Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN IV

Disusun Oleh :
KELOMPOK 2
Yasintha Fadiah(201310410311022)
Cynthia Anggi Pradita

(201310410311040)

Novia Rizki Nurlaili

(201310410311049)

Rahma Rosalina W.

(201310410311050)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat


dan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga penulisan
makalah Al Islam dan Kemuhammadiyahan ini dapat terselesaikan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
bapak dosen yang telah memberikan dorongan moril untuk melakukan
penulisan makalah. Selain itu, terimakasih juga untuk kedua orang tua
penyusun yang telah memberikan dorongan moril dan material. Dan
untuk semua pihak yang telah memberi semangat penyusun dalam
menyelesaikan makalah ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satupersatu.
Penyusun menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penyusun bersedia menerima kritik dan
saran dari pembaca guna perbaikan penulisan makalah untuk di masa
yang akan datang.

Malang, Maret 2015

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar.............................................................................................i
Daftar Isi......................................................................................................ii
Latar Belakang............................................................................................1
PEMBAHASAN..............................................................................................2
1.1 Pengertian Keluarga...........................................................................2
1.2 Pengertian Pernikahan........................................................................2
1.3 Tujuan dari Pernikahan.......................................................................3
1.4 Hukum-hukum Pernikahan..................................................................3
1.5 Syarat-syarat pernikahan...................................................................4
1.5.1 Syarat mempelai laki laki.............................................................4
1.5.2 Syarat mempelai perempuan.......................................................4
1.5.3 Syarat wali....................................................................................4
1.5.4 Jenis jenis perwalian:.................................................................5
1.5.5 Syarat saksi..................................................................................5
1.5.6 Syarat ijab....................................................................................5
1.5.7 Syarat qobul.................................................................................6
1.5.8 Mahar...........................................................................................6
1.6 Penyebab Haramnya suatu pernikahan..............................................6
1.7 Memilih calon pendamping................................................................7
1.8 Konsep Tata Cara Ataupun Proses Sebuah Pernikahan.......................8
2

1.9

Menciptakan keluarga sakinah......................................................12

1.9.1 Pengertian keluarga sakinah......................................................12


1.9.2 Hak dan kewajiban.....................................................................12

Latar Belakang

Proses mencari jodoh dalam Islam bukanlah membeli kucing dalam


karung sebagaimana sering dituduhkan. Namun justru diliputi oleh
perkara yang penuh adab. Bukan Coba dulu baru beli kemudian
habis manis sepah dibuang, sebagaimana pacaran kawula muda di
masa sekarang. Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang
tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan AlQur`an dan As-Sunnah yang shahih.
Memiliki keluarga yang sakinah atau harmonis merupakan dambaan
setiap pasangan suami istri, akan tetapi untuk mewujudkannya
bukanlah hal yang mudah. Di tengah arus kehidupan seperti sekarang
ini, jangankan untuk membangun rumah tangga yang sakinah, untuk
dapat

mempertahankan

keutuhan

rumah

tangga

saja

sudah

merupakan sebuah prestasi. Sudah saatnya bagi kita semua untuk


merenunginya, melakukan refleksi diri, apakah kita sudah berjalan
pada koridor yang diinginkan oleh Allah dalam menjalakan kehidupan
berumah tangga ataukah belum.
Agama

Islam senantiasa

mengajarkan kepada

umatnya

agar

keluarga dijadikan sebagai institusi yang aman, nyaman, bahagia dan


kukuh bagi setiap ahli keluarga. Al Quran dan Hadist merupakan
landasan bagi terbentuknya sebuah keluarga yang sakinah termasuk
dalam hal mengatasi setiap permasalahan yang timbul.
Menciptakan keluarga yang bahagia sakinah mawaddah warahmah
dan keluarga yang islami adalah merupakan bagian dari salah satu
tujuan pernikahan di dalam islam itu sendiri.Tujuan manfaat pernikahan
dalam

Islam

adalah

merupakan

bagian

dari

mengikuti

sunnah

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan panutan kita


dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Karena dalam ajaran

Islam

dan Sunnah Nabi banyak terkandung hikmah dan manfaat yang


banyak sekali.
A. Tujuan
Untuk mengetahui pengertian dari keluarga dan pernikahan
Untuk mengetahui hukum dan syarat dari pernikahan
Untuk mengetahui bagaimana memilih pasangan hidup yang
baik
Untuk mengetahui proses-proses pernikahan
Untuk mengetahui cara atau tips membangun keluarga yang
bahagia dari sebuah pernikahan
B. Manfaat
Dapat mengetahui pengertian dari keluarga dan pernikahan
Dapat mengetahui hukum dan syarat dari pernikahan
Dapat mengetahui bagaimana memilih pasangan hidup yang
baik
Dapat mengetahui proses-proses pernikahan
Dapat mengetahui cara atau tips membangun keluarga yang
bahagia dari sebuah pernikahan

PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Keluarga

Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih


memiliki hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai
sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih
mempunyai

hubungan

kekerabatan/hubungan

darah

karena

perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. Keluarga yang


terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah disebut
keluarga batih.
Keluarga adalah komunitas kecil dalam masyarakat. Setiap muslim
diwajibkan untuk hidup berkeluarga demi menjalankan tuntutan ajaran
islam. Fungsi keluarga sangat berarti dalam membentuk karakter dan
kepribadian seseorang . Keluarga merupakan unit (satuan) terpenting
bagi proses pembangunan umat. Kepribadian yang baik terbentuk dari
sebuah keluarga yang menanamkan budi pekerti yang baik.
Tak dapat dipungkiri bahwa al-quran sangat memperhatikan
masalah kehidupan keluarga ( istilah arabnya al usr yang bermakna
kelencangan dan kekuatan). Menurut Sayyid Qutub dalam fi zilal alquran, keluarga merupakan mesin incubator (alat atau tempat yang
mendukung pertumbuhan sesuatu) bersifat alamiah yang berfungsi
melindungi, memelihara, dan mengembangkan jasmani serta akal
anak-anak yang sedang tumbuh. Dibawah naungan keluarga, rasa
cinta, kasih sayang dan solidaritas saling berpadu. Dalam keluargalah
individu manusia akan membangun perwatakanya yang has seumur
hidup.
Harus

diakui

bahwa

kondisi

kehidupan

keluarga

sebelum

kedatangan islam penuh dengan noda penyimpangan. Saat itu, kaum


wanita

sama sekali tidak dihargai orang tua tidak diperlakukan

sebagai mana mestinya, dan anak-anak tidak mendapat perhatian,

apalagi pendidikan yang layak dimlikinya, penguasaan (dominasi)


kewenang-wenangan dan kewenang-wenangan kaum laki-laki (yang
rata-rata bermental bejat dikarenakan kebiasaan buruknya seperti:
berzina, bermain judi, mengubur hidup-hidup anak perempuan,
merapok, berhubungan intim dengan ibu kandung, dan sebagainya).
Lalu datanglah islam dengan membawa prinsip-prinsip yang luhur
dan

nasihat-nasihat

yang

baik.

Islam

akhirnya

menyelamatkan

kehidupan keluarga, melambungkanya kepuncak kemulyaan, dan


mengembalikan segenap

hak

yang

telah dicabut kepada

para

pemiliknya . Seraya itu pula islam menempatkan lembaga pada posisi


yang sebenarnya dalam kehidupan ini.

1.2 Pengertian Pernikahan


Nikah sebagai kata serapan dari bahasa Arab bila ditinjau dari sisi
bahasa maknanya menghimpun atau mengumpulkan. Kata ini bisa
dimutlakkan pada dua perkara yaitu akad dan jima (hubungan suami
istri).
Adapun

pengertian

nikah

secara

syari

adalah

seorang

pria

mengadakan akad dengan seorang wanita dengan tujuan agar ia dapat


istimta (bernikmat-nikmat) dengan si wanita, dapat memperoleh
keturunan, dan tujuan lain yang merupakan maslahat nikah. Akad
nikah merupakan mitsaq (perjanjian) di antara sepasang suami istri.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang


laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa
bangsa

dan

bersuku-suku

supaya

kamu

saling

kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. Al Hujuraat (49):13].

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa setiap manusia telah


diciptakan untuk berpasang-pasangan, sehingga nantinya kita akan
menjadi orang-orang yang bertaqwa. Ada tiga golongan yang pasti
akan ditolong oleh Allah SWT. Yaitu:
1. Orang yang menikah karena menjaga kehormatannya
2. Budak

yang

mengadakan

perjanjian

dengan

tuannya

untuk

memerdekakan dirinya dengan bayaran tebusan tertentu


3. Orang yang berperang dijalan Allah.
Sudah jelas tentunya bahwa pernikahan adalah hal yang disayang
dan dicintai Allah dan Rosulnya.

1.3 Tujuan dari Pernikahan


Mengenai tujuan sebuah pernikahan dalam agama Islam adalah
terdapat dalam dalil Al-Qur'an mengenai keutamaan menikah yaitu firman
Allah Ta'ala yang artinya : "Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah
ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di
antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sungguh pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)
bagi kamu yang berfikir." (QS Ar Rum : 30: 21).
Dalam Islam tujuan pernikahan itu antara lain adalah sebagai berikut :
1 Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi.
2 Untuk Membentengi Akhlaq Yang Mulia.
3 Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami.
4 Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah.
5 Untuk Memperoleh Keturunan Yang Shalih Shalihah
5

1.4 Hukum-hukum Pernikahan

Jaiz, artinya boleh kawin dan boleh juga tidak, jaiz ini merupakan
hukum dasar dari pernikahan. Perbedaan situasi dan kondisi serta
motif yang mendorong terjadinya pernikahan menyebabkan adanya
hukum-hukum nikah berikut.

Sunat, yaitu apabila seseorang telah berkeinginan untuk menikah


serta memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah lahir maupun
batin.

Wajib, yaitu bagi yang memiliki kemampuan memberikan nafkah


dan ada kekhawatiran akan terjerumus kepada perbuatan zina bila
tidak segera melangsungkan perkawinan. Atau juga bagi seseorang
yang telah memiliki keinginan yang sangat serta dikhawatirkan akan
terjerumus ke dalam perzinahan apabila tidak segera menikah.

Makruh, yaitu bagi yang tidak mampu memberikan nafkah.

Haram, yaitu apabila motivasi untuk menikah karena ada niatan


jahat, seperti untuk menyakiti istrinya, keluarganya serta niat-niat
jelek lainnya.

1.5 Syarat-syarat pernikahan

Adanya mempelai laki-laki dan perempuan


Adanya wali bagi perempuan
Adanya dua orang saksi lak-laki yang adil
Ijab dan qabul
Adanya mahar

1.5.1 Syarat mempelai laki laki

Islam

Laki-laki yang tertentu

Bukan lelaki mahram dengan calon istri

Mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah


tersebut

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Tidak mempunyai empat orang istri yang sah dalam


suatu waktu

Mengetahui bahwa perempuan yang hendak dinikahi


adalah sah dijadikan istri

1.5.2 Syarat mempelai perempuan

Islam

Perempuan yang tertentu

Bukan perempuan mahram dengan calon suami

Bukan seorang banci

Akil baligh (telah pubertas)

Bukan dalam berihram haji atau umroh

Tidak dalam iddah

Bukan istri orang

1.5.3 Syarat wali

Islam, bukan kafir dan murtad

Lelaki dan bukannya perempuan

Telah pubertas

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Tidak fasik

Tidak cacat akal pikiran, gila, terlalu tua dan sebagainya

Merdeka

1.5.4 Jenis jenis perwalian:

Wali mujbir: Wali dari bapaknya sendiri atau kakek dari bapa yang
mempunyai hak mewalikan pernikahan anak perempuannya atau
cucu

perempuannya

dengan

persetujuannya

(sebaiknya

perlu

mendapatkan kerelaan calon istri yang hendak dinikahkan)

Wali aqrab: Wali terdekat yang telah memenuhi syarat yang layak
dan berhak menjadi wali

Wali abad: Wali yang sedikit mengikuti susunan yang layak menjadi
wali, jikalau wali aqrab berkenaan tidak ada. Wali abad ini akan
digantikan oleh wali abad lain dan begitulah seterusnya mengikut
susunan tersebut jika tidak ada yang terdekat lagi.

Wali raja/hakim: Wali yang diberi hak atau ditunjuk oleh pemerintah
atau pihak berkuasa pada negeri tersebut oleh orang yang telah
dilantik menjalankan tugas ini dengan sebab-sebab tertentu

1.5.5 Syarat saksi

Sekurang-kurangya dua orang

Islam

Berakal

Telah pubertas

Laki-laki

Memahami isi lafal ijab dan qobul

Dapat mendengar, melihat dan berbicara

Adil

Merdeka

1.5.6 Syarat ijab

Pernikahan nikah ini hendaklah tepat

Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran

Diucapkan oleh wali atau wakilnya

Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mut'ah


(nikah kontrak atau pernikahan (ikatan suami istri) yang
sah dalam tempo tertentu seperti yang dijanjikan dalam
persetujuan nikah muat'ah)

Tidak secara taklik (tidak ada sebutan prasyarat sewaktu


ijab dilafalkan)

Contoh

bacaan

Ijab:

suami: "Saya nikahkan

Wali/wakil
anda

wali

berkata

kepada

calon

dengan Nisa binti Abdullah dengan

mas kawin berupa cincin emas dibayar tunai".


1.5.7 Syarat qobul

Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab

Tidak ada perkataan sindiran


9

Dilafalkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab

tertentu)

Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(seperti

nikah kontrak)

Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu qobul

dilafalkan)

Menyebut nama calon istri

Tidak ditambahkan dengan perkataan lain

Contoh sebutan qabul (akan dilafazkan oleh bakal suami):"Saya terima


nikahnya dengan Nisa binti Abdullah dengan mas kawin berupa
seperangkap alat salat dibayar tunai" atau "Saya terima Nisa binti
Abdullah sebagai istri saya".
1.5.8 Mahar

Adalah hak istri. Sebaik-baik wanita adalah yang paling mudah

maharnya
tidak ada batasan besar kecilnya sesuai kerelaan istri.
harus disebutkan dalam aqad
berfungsi sebagai lambang tanggung jawab suami
adanya dukhul (hubungan suami istri) jadi syarat

dibayarkannya mahar
rasulullah memberi mahar istri-istri beliau sebesar dua belas

wajib

setengah uqiyah ( 1 Uqiyah = 40 dirham. 12 uqiyah = 480 dirham)


1.6 Penyebab Haramnya suatu pernikahan
Dalam Al-Quran disebutkan:

10





Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang
perempuan,

saudara-saudaramu

yang

perempuan,

saudara-saudara

ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan,


anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak
perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang
menyusui

kamu,

saudara-saudara

perempuanmu

sesusuan,

ibu-ibu

istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang


dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika
kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka
tidak berdosa kamu menikahinya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri
anak kandungmu (menantu), dan diharamkan mengumpulkan (dalam
pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi
pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (an-nisa ayat 23).
Jadi, haramnya suatu pernikahan jika :

yang dinikahkan adalah Ibunya sendiri

Nenek dari ibu maupun bapak

Anak perempuan & keturunannya

Saudara perempuan segaris atau satu bapak atau satu ibu

Anak perempuan kepada saudara lelaki mahupun perempuan, yaitu


semua anak saudara perempuan

Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan oleh


sesusuan ialah:

Ibu sesusuan

11

Nenek dari saudara ibu sesusuan

Saudara perempuan sesusuan

Anak

perempuan

kepada

saudara

sesusuan

laki-laki

atau

perempuan

Sepupu dari ibu sesusuan atau bapak sesusuan

Perempuan mahram bagi laki-laki karena persemendaan ialah:

Ibu mertua

Ibu tiri

Nenek tiri

Menantu perempuan

Anak tiri perempuan dan keturunannya

Adik ipar perempuan dan keturunannya

Sepupu dari saudara istri

Anak saudara perempuan dari istri dan keturunannya

1.7 Memilih Calon Pendamping Menurut Sunnah Rasulullah


Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat
diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam
permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.
Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda,
:
Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius:
nikah, cerai dan ruju. (Diriwayatkan oleh Al Arbaah kecuali An Nasai. Dihasankan oleh
Al Albani dalam Ash Shahihah)
12

Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup
tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian,
merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah
diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan
hidup.
Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin.
Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya,
sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan
bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan
pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli
bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka
pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik
tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh
pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam
memilih pasangan.
Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok
suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon
pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Taala berfirman,

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al
Hujurat: 13)
Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Taala dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk
mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada
aturan agama. Rasulullah shallallahualaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang
baik agamanya,
:
Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya,
karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus
agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi. (HR.
Bukhari-Muslim)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

13


Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka
nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang
besar. (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dhoifah bahwa hadits ini hasan
lighoirihi)
Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih
pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan
apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya.
Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama.
Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman
agama yang baik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap
ilmu agama. (HR. Bukhari-Muslim)
2. Al Kafaah (Sekufu)
Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafaah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal
kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafaah
secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan),
kemerdekaan dan pekerjaan. (Dinukil dari Panduan Lengkap Nikah, hal. 175). Atau dengan
kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran
ini. Di antaranya firman Allah Taala,

Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanitawanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang
baik untuk wanita-wanita yang baik pula. (QS. An Nur: 26)
Al Bukhari pun dalam kitab shahihnya membuat Bab Al Akfaa fid Diin (Sekufu dalam
agama) kemudian di dalamnya terdapat hadits,
:
Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya,
karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya
(keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi. (HR. BukhariMuslim)
14

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial
dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin
Haritsah radhiyallahu anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu anha.
Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak
tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini
terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, apalagi kita?
3. Menyenangkan jika dipandang
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan
kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena
paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan
hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka
mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk
menciptakan ketentraman dalam hati.
Allah Taala berfirman,

Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu
sendiri agar kamu merasa tenteram denganya. (QS. Ar Ruum: 21)
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menyebutkan 4 ciri
wanita sholihah yang salah satunya,

Jika memandangnya, membuat suami senang. (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa
sanad hadits ini shahih)
Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang yang hendak
dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak
dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan pada
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa ia akan melamar seorang wanita Anshar.
Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Sudahkah engkau melihatnya? Sahabat tersebut berkata, Belum. Beliau lalu bersabda,
Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat
sesuatu. (HR. Muslim)
4. Subur (mampu menghasilkan keturunan)
15

Di antara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak
jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari
pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orangorang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah shallallahu
alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur,

Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya
ummatku. (HR. An NasaI, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul
Mashabih)
Karena alasan ini juga sebagian fuqoha (para pakar fiqih) berpendapat bolehnya fas-khu an
nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As
Sadi berkata: Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten,
maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan
dibatalkan (oleh penguasa) (Lihat Manhajus Salikin, Bab Uyub fin Nikah hal. 202)
Kriteria Khusus untuk Memilih Calon Suami
Khusus bagi seorang muslimah yang hendak memilih calon pendamping, ada satu kriteria
yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi
nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah
menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah
termasuk dalam kategori dosa besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi
tanggungannya. (HR. Ahmad, Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini
shahih).
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun membolehkan bahkan
menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti
kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu anha:
: :
:
Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu anha, ia berkata: Aku mendatangi Nabi
shallallahu alaihi wa sallam lalu aku berkata, Sesungguhnya Abul Jahm dan Muawiyah
telah melamarku. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Adapun
Muawiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak
pernah meletakkan tongkat dari pundaknya. (HR. Bukhari-Muslim)

16

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak merekomendasikan


Muawiyah radhiyallahu anhu karena miskin. Maka ini menunjukkan bahwa masalah
kemampuan memberi nafkah perlu diperhatikan.
Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika
sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan
keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak
zuhud (sederhana) dan qanaah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela
penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan
celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah. (HR.
Bukhari).
Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan
kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk
diberi rizki.


Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka
miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. (QS. An Nur:
32)
Kriteria Khusus untuk Memilih Istri
Salah satu bukti bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam adalah bahwa
terdapat anjuran untuk memilih calon istri dengan lebih selektif. Yaitu dengan adanya
beberapa kriteria khusus untuk memilih calon istri. Di antara kriteria tersebut adalah:
1. Bersedia taat kepada suami
Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Taala,

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. (QS. An Nisa: 34)
Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka
hancurlah organisasi rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan RasulNya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali
dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa
besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar.
17

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,






Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan
Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari
pintu mana saja yang ia inginkan. (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al Albani)
Maka seorang muslim hendaknya memilih wanita calon pasangan hidupnya yang telah
menyadari akan kewajiban ini.
2. Menjaga auratnya dan tidak memamerkan kecantikannya kecuali kepada suaminya
Berbusana muslimah yang benar dan syari adalah kewajiban setiap muslimah. Seorang
muslimah yang shalihah tentunya tidak akan melanggar ketentuan ini. Allah Taala berfirman,

Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang
mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS. Al
Ahzab: 59)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun mengabarkan dua kaum yang kepedihan
siksaannya belum pernah beliau lihat, salah satunya adalah wanita yang memamerkan
auratnya dan tidak berbusana yang syari. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Wanita yang berpakaian namun (pada hakikatnya) telanjang yang berjalan melenggang,
kepala mereka bergoyang bak punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan
mencium wanginya pun tidak. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak sekian dan
sekian. (HR. Muslim)
Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama merumuskan syarat-syarat busana muslimah
yang syari di antaranya: menutup aurat dengan sempurna, tidak ketat, tidak transparan,
bukan untuk memamerkan kecantikan di depan lelaki non-mahram, tidak meniru ciri khas
busana non-muslim, tidak meniru ciri khas busana laki-laki, dll.
Maka pilihlah calon istri yang menyadari dan memahami hal ini, yaitu para muslimah yang
berbusana muslimah yang syari.
3. Gadis lebih diutamakan dari janda

18

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih
gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal
kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu
tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang
masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua
dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil,
dan lebih rela pada pemberian yang sedikit. (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani)
Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar.
Seperti sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu yang menikah dengan janda karena ia
memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat
anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR.
Bukhari-Muslim)
4. Nasab-nya baik
Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu
tentang nasab (silsilah keturunan)-nya.
Alasan pertama, keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan
keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami
biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.
Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan
dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan
menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam
ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki
pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits,

Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum. (HR.
Bukhari)
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya menetapkan anak
tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak
zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.
Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari
ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka
19

pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama
dengan perzinaan. Iyyadzan billah, kita berlindung kepada Allah dari kejadian ini.
Oleh karena itulah, seorang lelaki yang hendak meminang wanita terkadang perlu untuk
mengecek nasab dari calon pasangan.
Selain melakukan usaha untuk memilih pasangan, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala
usaha ada di tangan Allah Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada
Allah Taala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan
adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu
anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,
:
Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua rakaat kemudian
berdoalah: Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu (dst) (HR. Bukhari)
Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ala Nabiyyina
Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi ajmain.
1.8 Konsep Tata Cara Ataupun Proses Sebuah Pernikahan
1. Mengenal calon pasangan hidup
Sebelum seorang lelaki memutuskan untuk menikahi seorang
wanita, tentunya ia harus mengenal terlebih dahulu siapa wanita yang
hendak dinikahinya, begitu pula sebaliknya si wanita tahu siapa lelaki
yang berhasrat menikahinya. Tentunya proses kenal-mengenal ini tidak
seperti yang dijalani orang-orang yang tidak paham agama, sehingga
mereka

menghalalkan

pacaran

atau

pertunangan

dalam

rangka

penjajakan calon pasangan hidup, kata mereka. Pacaran dan pertunangan


haram hukumnya tanpa kita sangsikan.
Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah
mengetahui

siapa

namanya,

asalnya,

keturunannya,

keluarganya,

akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang dibutuhkan. Ini


bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari
kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si
lelaki/si wanita.

20

Yang

perlu

menjadi

perhatian,

hendaknya

hal-hal

yang

bisa

menjatuhkan kepada fitnah (godaan setan) dihindari kedua belah pihak


seperti bermudah-mudahan melakukan hubungan telepon, sms, suratmenyurat, dengan alasan ingin taaruf (kenal-mengenal) dengan calon
suami/istri. Jangankan baru taaruf, yang sudah resmi meminang pun
harus menjaga dirinya dari fitnah. Adapun pembicaraan yang biasa
dilakukan laki-laki dengan wanita, antara pemuda dan pemudi, padahal
belum berlangsung pelamaran di antara mereka, namun tujuannya untuk
saling

mengenal,

sebagaimana

yang

mereka

istilahkan,

maka

ini

mungkar, haram, bisa mengarah kepada fitnah serta menjerumuskan


kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:












Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara
sehingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan
ucapkanlah ucapan yang maruf. (Al-Ahzab: 32)
2. Nazhar (Melihat calon pasangan hidup)
Bila seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita maka dituntunkan
baginya

untuk

terlebih

dahulu

melihat

calonnya

tersebut

dan

mengamatinya. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/215-216)


Al-Imam

Al-Baghawi

rahimahullahu

berkata,

Dalam

sabda

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Al-Mughirah radhiyallahu


anhu: Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?
ada dalil bahwa sunnah hukumnya ia melihat si wanita sebelum khitbah
(pelamaran), sehingga tidak memberatkan si wanita bila ternyata ia
membatalkan khitbahnya karena setelah nazhar ternyata

ia

tidak

menyenangi si wanita. (Syarhus Sunnah 9/18)


Bila nazhar dilakukan setelah khitbah, bisa jadi dengan khitbah
tersebut si wanita merasa si lelaki pasti akan menikahinya. Padahal
mungkin ketika si lelaki melihatnya ternyata tidak menarik hatinya lalu

21

membatalkan lamarannya, hingga akhirnya si wanita kecewa dan sakit


hati. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214)
Sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu anhu berkata, Aku
meminang seorang wanita, maka aku bersembunyi untuk mengintainya
hingga aku dapat melihatnya di sebuah pohon kurmanya. Maka ada yang
bertanya kepada Muhammad, Apakah engkau melakukan hal seperti ini
padahal

engkau

adalah

sahabat

Rasulullah

Shallallahu

alaihi

wa

sallam? Kata Muhammad, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu


alaihi wa sallam bersabda:
Haramnya berduaan dan bersepi-sepi tanpa mahram ketika nazhar
(melihat calon)
Sebagai catatan yang harus menjadi perhatian bahwa ketika nazhar tidak
boleh lelaki tersebut berduaan saja dan bersepi-sepi tanpa mahram
(berkhalwat) dengan si wanita. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda:
Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang
wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 1862
dan Muslim no. 3259)
Karenanya si wanita harus ditemani oleh salah seorang mahramnya, baik
saudara laki-laki atau ayahnya. (Fiqhun Nisa` fil Khithbah waz Zawaj, hal.
28)
3. Khithbah (peminangan)
Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang
wanita, hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya. Apabila
seorang lelaki mengetahui wanita yang hendak dipinangnya telah terlebih
dahulu dipinang oleh lelaki lain dan pinangan itu diterima, maka haram
baginya meminang wanita tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam pernah bersabda:

22

Tidak boleh seseorang meminang wanita yang telah dipinang oleh


saudaranya

hingga

saudaranya

itu

menikahi

si

wanita

atau

meninggalkannya (membatalkan pinangannya). (HR. Al-Bukhari no. 5144)


4. Akad nikah
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak
yang melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul. Ijab adalah
penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari
pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya,
misalnya: Saya nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu
dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.
Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya,
misalnya: Saya terima nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan
mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.
5. Walimatul urs
Melangsungkan walimah urs hukumnya sunnah menurut sebagian
besar ahlul ilmi, menyelisihi pendapat sebagian mereka yang mengatakan
wajib, karena adanya perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu ketika mengabarkan
kepada beliau bahwa dirinya telah menikah: Selenggarakanlah walimah
walaupun dengan hanya menyembelih seekor kambing4. (HR. Al-Bukhari
no. 5167 dan Muslim no. 3475)
6. Setelah akad
Ketika mempelai lelaki telah resmi menjadi suami mempelai wanita,
lalu ia ingin masuk menemui istrinya maka disenangi baginya untuk
melakukan beberapa perkara berikut ini:
Pertama: Bersiwak terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya
karena dikhawatirkan tercium aroma yang tidak sedap dari mulutnya.
Demikian pula si istri, hendaknya melakukan yang sama. Hal ini lebih
mendorong kepada kelanggengan hubungan dan kedekatan di antara

23

keduanya. Didapatkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu alaihi wa


sallam, beliau bersiwak bila hendak masuk rumah menemui istrinya,
sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu anha (HR. Muslim no. 590).
Kedua: Disenangi baginya untuk menyerahkan mahar bagi istrinya
sebagaimana akan disebutkan dalam masalah mahar dari hadits Ibnu
Abbas radhiyallahu anhuma.
Ketiga: Berlaku lemah lembut kepada istrinya, dengan semisal
memberinya segelas minuman ataupun yang semisalnya berdasarkan
hadits Asma` bintu Yazid bin As-Sakan radhiyallahu anha, ia berkata, Aku
mendandani Aisyah radhiyallahu anha untuk dipertemukan dengan
suaminya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Setelah selesai aku
memanggil Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk melihat Aisyah.
Beliau pun datang dan duduk di samping Aisyah. Lalu didatangkan kepada
beliau segelas susu. Beliau minum darinya kemudian memberikannya
kepada Aisyah yang menunduk malu. Asma` pun menegur Aisyah,
Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Aisyah pun mengambilnya dan meminum sedikit dari susu tersebut. (HR.
Ahmad, 6/438, 452, 458 secara panjang dan secara ringkas dengan dua
sanad yang saling menguatkan, lihat Adabuz Zafaf, hal. 20)
Keempat: Meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala
istrinya (ubun-ubunnya) sembari mendoakannya, dengan dalil sabda
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: Apabila salah seorang dari kalian
menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaklah ia
memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa Taala,
mendoakan keberkahan dan mengatakan: Ya Allah, aku meminta kepadaMu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan
dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan
kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya. (HR. Abu
Dawud no. 2160, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam
Shahih Sunan Abi Dawud)

24

Kelima: Ahlul ilmi ada yang memandang setelah dia bertemu dan
mendoakan

istrinya

disenangi

baginya

untuk

shalat

dua

rakaat

bersamanya. Hal ini dinukilkan dari atsar Abu Said maula Abu Usaid Malik
bin Rabiah Al-Anshari. Ia berkata: Aku menikah dalam keadaan aku
berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam, di antara mereka ada Ibnu Masud, Abu Dzar, dan
Hudzaifah radhiyallahu anhum. Lalu ditegakkan shalat, majulah Abu Dzar
untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju.
Ketika aku menanyakan mengapa demikian, mereka menjawab memang
seharusnya demikian. Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan
aku berstatus budak. Mereka mengajariku dan mengatakan, Bila engkau
masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada
Allah Subhanahu wa Taala dari kebaikannya dan berlindunglah dari
kejelekannya. Seterusnya, urusanmu dengan istrimu. (Diriwayatkan Ibnu
Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, demikian pula Abdurrazzaq. Al-Imam AlAlbani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal. 23, Sanadnya
shahih sampai ke Abu Said).
1.9

Menciptakan keluarga sakinah

1.9.1 Pengertian keluarga sakinah


Memiliki keluarga yang sakinah atau harmonis merupakan
dambaan

setiap

pasangan

suami

istri,

akan

tetapi

untuk

mewujudkannya bukanlah hal yang mudah. Di tengah arus


kehidupan seperti sekarang ini, jangankan untuk membangun
rumah

tangga

yang

sakinah,

untuk

dapat

mempertahankan

keutuhan rumah tangga saja sudah merupakan sebuah prestasi.


Sudah saatnya bagi kita semua untuk merenunginya, melakukan
refleksi diri, apakah kita sudah berjalan pada koridor yang
diinginkan oleh Allah dalam menjalakan kehidupan berumah tangga
ataukah belum.
keluarga sakinah merupakan konsep berkeluarga ideal umat
Islam. sekelompok orang yang terdiri atas Ibu,bapak beserta anakanaknya, yang berupaya untuk mengarungi bahtera kehidupan
25

rumah tangga dengan diliputi perasaan tenang, tentram, bahagia


dan tidak gelisah berdasar atas tuntunan agama.





Artinya : Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa
nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan
rahmah. Sesungguhnya

pada

yang demikian itu

benar-benar

terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir [Ar-Rum 21].


Membangun rumah tangga yang sakiinah yaitu yang damai,
tentram, penuh keharmonisan dan kebahagiaan bagi semua pihak.
1.9.2 Hak dan kewajiban
1. Hak dan kewajiban istri: Berhak mendapat nafkah lahir batin,
wajib taat suami dalam kebaikan, melayani suami.
2. Hak dan kewajiban suami: Wajib memberi nafkah lahir batin,
membimbing dan mendidik istri, menjadi pimpinan yang bijak,
berhak ditaati dan dilayani istri.
3. Hak dan kewajiban bersama, meliputi:
Hak dan kewajiban dalam hubungan biologis. Hadits-hadits
tentang

berhubungan:

jangan

mendatangi

istri

seperti

binatang, jangan cepat-cepat meninggalkan istri.


Hak dan kewajiban dalam menentukan keinginan memiliki

anak.
Hak dan kewajiban dalam mendidik anak dan mendapat
kepatuhan ketaatan anak.

Agama

Islam senantiasa

mengajarkan kepada

umatnya

agar

keluarga dijadikan sebagai institusi yang aman, nyaman, bahagia dan


kukuh bagi setiap ahli keluarga. Al Quran dan Hadist merupakan landasan
bagi terbentuknya sebuah keluarga yang sakinah termasuk dalam hal
mengatasi setiap permasalahan yang timbul. Berdasarkan hadist nabi,
26

ada 5 pilar utama untuk dapat mewujudkan sebuah keluarga yang


sakinah, diantaranya adalah:
-

Memiliki kecenderungan terhadap agama

Saling menghormati dan menyayangi

Sederhana dalam berbelanja

Santun dalam bergaul

Selalu instropeksi diri

Lalu bagaimana cara atau tips membangun keluarga sakinah? Berikut


diantaranya:
Memilih suami atau istri dengan kriteria yang tepat. Dalam memilih
pasangan kriteria yang tepat sangatlah penting, misalnya beragama
Islam, shaleh atau shalehah, berasal dari keturunan baik-baik,
berakhlak mulia dsb.
Memenuhi syarat utama dalam keluarga yaitu mawaddah (cinta
yang membara dan menggebu) dan rahmah (Kasih sayang yang
lembut, siap berkorban dan melindungi kepada yang dikasihi).
Saling mengerti atau memahami antara suami dan istri. Saling
mengerti dan memahami serta menghindari aksi egoisme sangat
penting dalam membina sebuah keluarga.
Saling menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing. Anda
tentu tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna, demikian pula
dengan

pasangan

berkomitmen

untuk

Anda.

Ketika

membangun

Anda

dan

hubungan,

pasangan
maka

Anda

telah
dan

pasangan harus siap menerima kelebihan dan kekurangan masingmasing.

27

Saling menghargai satu sama lain, penghargaan terhadap pasangan


adalah hal yang penting, karena setiap manusia itu pasti memiliki
kelebihan.
Saling

mempercayai

merupakan

salah

antara

satu

faktor

suami
yang

dan

istri,

memberikan

kepercayaan
ketenangan

terhadap satu sama lain.


Mengerti dan dengan sukarela menjalankan kewajiban masingmasing.
Hubungan harus didasari dengan perasaan saling membutuhkan.
Tidak ada manusia yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,
karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial.

28