Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.1

Latar Belakang
Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau,

atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit
Listrik Tenaga Air.
Indonesia merupakan negara maritim yang penuh dengan sumber daya air. Kekayaan sumber daya
air tersebut dapat membawa dampak positif maupun negatif dalam kehidupan manusia. Dalam mengontrol
dampak tersebut, dibutuhkan sebuah struktur air yang dapat mengontrol air tersebut, baik dalam aspek
volume air, mengalihkan, maupun menahan.
Bendungan adalah salah satu struktur yang dapat berfungsi sesuai seperti disebutkan di atas.
Bendungan merupakan suatu struktur bangunan yang digunakan untuk membendung aliran air sungai
yang dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia atau menanggulangi bencana seperti banjir. Air yang
ditampung akibat dibangunnya bendungan juga dapat digunakan untuk irigasi, pasok air baku untuk air
minum, industri dan perkotaan, perikanan serta pembangkitan listrik.
Manfaat lain bendungan adalah untuk pengendalian banjir dan pariwisata. Di samping untuk
menampung air, bendungan juga dibangun untuk menampung material lain, seperti buangan/limbah
pertambangan dan lahar dingin. Bendungan untuk menahan lahar dingin disebut juga bendungan sabo
(sabo dam).
Di Indonesia, dari semua bendungan tipe urugan, kira-kira 85% di antaranya merupakan urugan
tanah homogen dan zonal, 15% sisanya merupakan urugan batu. Bendungan urugan dibangun dengan
cara menimbun tanah, pasir, dan kerikil dalam posisi tertentu untuk membatasi suatu lembah, dalam
potongan melintang. Bendungan memiliki bentuk dasar segitiga dengan perbandingan kemiringan lereng
di sisi hulu dan hilir sama yaitu 18 derajat. Dinding sebelah hulu berfungsi sebagai penahan gelombang
sedangkan dinding sebelah hilir harus cukup kuat menahan erosi air hujan dan air bawah bendungan.

1.2

Tujuan Makalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam mengadakan tugas makalah ini adalah :

1. Memperluas wawasan mengenai struktur hidrolik secara universal.


2. Memahami pembelajaran struktur hidrolik secara khusus yaitu bendungan urugan tipe
tanah homogen.
3. Menjadi pondasi atau pengetahuan dasar dalam mempelajari struktur hidrolik dalam bidang
teknik sipil.
4. Mengerti permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam bidang struktur hidrolik
sehingga dapat dilakukan secara aplikatif dalam kehidupan sehari- hari.
1.3

Sumber Data
Adapun sumber data yang kami gunakan berasal dari kutipan berbagai buku dan beberapa sumber

dari internet.
1.4

Metode dan Teknik


Metode penelitian yang kami gunakan adalah metode bukan penelitian lapangan, yaitu metode

penelitian kepustakaan.
1.5

Kerangka Teori
Bendungan urugan tanah memiliki beberapa keuntungan antara lain bahan pembuatannya selalu

tersedia disekitar bendungan, membutuhkan biaya kecil serta waktu yang cepat, dan pembangunannya
dapat dilakukan pada semua kondisi geologi dan geografi yang ada.

BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Bendungan Urugan


Bendungan urugan, menurut Dr. Eng Indradi W. adalah bendungan yang terbuat dari bahan urugan

dari borrow area yang dipadatkan menggunakan vibrator roller atau alat pemadat lainnya pada hamparan
dengan tebal tertentu. Sedangkan menurut Sosrodarsono (2002), bendungan urugan merupakan bendungan
yang dibangun dengan cara menimbunkan bahan-bahan, seperti batu, krakal, krikil, pasir, dan tanah pada
2

posisi tertentu dengan fungsi sebagai pengempang atau pengangkat permukaan air yang terdapat di dalam
waduk di udiknya (hulu). Jenis-jenis bendungan urugan ada 3 jenis utama yaitu :
1. bendungan urugan homogen
2. bendungan urugan zonal
3. bendungan urugan bersekat.
Bendungan urugan homogen dibangun dari bahan sejenis dengan gradasi butir yang seragam.
Bendungan ini berfungsi sebagai bangunan penyangga dan penahan rembesan air.

Alat Vibrator Roller

2.2

Bagian-bagian Bendungan
Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
a. Badan bendungan (body of dams)
Badan bendungan adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai penghalang air. Bendungan
umumnya memiliki tujuan untuk menahan air sedangkan struktur lain seperti pintu air atau tanggul
digunakan untuk mengelola atau mencegah aliran air ke dalam daerah tanah yang spesifik.
Kekuatan air memberikan listrik yang disimpan dalam pompa air dan ini dimanfaatkan untuk
menyediakan listrik bagi jutaan konsumen.
b. Pondasi (foundation)
Pondasi adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk menjaga kokohnya bendungan.
4

c. Pintu air (gates)


Pintu air digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup aliran air di saluran baik yang
terbuka maupun tertutup. Bagian yang penting dari pintu air adalah :
1. Daun pintu (gate leaf), adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat
digerakkan untuk membuka , mengatur dan menutup aliran air.
2. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame), adalah alur dari baja atau besi yang dipasang
masuk ke dalam beton yang digunakan untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai
dengan yang direncanakan.
3. Angker (anchorage), adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan
untuk menahan rangka pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari pintu
air ke dalam konstruksi beton.
4. Hoist, adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup dengan
mudah.
d. Bangunan pelimpah (spill way)
Bangunan pelimpah adalah bangunan beserta intalasinya untuk mengalirkan air banjir yang
masuk ke dalam waduk agar tidak membahayakan keamanan bendungan. Bagian-bagian penting
dari bangunan pelimpah yaitu :
1. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures), digunakan untuk mengarahkan
dan mengatur aliran air agar kecepatan alirannya kecil tetapi debit airnya besar.
2. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge carrier, flood way), makin
tinggi bendungan, makin besar perbedaan antara permukaan air tertinggi di dalam waduk
dengan permukaan air sungai di sebelah hilir bendungan. Apabila kemiringan saluran
pengangkut debit air dibuat kecil, maka ukurannya akan sangat panjang dan berakibat
bangunan menjadi mahal. Oleh karena itu, kemiringannya terpaksa dibuat besar, dengan
sendirinya disesuaikan dengan keadaan topografi setempat.
3. Bangunan peredam energi (energy dissipator), digunakan untuk menghilangkan atau
setidak-tidaknya mengurangi energi air agar tidak merusak tebing, jembatan, jalan,
bangunan dan instalasi lain di sebelah hilir bangunan pelimpah.
e. Kanal (canal)
Kanal digunakan untuk menampung limpahan air ketika curah hujan tinggi.
f. Reservoir
5

Reservoir digunakan untuk menampung/menerima limpahan air dari bendungan.


g. Stilling basin
Stilling basin memiliki fungsi yang sama dengan energy dissipater.
h. Katup (kelep, valve)
Katup fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat menahan tekanan yang lebih tinggi
(pipa air, pipa pesat dan terowongan tekan). Merupakan alat untuk membuka, mengatur dan
menutup aliran air dengan cara memutar, menggerakkan ke arah melintang atau memenjang di
dalam saluran airnya.
i. Drainage gallery
Drainage gallery digunakan sebagai alat pembangkit listrik pada bendungan.

2.3

Tipe Bendungan
Bendungan juga dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
a. Berdasarkan Ukuran
1. Bendungan besar (large dams), menurut ICOLD definisi dari bendungan besar adalah
bendungan yang tingginya lebih dari 15 m, diukur dari bagian terbawah pondasi sampai
ke puncak bendungan. Bendungan yang tingginya antara 10 m dan 15 m dapat pula
disebut dengan bendungan besar asal memenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai
berikut :
Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500 m.
Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m.
Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000 m/detik.
Bendungan menghadapi kesulitan-kesulitan khusus pada pondasinya (had specially
difficult foundation problems).
Bendungan di desain tidak seperti biasanya (unusual design).
2. Bendungan kecil (small dams, weir, bendung), semua bendungan yang tidak memenuhi
syarat sebagai bendungan besar di sebut bendungan kecil.

b. Berdasarkan Tujuan Pembangunannya


1. Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams), adalah bendungan yang
dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja.
2. Bendungan serbaguna (multipurpose dams), adalah bendungan yang dibangun untuk
memenuhi beberapa tujuan.
c. Berdasarkan Penggunaannya
1. Bendungan untuk membuat waduk (storage dams), adalah bendungan yang dibangun
untuk membentuk waduk guna menyimpan air pada waktu kelebihan agar dapat dipakai
pada waktu diperlukan.
2. Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dams), adalah bendungan yang dibangun
agar permukaan airnya lebih tinggi sehingga dapat mengalir masuk kedalam saluran air
atau terowongan air.
3. Bendungan untuk memperlamabat jalannya air (detension dams), adalah bendungan yang
dibangun untuk memperlamabat aliran air sehingga dapat mencegah terjadinya banjir
besar. Masih dapat dibagi lagi menjadi 2, yaitu:
Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan ke dalam saluran air bagian hilir.
Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di daerah sekitarnya.
d. Berdasarkan Konstruksinya
1. Bendungan urugan (fill dams, embankment dams), menurut ICOLD definisinya adalah
bendungan yang dibangun dari hasil penggalian bahan (material) tanpa tambahan bahan
lain yang bersifat campuran secara kimia, jadi betul-betul bahan pembentuk bendungan
asli. Bendungan ini masih dapat dibagi menjadi :
Bendungan urugan serbasama (homogeneous dams), adalah bendungan urugan yang

lapisannya sama.
Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams, rockfill dams), adalah bendungan
urugan yang terdiri atas beberapa lapisan , yaitu lapisan kedap air (water tight layer),
lapisan batu (rock zones, shell), lapisan batu teratur (rip-rap) dan lapisan pengering

(filter zones).
Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face rockfill
dams, dekced rockfill dams), adalah bendungan urugan batu berlapis-lapis yang
lapisan kedap airnya diletakkan di sebelah hulu bendungan. Lapisan kedap air yang
biasa digunakan adalah aspal dan beton bertulang.
7

2. Bendungan beton (concrete dams), adalah bendungan yang dibuat dari konstruksi beton
baik dengan tulangan maupun tidak. Ini masih dapat dibagi lagi menjadi :
Bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity dams), adalah bendungan
beton yang didesain untuk menahan beban dan gaya yang bekerja padanya hanya

dengan berat sendiri saja.


Bendungan beton dengan penyangga (concerete butress dams), adalah bendungan
beton yang mempunyai penyangga untuk menyalurkan gaya-gaya yang bekerja
padanya. Banyak dipakai apabila sungainya sangat lebar sedangkan keadaan

geologiya baik.
Bendungan beton berbentuk lengkung (beton berbentuk busur atau concerete arch
dams), adalah bendungan beton yang didesain untuk menyalurkan gaya-gaya yang

bekerja padaya lewat abutmen kiri dan abutmen kanan bendungan.


Bendungan beton kombinasi (combination concerete dams, mixed type concerete

dams), adalah merupakan kombinasi anatara lebih dari satu tipe bendungan.
3. Bendungan lainnya, biasanya hanya untuk bendungan kecil misalnya : bendungan kayu
(timber dams), bendungan besi (steel dams), bendungan pasangan bata (brick dams),
bendungan pasangan batu (masonry dams).
e. Berdasarkan Fungsinya
1. Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam, dike), adalah bendungan yang
pertama-tama dibangun di sungai pada waktu debit air rendah agar lokasi rencana
bendungan pengelak menjadi kering yang memungkinkan pembangunannya secara teknis.
2. Bendungan pengelak (cofferdam), adalah bendungan yang dibangun sesudah selesainya
bendungan pengelak pendahuluan sehingga lokasi rencana bendungan utama menjadi
kering yang memungkinkan pembangunannya secara teknis.
3. Bendungan utama (main dam), adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu
atau lebih tujuan tertentu.
4. Bendungan sisi (high level dam), adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan
sisi kanan bendungan utama yang tinggi puncaknya juga sama. Ini dipakai untuk
membuat proyek seoptimal-optimalnya, artinya dengan menambah tinggi pada bendungan
utama diperoleh hasil yang sebesar-besarnya biarpun harus menaikkan sebelah sisi kiri
dan atau sisi kanan.
5. Bendungan di tempat rendah (saddle dam), adalah bendungan yang terletak di tepi waduk
yang jauh dari bendungan utama yang dibangun untuk mencegah keluarnya air dari
waduk sehingga air waduk tidak mengalir ke daerah sekitarnya.
8

6. Tanggul (dyke, levee), adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan atau kanan
bendungan utama dan di tempat yang jauh dari bendungan utama yang tinngi
maksimalnya hanya 5 m dengan panjang puncaknya maksimal 5 kali tingginya.
7. Bendungan limbah industri (industrial waste dam), adalah bendungan yang terdiri atas
timbunan secara bertahap untuk menahan limbah yang berasal dari industri.
8. Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing dam), adalah bendungan yang terdiri
atas timbunan secara bertahap untuk menahan hasil galian pertambangan dan bahan
pembuatnya pun berasal dari hasil galian pertambangan juga.
f. Berdasarkan Jalannya Air
1. Bendungan untuk dilewati air (overflow dams), adalah bendungan yang dibangun untuk
untuk dilewati air misalnya pada bangunan pelimpah (spillway).
2. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams), adalah bendungan yang sama sekali
tidak boleh di lewati air. Kedua tipe ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari
beton, pasangan batu atau pasangan bata.

2.4

Pertimbangan Desain Bendungan Tipe Tanah Homogen Tipe Bendungan


1. Tinggi bendungan adalah maksimum 30 m, tetapi ada yang sampai 50 m asalkan desain sistem
drainase baik.
2. Sifat dan jumlah material yang dapat digunakan: material tanah dibutuhkan dalam jumlah
yang besar, dan semua jenis tanah dapat digunakan.
3. Kondisi topografi bendungan : tidak ada ketentuan khusus, namun ebatmen yang agak landai
lebih menguntungkan.
4. Kondisi geologi lokasi bendungan : bendungan rendah dapat dibangun walaupun daya
dukungnya sangat rendah.Pondasi dapat diperbaiki.
5. Kondisi meteorologi : tidak menguntungkan di daerah dengan intensitas curah hujan tinggi.

2.5

Studi Kasus
Kerusakan lereng hilir bendungan urugan tanah yang terjadi pada Bendungan Plumbon, dapat

memicu terjadinya kegagalan bendungan yang mengancam tiga desa di Kecamatan Eromoko kabupaten
Wonogiri. Penilaian kondisi bendungan urugan tanah diperlukan untuk mengetahui tingkat keamanan
bendungan. Sistem penilaian kondisi bendungan khusus untuk bendungan urugan tanah dipandang perlu
9

dikaji dengan memodifikasi bobot faktor penyebab kegagalan bendungan. Tujuan dari penelitian ini
adalah :
1.

Mendapatkan suatu konsep sistem penilaian kondisi keamanan bendungan urugan tanah.

2.

Mendapatkan nilai kondisi Bendungan Plumbon.

Penelitian dilaksanakan melalui tahapan yang dimulai dengan mengumpulkan data. Dilanjutkan
dengan penyusunan konsep penilaian kondisi bendungan urugan tanah dari jenis kerusakan bendungan.
Pembobotan faktor penyebab kegagalan bendungan dirumuskan dari bagan kejadian keruntuhan
bendungan. Bagian akhir penelitian adalah aplikasi konsep penilaian kondisi bendungan urugan tanah
pada bendungan Plumbon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab kegagalan bendungan urugan tanah terdiri dari
faktor sebagai berikut:
1.
2.
3.

Hidrolis dengan bobot 25%.


Rembesan dengan bobot 40%.
Struktur dengan bobot 35%.

Nilai kondisi bendungan Plumbon sebelum rehabilitasi sebesar 66,33 (kondisi keamanan
bendungan dalam kategori kurang). Nilai kondisi bendungan Plumbon setelah rehabilitasi, sebesar 82,58
(kondisi keamanan bendungan dalam kategori cukup).

2.6

Analisis
Dengan menggunakan bendungan urugan tanah homogen, memiliki beberapa keuntungan antara

lain bahan pembuatannya selalu tersedia disekitar bendungan, membutuhkan biaya kecil dan waktu yang
cepat dan pembangunannya dapat dilakukan pada semua kondisi geologi dan geografi yang ada.
Bendungan urugan homogen yaitu dibangun dari bahan sejenis dengan gradasi butir yang seragam.
Bendungan ini berfungsi sebagai bangunan penyangga dan penahan rembesan air. Karena bendungan
senantiasa terkena air, maka bangunan dapat rusak seiring berjalannya waktu, karena itu harus dilakukan
rehabilitasi secara berkala, agar jangka waktu bendungan dapat semakin panjang.

10

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Bendungan urugan tanah homogen adalah bendungan yang dapat dibuat dengan bahan pembuatan

selalu tersedia disekitar bendungan. Bendungan bisa dikatakan sebagai bendungan urugan tanah homogen
apabila material pembentuk bangunan terdiri dari gradasi 80% bahan yang sama dan bersifat kedap air.
Dalam membangun bendungan ini, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar bendungan
dapat efektif. Dalam pemakaian, bendungan juga dapat mengalami kegagalan yang juga harus
diperhitungkan.

11

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.

http://iptekims.blogspot.co.id/2012/11/bendungan-urugan-tanah.html
Materi Bendungan Urugan I Dr. Eng Indradi W.
Materi Bahan ajar bendungan ITS.
Materi Bahan ajar Universitas Gunadarma.
http://www.antaranews.com/34727/bendung-gerak.html
http://ceritaanda.viva.co.id/news/read/301695/kemegahan-tiga-jembatan-jurug-solo.html

12