Anda di halaman 1dari 33

33

Pengujian validitas alat ukur ini dilakukan dengan pengujian validitas isi. Validitas isi
ditegakkan pada telaah dan revisi butir pernyataan berdasarkan pendapat profesional
(professional judgement) para penelaah (Suryabrata, 2000). Validitas dibuktikan secara empiris
oleh suatu koefisien validitas tertentu. Batas minimum koefisien korelasi sudah dianggap
memuaskn jika nilai r=0,30 (Azwar, 2007). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bantuan
program Statistic Packages for Sosial Science (SPSS).
2.

Reliabilitas

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, artinya apabila
dilakukan pengukuran beberapa kali terhadap subjek yang sama hasilnya relative sama. Jika nilai
Cronbach’s Alpha berada >0,5 atau mendekati 1, maka hasil pengukuran tersebut reliabel (dalam
Azwar, 2007).
G. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari subjek melalui
skala ukur ditransformasi ke dalam angka-angka menjadi data kuantitatif, sehingga data tersebut
dapat dianalisis dengan pendekatan satatistik. Untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu
keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan penyesuaian diri, maka selanjutnya data dianalisis
dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Data nantinya diolah
dengan program computer SPSS 16.0 for windows.

32

Selanjutnya peneliti membuat blue-print yang memuat tentang indikator dari variabel
penelitian yang dapat memberikan gambaran mengenai isi dan dimensi kawasan ukur dan akan
dijadikan acuan dalam penelitian. Blue-print tersebut terdiri dari variabel X yaitu optimisme
masa depan pada siswa SMK.
Distribusi aitem skala optimisme masa depan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6. Blueprint Skala Optimisme Masa Depan
No.

Aspek

Indikator

1.

2.

Permanence

Pervasiveness





Personalization

3.


Favorable

Unfavorable

Jumlah
aitem

Mempunyai harapan masa
depan
Mempunyai keyakinan
untuk maju
Tidak mudah menyerah
Mampu berpikir rasional
Mampu mengelola
masalah
Mempunyai tujuan hidup
Mempunyai penghargaan
diri
Percaya dengan
kemampuan sendiri
Mampu mengendalikan
perasaan

Total

40

F. Validitas dan Reliabilitas
1.

Validitas

Validitas pada dasarnya mengacu pada kepercayaan hasil ukur, yang mengandung makna
kecermatan pengukuran (Azwar, 2007). Menurut Suryabrata (2000) validitas penelitian
mempersoalkan derajat kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan yang sebenarnya,
sejauhmana hasil penelitian mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Azwar (2007) juga
menyatakan bahwa validitas mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat
ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

31

Tabel 4. Tabel Skor Pilihan Alternatif Pernyataan Dalam Skala Likert
Alternatif

Kode

Skor Item
Favourable (F)

Unfavourable (UF)

Sangat Sesuai

(SS)

5

1

Sesuai

(S)

4

2

Tidak Sesuai

(TS)

2

4

Sangat Tidak Sesuai

(STS)

1

5

Sebelum menyusun dan mengembangkan instrumen maka peneliti terlebih dahulu
membuat blue-print yang memuat tentang indikator dari variabel penelitian yang dapat
memberikan gambaran mengenai isi dan dimensi kawasan ukur dan akan dijadikan acuan dalam
penelitian. Blue-print tersebut terdiri dari variabel Y yaitu motivasi berprestasi pada siswa SMK.
Distribusi aitem skala motivasi berprestasi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5. Blueprint Skala Motivasi Berprestasi
No.

Aspek

1.

Kebutuhan
akan prestasi

2.

Kebutuhan
akan
kekuasaan

3.

Kebutuhan
akan afilasi

Indikator
 Dorongan untuk
mengatasi hambatan
 Dorongan untuk
berprestasi
 Mencapai standar yang
lebih tinggi
 Keinginan untuk
memimpin orang lain
 Keinginan untuk
mengarahkan sesuatu
 Keinginan untuk
mengatur sesuatu
 Keinginan untuk menjalin
hubungan dengan sosial
 Menyukai situasi
kooperatif
 Senang mejalin hubungan
persahabatan
Total

Favorable

Unfavorable

Jumlah
aitem

40

Penetapan skor untuk settiap alternatif jawaban dapat dilihat pada table dibawah ini: . Merumuskan tujuan penyusunan alat ukur Penyusunan alat ukur bertujuan untuk mengetahui optimism masa depan dan motivasi berprestasi masa depan pada subjek. Sebagian dari pernyataan ini memperlihatkan pendapat yang mendukung (favorable) dan sebagian yang lain menunjukkan pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable). Memilih format alat ukut Format yang digunakan dalam penulisan alat ukur ini berupa pernyataan tertulis yang harus dijawab oleh subjek dengan memilih salah satu alternatif jawaban sesuai dengan keadaan subjek tersebut. Dalam penenlitian ini untuk mengukur optimisme masa depan dan motivasi berprestasi digunakan skala model Likert. b.30 Skala terdiri dari daftar pertanyaan atau pernyataan yang diajukan agar dijawab oleh responden dan interpretasi jawaban responden dapat merupakan proyeksi dari perasaan responden. Perbedaan skor tergantung pada jenis aitemnya. Memilih model jawaban Alat ukur ditetapkan dengan model jawaban berdasarkan tingkat kesesuaian diri subjek terhadap aitem-aitem yang ada dalam alat ukur. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menyusun skala optimism masa depan dan motivasi berprestasi pada penelitian ini adalah: a. Skala ini berisikan seperangkat pernyataan yang merupakan pendapat dari subjek penelitian. favourable atau unfavourable. c.

dimana populasi terdiri dari kategori-kategori yang mempunyai susunan bertingkat dan diduga bahwa tingkatan-tingkatan tersebut berpengaruh pada variable yang diteliti (Winarsunu. 2.29 2005) menyatakan populasi adalah keseluruhan unit (yang telah ditetapkan) mengenai dan dari mana informasi yang diinginkan. Secara sederhana dapat digunakan rumus sebagai berikut: Jumlah masing-masing kelompok Sampel sub kelompok = x Besar sampel = Jumlah total Apabila dikaitkan kedalam penelitian ini. Sehingga. maka rumus diatas akan menjadi: Jumlah seluruh siswa kelas X Kelas X = x 120 = Jumlah seluruh siswa di SMK X E. Winarsunu (2004) mengemukakan bahwa sampel adalah sebagian kecil individu yang dijadikan wakil dari penelitian. Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik stratified sampling. Dalam penelitian ini populasinya adalah siswa SMK yang berjumlah 150 orang. Data akan dikumpulkan menggunakan skala psikologis. Metode dan Alat Pengumpulan Data Metode Pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh data yang diteliti. . Skala psikologis selalu mengacu kepada alat ukur aspek atau atribut afektif. Sampel Menurut Yusuf (2005) sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. metode pengumpulan data mutlak diperlukan dalam suatu penelitian karena dalam penelitian membutuhkan data akurat dan tepat. 2004). Selain itu.

Untuk mengukur optimisme masa depan. . Optimisme Masa Depan Optimisme masa depan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecendrungan untuk memandang positif terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan dan yakin akan meraih sukses di masa depan. maka peneliti menggunakan skala motivasi berprestasi yang disusun berdasarkan aspek-aspek motivasi berprestasi tinggi menurut menurut McClelland (1987): Kebutuhan akan prestasi (need for achievement). Untuk mengukur motivasi berprestasi. dan Kebutuhan akan afilasi (need for affiliation). dan personalization.28 C. D. yaitu: permanence. Definisi Operasional Kerlinger (1993) mengemukakan bahwa definisi operasional adalah memberikan arti pada suatu variabel dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan yang perlu untuk mengukur variabel itu. 2. Populasi dan Sampel 1. pervasiveness. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang hendak diteliti. Populasi Menurut Yusuf (2005) populasi adalah totalitas semua nilai-nilai yang mungkin daripada karakteristik tertentu sejumlah objek yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Motivasi berprestasi Motivasi berprestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecendrungan untuk mencapai sukses dan memiliki keinginan untuk mendapatkan prestasi lebih baik dari orang lain. maka peneliti menggunakan skala optimism masa depan yang disusun berdasarkan aspek-aspek optimisme menurut Seligman (2008). Spiegel (dalam Yusuf. Kebutuhan akan kekuasaan (need for power). yaitu optimisme masa depan dan motivasi berprestasi. 1.

Identifikasi Variabel Penelitian Variabel merupakan konsep mengenai atribut sifat yang terdapat pada subjek penelitian yang penelitian yang dapat bervariasi secara kuantitatif maupun kualitatif (Azwar. Variabel Terikat : Variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh variabel lain (Azwar.27 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. (Azwar. Variabel bebas (X) pada penelitian ini optimisme masa depan dan variabel terikatnya (Y) yaitu motivasi berprestasi. B. yang bertujuan menolong menjelaskan pentingnya tingkah laku manusia atau untuk meramalkan sesuatu hasil. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi siswa SMK 2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Optimisme masa depan siswa SMK. Variabel Bebas : suatu variabel yang variasinya mempengaruhi variabel lain atau variabel lain atau variabel yang pengaruhnya terhadap variabel lain ingin diketahui. Pada penelitian ini akan dilihat bagaimana hubungan antara motivasi berprestasi dengan optimisme masa depan siswa SMK. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan jenis korelasional. yaitu variabel bebas dan variabel terikat. 28 . 2010). 1. 2010). Menurut Yusuf (2005) penelitian korelasional adalah tipe penelitian yang melihat hubungan antara satu atau beberapa ubahan dengan satu atau beberapa ubahan yang lain. Variabel yang digunakan dalam penelitian terdiri dari dua macam variabel. 2010).

Dengan demikian berdasarkan uraian di atas diasumsikan bahwa ada hubungan antara optimisme masa depan dengan motivasi berprestasi siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Seligman (1990) menunjukkan individu yang optimis memiliki motivasi prestasi yang lebih bagus daripada individu yang pesimis dan dilaporkan juga memiliki prestasi yang jauh lebih baik.26 Salah satu yang mempengaruhi motivasi berprestasi adalah optimisme atau sikap optimis yang dimiliki individu (Helmi. 2004). maka dapat dirumuskan hipotesis dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang positif antara optimisme masa depan dengan motivasi berprestasi siswa SMK . Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah penelitian. Kerangka Konseptual E. Sebagai gambaran yang lebih jelas mengenai hubungan antara optimisme masa depan dengan motivasi berprestasi siswa dapat dilihat seperti gambar di bawah ini: Optimisme Masa Depan Motivasi Berprestasi Gambar 1.

Optimisme masa depan dapat berperan sebagai faktor penggerak untuk memunculkan usaha-usaha nyata meraih prestasi atau hasil yang diinginkan dalam proses belajar. Day. Scheier and Carver menyebutkan optimisme berupa gambaran perasaan atau harapan– harapan bahwa sesuatu yang baik akan terjadi di masa depan nantinya (Rottinghaus. 2005). memiliki semangat dan bersaing secara sehat. 2005) menunjukkan bahwa komponen optimisme berhubungan dalam usaha meraih kebahagiaan. Penelitian lain mengenai optimisme dan pesimisme siswa terhadap masa depannya yang dilakukan oleh Patton. Hal ini disebabkan optimisme mampu memotivasi siswa untuk mencari solusi dan bekerja keras untuk memperbaiki situasi yang dihadapinya (Reivich & Shate. Penelitian yang telah dilakukan oleh Peterson (Rottinghaus. prestasi dan ketekunan.25 individu. Bagi siswa sekolah. D. Bartrum. Kerangka Konseptual Motivasi berprestasi adalah kecendrungan untuk mencapai sukses dan memiliki keinginan untuk mendapatkan prestasi lebih baik dari orang lain. & Borgen. Siswa yang optimisme terhadap masa depannya akan berusaha mencoba untuk mencapai cita-citanya. 2002). 2008). & Creed (2004) menunjukkan bahwa siswa yang optimis menunjukkan hasil yang lebih tinggi mengenai rencana masa depan daripada siswa yang pesismis dan dilaporkan juga bahwa siswa yang optimis memliki prestasi yang tinggi daripada siswa yang pesismis. . Day. Motivasi berprestasi mendorong siswa untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya dengan mengacu pada standar keunggulan sehingga akan berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik daripada orang lain (Djaali. & Borgen. motivasi berprestasi mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan semangat untuk belajar dan mencapai prestasi yang lebih baik. serta mampu menghadapi berbagai tantangan. Penelitian yang dilakukan oleh Seligman(1990) menunjukkan individu yang optimis memiliki prestasi yang lebih bagus daripada individu yang pesimis.

2001) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai motivasi yang mendorong individu untuk mencapai sukses. Contoh Personalization Personalization Bad Personalization Good Saya mendapatkan nilai yang jelek pada ulang matematika kemarin Keberhasilan ini karena karena waktu yang disediakan kemampuan saya Optimis terlalu sempit Pesimis Saya mendapatkan nilai yang jelek Keberhasilan ini karena pada ulang matematika kemarin kemmampuan teman-teman karena saya tidak pandai berhitung satu tim saya C. Dalam bidang pendidikan motivasi yang diperlukan oleh siswa adalah motivasi berprestasi. tidak mudah putus asa. 1994) dan ditemukan bahwa motivasi dan prestasi memiliki hubungna timbal balik yang sangat erat. Namun motivasi berprestasi yang dimiliki individu tidak dapat bertahan selamanya. Hal itu dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Uguroglv dan Walberg (dalam Handoko. 1984). Salah satu yang mempengaruhi motivasi berprestasi adalah optimisme atau sikap optimis yang dimiliki . 1994). McClelland (dalam Sukadji & Evita. Dengan begitu individu yang memiliki motivasi berprestasi akan selalu bekerja keras. dan bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi atau persaingan dengan beberapa ukuran keunggulan (standard of excelence). Hubungan Antara Optimisme Masa Depan dengan Motivasi Berprestasi Prestasi merupakan bukti usaha yang telah dicapai (Winkle. bertanggung jawab. Untuk mencapai suatu prestasi diperlukan motivasi sebagai penggerak tingkah laku individu (Irwanto.24 Tabel 3. dan memiliki rencana mengenai masa depannya.

situasi. PsG individu berpikir mengenai siapa penyebab terjadinya peristiwa baik. Personalization Personalization adalah pola piker mengenai siapa penyebab terjadinya suatu peristiwa yang dialaminya. berbeda dengan individu pesimis akan berpikir bahwa keadaan buruk disebabkan dirinya sendiri dan menyalahkan dirinya sendiri (internal). Pada peristiwa buruk (bad situation).23 Tabel 2. yaitu Personalization Good (PsG) dan Personalization Bad (PsB). Pada peristiwa baik. dan kondisi yang memungkinkan (external). Sedangkan individu pesimis berpikir penyebab dari peristiwa baik yang dialaminya adalah karena lingkungan di luar dirinya (external). sedangkan peristiwa buruk yang dialami bukan karena dirinya atau karena keadaan di luar dirinya. sedangkan PsB individu berpikir tentang siapa penyebab terjadinya peristiwa buruk. Personalization terdiri dari dua. Jadi individu yang optimis pada dimensi ini akan berpikir bahwa keadaan baik yang dialaminya terjadi karena dirinya. individu yang optimis akan berpikir bahwa penyebab dari peristiwa baik adalah dirinya sendiri (internal). Seperti: orang lain. individu optimis akan berpikir bahwa penyebab dari peristiwa buruk tersebut adalah lingkungan di luar dirinya (external). . Contoh Pervasiveness Pervasiveness Bad Pervasiveness Good Pelajaran sekolah kali ini Optimis Saya pandai cukup sulit Semua pelajaran sekolah Pesimis Saya pandai dalam olahraga sangat sulit c.

Orang optimis akan berpikir bahwa peristiwa baik (good situation) akan terjadi pada semua yang akan dilakukan (universal). Pervasiveness terdiri dari dua. Contoh Permanence Permanence Bad Permanence Good Guru saya marah kalau saya terlambat Saya selalu mendapatkan menyerahkan tugas nilai yang bagus Optimis Saya mendapatkan nilai Pesimis Guru selalu menyalahkan saya yang bagus hari ini b. sedangkan peristiwa buruk yang dialaminya hanya terjadi pada peristiwa tertentu saja. . Jadi individu yang optimis pada dimensi ini akan berpikir bahwa peristiwa baik yang dialaminya akan terjadi pada hampir semua peristiwa. Sedangkan orang pesimis akan berpikir bahwa peristiwa buruk akan terjadi pada hampir semua peristiwa dalam hidupnya (universal). yaitu Pervasiveness Good (PvG) dan Pervasiveness Bad (PvB). sedangkan PvB adalah pola pikir mengenai ruang lingkup terjadinya peristiwa buruk. Orang optimis akan berpikir bahwa peristiwa baik tersebut akan terjadi pada hampir semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya (Universal). Pada peristiwa buruk (bad situation) orang optimis akan berpikir bahwa peristiwa buruk (bad situation) tersebut hanya terjadi pada situasi tertentu saja (specific). Sedangkan orang pesimis akan berpikir bahwa peristiwa baik tersebut hanya terjadi pada suatu kejadian tertentu saja (specific). Pervasiveness Pervasiveness adalah pola pikir mengenai terjadinya suatu peristiwa karena ruang lingkupnya.22 Tabel 1. PvG adalah pola pikir mengenai ruang lingkup terjadinya peristiwa baik.

Menurut Seligman (2008). dan peristiwa buruk yang dialaminya akan bersifat sementara.21 peristiwa buruk atau baik sebagai hal yang sementara atau permanen. individu yang optimis akan berpikir bahwa peristiwa baik yang dialaminya akan bersifat menetap. PmG menunjukan pola pikir seberapa lama peristiwa baik akan dialami. Permanence Permanence adalah pola berpikir mengenai seberapa sering atau seberapa lama suatu keadaan baik atau buruk akan dialaminya. Sedangkan orang pesimis akan berpikir bahwa peristiwa tersebut akan bersifat menetap (permanence) dan mempengaruhi hidupnya. yaitu Permanence Good (PmG) dan Permanence Bad (PmB). orang optimis berpikir bahwa peristiwa tersebut hanya bersifat sementara saja (temporary). . gaya penjelasan seseorang terdiri dari tiga aspek yaitu: a. sedangkan PmB menunjukkan pola pikir seberapa lama peristiwa buruk akan dialami. spesifik atau meliputi segala-galanya. Pada peristiwa buruk (bad situation). orang optimis berpikir bahwa peristiwa tersebut akan menetap sedangkan orang yang pesimis akan berpikir bahwa peristiwa tersebut hanya bersifat sementara saja (temporary). Pada peristiwa baik (good situation). Gaya penjelasan yang dipakai merupakan indikator optimis atau pesimisnya seseorang. Jadi pada dimensi ini. Permanence terdiri dari dua.

sehingga selalu berusaha lebih keras dan lebih baik pada usaha – usaha berikutnya. dan gaya penjelasan inilah yang memberikan petunjuk halus terhadap kepribadiannya. dan menurut Seligman (2008) kita semua mempunyai kebiasaan menjelaskan hal buruk atau baik yang terjadi. Harga diri Individu dengan harga diri tinggi selalu termotivasi untuk mrnjaga pandangan yang positif tentang dirinya dan mencari aset-aset personal yang dapat mengimbangi kegagalan. 4. Pertanyaan yang diajukan Seligman tidak rumit. Berdasarkan penelitiannya. dapat diketahui cara berpikir dia terhadap penyebab terjadinya suatu peristiwa. Akumulasi Pengalaman Pengalaman –pengalaman individu dalam menhadapi masalah atau tantangan terutama pengalaman sukses yang dapat menumbuhkan sikap optimis ketika menghadapi tantangan berikutnya.20 b. Aspek-aspek Optimisme Untuk mengetahui optimis tidaknya seseorang. dia hanya menanyakan kepada orang-orang apakah mereka melihat penyebab . c. Kepercayaan diri Individu yang yang memiliki keyakinan yang tinggi dengan apa yang ada pada dirinya. serta yakin dengan kemampuannya akan mempunyai optimis yang tinggi. d. Dalam meninjau sikap orang itu. Seligman (2008) menamakan cara atau gaya yang menjadi kebiasaan individu dalam menjelaskan kepada diri sendiri mengapa suatu peristiwa terjadi sebagai gaya penjelasan (explanatory style). Seligman (2008) telah merancang sebuah tes dua puluh menit untuk menetapkan apakah seseorang itu optimis atau pesimis.

Ciri-ciri tersebut berhubungan langsung dengan motivasi seseorang terutama motivasi yang datang dari dalam diri salah satunya motivasi berprestasi. dan lebih sehat secara fisik dan mental. ketika menghadapi masalah atau kegagalan. Menurut Seligman (2008) seorang yang optimis cenderung percaya bahwa kegagalan hanvalah kemunduran sementara. Dukungan Sosial Adanya dukungan yang cukup dapat membuat individu lebih optimis karena merasa yakin bahwa bantuan akan selalu tersedia bila dibutuhkan. orang optimis akan berpikir bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama dan tidak membuat seluruh kehidupannya menjadi bermasalah. 3. yaitu : dukungan sosial. Orang optimis percaya bahwa lingkungan turut memberi andil atas peristiwa yang dialaminya. harga diri. yang penyebabnya terbatas pada satu hal. lebih cepat pulih dari emosi negatif dan depresi. memiliki prestasi bagus di bidang olahraga. Keadaan sekitar. a. . Orang pesimis berpikir bahwa masalah timbul akibat kesalahannya sendiri.19 masalah yang dihadapi akan berlangsung lama dan mengacaukan sisi kehidupan lainnya. mereka merasakannya sebagai tantangan dan akan berusaha keras. kepercayaan diri. Faktor-faktor Optimisme Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi optimisme seseorang menurut Seligman (2008). memiliki prestasi akademik yang tinggi. nasib buruk atau orang Iain yang mempengaruhinya dan jika dihadapkan pada nasib buruk. Sebaliknya. dan akumulasi pengalaman. Optimis juga percaya bahwa kegagalan bukanlah kesalahan individu. lebih bahagia dan puas dalam hubungan sosial. Sependapat dengan hal tersebut Safaria (2007) juga menyebutkan ciri-ciri orang yang memiliki sikap optimisme yang tinggi yaitu tetap memiliki semangat juang yang tinggi bila menghadapi masalah.

tetapi hanya bersifat sementara dan memiliki keyakinan bahwa situasi pasti akan berbalik membaik. Orang optimis cenderung memandang kemalangan sebagai masalah yang situasional dan spesifik. 2000) juga menyebutkan optimisme sebagai perasaan atau sikap yang berkaitan dengan harapan-harapan di masa depan. Seorang yang optimisme akan memandang permasalahan yang dihadapinya sebagai tantangan untuk meraih masa depannya. Seligman (2008) menyebutkan ciri pokok yang membedakan pesimisme dan optimisme ialah orang yang pesimis ketika mengahdapi suatu masalah cendrung berkeyakinan bahwa . Menurut Scheier & Carver (dalam Snyder & Lopez. Ciri-ciri Orang yang Optimisme Seligman (2008) mengatakan orang yang optimis memandang kemunduran dalam hidup sebagai garis datar sementara dalam sebuah grafik. Pada dasarnya memandang kesulitan sebagai kesuksesan yang tertunda.18 Orang yang optimisme tidak akan menganggap masalah yang dialaminya sebagai suatu beban. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa optimisme masa depan adalah kecendrungan untuk memandang positif terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan dan yakin akan meraih sukses di masa depan. bukan sebagai wujud petaka yang tidak terelakkan dan akan berlangsung selamanya mereka tidak akan serta merta menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. 2002) orang yang optimis adalah orang yang memiliki ekspektasi yang baik pada masa depan dalam kehidupannya. mereka yakin bahwa setiap permasalahan yang dihadapinya memiliki solusinya dan tidak akan mudah putus asa ketika menghadapi permasalahan tersebut. Keberhasilan seseorang di masa depan akan diperoleh bila seseorang memiliki optimisme dan semangat yang tinggi dalam mewujudkan masa depannya. bukan sebagai kekalahan telak. 2. Memiliki pemikiran terbuka bahwa masamasa sulit tidak berlangsung selamanya. Lionel Tiger (dalam Peterson.

Selanjutnya Chang (2001) menyebutkan optimisme sebagai konstruk kognitif terdiri dari keyakinan umum atas hasil positif berdasarkan perkiraan rasional dari kecenderungan seseorang untuk meraih kesuksesan dan keyakinan akan kemampuan seseorang untuk meraihnya. 2000) mendefinisikan optimisme dalam kerangka bagaimana orang memandang keberhasilan dan kegagalan mereka dapat berhasil pada masa-masa mendatang. menganggapnya berasal dari pembawaan yang telah mendarah daging yang tak dapat mereka ubah. berpikir positif. Lebih lanjut Seligman (dalam Goleman.17 kualitas dari hubungan pribadi sebagai hal yang paling penting. Individu dengan motif hubungan yang tinggi berjuang untuk persahabatan. Optimisme mampu membuat seseorang tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan. Pengertian Optimisme Masa depan Orang yang bersikap optimis atau optimisme akan memandang masalah yang dihadapainya sebgai batu loncatan untuk meraih prestasi yang lebih baik. Istilah optimisme berasal dari kata bahasa inggris yaitu optimism. Optimisme mampu mendorong individu untuk selalu berpikir bahwa sesuatu yang terjadi adalah hal yang terbaik bagi dirinya. sementara orang pesimis menerima kegagalan sebagai kesalahannya sendiri. lebih menyukai situasi-situai kooperatif daripada situasi yang kompetitif. B. Oleh karena itu. 2002). bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal (Goleman. . melihat hal yang baik. Seligman (dalam Ghufron dan Rini. Optimisme Masa Depan 1. dan menginginkan hubungan mengikutsertakan pengertian hubungan timbal balik yang tinggi. Kebutuhan ini merupakan salah satu teori yang menndapatkan perhatian paling sedikit dari para peneliti. hubungan sosial lebih didahulukan daripada penyelesaian tugas. 2010) menyatakan bahwa optimism suatu pandangan menyeluruh. dan mudah memberikan makna bagi diri.

16 memiliki interaksi yang lebih baik dengan orang lain. Individu dengan kebutuhan akan prestasi yang tinggi akan membuat standar pribadi dan bekerja keras untuk mendapatkan hal tersebut. yaitu pribadi dan sosial. b. Orang-orang yang memiliki kebutuhan akan kekuasaan adalah mereka yang senang jika mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu. Menurut McClelland. yang dikejarnya adalah kuasa atas segala sesuatu. Dalam arti lain. seperti misalnya perdamaian. Koestner. Individu dengan kebutuhan akan prestasi yang tinggi tidak selalu tampil lebih baik. Individu dengan kebutuhan akan prestasi yang tinggi hanya akan tampil dengan lebih baik ketika mereka ditantang untuk unggul. McClelland. dan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik. Seorang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi menempatkan . Kebutuhan akan afilasi (need for affiliation) Kebutuhan akan afiliasi merefleksikan keinginan untuk berinteraksi secara sosial dengan orang. c. dan Weinberg (1987) mengatakan bahwa berdasarkan penemuan tersebut McClelland membuat prediksi bahwa Individu dengan kebutuhan akan prestasi yang tinggi akan mencari kehidupan dan karir yang memungkinkan mereka untuk memuaskan kebutuhannya. Sedangkan kekuasaan sosial adalah kekuasaan yang misalnya dimiliki oleh pemimpin seperti Nelson Mandela. ada 2 jenis kebutuhan akan kekuasaan. Contoh dari kekuasaan pribadi adalah seorang pemimpin perusahaan yang mencari posisi lebih tinggi agar bisa mengatur orang lain mengarahkan ke mana perusahaan akan bergerak. yang memiliki kekuasaan dan menggunakan kekuasaannya tersebut untuk kepentingan sosial. kebutuhan afiliasi adalah kebutuah untuk mendapatkan hubungan sosial yang baik dalam lingkungan kerja. Kebutuhan akan kekuasaan (need for power) Kebutuhan ini didasari oleh keinginan seseorang untuk mengatur atau memimpin orang lain.

berfikir. Pemuda yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi kemungkinan lebih besar untuk hadir di kampus. dan melakukan sesuatu yang hebat. dan berprestasi. pemuda yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi besar kemungkinan melakukan kecurangan (menyontek) saat ujian di beberapa situasi. . dan tergabung dalam komunitas dan kegiatan kampus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa cerita yang dibuat oleh mahasiswa yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi berisikan cerita tentang kondisi pencapaian-pencapaian yang tinggi berisi banyak rujukan yang bisa digunakan untuk mencapai standar yang memuaskan. dan Coveil (1987) bersama asosiasinya meminta sekelompok mahasiswa laki-laki untuk menuliskan cerita singkat dari gambar Thematic Apperception Test TAT. Atikson. mengungguli. kebutuhan akan prestasi berada di antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan prestasi berada di antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. menurut McClelland dan Piedmont (1987) mayoritas dari pemilik kebutuhan akan prestasi yang tinggi adalah kalangan menengah hingga atas. Contoh dari penjelasan di atas adalah pada gambar seorang laki-laki dengan buku terbuka di atas meja yang berada di depannya. Partisipan penelitian yang memiliki kebutuhan akan prestasi tinggi akan membuat cerita singkat terkait dengan bekerja keras. mendapatkan nilai yang lebih tinggi. dan mengingat kejadian masa lalu. Analisis yang berikutnya mengkonfirmasi vallidiras dari TAT sebagai cara untuk mengukur kebutahan akan prestasi. Clark. dan bertindak dengan baik. Dalam penelitian yang dilakukan McClelland. sesuatu yang luar biasa. dan bertindak lebih untuk mencapai standar yang tinggi. keinginan untuk mendapatkan. Selain itu.15 akan prestasi adalah dorongan untuk mengatasi hambatan. Pada hirarki kebutuhan Maslow. Sedangkan cerita yang dibuat oleh mahasiswa dengan kebutuhan akan prestasi yang rendah berhubungan dengan melamun. Selanjutnya.

4.14 b. Lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung Iklim belajar yang menyenangkan. d. sikap inisiatif dan kompetitif. c. anak mengambil atau meniru banyak karakteristik dari model. tidak mengancam. Peniruan tingkah laku (modelling) Melalui modelling. e. serta suasana yang selalu mendorong individu untuk memecahkan masalah secara mandiri tanpa dihantui perasaan takut gagal. kerja keras. Aspek-aspek Motivasi Berprestasi Ada tiga aspek motivasi berprestasi menurut McClelland (1987): a. maka dalam diri seseorang akan berkembang hasrat berprestasi yang tinggi. Latar belakang budaya tempat seseorang dibesarkan Bila dibesarkan dalam budaya yang menekankan pada pentingnya keuletan. memberi semangat dan sikap optimisme bagi siswa dalam belajar. memiliki toleransi terhadap suasana kompetisi dan tidak khawatir akan kegagalan. termasuk dalam kebutuhan untuk berprestasi jika model tersebut memiliki motivasi tersebut dalam derajat tertentu. cenderung akan mendorong seseorang untuk tertarik belajar. Kebutuhan . Kebutuhan akan prestasi (need for achievement) Teori kebutuhan akan prestasi milik McClelland adalah perluasan dari teori need of achievement milik Murray yang menggunakan Thematic Apperception Test (TAT). Harapan orangtua terhadap anaknya Orangtua yang mengharapkan anaknya bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sukses akan mendorong anak tersebut untuk bertingkahlaku yang mengarah kepada pencapaian prestasi.

3. .13 yang telah dilakukan. aktif mencari informasi untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu. Kemampuan dalam melakukan inovasi (innovativeness) Inovatif dapat diartikan mampu melakukan sesuatu lebih baik dengan cara berbeda dari biasanya. Bagi individu dengan motivasi berprestasi tinggi. Hal itu dikarenakan Individu dengan motivasi berprestasi tinggi akan merasa puas setelah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. namun digunakan sebagai pengukur keberhasilan. Keluarga Adanya perbedaan pengalaman masa lalu pada setiap orang menyebabkan terjadinya variasi terhadap tinggi rendahnya kecenderungan untuk berprestasi pada diri seseorang. d. serta cenderung menyukai hal-hal yang sifatnya menantang daripada individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah. McClelland (Sukadji & Evita. menyelesaikan tugas dengan cara berbeda dari biasanya. Individu dengan motivasi berprestasi tinggi akan menyelesaikan tugas dengan lebih baik. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi Motivasi berprestasi merupakan suatu proses psikologis yang mempunyai arah dan tujuan untuk sukses sebagai ukuran terbaik. umpan balik yang bersifat materi seperti uang. Memiliki tanggung jawab pribadi terhadap kinerjanya Individu dengan motivasi berprestasi tinggi memiliki tanggung jawab pribadi atas pekerjaan yang dilakukan. Individu dengan motivasi berprestasi rendah tidak mengharapkan umpan balik atas tugas yang sudah dilakukan. bukan merupakan pendorong untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. e. 2001) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang antara lain: a. menghindari hal-hal rutin.

12 a. Harapan terhadap umpan balik (feedback) Individu dengan motivasi berprestasi tinggi selalu mengharapkan umpan balik (feedback) atau tugas yang sudah dilakukan. b. 1987) mengatakan bahwa pemilihan tingkat kesulitan tugas berhubungan dengan seberapa besar usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh kesuksesan. Tugas sulit membuat individu tidak dapat mengetahui usaha yang sudah dihasilkan karena betapapun besar usaha yang telah mereka lakukan. karena individu berkesempatan untuk membuktikan bahwa ia mampu melakukan sesuatu dengan lebih baik. sementara individu dengan motivasi berprestasi rendah cenderung memilih tugas dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi atau rendah. bersifat konkret atau nyata mengenai seberapa baik hasil kerja . Ketahanan atau ketekunan (persistence) dalam mengerjakan tugas Individu dengan motivasi berprestasi tinggi akan lebih bertahan atau tekun dalam mengerjakan berbagai tugas. namun mereka mengalami kegagalan. sehingga individu tidak mengetahui seberapa besar usaha yang telah mereka lakukan untuk mencapai kesuksesan. sementara individu dengan motivasi berprestasi rendah cenderung memiliki ketekunan yang rendah. tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan dan cenderung untuk terus mencoba menyelesaikan tugas. Tugas yang mudah dapat diselesaikan oleh semua orang. c. Weiner (dalam McClelland. Pemilihan tingkat kesulitan tugas Individu dengan motivasi berprestasi tinggi cenderung memilih tugas dengan tingkat kesulitan menengah (moderate task difficulty). Banyak studi empiris menunjukkan bahwa subjek dengan kebutuhan berprestasi tinggi lebih memilih tugas dengan tingkat kesulitan menengah. Ketekunan individu dengan motivasi berprestasi rendah terbatas pada rasa takut akan kegagalan dan menghindari tugas dengan kesulitan menengah.

memiliki ketidakpuasan terhadap prestasi yang telah diperoleh serta mempunyai tanggung jawab yang besar atas perbuatan yang dilakukan. yaitu: . seorang yang mempunyai motivasi berprestasi pada umumnya lebih berhasil menjalankan tugas dibandingkan dengan mereka yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Winkel (1984) mendifinisikan motivasi berprestasi sebagai daya penggerak seseorang untuk mencapai taraf prestasi belajar yang tinggi demi memperoleh kepuasan. Dengan demikian. McClelland (1987) mengemukakan beberapa ciri individu yang memiliki motivasi berprestasi. Heckhausen (1967) mengemukakan bahwa motivasi berprestasi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kecakapan pribadi setinggi mungkin dalam segala kegiatannya dengan menggunakan ukuran keunggulan sebagai perbandingan. Ciri-ciri Orang yang Mempunyai Motivasi Berprestasi Motivasi berprestasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan atau menggerjakan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji.11 Seorang yang meiliki motivasi berprestasi yang tinggi akan melakukan yang terbaik. 2. Menurut McClelland (1987) seorang yang mempunyai motivasi berprestasi memiliki keinginan untuk melakukan suatu karya lebih baik dari prestasi kayra orang lain. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi merupakan dorongan untuk mencapai sukses dan menjadi yang terbaik dalam mencapai prestasi dengan menggunakan keunggulan sebagai perbandingan. memiliki kepercayaan terhadap kemampuan untuk bekerja mandiri dan bersikap optimis.

10 . Motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau to move. 1994). Dengan kata lain. Lebih lanjut Handoko (1994) menyebutkan motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan . McClelland (1987) mengatakan motivasi berprestasi adalah keinginan untuk berbuat sebaik mungkin tanpa banyak dipengaruhi oleh kebanggaan dan pengaruh sosial. melainkan demi kepuasan pribadinya. Stanford (dalam Mangkunegara. Pengertian Motivasi Berprestasi Ditinjau dari asal katanya motivasi berasal dari motif yang merupakan dorongan sadar untuk bertindak sesuai tujuan atau maksud (Dagun. dan mengorganisasikan tingkah laku. 1997). mengarahkan. Salah satu jenis motivasi yang dipandang mempunyai peranan dalam perilaku individu adalah motivasi berprestasi. Lebih lanjut McClelland (1987) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai suatu usaha untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya dengan berpedoman pada suatu standar keunggulan tertentu (standards of exellence). Gagne dan Berliner (1992) mengatakan bahwa motivasi berprestasi adalah usaha untuk meraih sukses dan menjadi yang terbaik dalam melakukan sesuatu.10 BAB II KAJIAN TEORI A. 2009) mengatakan motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu. Motivasi Berprestasi 1. motivasi adalah suatu dorongan yang menyebabkan manusia berbuat dan bertindak atau sebagai penggerak tingkah laku (Irwanto.

Untuk mendeskripsikan motivasi berprestasi pada siswa SMK. 2.9 B. Untuk mendeskripsikan bagaimana optimisme masa depan pada siswa SMK. . Bagaimanakah motivasi berprestasi siswa SMK? 3. peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah optimisme masa depan siswa SMK? 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi kita untuk mencapai prestasi dengan berpikir optimis terhadap masa depan. Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat menjadi bahan informasi untuk lebih memahami teori-teori psikologi khususnya yang berhubungan dengan optimism masa depan dan motivasi berprestasi. 3. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa sumbangan yang berguna dan sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengaan optimisme masa depan siswa SMK. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: 1. 2. Apakah terdapat hubungan antara optimisme masa depan dengan motivasi berprestasi siswa SMK? C. D. yaitu: 1.

Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin meneliti mengenai “Hubungan antara Optimisme Masa Depan dengan Motivasi Berprestasi pada Siswa SMK”. .8 dalam kehidupan akan mampu teratasi dengan baik. Sehingga. para siswa berusaha untuk mendapatkan bekal masa depan nantinya dengan belajar dan mencapai prestasi. Sikap optimis siswa dalam menghadapi masa depan salah satunya dengan meyakini bahwa mereka mampu menghadapi tantangan di bidang pekerjaan. semakin rendah optimisme masa depan yang dimiliki. Oleh karenanya. memiliki toleransi terhadap suasana kompetitif dan tidak khawatir terhadap kegagalan. maka peneliti mengasumsikan bahwa optimisme masa depan memiliki hubungan yang positif dengan motivasi berprestasi pada siswa SMK. McClelland (dalam Sukadji & Evita. Siswa yang optimisme selalu menjadikan pengalaman sebagai pembelajaran dan tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi seperti apapun. selalu menggunakan pikiran yang realistis dan rasional dalam menghadapi permasalahan. Semakin tinggi optimisme akan masa depan yang dimiliki. melakukan tindakan yang konkret membuat individu yang optimis akan lebih siap menghadapi rintangan yang mungkin timbul. semasa sekolah di SMK. maka semakin tinggi motivasi berprestasi. maka semakin rendah pula motivasi berprestasi. Siswa yang memiliki optimisme masa depan lebih berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai. dan mampu bangkit dari kegagalan tanapa merasa bosan sampai mencapai keberhasilan (Murdoko. walaupun ditimpa banyak masalah dan frustasi. 2001) mengatakan bahwa siswa yang memiliki optimisme pada dirinya cendrung untuk tertarik belajar dan berprestasi. Begitu pula sebaliknya. 2001). Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas. siswa yang optimisme terhadap masa depannya akan siap untuk bersaing di dunia kerja nantinya.

terlebih siswa SMK yang dipersiapkan dengan berbagai keterampilan untuk bekerja. Siswa yang optimisme terhadap masa depannya akan berusaha mencoba untuk mencapai cita-citanya. Scheier and Carver menyebutkan optimisme berupa gambaran perasaan atau harapan– harapan bahwa sesuatu yang baik akan terjadi di masa depan nantinya (Rottinghaus. motivasi berprestasi. seorang siswa yang sangat optimis lebih rentan terhadap perilaku maladaptif di sekolah sebagai kebutuhan mereka untuk mencapai prestasi. 2005). Di bidang pendidikan. sikap optimis diperlukan agar seseorang lebih ulet menghadapi tantangan yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sikap optimis seseorang dalam mencapai tujuan erat kaitannya dengan masa depan atau kehidupan di masa yang akan datang. serta mampu menghadapi berbagai tantangan.7 Hal serupa juga diungkapkan oleh Cassidy (2000) dalam sebuah penelitiannya yang lebih dari 4 tahun yang meneliti 149 orang siswa mengenai hubugan antara latar belakang sosial. Optimisme masa depan diperlukan oleh semua siswa. dengan optimisme akan membuat orang lebih sukses dalam segala hal (Goleman. mencari solusi dan bekerja keras untuk memperbaiki situasi yang dihadapinya (Reivich & Shate. optimisme. memiliki semangat dan bersaing secara sehat. 2002). dan kesehatan diri didapatkan bahwa motivasi berprestasi memerlukan optimisme dalam pencapaian prestasi siswa yang lebih baik daripada siswa yang tidak memiliki optimisme dan juga optimisme memerlukan motivasi berprestasi dalam pencapaian prestasi karena tanpa kesiapan akademik yang memadai. Goleman (2002) mengatakan bahwa optimisme masa depan merupakan harapan yang kuat terhadap segala sesuatu yang terdapat . & Borgen. kesejahteraan psikologis. Day. Selain itu. Hal ini disebabkan optimisme mampu memotivasi siswa untuk mencapai prestasi. 2002).

24 persen dari 7. 2014). yang meliputi lebih dari seribu penelitian.000 orang dewasa dan anakanak. Salah satu yang menyebabkan rendahnya atau kuranngya motivasi berprestasi pada siswa yaitu optimisme yang dimiliki oleh siswa tersebut (Helmi. Siswa yang memiliki optimisme terhadapa masa depannya akan menunjukkan usaha untuk mencapai masa depannya dan menjalin hubungan dengan kehidupan sosial disekitarnya. dan melibatkan lebih dari 500. Seligman (1990) membuktikan bahwa sikap optimis bermanfaat untuk memotivasi seseorang di segala bidang kehidupan. Hal ini membuat anak yang masih usia remaja mudah terpengaruh dengan teman sebayanya. dan relasi sosial. 2004). kesehatan. tingkat pengangguran terbuka Sekolah Menengah Kejuruan menempati posisi tertinggi yaitu sebesar 11. Bila dilihat data angka pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2014. Seligman (1990) menyatakan bahwa optimisme berpengaruh terhadap kesuksesan di dalam pekerjaan.6 (Mahmud. didapatkan hasil bahwa orang pesimis memiliki motivasi prestasi yang rendah atau kurang di sekolah maupun di pekerjaan dan juga memiliki prestasi yang lebih rendah dibandingkan orang yang optimis serta memiliki hubungan sosial yang lebih buruk. juga kurang dapat beradaptasi dengan sarana dan fasilitas yang terdapat didunia kerja. sekolah. Dalam studinya. . 1990). hal ini mengakibatkan terjadinya pengangguran.2 juta orang jumlah pengangguran di Indonesia (Badan Pusat Statistik. Ini mengakibatkan lulusan SMK tidak dapat sepenuhnya dapat diterima di dunia kerja dikarenakan belum sesuainya harapan dari dunia kerja baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan sebagaimana yang diungkapkan Slamet (1999) bahwa selain kesiapan kerja lulusan SMK masih rendah. daripada orang yang optimis. Akibatnya siswa tersebut menjadi kurang dalam praktek lapang serta aplikasi ilmu dari SMK. Dalam penelitiannya selama 20 tahun.

Selain itu. 2011). atau yang lainnya. Keadaan lingkungan siswa juga ikut berprengaruh terhadap motivasi berprestasi siswa. dan perasaan tersisihkan dari kehidupan sosial orang dewasa. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kurangnnya motivasi berprestasi pada beberapa orang siswa SMK tersebut di sekolah. osis.5 hamil diluar nikah sebelum lulus sekolah (Kuncoro. Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa transisi. maupun secara sosial (Sarwono. mereka juga mengatakan tidak tertarik untuk melakukan ektra kulikuler atau aktifitas klub di sekolah seperti pramuka. frustasi dan penderitaan. konflik dan krisis penyesuaian. 2014). dimana masa remaja menurut Lustin Pikunas (Dahlan. dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik. psikis. Mayoritas siswa SMK berada di kelas ekonomi menengah kebawah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orangtua dari lapisan bawah cendrung tidak mendidik anak-anak mereka dengan cara-cara yang mendorong berkembangannya motivasi berprestasi . mimpi dan melamun tentang cinta. Dari observasi sementara dan wawancara singkat dengan beberapa orang siswa SMK didapatkan bahwa mereka tidak ada target atau rencana tertentu yang ingin mereka capai selama masa belajar di sekolah. Menurut beberapa siswa SMK tersebut mereka terkadang lebih memilih untuk bermain dan berkumpul bersama rekan-rekannya dan tidak jarang juga mereka bolos sekolah. dan masih ada berbagai macam kasus lainnya. Dari hasil wawancara singkat dengan beberapa orang guru SMK menyatakan bahwa kenyataan yang terjadi pada siswa SMK ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari pihak sekolah terhadap siswa. 2008) dipandang sebagai masa “Strom & Stress”. sehingga anak menjadi kurang diperhatikan. Hal lainnya juga disebabkan oleh siswa SMK yang telah memasuki masa remaja. Orangtua mereka cendrung sibuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saja.

2008). motivasi berprestasi sangat diperlukan. Kenyataan dilapangan ditenggarai bahwa selama ini para tamatan Sekolah Menengah Kejuruan yang telah dibekali seperangkat kompetensi kejuruan ternyata masih membutuhkan pengembangan bakat. Kurangnya motivasi berprestasi pada siswa menurut Arnayanti (2004) merupakan gejala yang kurang menguntungkan karena kurangnya motivasi berprestasi pada mereka menunjukkan adanya sikap acuh tak acuh terhadap kehidupan sosial. kasus . Namun ada permasalahan yang terkait dengan siswa SMK. siswa dengan motivasi berprestasi tinggi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia kerja karena akan mendorong untuk terus berusaha dalam mencapai prestasi. yang menjamin kelangsungandan kegiatan belajar. 2010). minat. Selain itu. motivasi berprestasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan. menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar. Untuk meraih sukses. Ini berarti motivasi berprestasi siswa dinilai masih kurang. Dengan demikian para siswa akan mampu bersaing didunia kerja nantinya dan untuk mendapat prestasi yang bagus para siswa dituntut agar dapat mencapai kompetensi standar minimal yang telah ditetapkan oleh SMK supaya menjadi lulusan yang berkualitas (Suharto & Suryanto. termasuk terhadap masa depannya. motivasi berprestasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar.4 kebanggaan dan pengaruh sosial. dan peningkatan motivasi berprestasi (Dwitagama. Dalam kegiatan belajar. melainkan demi kepuasan pribadinya. Hal ini tentu saja memberikan beberapa dampak bagi siswa. Dalam kegiatan belajar. sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Pada intinya bahwa motivasi berprestasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk meraih prestasi atau keberhasilan dalam suatu usaha atau kegiatan. 2014). diantaranya diantaranya kasus tawuran siswa smk yang menyebabkan kematian (Romadoni.

3 teori dan tidak mengelompokkan mata pelajaran seperti yang terjadi pada kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. SMK telah menjadi penghasil pekerja teknik tingkat menengah yang sangat dibutuhkan oleh dunia industri. baik prestasi akademik maupun dalam bidang lain. Untuk mencapai sebuah prestasi yang tinggi. Pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan dunia industri. Menurut Ardhana (1992) motivasi merupakan faktor yang penting dalam mencapai prestasi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat McClleland dan Atkinson (dalam Garliah. harus ditanamkan pada para siswa di SMK sebagai bekal masuk ke dunia industri. Dengan demikian siswa harus mempunyai potensi dan prestasi diri yang tinggi. Untuk itu SMK harus dapat meningkatkan kualitas lulusannya agar dapat dipercaya dan digunakan oleh industri. dan berpikir secara realistis untuk masa depannya. dimana siswa akan cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih suatu kegiatan yang memiliki tujuan untuk sukses atau gagal. 2005) yang mengatakan bahwa motivasi berprestasi penting dimiliki oleh siswa. McClelland (1987) mengatakan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi selalu mencari kesempatan di mana mereka memiliki tanggung jawab pribadi dalam menemukan jawaban-jawaban terhadap masalahnya. Motivasi penting yang harus dimiliki oleh siswa SMK yaitu motivasi berprestasi. bertanggung jawab. Lebih lanjut McClelland (1987) mengatakan motivasi berprestasi adalah keinginan untuk berbuat sebaik mungkin tanpa banyak dipengaruhi oleh . 2008). diperlukan motivasi sebagai pendorong agar mendapatkan hasil yang maksimal. karena motivasi berprestasi akan mendorong siswa untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya dengan mengacu pada standar keunggulan sehingga akan berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik daripada orang lain (Djaali. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang akan mampu bersaing secara sehat.

baik bekerja secara mandiri maupun mengisi lowongan pekerjaan yang ada (Premono. 2013). hendaknya dipandang oleh masyrakat ibarat bahan mentah yang harus diolah dalam pabrik. 2010). Sekolah Menengah Kejuruan atau disingkat dengan SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan berperan dalam menyiapkan peserta didik agar siap bekerja. Hal ini tentu saja berbeda dengan yang dialami oleh siswa lain yang bersekolah di Sekolah Menengah Atas yang mayoritas kegiatan belajarnya berupa mata pelajaran . maka hal itu juga akan berdampak baik bagi masa depannya kelak. bagi seorang siswa. Pengembangan kemampuan individu harus direncanakan dan sebagian besar rencana tersebut harus dilaksanakan dalam suatu sekolah yang baik. Salah satu lembaga pendidikan yang saat ini mampu mencetak sumber daya manusia yang handal dan siap bersaing di dunia kerja adalah pendidikan kejuruan (Narwoto. Alam tidak dapat diandalkan untuk mengembangkan kemampuan individu. sekolah memberikan peranan yang sangat penting dan cukup berpengaruh terhadap terbentuknya konsep yang berkenaan dengan nasib mereka di masa yang akan datang. para siswa di sekolah akan bersaing semaksimal mungkin agar mendapat prestasi yang bagus dan siap bersaing di dunia kerja nantinya. SMK juga berusaha untuk menciptakan industri kreatif sebagai upaya memenuhi kebutuhan akan kompetensi kebutuhan sumber daya manusia di dunia industri dan mengurangi pengangguran (Santoso. tetapi sebaliknya apabila prestasi yang dicapainya buruk. 2003). 2012) sesuai dengan tujuan pendidikan menengah kejuruan yang utama seperti yang ada pada penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. maka hal itu juga akan memberikan dampak yang buruk bagi masa depan mereka. Mereka menyadari jika prestasi atau hasil yang dicapai ketika bersekolah baik.2 dilahirkan di dunia. Selain itu. Suhardjono. Oleh karenanya.” Selain itu. & Hariyani. adalah mempersiapkan peserta didik untuk mampu bekerja pada bidang tertentu (Republik Indonesia.

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. dimana pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkunngan dan sepanjang hidup. dengan misi melaksanakan dan mengembangkan semangat dan konsep-konsep ilmu dan teknologi dalam diri individu sehingga mengahasilkan kerja produktif. Latar Belakang Pendidikan menurut Mudyahardjo (2008) dalam arti luas adalah hidup. dimana pendidikan sebagai segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Sekolah juga menuntut kemandirian dan tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Optimisme terhadap peranan sekolah dalam pendidikan dinyatakan pula oleh Lester Frank Ward (Mudyahardjo. Mudyahardjo (2008) mengatakan sekolah merupakan lingkungan buatan manusia yang diciptakan dan dikontrol dalam bentuk rekayasa pengubahan pola tingkahlaku berdasarkan prinsip-prinsip kerja ilmiah dan teknologi. 2008) yang antara lain menyatakan: “Setiap anak 1 . menuju kehidupan yang lebih baik. Mudyahardjo (2008) menyebutkan pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. salah satunya adalah di sekolah. Melalui proses pendidikan. Dengan demikian sekolah sebagai lingkungan buatan manusia yang diperlukan di dalam membangun masyarakat. Ada banyak tempat dimana seseorang dapat memperoleh pendidikan dan pengetahuan. seseorang dapat memperoleh pengetahuan serta mengembangkan dan menciptakan berbagai macam hal. Di sekolah siswa akan belajar mengenai hal-hal baru yang tidak ia dapatkan dapatkan di lingkungan keluarga maupun teman sepermainannya.