Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Mikroorganisme identik dengan objek biologi yang amat kecil dan
tidak dilihat dengan mata telanjang. Keberadaannya tidak terlihat namun
penting di dalam kehidupan. Sejalan dengan perkembangan ilmu biologi
masa kini, mikroorganisme ditelaah dan dimanfaatkan untuk kepentingan
hidup manusia.
Mikrobiologi berasal dari bahasa yunani (micros adalah kecil dan
bios adalah hidup dan logos adalah pengetahuan), jadi mikrobioloagi adalah
ilmu yang mempelajari tentang makhluk-makhluk hidup yang sangat kecil.
Dunia mikroorganisme terdiri dari lima kelompok organism yaitu bakteri,
protozoa, virus, serta algae dan cendawan mikrokopis. Namun, pada
makalah ini hanya akan membahas tentang bakteri.
Bakteri

berasal

dari

kata

Latin, bacterium (jamak,

bacteria);

merupakan kelompok raksasa dari organisme hidup. Bakteri memiliki


ukuran yang sangat kecil (mikroskopis) dan kebanyakan uniselular (bersel
tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleus / inti sel,
sitoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas.
Bakteri adalah organisme yang paling berkelimpahan dari semua
organisme. Bakteri tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air, dan
sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak bakteri yang bersifat patogen.
Bakteri biasanya hanya berukuran 0,5-5 m. Bakteri umumnya memiliki
dinding sel, seperti sel hewan dan jamur, tetapi dengan komposisi sangat
berbeda. Banyak yang bergerak menggunakan flagella, yang berbeda dalam
strukturnya dari flagella kelompok lain.
Dengan demikian, untuk lebih jelasnya penulis membuat makalah
ini. Disamping sebagai pemenuhan tugas mata kuliah mikrobiolgi, juga
berguna bagi penulis sendiri untuk mengetahui lebih lanjut tentang bakteri.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini dipaparkan sebagai berikut.
1 Apa pengertian dari bakteri?
2 Bagaimana reproduksi bakteri?
3 Apa jenis-jenis bakteri?
4 Bagaimana metabolisme pada bakteri?
5 Bagaimana karakteristik bakteri?
6 Apa manfaat bakteri di bidang pangan dan farmasi?

Tujuan
Tujuan dalam makalah ini dipaparkan sebagai berikut.
1 Untuk mengetahui apa itu bakteri.
2 Untuk memaparkan reproduksi bakteri.
3 Untuk mengetahui jenis-jenis bakteri.
4 Untuk menjelaskan metabolisme pada bakteri.
5 Untuk memaparkan karakteristik bakteri.
6 Untuk mendeskripsikan manfaat bakteri di bidang pangan dan farmasi.

BAB II
PEMBAHASAN
Pembahasan akan menyajikan tentang (1) pengertian bakteri, (2)
reproduksi bakteri, (3) Jenis-jenis bakteri, (4) metabolisme pada bakteri, (5)

karakteristik bakteri, (6) manfaat bakteri di bidang pangan dan farmasi yang akan
dipaparkan sebagai berikut.
1

Pengertian Bakteri
Bakteri berasal dari kata Latin, bacterium (jamak, bacteria) adalah
kelompok raksasa dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik)
dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif
sederhana tanpa nukleus/inti sel, sitoskeleton, dan organel lain seperti
mitokondria dan kloroplas.
Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme.
Mereka tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air, dan sebagai simbiosis
dari organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari
mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 m, meski ada jenis dapat
menjangkau 0,3 mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya
memiliki dinding sel, seperti sel hewan dan jamur, tetapi dengan komposisi
sangat berbeda (peptidoglikan). Banyak yang bergerak menggunakan flagela,
yang berbeda dalam strukturnya dari flagela kelompok lain.
Bakteri termasuk dalam golongan prokariota yaitu merupakan bentuk
sel yang paling sederhana yang memiliki ukuran dengan diameter dari 1 hingga
10 m. Ciri yang membedakan prokariotik dengan eukariotik adalah inti sel di
mana sel prokariotik tidak mempunyai membran inti sel atau nukleus
yang jelas. Bakteri memiliki 2 pembagian struktur yaitu :
1

Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)


Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan
granula penyimpanan.

Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)


Meliputi: kapsul, flagelum, pilus (pili), klorosom, Vakuola gas dan
endospora.

Reproduksi Bakteri
Bakteri dapat melakukan reproduksi dengan dua cara yakni reproduksi
secara aseksual dan reproduksi secara seksual. Reproduksi bakteri secara

seksual dibagi menjadi tiga jenis yaitu, reproduksi dengan transformasi,


reproduksi dengan transduksi, dan reproduksi dengan konjugasi.
A Reproduksi Aseksual
Yang termasuk di dalam reproduksi secara aseksual ini adalah
1

pembelahan, pembentukan tunas/ cabang, dan pembentukan filamen.


Pembelahan
Pada umumnya bakteri berkembang biak dengan pembelahan biner,
artinya pembelahan terjadi secara langsung, dari satu sel membelah menjadi
dua sel anakan. Masing-masing sel anakan akan membentuk dua sel anakan
lagi, demikian seterusnya.
Proses pembelahan biner diawali dengan proses replikasi DNA
menjadi dua DNA identik, diikuti pembelahan sitoplasma dan akhirnya
terbentuk dinding pemisah di antara kedua sel anak bakteri.

Pembentukan tunas atau cabang


Bakteri membentuk tunas yang akan melepaskan diri dan
membentuk bakteri baru. Reproduksi dengan pembentukan cabang didahului
dengan pembentukan tunas yang tumbuh menjadi cabang dan akhirnya

melepaskan diri. Dapat dijumpai pada bakteri family Streptomycetaceae.


Pembentukan Filamen
Pada pembentukan filament, sel mengeluarkan serabut panjang
sebagai filament yang tidak bercabang. Bahan kromosom kemudian masuk
4

ke dalam filament, kemudian filament terputus-putus menjadi beberapa


bagian. Tiap bagian membentuk bakteri baru. Dijumpai terutama dalam
keadaan abnormal, misalnya bila bakteri Haemophilus influenza dibiakan
pada pembenihan yang basah.
B Reproduksi Seksual
Bakteri berbeda dengan eukariota dalam hal cara penggabungan DNA
yang datang dari dua individu ke dalam satu sel. Pada eukariota, proses
seksual secara meiosis dan fertilisasi mengkombinasi DNA dari dua individu
ke dalam satu zigot. Akan tetapi, jenis kelamin yang ada pada ekuariota tidak
terdapat pada prokariota. Meiosis dan fertilisasi tidak terjadi, sebaliknya ada
proses lain yang akan mengumpulkan DNA bakteri yang datang dari
individu-individu yang berbeda.Proses-proses ini adalah pembelahan
transformasi, transduksi dan konjugasi.
1 Transformasi
Dalam konteks genetika bakteri, transformasi merupakan perubahan
suatu genotipe sel bakteri dengan cara mengambil DNA asing dari
lingkungan

sekitarnya.

Misalnya,

pada

bakteri Streptococcus

pneumoniae yang tidak berbahaya dapat ditransformasi menjadi sel-sel


penyebab pneumonia dengan cara mengambil DNA dari medium yang
mengandung sel-sel strain patogenik yang mati. Transformasi ini terjadi
ketika sel nonpatogenik hidup mengambil potongan DNA yang kebetulan
mengandung alel untuk patogenisitas (gen untuk suatu lapisan sel yang
melindungi bakteri dari sistem imun inang) alel asing tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam kromosom bakteri menggantikan alel aslinya untuk
kondisi tanpa pelapis. Proses ini merupakan rekombinasi genetik
perputaran segmen DNA dengan cara pindah silang (crossing over). Sel
yang

ditransformasi

ini

sekarang

memiliki

satu

kromosom

mengandung DNA, yang berasal dari dua sel yang berbeda.

yang

Reproduksi bakteri dengan jalan transformasi


2

Transduksi
Pada proses transfer DNA yang disebut transduksi, faga membawa
gen bakteri dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Ada dua bentuk
transduksi yaitu transduksi umum dan transduksi khusus. Keduanya
dihasilkan dari penyimpangan pada siklus reproduktif faga.

Reproduksi bakteri dengan jalan transduksi


Diakhir siklus litik faga, molekul asam nukleat virus dibungkus di
dalam kapsid, dan faga lengkapnya dilepaskan ketika sel inang lisis.
Kadangkala sebagian kecil dari DNA sel inang yang terdegradasi
menggantikan genom faga. Virus seperti ini cacat karena tidak memiliki
materi genetik sendiri. Walaupun demikian, setelah pelepasannya dari inang
yang lisis, faga dapat menempel pada bakteri lain dan menginjeksikan
bagian DNA bakteri yang didapatkan dari sel pertama. Beberapa DNA ini
kemudian dapat menggantikan daerah homolog dari kromosom sel kedua.
Kromosom sel ini sekarang memiliki kombinasi DNA yang berasal dari dua
sel sehingga rekombinasi genetik telah terjadi. Jenis transduksi ini disebut
dengan transduksi umum karena gen-gen bakteri ditransfer secara acak.
Untuk transduksi khusus memerlukan infeksi oleh faga temperat, dalam
siklus lisogenik genom faga temperat terintegrasi sebagai profaga ke dalam
kromosom bakteri inang, di suatu tempat yang spesifik. Kemudian ketika
genom faga dipisahkan dari kromosom, genom faga ini membawa serta
bagian kecil dari DNA bakteri yang berdampingan dengan profaga. Ketika
suatu virus yang membawa DNA bakteri seperti ini menginfeksi sel inang
6

lain, gen-gen bakteri ikut terinjeksi bersama-sama dengan genom


faga.Transduksi khusus hanya mentransfer gen-gen tertentu saja, yaitu
gen-gen yang berada di dekat tempat profaga pada kromosom tersebut.
3

Konjugasi dan Plasmid


Konjugasi merupakan transfer langsung materi genetik antara dua
sel bakteri yang berhubungan sementara. Proses ini, telah diteliti secara
tuntas pada E. Coli. Transfer DNA adalah transfer satu arah, yaitu satu sel
mendonasi (menyumbang) DNA, dan pasangannya menerima gen. Donor
DNA, disebut

sebagai

jantan,

menggunakan

alat

yang

disebut

pili seks untuk menempel pada resipien (penerima) DNA dan disebut
sebagai betina. Kemudian sebuah jembatan sitoplasmik sementara akan
terbentuk diantara kedua sel tersebut, menyediakan jalan untuk transfer
DNA.
Plasmid adalah molekul DNA kecil, sirkular dan dapat bereplikasi
sendiri, yang terpisah dari kromosom bakteri. Plasmid-plasmid tertentu,
seperti plasmid f, dapat melakukan penggabungan reversibel ke dalam
kromosom sel. Genom faga bereplikasi secara terpisah di dalam sitoplasma
selama siklus litik, dan sebagai bagian integral dari kromosom inang selama
siklus lisogenik. Plasmid hanya memiliki sedikit gen, dan gen-gen ini tidak
diperlukan untuk pertahanan hidup dan reproduksi bakteri pada kondisi
normal. Walaupun demikian, gen gen dari plasmid ini dapat memberikan
keuntungan bagi bakteri yang hidup di lingkungan yang banyak tekanan.
Contohnya, plasmid f mempermudah rekombinasi genetik, yang mungkin
akan menguntungkan bila perubahan lingkungan tidak lagi mendukung
strain yang ada di dalam populasi bakteri. Plasmid f , terdiri dari sekitar 25
gen, sebagian besar diperlukan untuk memproduksi piliseks. Ahli-ahli
genetika menggunakan simbol f+ (dapat diwariskan). Plasmid f bereplikasi
secara sinkron dengan DNA kromosom, dan pembelahan satu sel f+
biasanya menghasilkan dua keturunan yang semuanya merupakan f+. Sel-sel
yang tidak memiliki faktor f diberi simbol f-, dan mereka berfungsi sebagai
recipien DNA (betina) selama konjugasi. Kondisi f+ adalah kondisi yang
menular dalam artian sel f+ dapat memindah sel f- menjadi sel f+ ketika
kedua sel tersebut berkonjugasi. Plasmid f bereplikasi di dalam sel jantan,

dan sebuah salinannya ditransfer ke sel betina melalui saluran konjugasi


yang menghubungkan sel-sel tersebut. Pada perkawinan f+ dengan f- seperti
ini, hanya sebuah plasmid f yang ditransfer. Gen-gen dari kromosom bakteri
tersebut ditransfer selama konjugasi ketika faktor f dari donor sel tersebut
terintegrasi ke dalam kromosomnya. Sel yang dilengkapi dengan faktor f
dalam kromosomnya disebut sel Hfr ( high frequency of recombination atau
rekombinasi frekuensi tinggi). Sel Hfr tetap berfungsi sebagai jantan selama
konjugasi, mereplikasi DNA faktor f dan mentransfer salinannya ke fpasangannya. Tetapi sekarang, faktor f ini mengambil salinan dari beberapa
DNA kromosom bersamanya.
Gerakan acak bakteri biasanya mengganggu konjugasi sebelum
salinan dari kromosom Hfr dapat seluruhnya dipindahkan ke sel f-. Untuk
sementara waktu sel resipien menjadi diploid parsial atau sebagian,
mengandung kromosomnya sendiri ditambah dengan DNA yang disalin dari
sebagian kromosom donor. Rekombinasi dapat terjadi jika sebagian DNA
yang baru diperoleh ini terletak berdampingan dengan daerah homolog dari
kromosom F-, segmen DNA dapat dipertukarkan. Pembelahan biner pada sel
ini dapat menghasilkan sebuah koloni bakteri rekombinan dengan gen-gen
yang berasal dari dua sel yang berbeda, dimana satu dari strain-strain bakteri
tersebut sebenarnya merupakan Hfr dan yang lainnya adalah F.

Reproduksi bakteri dengan jalan konjugasi


8

Pada tahun 1950-an, pakar-pakar kesehatan jepang mulai


memperhatikan bahwa beberapa pasien rumah sakit yang menderita akibat
disentri bakteri, yang menyebabkan diare parah, tidak memberikan respons
terhadap antibiotik yang biasanya efektif untuk pengobatan infeksi jenis ini.
Tampaknya, resistensi terhadap antibiotik ini perlahan-lahan telah
berkembang pada strain-strain Shigella sp. tertentu, suatu bakteri patogen.
Akhirnya,

peneliti

mulai

mengidentifikasi

gen-gen

spesifik

yang

menimbulkan resistensi antibiotik pada Shigell\a dan bakteri patogenik


lainnya. Beberapa gen gen tersebut, mengkode enzim yang secara spesifik
menghancurkan beberapa antibiotik tertentu, seperti tetrasiklin atau
ampisilin. Gen gen yang memberikan resistensi ternyata di bawa oleh
plasmid.
Sekarang dikenal sebagai plasmid R (R untuk resistensi).
Pemaparan suatu populasi bakteri dengan suatu antibiotik spesifik baik di
dalam kultur laboratorium maupun di dalam organisme inang akan
membunuh bakteri yang sensitif terhadap antibiotik, tetapi hal itu tidak
terjadi pada bakteri yang memiliki plasmid R yang dapat mengatasi
antibiotik. Teori seleksi alam memprediksi bahwa, pada keadaan-keadaan
seperti ini, akan semakin banyak bakteri yang akan mewarisi gen-gen yang
menyebabkan resistensi antibiotik. Konsekuensi medisnya pun terbaca, yaitu
strain patogen yang resisten semakin lama semakin banyak, membuat
pengobatan infeksi bakteri tertentu menjadi semakin sulit. Permasalahan
tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa plasmid R, seperti plasmid F,
dapat berpindah dari satu sel bakteri ke sel bakteri lainnya melalui
konjugasi.
3 Klasifikasi Bakteri
1 Berdasarkan cara memperoleh makanannya
Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dikelompokkan
menjadi dua, yaitu bakteri autotrof dan bakteri heterotrof.
A Bakteri Autotrof
Bakteri autotrof adalah bakteri yang dapat membuat bahan organik
dari bahan-bahan anorganik. Untuk membuat bahan organik, diperlukan
energi. Beberapa bakteri memperoleh energi dari cahaya sehingga disebut

bakteri fotoautotrof. Bakteri fotoautotrof juga memiliki pigmen untuk


fotosintesis. Jika pada tumbuhan hijau kita kenal pigmen klorofil, pada
bakteri pigmen untuk fotosintesis disebut bakterioklorofil (yang bewarna
hijau) dan bakteriopurpurin (bewarna ungu atau merah). Contoh bakteri
fotoautrotof adalah Rhodobacter. Bakteri lainnya memperoleh energi dari
reaksi pemecahan senyawa kimia sehingga disebut bakteri kemoautotrof.
Contoh bakteri kemoautotrof adalah Nitrosomonas dan Nitrobacter.
B Bakteri Heterotrof
Bakteri heterotrof tidak dapat membuat bahan organik. Bakteri ini
memperoleh makanan dari bahan-bahan organik yang ada di sekitarnya
dengan cara menguraikan sisa-sisa tubuh organisme lain. Di dalam tanah,
hasil penguraian bahan-bahan organik adalah bahan-bahan anorganik yang
berupa mineral-mineral. Mineral-mineral tersebut diperlukan oleh tubuh
sebagai unsur hara.
Untuk menguraikan bahan-bahan organik tersebut, beberapa bakteri
heterotrof menggunakan energi yang diperoleh dari reaksi pemecahan
senyawa kimia. Bakteri tersebut dinamakan bakteri kemoheterotrof.
Bakteri heterotrof dapat pula mengakibatkan pembusukan pada
makanan kita. Upaya mengawetkan makanan adalah dengan cara mencegah
pertumbuhan bakteri heterotrof pada bahan makanan, misalnya pengeringan,
pemanasan, pengasapan, pembekuan, pendinginan, dan pengalengan.
Bakteri heterotrof lainnya ada yang bersifat patogen, yaitu dapat
menyebabkan penyakit baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Contohnya adalah Bacillus anthracis penyebab penyakit antraks hewan
ternak dan manusia.
2 Berdasarkan Kebutuhan Oksigennya
Bakteri melakukan respirasi untuk menghasilkan energi. Untuk
keperluan

reaksi

respirasi,

biasanya

diperlukan

senyawa

oksigen.

Berdasarkan kebutuhan oksigennya, bakteri dikelompokkan menjadi tiga,


yaitu bakteri aerob, bakteri anaerob, dan bakteri mikroaerofil.
A Bakteri Aerob
Bakteri aerob adalah bakteri yang hanya tumbuh apabila ada
oksigen. Jika tidak ada oksigen, bakteri ini akan mati. Contoh bakteri aerob
adalah Thiobacillus.
B Bakteri Anaerob
10

Bakteri anaerob dibedakan menjadi anaerob obligat dan anaerob


fakultatif. Bakteri anaerob obligat adalah bakteri yang tumbuh tanpa adanya
oksigen bebas. Jika ada oksigen bebas, bakteri akan mati, contohnya
Clostriduium. Bakteri anaerob fakultatif adalah bakteri yang dapat tumbuh,
baik ada oksigen maupun tanpa oksigen bebas, contoh Eschericia Coli dan
Salmonella.
C Bakteri Mikroaerofil
Bakteri mikroaerofil adalah bakteri yang tumbuh jika ada oksigen
bebas dalam jumlah sedikit (> 0,2 atmosfer), contohnya Spirillum minus.
3 Berdasarkan Suhu untuk Pertumbuhannya
Pertumbuhan bakteri juga sangat dipengaruhi oleh suhu. Tiap jenis
bakteri memiliki suhu pertumbuhan yang berbeda antara satu dan lainnya.
Berdasarkan suhu untuk pertumbuhannya, bakteri dibedakan menjadi bakteri
psikofil, mesofil, termofil, dan hipertermofil.
A Bakteri Psikrofil
Bakteri Psikrofil hidup dan tumbuh pada suhu rendah,yaitu antara
0 30. Bakteri ini banyak terdapat di dasar lautan, di daerah kutub, dan juga
pada bahan makanan menyebabkan kualitas bahan makanan tersebut
menurun danatau menjadi busuk.
B Bakteri Mesofil
Bakteri jenis ini hidup dan tumbuh pada suhu 25 - 40 C. Bakteri
mesofil banyak terdapat pada tanah, air, dan tubuh vertebrata. Salah satu
contoh bakteri mesofil adalah Escherichia coli.
C Bakteri Termofil
Bakteri yang mampu hidup dan tumbuh pada suhu 45 -75 C disebut
bakteri termofil. Bakteri ini dapat ditemukan di tempat-tempat yang bersuhu
tinggi, misalnya tempat pembuatan kompos. Selain itu,bakteri termofil juga
ditemukan pada suhu, tanah, dan air laut.
D Bakteri Hipertermofil
Bakteri hipertermofil hidup dan tumbuh pada suhu di atas 75 C,
misalnya di mata air panas. Beberapa bakteri bahkan dapat hidup pada suhu
di atas 100 C.
Bakteri-bakteri termofil dan hipertermofil sekarang banyak dicari
oleh para ahlui bioteknologi karena dapat menghasilkan enzim-enzim
penting yang digunakan dalam industri makanan dan obat-obatan.

11

4 Berdasarkan Struktur Kimia Dinding Selnya


Biasanya untuk keperluan identifikasi, bakteri harus di beri warna
menggunakan suatu teknik pewarnaan Gram. Teknik ini pertama kali di
gunakan pada 1884 oleh Hans Christian Gramuntuk membedakan dua
jenis bakteri, yaitu bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.
Pengelompokan tersebut berdasarkan perbedaan struktur kimia dinding
selnya.
A Bakteri Gram Positif
Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang tersusun atas
lapisan peptidoglikan yang relatif tebal dan mengandung asam teikoat.
Bakteri jenis ini lebih rentan terhadap antibiotik penisilin, tetapi lebih
resisten terhadap gangguan fisik. Contoh bakteri Gram positif adalah
bacillus, Clostridium, Staphylococcus, dan Strepcoccus.
Bakteri gram positif akan mempertahankan zat warna krisktal violet
dan karenanya akan tampak bewarna ungu tua dibawah mikroskop. Adapun
bakteri gram negates akan kehilangan zat Kristal violet setelah dicuci
dengan alkohol dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan
zat warna air tochsin atau safranin akan tampak merah. Perbedaan warna ini
disebabkan olh perbedaan struktur kimiawi dinding selnya.
Adakala suatu perlu diwarnai dua kali setelah zat warna yang
pertama (ungu) terserap, maka sediaan dicuci dengan alkohol, kemudian
ditumpangi dngan zat warna yang berlainan, yaitu dngan zat warna merah.
Jika sediaan itu kemudian kita cuci dengan air lau dengan alkohol maka dua
kemungkinan dapat terjadi. Pertama, zat tambahan terhapus, sehingga yang
tampak ialah zat warna asli (ungu). Dalam hal ini sediaan (bakteri) kita sebut
gram positif. Kedua zat warna tambahan (merah) bertahan hingga zat warna
asli tidak tampak. Dalam hal ini sediaan (bakteri) jika kita katakana gram
negatif (Dwioseputro, 1984).
Ciri-ciri bakteri gram positif:
a Struktur dindingnya tebal
b Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal
c Bersifat lebih rentan terhadap senyawa penisilin

12

Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu

e
f

Kristal
Komposisi yang dibutuhkan lebih rumit
Lebih resisten terhadap gangguan fisik.

Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :


a Zat warna utama (violet kristal)
b Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk
c

mengintensifkan warna utama.


Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang
digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.
Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai

kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga
alkohol. ( Suriawieia, 2002)
Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri Gram Positif:
Staphylococus : penyebab impetigo, keracunan makanan, bronkitis
Streptococus : penyebab pneumonia, meningitis, karies gigi
Enterococus

: penyebab enteritis

Listeria

: penyebab listeriosis

Basillus

:penyebab anthrax ( Basillus antharx)

Clostridium

: penyebab tetanus ( Clostridium tetani), botulisme

Mycobacterium : penyebab tuberkulosa, difteri


Mycoplasma

: penyebab jerawat, peumonia

B Bakteri Gram Negatif


Dinding sel bakteri Gram negatif terdiri atas dua lapisan, yaitu
lapisan luar dan lapisan dalam. Lapisan luar tersusun atas lipopolisakarida
dan protein, sedangkan lapisan dalam tersusun atas peptidoglikan. Dinding
selnya tidak mengandung asam teikoat. Bakteri Gram negatif resistan
terhadap antibiotik penisilin, tetapi kurang resisten terhadap gangguan fisik.
Salmonella, Escherichia, Azotobacter, dan Acetobacter adalah contoh dari
bakteri Gram negatif.

13

Bakteri

gram

negative

adalah

bakteri

yang

tidak

dapat

mempertahankan zat warna metal ungu pada metode pewarnaan gram.


Bakteri gram positif akan mempertahankan zat warna metal ungu gelap.
Setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram negatifnya tidak.
Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna menimbal di tambahkan setelah
metal ungu yang membuat semua bakteri gram negative, menjadi berwrna
merah, atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan
kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.
Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri, tapi
mewarnai latarbelakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini
mikroorganisme kelihatan transparan (tembus pandang). Teknik ini berguna
untuk menentukan morfologi dan ukuran sel.
Ciri-ciri gram negatif:
a Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10-45mm, berlapis tiga atau multi
b

layer
Dinding slnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan
terdapt dalam lapisan kaku,, sebelh dalam dengan jumlah sedikit 10%

c
d

dari berat kering, tidak mengandung asam laktat.


Kurag rentan terhadap senyawa penisilin.
Tidak resisten terhadap gangguan fisik. (Waluyo,2004)

Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri Gram Negatif:


Salmonella: penyebab thypus (Salmonella thyposa), salmonelosis
Escherichia: penyebab gastroenteritis / radang saluran cerna ( Escherichia
coli)
Shigell: penyebab disentri
Pseudomonas: penyebab infeksi luka bakar
Hellicobacter: penyebab tukak lambung
Haemophilus: penyebab bronkhitis , pneumonia (Heumophilus influenzae)
Bordetella: penyebab batuk rejan (Bordetella pertusis)
Chlamydia: penyebab pneumonia, uretritis, trakoma

14

Perbedaan bakteri gram Positif dan negative

15

16

NO
1

Pembeda
Membran plasma

Bakteri gram positif


Bakteri gram Negatif
Memiliki membran plasma Membran
ganda
yang
tunggal

2
3
4

diselimuti

oleh

membran

luar permeable
pepetidoglikan Peptidoglikan sedikit

Peptidoglikan

Memiliki

Senyawa penisilin

yang tebal
Rentan terhadap penisilin

Didinding Sel

penisilin
Dinding selnya yang tebal Didnding sel tipis sekitar 10-

diantara membran
Kurang rentan

terhadap

(15-80 nm), berlapis satu 15 nm, berlapis dua,

tiga

monolayer
atau multi layer
dinding Kandungan lipid rendah 1- Kandungan lipid tinggi 11-

Komposisi

sel
Kebutuhan nutrisi

4%
22%
Kebanyakan spesies lebih Nutrsi sederhana

kompleks
terhadap Lebih tahan

Ketahanan

perlakuan fisik
Reaksi
terhadap Ungu/Biru

Merah

warna gram
Kelarutan

Larut

10

Alkali (1% KOH)


Sifat tahan asam

Ada yang tahan terhadap Tidak tahan asam

Toksin yang dibentuk


Asam Teikoat
Bentuk sel

asam
eksotoksin
Sering di jumpai / banyak
Bulat, batang, atau filamen

11
12
13

dan

Kurang tahan

dalam Tidak larut

Endotoksin
Jarang dijumpai
Batang

5 Berdasarkan Hubungan Evolusinya


Berdasarkan hubungan evolusinya, bakteri dikelompokan menjadi
12 filum. Namun, kali ini hanya empat filum yang dikenal umum yang akan

17

dibahas. Keempat filum itu adalah Proteobacteria, Bakteri Gram Positif,


Spirocheta, dan Cyanobacteria.
A Proteobacteria
Proteobacteria merupakan filum utama bakteri. Filum ini meliputi
bermacam-macam

patogen,

misalnya

:Escherichia,

Salmonella,

Vibrio, dan Helicobacter. Anggota Proteobacteria yang lainnya hidup bebas


atau bersimbiosis di antaranya adalah, bakteri-bakteri pengikat nitrogen,
misalnyaNitrosomonas.

Rhizobium, dan Agrobacterium

tumefaciens.

Bakteri-bakteri anggota filum ini memiliki bentuk yang sangat bervariasi.


Semua Proteobacteria merupakan bakteri Gram negatif dengan
membran

terluar

tersusun

atas

lipopolisakarida.

Sebagian

besar

Proteobacteria bergerak menggunakan flagella, tetapi yang lainnya tidak


bergerak atau bergerak meluncur. Bakteri yang bergerak meluncur meliputi
Myxobacteria, yaitu suatu kelompok bakteri unik yang dapat berkumpul
membentuk tubuh buah multiseluler. Proteobacteria juga memiliki
bermacam-macam tipe metabolisme meliputi fotoautotrof, kemoautotrof,
dan

kemoheterotrof.

Sebagian

besar

anggotanya

merupakan

organisme anaerob fakultatif atau obligat. Proteobacteria menempati banyak


relung ekologis.
B Bakteri Gram Positif
Tidak semua anggota kelompok ini merupakan bakteri Gram positif.
Ada beberapa spesies yang merupakan Gram negatif. Hal ini disebabkan
mereka memiliki kesamaan molekuler dengan bakteri Gram positif. Anggota
filum ini meliputi bakteri Streptococcus penyebab radang tenggorok.
Bakteri-bakteri yang menghasilkan yoghurt dengan menghasilkan asam
laktat juga merupakan bakteri Gram positif. Bakteri Gram positif juga ada
yang menghasilkan antibiotik. Beberapa jenis hidup di rongga mulut dan
saluran

pencernaan.

Contoh

bakteri

ini

adalah Streptococcus dan

Lactobacillus.
C Spirocheta
Spirocheta beranggotakan bakteri-bakteri Gram negatif, berbentuk
spiral, dan merupakan organisme heterotrof. Beberapa jenis Spirocheta
merupakan

organisme

aerob,

beberapa

18

jenis

lainnya

merupakan

organisme anaerob. Spirocheta hidup secara bebas, bersimbiosis, atau


sebagai parasit. Salah satu contoh Spirocheta adalah Treponema palladium,
penyebab penyakit menular seksual sifilis.
D Cyanobacteria
Cyanobacteri adalah nama ilmiah untuk ganggang biru. Dinamakan
demikian karena jenis yang pertama kali dikenali berwarna biru kehijauan.
Ganggang biru ada yang bersel satu (uniseluler) dan ada yang bersel banyak.
Selain itu, ganggang biru ada yang berbentuk benang (filamen) dan ada yang
hidup berkoloni. Ukuran selnya bervariasi dari 0,5 - 60 mm.
Ganggang biru mampu melakukan fotosintesis karena memiliki
klorofil a dan karotenoid yang mengandung pigmen fikobilin. Pigmen
fikobilin merupakan gabungan pigmen fikosianin (berwarna biru) dan
pigmen fikoeritrin (berwarna merah). Pigmen fikosianin umumnya lebih
dominan sehingga ganggang biru tidak terdapat di dalam kloroplas, tetapi
terdapat di dalam membran tilakoid.
Sebagian besar ganggang biru memiliki semacam selubung
berlendir yang disebut kapsul. Kapsul merupakanbahan dari polisakarida
atau lendir yang berfungsi untuk pertahanan dan memudahkan pergerakan.
Ganggang yang hdiup di darat memiliki kapsul yang berpigmen.
Reproduksi pada ganggang biru dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu

pembelahan

biner,

pembelahan

majemuk,

fragmentasi,

dan

pembentukan akinet (spora istirahat).


Pembelahan biner merupakan reproduksi aseksual yang terjadi
apabila sel tunggal membelah menjadi dua bagian yang sama. Sementara itu,
pada pembelahan majemuk, sel tunggal membelah menjadi lebih dari dua
sel anak. Fragmentasi terjadi pada ganggang biru yang berbentuk benang
(filamen). Pada peristiwa fragmentasi, filament akan terputus menjadi
beberapa potongan pendek (fragmen) yang disebut hormogonium (jamak:
hormogonia). Selajutnya, hormogonia tersebut berregenerasi menjadi
ganggang biru yang utuh.
Ganggang biru yang

hidup

di

lapisan topsoil tanah

dapat

mengurangi erosi dengan cara mengikat partikel-partikel tanah. Ganggang


biru juga mampu mengubah nitrogen bebas menjadi bentuk organik, seperti
nitrit (NO2), nitrat (NO3), atau ammonia (NH3). Pada ganggang biru
berbentuk

filament,

fiksasi

(pengikatan)
19

nitrogen

terjadi

di

dalamheterosista. Heterosista adalah suatu sel khusus yang mengalami


perbesaran dan berdinding tebal serta berisi enzim nitrogenase. Karena
mampu mengikat nitrogen, ganggang biru potensial digunakan sebagai
pupuk hayati (biofertilizer). Contoh ganggang biru yang dapat mengikat
nitrogen bebas adalah Nostoc dan Anabaena. Beberapa jenis ganggang biru
dapat bersimbiosis dengan lumut hati, lumut kerak, tumbuhan paku, pakis
haji,

protozoa

berflagela,

dan

ganggang

sejati.

Contohnya, Anabaena bersimbosis dengan tanaman paku air (Azolla) untuk


mengikat nitrogen di sawah. Ganggang biru juga dapat bersimbiosis dengan
fungi (kapang) membentuk lumut kerak (lichen/liken).
Ganggang biru, misalnya Spirulina, juga dapat dimanfaatkan
sebagai sumber makanan karena memiliki kandungan protein yang tinggi
sehingga potensial dikembangkan sebagai sumber protein yang dikenal
dengan nama protein sel tunggal (PST).
Selain menguntungkan, ganggang biru juga memiliki pengaruh
yang berbahaya bagi manusia atau hewan. Beberapa jenis ganggang biru
bertanggung jawab terhadap bau tanah dan warna pada air tawar, termasuk
air minum, karena mereka menghasilkan senyawa yang disebut geosmins.
Beberapa anggota ganggang biru lainnya, seperti Microcystis, Anabaena,
dan

Oscillatoria,

apabila

populasinya

meledak (blooming)

akan

menghasilkan toksin yang dapat meracuni hewan dan manusia yang


meminum air yang terkontaminasi ganggang biru tersebut.

6 Berdasarkan sifat kimia


Bakteri melakukan metabolisme sel dengan bahan kimia. Contoh
nitrifikasi (nitrat).
7 Jenis-Jenis Bakteri berdasarkan bentuknya.
A Bentuk batang (Basil).
Bakteri bentuk batang dikenal sebagai basil (berasal dari kata
bacillus yang berarti batang). Bentuk ini dapat dibedakan.

20

Basil tunggal, bakteri yang hanya berbentuk satu batang tunggal.


Contoh: Salmonella typhosa penyebab penyakit tipus, Escherichiacoli

b
c

bakteri yang terdapat pada usus dan Lactobacillus.


Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri basil berdempetan.
Streptobasil yaitu bakteri berbentuk basil yang bergandengan memanjang
berbetuk rantai, misalBacillus anthracis penyebab penyakit antraks,

Streptpbacillus moniliformis, Azotobacter, bakteri pengikat nitrogen.


B Bentuk Bulat (Kokus).
Bakteri berbentuk bulat (bola) atau kokus dapat dibedakan.
a Monokokus yaitu bakteri berbentuk bola tunggal, misal Monococcus
b

gonorhoe penyebab penyakit kencing nanah.


Diplokokus yaitu bakteri berbentuk bola bergandengan dua-dua, misal
Diplococcus pneumoniae penyebab penyakit pneumonia (radang, paru-

paru).
Sarcina yaitu bakteri berbentuk bola yang berkelompok empat-empat

membentuk kubus, misal Sarcina luten.


Streptokokus yaitu bakteri berbentuk bola yang berkelompok memanjang
berbentuk rantai, misal Streptococcus lactis, Streptococcus pyogenes
penyebab sakit tenggorokan dan Streptococcus thermophilis untuk

pembuatan yoghurt (susu asam).


Stafilokokus yaitu bakteri berbentuk bola yang berkoloni seperti buah
anggur, misal Stafilokokus aureus, penyebab penyakit radang paru-paru.

C Bentuk Spiral.
Ada tiga macam bakteri bantuk spiral yaitu:
a

Spiral, yaitu golongan bakteri yang bentuknya seperti spiral, misalnya

Spirillum.
Vibrio atau bentuk koma yang dianggap sebagai bentuk spiral tak

sempurna misal Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera.


Spiroseta yaitu golongan bakteri berbentuk spiral yang dapat bergerak
misal: Spirochaeta palida, penyebab penyakit sifilis.

8 Klasifikasi Bakteri Berdasarkan Kedudukan Alat Gerak


a Atrik
Flagel, tidak mempunyai flagellum : contoh Escherichiacoly.
b Monotrik

21

Monotrik, berflagel satu pada salah satu ujung tubuh bakteri. Contoh :
c

Pseudomonas araginosa.
Amfitrik
Amfitrik, flagel masing-masing satu pada kedua ujung tubuh bakteri.

Contoh : Spirillium serpen.


Lofotrik
Lofotrik, berflagel banyak pada salah satu ujung tubuh bakteri.

Contoh: Pseudomonas flourencens.


Peritrik
Peritrik, berflagel banyak pada semua sisi tubuh bakteri. Contoh:
Salmonella thypii.

Metabolisme Bakteri
Metabolisme adalah semua proses kimia yang terjadi didalam sel
hidup. Dalam sel hidup, proses reaksi kimia yang menghasilkan energi disebut
katabolisme, sedangkan proses reaksi kimia yang membutuhkan energi
disebut anabolisme. Reaksi katabolik umumnya merupakan reaksi hidrolisis
yang memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa-senyawa yang
lebih sederhana. Sebaliknya reaksi anabolik atau reaksi biosintesis merupakan
proses yang membangun molekul organik kompleks dari senyawa-senyawa
yang lebih sederhana. Proses biosintesis ini sangat dibutuhkan dalam
pertumbuhan sel.
Sebelum proses metabolisme terjadi, diperlukian pengaktifan subunit
yang akan digunakan dan energi yang tinggi, yaitu ATP (adenosin trifosfat).
Energi untuk metabolisme diambil dari proses fermentasi, respirasi, dan
fotosintesis. Energi pada proses fermentasi dan respirasi diperoleh dari proses
katabolisme karbohidrat. Beberapa golongan bakteri heterotrof, termasuk
bakteri patogen, menggunakan zat organik sebagai sumber karbon untuk
mendapatkan energi. Bakteri outrotof mendapatkan energi dari oksidasi
senyawa anorganik. Bakteri ini menggunakan karbondioksida sebagai sumber
karbon untuk sintesis selnya. Namun, diperlukan energi dan koenzim untuk
mengubah karbondioksida menjadi bahan sel. Koenzim yang berperan penting
dalam metabolisme seluler antara lain nikotinamida adenin dinukleotida
(NAD+) dan nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADP +). Bakteri yang
melakukan fotosintesis memperoleh energi yang dibutuhkan dari cahaya,

22

sedangkan bakteri outrotof harus memperoleh energi dari oksidasi kimia. Pada
proses oksidasi, elektron yang dibebaskan dari oksidasi senyawa anorganik,
disalurkan melalui transport elektron yang pada akhirnya akan menghasilkan
energi tinggi berupa ATP.
ATP umumnya dibentuk pada saat terjadi reaksi oksidasi-reduksi
didalam sel. Energi ATP yang dihasilkan selama proses katabolisme akan
digunakan kembali dalam proses anabolismeuntuk membangun komponenkompnen sel yang dibutuhkan dalam pertumbuhan sel.

Jalur Metabolisme Produksi Energi


Bagan diatas memperlihatkan bahwa tahap pertama dalam tahapan
reaksi terjadi merupakan konversi materi awal (A) menjadi molekul B. Pada
tahap ini koenzim NAD+ tereduksi menjadi NADH+, dengan elektron dan
proton berasal dari molekul A. Demikian juga, pada tahap perubahan molekul
C menjadi molekul D (tahap ketiga) terjadi konversi ADP menjadi ATP, energi
yang dibutuhkan berasal dari molekul C yang dipindahkan ke molekul D.
Reaksi antara molekul D dan e merupakan reaksi bolak-balik (reversible),
sedangkan pada tahap kelima dibutuhkan molekul O2 dalam reaksi yang
menghasilkan produk akhir (F) dengan produk sekunder CO 2 dan H2O. Setiap
reaksi9 dalam reaksi metabolisme dikatalisis oleh enzim spesifik. Selain
enzim, beberapa koenzim juga berperan penting dalam metabolisme, antara
lain NAD+, NADP+, FAD dan CoA.

23

A Metabolisme Karbohidrat
Pada umunya, mikroorganisme mengoksidasi karbohidrat sebagai
sumber utama energi seluler. Katabolisme karbohidrat yang melibatkan
reaksi penguraian molekul karbohidrat untuk menghasilkan energi ATP
merupakan proses yang penting dalam metabolisme sel.
Untuk

memproduksi

energi

dari

glukosa,

mikroorganisme

menggunakan 2 jalur proses, yaitu fermentasi dan respirasi. Respirasi


glukosa terjadi dalam tiga tahapan, yaitu glikolisis, siklus krebs, dan rantai
transport elektron.

24

Pada tahap glikolisis, terjadi oksidasi glukosa menjadi asam piruvat


yang menghasilkan energi ATP dan NADH. Pada siklus krebs, juga akan
dihasilkan energi ATP dan NADH, yang kemudian akan diteruskan ke dalam
sistem transport elektron. Sistem transport elektron dapat memproduksi
lebih banyak energi ATP.
Glikoslisis dikenal juga dengan jalur metabolisme EmbdenMeyerhof. Glikolisis terdiri atas dua tahap utama, yaitu tahap persiapan dan
tahap pembentukan energi ATP.pada tahap persiapa, setiap molekul glukosa
membutuhkan dua molekul ATP untuk memulai jalur metabolisme. Pada
tahap pembentukan energi ATP, empat molekul ATP akan dihasilkan melalui
fosforilasi substrat dengan mengubah glukosa menjadi asam piruvat. Dengan
demikian, selama proses glikolisis, dua molekul ATP akan dihasilkan dari
setiap molekul glukosa yang teroksidasi.

25

Fermentasi
Fermentasi adalah proses metabolisme yang dapat menghasilkan
energi dari karbohidrat atau molekul organik lain tanpa memerlukan
oksigen ataupun melalui sistem transport elektron dan menggunakan
molekul organik sebagai penerima elektron terakhir.
Pada proses fermentasi, asam piruvat dapat dipecah menjadi
alkohol, asam laktat, asam butira, asam propionat, dan asam asetat,
bergantung pada jenis bakteri. Beberapa jenis mikroorganisme dapat
memfermentasi berbagai jenis substrat.
Tabel produk akhir fermentasi asam piruvat oleh beberapa jenis
mikroorganisme.

Jenis Bakteri
Streptococcus Lactobacilus, Bacilus
Saccharomyces
26

Produk Akhir
Asam laktat
Etanol dan CO2

Propionibacterium

Asam propionat, asam asetat, CO2, dan

Clostridium

H2
Asam butirat, butanol, aseton, isopropil,

Escherichia, Salmonella

alkohol,dan CO2
Etanol, asam laktat, asam suksinat, asam

Enterobacter

asetat, CO2, dan H2


Etanol, asam laktat, asam formiat, CO 2,
dan H2

Respirasi Seluler
Respirasi merupakan suatu rangkaian proses untuk memproduksi
energi ATP. Asam piruvat yang diperoleh dari perubahan glukosa akan
masuk ke dalam proses selanjutnya, yaitu proses respirasi seluler.
Proses respirasi diawali dengan serangkaian reaksi biokimia yang
disebut dengan siklus krebs. Selanjutnya melalui proses rantai transport
elektron, akan dihasilkan molekul energi ATP dalam jumlah yang jauh
lebih besar dibandingkan pada proses fermentasi. Respirasi ada dua jenis,
bergantung pada sifat mikroorganisme yaitu:
a Respirasi Aerob
Respirasi aerob adalah proses respirasi yang menggunakan
oksigen. Secara sederhana, proses respirasi aerob pada glukosa
dituliskan sebagai berikut.

Proses respirasi aerob melewati tiga tahap, yaitu:

Glikolisis
Siklus Krebs, dan
Rantai transfer elektron.
Glikolisis
Glikolisis merupakan serangkaian reaksi yang terjadi di
sitosol pada hampir semua sel hidup. Pada tahap ini, terjadi
pengubahan senyawa glukosa dengan 6 atom C, menjadi dua senyawa
asam piruvat dengan 3 atom C, serta NADH dan ATP. Tahap glikolisis
belum membutuhkan oksigen. Glikolisis yang terdiri atas sepuluh
reaksi, dapat disimpulkan dalam dua tahap:

27

Reaksi penambahan gugus fosfat. Pada tahap ini digunakan

duamolekul ATP.
Gliseraldehid-3-fosfat diubah menjadi asam piruvat. Selain itu,
dihasilkan 4 molekul ATP dan 2 molekul NADH.
Pada tahap glikolisis dihasilkan energy dalam bentuk ATP

sebanyak 4 ATP. Namun karena 2 ATP digunakan pada awal glikolisis


b

maka hasil energi yang didapat adalah 2 ATP.


Siklus Krebs
Dua

molekul

asam

piruvat

hasil

dari

glikolisis

ditransportasikan dari sitoplasma ke dalam mitokondria, tempat


terjadinya siklus Krebs. Akan tetapi, asam piruvat sendiri tidak akan
memasuki reaksi siklus Krebs tersebut. Asam piruvat tersebut akan
diubah menjadi asetil koenzim A (asetil koA). Tahap pengubahan
asam piruvat menjadi asetil koenzim A ini terkadang disebut tahap
transisi atau reaksi dekarboksilasi oksidatif. Berikut ini gambar proses
pengubahan satu asam piruvat menjadi asetil koenzim A.

Bagan dekarboksilasi oksidatif asam piruvat


Kompleks senyawa asetil koenzim A inilah yang akan
memasuki siklus Krebs atau yang dikenal juga sebagai siklus asam
sitrat. Koenzim A pada pembentukan asetil KoA merupakan turunan
dari vitamin B.
Siklus Krebs dijelaskan pertama kali oleh Hans Krebs pada
sekitar 1930-an. Dalam siklus Krebs, satu molekul asetil KoA akan
menghasilkan 4 NADH, 1 GTP, dan 1 FADH. GTP (guanin trifosfat)
merupakan salah satu bentuk molekul berenergi tinggi. Energi yang
dihasilkan satu molekul GTP setara dengan energi yang dihasilkan
satu molekul ATP. Molekul CO2 juga dihasilkan dari siklus Krebs

28

ini. Karena satu molekul glukosa dipecah menjadi dua molekul asetil
KoA dan masuk ke siklus Krebs.

Bagan siklus Krebs


Selain dihasilkan energi pada siklus Krebs, juga dihasilkan
hidrogen yang direaksikan dengan oksigen membentuk air. Molekulmolekul sumber elektron seperti NADH dan FADH2 dari glikolisis
dan siklus Krebs, selanjutnya memasuki tahap transpor elektron untuk
menghasilkan molekul berenergi siap pakai.
c

Sistem Transfer Elektron


Tahap terakhir dari respirasi seluler aerob adalah sistem
transfer elektron. Tahap ini terjadi pada ruang intermembran dari
mitokondria. Pada tahap inilah ATP paling banyak dihasilkan.
Seperti Anda ketahui, sejauh ini hanya dihasilkan 4 molekul
ATP dari satu molekul glukosa, yaitu 2 molekul dari glikolisis dan 2
molekul dari sikluk Krebs. Akan tetapi, dari glikolisis dan siklus
Krebs dihasilkan 10 NADH (2 dari glikolisis, 2 dari tahap transisi
siklus Krebs, dan 6 dari siklus Krebs) dan 2 FADH2. Molekulmolekul inilah yang akan berperan dalam menghasilkan ATP.
Jika Anda perhatikan, meskipun glikolisis dan siklus Krebs
termasuk tahap respirasi aerob, namun sejauh ini belum ada molekul
oksigen yang terlibat langsung dalam reaksi. Pada tahap transfer
elektron inilah oksigen terlibat secara langsung dalam reaksi.
29

Pada reaksi pertama, NADH mentransfer sepasang elekron


kepada molekul flavoprotein (FP). Transfer elektron mereduksi
flavoprotein, sedangkan NADH teroksidasi kembali menjadi ion
NAD+. Elektron bergerak dari flavoprotein menuju sedikitnya enam
akseptor elektron yang berbeda. Akhirnya, elektron mencapai
akseptor protein terakhir berupa sitokrom a dan a3.
Akseptor terakhir dari rantai reaksi merupakan oksigen.
Elektron berenergi tinggi dari NADH dan FADH2 memasuki sistem
reaksi. Dalam perjalanannya, energi elektron tersebut mengalami
penurunan energi yang digunakan untuk proses fosforilasi ADP
menjadi ATP sehingga satu molekul NADH setara dengan 3 ATP dan
satu molekul FADH2 setara dengan 2 ATP.

Ilustrasi reaksi yang terjadi dalam respirasi sel dan jumlah


ATP yang didapatkan
b Respirasi anaerob
Bakteri menggunakan senyawa anorganik selain oksigen
sebagai akseptor elektron terahir. Beberapa bakteri amtara lain
Pseudomonas, Escherichia, Rhizobium, Enterobacter, dan Bacillus
dapatmenggunakan ion nitrat (NO3-) sebagai akseptor elektron terahir.
Ion Nitrat direduksi menjadi NO2-. N2O, atau gasnitrogen (N2), bakteri
Desulfovibrio menggunakan ion sulfat (SO42-) sebagai akseptor
elektron membentuk H2S. Bakteri lain dapat menggunakan ion
karbonat ( CO32-) membentuk metana (CH4).
Jumlah ATP yang diproduksi dalam jalur respirasi anaerob sangat
bervariasi bergantung pada jenis bakteri. Karena hanya sebagian siklus

30

krebs yang dapat berlangsung pada kondisi anaerob, tidak semua


pembawa elektron dapat melalui sistem transport elektron pada kondisi
tersebut sehingga energi ATP yang dihasilkan umumnya tidak sebesar
pada respirasi aerob. Oleh sebab itu, bakteri anaerob tumbuh lebih
lambat daripada bakteri aerob.
B Metabolisme Lemak dan Protein
Gliserol dipecah menjadi dihidroksi aseton fosfat, kemudian
dikatabolisme melalui glikolisis dan siklus krebs. Sementara itu asam lemak
dioksidasi membentuk gugus asetil, yang kemudian bergabung dengan
koenzim a membentuk asetil CoA. Selanjutnya asetil CoA dikatabolisme
melalui proses siklus krebs.
Protein merupakan senyawa yang juga dapat dimanfaatkan sebagai
sumber energi oleh mikrooganisme. Enzim protease dan peptidase yang
dikeluarkan oleh mikroorganisme dapat memecah protein menjadi asam
amino.
Sebelum dikatabolisme, asam amino harus terlebih dahulu diubah
menjadi suatu senyawa yang dapat masuk kedalam siklus krebs. Proses
Deaminasi merupakan salah satu mekanisme untuk memperoleh senyawa
tersebut, yaitu gugus amino dari asam amino dilepaskan dan diubah menjadi
ion amonium (NH4+) sehingga asam organik tersebut dapat masuk ke dalam
siklus krebs. Proses lain untuk mengonversi asam amino adalah reaksi
dekarboksilasi dan dehidrogenasi.

Karakteristik Bakteri

31

Secera umum ciri-cici bakteri adalah sebagai berikut:


Ciri umum bakteri yang pertama, mereka adalah Organisme prokariota
(inti sel tidak diselimuti membran khusus) juga uniseluler (atau bersel
tunggal)

Bakteri

memiliki dinding sel seperti tumbuhan yang tersusun atau

peptidoglikan dan mukopolisakarida.


3

Bakteri mamiliki endospora yaitu kapsul yang muncul jika kondisi yang
tidak menguntungkan sebagai perisai terhadap panas dan gangguan alam.

Dari segi ukuran, bakteri pada umumnya bakteri terlalu kecil seperti
Mycoplasma untuk dilihat mata telanjang yakni sekitar 0,5 mikrometer
tapi dan ada juga yang sedikit lebih besar yakni Epulopiscium fishelsoni
mencapai ukuran yaitu sekitar 10-100 mikrometer.

Ciri umum lainnya dari bakteri hidup adalah mereka makhluk yang parasit
(membutuhkan inang seperti manusia atau hewan) tapi ada juga yang
hidup bebas.

Secara umum bakteri tidak berklorofil.

Habitat bakteri dapat tinggal dilingkungan yang keras seperti air panas,
kawah, gambut.

Dilihat dari bentuk penampakan, sel bakteri bisa terlihat seperti basil (atau
batang), kokus (berbentuk bola), spirilum (spiral seperti pembuka tutup
botol), kokobasil (bulat dan batang), dan Vibrio (seperti koma).

Sebagai bagian dari perlindungan, bakteri dapat mensekresikan lendir ke


permukaan dinding sel. 8-10 % fosfolipid dan protein adalah penyusun
membran sitoplasma dan bakteri.
Bakteri ada yang memiliki ekor juga disebut dengan flagela untuk

bergerak sedangkan bakteri yang tidak memiliki flagela bergerak dengan cara
seperti berguling (Rosihan, 2015).
32

Manfaat Bakteri di Bidang Pangan dan Farmasi

2.6.1 Manfaat Bakteri di Bidang Pangan


Beberapa bahan makanan yang dibuat dengan menggunakan
mikroorganisme sebagai bahan utama prosesnya, misalnya pembuatan bir dan
minuman anggur dengan menggunakan ragi, pembuatan roti dan produk air
susu dengan

bantuana bakteri asam laktat, dan pembuatan cuka dengan

bantuan bakteri cuka. Pengolahan kacang kedelai di beberapa negara banyak


yang menggunakan bantuan fungi, ragi dan bakteri asam laktat. Bahkan
asam laktat dan asam sitrat yang dalam jumlah besar diperlukan oleh industri
bahan makanan masing-masing dibuat dengan bantuan asam laktat dan
Aspergillus niger. Produksi ragi, bakteri dan alga dari media murah
mengandung garam nitrogen anorganik, cepat saji, dan menyediakan sumber
protein dan senyawa lain yang sering digunakan sebagai makanan tambahan
untuk manusia dan hewan. Beberapa kelompok mikroorganisme dapat
digunakan

sebagai

indikator

kualitas

makanan.

Mikroorganisme

ini

merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya di makanan di atas batasan


jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos
yang dapat mengintroduksi organisme berbahaya dan menyebabkan proliferasi
spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, coliform dan fekal
streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak
higinis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini
sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan
(Hidayati dkk, 2015).
1

Acebacter Xylium
Pada setiap buah kelapa menghasilkan air sejumlah 50-150 ml,
sehingga sebagian besar kelapa beirisi air.Dalam air kelapa memiliki manfaat
selain untuk sumber elektrolit, bisa digunakan sebagai bahan pembuat nata de
coco. Nata de coco sama halnya dengan yoghurt yaitu hasil dari fermentasi.
Bakteri yang berperan untuk nata de coco adalah bakteri acebakter xylium

(Hidayati dkk, 2015).


Lactobacillus Bulgarius
Yoghurt adalah minuman yang tidak asing dengan telinga
masyarakat, sudah menjadi minuman sehari-sehari karena rasanya yang enak
33

dan aroma yang sedap membuat tertarik berbagai lapisan masyarakat. Berasal
dari susu fermentasi yang dibuat oleh bakteri probiotik yaitu lactobacillus
3

bulgarius dan streptococcus thermophillus (Hidayati dkk, 2015).


Gluconobacteriumdan Acetobacter
Gluconobacteriumdan Acetobacter adalah bakteri pada pembuatan
cuka sering digunakan dalam industri yang memproduksi asam asetat dari
alkohol (Much, 2004). Acetobacter Xylinium adalah bakteri yang digunakan
dalam pembuatan nata de coco dengan memproduksi kapsul berlebih. Bakteri
ini dapat tumbuh dan berkembang dalam medium gula dan akan mengubah
gula menjadi selulosa (Much, 2004). Bakteri Acetobacter dapat memproduksi
biofilm selulosa (nata) yang merupakan hasil metabolisme Acetobacter sp
yang prosesnya dikendalikan oleh plasmidnya (Rezaee et al, 2005). Dalam
industri biomedik nata banyak digunakan dan untuk pembuatan kertas yang

memiliki mutu yang lebih bagus (Neelobon et al, 2007).


Lactobacillus sp.
Lactobacillus sp. digunakan untuk membuat yogurt, mentega dan
keju. Lactobacillus Hetrofermentatif berperan dalam pembuatan keju Swiss
karena bakteri ini daat memproduksi gas dan senyawa fotil yang penting
sebagai pembentuk cita rasa dalam makanan fermentasi (Much, 2004). Pada
pembuatan yogurt bakteri Lactobacillus burgaricusmemiliki kemampuan
mikroflora usus non-patogen untuk bergabung dengan dan mengikat pada
usus di jaringan perbatasan yang bersentuhan dianggap dapat mencegah
patogen berbahaya dari jalan masuk mukosa gastrointestinal. Untuk
Lactobacillus burgaricus memiliki efek sehingga harus beradaptasi dengan
lingkungan usus manusia dan mampu bertahan hidup lama di saluran usus.
Kadar pH lambung serta paparan enzim pencernaan dan garam empedu
mempengaruhi

kelangsungan

hidup

Lactobacillus

burgaricus,

dan

kemampuan spesies Lactobacillus burgaricus berbeda untuk bertahan hidup


di lingkungan gastrointestinal (Oskar, 2004). Jaringan limfoid mukosa dari
saluran pencernaan memiliki peran penting sebagai garis pertama pertahanan
terhadap patogen tertelan. Interaksi Lactobacillus burgaricus dengan lapisan
epitel mukosa saluran pencernaan, serta dengan sel limfoid yang berada di
usus, telah diusulkan sebagai mekanisme yang paling penting dimana
Lactobacillus burgaricus meningkatkan fungsi kekebalan tubuh usus.
34

Beberapa

faktor

telah

diidentifikasi

sebagai

kontribusi

terhadap

imunomodulasi dan kegiatan antimikroba Lactobacillus burgaricus, termasuk


produksi pH rendah, asam organik, karbon dioksida, hidrogen peroksida,
bakteriosin, etanol, dan diacetyl, penipisan nutrisi dan persaingan untuk
ruang hidup yang tersedia (Oskar, 2004). Dalam laporan yang membahas
efek dari yogurt dan Lactobacillus burgaricus di laxation. Studi yang
dipublikasikan kedua efek signifikan (G Wilhelm, 1993: 69) dan tidak ada
efek yogurt atau Lactobacillus burgaricus pada laxation dan transit
gastrointestinal (Oskar, 2004).
2 Manfaat Bakteri di bidang Farmasi
Berikut adalah peran bakteri dalam menghasilkan produk-produk yang
dapat bermanfaat dalam bidang farmasi.
1

Antibiotik
Era modern penggunaan antibiotik untuk mengatasi penyakit infeksi
dimulai ketika Alexander Fleeming pada tahun 1928 menemukan penisilin
yang dihasilkan oleh Penicillinum notatum (Radji, 1955).
Pada tahun 1940, sebuah kelompok peneliti yang diketuai oleh
Howard Flory dan Ernst Chain dari Universitas Oxford berhasil melakukan
uji klinik pertama untuk membuktikan efektifitas penisilin dalam pengobatan
penyakit infeksi. Para ilmuan Inggris ini kemudian melakukan penelitian
yang intensif bersama ilmuan Amerika Serikat sehingga ditemukan suatu
galur Pennicilium yang lebih produktif untuk skala industri. Sejak itu
berbagai upaya pencarian antibiotik baru telah dilakukan dan beberapa jenis
antibiotik baru telah ditemukan dan diproduksi dalam skala industri.
Sebetulnya, antibiotik tidak terlalu sulit ditemukan , tapi sangat sedikit yang
dapat diproduksi dalam skala besar dan dapat digunakan dalam pengobatan

(Radji, 1955).
Enzim
Aspergillus foetidus dan Byssochlamys fulfa menghasilkan beberapa
jenis enzim yang dapat menguraikan pektin, antara lain pektinesterase,
poligalakturonase, dan galaktanase (Radji, 1955).
Beberapa spesies bakteri Streptococcus dapat menghasilkan enzim
yang bermanfaat untuk terapi, antara lain streptokinase dan streptodinase.
Filtrat biakan perbanihan bakteri Streptococcus juga mengandung enzim
35

hialuronidase, proteinase, dan beberapa enzim yang memengaruhi asam


nukleat (Radji, 1955).
Streptokinase dapat digunakan untuk membatu enzim proteolitik
dalam darah dan dapat mengaktifkan plasminogen darah. Jadi, streptokinase
dapat membantu menghilangkan bekuan darah di dalam pembekuan darah.
Enzim streptokinase dapat menguraikan DNP dan DNA, yang merupakan
senyawa kompleks yang ada dalam nanah. Dengan demikian penggunaan
enzim streptodornase dapat mengurangi viskositas nanah penderita (Radji,
3

1955).
Vitamin
Vitamin merupakan senyawa yang sangat penting dalam membantu
metabolisme dan sering digunakan untuk mengingkatkan kesehatan dan daya
tahan tubuh. Vitamin B diproduksi oleh Pseudomonas denitrificans dan
Preptonibacterium shermanii. Ribovlavin juga dapat diproduksi melalui
proses fermentasi dengan bantuan Ashbya gossypii. Demikian pula, vitamin
C dapat diproduksi melalui proses modifikasi glukosa dengan bantuan
Acetobacter (Radji, 1955).

Dekstran
Dekstran merupakan ekspopolisakarida yang dihasilkan oleh beberapa
bakteri asam laktat, antara lain Leuconoctoc mesenteroides dan Leuconostoc
dekstranicus. Dekstran dapat dimanfaatkan dalam bidang pengobatan untuk
subtitusi plasma darah. Jika dekstran diberikan secara intravena, sejumlah
efek farmakologis yang menguntungkan bagi kesehatan dapat diperoleh
karena dekstran mempunyai efek antiplatelet, antifibrin, serta berguna
sebagai penambah volume plasma pada keadaan hipovolemia dan dapat

menghalangi agregasi trombosit (Radji, 1955).


Asam amino
Beberapa mikroorganisme dapat menghasilkan beberapa jenis asam
amino dalam jumlah yang cukup banyak. Sebagai contoh, lisin, asam
glutamat, dan triptofan dihasilkan oleh Corynebacterium glutamicum (Radji,
1955).

36

BAB III
PENUTUP
1

Kesimpulan
1 Bakteri adalah organisme hidup yang sangat kecil (mikroskopik) dan
kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif
sederhana tanpa nukleus/inti sel, sitoskeleton, dan organel lain seperti
2

mitokondria dan kloroplas.


Reproduksi bakteri dibagi menjadi dua golongan besar yaitu aseksual
(seperti pembelahan, pembentukan tunas/ cabang, dan pembentukan
filamen) dan seksual (secara meiosis dan fertilisasi mengkombinasi DNA

dari dua individu ke dalam satu zigot).


Klarifikasi atau jenis bakteri dibagi menjadi empat golngan pembeda,
yaitu : Berdasarkan cara memperoleh makanannya, Berdasarkan Kebutuhan
Oksigennya, Berdasarkan Suhu untuk Pertumbuhannya, Berdasarkan
Struktur Kimia Dinding Selnya, Berdasarkan Hubungan Evolusinya,

37

Berdasarkan sifat kimia, Jenis Bakteri berdasarkan bentuknya, Klasifikasi


4

Bakteri Berdasarkan Kedudukan Alat Gerak


Metabolisme bakteri terbagi menjadi metabolisme karbohidrat (Fermentasi

dan respirasi aerob dan non aerob), lemak dan protein


Karakteristik bakteri secara umum merupakan organisme prokariota yang
berukuran mikroskopik, merupakan organisme parasit dan non parasit yang

kebnyakan tidak berklorofil


Bakteri memiliki manfaat dibidang pangan dan kesehatan. Dalam segi
pangan seperti pada pembuatan nata de coco, yogurt dan cuka. Padda
bidang kesehatan bakteri dimanfaatkan dalam pembuatan antibiotik,
vitamin, enzim dekstran dan asam amino

Saran
Diharapkan bagi pembaca makalah ini dapat menambah pengetahuan
dan diharapkan untuk menambahkan hal-hal yang kurang dari makalah ini
dengan mencari sumber secara online melalui situs terpercaya serta membaca
beberapa buku mengenai mikrobiologi.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D.1998.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang: Djambatan


Hadioetomo. 1988. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: PT. Gramedia
Hidayati dkk. 2015. Bakteri. Ilmu gizi. STIKES Alma Ata Yogyakarta
Lay, Bibiana.W.1994.Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: Rajawali
Neelobon S., J. Burakorn, and S. Thaenthanee. 2007. Effect of culture Condition
on Bacterial Celluloce (BC) production from Acetobacter xylium TISTR 976 and
Phisical Properties of BC Parchment Paper. Bureau of Community Tecnology,
Department of Science Servis, Ministy of Science and Technology. Bangkok
Oskar Adolfsson, Simin Nikbin Meydani, and Robert M Russell. 2004. Yogurt
and gut function. Am J Clin Nutr August 2004 vol. 80 no. 2 245-256
38

Radji, maksum. 1955. Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan


Kedokteran. Jakarta: ECG
Rosihan, amha. 2015. http://www.astalog.com/7303/jelaskan-peranan-bakteri-dibidang-kedokteran.htm (diakses 6 Maret 2016)
Suriawiria. 2002. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta: PT. Garaemedia
Tryana, S.T. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang: Djambatan
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Malang : UMM Press.

39

Anda mungkin juga menyukai