Anda di halaman 1dari 2

TUGAS KEWARGANEGARAAN

DEMOKRASI
AKSI DEMO MAHASISWA MENUNTUT UKT
Anggota :
Muhammad Ridho
Saflia Febri D.
Hesti Radean
Putri Fitriana
Ricky J Batukh
Demonstrasi sepertinya bukan menjadi hal yang baru bagi masyarakat
Indonesia, terlebih pasca-reformasi pada tahun 1998. Demonstrasi sendiri
dianggap sebagai media paling efektif bagi masyarakat untuk menyalurkan
aspirasi masyarakat. Konsep demonstrasi sendiri dianggap sebagai salah satu
wujud implementasi dari proses demokrasi. Karena demokrasi
mengehendaki adanya sebuah partisipasi masyarakat untuk mengawal
jalannya suatu sistem pemerintahan demi terciptanya sebuah konsep good
governance.
Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Advokasi menuntut agar
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi membuat peraturan
menteri yang mengatur pelibatan mahasiswa dalam perumusan Uang Kuliah
Tunggal (UKT). Jadi, mereka ini memiliki 4 tuntutan terhadap kementrian di
antaranya, adanya pelibatan mahasiswa dalam setiap agenda sosialisasi dan
evaluasi UKT setiap tahun, adanya mekanisme keringanan UKT pada awal
masuk/registrasi mahasiswa baru yang merasa keberatan dengan UKT,
adanya mekanisme update UKT bagi mahasiswa baru pada setiap semester
dan adanya rentang UKT yang proporsional. Setelah diadakan pertemuan,
pertemuan tersebut berujung pada kesepakatan atas empat hal yang
disebutkan tadi, poin satu sampai tiga akan dimasukkan ke dalam Peraturan
Menteri (Permen) No.22/2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan UKT pada
Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di lingkungan Kemenristek Dikti. Poin
keempat akan dibahas bersama seluruh PTN dan akan disahkan pada awal
2016. Namun hingga kini, Permen tersebut belum memberikan solusi untuk
masalah UKT yang ada. Bahkan keempat poin yang telah disepakati, belum
diatur secara jelas pada permen tersebut. Hakikatnya sistem UKT diharapkan
mampu menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi dari para calon
mahasiswa yang akan menempuh pendidikan di PTN, hal ini diwujudkan

dengan meniadakan uang pangkal yang selama ini menjadi momok besar
bagi para calon mahasiswa Indonesia. Sistem pembiayaan UKT meleburkan
uang pangkal yang perlu dibayarkan oleh mahasiswa dengan seluruh biaya
lain yang dibebankan pada mahasiswa menjadi sebuah biaya tunggal sekali
bayar di awal setiap semester sehingga diharapkan orang tua calon
mahasiswa dapat membayar biaya masuk kuliah dengan jauh lebih murah.
Berdasarkan kasus ini, aksi demo itu tidak melanggar demokrasi yang
berlaku,karena demo inilah, pemerintah mendengarkan aspirasi yang
disampaikan oleh mahasiswa mengenai biaya kuliah yang masih rancu
sistemnya. Sehingga pemerintah kita bisa mengkoreksi kesalahan yang ada
dan menjadi pemerintahan yang lebih baik ke depannya. Namun, aksi demo
selalu saja tidak berujung dengan baik, dimana bila kedua pihak tidak
menemukan titik terang sehingga masih berkutat pada keuntungan sebelah
pihak menyebabkan hal yang buruk bisa terjadi, tidak hanya kerusuhan,
bahkan pertumpahan darah akibat sudah tidak sabar lagi dengan kelakuan
pemerintah yang mengabaikan aspirasi mahasiswa. Jangan sampai rezim
Soeharto yang menyulitkan mahasiswa untuk berpendapat, terulang kembali,
sehingga mahasiswa ingin menggulungkan pemerintahan dan menciptakan
pemberontakan. Naudzubillah.
Sebenarnya peranan mahasiswa memang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat, terlebih karena mahasiswa berusaha memperjuangkan
kepentingan masyarakat luas. Namun salah ketika mahasiswa tersebut
menggunakan otoritasnya sebagai aktor politik yang berpikir untuk
memasukkan kepentingan pribadinya dalam sebuah demonstrasi.Alangkah
mirisnya ketika mahasiswa sebagai penyambung lidah masyarakat kepada
pemerintah justru memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Padahal
mahasiswa memiliki kewajiban untuk membangun negara dimasa depan,
maka mahasiswa harus mampu berpikir secara obyektif untuk kepentingan
masyarakat banyak dibandingkan dengan berpikir subyektif yang justru
merugikan negara.