Anda di halaman 1dari 17

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK

PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN


BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makanan sebagai sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral
sangat diperlukan bagi kesehatan fisik, pertumbuhan, dan mengatur proses
metabolisme. Makanan yang berkualitas, aman dan menarik dapat diperoleh
melalui perlakuan yang tepat pada setiap tahapan produksi, mulai dari persiapan,
pengolahan, penyimpanan, pemasaran dan penggunaannya. Makanan yang tidak
aman jika dikonsumsi dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan berakibat
pada kematian.
Produk makanan saat ini sangat beragam bentuknya, baik dari segi jenisnya
maupun dari segi rasa dan cara pengolahannya. Namun seiring dengan pesatnya
teknik pengolahan pangan, penambahan bahan-bahan aditif pada produk makanan
sulit untuk dihindari. Akibatnya keamanan pangan yang menjadi dasar dalam
pemilihan produk untuk dikonsumsi.
Salah satu bahan tambahan pangan adalah bahan pengawet untuk
mengawetkan makanan dan menambah daya tarik konsumen. Bahan pengawet
umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang mempunyai sifat mudah
rusak. Bahan ini dapat menghambat atau memperlambat proses fermentasi,
pengasaman, atau penguraian yang disebabkan oleh mikroba. Penambahan bahan
pengawet dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
pencampuran, penyelupan, penyemprotan, pengasapan, dan pelapisan pada
pembungkus pangan.
Formalin memiliki kemampuan yang sangat baik ketika mengawetkan
makanan, namun walau daya awetnya sangat luar biasa, penggunaan formalin
dilarang pada makanan karena bahaya residu yang bersifat karsinogenik bagi
tubuh manusia.
Salah satu makanan yang sering ditambahkan formalin oleh penjual
ataupun produsen adalah tahu yang merupakan makanan dari hasil olahan kedelai.
Tahu memiliki kandungan air yang tinggi sehingga mudah rusak dan ditumbuhi
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
mikroba, hal inilah yang mengakibatkan tahu tidak tahan lama dan mudah rusak
atau basi. Tahu merupakan makanan asli Indonesia yang disukai oleh hampir
seluruh masyarakat Indonesia. Tahu memiliki rasa yang khas dan memiliki
kandungan gizi yang tinggi. Selain itu, tahu mengandung nutrisi kompleks yang
mudah diserap oleh tubuh, harganya murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat. Tahu dapat diolah menjadi berbagai macam olahan makanan dan
dapat dengan mudah didapatkan di pasar tradisional.
Mengingat pentingnya masalah keamanan makanan, maka sangat perlu
dilakukan uji terhadap kandungan zat-zat berbahaya yang terkandung dalam
suatu produk makanan. Oleh karena itu dialkukan praktikum ini untuk
mengetahui kadar formalin dalam tahu sehingga nantinya dapat diketahui dari
kelayakan produk tersebut untuk dikonsumsi.
1.2 Maksud praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui

dan

memahami cara penentuan kadar formalin dalambahan makanan.


1.3 Tujuan praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentuaka kadar formalin
dalam tahu.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Teori Umum
Validasi metode adalah proses yang dilakukan di labolatorium bahwa
karakteristik metode analisis memenuhi persyaratan sesuai penggunaannya.
Menurut USP XXXI 2008), karakteristik metode analisis dinyatakan sebagai
parameter analisis, yaitu selektifitas/spesifisitas, linieritas, batas kuantitasi, batas
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
deteksi, presisi, akurasi, ruggedness dan ketegaran (robustness). Validasi metode
dilakukan untuk menjamin reprodusibilitas hasil. Metode Spektrofotometri sering
dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu mempunyai sensitifitas
yang tinggi, cara pengerjaan sederhana, cepat dan biaya relatif murah
(Paramitasari,2013 ).
Tahu adalah makanan dari kedelai putih yang digiling halus, direbus, dan
dicetak (KBBI). Tahu merupakan salah satu makanan sumber protein yang
banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Kandungan protein nabati yang tinggi pada
tahu dianggap dapat menggantikan protein hewani. Tetapi dibalik keuntungan
tersebut, tahu belum tentu aman dikonsumsi secara terus-menerus. Tahu
merupakan produk makanan yang rentan rusak maka tak jarang produk berbahan
dasar tahu ditambahkan pengawet seperti formalin agar lebih tahan lama
(Hadijanto, 2014).
Formalin adalah larutan formaldehid dalam air dengan kadar 37% yang
biasa di gunakan untuk mengawetkan sampel biologi atau mengawetkan mayat.
Formalin merupakan bahan kimia yang disalahgunakan pada pengawetan tahu,
mie basah, dan bakso. Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia
dengan berat molekul 30,03 yang pada suhu kamar dan tekanan atmosfer
berbentuk gas tidak berwarna, berbau pedas (menusuk) dan sangat reaktif
(mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan sangat mudah larut
dalam etanol dan eter (Djoko, 2006).
Formalin merupakan bahan kimia yang biasa dipakai untuk membasmi
bakteri atau berfungsi sebagai desinfektan. Zay ini termasuk dalam golongan
kelompok desinfektan kuat, dapat membasmi berbagai jenis bakteri pembusuk,
penyakit, cendawan atau kapang disamping itu juga dapat mengeraskan jaringan
tubih setiap hari.

Kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar. Skala

kecil, formaldehida sebutan lain untuk formalin secara alami ada di alam.
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
Contohnya gas penyebaab bau kentut atau bau telur busuk. Formalin diudara
terbentuk dari pembakaran gas metana dan oksigen yang ada diatmosfer, dengan
bantuan sinar matahari. Formalin mudah larut dalam air sampai kadar 55 %,
sangat

reaktif

dalam

suasana

alkalis,

serta bersifat

sebagai

zat

pereduksi yang kuat, mudah menguap karena titik didihnya rendah yaitu
-210C (Winarno, 2004).
Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya,
misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai jenis
keperluan industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi
lalat maupun berbagai serangga lainnya. Formalin di dalam dunia fotografi
biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin juga
sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, bahan pembuat produk
parfum, pengawet bahan kosmetika, pengeras kuku. Formalin boleh juga dipakai
sebagai bahan pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu,
formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (polywood).
Formalin dalam kosentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet
untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci
piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Produsen
sering kali tidak tahu kalau penggunaan formalin sebagai bahan pengawet
makanan tidaklah tepat karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan
bagi konsumen yang memakannya. Beberapa penelitian terhadap tikus dan
anjing menunjukkan bahwa pemberian formalin dalam dosis tertentu pada jangka
panjang bisa mengakibatkan kanker saluran cerna. Penelitian lainnya
menyebutkan peningkatan risiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum
nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan
(Yuliarti, 2007).

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
Peraturan menteri kesehatan sudah menyatakan bahwa formalin
merupakan bahan tambahan makanan terlarang, ternyata pada kenyataannya
masih banyak para pedagang/produsen makanan yang nakal tetap menggunakan
zat berbahaya. Formalin digunakan sebagai pengawet makanan, selain itu zat ini
juga bias meningkatnkam tekstur kekenyalan produk pangan sehingga
tampilannya menarik ( walaupun kadang bau khas makanan itu sendiri menjadi
berubah karna formalin ). Makanan yang rawan dicampur bahan berbahaya ini
biasanya seperti bahan basah seperti ikan, mie, tahu hingga jajanan anak sekolah
(Afrianto, 2008).
Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi
metode analisis diuraikan dan didefinisikan sebagaimana cara penentuannya
( Harmita,2004):.
1. Kecermatan (accuracy)
Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil
analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai
persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan
hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik di dalam
keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk mencapai kecermatan
yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi galat sistematik
tersebut seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan
pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya yang
cermat, taat asas sesuai prosedur.
Kecermatan ditentukan dengan dua cara yaitu metode simulasi
(spiked-placebo recovery) atau metode penambahan baku (standard addition
method). Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan murni (senyawa
pembanding kimia CRM atau SRM) ditambahkan ke dalam campuran bahan
pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis dan
hasilnya dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar yang
sebenarnya). Dalam metode penambahan baku, sampel dianalisis lalu
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
sejumlah tertentu analit yang diperiksa ditambahkan ke dalam sampel
dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar
yang sebenarnya (hasil yang diharapkan). Dalam kedua metode tersebut,
persen peroleh kembali dinyatakan sebagai rasio antara hasil yang diperoleh
dengan hasil yang sebenarnya. % Perolehan kembali dapat ditentukan dengan
cara membuat sampel plasebo (eksepien obat, cairan biologis) kemudian
ditambah analit dengan konsentrasi tertentu (biasanya 80% sampai 120% dari
kadar analit yang diperkirakan), kemudian dianalisis dengan metode yang
akan divalidasi
2. Keseksamaan (precision)
Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari
rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang
diambil dari campuran yang homogeny.
Keseksamaan diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku
relatif

(koefisien

variasi).

Keseksamaan

dapat

dinyatakan

sebagai

keterulangan (repeatability) atau ketertiruan (reproducibility). Keterulangan


adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis yang
sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek.
Keterulangan dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap
terhadap sampel-sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi
memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal. Ketertiruan
adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang berbeda.
Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium-laboratorium yang berbeda
menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut, dan analis yang berbeda pula.

3. Selektivitas (Spesifisitas)
Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang
hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya
komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel. Selektivitas
seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias)
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang
ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing
lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak
mengandung bahan lain yang ditambahkan ( Harmita, 2004).
Selektivitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis
sampel yang mengandung cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa
asing lainnya atau pembawa plasebo dengan hasil analisis sampel tanpa
penambahan bahan-bahan tadi. Penyimpangan hasil jika ada merupakan
selisih dari hasil uji keduanya.
4. Linearitas dan Rentang
Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan
respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik
yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang
metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah
ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan
linearitas yang dapat diterima.
Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis
regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh
dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit.
Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui persamaan
garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap

5.

konsentrasi analit.
Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan
blangko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi
merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas
terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan
seksama.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada
metode analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang
tidak menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi
analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat.
6. Ketangguhan metode (ruggedness)
Ketangguhan metode adalah derajat ketertiruan hasil uji yang
diperoleh dari analisis sampel yang sama dalam berbagai kondisi uji normal,
seperti laboratorium, analisis, instrumen, bahan pereaksi, suhu, hari yang
berbeda, dll. Ketangguhan biasanya dinyatakan sebagai tidak adanya
pengaruh perbedaan operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji.
Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada kondisi operasi
normal antara lab dan antar analis.
Ketangguhan metode ditentukan dengan menganalisis beningan suatu
lot sampel yang homogen dalam lab yang berbeda oleh analis yang berbeda
menggunakan kondisi operasi yang berbeda, dan lingkungan yang berbeda
tetapi menggunakan prosedur dan parameter uji yang sama. Derajat
ketertiruan hasil uji kemudian ditentukan sebagai fungsi dari variabel
penentuan. Ketertiruan dapat dibandingkan terhadap keseksamaan penentuan
di bawah kondisi normal untuk mendapatkan ukuran ketangguhan metode
7. Kekuatan (Robustness)
Untuk memvalidasi kekuatan suatu metode perlu dibuat perubahan
metodologi yang kecil dan terus menerus dan mengevaluasi respon analitik
dan efek presisi dan akurasi.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
BAB 3 METODE KERJA
3.1 Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah botol semprot,
erlenmeyer 250 mL, gelas kimia 50 ml dan 100 ml, pipet tetes, pipet volume
3.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah aquadesh,
aluminium foil, asam kromatoprat, asam sulfat pekat, tahu dan tissue.
3.3 Cara Kerja
1. Pembuatan asam kromatoprat
Disiapkan alat dan bahan kemudian timbang 2,5 gram asam kromatoprat,
kemudian ditambahkan 3,75 ml asam sulfat pekat dan dilarutkan dengan 5 ml
aquadesh.
2. Pembuatan formalin
Disiapkan alat dan bahan, kemudian dibuat formalin dengan konsentrasi
100 ppm. Kemudian ditambahkan asam kromatoprat 1,2 ml, dan akan
membentuk warna ungu.
3. Pengujian kualitatif formalin
Disiapkan alat dan bahan, kemudian ditimbang 5 gram sampel tahu
kemudian ditambahkan asam kromatoprat 1,2 ml. jika positif mengandung
formalin maka akan membentuk warna ungu.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Sampel
Tahu

Volume asam

Hasil

kromatopat

(Formalin)

1,2 ml

Negatif

4.2 Pembahasan
Validasi metode adalah proses yang dilakukan di labolatorium bahwa
karakteristik metode analisis memenuhi persyaratan sesuai penggunaannya.
Validasi metode dilakukan untuk menjamin reprodusibilitas hasil. Metode
Spektrofotometri sering dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu
mempunyai sensitifitas yang tinggi, cara pengerjaan sederhana, cepat dan biaya
relatif murah.
Tahu merupakan salah satu makanan sumber protein yang banyak
dikonsumsi oleh masyarakat. Kandungan protein nabati yang tinggi pada tahu
dianggap dapat menggantikan protein hewani. Tetapi dibalik keuntungan
tersebut, tahu belum tentu aman dikonsumsi secara terus-menerus. Tahu
merupakan produk makanan yang rentan rusak maka tak jarang produk berbahan
dasar tahu ditambahkan pengawet seperti formalin agar lebih tahan lama.
Tujuan dilakukan praktikum ini yaitu untuk menentukan kadar formalin
dalam sampel tahu.
Pada percobaan ini pertama-tama dibuat larutan asam kromatoprat,
kemudian timbang 2,5 gram asam kromatoprat, lalu tambahkan ditambahkan
3,75 ml asam sulfat pekat dan dilarutkan dengan 5 ml aquadesh. Selanjutnya
dibuat larutan formalin dengan konsentrasi 100 ppm. Kemudian ditambahkan
asam kromatoprat 1,2 ml, dan akan membentuk warna ungu.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
Terakhir dilakukan pengujiankadar formalin dalam tahu secara kualitatif,
ditimbang 5 gram sampel tahu kemudian ditambahkan asam kromatoprat 1,2 ml.
jika positif mengandung formalin maka akan membentuk warna ungu. Reaksi
pewarnaan ini terjadi berdasarkan kondensasi formaldehid dengan sistem
aromatik dari asam kromatoprat, membentuk senyawa berwarna. Pewarnaan
disebabkan terbentuknya ion karbenium-oksonium yang stabil.
Dari hasil percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa sampel tahu tidak
mengandung formalin dimana dapat dilihat tidak terjadi perubahan warna. dan
nilai linearitas = 3,552 % hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
sediaan biologi memiliki nilai linearitas < 5% dan sediaan farmasi memiliki
nilai linearitas < 2%. Nilai presisi (KV) = 0,385% hal ini sesuai dengan literatur
karena syarat KV adalah < 2% . Nilai LOD = 0,0054 dan nilai LOQ = 0,0180 hal
ini juga sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa nilai LOD tidak boleh
lebih besar dari nilai LOQ.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sampel
tahu tidak mengandung formalin. dan nilai linearitas = 3,552 % hal ini sesuai
dengan literatur

yang menyatakan bahwa sediaan biologi

memiliki nilai

linearitas < 5% dan sediaan farmasi memiliki nilai linearitas < 2%. Nilai presisi
(KV) = 0,385% hal ini sesuai dengan literatur karena syarat KV adalah < 2% .
Nilai LOD = 0,0054 dan nilai LOQ = 0,0180 hal ini juga sesuai dengan literatur
yang menyatakan bahwa nilai LOD tidak boleh lebih besar dari nilai LOQ.
5.2 Saran
Agar praktikan dapat lebih tenang selama praktikum untuk tidak
mengganggu proses pengerjaan.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, Edi., 2008., Pengawasan Mutu Produk Bahan Pangan., sekolah menengah
kejuruan ., Departemen Pendidikan Nasional.
Djoko. 2006. Ipa Terpadu. Grafindo Media Pratama.
Harmita., 2004., Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode Dan Cara Perhitungannya.,
Departemen Farmasi FMIPA-UI.
Paramitasari, Poedjiartis., 2013., Validasi Spektrofotometri Visible Untuk Penentuan
Kadar Formalin Dalam Daging Ayam., Chemistry Departement, Faculty of
Pharmacy, Airlangga University.
Hadjiyanto K, Puspasari G., 2014., Uji Kualitatif Formalin Dalam Tahu Kuning Di
Pasar X Kota Bandung Tahun 2014., Universitas Kristen Maranatha.
Winarno, FG. 2004. Keamanan Pangan 2. M Brio Press. Bogor
Yuliarti, N. 2007. Awas Bahaya di balik Lezatnya makanan. Yogyakarta.

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
LAMPIRAN
A. Gambar

Sampel tahu
B. Perhitungan
1. Linieritas
No

ABlank

Formalin
(ppm) (x)
0,0370
0,0444
0,0740
0,1480
0,1859
0,2017
0,2115
0,2307
0,2415

Absorbtion (y)

Hasil regresi : a =
1
0,011
0,019
2
0,011
0,028
0,00675
b=
3
0,011
0,034
0,4033
r=
4
0,012
0,074
5
0,010
0,079
0,9749
6
0,010
0,083
7
0,011
0,095
Dengan
8
0,012
0,105
menggunakan
9
0,010
0,123
Rata-rata 0,0108
persamaan
SD
0,0008
y = a + bx, maka dihitung data ke 3 sampai data ke 7.
y1 = 0,0067 + 0,4033 0,0740
= 0,0365
y2 = 0,0067 + 0,4033 0,1480
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
= 0,0663
y3 = 0,0067 + 0,4033 0,1859
= 0,0816
y4 = 0,0067 + 0,4033 0,2017
= 0,0880
y5 = 0,0067 + 0,4033 0,2115
= 0,0919
Untuk mencari (y1 y )2
(y1 y )2 = (0,0365- 0,034)2
(y1 y )2 = (0,0663- 0,074)2
(y1 y )2 = (0,0816- 0,079)2
(y1 y )2 = (0,0880- 0,083)2
(y1 y )2 = (0,0919 - 0,095)2
Y (y1 y )2 = 16,62 x 10-6
2
( y 1 y )
a. SY =
n2
SY =
SY =

= 6,25 x 10-6
= 0,59 x 10-6
= 6,76 x 10-6
= 0,25 x 10-6
= 9,61 x 10-6

16,62 x 106
52

4,076 x 103
1,732

SY = 2,353 x 10-3
SY
b. SX0 = b
SX0 =

2,353 x 103
0,4033

SX0 = 5,834 x 10-3


SX 0
100
c. VX0 =
X
VX0 =

5,834 x 103
100
0,1642

VX0 = 3,552 %
Syarat linearitas :
Sediaan biologi = < 5%
SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
Sediaan farmasi = < 2%
2. LOD/LOQ
No

ABlank

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata
SD

0,011
0,011
0,011
0,012
0,010
0,010
0,011
0,012
0,010
0,010
0,0108
0,0008

Hasil regresi :
a. LOD =

Formalin
(ppm) (x)
0,0370
0,0444
0,0740
0,1480
0,1859
0,2017
0,2115
0,2307
0,2415

a = 0,00358

Absorbtion (y)
0,019
0,028
0,034
0,074
0,079
0,083
0,095
0,105
0,123

b = 0,442

3 x SD
b

r = 0,982848

b. LOQ =

3 x 0,0008
0,442

= 0,0054

= 0,0180

3. Presisi
No
1
2
3
4
5
6
7

Serapan
0,290
0,290
0,289
0,291
0,292
0,289
0,290

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

y-y
0,0006
0,0006
0,0016
0,0004
0,0014
0,0016
0,0006

(y-y)2
0,36 10-6
0,36 10-6
2,56 10-6
1,6 10-6
1,96 10-6
2,56 10-6
3,6 10-6

ANDI MULIYANI

10 x SD
b
10 x 0,0008
0,442

OPTIMASI DAN VALIDASI SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE UNTUK


PENENTUAN KADAR FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN
8
9
10
Rata-rata
a. SD =
SD =
SD =
SD =

0,291
0,292
0,292
0,2906

12,4 106
101

0,0000124
9

0,0004
0,0014
0,0014

1,6 10-6
1,96 10-6
1,96 10-6
= 12,4 10-6

( y y)
n1

0,00352
3

SD = 0,0017
SD
100
b. KV = b

KV =

0,0017
100
0,442

KV = 0,385%
Syarat KV adalah < 2%

SRI NURWAHIDA A.
15020130217

ANDI MULIYANI