Anda di halaman 1dari 13

KEWAJIBAN PERPAJAKAN BUMD/PERUSAHAAN DAERAH

-BANK PERKREDITAN RAKYAT-

Pendahuluan
Bank Pekreditan Rakyat merupakan salah satu jenis bank yang dikenal melayani
golongan usaha mikro, kecil dan menengah. Lokasi BPR biasanya dekat dengan
tempat masyarakat yang membutuhkan sehingga BPR banyak dijumpai di setiap
daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. BPR merupakan lembaga
perbankan resmi yang diatur berdasarkan pada Undang-Undang No. 7 Tahun
1992 tentang Perbankan dan sebagaimana telah disempurnakan dengan
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. Pengertian BPR sesuai dengan UU
tersebut adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
atau berdasarkan pada Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran
Bank Perkreditan Rakyat yang biasa disingkat dengan BPR adalah salah satu
jenis bank yang dikenal melayani golongan pengusaha mikro, kecil dan
menengah dengan lokasi yang pada umumnya dekat dengan tempat masyarakat
yang membutuhkan, (BI). BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima
simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha
BPR. BPR sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan yang dikenal dengan
sebutan Lumbung Desa, bank Desa, Bank Tani dan Bank Dagang Desa atau
Bank Pasar. Fungsi BPR tidak hanya sekedar menyalurkan kredit kepada para
pengusaha mikro, kecil dan menengah, tetapi juga menerima simpanan dari
masyarakat. Dalam penyaluran kredit kepada masyarakat menggunakan prinsip
3T, yaitu Tepat Waktu, Tepat Jumlah, Tepat Sasaran, karena proses kreditnya
yang relatif cepat, persyaratan lebih sederhana, dan sangat mengerti akan
kebutuhan Nasabah. Kewajiban BPR terkait dengan perpajakan antara lain: PPh
Pasal 25, PPN, PPh Ps.21, PPh Ps.23, PPh Ps.26, PPh Ps.15, PPh-Final.
Perbedaan UU Pajak dengan UU Perbankan contohnya tentang tentang
terminologi pembentukan dana cadangan untuk penghapusan piutang dan
kerahasiaan bank juga disampaikan. Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang
P2Humas menyampaikan, untuk PP 46 tahun 2013 telah ada penegasan dari
Kantor Pusat DJP. Sedangkan apabila DJP akan minta data nasabah, pihak DJP
akan bersurat dulu ke Menteri Keuangan untuk minta ijin.
Proses Bisnis
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 3 Tahun 1998 tentang Bentuk Hukum
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) membagi jenis BUMD menjadi 2 (dua)
bentuk yaitu Perusahaan Daerah (PD) dan Perseroan Terbatas (PT).

Jenis layanan yang diberikan BPR meliputi menghimpun dana masyartakat,


memberikan kredit, pembiayaan, dan penempatan dana, dengan rincian sebagai
berikut:
Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk deposito berjangka, tabungan
dan atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu.

Memberikan kredit dalam bentuk Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi,


maupun Kredit Konsumsi.

Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil


sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.

Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),


deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain.
SBI adalah sertifikat yang ditawarkan Bank Indonesia kepada BPR apabila
BPR mengalami over likuiditas.

Ada beberapa jenis usaha seperti yang dilakukan bank umum tetapi tidak boleh
dilakukan BPR. Usaha yang tidak boleh dilakukan BPR adalah :
Menerima simpanan berupa giro.

Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.

Melakukan penyertaan modal dengan prinsip prudent banking dan


concern terhadap layanan kebutuhan masyarakat menengah ke bawah.

Melakukan usaha perasuransian.

Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana yang


dimaksud dalam usaha BPR.

Dalam mengalokasikan kredit, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh
BPR, yaitu :
Dalam memberikan kredit, BPR wajib mempunyai keyakinan atas
kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai
dengan perjanjian.

Dalam memberikan kredit, BPR wajib memenuhi ketentuan Bank Indonesia


mengenai batas maksimum pemberian kredit, pemberian jaminan, atau hal
lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh BPR kepada peminjam atau
sekelompok peminjam yang terkait, termasuk kepada perusahaanperusahaan dalam kelompok yang sama dengan BPR tersebut. Batas
maksimum tersebut adalah tidak melebihi 30% dari modal yang sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.

Dalam memberikan kredit, BPR wajib memenuhi ketentuan Bank Indonesia


mengenai batas maksimum pemberian kredit, pemberian jaminan, atau hal
lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh BPR kepada pemegang saham
(dan keluarga) yang memiliki 10% atau lebih dari modal disetor, anggota
dewan komisaris (dan keluarga), anggota direksi (dan keluarga), pejabat BPR
lainnya, serta perusahaan-perusahaan yang di dalamnya terdapat
kepentingan pihak pemegang saham (dan keluarga) yang memiliki 10% atau
lebih dari modal disetor, anggota dewan komisaris (dan keluarga), anggota
direksi (dan keluarga), pejabat BPR lainnya. Batas maksimum tersebut tidak
melebihi 10% dari modal yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
Bank Indonesia.

Kewajiban Perpajakan
Aturan yang terkait dengan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) adalah sama dengan
aturan pajak untuk bank pada umumnya. Penghasilan yang diperoleh oleh bank
sebagian besar dari selisih antara bunga yang dibayar kepada deposan dan
bunga yang diperoleh dari kreditur dan atas jasa penyaluran kredit ini tidak
dikenakan PPN. penghitungan PPh pasal 25 (angsuran PPh) dihitung secara
triwulan sesuai dengan laporan triwulan bank bersangkutan, sehingga dapat
terjadi PPh pasal 25 yang nilainya bervariasi dalam 1 tahun tersebut. selain itu
terdapat pula kewajiban untuk melakukan pemotongan PPh pasal 23 terkait
dengan penghasilan bunga yg diperoleh oleh para deposan.
Seperti jenis usaha yang lain, ketentuan perpajakan secara umum juga berlaku
untuk usaha perbankan. Namun karena ada karakteristik khusus atas usaha
perbankan maka terdapat aturan pajak yang khusus mengatur hal tersebut.
Aturan pajak tersebut adalah PPh Pasal 21 untuk Gaji, upah , honorarium,
insentif, imbalan lainnya dalam bentuk dan nama apapun, PPh Pasal 22 untuk
Pengadaan (Pembelian) Barang oleh Bank BUMN/D
1. Kewajiban Pemungutan PPh Pasal 21 untuk Gaji, upah , honorarium,
insentif, imbalan lainnya dalam bentuk dan nama apapun
2. Kewajiban Pemungutan PPh Pasal 22
Pemungutan PPh Pasal 22 diatur dalam KMK-254/KMK.03/2001
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan PMK210/PMK.03/2008). Menyebutkan bahwa : Atas pembelian barang yang
dilakukan oleh :
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang
melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja
negara (APBN) dan/atau belanja daerah (APBD)

Bank-bank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya


bersumber dari APBN maupun non-APBN

Wajib dipungut PPh Pasal 22 dari wajib pajak penjual dengan tarif efektif
1,5% x Harga Jual (belum termasuk PPN). PPh Pasal 22 dipungut pada saat
pembayaran.
3. PPh Pasal 23 untuk Bunga, Dividen, Royalti, Sewa, dan Imbalan Jasa
1) Pemotong PPh Pasal 23 menurut Pasal 23 ayat (1) dan ayat (3) adalah :

Badan Pemerintah

Subjek Pajak Badan Dalam Negeri

Penyelenggara Kegiatan

Bentuk Usaha Tetap

Perwakilan Perusahaan Luar Negeri Lainnya

Orang Pribadi Sebagai Wp Dalam Negeri Tertentu Yang Ditunjuk Oleh


Dirjen Pajak

2) Penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri atau BUT yang dikenakan


pemotongan PPh Pasal 23 menurut Pasal 23 ayat (1) adalah sebagai
berikut:

Dividen (selain deviden ke OP / ke PT dgn penyertaan saham diatas


25%)

Bunga (kecuali bank)

Royalti

Hadiah dan Penghargaan sehubungan dengan kegiatan selain yg


telah dipotong PPh Ps. 21. Yang memiliki NPWP dikenakan tarif 15%,
yang tidak memiliki NPWP dikenakan tarif 30%.
Sewa (selain sewa tanah dan bangunan)

Imbalan sehubungan dengan :


jasa teknik
jasa manajemen
jasa konsultan

jasa lain yg ditetapkan dirjen pajak selain jasa yg telah dipotong pph
psl 21
Yang memiliki NPWP dikenakan tarif 2%, yang tidak memiliki
NPWP dikenakan tarif 4%.
3) Jasa lain yang dikenakan PPh Pasal 23 sebesar 2% menurut
PMK-244/PMK.03/2008 adalah sebagai berikut :
1. Jasa penilai (appraisal);
2. Jasa aktuaris;
3. Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
4. Jasa perancang (design);
5. Jasa pengeboran (drilling) di bidang migas, kecuali yang dilakukan
oleh bentuk usaha tetap (BUT);
6. Jasa penunjang di bidang penambangan migas;
7. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan
selain migas;
8. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
9. Jasa penebangan hutan;
10. Jasa pengolahan limbah;
11. Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services);
12. Jasa perantara dan/atau keagenan;
13. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang
dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI;
14. Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh
KSEI;
15. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
16. Jasa mixing film;

17. Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan,


pemeliharaan dan perbaikan;
18. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas,
AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang
ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
19. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik,
telepon, air, gas, AC, TV kabel, alat transportasi/kendaraan dan/atau
bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
20. Jasa maklon;
21. Jasa penyelidikan dan keamanan;
22. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
23. Jasa pengepakan;
24. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media
luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi;
25. Jasa pembasmian hama;
26. Jasa kebersihan atau cleaning service;
27. Jasa katering atau tata boga.
4) Dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 23 menutut Pasal 23 ayat (4)
UU PPh adalah sebagai berikut :
1. Penghasilan yang dibayar/terutang kepada bank dan lembaga
keuangan
2. Sewa yang dibayarkan/terutang sehubungan dengan sewa guna
usaha dengan hak opsi
3. Dividen/bagian laba yg diterima/diperoleh PT sebagai WP dalam
negeri, koperasi, BUMN/BUMD dari penyertaan modal pada badan
usaha yg didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan
syarat :

dividen berasal dari cadangan laba di tahan; dan

bagi PT, BUMN, BUMD saham yang dimiliki minimal 25%.


1. Bagian laba yang diterima/diperoleh anggota dari Perseroan
Komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
Persekutuan, Perkumpulan, Firma Dan Kongsi.
2. SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya
3. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha
atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman
dan/atau pembiayaan.

5) PMK Nomor 251/PMK.03/2008 (Jasa Keuangan selain bank yg


dikecualikan dari pemotongan PPh Ps 23), dasar hukumnya adalah pasal
23 ayat (4) huruf h yang menyebutkan bahwa :

Atas penghasilan berupa bunga atau imbalan lain yang diberikan atas
penyaluran pinjaman dan atau pemberian pembiayaan, termasuk
yang menggunakan pembiayaan berbasis syariah sehubungan
dengan jasa keuangan yang dibayarkan atau terutang kepada badan
usaha:

1. perusahaan pembiayaan yang merupakan badan usaha di luar bank


dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus didirikan untuk
melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga
pembiayaan dan telah memperoleh ijin usaha dari Menteri Keuangan
2. BUMN atau BUMD yang khusus didirikan untuk memberikan sarana
pembiayaan bagi UMKM termasuk PT Permodalan Nasional Madani,
yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan,
tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 23.
4. PPh Pasal 4 ayat (2) untuk PPh yang bersifat final, misal : bunga tabungan/
deposito, hadiah undian, dan lain lain:
a. PPh Final atas Bunga Deposito/Tabungan
PPh Final atas Bunga Deposito/Tabungan diatur dalam PP Nomor 131 Tahun
2000 dan KMK-51/KMK.04/2001. Pokok-pokok ketentuan adalah sebagai
berikut :

1) PPh Final dikenakan atas bunga yang berasal dari deposito/tabungan


baik yang ditempatkan pada bank yang didirikan di dalam negeri maupun
bank di luar negeri melalui cabangnya di di Indonesia, termasuk jasa giro
serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia, kecuali WP Orang Pribadi yang
seluruh penghasilannya dalam 1 tahun pajak termasuk bunga dan
diskonto tidak melebihi PTKP.
2) PPh yang terutang adalah sebesar 20% dari jumlah bruto (terhadap wajib
pajak dalam negeri atau BUT) dan 20% dari jumlah bruto atau sesuai tarif
P3B yang berlaku (terhadap wajib pajak luar negeri).
3) Dikecualikan dari pemotongan PPh :

Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI sepanjang jumlah


deposito dan tabungan serta sertifikat Bank Indonesia tersebut tidak
melebihi Rp 7.500.000,00 dan bukan merupakan jumlah yang
dipecah-pecah.

Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan
di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau
diperoleh Dana Pensiun yang telah disahkan Menteri Keuangan,
sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 UU Nomor 11 Tahun 1992 Tentang Dana
Pensiun.

Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk Pemerintah dalam rangka


pemilikan rumah sederhana dan sangat sederhana, kapling siap
bangun untuk rumah sederhana dan sangat sederhana, atau rumah
susun sederhana sepanjang untuk dihuni sendiri.

Pembebasan pemotongan PPh atas bunga deposito dan tabungan serta


diskonto SBI yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang telah
disahkan Menteri Keuangan, sepanjang dananya diperoleh dari sumber
pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 UU Nomor 11 Tahun
1992 Tentang Dana Pensiun dapat diberikan berdasarkan SKB
Pemotongan PPh atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto
Sertifikat Bank Indonesia yang diterbitkan oleh KPP tempat dana pensiun
terdaftar.
b. PPh Final atas Hadiah Undian

PPh Final atas Penghasilan dari Hadiah atas Undian diatur dalam PP Nomor
132 Tahun 2000, KEP-395/PJ/2001, dan SE-19/PJ.43/2001. Pokok-pokok
ketentuannya adalah sebagai berikut :
1) Hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun melalui cara undian yang
diterima atau diperoleh orang orang pribadi/badan dalam negeri dan
orang pribadi atau badan luar negeri dikenakan PPh Final sebesar 25%
dari jumlah bruto nilai undian.
2) Penyetoran PPh tersebut oleh penyelenggara undian dengan SSP secara
kolektif selambat-lambatnya tanggal10 bulan berikutnya.
3) Pelaporan ke KPP setempat dengan SPT Masa PPh atas hadiah undian
selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah dibayarkannya
atau diserahkannya hadiah undian tersebut.
4) PPh Pasal 25 Wajib Pajak Bank
5. Angsuran PPh Pasal 25 WP Bank
Angsuran PPh Pasal 25 bank tidak berdasarkan SPT Tahunan tahun
sebelumnya tetapi berdasarkan Laporan Keuangan Triwulan (PMK255/PMK.03/2008 stdd PMK Nomor 208/PMK.03/2009). Dalam Pasal 3 PMK255/PMK.03/2008 stdd PMK Nomor 208/PMK.03/2009 menyebutkan
bahwa : Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk WP bank dan sewa guna
usaha dengan hak opsi adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan
penerapan tarif umum atas laba rugi fiskal menurut laporan keuangan
triwulan terakhir yang disetahunkan dikurangi PPh Pasal 24 yang dibayar
atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua
belas).
6. PPN untuk Penyerahan Barang/Jasa (BKP/JKP) yang terutang PPN.
PPN Terkait Usaha Perbankan, pada prinsipnya semua barang dan jasa
dikenakan PPN, hanya saja ada pengecualian. Jasa keuangan termasuk
yang jenis jasa yang tidak dikenakan PPN. Dalam UU PPN yang baru (UU
No.42 Tahun 2009) terdapat perubahan terminologi dari jasa perbankan
menjadi jasa keuangan. Jasa perbankan yang dimaksud dalam UU PPN
lama (PP 144/2000) adalah jasa perbankan sesuai dengan UU perbankan,
sedangkan menurut UU PPN baru, tidak disebut lagi jasa perbankan namun
jasa keuangan (jasa menghimpun dana, menempatkan dana, dan jasa
pembiayaan). Jasa keuangan ini tidak dikaitkan lagi pengertian jasa
perbankan sebagaimana dimaksud dalam UU perbankan. Menurut UU PPN

yang baru, jasa keuangan yang dilakukan oleh siapapun tidak dikenakan
PPN
Persandingan UU PPN yang lama dengan UU PPN yang baru yang mengatur
PPN terkait usaha perbankan.

UU PPN lama (PP 144/2000)

Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi,
meliputi:
1) jasa perbankan sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 kecuali jasa
penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga, jasa
penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak
(perjanjian), serta anjak piutang;
2) jasa asuransi, tidak termasuk broker asuransi;
3) jasa Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi

UU PPN baru (UU No.42 Tahun 2009)

Jasa keuangan, meliputi:


1) jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito berjangka,
sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lain yang dipersamakan
dengan itu;
2) jasa menempatkan dana, meminjam dana, atau meminjamkan dana
kepada pihak lain dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi
maupun dengan wesel unjuk, cek, atau sarana lainnya;
3) jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah,
berupa:

sewa guna usaha dengan hak opsi;

anjak piutang;

usaha kartu kredit; dan/atau

pembiayaan konsumen;

jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai


syariah dan fidusia; dan

jasa penjaminan.

Jenis jasa keuangan yang tidak dikenakan PPN telah disebutkan secara limitatif
dalam Memori Penjelasan Pasal 4A ayat (3) huruf d UU PPN, Jenis jasa lainnya
yang tidak disebutkan dalam Memori Penjelasan Pasal 4A ayat (3) huruf d UU
PPN dikenakan PPN
Contoh jenis jasa yang Dilakukan Perusahaan Perbankan yang Dikenakan PPN
(ketentuan dalam SE dan Surat Dirjen hanya bersifat penegasan) :
1) Jasa persewaan
penegasan bahwa:

Safety

Box

(SE-02/PJ.321/1994)

memberikan

kegiatan usaha penyewaan safety box yang dilakukan oleh bank


umum terutang PPN

dalam hal dapat dibuktikan oleh bank yang bersangkutan bahwa


penggunaan safety box oleh pihak lain dikaitkan dengan usaha
perbankan lainnya sehingga atas pemakaian safety box tersebut tidak
dipungut biaya maka Dasar Pengenaan Pajaknya adalah nihil dan
Pajak Pertambahan Nilai yang terutang juga nihil.

2) Jasa penukaran uang kecil yang dilakukan oleh bank dikenakan PPN
(Surat Dirjen Pajak No.S-56/PJ.53/2004). Dasar Pengenaan Pajaknya
adalah jumlah kompensasi jasa/fee (imbalan) yang diterima oleh bank
tersebut.
3) Penyerahan barang dalam rangka pembagian hadiah berupa barang
(melalui penukaran poin yang terkumpul) oleh perusahaan perbankan
penerbit kartu kredit kepada para nasabahnya melalui Membership
Reward Program yang dikaitkan dengan penggunaan kartu kredit/kartu
tagih, terutang PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar harga
pasar wajar barang tersebut (Surat Dirjen Pajak No. S-777/PJ.322/2003).
4) Jasa Penagihan Listrik dan Telepon yang Dilakukan oleh Bank (Surat
Dirjen Pajak Nomor S-947/PJ.53/2005)
5) Persewaan ruangan (gedung perkantoran atau rumah tinggal), termasuk
persewaan safety box, jasa persewaan barang-barang bergerak lainnya,
jasa konsultasi, jasa riset, jasa makelar/pialang, jasa keagenan, jasa
penaksiran (appraisal), jasa manajemen, dan sejenisnya terutang PPN

meskipun jasa-jasa ini dilakukan oleh bank dan LKBB sebagai bagian dari
usaha dengan perizinan yang diperolehnya (SE-15/PJ.5/1990).
6) Penyerahan jasa perdagangan, seperti (SE-15/PJ.5/1990):

mempersiapkan penerbitan dan penjualan surat-surat berharga,

bertindak sebagai dealer surat-surat berharga,

bertindak sebagai perantara untuk mendapatkan kompanyon/partner


joint venture, mendapatkan tenaga ahli, atau mendapatkan pinjaman
bagi pihak lain, dan

konsultasi dalam bidang pembiayaan, investasi, dan manajemen.

PP 46 Tahun 2013
Walaupun telah lebih dari 1 (satu) tahun ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013
diberlakukan, namun pada prakteknya masih ditemukan banyaknya perbedaan
penafsiran dalam pelaksanaan ketentuan mengenai pengenaan PPh sebesar 1%
dari Peredaran Bruto bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu
yang tidak melebihi Rp 4,8 miliar setahun. Untuk mengatasi perbedaan
penafsiran tersebut, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-32/PJ/2014 tanggal 17 September 2014.
Terkait dengan Wajib Pajak bank/bank perkreditan rakyat/koperasi simpan
pinjam/lembaga pemberi dana pinjaman yang memenuhi kriteria sebagai Wajib
Pajak yang dikenai PPh berdasarkan PP 46 Tahun 2013, maka atas penghasilan
dari usaha yang diterima atau diperolehnya dikenai PPh bersifat final sebesar 1%
dari jumlah peredaran bruto setiap bulan.
Peredaran bruto yang menjadi dasar pengenaan pajak bagi Wajib Pajak
bank/bank perkreditan rakyat/koperasi simpan pinjam/lembaga pemberi dana
pinjaman adalah jumlah seluruh penghasilan usaha jasa perbankan/peminjaman,
antara lain:

Pendapatan bunga, fee, komisi, dan seluruh penghasilan yang terkait


dengan pemberi kredit/pinjaman, tidak termasuk pembayaran pokok
kredit/pinjaman,

Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan atas simpanan di bank


lain, serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia.

Dalam hal Wajib Pajak bank/bank perkreditan rakyat/koperasi simpan


pinjam/lembaga pemberi dana pinjaman tidak memenuhi kriteria sebagai Wajib

Pajak yang dikenai PPh berdasarkan PP 46 Tahun 2013 yaitu belum beroperasi
secara komersil atau yang dalam jangak waktu satu tahun telah melebihi 4,8M,
maka atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak dikenai PPh berdasarkan tarif
umum PPh.