Anda di halaman 1dari 14

Strategi Formula Baru Pada Terapi Topical Antijamur

Sevgi Gungor, M. Sedef Erdal, Buket Aksu


Bagian teknologi farmasi, fakultas farmasi, Universitas Istanbul, Istanbul, Turki, Perusahaan
Obat Santa farma, Istanbul, Turki
Diterima 16 November 2012, direvisi 14 Desember 2012; diterima 23 Desember 2012.
Abstrak
Infeksi jamur pada kulit merupakan suatu penyakit yang paling sering dijumpai dalam
penyakit kelainan kulit di seluruh dunia. Terapi topikal merupakan pilihan yang menarik
untuk pengobatan infeksi kutaneus dengan keunggulan seperti dapat memfokuskan
penggunaan obat pada daerah infeksi dan mengurangi resiko efek samping sistemik. Saat ini,
obat antijamur secara umum digunakan yaitu krim konvensional dan preparat jel dalam
pengobatan topikal. Efisiensi dari pengobatan tergantung pada penetrasi obat melewati
lapisan target kulit pada konsentrasi yang efektif. Sedangkan stratum korneum, lapisan kulit
yang paling luar adalah lapisan pelindung yang sangat efektif untuk penetrasi obat menuju ke
lapisan kulit yang lebih dalam. Karakteristik fisio kimia dari molekul obat dan tipe dari
formula merupakan faktor efektif dalam pemberian obat topikal. Kemudian beberapa strategi
formula telah diinvestigasi untuk pemberian campuran antijamur terhadap daerah target pada
kulit. Ulasan artikel ini menitikberatkan pada pendekatan formula baru untuk meningkatkan
penetrasi obat anti jamur pada kulit.
Kata kunci: Antijamur; pembawa Coloidal; pembawa vesikular; pembawa partikular;
hantaran kulit.

1. Pendahuluan
Angka kejadian infeksi jamur superfisial pada kulit, rambut dan kuku telah meningkat di
dunia. Telah diperkirakan kira-kira 40 juta orang mengalami infeksi jamur pada negara
sedang berkembang dan negara maju. Perjalanan penyakit infeksi jamur dapat cepat dan
serius tergantung pada fungsi imun. Dermatophytes adalah salah satu penyebab yang paling
sering dari tinea dan onchomycosis. Infeksi kandida juga merupakan infesi jamur superfisial
kutaneus yang tersering tersebar. Bahkan candida dapat menginvasi jaringan lebih dalam

hingga pada darah yang dapat menyebabkan sistemik kandidiasis yang dapat mengancam
jiwa, ketika sistem imun lemah.
Pengobatan topikal dari infeksi jamur memiliki beberapa perioritas termasuk daerah
target infeksi, penurunan resiko dari efek samping sistemik, peningkatan efikasi dari
pengobatan dan kenyamanan pasien yang tinggi. Perbedaan tipe dari kandungan anti jamur
topikal yang efektif telah digunakan dalam pengobatan terhadap berbagai infeksi kulit secara
dermatologis.

Kelas

utama

dari

anti

jamur

adalah

polyenes,

azoles,

dan

allylamine/benzylamines. Cicloprox merupakan sebuah agen anti jamur yang juga dapat
digunakan secara topikal. Baru-baru ini, obat anti jamur ini secara komersil telah tersedia
dalam dosis konvensional dalam bentuk krim, jel, losion, dan spray.
Efisiensi dari pengobatan antijamur topikal tergantung terdapat penetrasi obat
melewati jaringan target. Karena itu, level konsentrasi obat efektif harus dicapai pada kulit.
Dalam pemberian obat anti jamur topikal, kandungan obat harus melewati stratum corneum,
yang merupakan lapisan terluar kulit, untuk mencapai lapisan lebih bawah dari kulit,
khususnya kedalam epidermis yang viable. Dalam konteks ini, formula dapat memegang
peranan penting untuk penetrasi obat ke dalam kulit. Pengembangan dari pendekatan
alternatif untuk pengobatan topikal dari infeksi jamur pada kulit meliputi sistem pembawa
baru untuk bahan yang disetujui dan diteliti. Pemberian campuran antijamur pada kulit dapat
ditingkatkan dengan pembawa seperti sistem koloidal, vesikular, dan nanopartikel.
Ulasan artikel ini memfokuskan pada klasifikasi antijamur topikal yang digunakan
pada berbagai infeksi jamur pada kulit. Penelitian baru-baru ini mengenai peningkatan dari
pendekatan formula alternatif untuk pemberian antijamur kutaneus telah diringkas.
2. Pemberian antijamur topikal lewat kulit
Kulit manusia adalah membran yang sangat terorganisir, dan memiliki tiga lapisan utama
yang disebut epidermis, dermis dan hypodermis, stratum corneum, bagian lapisan paling luar
dari epidermis terbentuk dari sel mati dan keratin, dan ia merupakan barier yang sangat baik
untuk penetrasi obat menuju kulit.
Obat harus menembus lapisan kulit untuk mendapatkan konsentrasi obat yang efektif
setelah pemberian obat secara topikal. Jenis dari formula hingga karakteristik fisiokimia
molekul obat merupakan parameter yang efektif dalam pemberian obat topikal. Dalam
pemberian obat topikal, masuknya obat kedalam sirkulasi sistemik dihindari atau dikurangi.

Sehingga efek samping sistemik obat dapat dihindari. Selain itu sediaan obat topikal dapat
membuat pasien lebih nyaman karena tidak invasif, dan mereka dapat memakainya sendiri.
Obat anti jamur harus mencapai konsentrasi terapeutik yang efektif dalam epidermis
yang viable setelah pemberian dermal. Tantangan yang paling besar untuk pemberian dermal
adalah stratum corneum, dan untuk meningkatkan permeabilitasnya, pendekatan formula
baru telah diteliti. Bahan pembawa obat koloidal seperti mikroemulsi, pembawa vesikular
termasuk liposomes, ethosomes dan niosomes dan lipidic dan juga pembawa partikulat adalah
jenis bahan pembawa yang baru untuk memastikan pemberian obat anti jamur dermal
berdasarkan target dermal.
3. Bentuk dosis konvensional dan mekanisme kerja dari obat antijamur topikal pada
pengobatan penyakit jamur
Daftar zat anti jamur topikal yang diizinkan dan diteliti diberikan secara keseluruhan pada
tabel 1. Agen antijamur topikal secara konvensional disenyawakan dengan berbagai tipe
vehiculum seperti salep, krim, losio, jel, atau spray. Sebagai tambahan beberapa agen
digunakan secara oral atau intravena juga termasuk karena penelitian yang dilakukan
memiliki tujuan target dermal atau transdermal dari obat anti jamur ini.
Anti jamur azole bekerja dalam suatu mekanisme aksi; mereka secara selektif
menghambat sintesis dari ergosterol sel jamur dan mereka meningkatkan permeabilitas dari
membran sel dengan berikatan dengan phospolipid pada membran sel jamur. Agen antijamur
azole pada penggunaan klinis berisi dua atau tiga nitrogen dalam cincin azole dan
diclasifikasikan sebagai imidazoles (contoh ketokonazole dan mikonazole, clotrimazole) atau
triazoles (contoh itraconazoles dan fluconazole).
Alylamine bekerja dengan menghambat epoxidase squalene, dimana ini merupakan
enzim esensial dalam pathway biosintesis ergosterol dari formasi membran sel jamur,
peningkatan dalam membran sel jamur membuat peningkatan permeabilitas sel dan hambatan
pertumbuhan. Benzylamines memblok squalene epoxidase.
Agen antijamur polyene bekerja dengan aktivitas antijamurnya dengan melekat secara
ireversible pada ergosterol membran sel jamur, sehingga polyenes merupakan fungicidal dan
memiliki spektrum terluas dari aktivitas antijamur dari agen manapun yang tersedia secara
klinis. Nystatin adalah sebuah derivat dari polyene dan secara terbatas digunakan hanya
untuk topikal. Secara klinis nystatin menunjukkan aktivitas antijamur luas dalam mengobati

infeksi jamur mukokutaneus. Efek samping tersering yang dilaporkan pada penggunaan
nystatin adalah dermatitis kontak alergi.
Ciclopirox adalah derivat hidroxypiridone sintetis yang membawa antijamur,
antibakteri, dan material antiinflamasi. Ciclopirox menghambat enzime esensial mengganggu
dengan proses transport elektron mitokondrial dan produksi energi. Ia aktif terhadap berbagai
jamur termasuk dermatofita dan ragi.

4. Pendekatan alternatif formula baru saat ini untuk meningkatkan pengobatan


penyakit jamur pada kulit
4.1. Bahan pembawa coloidal (mikroemulsi, micelles, nanoemulsi)
Mikroemulsi, transparan, termodinamis stabil, dan dispersi cairan isotropis,
merupakan sistem pembawa koloidal terpercaya untuk pemberian obat topikal dan
transdermal. Kelebihan dari topikal mikroemulsi termasuk peningkatan kelarutan obat,
kestabilan termodinamik yang tinggi, dan sediaan yang mudah dan murah. Minyak dan
surfaktan termasuk dalam komposisi mikroemulsi bekerja sebagai bahan tambahan untuk
perembesan obat melewati stratum cornemum. Komponen formula ini dari mikroemulsi dan
struktur internal dari fase tambahan difusi dari obat dan dapat meningkatkan partisi obat
terhadap stratum corneum.
Penguatan dan karakterisasi dari formula mikroemulsi topikal untuk obat antijamur
telah secara luas diteliti dalam literatur. Saat ini, El Hadidy Iet al. melaporkan bahwa sistem
mikroemulsi voriconazole menunjukkan secara signifikan lebih baik aktivitas antijamurnya
terhadap candida albicans dibandingkan dengan solusi supersaturasi. Rembesan voriconazole
melewati kulit babi telah berlangsung lebih dari 4 jam dengan pemberian formula
mikroemulsi berbahan dasar minyak jojoba.
Pada penelitian lain, patel dan temannya telah menyediakan minyak dalam air (o/w)
mikroemulsi dari ketokonazole dengan menggunakan alkohol lauryl sebagai minyak, labrasol
sebagai surfactan dan ethanol sebagai co surfactan. Ini telah menyimpulkan bahwa
penyerapan percutaneus dari ketoconazole dari mikroemulsi telah meningkat dengan
meningkatnya lauryl alkohol dan isi air, dan dengan berkurangnya rasio surfactan dan co
surfactan dalam formula. Sedangkan untuk mengevaluasi aktivitas antijamur dari formula
terbaik,

candida

albican

telah

digunakan

sebagai

contoh

jamur, dan

hasilnya

mengindikasikan bahwa terjadi inhibisi dengan zona terluas dengan formulasi mikroemulsi
dibandingkan formula konvensional rekomendasi dari ketokonazole. Keamanan dari formula
mikroemulsi dari ketokonazole untuk penggunaan topikal juga telah ditunjukkan berdasarkan
histopatologi data pada kulit tikus.
Mikroemulsi (o/w) dari itraconazole dibuat dalam bentuk sediaan jel polymeric
dengan lutrol F127, gum xantan, atau cabopol 934. Difusi terkendali mekanisme pelepasan
obat telah diikuti dari mikroemulsi berbahan dasar jel. Ketiak aktivitas antijamur dari
itraconazole telah dievaluasi, zona inhibisi terluas telah diobservasi dengan penggunaan
mikroemulsi jel dari sediaan itraconazole yang dicampur lutrol f127 mikro emulsi jel ini juga
dikenali tidak bersifat iritatif.
Berbagai jenis sistem pemberian fluconazole termasuk emulsi, emulgel, lipogel, dan
mikroemulsi yang dipertebal- berbahan dasar hidrogel telah dinilai untuk formula yang
dioptimalkan berdasarkan pemberian kapasitas obat pada kulit dan deposisi aktif senyawa ini
pada kulit. Propylene glycol dan diethylene glycol monoethyl ether telah digunakan sebagai
pembantu pelarut dan juga sebagai peningkat penetrasi untuk setiap sistem. Formulasi
mikroemulsi dari fluconazole berisi diethyilene glycol monoethyl ether telah ditentukan
sebagai formulasi terbaik karena kemampuannya memberikan semua dosis pada kulit dan
untuk meningkatkan penetrasi fluconazole juga, telah dilaporkan bahwa formulasi
mikroemulsi sediaan dengan diethyleneglycolmonoethyl eher memiliki aktivitas antijamur
yang lebih tinggi dibanding dengan yang berisikan propilene glycol.
Pada penelitian lain, sistem mikro emulsi fluconazole dari lauryl alcohol (oil),
labrasol (surfactan) dan ethanol (pembantu surfactan) telah diformulasikan dan efek dari
komponen formulasi pada rembesan kulit dari fluconazole telah dinilai dan diobservasi
bahwa absorbsi perkutaneus fluconazole dari mikroemulsi telah meningkat dengan
peningkatan minyak dan air, dan pengurangan rasio surfactan / co surfactan dalam formula.
Aktivitas antijamur yang terbaik dari formula mikroemulsi telah dinilai dalam zona inhibisi
dari kandida albikan, data mengindikasikan zone terluas dari inhibisi telah ditunjukkan pada
pemberian formula mikroemulsi terpilih.

Mikroemulsi berdasarkan formulasi lesitin organogel untuk pemberian topikal


flukonazol telah dikembangkan dan kesesuaiannya telah diteliti untuk mengatasi efek
samping gastrointestinal dari obat. Permeabilitas transdermal flukonazol dari-beda
konsentrasi yang berbeda dari organogels lesitin telah diperiksa melalui kulit tikus yang
dipotong. Organogel mengandung lesitin telah menunjukkan pelepasan obat yang lebih tinggi
dan lebih baik konsistensi relatif dan formulasi yang juga telah menunjukkan peningkatan
aktivitas antijamur.
Pengaruh vehiculum pada rilis dan perembesan flukonazol terlarut dalam minyak
jojoba telah dievaluasi oleh El Laithy dan El-Shaboury. Seri Cutinalipo-gel (Cutina CPA
[cetylpalmitate], CBS [campuran glyceryl stearat, alkohol cetearyl, setil palmitat, dan cocoglycerides], MD [gliseril stearat], dan GMS [gliseril monostearat]) dalam konsentrasi yang
berbeda serta gel mikroemulsi telah disiapkan. Candida albicans digunakan sebagai model
jamur untuk mengevaluasi aktivitas antijamur formula terbaik yang dicapai. Nilai tertinggi
telah dipastikan dari formulasi gel mikroemulsi dan aktivitas antijamur flukonazol
menunjukkan zona terluas inhibisi dengan gel mikroemulsi.
Sistem mikroemulsi untuk pemberian topikal clotrimazole dikembangkan dengan
menggunakan salah lemon minyak atau miristat isopropil sebagai fase minyak dan Tween 80
dan n butanol sebagai surfaktan dan co-surfaktan, masing-masing. Gel bentuk mikroemulsi
telah siap menggunakan Carbopol 934 sebagai matriks hidrogel. Mikroemulsi gel sistem
terdiri dari isopropil miristat, Tween 80, n butanol dan air telah ditentukan sebagai sistem
pemberian topical clotrimazole yang sukses untuk pengobatan infeksi jamur cutaneous karena
khasiat, tolerabilitas dan tinggi penyimpanannya dikulit untuk obat tersebut.
Zhao et al., mengembangkan gelatin yang mengandung organogels berbasis sarat
mikroemulsi dengan Butenafine hidroklorida sebagai obat Model. Mereka mengamati bahwa
jaringan struktur mikroemulsi gel terdiri dari isopropil miristat, natrium bis (2-etil-1-heksil)
sulfosuccinate, Tween 85 dan air dipengaruhi oleh konsentrasi obat dan hasilnya
menunjukkan bahwa gel mikroemulsi dapat digunakan sebagai vehiculum pemberian obat
transdermal potensial.
Misel adalah pembawa koloid dalam ukuran nano dengan inti hidrofobik dan
selubung hidrofilik. Mereka digunakan sebagai pembawa obat untuk obat tidak larut air dan
pembawa obat yang menarik memberikan peningkatan bioavailabilitas. spesifitas dan
kemanjuran pemberian obat berbasis misel dapat ditingkatkan melalui penggunaan pH-,

thermo-, ultrasound-, atau kopolimer blok peka cahaya dan lampiran menargetkan ligan ke
misel. Bachav et al., Mempelajari efek dari pembawa miceller pada kelompok azole yang
berbeda dari obat antijamur termasuk, clotrimazole, ekonazol nitrat dan flukonazol untuk
meningkatkan deposisi antijamur pada pemberian topikal berikut. Dalam studi ini, solusi
misel berair senyawa ini telah dirumuskan menggunakan novel amphiphilic metoksipolietilen glikol) hexyl menggantikan polylactide (MPEG-hexPLA) kopolimer blok. Pada
penelitian transport kulit vitro dilakukan dengan menggunakan ketebalan penuh kulit babi
dan manusia selama 6 jam menunjukkan bahwa deposisi econazole di kulit babi telah
ditemukan secara signifikan lebih tinggi daripada yang dari formulasi komersial liposomal.
Peningkatan endapan econazole pada kulit dicapai dengan menggunakan formulasi misel
yang disebabkan oleh kemampuan formula misel untuk meningkatkan bioavaibilitas obat
kutaneus.
Emulsi submikron atau nanoemulsions juga telah dievaluasi sebagai carier koloid
untuk meningkatkan efisiensi dan tolerabilitas obat antijamur yang digunakan secara topikal.
Nano Emulsi memiliki termodinamika yang stabil, transparan atau tembus pandang dispersi
berukuran nano minyak dalam air (o / w) atau air dalam minyak (w / o) distabilkan oleh
permukaan film surfaktan dan co-surfaktan.
Mereka terutama diproduksi baik oleh energi tinggi emulsifikasi (misalnya, tekanan
tinggi homogenisasi) atau dengan emulsifikasi energi rendah (menggunakan sifat fisikokimia
komponen)
Sebuah nistatin nanoemulsion untuk penggunaan topikal telah dikembangkan untuk
menghindari efek samping yang tidak diinginkan dari penyerapan sistemik dan toksisitas.
Penelitian Ex vivo penyerapan kulit manusia menunjukkan bahwa jumlah sisa obat sudah
cukup untuk memastikan efek antijamur dan nistatin tidak diserap ke dalam sirkulasi sistemik
Ekonazol atau miconazole nitrat, masing-masing, yang tergabung dalam emulsi
submikron positif dan negatif. Diamati bahwa ada sebuah hubungan antara muatan emulsi
dan perembesan kulit (Piemi et al., 1999). Dalam penelitian lain, perembesan kulit dan
akumulasi mikonazol nitrat dari mikroemulsi positif sedang diselidiki. Akumulasi mikonazol
nitrat dari mikroemulsi positif hampir dua kali lipat dari yang bermuatan negatif tanpa
bersamaan dengan peningkatan penyerapan sistemik.

4.2. Bahan Pembawa vesikular (Liposomes, Ethosomes, Niosomes dan Transfersomes)

Sistem vesikular seperti liposom Niosom, etho-somes dan transfersomes telah dikembangkan
untuk optimasi penetrasi obat di stratum korneum dan terutama untuk kulit menargetkan dari
obat. Sistem vesikular memiliki banyak keuntungan seperti mengontrol laju pelepasan obat
dari diterapkan perumusan dan lokalisasi obat diberikan topikal di lapisan kulit yang
ditargetkan. Selain itu, pemberian transdermal sistem vesikular membantu untuk membawa
obat ke dalam sirkulasi sistemik. Liposom didefinisikan sebagai vesikel yang mengandung
lipidic air. Liposom konvensional terdiri dari fosfolipid, sebagian besar fosfatidilkolin dari
kedelai atau kuning telur, dengan atau tanpa kolesterol.
Liposom adalah diterima sebagai pembawa obat kulit yang ideal karena kemampuan
mereka untuk mengubah profil biodistribusi obat dimasukkan. Liposom dapat teradsorpsi
pada permukaan kulit atau mungkin masuk ke fusion. Fusi liposom dapat memfasilitasi
penetrasi dermal obat. Penetrasi kulit lain Mekanisme perangkat tambahan penetrasi liposom
untuk stratum korneum sampai batas tertentu sebelum fusi dengan stratum lipid korneum,
yang mengarah ke deposisi obat dalam jaringan. Dengan mekanisme ini, terutama di kulit
liposom diberikan dapat dilokalisasi di lapisan yang berbeda dari kulit.
Schwarz dan rekan kerja yang dipekerjakan derivatif lisin untuk mengoptimalkan
mikro liposomal. Pengaruh oligopeptida Lys-5 dan Lys-7 pada struktur sebagai serta pada
perembesan obat antimycotic flukonazol kulit di Vesikel 1,2-dipalmitoil-sn-glisero-3fosfokolin adalah belajar menggunakan berbagai teknik. Penambahan Lys-5 dan Lys-7
memicu perubahan struktural menghasilkan penurunan ukuran partikel antara 10% dan 40%
pada liposom terutama terdiri dari vesikula unilamellar dan memperlambat efek perembesan
flukonazol pada kulit.
Aktivitas antijamur liposom sarat dengan miconazole telah dinilai menggunakan
Candida albicans, dan penetrasi kulit vitro formulasi liposom dari miconazole telah juga
diperiksa di kulit manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa propilen glikol-fosfolipid
vesikel tersedia deposisi kulit ditingkatkan nitrat miconazole dengan permeasi kulit minimum
. pada penelitian lain, penggabungan miconazole atau ketoconazole di liposom yang

mengakibatkan penundaan dan aktivitas antijamur obat karena berbagai

konsentrasi

fosfolipid dan sediaan liposomal lainnya.


Efek dari dua econazole tersedia secara komersial formulasi (ekonazol nitrat cream,
liposom econazole gel) pada kedua tidak terinfeksi epidermis manusia direkonstruksi dan
pada model kandidiasis kulit manusia memiliki diteliti dengan cahaya dan mikroskop
elektron. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa kerusakan penghalang di epidermis dan
efek iritasi beracun yang disebabkan oleh satu penerapan krim ke terinfeksi direkonstruksi
epidermis lebih dari gel liposom. Itu juga menunjukkan bahwa perubahan Candida albicansspesifik yang berbeda, yaitu hiperkeratosis, penebalan fokus stratum korneum, dyskeratosis
dan parakeratosis telah benar-benar dihilangkan menyusul penerapan liposom formulasi.
Niosom adalah jenis liposom dengan ionik non surfaktan. Niosom memiliki
keunggulan dalam hal biaya, dan stabilitas kimia dibandingkan dengan liposom konvensional
. Penetrasi kulit dari Niosom tergantung potensi aktivitas penetrasi-meningkatkan surfaktan
di dalamnya, penetrasi vesikel pada lapisan corneum, akumulasi vesikel pada permukaan
kulit dan / atau meningkatkan aktivitas termodinamika obat pada permukaan kulit.
Mekanisme ini tergantung pada fisio kimia dari obat, vesikel dan lipid digunakan. Dalam
studi pertama, Niosom sebagian besar diselidiki untuk membungkus senyawa kosmetik, tapi
kemudian mereka telah juga dievaluasi sebagai bahan pembawa obat. Sejumlah penelitian
juga melaporkan optimalisasi formulasi dari Niosom sarat dengan senyawa antijamur pada
literatur.
Flukonazol diisi liposom dan Niosom yang dibentuk oleh lipid / non-ionik kering film
berbasis surfaktan Metode hidrasi dan dimasukkan ke dalam gel Carbopol (1%; b / b) untuk
dipertahankan, aplikasi lokal untuk mencapai konsentrasi terapi lokal obat di kulit. Penelitian
retensi flukonazol pada percobaan kulit in vitro dan in vivo menunjukkan secara signifikan
lebih tinggi akumulasi obat dengan liposomal atau niosomal gel dibandingkan dengan gel
polos (14,2 dan 3,3 kali lipat lebih tinggi, masing-masing).
Flukonazol-loaded Niosom terdiri dari Span 40, Span 60, dan Brij 72 telah
dirumuskan oleh film Metode hidrasi. Dalam perembesan kulit vitro dan retensi Studi
menunjukkan bahwa Niosom membentuk depot obat lokal di kulit, menunjukkan
berkelanjutan pelepasan obat dan retensi peningkatan kulit flukonazol.
Dalam penelitian lain, sebuah niosome gel berisi alkohol hidroklorida Naftifine bebas
telah dikembangkan dan untuk simulasi telah dioptimalkan untuk mencapai jebakan

maksimum ditambah dengan stabilitas. Bermuatan negatif niosomes juga telah dimasukkan
ke dalam hydroxyethyl- gel selulosa.
Niosom juga telah dievaluasi sebagai operator untuk dermatitis mal pengiriman
ciclopirox Olamine. Hasil penelitian menunjukkan yang Niosom terdiri dari Span 60,
kolesterol dan diasetil fosfat yang menjanjikan sistem pembawa untuk retensi kulit pada
ciclopirox.
Ethosomes mengandung fosfolipid seperti lipoprotein klasik; Namun, juga
mengandung kadar alkohol yang tinggi. Telah menunjukkan bahwa komponen bisa mencapai
lapisan kulit yang lebih dalam atau masuk ke dalam circula- sistemik. Kadar etanol tinggi
ethosomes dapat meningkatkan kelarutan obat yang lebih lipofilik (Morrow et al.,2007).
Mekanisme aksi ini pembawa ini dalam meningkatkan perembesan telah dijelaskan oleh
kehadiran alkohol sebagai peningkat penetrasi. Etanol mengganggu lipid interseluler struktur
stratum korneum oleh fosfolipid didalamnya.
etanol ekonazol nitrat Nanovesicles telah dioptimalkan dan dibandingkan dengan
liposomal dan hidro-metanol gel. Gel Ethosomal dari mikonazol nitrat telah ditemukan
memiliki potensi yang luar biasa untuk melayani sebagai topikal sistem pengiriman, memiliki
pelepasan obat terkontrol, cara menyediakan aktivitas antijamur yang lebih baik, dan
stabilitas penyimpanan yang baik.
Efikasi klinis flukonazol dikemas ethosomes cocok untuk pengobatan dermatologis
pasien kandidiasis dinilai dengan lipoprotein somal gel, produk yang dipasarkan dan obat
larutan hidro-etanol. Dari evaluasi klinis, bangan yang oped sistem pembawa baru
menunjukkan peningkatan anti aktivitas jamur dibandingkan dengan formulasi liposomal,
formulasi dipasarkan dan solusi hydroethanolic obat.
Song dkk. menunjukkan bahwa transethosomes telah ditingkatkan signifikan
perembesan kulit vorikonazol disediakan untuk kontrol dan vesikel lainnya seperti dapat
dibentuk liposom, liposom konvensional. Mereka juga mengindikasikan bahwa in vitro dan
in vivo deposisi voriconazole pada kulit di wilayah dermis / epidermis telah terbukti dengan
penerapan formulasi ethosomal dari vorikonazol.
Transfersomes disebut sebagai sangat mudah dihancurkan atau liposom elastik.
Mereka terdiri dari fosfolipid dan surfaktan yang memberikan fleksibilitas untuk struktur

liposom. Transfersomes telah berhasil dinilai sebagai pembawa topikal dan transdermal untuk
obat-obatan dan juga telah telah terbukti efektif untuk operator materi genetik dan vaksin.
Transfersomes telah dievaluasi sebagai pembawa untuk pemberian antijamur.
Klotrimazol dimuat ethosomes telah menyebabkan fluidisasi dan ekstraksi kulit setelah
pengobatan, yang mengakibatkan obat yang lebih besar dibandingkan transfersomes
(ultradeformable liposom).

4.3. Sistem Pembawa Nanopartikel


Sistem pembawa nanoparticulate sebagai nanopartikel padat lipid (SLN) dan operator
erstrukturnano lipid (NLCS) telah mendapatkan ketertarikan untuk pengobatan topikal kulit
terkait infeksi jamur karena mereka memfasilitasi penetrasi obat yang dimuat pada kulit.
SLN adalah air-dalam-minyak emulsi yang mengandung padatan fase minyak, dan
sistem ini dibuat dari lipid padat atau dari campuran dari lipid. NLCS didefinisikan sebagai
baru generasi partikel lipid, yang telah dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan tertentu
SLN. NLCS mengandung campuran lipid padat yang berbeda dicampur dengan minyak cair.
Keuntungan yang paling penting dari ini operator adalah memiliki risiko rendah
toksisitas. Ukuran kecil dari partikel lipid Memastikan kontak dekat dengan stratum
korneum, dan dapat meningkatkan penetrasi kulit obat. Operator-operator menawarkan profil
pelepasan terkontrol untuk banyak senyawa. Di tahun terakhir SLN dan NLC membawa telah
dievaluasi
sebagai pembawa untuk senyawa antijamur.
Baru-baru ini, flukonazol dimuat SLN dan NLCS disiapkan dan ditandai untuk
parameter yang berbeda. Data yang diperoleh dari in vitro dan in vivo percobaan
menunjukkan bahwa jumlah signifikan lebih tinggi dari terkumpul obat lation diamati pada
kulit dengan aplikasi NLCS perumusan. Studi khasiat antijamur telah terbentuk pada
eksperimen diinduksi Candidiasis kulit pada tikus albino imunosupresi, temuan dikonfirmasi
kemanjuran terapi maksimal NLCS. Disimpulkan bahwa NLCS memberikan kulit yang baik
menargetkan efek dan mungkin menjadi pembawa menjanjikan untuk pengiriman topikal
flukonazol menawarkan rilis berkelanjutan dan menjaga efek lokal, sehingga pengobatan
yang efektif dari infeksi yang mengancam jiwa kulit jamur. di penelitian lain, sistem

pengiriman NLC topikal econazole nitrat untuk pengobatan infeksi jamur yang mendalam
telah dikembangkan untuk meningkatkan permeabilitas obat.
SLN formulasi dari terbinafine telah memformulasikan untuk mengatasi masalah
pengobatan panjang durasi dan sering nya pemberian. Penetrasi vitro tingkat terbinafine dari
formulasi yang dirancang dan produk komersial, di stratum korneum, epidermis, dan dermis
diukur. Diamati bahwa jumlah terbinafine menembus lapisan kulit memiliki telah
ditingkatkan dengan meningkatkan persentase formulasi fase lipid. Para penulis juga
menyimpulkan bahwa penerapan terbinafine dengan formulasi SLN bisa menyelesaikan
masalah praktis semakin lama periode pemberian.
Sanna dkk. menunjukkan bahwa formulasi SLN memiliki penetrasi cepat ekonazol
nitrat di stratum korneum setelah 1 jam dan telah meningkatkan penetrasi obat ke dalam
lapisan kulit yang lebih dalam setelah 3 jam penggunaan dibandingkan dengan referensi gel.
Passerini dkk. juga telah membandingkan SLN ekonazol nitrat dimuat ke mikropartikel lipid
padat memiliki formulasi yang identik komponen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
econazole telah dijalankan kinetika ery di kulit babi tidak tergantung ukuran.
Diamati bahwa dispersi SLN dari mikonazol nitrat secara signifikan telah
meningkatkan serapan kumulatif miconazole nitrat dalam kulit di atas sediaan komersial gel
dan dispersi SLN juga menunjukkan kulit menargetkan peningkatan efek signifikan.
Mukherjee dan rekan kerja yang merancang dan menilai itrakonazol yang dimuat
dengan nanopartikel lipid SLN padat untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan
pengurangan agen antijamur. Profil in vitro pelepasan obat dari Skins telah lama hingga 12
jam.
SLN berisi clotrimazole dan NLCS telah menyebabkan pelepasan obat dimodifikasi
selama periode 10 jam . pada penelitian lain, itu juga menunjukkan bahwa baik SLN dan
NLC formulasi sarat dengan clotrimazole memiliki berkelanjutan / pelepasan obat
berkepanjangan.

4.4. Sistem Bahan Pembawa gel -polimer


Kelayakan ekonazol nitrat berisi polimer nanosponges telah dievaluasi. nanosponges
mengandung alkohol polivinil: etil selulosa (3: 2) telah dirumuskan dengan Carbopol 934 NF

sebagai hidrogel menggunakan berbagai konsentrasi peningkat permeasi seperti propilen


glikol dan N-metil-2-pirolidon. Penelitian optimalisasi menunjukkan bahwa ekonazol nitrat
stabil dalam sistem pengiriman nanosponge dan tidak ada interaksi obat polimer di
nanosponges.
Formulasi hidrogel topikal terbinafine hidroklorida telah dioptimalkan dengan
menggunakan berbagai jenis kitosan pada berat molekul yang berbeda. antijamur yang
aktivitas penghambatan formulasi telah dievaluasi. Hasil menunjukkan bahwa pelepasan obat
yang lebih tinggi dan zona tertinggi inhibisi diperoleh dari sediaan hidrogel dengan molekul
chitosan berat terendah dibandingkan dengan gel kitosan lain dan dipasarkan sebagai produk
komersial.

5. Kesimpulan
Pengobatan topikal pada infeksi kutaneus telah menjadi pilihan karena berbagai
kelebihannya dibandingkan dengan pengobatan oral seperti terhindarnya dari efek samping
sistemik, target obat pada daerah infeksi, dan tingginya kenyamanan pasien. Sedangkan pada
lain pihak, konsentrasi obat yang adekuat pada lapisan target pada kulit harus terpenuhi untuk
memastikan efikasi pengobatan topikal. Selanjutnya, pemberian antijamur pada bagian kulit
target adalah tantangan terbesar dalam aspek terapeutik. Pada konteks ini, formulasi dari
produk memegang peranan penting untuk penetrasi obat melewati kulit. Disamping itu, sifat
fisiokimia yang dimiliki molekul obat seperti lipolitas juga merupakan parameter yang
efektif. Secara umum, obat antijamur merupakan senyawa yang lipofilik, yang dapat
membuat penetrasi obat melewati stratum corneum. Berbagai strategi formulasi telah
berkembang dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan bahan pembawa obat baru
dari obat antijamur, dan beberapa data yang dapat dipercaya, sampai batas tertentu, telah
dipublikasikan.