Anda di halaman 1dari 13

INSUFISIENSI VENA KRONIK

Defenisi Varices
Varises (varus=bengkok) adalah pelebaran pembuluh balik (vena) yang berkelok-kelok
dan ditandai oleh katup didalamnya yang tidak berfungsi lagi. Bila hanya melebar saja disebut
venektasi.
Terdapat tiga jenis vena pada tungkai , yaitu :
1. Vena Tepi: terletak dibawah kulit dan hanya dilindungi oleh jaringan longgar dan kulit.
Vena tepi yang utama adalah vena safena magna (VSM) dan vena safena parva (VSP).
Kedua vena ini berhubungan dibeberapa tempat melalui vena vena kecil.
VSM merupakan vena terpanjang ditubuh, mulai dari kaki sampai kefossa ovalis
dan mengalirkan darah dari bagian medial kaki serta kulit sisi medial tungkai.

Vena ini merupakan vena yang paling sering menderita varises.


VSP terletak di antara tendon Achilles dan maleolus lateralis. Pada pertengahan
betis VSP menembus fascia, kemudian bermuara ke v. poplitea beberapa
sentimeter di bawah lutut. Vena ini mengalirkan darah dari bagian lateral kaki.
Mulai dari maleolus lateralis sampai proksimal betis VSP terletak sangat
berdekatan dengan n. suralis yaitu saraf sensorik yang mensarafi kulit sisi lateral

kaki.
2. Vena Dalam: diliputi otot dan fascia serta berdampingan dengan arterinya.
3. Vena Penghubung (Perforantes): adalah vena yang menghubungkan vena tepi ke vena
dalam, yaitu dengan cara langsung menembus fascia.Vena ini mempunyai katup yang
mengarahkan aliran darah dari vena tepi ke vena dalam. Bila katup ini tidak berfungsi
maka aliran darah akan terbalik sehingga tekanan vena tepi makin tinggi dan varises
dengan mudah akan terbentuk (Anonim, 2010).

Etiologi

Etiologi dari insufisiensi vena kronis dapat dibagi 3 kategori yaitu kongenital, primer dan
sekunder. Penyebab insufisiensi vena kronis yang kongenital adalah pada kelainan dimana katup
yang seharusnya terbentuk di suatu segmen ternyata tidak terbentuk sama sekali (aplasia,
avalvulia), atau pembentukannya tidak sempurna (displasia), berbagai malformasi vena,dan
kelainan lainnya yang baru diketahui setelah penderitanya berumur.
Penyebab insufisiensi vena kronis yang primer adalah kelemahan intrinsik dari dinding
katup, yaitu terjadi lembaran atau daun katup yang terlalu panjang (elongasi) atau daun katup
menyebabkan dinding vena menjadi terlalu lentur tanpa sebab-sebab yang diketahui. Keadaan
daun katup yang panjang melambai (floppy,rebundant ) sehingga penutupan tidak sempurna
(daun-daun katup tidak dapat terkatup sempurna) yang mengakibatkan terjadinya katup tidak
dapat menahan aliran balik,sehingga aliran retrograd atau refluks. Keadaan tersebut dapat diatasi
hanya dengan melakukan perbaikan katup (valve repair) dengan operasi untuk mengembalikan
katup menjadi berfungsi baik kembali.
Penyebab insufisiensi vena kronis sekunder (insufisiensi vena sekunder) disebabkan oleh
keadaan patologik yang didapat (acquired),yaitu akibat adanya penyumbatan trombosis vena
dalam yang menimbulkan gangguan kronis pada katup vena dalam. Pada keadaan dimana terjadi
komplikasi sumbatan trombus beberapa bulan atau tahun paska kejadian trombosis vena dalam,
maka keadaan tersebut disebut sindroma post-trombotic. Pada sindroma tersebut terjadi
pembentukan jaringan parut akibat inflamasi, trombosis kronis dan rekanalisasi yang akan
menimbulkan fibrosis, dan juga akan menimbulkan pemendekan daun katup (pengerutan daun
katup), perforasi kecil-kecil (perforasi mikro), dan adhesi katup, sehingga akhirnya akan
menimbulkan penyempitan lumen. Kerusakan yang terjadi pada daun katup telah sangat parah
tidak memungkinkan upaya perbaikan. Kejadian insufisiensi venakronis yang primer, dan yang
sekunder (akibat trombosis vena dalam, dan komplikasi post-trombotic), dapat terjadi pada satu
penderita yang sama (Yuwono, 2010).

Faktor Risiko

Faktor risiko dari penyakit vena kronis adalah termasuk:


1. Sejarah varises dalam keluarga (keturunan, herediter)
2. Umur
3. Jenis kelamin perempuan (pada usia dekade ke-3 dan 4 : dijumpai 5-6 kali lebih sering
4.
5.
6.
7.

dari laki-laki)
Kegemukan atau obesitas, terutama pada perempuan
Kehamilan lebih dari dua kali
Pengguna pil atau suntikan hormon dalam program keluarga berencana,
Terbiasa bekerja dalam posisi berdiri tegak selama lebihdari 6 jam sehari (Yuwono,
2010).

Patofisiologi
Pada keadaan normal katup vena bekerja satu arah dalam mengalirkan darah vena naik
keatas dan masuk kedalam. Pertama darah dikumpulkan dalam kapiler vena superfisialis
kemudian dialirkan ke pembuluh vena yang lebih besar, akhirnya melewati katup vena ke vena
profunda yang kemudian ke sirkulasi sentral menuju jantung dan paru. Vena superfisial terletak
suprafasial, sedangkan vena vena profunda terletak di dalam fasia dan otot. Vena perforata
mengijinkan adanya aliran darah dari vena superfisial ke vena profunda (Beale, 2005).
Di dalam kompartemen otot, vena profunda akan mengalirkan darah naik keatas melawan
gravitasi dibantu oleh adanya kontraksi otot yang menghasikan suatu mekanisme pompa otot.
Pompa ini akan meningkatkan tekanan dalam vena profunda sekitar 5 atm. Tekanan sebesar 5
atm tidak akan menimbulkan distensi pada vena profunda dan selain itu karena vena profunda
terletak di dalam fasia yang mencegah distensi berlebihan. Tekanan dalam vena superfisial
normalnya sangat rendah, apabila mendapat paparan tekanan tinggi yang berlebihan akan
menyebabkan distensi dan perubahan bentuk menjadi berkelok-kelok.
Varises vena pada kehamilan paling sering disebabkan oleh karena adanya perubahan
hormonal yang menyebabkan dinding pembuluh darah dan katupnya menjadi lebih lunak dan
lentur, namun bila terbentuk varises selama kehamilan hal ini memerlukan evaluasi lebih lanjut
untuk menyingkir adanya kemungkinan disebabkan oleh keadaan DVT akut.
Peningkatan tekanan di dalam lumen paling sering disebabkan oleh terjadinya insufisiensi
vena dengan adanya refluks yang melewati katup vena yang inkompeten baik terjadi pada vena

profunda maupun pada vena superficial. Peningkatan tekanan vena yang bersifat kronis juga
dapat disebabkan oleh adanya obstruksi aliran darah vena. Penyebab obstruksi ini dapat oleh
karena thrombosis intravaskular atau akibat adanya penekanan dari luar pembuluh darah. Pada
pasien dengan varises oleh karena obstruksi tidak boleh dilakukan ablasi.
Kegagalan katup pada vena superfisal paling umum disebabkan oleh karena peningkatan
tekanan di dalam pembuluh darah oleh adanya insufisiensi vena. Penyebab lain yang mungkin
dapat memicu kegagalan katup vena yaitu adanya trauma langsung pada vena dan kelainan katup
karena thrombosis. Bila vena superfisial ini terpapar dengan adanya tekanan tinggi dalam
pembuluh darah, pembuluh vena ini akan mengalami dilatasi yang kemudian terus membesar
sampai katup vena satu sama lain tidak dapat saling bertemu.
Kegagalan pada satu katup vena akan memicu terjadinya kegagalan pada katup-katup
lainnya. Peningkatan tekanan yang berlebihan di dalam sistem vena superfisial akan
menyebabkan terjadinya dilatasi vena yang bersifat lokal. Setelah beberapa katup vena
mengalami kegagalan, fungsi vena untuk mengalirkan darah ke atas dan ke vena profunda akan
mengalami gangguan. Tanpa adanya katup-katup fungsional, aliran darah vena akan mengalir
karena adanya gradient tekanan dan gravitasi.
Kerusakan yang terjadi akibat insufisiensi vena berhubungan dengan tekanan vena dan
volume darah vena yang melewati katup yang inkompeten. Sayangnya penampilan dan ukuran
dari varies yang terlihat tidak mencerminkan keadaan volume atau tekanan vena yang
sesungguhnya. Vena yang terletak dibawah fasia atau terletak subkutan dapat mengangkut darah
dalam jumlah besar tanpa terlihat ke permukaan. Sebaliknya peningkatan tekanan tidak terlalu
besar akhirnya dapat menyebabkan dilatasi yang berlebihan.
Pengkajian tentang penyakit vena umumnya dititik beratkan pada kelainan vena di
tungkai, karena tungkailah yang paling besar menyangga beban hidrostatik dan gangguan
peredaran darah vena tungkai paling sering terjadi. Gangguan lain yang mungkin merupakan
sebab awal dari kelainan sistem vena adalah faktor yang mempengaruhi terjadinya trombosis
seperti yang dikemukakan oleh Virchow dengan triasnya : kelainan dinding, stasis atau hambatan
aliran, dan kecenderungan pembekuan darah (Jong, 2005).

Klasifikasi dan Gambaran Klinis


Varises tungkai terdiri dari varises primer dan sekunder. Varises primer terjadi jika katup
sistem vena superfisialis (vena Saphena magma,vena Saphena parva dan venae perforantes)
gagal untuk menutup sebagaimana mestinya, sehingga akan terjadi refluks kearah bawah dan
terjadi dilatasi vena yang kronis, sedangkan sistem vena Profunda masih normal. Varises
sekunder terjadi akibat sistem vena Profunda mengalami trombosis / tromboflebitis atau adanya
fistula arterovenosa, semula keadaan katupnya normal selanjutnya terjadi kompensasi pelebaran
pada vena superfisialis (Anonim,2010).
Secara klinis varises tungkai dikelompokan berdasarkan jenisnya,yaitu :
1. Varises trunkal
Merupakan varises v.saphena magna dan v.saphena parva, diameter lebih dari 8 mm,
warna biru-biru kehijauan.
2. Varises retikular
Varises yang mengenai cabang v.saphena magna atau v.saphena parva yang umumnya
kecil dan berkelok-kelok, diameter 2-8 mm,warna biru-biru kehijauan.
3. Varises kapiler
Merupakan vena subkutis yang tampak sebagai kelompok serabut halus dari pembuluh
darah, diameter 0,1 - 1 mm, warna merah ataosianotik (jarang) ( Basuki, 1990; Falco,
1991).
Sesuai dengan berat ringannya, varises dibagi atas empat stadium(Jong,2005)

Stadium I : Keluhan samar (tidak khas)


Stadium II : Mula tampak pelebaran vena, palpabel dan menonjol
Stadium III : Varises tampak jelas, memanjang, berkelok-kelok pada paha atau tungkai

bawah
Stadium IV : Kelainan kulit dan tukak karena sindrom insufisiensi vena menahun

Varises tungkai merupakan salah satu manifestasi kutaneus dari insufisiensi vena kronik
(IVK), yaitu suatu keadaan gangguan fungsi sistem vena yang disebabkan oleh inkompetensi
katup, berhubungan atau tidak dengan obstruksi, dapat mengenai sistem vena superfisialis, vena
profunda atau keduanya (Goldman, 1994)

Menurut klasifikasi klinis CEAP (1994), IVK dibagi berdasarkan berat ringan manifestasi
klinisnya, yaitu :

Derajat 0 : Tidak terlihat atau teraba tanda-tanda gangguan vena


Derajat 1 : Telangiektasis, vena retikular
Derajat 2 : Varises tungkai
Derajat 3 : Edem tanpa perubahan kulit
Derajat 4 : Perubahan kulit akibat gangguan vena (pigmentasi, dermatitis statis

,lipodermatosklerosis)
Derajat 5 : Perubahan kulit seperti diatas dengan ulkus yang sudah sembuh
Derajat 6 : Perubahan kulit seperti diatas dengan ulkus aktif (Yuwono, 2010)

Gejala klinis IVK timbul akibat adanya hipertensi vena baik karena obstruksi, refluks atau
kombinasi keduanya. Hipertens vena persisten akan mempengaruhi fungsi kapiler, tekanan trans
mural dan intra mural meningkat, mendorong cairan, elektrolit dan eritrosit keluar memasuki
jaringan sehingga terjadi edem dan hiperpigmentasi. Kapiler mengalami dilatasi dan penurunan
kecepatan aliran darah, hal ini akan mempengaruhi adhesi leukosit (neutrofil) pada
mikrosirkulasi dan venula post kapiler,akibatnya leokosit akan terperangkap pada endotel dan
teraktivasi sehingga melepaskan radikal bebas, enzim proteolitik dan sitokin,disamping itu fibrin
perikapiler akan menjadi barier terhadap difusi oksigen dan nutrisi lain. Semua keadaan ini
menyebabkan kerusakan jaringan berupa hipoksia, iskhemi, nekrosis lemak, pigmentasi kulit
danulkus (Smith, 1996; parsch, 1996).

Pemeriksaan klinis (diagnostic)


Pemeriksaan klinis dapat dilakukan dengan:
a.
b.
c.
d.
e.

Test trendelenberg
Test myer
Test perthes
Test Doppler
Radiologi (phlebografi, morfometri, phlethysmografi)

Selain itu ada beberapa macam pemeriksaan klinis lainya, berikut dijabarkan beserta
penjelasannya.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sistem vena penuh dengan kesulitan karena sebagian besar sistem vena
profunda tidak dapat dilakukan pemeriksaan langsung seperti inspeksi, palpasi, auskultasi dan
perkusi. Pada sebagian besar area tubuh, pemeriksaan pada sistem vena superfisial harus
mencerminkan keadaan sistem vena profunda secara tidak langsung. Pemeriksaan vena dapat
dilakukan secara bertahap melalui inspeksi, palpasi, perkusi, dan pemeriksaan menggunakan
Doppler. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya dibuatkan peta mengenai gambaran keadaan vena
yang diterjemahkan ke dalam bentuk gambar. Gambar ini akan memberikan informasi mengenai
penatalaksanaan selanjutnya (Anonim, jurnalmedika)
a. Inspeksi
Inspeksi tungkai dilakukan dari distal ke proksimal dari depan ke belakang.
Region perineum, pubis, dan dinding abdomen juga dilakukan inspeksi. Pada inspeksi
juga dapat dilihat adanya ulserasi, telangiektasi, sianosisakral, eksema, brow spot,
dermatitis, angiomata, varises vena prominent, jaringan parut karena luka operasi, atau
riwayat injeksi sklerotan sebelumnya. Setiap lesi yang terlihat seharusnya dilakukan
pengukuran dan didokumentasikan berupa pencitraan. Vena normalnya terlihat distensi
hanya pada kaki dan pergelangan kaki. Pelebaran vena superfisial yang terlihat pada
region lainnya pada tungkai biasanya merupakan suatu kelainan. Pada seseorang yang
mempunyai kulit yang tipis vena akan terlihat lebih jelas. Stasis aliran darah vena yang
bersifat kronis terutama jika berlokasi pada sisi medial pergelangan kaki dan tungkai
menunjukkan gejala seperti perubahan struktur kulit. Ulkus dapat terjadi dan sulit untuk
sembuh, bila ulkus berlokasi pada sisi media tungkai maka hal ini disebabkan oleh
adanya insufusiensi vena. Insufisiensi arteri dan trauma akan menunjukkan gejala berupa
ulkus yang berloksi pada sisi lateral.
b. Palpasi
Palpasi merupakan bagian penting pada pemeriksaan vena. Seluruh permukaan
kulit dilakukan palpasi dengan jari tangan untuk mengetahui adanya dilatasi vena
walaupun tidak terlihat ke permukaan kulit. Palpasi membantu untuk menemukan
keadaan vena yang normal dan abnormal. Setelah dilakukan perabaan pada kulit,dapat

diidentifikasi adanya kelainan vena superfisial. Penekanan yang lebih dalam dapat
dilakukan untuk mengetahui keadaan vena profunda. Palpasi diawali dari sisi permukaan
anteromedial untuk menilai keadaan SVM kemudian dilanjutkan pada sisi lateral diraba
apakah ada varises dari vena nonsafena yang merupakan cabang kolateral dari VSM,
selanjutnya dilakukan palpasi pada permukaan posterior untuk menilai keadaan VSP.
Selain pemeriksaan vena, dilakukan juga palpasi denyut arteri distal dan proksimal untuk
mengetahui adanya insufisiensi arteri dengan menghitung indeks ankle-brachial. Nyeri
pada saat palpasi kemungkinan adanya suatu penebalan, pengerasan, thrombosis vena.
Empat puluh persen DVT didapatkan pada palpasi vena superfisialis yang mengalami
thrombosis.
c. Perkusi
Perkusi dilakukan untuk mengetahui keadaan katup vena superficial. Caranya
dengan mengetok vena bagian distal dan dirasakan adanya gelombang yang menjalar
sepanjang vena di bagian proksimal. Katup yang terbuka atau inkopeten pada
pemeriksaan perkusi akan dirasakan adanya gelombang tersebut.
d. Manuver Perthes
Manuver Perthes adalah sebuah teknik untuk membedakan antara aliran darah
retrograde dengan aliran darah antegrade. Aliran antergrade dalam system vena yang
mengalami varises menunjukkan suatu jalur bypass karena adanya obstruksi vena
profunda. Hal ini penting karena apabila aliran darah pada vena profunda tidak
lancar,aliran bypass ini penting untuk menjaga volume aliran darah balik vena ke jantung
sehingga tidak memerlukan terapi pembedahan maupun skeroterapi. Untuk melakukan
manuver ini pertama dipasang sebuah Penrose tourniquet atau diikat di bagian proksimal
tungkai yang mengalami varises. Pemasangan tourniquet ini bertujuan untuk menekan
vena superficial saja. Selanjutnya pasien disuruh untuk berjalan atau berdiri sambil
menggerakkan pergelangan kaki agar sistem pompa otot menjadi aktif. Pada keadaan
normal aktifitas pompa otot ini akan menyebabkan darah dalam vena yang mengalami
varises menjadi berkurang, namun adanya obstruksi pada vena profunda akan
mengakibatkan vena superficial menjadi lebih lebar dan distesi. Perthes positif apabila
varises menjadi lebih lebar dan kemudian pasien diposisikan dengan tungkai diangkat
(test Linton) dengan tourniquet terpasang. Obstruksi pada vena profunda ditemukan

apabila setelah tungkai diangkat, vena yang melebar tidak dapat kembali ke ukuran
semula.
e. Tes Trendelenburg
Tes Trendelenburg sering dapat membedakan antara pasien dengan refluks vena
superficial dengan pasien dengan inkopetensi katup vena profunda. Tes ini dilakukan
dengan cara mengangkat tungkai dimana sebelumnya dilakukan pengikatan pada paha
sampai vena yang mengalami varises kolaps. Kemudian pasien disuruh untuk berdiri
dengan ikatan tetap tidak dilepaskan. Interpretasinya adalah apabila varises yang tadinya
telah kolaps tetap kolaps atau melebar secara perlahan-lahan berarti adanya suatu
inkopenten pada vena superfisal, namun apabila vena tersebut terisi atau melebar dengan
cepat adannya inkopensi pada katup vena yang lebih tinggi atau adanya kelainan katup
lainnya.
f. Auskultasi menggunakan Doppler
Pemeriksaan menggunakan Doppler digunakan untuk mengetahui arah aliran
darah vena yang mengalami varises, baik itu aliran retrograde, antegrade, atau aliran dari
mana atau ke mana. Probe dari dopple ini diletakkan pada vena kemudian dilakukan
penekanan pada vena disisi lainnya. Penekanan akan menyebabkan adanya aliransesuai
dengan arah dari katup vena yang kemudian menyebabkan adanya perubahan suara yang
ditangkap oleh probe Doppler. Pelepasan dari penekanan vena tadi akan menyebabkan
aliran berlawanan arah akut. Normalnya bila katup berfungsi normal tidak akan ada aliran
berlawanan arah katup saat penekanan dilepaskan, akhirnya tidak akan ada suara yang
terdengar dari Doppler.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium saat ini tidak bermanfaat dalam menegakkan diagnosis atau
terapi varises vena.
Pemeriksaan Imaging
Tujuan dilakukannya pemeriksaan ini adalah untuk mengidentifikasi dan memetakan
seluruh area yang mengalami obstruksi dan refluks dalam system vena superficial dan system
vena profunda. Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu venografi dengan kontras, MRI, dan
USG color-flow dupleks. USG dupleks merupakan pemeriksaan imaging standar yang digunakan

untuk diagnosis sindrom insufisiensi varises dan untuk perencanaan terapi serta pemetaan
preoperasi. Color-flow USG (USG tripleks) digunakan untuk mengetahui keadaan aliran darah
dalam vena menggunakan pewarnaan yang berbeda. Pemeriksaan yang paling sensitive dan
spesifik yaitu menggunakan Magnetic Resonance venography (MRV) digunakan untuk
pemeriksaan kelainan pada sistem vena profunda dan vena superficial pada tungkai bawah dan
pelvis. MRV juga dapat mengetahui adanya kelainan nonvaskuler yang menyebabkan nyeri dan
edema pada tungkai. Venografi dengan kontras merupakan teknik pemeriksaan invasive. Saat ini
venografi sudah mulai ditinggalkan dan digantikan dengan pemeriksaan USG dupleks sebagai
pemeriksaan rutin penyakit vena. Sekitar 15 % pasien yang dilakukan pemeriksaan venografi
ditemukan adanya DVT dan pembentukan trombosisi baru setelah pemberian kontras (At A
Glance Ilmu Bedah)

Penatalaksanaan Medis
Terapi Non Operatif
1. Kaus Kaki Kompresi (Stocking)
Kaus kaki kompresi membantu memperbaiki gejala dan keadaan hemodinamik
pasien dengan varises vena dan mengilangkan edema. Kaus kaki dengan tekanan 20-30
mmHg (grade II) memberikan hasil yang maksimal. Pada penelitian didapatkan sekitar
37-47 % pasien yang menggunakan kaus kaki ini selama 1 tahun setelah menderita DVT
mencegah terjadi ulkus pada kaki. Kekurangan menggunakan kaos kaki ini adalah dari
segi harga yang relatif mahal, kurangnya pendidikan pasien, dan kosmetik yang kurang
baik (Liu R, Kwok YL, 2006).
2. Skleroterapi
Skleroterapi dilakukan dengan menyuntikkan substansi sklerotan kedalam
pembuluh darah yang abnormal sehingga terjadi destruksi endotel yang diikuti dengan
pembentukan jaringan fibrotik. Sklerotan yang digunakan saat yaitu ferric chloride, salin
hipertonik, polidocanol, iodine gliserin, dan sodium tetradecyl sulphate, namun untuk
terapi varises vena safena paling umum digunakan saat ini adalah sodium tetradecyl
sulphate dan polidacanol. Kedua bahan ini dipilih karena sedikit menimbulkan reaksi
alergi, efek pada perubahan warna kulit (penumpukan hemosiderin) yang rendah, dan
jarang menimbulkan kerusakan jaringan apabila terjadi ekstravasasi ke jaringan (Anonim,
jurnalmedika).

Terapi Minimal Invasif


1. Radiofrekuensi ablasi (RF)
Radiofrekuensi adalah teknik ablasi vena menggunakan kateter radiofrekuensi
yang diletakkan di dalam vena untuk menghangatkan dinding pembuluh darah dan
jaringan sekitar pembuluh darah. Pemanasan ini menyebabkan denaturasi protein,
kontraksi kolagen dan penutupan vena. Kateter dimasukkan sampai ujung aktif kateter
beradasedikit sebelah distal SFJ yang dikonfirmasikan dengan pemeriksaan USG. Ujung
kateter menempel pada endotel vena, kemusian energy radio frekuensi dihantarkan
melalui kateter logam untuk memanaskan pembuluh darah dan jaringan sekitarnya.
Jumlah energy yang diberikan dimonitor melalui sensor termal yang diletakkan di dalam
pembuluh darah. Sensor ini berfungsi mengatur suhu yang sesuai agar ablasi endotel
terjadi (Anonim, jurnalmedika).
2. Endovenous Laser Therapy (EVLT)
Salah satu pilihan terapi varises vena yang minimal invasive adalah dengan
Endovenous laset therapy (EVLT).Keuntungan yang didapat menggunakan pilihan terapi
ini adalah dapat dilakukan pada pasien poliklinis di bawah anestesi local. EVLT yang
secara luas digunakan menggunakan daya sebesar 10-14 watt. Prosedurnya EVLT
menggunakan fibre laser yang dimasukkan ke distal VSM sampai SFJ dibawah control
USG. Prosedur yang dilakukan pertama-tama dialkuakn anestesi local perivena dengan
jalan memberikan infiltrasi disekitar pembuluh darah pepanjang VSM. Tujuannya selain
memberikan efek analgesia juga memberikan efek penekanan pada vena agar dinding
vena beraposisi dengan fibred an berperan sebagai heat sink mencegah kerusakan
jaringan local. EVLT tidak menyebabkan vena segera menjadi mengecil bila
dibandingkan dengan apabila dilakukan FR ablation, tetapi vena akan mengecil secara
gradual beberapa minggu sampai tidak tampak setelah 6 bulan dengan pemeriksaan USG,
kemudian diikuti dengan kerusakan endotel, nekrosis koagulatif, penyempitan dan
thrombosisvena (Anonim, jurnalmedika).
Terapi Pembedahan
1. Ambualtory phlebectomy (Stab Avulsion)
Teknik yang digunakan adalah teknik Stab-avulsion dengan menghilangkan
segmen varises yang pendek dan vena retikular dengan jalan melakukan insisi ukuran
kecil dan menggunakan kaitan khusus yang dibuat untuk tujuan ini, prosedur ini dapat
digunakan untuk menghilangkan kelompok varises residual setelah dilakukan

sphenectomy. Mikroinsisi dibuat diatas pembuluh darah menggunakan pisau kecil atau
jarum yang berukuran besar.Selanjutnya kaitan phlebectomu dimasukkan ke dalam dan
vena dicapai melalui mikroinsisi ini. Menggunakan kaitan kemusian dilakukan traksi
pada vena, bagian vena yang panjang dipisahkan dari perlekatan sekitarnya. Bila vena
tidak dapat ditarik, dapat dilakukan insuisi di tempat lain dan proses diulangi dari awal
sampai keseluruhan vena (Weiss R,2009).
2. Saphectomy
Teknik saphenektomi yang paling popular saat ini adalah teknik menggunakan
peralatan stripping internal dan teknik invaginasi dengan jalan membalik pembuluh darah
dan menariknya menggunakan traksi endovenous, teknik tersebut dapat menurunkan
terjadinya cedera pada struktur di sekitarnya (Weiss R,2009)..

Komplikasi
Lima sampai tujuh persen kasus mengalami cedera pada nervus cutaneus, keadaan ini
sering bersifat sementara namun dapat bersifat permanen. Inform konsen mengenai komplikasi
ini diperlukan sebelum dilakukan tindakan terapi. NHSLA melaporkan komplikasi akibat cedera
pada saraf pada 12 pasien dengan drop foot setelah dilakukan ligasi safeno-popliteal. Komplikasi
berupa terjepitnya vena dan arteri femoral juga tidak dapat untuk dihindari. Hematome dan
infeksi pada luka relatif sering terjadi ( sampai dengan 10 %), dan terjadi gangguan dalam
aktivitas dan bekerja sehari-hari. Thromboembolism berpotensi terjadi pada pembedahan varises
vena, tetapi belum ada bukti yang menujukkan risiko ini meningkat bila dilakukan pembedahan.
Sebagian besar ahli bedah vaskuler melakukan profilaksisi agar tidak terjadi komplikasi
thomboemboli ini (Brown CW,2009).

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat, R., De Jong Wim. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2005.
2. Tim FK-UI. 2000.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III jilid 2. Jakarta.
MediaAesculapius.
3. Universitas Grace, Pierge A., 2006. At A Glance Ilmu Bedah. Jakarta: Erlangga.
4. Yuwono, Hendro S., 2010.Ilmu Bedah Vaskular. Bandung : Refika Aditama.

5. Brown CW. Complications of dermatologic laser surgery.7 Oktober 2009. Tersedia pada
URL :http://emedicine.medscape.com/article/1120837-overview#showall [diakses 9
Desember
6. Weiss R. Ambulatory phlebectomy for treatment of varicose veins. 16 November 2009.
Tersedia pada URL:http://emedicine.medscape.com/article/1126342-overview#showall
[diakses 8Desember 2011]
7. Anonim.Tata Laksana Penanganan Varises Tungkai. Tersedia pada:
URL:http://www.jurnalmedika.com/component/content/article/269-tata-laksanapenanganan-varises-tungkai [diakses 13 Ok
8. Liu R, Kwok YL.The effects of graduated compression stockings on cutaneous surface
pressure along the path of main superficial veins of lower limbs. 18 Juli 2006;18(6):150157
9. Anonim. Varicose veins of the lower extremities. 1 Juli 2010.Tersedia pada:URL:
http://www.fchp.org/~/media/Files/FCHP/Imported/VaricoseVeinTreatment.pdf.ashx
[diakses