Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu kebutuhan pokok dari masyarakat adalah tempat tinggal atau tempat
untuk berlindung dari lingkungan luar. Pada zaman sekarang, masyarakat akan memilih
area-area atau kawasan tempat tinggal yang memiliki fasilitas-fasilitas yang menunjang
kebutuhan hidup mereka. Kota adalah sebuah kawasan yang luas yang memiliki fasilitasfasilitas penunjang untuk bertempat tinggal.
Kota adalah kawasan pemukiman yang secara fisik didominasi oleh kumpulan
rumah pada tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan
warganya secara mandiri. Menurut Hamid Shirvani (1985), terdapat delapan elemen
perancangan kota antara lain tata guna lahan, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi dan
parkir, ruang terbuka, pedestrian, sistem penanda, pendukung kegiatan serta konservasi
dan preservasi.
Fokus pembahasan pada makalah ini adalah konservasi dan preservasi.
Konservasi dan preservasi adalah upaya melestarikan, memelihara atau melindungi
bagian-bagian dari kawasan kota yang memiliki ciri khas dan sejarah. Cakupan dari
konservasi dan preservasi dapat berupa lahan, gedung, lingkungan tempat tinggal, urban
place dan berbagai area yang memiliki ciri khas dan sejarah dari kawasan tersebut.
Yang menjadi kajian mengenai konservasi dan preservasi kawasan perkotaan
adalah Ubud, Gianyar. Ubud merupakan kawasan pariwisata yang diminati pada turis
lokal maupun mancanegara. Yang menjadi daya tarik dari Ubud adalah lingkungannya
dan seni budaya yang terkenal. Seni dan budaya yang tergambar dari bangunan yang ada
menjadi salah satu bagian perkotaan yang harus terus dilestarikan sehingga perlu adanya
konservasi dan preservasi dalam kawasan ini.
Didalam makalah ini akan dijabarkan mengenai apa saja yang menjadi bagian
dari konservasi dan preservasi yang ada di kawasan pariwisata Ubud dan bagaiamana
pengaplikasiannya. Selain itu juga dibahas mengenai potensi dan masalah dari
konservasi dan preservasi di kawasan pariwisata Ubud.
1.2 Identifikasi Masalah
1.2.1 Bagaimana keterkaitan konservasi dan preservasi sebagai salah satu elemen
1.2.2

perancangan kota?
Bagaimana kondisi fisikdan non-fisik kawasan pariwisata Ubud-Gianyar secara

1.2.3

makro?
Bagaimanakah konservasi dan preservasi yang ada di Kawasan Pariwisata Ubud ?
1

1.2.4

Bagaimana potensi dan masalah konservasi dan preservasi yang terjadi di kawasan
pariwisata Ubud?

1.3 Tujuan dan Sasaran


1.3.1 Untuk mengetahui mengenai konservasi dan preservasi sebagai salah satu elemen
1.3.2
1.3.3
1.3.4

dari perancangan kota.


Untuk mengetahui kondisi fisik dan non-fisik kawasan pariwisata Ubud.
Untuk mengetahui konservasi dan preservasi yang terjadi di Ubud.
Untuk mengetahui potensi dan masalah konservasi dan preservasi yang terjadi
kawasan pariwisata Ubud.

1.4 Lingkup dan Batasan


1.4.1 Batasan Lokasi
Batasan lokasi yang ditinjau adalah seputaran Kawasan Pariwisata Ubud
1.4.2

Gianyar.
LingkupPembahasan Materi
Lingkup pembahasan materi adalah review mengenai konservasi dan preservasi
di kawasan pariwisata Ubud.

1.5 Metode
1.5.1 Metode Pengumpulan Data
Data yang dicari dapat dibedakan berdasarkan :
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang dapat dikumpulkan secara langsung di
lapangan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Observasi
Observasi dilakukan dengan mengamati langsung keadaan dan dilapangan
dan melakukan pencatatan data yang didapat sesuai dengan keadaan yang

sebenarnya di lapangan.
Interview
Interview atau wawancara adalah metode untuk mendapatkan data dengan
cara melakukan tanya jawab dengan pihak terkait mengenai proses

pelaksanaan dan pengawasan pada proyek.


b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang didapat secara tidak langsung, dapat
melalui kajian pustaka yang didapat melalui literatur terkait dengan teori-teori
1.5.2

preservasi dan konservasi atau dokumen penting.


Metode Analisis Data
Metode analisis data yang dapat digunakan antara lain :
a. Deskriptif
Metode yang dilakukan dengan cara memaparkan hal-hal yang terkait dengan
pembahasan secara sistematis.
2

b. Kausa Komperatif
Metode yang dilakukan dengan cara mencari sebab akibat terhadap
permasalahan, dan membandingkan dengan literatur atau teori sebagai acuan
pembahasan.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang pembuatan makalah, identifikasi masalah yang akan
dibahas, tujuan dan sasaran dari pembuatan makalah, lingkup dan batasan, metode
penulisan serta sistematika penulisan pada makalah ini.
BAB II TINJAUAN TEORI : KONSERVASI DAN PRESERVASI DALAM
PERANCANGAN KOTA
Bab ini bersi mengenai teori dasar dari konservasi dan preservasi sebagai bagian
dari sebuah perancangan kota. Tujuan dari bab ini adalah sebagai pedoman dalam
membahas mengenai konservasi dan presevasi pada kawasan pariwisata Ubud.
BAB III TINJAUAN KAWASAN PARIWISATA UBUD
Bab ini berisi hasil tinjauan ke lapangan mengenai kawasan parisiwata Ubud
secara fisik dan non fisik serta kondisi kawasan akan konservasi dan preservasi yang ada
di kawasan pariwisata Ubud.
BAB IV TINJAUAN KONSERVASI DAN PRESERVASI KAWASAN PARIWISATA
UBUD
Bab ini berisi penganalisaan hasil dari tinjauan ke lapangan yaitu kawasan
pariwisata Ubud mengenai konservasi dan preservasi yang ada. Termasuk juga
didalamnya membahas mengenai potensi dan masalah-masalah konservasi dan preservasi
yang terjadi di kawasan pariwisata Ubud.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari hasil tinjauan mengenai konservasi dan preservasi di
kawasan pariwisata Ubud. Serta saran guna meningkatan upaya konservasi dan preservasi
bagi kawasan pariwisata Ubud.

BAB II
TINJAUAN TEORI
KONSERVASI DAN PRESERVASI DALAM PERANCANGAN KOTA

2.1 Pengertian Kota


Terdapat berbagai macam pengertian kota berdasarkan sudut pandang seseorang dan
bidang ilmunya. Misalnya dari sudut pandang seorang insinyur dan seorang arsitek. Seorang
insinyur menggambarkan pengertian kota dari sudut fokus terhadap sistem prasaran dan
pembangunan sebuah kota serta struktur anatomi kota dan perencananya. Sedangnkan
seorang arsitek mengartikan kota dari sudut fokus mengenai aspek-aspek fisik kota dengan
memperhatikan hubungan antara ruang dan massa perkotaan serta bentuk dan polanya
sehingga tercapai sebuah kesatuan bentuk kota.
Salah satu definisi klasik mengenai kota adalah suatu pemukiman yang relatif besar, padat
dan permanen, terdiri dari kelompok individu-individu yang heterogen dari segi sosial. Dari

definisi tersebut muncul 10 kriteria yang digunakan untuk merumuskan apakah sebenarnya
pengertian dari kota, yaitu
1.
2.
3.
4.

Ukuran dan jumlah penduduknya.


Bersifat permanen.
Kepadatan minimum terhadap massa dan tempat.
Struktur dan tata ruang perkotaan, seperti jalur jalan dan ruang-ruang perkotaan yang

nyata.
5. Tempar masyarakat tinggal dna bekerja
6. Fugnsi perkotaan minimum meliputi sebuah pasar, pusat pemerintaha, pusat militer,
pusat keagamaan, atau sebuah pusat aktivitas intelektual bersama.
7. Heterogenitas dalam masyarakat.
8. Pusat ekonomi perkotaan.
9. Pusat pelayanan bagi daerah pada lingkungan setempat.
10. Pusat penyebaran.
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi,
kebudayaan dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang
membentuk stuktur kota tersebut. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan
perkotaan setidaknya mengandung 5 unsur yang meliputi :
1. Unsur Wisma
Unsur wisma merupakan bagian dari ruang kota yang digunakan untuk berlindung terhadap
alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga.
2. Unsur Karya
Unsur karya merupakan syarat utama yang akan mempengaruhi perkembangan kota. Unsur
karya merupakan daerah perkantoran. Unsur ini akan memberikan jaminan bagi kehidupan
bermasyarakat karena menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
3. Unsur Marga
Unsur marga merupakan bagian dari perkotaan yang akan menciptakan hubungan antar
tempat dalam kota, antar kota dengan kota lain, maupun daerah lain. Jadi dapat disimpulkan
unsur marga adalah jalan raya.
4. Unsur Suka
Unsur suka atau unsur rekreasi adalah bagian dari ruang perkotaan yang akan memenuhi
kebutuhan masyarakat akan fasilitas hiburan.
5. Unsur Penyempurna
Unsur penyempurna adalah bagian-bagian dari ruang kota yang belum tercakup dari unsurunsur lain namun sangat diperlukan dalam lingkungan perkotaan. Fasilitas tersebut antara
lain fasilitas pendidikan, keagamaan, utilitas perkotaan, perbelanjaan dan lainnya.
2.2 Perancangan Kota

Setiap perancangan sebuah kota memerlukan panduan rancangan kota. Tujuannya


adalah menghasilkan kota yang memiliki kesatuan sistem organisasi baik yang bersifat sosial,
visual maupun fisik. Dengan adanya paduan perancangan kota juga menghubungkan suatu
kelayakan kota dengan produk-produk rancangan fisik lainnya.
Isu peracangan kota berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan, kualitas
fungsional, kualitas visual dan kualitas spirituil. Kualitas lingkungan berhubungan dengan
kemampuan kawasan kota untuk mengembangkan kotanya sesuai dengan harapan dan
berupaya untuk tetap menjaga dan mengembangkan kualitas yang telah ada. Kualitas
fungsional berkaitan dengan efisiensi pemanfaatan ruang perkotaan. Kualitas visul berkaitan
dengan masalah estetika kawasan kota terutama elemen-elemen ruang arsitektur kota. Dan
kualitas spirituil berkaitan dengan ikatan emosional masyarakan dengan karakter dari tempat
tersebut.
Menurut Hamid Shirvani, terdapat 8 elemen perancangan kota yang membentuk sebuah
kota yang mempunyai karakteristik yang jelas, antara lain :
1. Tata Guna Lahan (Land Use)
Tata guna lahan adalah pengaturan pengunaan lahan berdasarkan fungsi-fungsi dalam
satu wilayah. Dengan adanya tata guna lahan, tidak terjadi perubahan pola lahan
akibat pertambahan penduduk dan perkembangan kebutuhan lahan akan kegiatan lain
dalam kota.
2. Tata Bangunan
Tata bangunan dibentuk oleh suatu batas khayal ambang volume yang tercipta dari
penggabungan ketinggian maksimum bangunan serta batasan luas bangunan. Pada
perancangan suatu kota, bentuk dan hubungan antar-massa seperti ketinggian
bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk bangunan, fasad bangunan dan sebagainya
harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur, mempunyai garis
langit horizon (skyline) yang dinamis serta menghindari adanya ruang yang tak
terpakai.
3. Sirkulasi dan Parkir
Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk
dan mengontrol pola kegiatan kota. Sirkulasi didalam kota merupakan salah satu alat
yang paling kuat untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan karena dapat
membentuk, mengarahkan dan mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota.
Parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada kegiatan
komersial di daerah perkotaan dan mempunyai pengaruh visual pada beberapa daerah.
6

Penyedian ruang parkir yang paling sedikit memberi efek visual merupakan suatu
usaha yang sukses dalam sebuah perancangan kota.
4. Ruang Terbuka
Ruang terbuka dalam suatu kota biasanya meliputi lpangan, jalan, sempadan sungai,
taman dan sebagainya. Ruang terbuka akan selalu berhubungan dengan elemen
landscape.
5. Jalur Pejalan Kaki
Elemen ini berinteraksi dengan elemen-elemen dasar lain dan harus saling berkaitan
serta dapat mengikuti adanya perubahan atau pembangunan fisik kota dimasa yang
akan datang.
6. Pendukung Aktivitas
Pendukung aktivitas adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan yang mendukung
ruang publik suatu kawasan kota. Pendukung aktivitas tidak hanya berupa sarana
pendukung jalur pejalan kaki tetapi juga pertimbangan guna dan fungsi elemen kota
yang dapat membangkitkan aktivitas seperti pusat perbelanjaan, taman dan lain
sebagainya.
7. Sistem Petanda
Sistem Petanda yang dimaksud adalah petunjuk arah jalan, rambu lalu lintas, meda
iklan dan berbagai bentuk penandaan lain. Keberadaan sistem penanda akan
mempengaruhi visualisasi kota jika tidak ditata dengan baik.
8. Konservasi dan Preservasi
Konservasi dan preservasi adalah pekerjaan merawat dan memperbaiki bangunan
yang dilakukan secara rutin untuk menjaga warisan sejarah dan ciri khas yang ada
pada bangunan yang merupakan salah satu elemen penyusun awal sebuah kota.

2.3 Konservasi dan Preservasi


Konservasi adalah tindakan untuk memelihara sebanyak mungkin secara utuh dari
bangunan bersejarah yang ada, salah satunya dengan cara perbaikan tradisional, dengan
sambungan baja, dan atau dengan bahan-bahan sintetis. Pendapat lain mengatakan,
konservasi adalah upaya untuk melestarikan bangunan, mengefisienkan penggunaan dan
mengatur arah perkembangan di masa mendatang. Selain itu pengertian konservasi dapat
meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dan
dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi dan revitalisasi.
Preservasi adalah upaya untuk melindungi bangunan, monumen dan lingkungan dari
kerusakan serta mencegah proses pengrusakan dan kerusakan. Dalam pengertian lain
presevasi adalah pemeliharan suatu tempat sesuai dengan aslinya serta mencegah kerusakan.
7

Konservasi dan preservasi sangat dibutuhkan karena kota-kota di dunia telah banyak
mengalami perkembangan dan perubahan yang sangat pesat, dalam perubahan tersebut,
bangunan, kawasan maupun objek budaya yang perlu dilestarikan menjadi rawan untuk
hilang dan hancur, dan dengan sendirinya akan digantikan dengan bangunan, kawasan
ataupun objek lainnya yang lebih bersifat ekonomis-komersial. Untuk itu, konservasi dan
preservasi bertujuan pada mempertahankan kebudayaan yang terdapat pada kota sehingga
sejarah dari kota tersebut tidak hilang oleh perkembangan jaman.
Pada dasarnya kegiatan konservasi dan preservasi terhadap suatu bangunan bersejarah
dalam lingkungan perkotaan sudah diatur oleh Badan Warisan Dunia dibawah UNESCO.
Prinsip-prinsip kegiatan konservasi dan preservasi menurut Piagam Burra (2003) antara lain:
1. Tujuan akhir dari konservasi dan preservasi adalah mempertahankan nilai estetika,
sejarah, ilmu pengetahuan dan sosial sebuah tempat dan mencakup faktor
pengamanan, pemeliharaan akan bangunan dimasa yang akan datang.
2. Konservasi dan preservasi didasarkan pada rasa penghargaan terhadap kondisi
awal material fisik dan sebaiknya dengan intervensi sesedikit mungkin.
Dibutuhkan penelusuran lebih lanjut mengenai perbaikan dan perlakuan yang
telah ada sehingga tetap mempertahankan sejarah.
3. Diperlukan disiplin ilmu yang dapat memberikan kontribusi terhadap studi dan
pelestariannya.
4. Harus mempertimbangkan seluruh aspek tanpa mengutamakan salah satunya.
5. Konservasi dan preservasi harus dilakukan melalui penyelidikan lanjut yang akan
menjadi prasyarat penting untuk menetapkan kebijakan selanjutnya.
6. Kebijakan konservasi akan menentukan kegunaan apa yang paling tepat.
7. Konservasi membutuhkan pemeliharaan yang layak terhadap tampak fisik dari
bangunan. Pemeliharaan yang boleh dilakukan adalah yang tidak merusak atau
mengurangi bagian dari bangunan tersebut. Penyisipan dan penambahan
diperbolehkan namun sesuai dengan ketentuan yang telah ada.
8. Sebuah bangunan atau sebuah karya sebaiknya tetap ada pada lokasi
bersejarahnya. Pemindahan seluruh maupun sebagian tidak dapat dilakukan
kecuali hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk tetap melestarikan
bangunan atau karya tersebut.
9. Pemindahan isi yang membentuk bagian dari signifikasi cultural dari sebuah
tempat pada dasarkan tidak dapat diterima.
Manfaat dari konsevasi dan preservasi bagi kawasan atau kota tersebut dan
masyarakat adalah
8

Preservasi lingkungan/kawasan lama akan memperkaya pengalaman visual, menyalurkan


hasrat kesinambungan, memberikan tautan bermakna dengan masa lampau, dan
memberikan pilihan untuk tetap tinggal dan bekerja di dalam bangunan maupun

lingkungan/kawasan lama.
Ditengah perubahan dan pertumbuhan yang pesat sekarang ini, lingkungan/kawasan lama

akan menawarkan suasana permanen yang menyegarkan.


Untuk mempertahankan bagian kota akan membantu hadirnya sense of place, identitas

diri dan suasana kontras.


Kota dan lingkungan/kawasan lama adalah satu aset terbesar dalam industri wisata,

sehingga perlu dipreservasi.


Salah satu upaya generasi masa kini untuk dapat melindungi dan menyampaikan warisan

berharga kepada generasi mendatang.


Membuka kemungkinan bagi setiap manusia untuk memperoleh kenyamanan psikologis

dan merasakan bukti fisik suatu tempat di dalam tradisinya.


Membantu terpeliharanya warisan arsitektur, yang dapat menjadi catatan sejarah masa
lampau.
Konservasi dan preservasi dalam bidang arsitektur dan lingkungan binaan, mula-mula

berawal dari konsep preservasi yang bersifat statis, kemudian dari konsep yang statis tersebut
berkembang menjadi konsep konservasi yang bersifat dinamis dengan cakupan yang lebih
luas lagi. Sasarannya tidak terbatas pada objek arkeologis saja, melainkan meliputi juga karya
arsitektur lingkungan dan kawasan, dan bahkan kota bersejarah dan pada akhirnya,
konservasi menjadi payung dari segenap kegiatan pelestarian lingkungan binaan yang
mencakup preservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, adaptasi, dan revitalisasi. Tujuan
dari itu semua adalah untuk memelihara bangunan atau lingkungan sedemikian rupa,
sehingga makna kulturalnya yang berupa: nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau nilai sosial
untuk generasi lampau, masa kini dan masa datang akan dapa terpelihara.
Konservasi merupakan upaya memelihara suatu tempat berupa lahan, kawasan,
gedung maupun kelompok gedung termasuk lingkungannya. Disamping itu, tempat yang
dikonservasi akan menampilkan makna dari sisi sejarah, budaya, tradisi, keindahan, sosial,
ekonomi, fungsional, iklim maupun fisik. Dalam perencanaan suatu lingkungan kota, unit
dari konservasi dapat berupa sub bagian wilayah kota bahkan keseluruhan kota sebagai
sistem kehidupan yang memang memiliki ciri atau nilai khas. Dengan demikian, peranan
konservasi bagi

suatu

kota bukan

semata

bersifat fisik,

namun

mencakup

upaya

mencegah perubahan sosial.


9

Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam proses penentuan konservasi dan
preservasi antara lain :
a. Kriteria Arsitektural, suatu kota atau kawasan yang akan dipreservasikan atau
dikonservasikan memiliki kriteria kualitas arsitektur yang tinggi, di samping memiliki
proses pembentukan waktu yang lama atau keteraturan dankeanggunan (elegance).
b. Kriteria

Historis, kawasan

yang

akan

dikonservasikan

memiliki nilai

historis dan kelangkaan yang memberikan inspirasi dan referensi bagi kehadiran
bangunan baru, meningkatkan vitalitas bahkan menghidupkan kembali keberadaannya
yang memudar.
c. Kriteria Simbolis, kawasan yang memiliki makna simbolis paling efektif bagi
pembentukan citra suatu kota.
Kategori yang menjadi pertimbangan untuk dilakukannya konservasi dan preservasi
adalah
1. Nilai (value) dari objek, mencakup nilai estetik yang didasarkan pada kualitas bentuk
maupun detailnya. Suatu objek yang unik dan karya yang mewakili gaya zaman
tertentu, dapat digunakan sebagai contoh, suatu objek konservasi;
2. Fungsi objek dalam lingkungan kota, berkaitan dengan kualitas lingkungan secara
menyeluruh. Objek merupakan bagian dari kawasan bersejarah dan sangat berharga
bagi kota. Objek juga merupakan landmark yang memperkuat karakter kota yang
memiliki keterkaitan emosional dengan warga setempat; dan
3. Fungsi lingkungan dan budaya, penetapan kriteria konservasi tidak terlepas dari
keunikan pola hidup suatu lingkungan sosial tertentu yang memiliki tradisi kuat,
karena suatu objek akan berkaitan erat dengan fase perkembangan wujud budaya
tersebut.

BAB III
10

TINJAUAN KAWASAN PARIWISATA UBUD


3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi
Kawasan pariwisata Ubud adalah salah satu kawasan wisata yang ada di Bali
terletak di daerah pedalaman, sedangkan kawasan wisata lainnya kebanyakan berada di
daerah pantai, seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua, Candi Dasa dan lain-lain. Kawasan
pariwisata Ubud merupakan daerah seni yang sangat sering disebut sebagai desa bertaraf
internasional. Tempat wisata di Ubud ini sangat terkenal, baik di Indonesia maupun di
mancanegara. Ubud sudah dikenal ole wisatawan semenjak tahun 1930-an. Umumnya
Ubud terkenal di kalangan wisatawan karena Ubud dikelilingi persawahan dan juga hutan
yang terletak diantara jurang-jurang yang memiliki pemandangan yang indah. Selain itu,
Ubud dikenal karena seni dan budaya yang berkembang sangat pesat dan maju. Denyut
nadi kehidupan masyarakat Ubud tidak bisa dilepaskan dari kesenian. Disini terdapat
banyak galeri seni, serta area pertunjukan music dan tari yang digela setiap malam secara
bergantian di segala penjuru desa.
Wisatawan senantiasa mendambakan daya tarik wisata berupa alam pedesaan khas
Ubud, berupa tata ruang dan arsitektur pemukiman tradisional, alam lingkungan yang
masih asri, tempat suci/pura, pertunjukkan seni dan budaya, museum, galeri serta terlibat
langsung

dalam

kehidupan

sosial

budaya

masyarakat

yang

terkenal

dengan

keramahtamahannya. Panorama alam pedesaan seperti tebing, jurang dan sungai dengan
air jernih, persawahan bertingkat, semak belukar, dan suasana permukiman merupakan
panorama khas Ubud dapat memberikan ketenangan dan inspirasi bagi wisatawan. Ubud
memiliki banyak objek yang menarik bagi wisatawan. Beberapa diantara objek tersebut
adalah Puri Saren, yang terletak di Puri Ubud, pasar seni tradisional, Monkey Forest
(Wenara Wana) dan museum-museum.
Dari penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa Ubud memiliki pesona alam, seni
dan budaya yang sangat melimpah sehingga potensi tersebut menjadi sesuatu yang dicari
oleh wisatawan asing maupun lokal untuk dijadikan sarana rekreasi maupun sarana
edukasi. Dengan melimpahnya potensi-potensi yang dimiliki Ubud tersebut, maka perlu
diadakan pelestarian (konservasi) maupun kegiatan yang terencana (preservasi) supaya
potensi-potensi yang dijelaskan diatas tersebut bisa terus dipertahankan keberadaanya
selama mungkin, sehingga Ubud tetap memiliki daya tarik yang cukup tinggi

bagi

wisatawan lokal maupun mancanegara.


3.2 Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar
11

1. Data Ubud

Gambar 3.1 Peta Lokasi Ubud


Sumber : ubudbalitourdriver.wordpress.com
Kecamatan Ubud merupakan kecamatan yang terletak di kabupaten Gianyar.
Ubud memiliki wilayah yang tidak begitu luas, yang dulunya merupakan sebuah kerajaan
kecil yang dikelilingi persawahan yang menghijau, air sungai yang jernih dan pesona
alam yang indah.
Menurut pasal 10 ayat 3 (a(2)), Kawasan perkotaan disekitarnya terdiri atas
kawasan Perkotaan Mangupura dan Kawasan Perkotaan Jimbaran di Kabupaten
Badung, Kawasan Perkotaan Gianyar, Kawasan Perkotaan Ubud, dan Kawasan
Perkotaan Sukawati di Kabupaten Gianyar, dan Kawasan Perkotaan Tabanan di
Kabupaten Gianyar. Jadi Ubud masuk dalam kawasan perkotaan.
Kawasan peruntukan Ubud, antara lain :

Kawasan peruntukan pertanian


Kawasan peruntukan perkebunan
Kawasan peruntukan pertambangan
Kawasan peruntukan permukiman
Kawasan peruntukan industry mikro, kecil dan menengah : khusus kerajinan

rakyat lainnya.
Kawasan peruntukan pariwisata

12

Peruntukan pariwisata Ubud seluas kurang lebuh 7.712 Hektar yang tediri
dari Ubud, Kedewatan, Peliatan, Mas, Petulu, Lodtunduh, Sayan, Singakerta
di Kecamatan Ubud.
Ubud terdiri atas 13 banjar dengan luas 732 hektare dan berpenduduk sekitar
sebelas ribu jiwa. Kelurahan Ubud sampai saat ini secara Administrasi/Kedinasan terbagi
ke dalam 13 (tiga belas) lingkungan sebagai berikut :
1. Lingkungan Ubud Kelod
2. Lingkungan Ubud Tengah
3. Lingkungan Ubud Kaja
4. Lingkungan Sambahan
5. Lingkungan Bentuyung
6. Lingkungan Junjungan
7. Lingkungan Tengallantang
8. Lingkungan Taman Kaja
9. Lingkungan Taman Kelod
10. Lingkungan Padang Tegal Kaja
11. Lingkungan Padang Tegal Tengah
12. Lingkungan Padang Tegal Kelod
13. Lingkungan Padang Tegal Merta Sari
Jika ditinjau dari aspek keagamaan dan adat di Kelurahan Ubud terdiri dari 6
(enam) Desa Pakraman yang meliputi :
1. Desa Pakraman Ubud.
2. Desa Pakraman Bentuyung.
3. Desa Pakraman Junjungan
4. Desa Pakraman Tegallantang
5. Desa Pakraman Taman Kaja
6. Desa Pakraman Padangtegal
Kelurahan Ubud merupakan satu satunya kelurahan yang ada di antara 8
(delapan) Desa / kelurahan di Kecamatan Ubud, dengan batas batas wilayah sebagai
berikut :
Disebelah Utara

: Kecamatan Tegalalang

Disebelah Timur

: Desa Peliatan

Disebelah Selatan

: Desa Mas

Disebelah Barat

: Desa Sayan

13

Bentuk permukaan tanah (bentang lahan) diwilyah Kelurahan Ubud adalah datar,
dengan luas wilayah 779,92 Ha atau 7,8 Km2. Dari luas wilayah tersebut dan ditunjang
kondisi tofografi seperti di atas. Pemanfaatan lahan di wilayah Kelurahan Ubud telah
mengalami

perkembangan

seiring

berkembangnya

kepariwisataan

Ubud

yang

memerlukan fasilitas pariwisata seperti hotel, restoran, tempat hiburan serta daya tarik
dan tempat aktivitas pariwisata yang dibutuhkan oleh wisatawan yang mengunjungi
Kelurahan Ubud. Adapaun peruntukan lahan di Kelurahan Ubud adalah sebagai berikut:
Areal Persawahan : 360 Ha
Areal Pekaranagan : 213,27 Ha
Tanah Tegalan

: 140,34 Ha

Fasilitas Paiwisata dan Fasilitas Umum


Jumlah

: 66,31 Ha

: 779,92 Ha

Secara geografis Kelurahan Ubud terletak pada 8o 2519 S dan 115o 1442E,
dan berada pada ketinggian 325 m dari permukaan laut. Adapun curah hujan rata rata
per tahun di Keluraha Ubud, berdasarkan data tahun 2008 yang diperoleh dari Balai
Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Bali, adalah sebesar 2.379
mm , dengan keadaan suhu rata rata antara 24,1oC 25,7oC.
Selanjutnya, Kelurahan Ubud juga memiliki daerah kawasan hutan, yang
demikian terkenal ke manca Negara, yaitu

Mongkey Forest, yang sekaligus

sebagaidaerah konservasi terhadap flora dan fauna yang ada di dalamnya terutama kera.
Di samping itu wilayah Kelurahan Ubud juga terdiri dari daerah persawahan yang masih
asli, yang merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang berkunjung ke
Ubud.
Sumber daya manusia atau warga masyarakat Ubud merupakan salah satu
sumber daya atau modal untuk menggerakan pembangunan di Kelurahan Ubud. Namun
jika kuantitas dan kualitas sumber daya manusia ini tidak di kelola dan diarahkan dengan
baik akan menjadi beban sekaligus penghambat pembangunan. Pengendalian kuantitas
dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kelurahan ubud telah dilaksanakan
secara mandiri maupun melalui pembinaan untuk menciptakan kondisi masyarakat yang
mandiri dan sejahtera.
Kebanyakan masyarakat Ubud berprofesi sebagai seniman, seperti seniman
patung, seniman tari, seniman lukisan dan seniman kerajinan tangan. Sehingga banyak
ditemui retail atau toko-toko yang menawarkan kerajinan tersebut.

14

Di sektor pariwisata Ubud memiliki banyak objek yang harus dijaga


kelestariannya, seperti Puri Saren, yang terletak di Puri Ubud, pasar seni tradisional,
Monkey Forest (Wenara Wana) dan museum-museum yang menyimpan karya-karya
seniman terkenal.

Gambar 3.1 Puri Saren Ubud


Sumber : balisuntours.com
Puri Saren Ubud merupakan istana kerajaan Ubud yang sangat indah dengan
mempertahankan rumah-rumah tradisional yang menjadi lokasi kediaman Raja Ubud.
Eksistensi puri ini menunjukkan jiwa serta identitas Desa Ubud sendiri, dan Bali pada
umumnya. Puri ini dibangun oleh Ida Tjokorda Putu Kandel sekitar tahun 1800-1823 M.
Puri ini difungsikan sebagai repositori budaya tradisional Bali sebagai perlindungan
utama kesenian, tarian, maupun sastra Bali.

Gambar 3.2 Pasar Seni Ubud


Sumber : plesiryuk.com
Pasar seni Ubud merupakan sebua pasar tradisional yang terletak di lokasi
yang sangat strategis yaitu Jl. Raya Ubud No. 35, di pusat kota Ubud. Tepat berada di
depan Puri Agung Ubud, sebuah bangunan bekas pemerintahan kerajaan Ubud pada
15

masa lampau.Walaupun dikenal sebagai pasar seni, namun sejatinya pasar Ubud
merupakan pasar tradisional biasa yang menjual barang dan kebutuhan masyarakat
setempat.

Gambar 3.3 Wenara Wana


Sumber: terraceatkuta.com
Nama asli objek monkey forest sebenarnya yaitu Mandala Wisata Wenara
Wana, merupakan kawasan hutan lindung dan di dalam hutan ini terdapat pura sakral
bernama Pura Dalem Agung Padangtegal. Monkey forest ini terletak dijalan Monkey
Forest Ubud, gianyar.

Gambar 3.4 Museum Rudana


Sumber: www.tempat-wisatabali.com
Museum Rudana merupakan sebuah museum yang terletak di Jl. Cok rai Pudak
No. 44, Peliatan. Museum ini menampung karya seni rupa berupa patung, lukisan dari
sejumlah pelukis ternama.
Disamping sektor pariwisata dan kesenian, Kelurahan Ubud juga memiliki
sektor lain yang cukup menunjang dalam pembangunan di wilayahnya, yaitu Pertanian.
Bila ditinjau dari aspek organisasi adat di bidang pertanian, Kelurahan Ubud memiliki 6
subak yaitu :
1. Subak Landu
16

2.
3.
4.
5.
6.

Subak Angkeran
Subak Bungkulan
Subak Juwuk Manis
Subak Muwa
Subak Padang Tegal
Sektor lain yang menjadi pilihan hidup yang digeluti oleh masyarakat
Kelurahan Ubud adalah sektor perdagangan. Sektor ini didukung oleh karakteristik
Kelurahan Ubud sebagai sebuah daerah tujuan pariwisata yang diunggulkan di
Kabupaten Gianyar. Sebagai Kelurahan yang berada dijantung ibukota Kecamatan
Ubud, keberadaan Pasar sebagai media pertemuan penjual dengan pembeli juga
memberikan andil dari berkembangnya sektor Perdagangan di Kelurahan Ubud.
Meskipun keberadaan Pasar di Ubud, tidak otomats didominasi oleh masyarakat Ubud,
akan tetapi tetap saja keberadaanya memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi
pertumbhan perekonomian masyarakat setempat. Pengelolaan Pasar Ubud itu sendiri
berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui Dinas
Pendapatan dan bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Ginyar. Meskipun
demikian dalam setiap upaya penataan maupun penertiban yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah, selalu melibatkan unsur Pemerinah dan LPM Kelurahan Ubud.
2. Sejarah Singkat Ubud
Dalam perjalanan sejarah Guru Suci Mpu Markandya dari Gunung Raung
Jawa ke Bali, dalam proses penyebaran Agama Hindu beliau tiba disebuah lereng atau
bukit kecil yang memanjang kearah utara dan selatan. Bukit ini diapit oleh dua buah
sungai yang berliku yang mirip seperti dua ekor naga. Sungai yang berada disebalah
barat bernama Sungai Wos Barat, sedangkan yang berada disebelah timur Sungai Wos
Timur. Mpu markendya mendirikan sebuah permukiman yang disebut Sarwa Ada
yang terletak disekitar desa Taro.
Kedua sungai Wos barat dan Wos Timur bertemu menjadi satu disebuah lokasi
yang disebut dengan campuhan. Di Campuhan inilah Mpu Markendya mengadakan
tempat pertapaan dan beliau mulai merambas hutan untuk membuat pemukiman dan
membagikan tanah pertanian bagi pengikutnya. Dengan demikian sempurnalah Yoga
Sang Resi, dengan ditandai dengan mulainya kehidupan masyarakat di Desa ini dengan
dianugrahinya tanah untuk pertanian sebagai sumber kehidupan.
Sebutan Wos untuk kedua sungai yang telah bercampur dan melekat menjadi
nama desa/pemukiman pada jaman itu. Sedangkan nama sungai ini sesuai dengan
17

maknanya. Sesuai dengan isi lontar Markandya Purana,Wos ngaran Usadi, Usad
ngaran Usada, dan Usada ngaran Ubad. Dari kata ubad ini ditranskripsikan menjadi
UBUD.
Selain tersebut di atas, Kelurahan Ubud juga memiliki sejarah kepemimpnan
Kepala Desa. Keperbekelan Desa di Ubud dimulai tahun 1922 yang dipimpin oleh
seorang perbekel pada waktu itu bernama Pan Grya. Wilayah Ubud waktu itu meliputi
Sambahan, Junjungan, Bentuyung, Ubud, Kutuh, dan Nagi. Pan Grya kemudin
digantikan oleh A.A Gde Kerempeng yang menambah lagi wilayahnya ke Taman Kaja,
Padangtegal dan Tegallantang.
Sejak tanggal 31 Desember 1980 Keperbekelan Ubud berubah status menjadi
Kelurahan, dan perbekelnya Tjokorda Gde Rai Darmawan diangkat menjadi Kepala
Kelurahan Ubud.(lahirnya Kelurahan Ubud tanggal 1 Januari tahun 1981).
Sejak jaman perang kemerdekaan putra-putri Ubud telah banyak yang ikut
memberi andil demi kemajuan Bangsa dan Negara, seperti I wayan Suweta, Nyoman
Sunia, Ida Tjokorda Putra Sudarsana, Nombrong dan Made Kajeng. Demikian juga di
jaman pembangunan ini salah seorang putra Ubud, yaitu: DR. Ir. Tjokorda Raka
Sukawati juga telah memberikan andil yng sangat berharga bagi kemajuan bangsa dan
Negara kita, khususnya alam bidang pembangunan fisik, berupa penciptaan sebuah
teknik pembangunan yang dinamakan Sosrobahu dalam pembuatan jalan layang di
Jakarta. Selanjutnya Ubud terus berkembang mengikuti perkembangan Pariwisata yang
semakin hari semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan Domestik
maupun wisatawan Mancanegara termasuk seniman-seniman lukis Asing berdatangan
ke Kelurahan Ubud bahkan ada yang menetap di sana.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Literatur :

18

Zahnd, Markus. 2006. Seri Strategi Arsitektur 2 : Perancangan Kota secara Terpadu.
Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Burra Charter. 2003. Pedoman dan Prinsip-Prinsip Preservasi dan Konservasi Bangunan
dan Lingkungan Bersejarah Burra Charter, World Harritage Council UNESCO.
Paris.
Cohen, Nahoum. 2001. Urban Planning Conservation and Preservation. USA : The
McGraw-Hill Companies, Inc.

Hasil Mata Kuliah


Slide dokumentasi pribadi oleh Bapak Ir. A.A. Djaja Bharuna, M.T.
17 Maret 2016; 24 Maret 2016; 31 Maret 2016

Sumber Internet :
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/6577/A55.pdf?sequence=1
(Diakses pada tanggal 10 April 2014; 00.12 WITA)

19