Anda di halaman 1dari 23
BAB I PENDAHULUAN Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva yang disebabkan mikroorganisme (virus, jamur, bakteri, parasit, klamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia, idiopatik, penyakit sistemik. Konjungtivitis dibedakan dalam bentuk akut dan kronis. Insidensi konjungtivitis di Indonesia pada tahun 2007 berkisar antara 2 – 75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%). 1,2 Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C. Trakoma adalah suatu penyakit yang paling tua dan terkenal di dunia sejak dahulu, mengenai 1/6 dari penduduk di dunia, keadaan ini merupakan salah satu penyakit menahun yang paling banyak dijumpai. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak ditemukan pada orang muda dan anak-anak. Infeksi mata ini banyak ditemukan di daerah Semenanjung Balkan. Ras yang banyak terkena ditemukan pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan Indian Amerika atau daerah dengan hygiene yang kurang. Penyakit ini termasuk 9 penyakit yang menular yang sedang berkembang di berbagai belahan dunia. Prevalensi dan berat penyakit yang beragam per regional bergantung pada variasi higiene individu dan standar kehidupan masyarakat dunia, keadaan cuaca tempat tinggal, usia saat terkena, serta frekuensi dan jenis infeksi bakteri mata yang sudah ada. 3,4 Cara penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan sekret penderita trakoma atau melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan, dan lain-lain. Penularan terjadi terutama antara anak-anak dan orang tua, saudara kandungnya dan orang yang merawatnya. Masa inkubasi rata-rata 7 hari (5-14 hari). Trakoma umumnya bilateral. Vektor serangga, khususnya lalat, dapat berperan dalam transmisi. Bentuk akut penyakit ini lebih infeksius daripada bentuk sikatriksnya. Penyebaran sering dihubungkan 1 Trakoma dengan epidemi konjungtivitis bakterial dan musim kemarau di negara tropis dan subtropis. Episode berulang dari reinfeksi dalam keluarga menyebabkan kronik folikular atau inflamasi konjungtiva berat (trakoma aktif) yang menimbulkan scarring konjungtiva tarsal. Scarring pada konjungtiva tarsal atas, pada sebagian individu, berlanjut menjadi entropion dan trichiasis (cicatrical trachoma). Hasil akhirnya antara lain abrasi kornea, ulkus kornea, dan opasifikasi dan akhirnya kebutaan. Pencegahan trakoma berkaitan dengan kebutaan, dan hal ini membutuhkan banyak intervensi. WHO (World Health Organization) menerapkan Surgical care, Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement (SAFE) untuk penatalaksanaan trakoma. 4,5,6 BAB II ISI 2 Trakoma II.1 ANATOMI KONJUNGTIVA Konjungtiva adalah membran mukosa tipis dan transparan, yang membungkus permukaan anterior dari bola mata dan permukaan posterior dari palpebra. Lapisan permukaan konjungtiva, yaitu lapisan epitel berhubungan dengan epidermis dari palpebra dan dengan lapisan permukaan dari kornea, yaitu epitel kornea. Konjungtiva berperan dalam produksi mukus, yang penting dalam menjaga stabilitas tear film dan transparansi kornea. Selain itu, konjungtiva juga mampu melindungi permukaan okular dari patogen, baik sebagai barrier fisik, maupun sebagai sumber sel-sel inflamasi. 7,8 Konjungtiva dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu : 1. Konjungtiva palpebra Pada sambungan mukokutaneus, lapisan epidermis dari kulit palpebra berubah menjadi konjungtiva palpebra atau konjungtiva tarsal yang melapisi permukaan posterior palpebra. Lapisan ini melekat secara erat dengan lempeng tarsus. Pada batas superior dan inferior dari tarsus, konjungtiva berlanjut ke posterior dan melapisi jaringan episklera sebagai konjungtiva bulbi. 3 2. Konjungtiva forniks Dari permukaan dalam palpebra, konjungtiva palpebra melanjutkan diri ke arah bola mata membentuk dua resesus, yaitu forniks superior dan inferior. Forniks superior terletak kira-kira 8 – 10 mm dari limbus, dan forniks inferior terletak kira-kira 8 mm dari limbus. Pada bagian medial, struktur ini menjadi karunkula dan plika semilunaris. Di sisi lateral, forniks terletak kira-kira 14 mm dari limbus. Konjungtiva forniks superior dan inferior melekat longgar dengan pembungkus otot rekti dan levator yang terletak di bawahnya. Kontraksi otot-otot ini akan menarik konjungtiva sehingga ia akan ikut bergerak saat palpebra maupun bola mata bergerak. Perlekatan yang longgar tersebut juga akan memudahkan terjadinya akumulasi cairan.3 3. Konjungtiva bulbi 3 Trakoma Konjungtiva bulbi meluas dari daerah limbus ke daerah forniks. Lapisan ini sangat tipis dan transparan sehingga sklera yang terletak di bawahnya dapat terlihat. Konjungtiva bulbi melekat secara longgar dengan sklera sehingga memungkinkan bola mata bergerak bebas ke segala arah. Selain memberikan kebebasan bola mata untuk bergerak, hal ini juga akan memperluas permukaan sekresi konjungtiva. 3 Ket. Gambar : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Limbus Konjungtiva bulbi Konjungtiva forniks Konjungtiva palpebra Pungtum lakrimalis Konjungtiva marginalis Gambar 1. Anatomi konjungtiva9 Konjungtiva seperti halnya membran mukosa lainnya, terdiri atas 2 lapisan, yaitu: 1. Lapisan epitel bertingkat Ketebalan lapisan epitel konjungtiva bervariasi mulai dari 2-4 lapisan pada daerah tarsal, 6-8 lapisan pada daerah pertemuan korneoskleral, hingga 8-10 lapisan pada daerah tepi konjungtiva. Di daerah forniks, epitel konjungtiva berbentuk kolumnar dan berubah menjadi epitel kuboid di daerah bulbar dan tarsal. Di limbus, epitel berubah menjadi epitel skuamous bertingkat tak bertanduk yang akan melanjutkan diri menjadi epitel kornea. 8,9 2. Lapisan stroma (substansia propria) Stroma kunjungtiva dipisahkan dengan lapisan epitel konjungtiva oleh membrana basalis. Lapisan ini dibagi atas lapisan adenoid yang terletak di permukaan dan lapisan fibrosa yang terletak lebih dalam. Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan pada beberapa area juga mengandung struktur mirip folikel. Lapisan fibrosa tersusun atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah dan serabut saraf dan melekat pada lempeng tarsus. Substansia propria mengandung sel mast (6000/mm3), sel plasma, limfosit, dan netrofil yang memegang peranan dalam respons imun seluler. Jenis limfosit yang paling banyak ditemukan adalah sel T, yaitu kira-kira 4 Trakoma 20 kali lebih banyak dibanding sel B. Selain itu ditemukan pula IgG, IgA, IgM yang terletak ekstraseluler. 8,9 Permukaan epitel konjungtiva ditutupi oleh mikrovili. Mikrovili dibentuk oleh penonjolan sitoplasma yang menonjol ke permukaan sel epitel. Ukuran diameter dan tinggil mikrovili kira-kira 0,5 μm dam 1 μm. Fungsi mikrovili selain untuk memperluas daerah absorpsi juga untuk menjaga stabilitas dan integritas tear film. Epitel konjungtiva mengandung sejumlah kelenjar yang penting untuk mempertahankan kelembaban dan menghasilkan lapisan air mata. Kelenjar lakrimal asesorius ditemukan pada konjungtiva forniks dan sepanjang tepi superior lempeng tarsus. Kelenjar Krause ditemukan pada forniks superior sebanyak kira-kira 20-40 buah, sedangkan pada forniks inferior hanya 6-8 kelenjar. Kelenjar-kelenjar ini ditemukan pada jaringan ikat subkonjungtiva. Kelenjar Krause memiliki struktur yang sama dengan kelenjar lakrimal utama yang terletak pada rongga orbita. Kelenjar lakrimal asesorius lainnya adalah kelenjar Wolfring. Kelenjar ini ditemukan pada sepanjang tepi superior lempeng tarsus sebanyak 2-5 buah. 8,9 Gambar 2. Kelenjar konjungtiva9 Vaskularisasi konjungtiva berasal dari 2 sumber, yaitu: 1. Arteri palpebralis Pleksus post tarsal dari palpebra, yang diperdarahi oleh arkade marginal dan perifer dari palpebra superior akan memperdarahi konjungtiva palpebralis. Pembuluh darah dari arkade perifer palpebra akan menembus otot Muller dan memperdarahi sebagian besar konjungtiva forniks. Arkade ini akan memberikan cabang desenden untuk 5 Trakoma menyuplai konjungtiva tarsal dan juga akan mengadakan anastomose dengan pembuluh darah dari arkade marginal serta cabang asenden yang melalui forniks superios dan inferior untuk kemudian melanjutkan diri ke konjungtiva bulbi sebagai arteri konjungtiva posterior. 3,7 2. Arteri siliaris anterior Arteri siliaris anterior berjalan sepanjang tendon otot rektus dan mempercabangkan diri sebagai arteri konjungtiva anterior tepat sebelum menembus bola mata. Arteri ini mengirim cabangnya ke pleksus perikorneal dan ke daerah konjungtiva bulbi sekitar limbus. Pada daerah ini, terjadi anastomose antara pembuluh darah konjungtiva anterior dengan cabang terminal dari pembuluh darah konjungtuva posterior, menghasilkan daerah yang disebut Palisades of Busacca. 3,7 Gambar 3. Arteri-Arteri Konjungtiva 9 3. Vena-vena konjungtiva lebih banyak dibandingkan arteri konjungtiva. Diameter vena-vena ini bervariasi dari 0,01 hingga 0,1 mm dan dapat diidentifikasi dengan mudah. Drainase utama dari konjungtiva tarsalis dan konjungtiva bulbi langsung mengarah ke vena-vena palpebralis. Beberapa vena tarsalis mengarah ke vena-vena oftalmikus superior dan inferior, yang akan berakhir pada sinus kavernosus. 3,7 6 Trakoma Gambar 4. Vena-Vena Konjungtiva 9 Aliran limfatik yang berasal dari lateral akan mengarah ke kelenjar limfe preaurikuler, sementara aliran limfatik yang berasal dari medial akan mengarah ke kelenjar limfe submandibular. Pembuluh limfe konjungtiva dibentuk oleh 2 pleksus, yaitu: 1. 2. Pleksus superfisial, terdiri atas pembuluh-pembuluh kecil yang terletak di bawah kapiler pembuluh darah yang menerima aliran limfatik dari area limbus. Pleksus profunda, terdiri dari pembuluh-pembuluh yang lebih besar yang terletak di substantia propria. 7 Gambar 5. Sistem limfatik konjungtiva9 Inervasi sensoris konjungtiva bulbi berasal dari nervus siliaris longus, yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, cabang dari divisi oftalmikus nervus trigeminus. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit. 7 Trakoma Sistem Pertahanan Konjungtiva Terhadap Infeksi 6 Selain bertanggung jawab terhadap produksi musin, konjungtiva juga memiliki kemampuan yang besar dalam melawan infeksi. Hal ini dapat dipahami oleh karena: 1. 2. 3. 4. Epitel konjungtiva yang intak mencegah invasi dari mikroba Konjungtiva mengandung banyak immunoglobulin Adanya flora bakteri normal di konjungtiva Sekresi musin oleh sel goblet konjungtiva dapat mengikat mikroba untuk kemudian dikeluarkan melalui sistem sekresi lakrimal 5. Aktivitas enzimatik konjungtiva memungkinkan jaringan ini dalam melokalisir dan menetralisir partikel-partikel asing 6. Conjunctiva-Associated Lymphoid Tissue (CALT) II.2 DEFINISI Trakoma merupakan salah satu jenis penyakit mata yang menular yang disebabkan oleh Chlamidia trachomatis serotipe A, B, Ba, atau C yang termasuk dari konjungtivitis folikular kronik. Trakoma juga termasuk infeksi mata yang berlangsung lama yang menyebabkan inflamasi dan jaringan parut pada konjungtiva dan kelopak mata serta kebutaan. 4 II.3 EPIDEMIOLOGI Insidensi konjungtivitis di Indonesia pada tahun 2007 berkisar antara 2 – 75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).1,2 Secara umum, trakoma diderita oleh sekitar 84 juta orang di 55 negara yang endemis, dan sekitar 1,3 juta orang diantaranya buta karena penyakit mata ini. Penyakit ini ditunjukkan pada hasil tertinggi nya yaitu pada usia 3-5 tahun. Infeksi mata ini banyak ditemukan di daerah Semenanjung Balkan. Ras yang banyak terkena ditemukan pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan Indian Amerika. Trakoma yang membutakan terdapat pada banyak daerah 8 Trakoma Afrika, beberapa daerah Asia, diantara suku Aborigin Australia, dan di Brazil Utara. Trakoma yang lebih ringan yang tidak membutakan terdapat di daerah yang sama dan di beberapa daerah Amerika Latin dan Pulau Pasifik. 2,3 Trias epidemiologi trakoma terbagi menjadi 3 yaitu host, agent dan environment. Hostnya adalah manusia terutama pada remaja dan anak-anak yang berumur 3-5 tahun. Agent dari penyakit trakoma ini yaitu Chlamidia trachomatis. Environment-nya adalah lingkungan sosial dan ekonomi yaitu lingkungan yang higienenya kurang dan ekonomi bawah lebih rentan terjangkit penyakit mata ini. Cara penularan dari penyakit ini yaitu melalui :  Melalui kontak langsung dengan sekret yang keluar dari mata yang terkena infeksi atau dari discharge nasofaring.  Sejenis lalat, terutama jenis Musca sorbens di Afrika dan Timur Tengah dan spesies jenis Hippelates di Amerika bagian selatan  Alat-alat kebutuhan sehari-hari yang telah terkontaminasi (misalnya handuk atau saputangan) 6 Gambar 6. Cara Penularan Trakoma 6 II.4 ETIOLOGI 9 Trakoma Trakoma disebabkan oleh Chlamidia trachomatis serotipe A, B, Ba, atau C. Masingmasing serotipe ditemukan di tempat dan komunitas yang berbeda beda. Chlamidia ini termasuk bakteri gram negatif, Ordo Chlamydiales, family Chlamydiaceae dan Genus Chlamydia. Spesies C trakomatis menyebabkan trakoma, sedangkan serotype D-K menyebabkan infeksi kelamin dan limfogranulomavenerum (serotipe L1-L3). Serotipe D-K biasanya menyebabkan konjungtivitis folikular kronis yang secara klinis sulit dibedakan dengan trakoma, termasuk konjungtivitis folikular dengan pannus, dan konjungtiva scar. Namun, serotipe genital ini tidak memiliki siklus transmisi yang stabil dalam komunitas. Karena itu, tidak terlibat dalam penyebab kebutaan karena trakoma. 4,5 II.5 PATOFISIOLOGI Infeksi menyebabkan inflamasi, yang predominan limfositik dan infiltrat monosit dengan plasma sel dan makrofag dalam folikel. Gambaran tipe folikel dengan pusat germinal dangan pulau- pulau proliferasi sel B yang dikelilingi sebukan sel T. Infeksi konjungtiva yang rekuren menyebabkan inflamasi yang lama yang menyebabkan conjungtival scarring. Scarring diasosiasikan dengan atrofi epitel konjungtiva, hilangnya sel goblet, dan pergantian jaringan normal, longgar dan stroma vaskular subepitel dengan jaringan ikat kolagen tipe IV dan V (Solomon et al, 2004). 10 II.6 MANIFESTASI KLINIS Secara klinis, trakoma dapat dibagi menjadi fase akut dan fase kronis, tetapi tanda akut dan kronis dapat muncul dalam waktu yang bersamaan dalam satu individu. Derajat keparahan dari infeksi mata oleh Chlamidia trachomatis dapat ringan sampai dengan berat. Banyak infeksinya bersifat asimptomatis. Sesuai dengan masa inkubasinya yaitu 5-14 hari, infeksi konjungtiva menyebabkan iritasi, mata merah, dan discharge mukopurulen. Keterlibatan kornea pada proses inflamasi akut dapat menimbulkan nyeri dan fotofobia. 4,5 Tanda awal infeksi yang kurang spesifik adalah vasodilatasi dari pembuluh darah konjungtiva. Perubahan spesifik terjadi beberapa minggu setelah infeksi, yaitu dengan 10 Trakoma munculnya folikel-folikel pada konjungtiva forniks, konjungtiva tarsal dan limbus. Folikel terlihat sebagai massa abu-abu dengan diameter 0,2-3 mm. Papil juga dapat terlihat pada fase ini, pada kasus ringan terlihat titik-titik merah kecil dengan mata telanjang. Dengan bantuan slit lamp, papil terlihat sebagai pembengkakan kecil konjungtiva, dengan vaskularisasi di tengahnya. Ketika inflamasi bertambah berat, reaksi papilar pada konjungtiva tarsal diasosiasikan dengan penebalan konjungtiva, pertambahan vaskularisasi pembuluh tarsal, dan kadang kadang edema palpebra. Bila kornea terlibat pada proses inflamasi, keratitis pungtata superficialis dapat dideteksi dengan test flouresensi. 4,5 Infiltrat superfisial atau pannus (infiltrasi subepitel dari jaringan fibrovaskular ke perifer kornea) mengindikasikan inflamasi kornea. Folikel, papil dan tanda kornea lain adalah tanda dari fase aktif, namun pannus dapat bertahan setelah fase aktif. Resolusi dari folikel ditandai dengan terjadinya scarring pada subepitel konjungtiva. Deposisi dari skar biasanya di konjungtiva tarsal atas, walaupun konjungtiva bulbi dan daerah atas kornea dapat terkena. Di daerah endemis trakoma, sikatrik pada daerah tarsal karena episode infeksi berulang menjadi dapat terlihat secara makroskopis dengan mengeversi palpebra atas, nampak seperti plester putih dengan latar konjungtiva yang eritematous. Di limbus, pergantian folikel menjadi scar menghasilkan formasi depresi translusen pada corneoscleral junction yang disebut Herbert’s pits. 4,5 Bila scar pada konjungtiva tarsal cukup banyak berkumpul, menyebabkan kelopak mata atas menekuk ke dalam dan menyebabkan bulu mata mengenai bola mata (trikiasis) dan ketika semua bagian kelopak mengarah ke dalam disebut entropion. Trikiasis sangat mengiritasi. Penderita kadang mencabut sendiri bulumata atau memplester kelopak mata agar menghadap ke luar. Selain nyeri, trikiasis juga mencederai kornea, sebagai efek abrasi kornea dapat terjadi infeksi sekunder oleh jamur atau bakteri. Karena sikatrik bersifat opak maka penglihatan dapat terganggu bila mengenai daerah sentral kornea. (Solomon et al, 2004) 4,5,10 11 Trakoma Gambar 7. Pannus dan Herbert’s Pits 6 II.7 KLASIFIKASI Menurut klasifikasi Mac Callan, trakoma dibagi menjadi 4 stadium yaitu :  Stadium 1 (hiperplasi limfoid) : terdapat hipertrofi papil dengan folikel yang kecilkecil pada konjungtiva tarsus superior, yang memperlihatkan penebalan dan kongesti pada pembuluh darah konjungtiva. Sekret yang sedikit dan jernih bila tidak ada infeksi sekunder. Kelainan kornea sukar ditemukan tetapi kadang-kadang dapat ditemukan neovaskularisasi dan keratitis epitelial ringan.  Stadium 2 : terdapat hipertrofi papilar dan folikel besar yang matang pada konjungtiva tarsus superior. Pada stadium ini dapat ditemukan pannus trakoma yang jelas. Terdapat hipertrofi papil yang berat seolah-olah mengalahkan gambaran folikel pada konjungtiva superior.  Stadium 3 : terdapat parut pada konjungtiva tarsus superior yang terlihat sebagai garis putih yang halus sejajar dengan margo palpebra. Parut folikel pada limbus kornea disebut cekungan Herbert. Gambaran papil mulai berkurang.  Stadium 4 : suatu pembentukan parut yang sempurna pada konjungtiva tarsus superior sehingga menyebabkan perubahan bentuk pada tarsus yang dapat menyebabkan entopion dan trikiasis. 3 Tabel 1. Klasifikasi dan strafikasi trakoma menurut Mc Callan 3 12 Trakoma Pembagian menurut WHO Simplified Trachoma Grading Scheme adalah : 3  Trakoma Folikular (TF) Trakoma dengan adanya 5 atau lebih folikel dengan diameter 0,5mm di daerah sentral konjungtiva tarsal superior. Bentuk ini umumnya ditemukan pada anak-anak dengan prevalensi puncak pada usia 3-5 tahun. Gambar 8. Trakoma Folikular 6  Trakoma Inflamasi Berat (TI) Ditandai konjungtiva tarsal superior yang menebal dan pertumbuhan vaskular tarsal. Papil terlihat dengan pemeriksaan slit lamp. 13 Trakoma Gambar 9. Trakoma Inflamasi Berat 6  Sikatrik Trakoma (TS) Ditandai dengan adanya sikatrik yang mudah terlihat pada konjungtiva tarsal. Memiliki resiko trikiasis ke depannya, semakin banyak sikatrik semkin besar resiko terjadinya trikiasis. Gambar 10. Sikatrik Trakoma 6  Trikiasis (TT) Ditandai dengan adanya bulu mata yang mengarah ke dalam. Potensial untuk menyebabkan opasitas kornea. Gambar 11. Trikiasis 6 14 Trakoma  Opasitas Kornea (CO) Ditandai dengan kekeruhan kornea yang terlihat di atas pupil. Kekeruhan kornea menandakan prevalensi gangguan visus atau kebutaan akibat trakoma. Gambar 12. Opasitas Kornea 6 II.8 DIAGNOSIS 3,4,10 Diagnosa trakoma ditegakkan berdasarkan : a. Gejala Klinik : Bila terdapat 2 dari 4 gejala klinik yang khas, sebagai berikut : 1) Adanya prefolikel di konjungtiva tarsalis superior 2) Folikel di konjungtiva forniks superior dan limbus kornea 1/3 bagian atas 3) Pannus aktif di 1/3 atas limbus kornea 4) Sikatrik berupa garis-garis atau bintang di konjungtiva palpebra / forniks superior, Herbert’s pit di limbus kornea 1/3 bagian atas. Riwayat Penyakit : Trakoma aktif biasanya ditemukan pada anak anak, dan penduduk pada daerah endemis, hanya menimbulkan sedikit keluhan. Penderita dengan trikiasis bisa simptomatis. Beratnya keluhan bergantung pada banyaknya bulu mata yang menyentuh bola mata, ada atau tidaknya abrasi kornea, dan ada tidaknya blefarospasme. b. Kerokan konjungtiva, yang dengan pewarnaan giemsa dapat ditemukan badan inklusi Halbert staedter Prowazeki. Diagnosa trakoma juga dapat ditegakkan bila 15 Trakoma terdapat satu gejala klinis yang khas ditambah dengan kerokan konjungtiva yang menghasilkan badan inklusi. c. Biakan kerokan konjungtiva dalam yolk sac, menghasilkan badan inklusi dan badan elementer dengan pewarnaan giemsa. d. Tes serologis dengan : 1) Tes fiksasi komplemen, untuk menunjukkan adanya antibodi terhadap trakoma, dengan menggunakan antigen yang murni. Melakukannya mudah, tak memerlukan peralatan canggih, cukup mempergunkan antigen yang stabil, mudah didapat di pasaran. Mempunyai nilai diagnostik yang tinggi. 2) Tes mikro-imunofluoresen, menentukan antibodi antichlamydial yang spesifik, beserta sifat-sifatnya (IgM, IgA, IgG). Lebih sukar dan memerlukan peralatan canggih. II.9 DIAGNOSIS BANDING Tabel 2. Diagnosis Banding Trakoma 3,5 Trakoma Konjungtivitis Folikularis Vernal Katarrh Gambaran lesi (kasus awal) papula kecil atau bercak merah bertaburan dengan bintik putih – kuning (folikel trakoma) pada konjungtiva tarsal (kasus lanjut) granula dan parut, terutama konjungtiva tarsal atas Penonjolan merah muda pucat tersusun teratur seperti deretan “beads” Nodul lebar datar dalam susunan “cobblestone” pada konjungtiva tarsal atas dan bawah, diselimuti lapisan susu Ukuran lesi Penonjolan besar lesi Penonjolan kecil Penonjolan besar Lokasi lesi Konjungtiva tarsal atas dan teristimewa lipatan retrotarsal kornea – pannus, Terutama konjungtiva tarsal bawah dan forniks bawah. Tipe tarsus atau palpebra : konjungtiva tarsus terlibat, forniks bebas 16 Trakoma bawah infiltrasi abu – abu dan pembuluh. Tarsus tidak terlibat Tarsus terlibat Tipe limbus atau bulbus: limbus terlibat, forniks bebas, konjungtiva tarsus bebas Tipe campuran: tarsus tidak terlibat Tipe sekresi Kotoran air berbusa atau “frothy” pada stadium lanjut Mukoid atau purulen Bergetah, bertali, seperti susu Pulasan Kerokan epitel dari konjungtiva dan kornea memperlihatkan eksfoliasi, proliferasi, inklusi selular Kerokan tidak karakteristik (Koch – Weeks, Morax – Axenfeld, mikrokokus kataralis stafilokokus, pneumokokus) Eosinofil karakteristik dan konstan pada sekresi Penyulit / sekuele Kornea: panus, kekeruhan kornea, xerosis Ulkus kornea Infiltrasi kornea (tipe limbus) Blefaritis Pseodoptosis (tipe tarsal) Konjungtiva: simblefaron Ektropion Palpebra: ektropion atau enteropion, trikiasis II.10 PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan trakoma untuk mendapatkan konjungtiva dalam keadaan licin dengan jaringan sikatrik yang minimal. Hal ini dapat dicegah bila pengobatan diberikan sedini mungkin, sehingga mengurangi kesempatan pembentukan jaringan sikatrik. Kunci pentalaksanaan trakoma yang dikembangkan WHO adalah strategi SAFE (Surgical care, Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement). 6 1. Tindakan Bedah 3,6  Pembedahan kelopak mata untuk memperbaiki trikiasis sangat penting pada penderita dengan trikiasis, yang memiliki resiko tinggi terhadap gangguan visus dan penglihatan.  Rotasi kelopak mata membatasi perlukaan kornea. Pada beberapa kasus, dapat memperbaiki visus, karena merestorasi permukaan visual dan pengurangan sekresi okular dan blefarospasme. 2. Terapi antibiotik 3,6,10 17 Trakoma WHO merekomendasikan dua antibiotik untuk trakoma yaitu azitromisin oral dan salep mata tetrasiklin.  Azitromisin lebih baik dari tetrasiklin namun lebih mahal.  Konsentrasi azitromisin di plasma rendah, tapi konsentrasi di jaringan tinggi, menguntungkan untuk mengatasi organisme intraselular.  Azitromisin adalah drug of choice karena mudah diberikan dengan single dose. Pemberiannya dapat langsung dipantau. Karena itu compliancenya lebih tinggi dibanding tetrasiklin.  Azitromisin memiliki efikasi yang tinggi dan kejadian efek samping yang rendah. Ketika efek samping muncul, biasanya ringan; gangguan GI danrash adalah efek samping yang paling sering. Infeksi Chlamydia trachomatis biasanya terdapat juga di nasofaring, maka bisa terjadi reinfeksi bila hanya diberi antibiotik topikal. Keuntungan lain pemberian azitromisin termasuk mengobati infeksi genital, sistem respirasi, dan kulit.  Resistensi C. Trachomatis terhadap azitromisin dan tetrasiklin belum dikemukakan.  Azitromisin : dewasa 1 gram per oral sehari; anak anak 20 mg/kgBB per oral sehari  Salep atau tetes topikal, termasuk preparat sulfonamide, tetrasiklin, erythromycin dan rifampin, empat kali sehari selama enam minggu, sama efektifnya. Salep tetrasiklin 1% : mencegah sintesis bakteri protein dengan binding dengan unit ribosom 30S dan 50S. Gunakan bila azitromisin tidak ada. Efek samping sistemik minimal.  Perbaikan klinik mencolok umumnya dicapai dengan tetrasiklin 1-1,5 g/ hari per os dalam empat dosis selama 3-4 minggu ; doksisiklin 100 mg/ 2 kali sehari selama 3 minggu; atau eritromisin 1 gram / hari per os dibagi dalam empat dosis selama 3-4 minggu. Kadang-kadang diperlukan beberapa kali pengobatan agar benar-benar sembuh. Tetrasiklin sistemik jangan diberi pada anak dibawah umur 7 tahun atau 18 Trakoma untuk wanita hamil. Karena tetrasiklin mengikat kalsium pada gigi yang berkembang dan tulang yang tumbuh dan dapat berakibat gigi menjadi kekuningan dan kelainan tulang.  Saat mulai terapi, efek maksimum biasanya belum dicapai selama 10 – 12 minggu. Karena itu, tetap adanya folikel pada tarsus superior selama beberapa minggu setelah terapi berjalan jangan dipakai sebagai bukti kegagalan terapi. 3. Kebersihan Wajah 3,6  Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kebersihan wajah pada anak-anak menurunkan resiko dan juga keparahan dari trakoma aktif.  Untuk mensukseskannya, pendidikan dan penyuluhan kesehatan harus berbasis komunitas dan berkesinambungan. 4. Peningkatan Sanitasi Lingkungan 3,6  Penyuluhan peningkatan sanitasi rumah dan sumber air, dan pembuangan feses manusia yang baik.  Lalat yang bisa mentransmisikan trakoma bertelur di feses manusia yang ada di permukaan tanah. Mengontrol populasi lalat dengan insektisida cukup sulit.   Kriteria kesembuhan berdasarkan pemeriksaan dengan mata telanjang adalah : o Folikel (-) o Infiltrat kornea (-) o Panus aktif (-) o Hiperemia (-) o Konjungtiva, meskipun ada sikatrik, tampak licin. Pada kasus individual, kriteria penyembuhan harus ditambah : o Pada pemeriksaan fluoresein, yang dilihat dengan slit lamp, menunjukkan tidak ada keratitis epitelial di kornea. 19 Trakoma o Pada pemeriksaan mikroskopis dan kerokan konjungtiva, tidak menunjukkan adanya badan inklusi. II.11 KOMPLIKASI 6,10  Ulkus kornea Terjadi karena adanya destruksi epitel kornea oleh infiltrasi trakoma. Pada stadium II atau III, dapat terjadi tarsitis, dengan akibatnya timbul penyulit entropion dan trikiasis. Adanya entropion dengan trikiasis menimbulkan kerusakan kornea yang dimulai dengan erosi kornea dari bila disertai infeksi sekunder, berubah menjadi ulkus yang dalam. Ulkus kornea yang terkena infeksi sekunder, kemudian dapat menimbulkan jaringan parut berupa nebula, makula, leukoma, dan bila terjadi perforasi kornea menimbulkan leukoma adherens, stafiloma kornea bahkan ptisis bulbi kalau perforasi kornea di ikuti endoftalmitis, panoftalmitis. Kebutaan dapat terjadi dapat disebbakan oleh karena adanya jaringan parut di kornea yang hebat sehingga menghalangi cahaya masuk ataupun disebabkan kerusakan seluruh jaringan mata, sehingga penglihatan tidak dapat kembali lagi.  Xerosis konjungtiva dan epitel kornea Parut di konjungtiva dalah komplikasi yang sering terjadi pada trakoma dan dapat merusak kelenjar lakrimalis dan menutupi muara kelejar lakrimal. Hal ini secara drastis mengurangi komponen air dalam film air mata pre- kornea, dan komponen mukus film mungkin berkurang karena hilangnya sebagian sel goblet  Ptosis, obstruksi duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan simblefaron II.12 PROGNOSIS 6 Trakoma adalah penyakit menahun yang berlangsung lama. Dengan kondisi higiene yang baik (khususnya mencuci muka pada anak-anak), penyakit ini sembuh atau bertambah ringan sehingga sekuele berat terhindarkan. Sekitar 6 – 9 juta orang di dunia telah kehilangan penglihatannya karena trakoma. 20 Trakoma BAB III PENUTUP Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C. Trakoma adalah salah satu penyakit menahun yang paling banyak dijumpai, mengenai 1/6 dari penduduk di dunia. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak ditemukan pada orang muda dan anak-anak . Prevalensi dan berat penyakit yang beragam per regional bergantung pada variasi higiene individu dan standar kehidupan masyarakat dunia, keadaan cuaca tempat tinggal, usia saat terkena, serta frekuensi dan jenis infeksi bakteri mata yang sudah ada. Cara penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan sekret penderita trakoma atau melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan, dan lain-lain. 3,4,5 Grading trakoma menurut WHO adalah : trakoma folikular, trakoma inflamasi berat, trakoma scarring, trikiasis, dan kekeruhan kornea. Klasifikasi trakoma menurut Mc Callan adalah trakoma insipien, trakoma dengan hipertrofi papilar dan folikular yang menonjol, trakoma sikatrik, dan trakoma sembuh. Diagnosa trakoma ditegakkan bila terdapat 2 dari gejala klinik yang khas, 1 gejala klinik dengan kerokan konjungtiva yang positif atau dengan test serologis. Banyak infeksinya bersifat asimptomatis. Sesuai dengan masa inkubasinya yaitu 5-14 hari, infeksi 21 Trakoma konjungtiva menyebabkan iritasi, mata merah, dan discharge mukopurulen. Keterlibatan kornea pada proses inflamasi akut dapat menimbulkan nyeri dan fotofobia.3,4,5 WHO (World Health Organization) menerapkan Surgical care, Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement (SAFE) untuk penatalaksanaan trakoma, Azitromisin dan tetrasiklin adalah antibiotik yang direkomendasikan WHO untuk trakoma. Peningkatan higiene individual dan sanitasi lingkungan mengurangi resiko penularan, penyakit ini bisa sembuh atau bertambah ringan sehingga sekuele berat terhindarkan. Sekitar 6 – 9 juta orang di dunia telah kehilangan penglihatannya karena trakoma. Komplikasi yang dapat terjadi adalah ulkus kornea, xerosis konjungtiva dan epitel kornea, ptosis, obstruksi duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan simblefaron. 3,6,10 DAFTAR PUSTAKA 1. James B, Chew C, Bron A. Konjungtiva, Sklera, dan Kornea. Dalam : Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta : Erlangga, 2005 : 61-65. 2. American Optometric Association. Care of the Patient with Conjunctivitis. Available at : http://www.aoa.org/documents/CPG-11.pdf, diunduh tanggal 08 Mei 2014. 3. Wijana, Nana. Konjungtiva. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Abadi Tegal, 1993 : 40-69. 4. Vaughan D, Asbury T. Konjungtiva. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta: EGC, 2007 : 97-104. 5. Ilyas, Sidarta. Mata Merah Dengan Penglihatan Normal. Dalam : Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010 : 137-140. 6. Anonim. Trachoma. Available at : http://www.merckmanuals.com/professional/eye_disorders/conjunctival_and_scleral_dis orders/trachoma.html, diunduh tanggal 09 Mei 2014. 7. Vaughan D, Asbury T. Anatomi dan Embriologi Mata. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta : EGC, 2007 : 1-22. 8. Ilyas, Sidarta. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010 : 1-10. 22 Trakoma 9. O'Rahilly. Basic Human Anatomy. Available at : http://www.dartmouth.edu/~humananatomy/figures/chapter_46/4610_files/IMAGE001.JPG, diunduh tanggal 11 Mei 2014. 10. Salomon, Anthony dan Hugh R Taylor. Treatment and Medication Trachoma. In : eMedicine Ophtalmology. 2010 : 29-38. 23 Trakoma