II kemampuan kulit sebagai barrier kuman masih tetap ada meskipun kadang-kadang dapat terjadi sepsis. Dengan banyaknya kehilangn cairan tubuh akan menyebabkan iskemik ginjal dan oliguri. Pada luka bakar ada tiga fase yaitu : - Fase akut. terperangkapnya sel darah merah didaerah luka bakar oleh karena thrombosis pembuluh darah dan pengendapan sel darah merah. cairan dan protein dengan cepat akan meninggalkan pembuluh darah ke jaringan intertitiel sehingga terjadi udem. . Berkurangnya cairan kaya protein dari sirkulasi akan menyebabkan syok hipovolemik. Berkurangnya sel darah merah sesuai dengan kedalaman dan luas luka bakar. Berkurangnya volume plasma akan diikuti berkurangnya volume sel darah merah. yaitu hemolisis sel darah merah karena panas. Trauma termis akan mengakibatkan perubahan integritas pembuluh darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler. Pada awalnya cairan yang berada didaerah luka bakar akan diresorbsi sistem limfe. terutama di daerah luka bakar. Pada luka bakar derajat III. fungsi kulit sebagai barrier kuman akan hilang. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah juga terjadi secara general. Keadaan ini secara klinis ditandai dengan adanya diuresis. tetapi lama kelamaan kehilangan cairan akan bertambah karena melebihi kemampuan resorbsi sistem limfe. Cairan tersebut akan terkumpul diruang intertisial disekitar dan di luka bakar. Destruksi sel darah merah pada lokasi cedera akan tampak dengan adanya hemoglobin bebas dalam plasma dan urin. tetapi jarang sekali terjadi infeksi. Fungsi lain dari kulit adalah sebagai barrier kuman. Berkurangnya volume sel darah merah biasanya disebabkan beberapa faktor. Oleh karena itu.

Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas). respon pulmoner dan respon sistemik lainnya. Fase lanjut. dan circulation (sirkulasi). efek pada cairan elektrolit dan volume darah. Proses inflamasi dan infeksi 2. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak - sistemik. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut. natrium serta protein dari ruang intravaskuler .Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Berlangsung setelah fase syok teratasi. kleoid. gangguan pigmentasi. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ - fungsional. Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik. namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. deformitas dan kontraktur Luka bakar menghasilkan berbagai respon sistemik seperti respon kardiovaskular. Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Respon sistemik Kejadian sistemik awal yang terjadi sesudah luka bakar yang berat adalah ketidakstabilan hemodinamika akibat hilangnya integritas kapiler dan kemudian terjadinya perpindahan cairan. Fase sub akut. Luka yang terjadi menyebabkan: 1. brething (mekanisme bernafas). Keadaan hipermetabolisme. 3.

gangguan integritas kapiler dan perpindahan cairan akan terbatas pada luka bakar itu sendiri sehingga pembentukan lepuh dan edema hanya terjadi . Perubahan hematologi berat disebabkan kerusakan jaringan dan perubahan pembuluh darah yang terjadi pada luka bakar yang luas. Kehilangan cairan juga disebabkan karena evaporasi yang meningkat 4 – 15 kali evaporasi pada kulit normal. Dengan adanya pemulihan integritas kapiler. Hal ini akan membuat volume darah meningkat dan apabila fungsi renal dan kardiak masih memadai haluaran urin akan meningkat. menyebabkan kehilangan cairan melalui sistem pernapasan. Meskipun sudah dilakukan resusitasi cairan yang adekuat tekanan pengisian jantung tetap rendah selama periode syok luka bakar. a. Cardiac Curah jantung akan menurun sebelum perubahan signifikan pada volume darah terlihat jelas. Curah jantung akan terus menurun karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler yang kemudian akan terjadi penurunan tekanan darah. syok luka bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali ke dalam kompartemen vaskuler. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung. Perubahan pada fungsi kulit menyebabkan perubahan secara keseluruhan pada sistem tubuh. Diuresis berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu. Peningkatan metabolisme juga dapat b. sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin dan meningkatkan resistensi perifer (vasokontriksi) dan frekuensi denyut nadi. Pada luka bakar yang kurang dari 30% luas total permukaan tubuh. Umumnya jumlah kebocoran cairan yang terbesar terjadi dalam 24 sampai 36 jam pertama sesudah luka bakar mencapai puncaknya dalam tempo 6 hingga 8 jam. Jika resusitasi cairan tidak adekuat akan terjadi syok distributif. Sebagai respon. terdapat peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan keluarnya plasma dan protein ke jaringan yang akan terjadinya edema dan kehilangan cairan intravakuler.kedalam intertitial. Curah jantung akan membaiki apabila resusitasi cairan segera dilakukan. Efek cairan. elektrolit dan volume darah Mengikuti kejadian luka bakar.

hyperglikemia. dan penurunan penyembuhan luka. keadaan ini berhubungan dengan meningkatnya evaporasi air dan kehilangan melalui luka bakar. Tingkat metabolik yang tinggi akan sesuai dengan luas luka bakar sampai dengan luka bakar tersebut menutup. Karena edema akan edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar. Peningkatan katekolamin (epinephrine. dan respon stress. Berkurangnya peristalsis dan bising usus merupakan manifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat luka bakar. norepinephrine) yang disebabkan karena respon terhadap stress. komplikasi gastrointestinal adalah ulkus Curling. Katabolisme yang berat juga terjadi yang disebabkan karena keseimbangan nitrogen yang negatif. Gastrointestinal Masalah gastrointestinal yang mungkin terjadi adalah pembengkakan lambung. Selama fase luka bakar terbuka nutrisi penderita harus diperhatikan Kebutuhan metabolik sangat tinggi pada pasien dengan luka bakar. Hipermetabolisme inilah yang membuat suhu tubuh pada pasien luka bakar meningkat. dan ileus paralitik. Selain itu. Selama fase katabolik akan terjadi kekurangan energi yang besar. Penutupan luka merupakan memberikan balans nitrogen positif. Ileus paralitik adalah tidak adanya peristaltis usus. intervensi pembedahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi lama dan besarnya balans nitrogen negatif dan defisit energi selama ini adalah luas dan dalamnya luka bakar. ulkus peptkum. c. tekanan terhadap pemuluh darah kecil dan saraf ekstrimitas distal menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia. Komplikasi ini disebut sindrom kompartemen. Ulkus Curling ini . Metabolic Secara klinis defek metabolik yang jelas pada fase luka terbuka adalah adanya balans nitrogen negatif. Pasien dengan luka bakar yang lebih parah akan mengalami edema sistemik yang masif. Ini menyebabkan peningkatan kadar glukagon yang dapat menyebabkan d.didaerah luka bakar. Hypermetabolisme juga terjadi karena cidera itu sendiri. berat-ringannya infeksi. regimen nutrisi dan lamanya fase luka terbuka. kehilangan berat badan.

penurunan glomerulo filtrasi rate. Yang kedua adalah cedera inhalsi dibawah glotis. Respon ini disebabkan karena kehilangan cairan. lambung. penurunan motilitas e. Walaupun efek tersebut tidak jelas. hemoglobin dan mioglobin menyumbat tubulus renal sehingga timbul komplikasi nekrosis akut tubuler dan gagal ginjal. Cedera saluran nafas atas diatasi dengan intubasi nasotrakeal atau endotrakeal yang dini. Cedera pulmoner diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu cedera saluran nafas atas. Renal Perubahan awal pada fungsi ginjal. Pulmonary pada luka bakar yang berat konsumsi oksigen oleh jaringan tubuh pasien akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari hipermotabolisme dan respon lokal. Efek endokrin. Manifestasi klinis berupa oliguri. didapatkan adanya peningkatan hidrocorticoid setelah trauma termis. Karena vaporasi yang cepat dalam traktus pulmonalis akan menimbulkan efek pendinginan. cedera panas biasanya tidak terjadi pada tingkat bronkus. ekskresi K. Supleman oksigen diperlukan untuk memastikan tersedianya oksigen untuk jaringan. Keadaan ini bermanifestasi sebagai obstruksi mekanis saluran nafas atas yang mencakup laring dan faring. imobilisasim. vasokontriksi pembuluh darah ginjal dan aktivitas adrenergik. Apabila aliran darah lewat tubulus renal tidak memadai. perpindahan cairan. yaitu terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas berbahaya . retensi Na. dan respon terhadap stress. Kehilangan cairan dan tidak adekuatnnya pemberian cairan dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal dan glomerular filtration rate. terutama disebabkan oleh hipovolemi.ditandai distensi lambung dan pendarahan lambung yang terjadi sekunder akibta stress fisiologik yang masif. yaitu terjadi panas berlangsung atau edema. Insufisiensi renal akut dapat terjadi yang disebabkan karena hypovolemia dan penurunan kardiak output. Pada penelitian urine. f. tetapi bila terapi pada fase syok tidak adekuat akan menimbulkan akut renal failure. terutama aktifitas hormon adrenal memegang peran penting pada fase syok.

dan penurunan limfosit. Pada kasus dapat terlihat bahwa ny KL yang g. hipersekresi. Hyperventilasai biasanya berhubungan dengan luas luka bakar. Efek terhadap paru disebabkan karena menghisap asap. maka dapat ditentukan klasifikasi dari luka bakar. luka bakar derajat II. dan luka bakar derajat III. Peningkatkan ventilasi berhubungan dengan keadaan hypermetabolik.seperti karbonmonoksida. Semua sistem respon imun akan dipengaruhi secara merugikan. Secara klinis dapat diklasifikasikan menjadi 3 derajat yaitu: luka bakar derajat I. perubahan kadar imunoglobulin serta komplemen serum. Imun Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. dan nyeri. menunjukkan pola nafas yang lebih cepat dari biasanya. Derajat I dan II dikenal sebagai “Partial Thickness burn” sedangkan luka bakar derajat III dikenal sebagai - “Full Thickness burn”. Oleh karena hanya terjadi kerusakan superfisial makan hanya sedikit terjadi kerusakan sistemik. Luka bakar derajat I akan sembuh spontan dalam 5-10 hari tanpa timbul - jaringan ikat. Keluhan utama pada derajat I hanya berupa rasa nyeri dan edem lokal. Cedera langsung terjadi akibat iritasi kimia jaringan paru pada tingkat alveoli. notrogen oksida. sulfur oksida. Imunosupresi membuat pasien luka bakar beresiko tinggi untuk mengalami sepsis. Luka bakar derajat II . edema mukosa yang berat. Cedera inhalasi dibawah glotis menyebabkan hilangnya fungsi silia. dan kemungkinan bronkospasme. rasa nyeri akan segera hilang setelah 48 jam. cemas. Tanda utama dari cidera inhalasi ini adalah ekspektorasi partikel-partikel karbon dalam sputum. Luka bakar derajat I Hanya terjadi kerusakan epidermis ditandai dengan adanya eritema. Kerusakan kulit menyebabkan kehilangan mekanisme pertahanan pertama terhadap infeksi. Kehilangan integritas kulit diperparah lagi dengan pelepasan faktor-faktor inflamasi yang abnormal. takut. Respon lokal dan luas luka bakar  Kedalaman Luka bakar Berdasarkan dalamnya luka bakar dan lamanya kontak dengan sumber panas.

Persentase permukaan tubuh yang diperkirakan pada orang dewasa menurut rule of nines yaitu kepala 9%. Rule of nines Rule of nines menggunakan sistem persentase dalam kelipatan 9 terhadap permukaan tubuh yang luas. mengalami eksudasi cairan. Luka bakar ini akan meninggalkan lapisan jaringan parut. folikel rambut - masih utuh. Luka bakar derajat III Merupakan luka bakar yang berat.Luka bakar mengenai seluruh lapisan epidermis dan sebagian corium. warna bervariasi mulai dari putih hingga merah. Kulit berwarna merah muda serta nyeri. - metode Lund and Browder dan metode telapak tangan. terjadi kerusakan seluruh lapisan dermis dan lemak subkutan. disertai adanya edema subkutan. ekstrimitas atas kanan 9% dan kiri 9%. Folikel rambut dan kelenjar keringat turut hancur. Ditandai denga adanya bulla. Daerah paling luar merupakan zona hiperemi merupakan luka bakar derajat I.  Luas Luka bakar Ada beberapa cara untuk menentukan luas luka bakar yaitu rule of nines. Posterior 18%. Daerah yang terbakar tidak terasa nyeri karena serabut-serabut sarafnya hancur. cokelat atau hitamdan kering. Zona paling dalam adalah zona koagulasi dimana terjadi kematian seluler. anterior 18%. Pada luka bakar derajat II yang dalam akan terjadi regenerasi epitel dengan granulasi vaskuler dalam waktu 2-3 minggu. inflamasi dan kerusakan jaringan. Setiap daerah yang terbakar memiliki tiga zona cedera yang semakin parah apabila zona semakin ke dalam. apabila terjadi skunder infeksi proses penyembuhan akan lebih lama. Zona yang ditengah disebut zona statis tempat terjadinya gangguan suplai darah. Pada waktu luka bakar derajat II superfisial akan sembuh dalam waktu 10-14 hari. Rule . Ciri-ciri pada luka ini adalah tampak merah. pemutihan jaringan yang terbakar diikuti oleh pengisian kembali kapiler. ekstrimitas bawah kanan 18% dan kiri 18% dan area kelamin 1%. terasa nyeri.

New York : Mosby Smelzter. Buku Ajar Keperawatan Klinis. Alih bahasa : Agung waluyo. Menurut metode ini persentase luas luka bakar pada tubuh. Jakarta : EGC . Metode Lund dan Browder Metode ini merupakan metode yang paling tepat dalam menghitung luas luka bakar. Barbara L.of nines merupakan cara yang cepat untuk menghitung luas daerah yang - terbakar. vol 3). Dengan membagi tubuh menjadi daerah daerah yang kecil dan memberikan estimasi proporsi luas permukaan tubuh akan - diperoleh luas permukaan tubuh yang terbakar. Keseimbangan Cairan Elektrolit dan Asam-Basa. Jakarta : EGC Pamela & Mima. Lippincott.(2009). 2009.Buku ajar keperawatan medikal bedah brunner & suddarth. Bullock.(2001). Metode telapak tangan Metode ini digunakan pada pasien dengan luka bakar menyebar. Lebar telapak tangan pasien kurang lebih sebesar 1 % luas permukaan tubuhnya.(edisi ke-8.Focus on pathofisiology. Referensi : Arif. khususnya kepala dan tungkai akan berubah seiring dengan pertumbuhan. Syafri Kamsul.Suzanne C. Barbara.1993. Vol 2 No 2. (Edisi ke-5). (1999). Fluid management in severe burn patients. The Indonesian Jurnal Of Medical Science. Kozier.Dkk.