Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA

Oleh :
Farmasi A
Kelompok 7
Dian Ayu

2012

Faizah Amriana

201310410311035

Cynthia Anggi P

201310410311040

Rahma Rosalina W

201310410311050

Chotijah Verial V

2013104103110

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
1

2014/2015

KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMA.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak menghadapi kesulitan dan hambatan,
tetapi berkat dorongan dan dukungan dari rekan-rekan sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu penulis sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan para
pembaca pada umumnya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan,
dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang mengarah kepada perbaikan isi makalah ini sangat penulis harapkan.

Malang, 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR................................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. 3
PENGARUH pH PADA REAKSI ENZIMATIK................................................................10
PENGARUH SUHU PADA REAKSI ENZIMATIK...........................................................17
PENGARUH MODIFIER DAN PENINGKATAN KADAR ENZIM PADA REAKSI ENZIMATIK
............................................................................................................................ 24
MEKANISME KERJA ENZIM SCHARDINGER.............................................................37

ENZIM
I. Dasar Teori
A. Pengertian enzim
Enzim adalah protein yang diproduksi dari sel hidup dan digunakan oleh sel-sel
untuk mengkatalisis reaksi kimia yang spesifik. Enzim memiliki tenaga katalitik yang
luar biasa dan biasanya lebih besar dari katalisator sintetik. Spesifitas enzim sangat tinggi
terhadap substratnya. Tanpa pembentukan produk samping enzim merupakan unit
fungsional untuk metabolisme dalam sel, bekerja menurut urutan yang teratur. Sistem
enzim terkoordinasi dengan baik menghasilkan suatu hubungan yang harmonis diantara
sejumlah aktivitas metabolic yang berbeda (Shahib, 1992). Enzim dikatakan sebagai
suatu kelompok protein yang berperan sangat penting dalam aktivitas biologis. Dalam
jumlah yang sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan
normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya. Enzim ini akan
kehilangan aktivitasnya akibat panas, asam atau basa kuat, pelarut organik, atau
pengaruh lain yang bisa menyebabkan denaturasi protein. Enzim dikatakan mempunyai
sifat sangat khas, karena hanya bekerja pada substratnya (Girindra, 1990).
Untuk aktivitasnya kadang-kadang enzim membutuhkan kofaktor yang bisa
berupa senyawa organik atau logam. Senyawa organik itu terikat pada bagian protein
enzim. Bila ikatan itu lemah maka kofaktor tadi disebut co-enzim dan dan jika terikat
erat melalui ikatan kovalen maka dinamakan gugus prostetis. Pada umumnya dua
kofaktor itu tidak dibedakan dan disebut co-enzim saja. Apabila enzim itu terdiri dari
bagian seperti yang diterangkan diatas maka keseluruhan enzim itu dinamakan holo
enzim. Bagian protein dinamakan apo-enzim dan bagian non proteinnya disebut coenzim.fungsi logam pada umumnya adalah untuk memantapkan ikatan substrat pada
enzim atau mentransfer electron yang timbul selama proses katalisis (Soeharsono, 1989).
Enzim dalam proses metabolisme berperan sebagai biokatalis dalam setiap reaksi
metabolisme yang terjadi pada setiap makhluk hidup. Dalam aktivitas enzim ini dipengaruhi
oleh berbagai faktor seperti konsentrasi, suhu, maupun pH. Pada kondisi yang sesuai enzim
ini dapat bekerja secara optimal dalam reaksi katabolisme maupun anabolisme. Enzim dalam
aktivitasnya bekerja secara spesifik terhadap substrat yang akan dikatalisisnya, dengan
begitu kita akan mengetahui berapa besar aktivitas yang dilakukan. Seperti contoh adalah
enzim yang bekerja untuk mendegradasi amilum adalah amilase. Enzim ini banyak terdapat

pada saliva, sehingga makanan yang dikunyah lama akan terasa manis, karena senyawa
polisakarida akan terurai menjadi monosakarida.
Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Amilase dapat
diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati, glikogen, dan polisakarida yang
lain. Tumbuhan mengandung dan amylase; hewan memiliki hanya amylase, dijumpai
dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah.
Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang, menghasilkan campuran glukosa dan
maltosa. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang
saling berikatan membentuk rantai lurus. Dalam air, amilosa bereaksi dengan iodine
memberikan warna biru yang khas.

B. Sifat-Sifat Enzim
1. Biokatalisator, mempercepat jalannya reaksi tanpa ikut bereaksi.
2. Thermolabil; mudah rusak, bila dipanasi lebih dari suhu 60 C, karena enzim
tersusun dari protein yang mempunyai sifat thermolabil.
3. Merupakan senyawa protein sehingga sifat protein tetap melekat pada enzim.
4. Dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sebagai biokatalisator, reaksinya sangat
cepat dan dapat digunakan berulang-ulang.
5. Bekerjanya ada yang di dalam sel (endoenzim) dan di luar sel (ektoenzim),
6.

contoh ektoenzim: amilase, maltase.


Umumnya enzim bekerja mengkatalisis reaksi satu arah, meskipun ada juga
yang mengkatalisis reaksi dua arah, contoh : lipase, meng-katalisis
pembentukan dan penguraian lemak.
Lipase: Lemak + H2O > Asam lemak +

Gliserol
7. Bekerjanya spesifik ; enzim bersifat spesifik, karena bagian yang aktif
(permukaan tempat melekatnya substrat) hanya setangkup dengan permukaan
substrat tertentu.
8. Umumnya enzim tak dapat bekerja tanpa adanya suatu zat non protein
tambahan yang disebut kofaktor.

C. Faktor faktor yang mempengaruhi kerja enzim


Konsentrasi substrat

Faktor pertama yang mempengaruhi kinetika enzim adalah banyaknya molekul


substrat [S] yang tersedia pada suatu sistem. Dengan asumsi, Semakin tinggi
konsentrasi enzim maka kerja waktu yang dibutuhkan untuk suatu reaksi semakin
cepat, sedangkan kecepatan reaksi dalam keadaan konstan.
Semakin tinggi konsentrasi substrat, semakin cepat kerja enzim, tapi jika kerja
enzim telah mencapai titik maksimal, maka kerja enzim berikutnya akan konstans.
makin banyak molekul substrat maka kemungkinan bertemunya enzim dan substrat
juga akan meningkat.

Temperatur
Faktor kedua yang mempengaruhi kinetika enzim adalah temperatur/suhu. Pada
reaksi kimia pada umumnya, tiap kenaikan suhu sebesar 10 derajat akan diikuti
dengan bertambahnya kecepatan reaksi sebesar dua kali. Hal ini terjadi karena pada
suhu yang meningkat, energi kinetik antara partikel dan enzim juga akan
meningkat hingga memperbesar kemungkinan bertemunya enzim dan substrat.
Namun, karena seperti protein lainnya, enzim yang bersifat termolabil akan
terdenaturasi pada suhu tinggi hingga kecepatan reaksi juga akan turun.
Untuk enzim, suhu optimal antara 35 C dan 40 C, yaitu suhu tubuh. Pada
suhu di atas dan di bawah optimalnya, aktifitas enzim akan berkurang. Di atas suhu
50 C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada
suhu 100 C semua enzim rusak. Pada suhu yang sangat rendah, enzim tidak benarbenar

rusak

tetapi

aktivasinya

sangat

banyak

berkurang

(Gamman

&

Serrington,1994)
Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 18-23C atau maksimal 40C.
Karena pada suhu 45C enzim akan mengalami denaturasi karena merupakan

bentuk protein (Tranggono dan Satiadji, 1989).


pH (Derajat keasaman)
6

Faktor ketiga yang mempengaruhi kinetika enzim adalah keasaman


lingkungan tempat terjadinya reaksi. pH mempengaruhi kemampuan enzim
berikatan dengan substrat karena perubahan pH membuat muatan side chain enzim
yang bertanggung jawab dalam mengikat substrat dan memberikan energi.
pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral). Akan tetapi beberapa
enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Sebagai contoh enzim
pepsin yang dikeluarkan ke lambung, hanya dapat berfungsi dalam keadaan asam
dengan pH optimal 2 (Gaman dan sherington, 1994).
Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam atau basa terutama
pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. Namun dalam suatu reaksi
kimia , pH suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa, karena akan
menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. Sebenarnya enzim juga
memiliki pH optimum tertentu, umumnya sekitar 4,5-8 dan pada kisaran pH

tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson dan Fieser,1992).


Keberadaan Aktivator Dan Inhibitor
Aktivaor merupakan molekul yang mempermudah ikatan enzim antara
enzim dengan dan substrat. Inhibitor merupakan molekul yang menghambat ikatan
antara enzim dengan substrat.

Ada dua macam inhibitor yaitu:


a. Inhibitor kompetitif
adalah inhibitor yang kerjanya bersaing dengan substrat untuk mendapatkan sisi aktif
enzim.
b. Inhibitor non kompetitif

Adalah inhibitor yang melekat pada tempat selain sisi aktif sehingga bentuk enzim
berubah dan substrat tidak dapat melekat pada enzim (Al-hikmah,2010).

II. Prinsip Reaksi Biokimia


Pati secara alami terdapat pada tumbuhan dan berfungsi untuk penyimpanan energi
dalam bentuk polimer glukosa. Pada perlakuan dengan kondisi asam ataupun dengan
bantuan enzim, pati dapat terhidrolisis menjadi dextrin (campuran dari polisakarida
dengan titik lebur rendah, tersusun atas 3-8 unit glukosa), Maltose, dan akhirnya Dglukosa. Keberadaan pati dalam makanan dapat dideteksi dengan larutan I2. Larutan akan
berubah warna menjadi biru-hitam bila mengandung pati.
Pati + I2

Reaksi yang terjadi pada percobaan


CH2O

Warna biru hitam

CH2O
O

H
OH

O
H

OH

H
O

O
H
OH

H
+ nI2

H
O

OH

CH2O
H

CH2O
O

H
OH

O
OH

O
H
OH

amilase

H
O

OH

biru

CH2O
H

O
H
OH

H
+ nI2

H
OH

OH
OH

H
bening

PENGARUH pH PADA REAKSI ENZIMATIK


I. Tujuan
9

Mengetahui pengaruh pH lingkungan terhadap kinerja enzim yang terkandung dalam


saliva.
II.

Prosedur Praktikum
Alat yang digunakan :
- Bejana erlenmeyer
2 buah
- Pipet Volumetrik
1 buah
- Tabung reaksi
5 buah
- Stopwatch
1 buah
Reagensia :
- Larutan enzim E (dibuat dengan mencerkan saliva 1ml dalam 10ml air suling)
- Larutan NaCl 0,9%
- Larutan buffer dengan pH 5,9; pH 7; pH 8
- Larutan substrat S (larutan amilum solani 2%)
- Larutan KI-I2
- Larutan HCl 0,05N

10

III.

Skema Kerja

11

Masing-masing kelompok melakukan percobaan pada satu pH tertentu


(5,9; 7; dan 8)
Disiapkan 5 buah tabung reaksi bersih diberi tanda 0', 5', 10', 15' dan 20'
disiapkan bejana erlenmeyer dan pipet volumetrik.
diambil 15ml larutan dapar sesuai pH yang ditentukan
ditambahkan 10ml larutan "s" dan 6ml larutan NaCl 0,9% dan masukkan
ke erlenmeyer
Goyangkan erlenmeyerr beberapa detik dengan gerakan memutar agar
isinya tercampur rata.
Isilah masing-masing tabung dengan 10ml larutan HCl 0,05 N
Ambil 1ml larutan dari erlenmeyer masukkan tabung ke 0', campur
dengan membolak-balikkan tabung dengan menyumbat ibu jari diujung
botol
disiapkan stopwatch
diambil 1ml enzim dimasukkan dalam campuran yang berada dalam
erlenmeyer
jalankan stopwatch tepat saat enzim dimasukkan. goyangkan dengan
gerakan memutar, lalu diamkan diatas meja.
menjelang menit ke-5 ambil 1ml larutan dalam erlenmeyer, tepat pada
menit ke 5 masukkan larutan ke tabung 5'
campur larutan dengan kocok dengan membalikkan tabung yang
disumbat ibu jari
lakukan prosedur diatas untuk tabung 10', 15', 20'.
setelah semua selesai, masukkan pada masing-masing tabung larutan KII2
5 menit kemudian, amati semua larutan di spektro, catat absorbansinya
Hitung % substrat tercerna pada menit ke 0,5,10,15 dan 20.
dibuat grafik dari hasil absorbansi diatas.

12

Rumus perhitungan persentase substrat yang dicerna pada menit t (persentase


substrat semula persentase substrat yang tersisa pada menit t).
ATt
ATo

Persentase substrat yang dicerna pada menit t = 100% -

x 100%

Keterangan : ATt = absorbance larutan pada menit ke t


ATo = absorbance larutan pada menit ke 0
IV.

Data Hasil Pengamatan

Berikut data hasil praktikum uji pengaruh berbagai pH dengan reaksi enzimatik pada
pH 5,9 (Kelompok I dan II)
Waktu t

Data absorbance

% substrat yang tercerna

Rata-rata
% substrat

II

II

yang

2,357

1,876

tercerna
0

2,311

1,653

1,95

11,89

6,92

10

2,270

1,688

3,69

10,02

6,86

15

2,197

1,658

6,79

11,62

9,205

20

1,918

1,635

18,63

12,85

15,74

Kurva kerja enzim pada pH 5,9

Rata-rata % substrat yang tercerna


18
16

15.74

14
12
10

Rata-rata % substrat
yang tercerna

9.21

6.92

6.86

4
2
0 0
0

10

15

20

Berikut data hasil praktikum uji pengaruh berbagai pH dengan reaksi enzimatik pada
pH 7 (Kelompok III, IV dan VII)
13

Waktu t

Data absorbance

% substrat yang tercerna

Rata-rata
% substrat
yang
tercerna

III

IV

VII

III

IV

VII

2,107

1,531

1,384

1,927

1,649

1,685

8,54

-7,71

-21,75

-6,97

10

2,395

1,670

1,678

-11,96

-9,080

-21,24

-14,09

15

2,451

1,619

1,630

-16,33

-5,75

-17,77

-13,28

20

1,909

1,599

1,610

9,40

-4,44

-16,33

-3,79

Kurva kerja enzim pada pH 7

Rata-rata % substrat yang tercerna


0 0
0

10

15

20

-2
-3.79

-4
-6

Rata-rata % substrat yang


tercerna

-6.97
-8
-10
-12
-14

-13.28
-14.09

-16

Berikut data hasil praktikum uji pengaruh berbagai pH dengan reaksi enzimatik pada
pH 8 (Kelompok V, VI dan VIII)

14

Waktu t

Data absorbance

% substrat yang tercerna

Rata-rata %

(%)

substrat yang
tercerna (%)

III

IV

VII

III

IV

VII

1,789

1,559

2,214

2,232

1,673

2,552

-24,76

-7,31

-15,27

-15,78

10

2,451

1,651

2,498

-37,00

-5,90

-12,83

-18,58

15

2,422

1,644

2,550

-35,38

-5,45

-15,18

-18,67

20

2,451

1,610

2,498

-37,00

-3,27

-12,83

-17,7

Kurva kerja enzim pada pH 8

15

Rata-rata % substrat yang tercerna (%)


0 0
0

10

15

20

-2

-4

-6

-8
Rata-rata % substrat yang
tercerna (%)
-10

-12

-14

-16

-15.78

-17.7

-18
-18.58

-18.67

-20

16

V. Pembahasan
Enzim merupakan substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan
sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Enzim bekerja
dipengaruhi lingkungan. Salah satu yang mempengaruhi kinerja enzim adalah pH. Enzim
dapat berbentuk ion positif, ion negatif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion) . Dengan
demikian perubahan pH lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap efektivitas bagian
aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim dengan substrat. Selain itu, pH tinggi
atau pH rendah akan menyebabkan penurunan aktivitas dan denaturasi enzim.
Pada percobaan mengenai pengaruh pH terhadap aktivitas enzim, bertujuan untuk
membuktikan pengaruh pH terhadap aktivitas kerja enzim, khususnya pada enzim
amylase pada saliva (air liur). Salah satu tujuan enzim amylase adalah untuk
mendegadrasi karbohidrat polisakarida menjadi karbohidrat monoksida, yaitu dari
amilum menjadi glukosa. Enzim amilase memiliki kisaran pH optimal yaitu 5,5-6,5.
Tetapi memungkinkan aktivitas maksimum enzim amilase bekerja pada pH 5,5-7,0, yaitu
sesuai dengan literatur pH amilase signifikan berada diantara 5,6-7,2 (Poedjiadji,1994).
Secara teori, enzim bekerja pada kisaran pH tertentu dan menunjukkan kerja
maksimum pada pH optimum. Di luar pH optimum aktivitas enzim akan terganggu. Pada
percobaan ini menggunakan tiga variasi pH pada subtrat, di antaranya yaitu pH 5,9; pH
7, dan pH 8. Subtrat yang dipakai dalam percobaan ini adalah larutan pati.
Dari kurva yang dihasilkan, diperoleh hasil dari pH 5,9 pada menit ke 0, 5, 10, 15, dan
20 berturut-turut menunjukkan nilai yang lebih baik daripada suasana pH lainnya. Hal ini
ditunjukan dengan persentase substrat yang tercerna menjadi glukosa lebih besar dari
pada pH 7 dan pH 8. Hal ini dimungkinkan, pada pH 7 dan pH 8 enzim telah mengalami
denaturasi sehingga menyebabkan penurunan aktivitas enzim, dibuktikan dengan hasil
persentase substrat yang tercerna bernilai negatif.
Secara teori, enzim amylase bekeja pada rentang pH optimum 5,6 7,2. Sehingga
bisa dinyatakan pH optimum yang terbentuk dari percobaan ini adalah benar.Meskipun
pH 7 masih termasuk dalam rentang pH optimal, tetapi pada data yang diperoleh
menunjukkan nilai yang negatif. Hal ini dimungkinkan adanya kesalahan dalam
pengerjaan.

Kesalahan yang terjadi dalam proses penambahan larutan enzim yang


17

kurang tepat, dimungkinkan penambahan jumlah larutan enzim yang kurang sempurna
(masih kurang, akibat penetesan larutan enzim) sehingga kadar amilum yang terbentuk
menjadi tinggi.
VI.

Pertanyaan
a. Apa fungsi penambahan dapar pada praktikum ini?
Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi
protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Pada sel hidup,
perubahan pH sangat kecil. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang
sempit. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan
menggunakan buffer (larutan penyangga). Jadi penambahan buffer
dalam praktikum ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan enzim
dalam keadaan asam atau basa dengan tidak merubah pH
optimalnya.

b. Apa fungsi penambahan larutan NaCl 0,9%?


Penambahan NaCl bertujuan sebagai pengaktif kerja enzim dan pati atau amilum

dimana pati ini merupakan substrat yang akan bereaksi dengan iodium
membentuk kompleks biru. Saliva yang merupakan enzim amilase akan
menghidrolisis pati menjadi dekstrin kemudian maltosa (disakarida) dan
terhidrolisis lagi menjadi 2 molekul glukosa secara enzimatis.
VII.

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa

pH optimum untuk enzim amilase adalah 5,9.

PENGARUH SUHU PADA REAKSI ENZIMATIK

18

I. Tujuan
Mengetahui pengaruh suhu lingkungan terhadap kinerja enzim yang terkandung dalam
saliva.
II. Prosedur Kerja
Alat yang digunakan :
- Bejana erlenmeyer
2 buah
- Pipet Volumetrik
1 buah
- Tabung reaksi
5 buah
- Stopwatch
1 buah
Reagensia :
- Larutan enzim E (dibuat dengan mencerkan saliva 1ml dalam 10ml air suling)
- Larutan NaCl 0,9%
- Larutan buffer
- Larutan substrat S (larutan amilum solani 2%)
- Larutan KI-I2
- Larutan HCl 0,05N

Rumus perhitungan persentase substrat yang dicerna pada menit t (persentase


substrat semula persentase substrat yang tersisa pada menit t).
ATt
Persentase substrat yang dicerna pada menit t = 100% - ATo x 100%
Keterangan : ATt = absorbance larutan pada menit ke t
ATo = absorbance larutan pada menit ke 0

19

Skema Kerja

20

menjelang menit ke-5 ambil 1ml larutan dalam erlenmeyer, tepat pada
menit ke 5 masukkan larutan ke tabung 5'
campur larutan dengan kocok dengan membalikkan tabung yang
disumbat ibu jari
III.

Data Hasil Pengamatan


lakukan prosedur diatas untuk tabung 10', 15', 20'.
Berikut data hasil praktikum uji pengaruh suhu dengan reaksi enzimatik pada suhu 00C0
semua selesai, masukkan pada masing-masing tabung larutan
5setelah
C
KI-I2
Waktu t
Data absorbance
% substrat yang tercerna
Rata-rata
5 menit kemudian, amati semua larutan di spektro, catat absorbansinya
% substrat
I
IV pada menit
I
IV
Hitung % substrat
tercerna
ke 0,5,10,15
dan yang
20.
tercerna
0
2.872
1.786dari hasil
0 %absorbansi
0 %diatas. 0%
dibuat grafik
5
2.635
1.670
8.25%
6.49 %
7.37%

10

2.635

1.621

8.25%

9.23%

8.74%

15

2.635

1.632

8.25%

8.62%

8.43%

20

2.591

1.637

9.78%

8.34%

9.06%

Kurva kerja enzim pada suhu 00C-50C


10%
8.74%

9%
8%

9.06%
8.43%

7.37%

7%
6%
% substrat terlarut

5%
4%
3%
2%
1%
0.00%
0%
0'

5'

10'

15'

20'

waktu (menit)

Berikut data hasil praktikum uji pengaruh suhu dengan reaksi enzimatik pada suhu
270C

21

Waktu t

Data absorbance

% substrat yang tercerna

Rata-rata %

(%)

substrat yang
tercerna (%)

II

VII

II

VII

2.635

1.954

2.635

1.356

1.503

2.081

48.53

23.08

21.02

30.87

10

0.202

0.728

0.309

92.33

62.72

88.27

81.10

15

0.048

0.269

0.343

98.17

86.23

86.98

90.46

20

1.024

0.102

0.190

99.089

94.78

92.79

95.55

Kurva kerja enzim pada suhu 270C


120%
100%

90.46%

95.55%

81.10%
80%

% substrat terlarut

60%
40%

30.87%

20%
0.00%
0%
0'

5'

10'

15'

20'

Waktu (menit)

22

Berikut data hasil praktikum uji pengaruh suhu dengan reaksi enzimatik pada suhu
600C
Waktu t

Data absorbance

% substrat yang tercerna

Rata-rata %

(%)

substrat yang
tercerna (%)

III

VI

VIII

III

VI

VIII

2.635

1.853

2.799

0%

0%

0%

0%

0.211

1.606

2.441

91.99%

12.79%

39.37%

10

0.053

0.377

0.322

97.98%

88.5%

88.71%

15

0.013

0.150

0.130

99.50%

95.58%

95.58%

20

0.013

0.007

0.060

99.50%

13.33
%
79.65
%
91.90
%
99.62
%

97.86%

98.99%

Grafik substrat terlarut

23

120%

95.58%

100%
88.71%
80%

% substrat terlarut

60%

40%

39.37%

20%

0.00%
0%
0'

5'

10'

15'

Waktu (menit)

IV.

Pembahasan
Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim, namun enzim tidak dapat

bekerja. Dengan kenaikan suhu lingkungan, enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai
suhu maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu ditingkatkan terus, jumlah enzim yang
aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai
puncaknya pada suhu optimum. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum
sekitar 37 C. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai 60 C,
karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto,2000) .

24

Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. Jika reaksi
tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu, kurva hubungan tersebut akan menunjukkan
suhu tertentu, yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Dengan demikian, dalam
hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum. Pada prakteknya
aktivitas enzim diukur pada berbagai suhu(sebagai contoh antara 0 0C-600C). Umumnya
semakin tinggi temperatur semakin naik laju reaksi yang tidak dikatalis maupun yang
dikatalis oleh enzim.
Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum, makin rendah pula laju
reaksinya. Akan tetapi, keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum
berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. Pada suhu yang
lebih rendah penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak
termodinamik, yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan
substrat. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi, kompleks ES tidak
terbentuk. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. Oleh karena
itu, makin rendah suhu, gerak termodinamik tersebut akan makin berkurang.
Pada daerah suhu yang lebih tinggi gerak termodinamik akan lebih meningkat,
sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. Akan tetapi laju reaksi tidak terus
meningkat, melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan
selisih nilai dan suhu optimum. Dalam peningkatan suhu ini, selain gerak termodinamik
meningkat, molekul protein enzim juga mengalami denaturasi, sehingga bangun tiga
dimensinya berubah secara bertahap. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum, maka
makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk
menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Akibatnya, kompleks E-S akan
sukar terbentuk, sehingga produk juga makin sedikit.

V.
Pertanyaan
1 Digunakan sebagai apa suhu pada praktikum hari ini?
Digunakan sebgai kontrol dan mengetahui mana suhu yang dapat mempengaruhi
2
VI.

enzim dalam tubuh


Apa fungsi HCl 0.005 N?
Sebgai inhibitor enzim (penghambat)
Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini bisa dikatakan bahwa pada suhu 00C-50C enzim masih

dalam kondisi non aktif sehingga % substrat yang terlarut juga masih sedikit. Dalam suhu
25

270C kerja enzimsemakin meningkat karena dilihat dari kenaikan % substrat yang
signifikan pada suhu 500C-600C enzim mengalami denaturasi sebab mengalami
pemanasan.

PENGARUH MODIFIER DAN PENINGKATAN KADAR ENZIM PADA REAKSI


ENZIMATIK
I. Tujuan
Mengetahui pengaruh modifier dan peningkatan kadar enzim pada reaksi enzimatik.
II. Prosedur Kerja
Alat yang digunakan :
- Bejana erlenmeyer
2 buah
- Pipet Volumetrik
1 buah
- Tabung reaksi
5 buah
- Stopwatch
1 buah
Reagensia :
- Larutan enzim E (dibuat dengan mencerkan saliva 1ml dalam 10ml air suling)
26

- Larutan NaCl 0,9%


- Larutan buffer
- Larutan substrat S (larutan amilum solani 2%)
- Larutan KI-I2
- Larutan HCl 0,05N
Skema kerja

Masing-masing kelompok dibagi menjadi 3A1 dan 3A2

Beth percobaan kelompok 3A1 dan 3A2 terletak pada tahap ke-5 dan 9 percobaan (lihat
tahap 5 dan 9 di bawah ini).

Disiapkan 5 buah tabung reaksi bersih diberi tanda 0', 5', 10', 15' dan 20'

disiapkan bejana erlenmeyer dan pipet volumetrik.

27

Kelompok 3A1, masukkan 15ml larutan dapar (pH 6.5). 3ml larutan S dan 6ml
aquadest kedalam Erlenmeyer. Goyangkan Erlenmeyer beberapa detik dengan gerakan
memutar agar isinya tercampur rata.

Kelompok 3A2 : masukan 15ml larutran dapar (PH 6.5). 3ml larutan S dan 5ml
aquadest kedalam Erlenmeyer. Goyangkan Erlenmeyer beberapa detik dengan gerakan
memutar agar isinya tercampur rata.

Isilah masing-masing tabung reaksi dengan 10ml larutan HCl 0.05 N


Ambil dengan pipet 1ml campuran larutan dan labu Erlenmeyer dan masukan kedalam
tabung reaksi yang bertanda 0, campurlah isinya dengan beberapa kali membalikan
tabung yang disumbat ibu jari tangan.

Siapkan stopwatch.

Kelompok 3A1 : pipetlah 1ml enzim dan tambahkan kedalam campuran larutan yang
berada didalam Erlenmeyer. Jalankan stopwatch tepat pada saat enzim dimasukkan
kedalam Erlenmeyer. Goyangkan Erlenmeyer beberapa detik dengan gerakan memutar
agar enzim tercampur rata dalam larutan. Setelah itu Erlenmeyer jangan digoyangkan
lagi (diamkan diatas meja).

Kelompok 3A2 : pipetlah 2ml enzim dan tambahkan kedalam campuran larutan yang
berada didalam Erlenmeyer. Jalankan stopwatch tepat pada saat enzim dimasukkan
kedalam Erlenmeyer. Goyangkan Erlenmeyer beberapa detik dengan gerakan
memutar agar enzim tercampur rata dalam larutan. Setelah itu Erlenmeyer jangan
digoyangkan lagi (diamkan diatas meja).

Kira-kira setengah menit menjelang menit ke-5 ambilah dengan pipet 1ml larutan
dengan labu Erlenmeyer. Tepat pada menit ke-5 masukkan cairan dalam pipet tersebut
kedalam tabung reaksi bertanda 5, campurlah isinya dengan beberapa kali
membalikkan tabung yang disumbat dengan ibu jari tangan.

Lakukan kembali prosedur seperti tahap 10 sekitar menit ke-10,15,20 dengan


memasukkan cairan dari dalam piper kedalam tabung reaksi bertanda 10,15,20 dan
mencampurkannya dengan membalik-balikkan tabung.

28

Stelah semua selesai, tambah 1ml larutan KI- I dan buret kedalam tabung reaksi.
Campur merata dengan membalikkan beberapa kali tabung reaksi yang disumbat ibu
jari tangan.

Kira-kira 15 menit setelah penambahan KI- I, bacalah absorbansi larutan yang ada
dalam masing-masing tabung reaksi.

Dari nilai absorbansi yang terbaca, hitunglah persen substrat yang tercerna pada menit
ke 0,5,10,15 dan 20 dengan rumus.

Runutlah nilai presentase substrat yang dicerna pada ordinat grafik yang
menghubungkannya dengan lama berlangsungnya reaksi (T) pada absisnya kurva yang
terbentuk disebut progrescurve.

Bandingkanlah kinerja enzim pada percobaan yang dilakukan kelompok 3A1,3A2,3B1


dan 3B2 dan buatlah analisis mengapa demikian

Rumus perhitungan persentase substrat yang dicerna pada menit t (persentase


substrat semula persentase substrat yang tersisa pada menit t).
ATt
Persentase substrat yang dicerna pada menit t = 100% - ATo x 100%
Keterangan : ATt = absorbance larutan pada menit ke t
ATo = absorbance larutan pada menit ke 0

29

III. HASIL DAN DATA PENGAMATAN

Data kelompok 1,2,3, dan 4

t ke

Absorbansi

% Substrat yang dicerna

I
2.515

II
2.391

III
2.333

IV
1.761

0%

0%

0%

0%

2.357

2.451

2.382

2.206

6.28%

-8.88%

-2.100%

-25.27%

10

2.322

2.151

2.382

1.317

7.67%

4.18%

-2.100%

25.21%

15

2.100

1.039

3.051

0.481

16.50%

53.88%

-5.26%

71.69%

20

1.565

0.380

2.422

0.08

37.77%

33.12%

-3.31%

95.40%

II

III

IV

Kurva perbandingan Data 1 dan Data 2


100.00%
83.12%

80.00%

60.00%

53.84%
Data 1
37.77% Column1

40.00%

20.00%

16.50%
7.67%
4.18%

6.28%
0.00% 0.00%
0'

5'

10'

-8.88%

15'

20'

-20.00%

Data kelompok 5, dan 6


t
ke-

Absorbansi
V

% Substrat yang dicerna

VI

VI

Rata-rata % Substrat
tercerna

1.720

1.709

0%

0%

0%

1.743

1.755

-1.34%

-269%

-2.02%

10

1.789

1.764

-4.01%

-3.22%

-3.02%

15

1.761

1.810

-2.38%

-5.91%

-4.15%

20

1.786

1.717

-3.84%

-0.97%

-2.16%

30

Kurva perbandingan data 3 dan Data 4


100.00%

95.46%

80.00%
71.69%

60.00%
40.00%

Column1
Data 3

25.21%

20.00%
0.00% 0.00%
0'

5'

-20.00%

-2.10%

-2.10%
10'

15'-5.06%

20'-3.81%

-25.27%

-40.00%

Data kelompok 7, dan 8


t ke-

0
5
10
15
20

Absorbansi
VII
1.918
1.836
1.704
1.740
1.712

VIII
1.816
1.712
1.712
1.678
1.670

% Substrat yang dicerna


VII
0%
4.38%
11.16%
9.28%
10.74%

VIII
0%
5.73%
5.73%
7.60%
8.40%

Rata-rata % Substrat
tercerna
0%
5.06%
8.43%
8.44%
9.39%

Kurva perbandingan 5,6 dan 7,8

31

12.00%
10.00%

9.39%
8.45%

8.00%

8.44%

6.00%
5.06%
4.00%

Data 5,6

2.00%

Column1

0.00% 0.00%
0'
-2.00%

5'

10'

15'

20'

-2.02%

-2.16%

-3.02%
-4.00%

-4.15%

-6.00%

Kurva Perbandingan Data 1 dan 5,6


50%

40%

37.77%

30%
Data 1

20%

Column1

16.50%
10%
6.28%
0% 0.00%
0'

5' -2.02%

7.67%

10'-3.02%

15'
-4.15%

20'-2.16%

-10%

Keterangan :
Kelompok 1 : Aktivator (+), Inhibitor : (-), konsentrasi enzim 1ml
Kelompok 2 : Aktivator (+), Inhibitor : (-), konsentrasi enzim 2ml
Kelompok 3 : Aktivator (-), Inhibitor : (-), konsentrasi enzim 1ml
Kelompok 4 : Aktivator (-), Inhibitor : (-), konsentrasi enzim 2ml
Kelompok 5,6 : Aktivator (-), Inhibitor : (+), konsentrasi enzim 1ml
Kelompok 7,8 : Aktivator (+), Inhibitor : (+), konsentrasi enzim 1ml

32

33

IV.

PEMBAHASAN
Aktivitas enzim dipengaruhi oleh kadar enzim aktivitas dan kadar enzim
memiliki perbandingan yang lurus. Berdasarkan data kelompok 1 yang hanya
,enggunakan altivator saja tanpa inhibitor, dengan konsentrasi enzim sebesar 1ml
menunjukkan adanya peningkatan enzim dari nilai persentase substrat tercerna.
Sedangkan pada kelompok 2, yang sama-sama menggunakan aktivator tanpa
inhibitor, dengan konsentrasi sebesar 2ml, nilai persentase substrat tercernanya
menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 83,12% pada
menit ke 20.
Pada kelompok 3 dan 4 diberikan perlakuan yang berbeda, yaitu tanpa
diberikan modifiier tetapi jumlah konsentrasinya dibedakan. Kelompok 3
diberikan konsentrasi enzim sebesar 1m, sedangkan kelompok 4 sebesar 2ml. Hal
ini membuktikan bahwa persentase substrat tercerna pada kelompok 3 bernilai
negatif yang stabil tanpa adanya pengaruh modifier terhadap aktivitas enzim.
Kadar enzim yang digunakan sangat kecil. Pada kelompok 4, data yang diperoleh
menujukkan hasil yang signifikan tanpa adanya pengaruh modifier, hanya saja
kadar yang digunakan lebih besar dari kelompok 3.
Pada kelompok 5 dan 6, diberikan perlakuan dengan memberikan inhibitor
tanpa aktivator. Inhibitor yang digunakan yaitu HgCl2 sebanyak 3 tetes dengan
konsentrasi sebesar 1ml. Dari data yang diperoleh, persentase substrat tercerna
bernilai negatif. Hal ini disebabkan oleh inhibitor yang melekat pada sisi aktif
enzim sudah banyak, sehingga enzim tidak dapat berikatan dengan substrat, dan
menyebabkan penurunan nilai % substrat tercerna serta penurunan aktivitas
enzim.
Pada kelompok 7 dan 8 digunakan kedua modifier, yaitu aktivator NaCl
dan inhibitor HgCl2 dengan konsentrasi sebesar 1ml. Adanya modifier dalam satu
waktu menyebabkan kinerja enzim tidak maksimal. Karena pada suatu titik
aktivitas enzim akan dihambat oleh HgCl2, tetapi tidak samai bernilai negatif
karena masih ada pengaruh pemberian aktivator kinerjanya tidak optimal.
Kurva terakhir digambarkan perbandingan antar data kelompok 1 yang
menggunakan aktivator dengan kadar 1ml, serta dengan data kelompok 5 dan 6
tanpa modifer, yang tidak ditambahkan dengan kadar yang sama. Hasil yang
diperoleh menunjukkan nilai persentase substrat tercerna bernilai negatif pada
kelompok yang diberikan modifier.
34

V.

Pertanyaan

A Secara teori, bagaimana pengaruh peningkatan kadar substrat terhadap laju reaks
ienzimatik?
Pada jumlah/konsentrasi enzim yang konstan, semakin tinggi konsentrasi substrat
sampatik tertentu. Aktivitas enzim semakin tinggi (laju reaksi enzimatik semakin
cepat). Aktivitas enzim, Hal ini disebabkan oleh keadaan enzim yang sudah jenuh
oleh substrat.
b. Bagaimana pengaruh modifier terhadap reaksi enzimatik.
Semakin besar konsentrasi aktivator, apabila disertai penambahan konsentrasi enzim
dan konsentrasi substrat akan meningkat aktivitas enzim. Molekul aktivator dapat
menyebabkan sisi aktif enzim semakin cocok dengan substrat. Semakin besar
konsentrasi inhibitor, aktivitas enzim akan menurun, karena melekatnya inhibitor pada
sisi aktif sehingga menghalangi melekatnya substrat pada enzim tersebut.
VI.

Kesimpulan
Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh adanya modifier, yaitu aktivator untuk
meningkatkan kinerja enzim dan inhibitor untuk menghambat kinerjanya. Besarnya
kadar yang diberikan dapat mempercepat kinerja enzim. Namun, pemberian aktivator
dan inhibitor secara bersamaan tidak akan memberi hasil yang optimal.

PENGARUH DENATURASI DAN INHIBITOR TERHADAP KINERJA ENZIM


UREASE

35

I. Tujuan Praktikum
Memahami pengaruh denaturasi dan keberadaan inhibitor terhadap kinerja enzim urease
II. Prinsip Reaksi Biokimia
Enzim ini menguraikan ureum menjadi ammonium karbonat. Ammonium karbonat,
kerena sifatnya yang alkalis dapat dideteksi dengan menggunakan indikator
phenolpthalein yang memiliki rentang pH sebagai berikut:

8.3
Tak Berwarna

10
Merah

Kerja Enzim urease akan mengakibatkan perubahan pH larutan yang dapat dideteksi
dengan timbulnya warna tertentu di dalam larutan.
III.

Dasar Teori
Ureum merupakan senyawa amonia yang berasal dari metabolisme asam amino yang

diubah hati menjadi ureum. Ureum bermolekul kecil mudah berdifusi ke cairan ekstra sel,
kemudian akan dipekatkan dan diekskresikan melalui urin. Ureum bersifat racun dalam
tubuh, enzim urease menghidrolisis ureum untuk menjadi urea sehingga dapat
dikeluarkan dari tubuh, pengeluarannyadari tubuh melalui ginjal berupa urin.
Enzim urease berperan dalam ketersediaan energi internal dan external bagi
organisme untuk penggunaan urea atau hidroksiurea sebagai sumber nitrogen. Urease ini
banyak ditemukan pada jack bean, kacang kedelai, dan beberapa biji tanaman lainnya.
Terdapat pula pada jaringan binatang dan pencernaan mikroorganisme.

Pengaruh Inhibitor terhadap kinerja enzim


Kinerja enzim dapat dihambat oleh inhibitor. Terdapat dua jenis inhibitor yaitu
inhibitor komppetitif dan non kompetitif. Inhibitor kompetitif menghambat kerja enzim
dengan cara berikatan dengan enzim pada sisi aktifnya. Oleh karena itu, inhibitor
bersaing dengan substrat menempati sis aktif enzim. Hal ini terjadi karena inhibitor
memiliki struktur yang mirip dengan substrat. Enzim yang berikatan dengan inhibitor
tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai katalisator. Berbeda dengan inibitor non
kompetitif, inhibitor non kompetitif tidak bersaing dengan substrat untuk berikatan
36

dengan enzim. Inhibitor jenis ini akan berikatan dengan enzim pada sisi yang berbeda
(bukan sisi aktif). Jika telah terjadi ikatan enzim inhibitor, sisi aktif enzim akan berubah
sehingga substrat tidak dapat berikatan dengan enzim. Banyak ion logam berat bekerja
sebagai inhibitor non kompetitif, misalnya Ag+, Hg+, dan Pb+ (Firmansyah dkk, 2007)

Pengaruh Inhibitor terhadap kinerja enzim


Suatu enzim dapat mengalami denaturasi, yaitu rusaknya bentuk tiga dimensi enzim yang
menyebabkan enzim tidak dapat lagi berikatan dengan substrat. Denaturasi menyebabkan
menurunnya aktifitas enzim. Denaturasi umumnya bersifat irreversibel (tidak dapat
kembali). Namun, enzim-enzim yang langka seperti RNAase dapat mengalami renaturasi
setelah mengalami denaturasi. Denaturasi enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain pH dan suhu. Secara umum jika enzim mengalami denaturasi maka enzim tersebut
tidak dapat bekerja optimal.
IV.

Prosedur praktikum
Alat yang digunakan
Tabung reaksi 3 buah
Water bath
Bahan yang digunakan
Larutan ureum 1%
Indikator phenolpthalein 2%
Larutan urease
Larutan sublimat

Skema Kerja

37

Disipkan tabung reaksi yang sudah diberi label A,B,C


Ditambahkan 5ml larutan ureum 1% dan indikator PP 2 tetes pada masing-masing
tabung
Ditambahkan sari kedelai 1ml
Ditambahkan 1ml sari kedelai panas
Ditambahkan larutan sublimat 1 tetes lalu ditambahkan 1 ml sari kedalai
Diamati perubahan warna yang terjadi

V.

Data Dan Hasil Pengamatan


Tabel pengamatan
Kelompok Ke

Tabung
A

Keterangan :
+ : Terjadi perubahan warna
- : warna tetap

Gambar hasil pengamatan

38

Gambar 1Larutan uji sebelum


ditambahkan phenolphthalein dan
susu kedelai

Gambar 2 Hasil akhir setela semua


bahan dicampur dan dikocok.

VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, diberikan perlakuan yang berbeda pada setiap tabung. Pada

tabung A, dihasilkan larutan warna merah muda karena enzim bekerja menguraiakan ureum
dalam urin menjadi amonium karbonat yang bersifat basa/alkalis, sehingga apabila diuji
dengan indikator phenolphtalein akan menunjukkan warna merah muda yang artinya pH
berkisar antara 8,3-10,0 (basa/alkalis).
Pada tabung B, hasil larutan tetap berwarna putih, karena enzim yang menguraikan
ureum menjadi amonium karbonat tidak berfungsi dengan baik, hal ini dikarenakan enzim
yang bertindak sebagai mediator telah rusak/terdenaturasi pada suhu tinggi.
Pada tabung C,hasil larutan menunjukkan warna putih kemerahan karena enzim bekerja
sangat minimum oleh pengaruh inhibitor sublimat. Hal ini dikarenakan amonia yang
terbentuk sangat sedikit sehinggatidak memberikan perubahan warna yang cukup signifikan
dan diduga pH tidak berubah secara signifikan pula.
Tampak terjadinya perbedaan hasil tabung B pada kelompok 3 dengan kelompok lainnya.
Hal ini dimungkinkan terjadinya kesalahan pada proses pengerjaan, misalnya enzim yang
digunakan kurang panas, atau alat yang digunakan tidak bersih, sehingga terkontaminasi
suatu zat dan menimbulkan warna merah muda pada tabung B.
Sublimat merupakan logam berat yang dapat menghambat kerja enzim secara irreversibel
nonkompetitif. Sublimat tersebut bekerja dengan menggangu sisi kofaktor enzim sehingga
enzim tidak teraktivasi dan reaksi gagal berlangsung. Namun beberapa enzim yang tidak
berikatan dengan inhibitor tersebut akan teraktivasi dan menguraikan urea menjadi amonium
karbonat yang dapat menunjukkan sedikit perubahan warna oleh indikator phenolphtalein.

39

Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau modifikasi
terhadap konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier maupun kuartener
dari protein. Penyebab dari denaturasi protein bisa berbagai macam, antara lain panas,
alkohol, asam-basa, maupun logam berat
VII.

Pertanyaan
1 Tuliskan reaksi hidrolisis ureum menjadi ammonium karbonat yang dikatalisis enzim
urease!
(NH2)2CO + H2O
ureum
air
2

CO2 + 2NH2
karbondioksida ammonium

Apa yang dimaksud dengan denaturasi enzim? Sebutkan faktor-faktor yang dapat
menyebabkan denaturasi enzim!
Denaturasi adalah proses terjadinya perubahan struktur proteim pada enzim,selain
struktur primernya (ikatan peptida).
Faktor-faktor yang mempengaruhi denaturasi enzim adalah suhu, pH, pelarut,
mekanik atau tekanan, logam, garam, penambahan oksidator atau redukttor dan aliram
listrik.

Termasuk

dalam

kelompok

inhibitor

apakah

larutan

sublimat?

Jelaskan

mekanismenya dalam menghambat kinerja enzim!


Larutan sublimat termasuk dalam inhibitor irreversibel non kompetitif. Mekanisme
reaksinya dengan merubah atau memodifikasi sisi aktif enzim, sehingga substrat tidak
dapat membentuk ikatan kompleks dengan enzim karena sisi aktif tidak dikenali oleh
substrat, akibatnya tidak terjadi penguraian atau hidrolisis ureum menjadi ammonium
karbonat.

VIII. Kesimpulan
Enzim urease merubah urea menjadi amonium karbonat dan karbondioksida.
Indikator PP mengindikasi adanya amonium karbonat dengan menunjukkan
perubahan dari larutan tak berwarna menjadi larutan berwarna merah (bersifat
basa/alkalis).
Enzim urease dapat mengalami kerusakan/denaturasi pada suhu tinggi.
Enzim urease dapat dihambat oleh logam berat salah satunya adalah sublimat.

40

MEKANISME KERJA ENZIM SCHARDINGER


I. Tujuan Praktikum
Mengetahui kerja enzim schardinger pada berbagai kondisi.
II. Dasar Teori
Susu dari asal katanya adalah cairan yang tak tembus cahaya yang dihasilkan oleh
kelenjar susu dan terdiri atas air, protein susu (kasein), lemak, karbohidrat (laktosa) dan
beberapa zat lain. Susu emulsi lemak dalam air dengan kasein sebagai zat
pengemulsi/emulgator (Lehninger, 1995).
Susu segar adalah susu hasil pemerahan yang tidak dikurangi atau ditambahkan
bahan apapun dari pemerahan susu sapi yang sehat. Kriteria untuk air susu sapi yang baik
41

setidak-tidaknya memenuhi hal-hal berikut ini : (i) bebas dari bakteri patogen, (ii) bebas
dari zat-zat berbahaya ataupun toksin seperti insektisida, (iii) tidak tersemar oleh debu
dan kotoran, (iv) zat gizi tidak menyimpang dari codex air susu, dan (v) memiliki cita
rasa normal (Resnawati, 2010).
Susu mengandung suatu enzim yang mengkatalisis oksidasi macam-macam aldehid
menjadi asam. Reaksinya berlangsung secara anaerobik dan dapat ditunjukkan bila ada
akseptor hidrogen yang sesuai seperti : metilen biru. Jalannya reaksi dapat dilihat dari
perubahan warna biru (bentuk oksidasi) menjadi tak berwarna (bentuk reduksi). Reaksi
ini biasanya dilakukan dalam tabung Thunberg (Patong, dkk., 2012).
Uji metilen biru dapat memberikan gambaran perkiraan jumlah bakteri yang
terdapat dalam susu. Pada uji ini akan ditambahkan sejumlah zat yang biru ke dalam susu,
kemudian diamati waktu yang dibutuhkan oleh bakteri dalam susu tersebut untuk
melakukan aktifitas yang dapat mengakibatkan perubahan warna zat tersebut. Semakin
tinggi jumlah bakteri dalam susu tersebut, semakin cepat terjadinya perubahan warna zat
tersebut. Uji metilen biru didasarkan pada kemampuan bakteri dalam susu untuk tumbuh
dan menggunakan oksigen terlarut, sehingga menyebabkan perubahan penurunan
kegiatan oksidasi-reduksi dari campuran tersebut. Maka akibatnya metilen biru yang
ditambahkan akan tereduksi menjadi putih metilen. Selain itu bekerja pula enzim yang
disebut Schardinger enzyme (Girindra, 1990).
Enzim Schardinger merupakan enzim yang termasuk golongan enzim oksidase ini
terdapat antara lain di dalam susu ncubato dikenal pula sebagai enzim xanthine oksidase
karena dapat mengoksidase xanthine. ncubator juga dapat mengoksidasi aldehid. Di
dalam percobaan ini ncubator blue digunakan sebagai penangkap hydrogen (Anonim,
2012).
III.

Prosedur Praktikum
Alat yang digunakan
42

tabung reaksi,
rak tabung reaksi,
pipet tetes,
ncubator.
Bahan yang digunakan
susu segar,
larutan metilen biru 0,02%,
larutan formaldehid netral 0.5%,
vaselin,

Skema Kerja
Disipkan tabung reaksi yang sudah diberi label P, Q, dan R
pada tabung P dan Q ditambhakan masing-masing 3ml susu mentah, sedangkan ke
dalam tabung R masukkan 3ml susu masak.
Ditambahkan 6 tetes metylen blue formaldehid (25mg MB dilarutkan dalam 195ml air
dan 5ml formaldehid 40% ke dalam ketiga tabung dan kocoklah sampai warnanya
merata .
tambahkan 8 tetes parafin cair di dalam tabung P dan jangan dikocok!
inkubasi ketiga tabung pada 37C selama 1/2 jam. amatilah perubahan warna yang
terjadi dalam masing-masin tabung.

Hasil Pengamatan

43

IV.

Pembahasan
Penambahan formaldehid dan pemanasan dapat berpengaruh terhadap
kesegaran susu dimana susu yang ditambahkan formaldehid lebih lama teroksidasi
dibandingkan susu yang hanya diberikan aquades, sedangkan susu yang dipanaskan
yang paling lama mengalami oksidasi karena enzim yang dikandung susu rusak akibat
pemanasan.
Tabung P menunjukkan perubahan warna putih, karena enzim dalam susu
mengkatalisis oksidasi formaldehid. Bukan hanya enzim schardinger yang bekerja,
melainkan terdapat bakteri yang belum mati selama inkubasi. Kerja bakteri optimal
karena adanya penambahan parafin yang melapisi permukaan larutan sehingga tidak
terjadi kontak dengan udara, karena bakteri bekerja secara anaerob.
Pada tabung Q, larutan mempunyai warna putih dengan sedikit warna biru di
bagian atas. Hal ini dikarenakan mengoksidasi formaldehida untuk memberikan
warna putih karena senyawa-senyawa pereduksi tidak dihasilkan dalam kondisi aerob.
Larutan yang dibiarkan bebas kontak dengan udara (O2) menyebabkan reaksi tersebut
berlangsung dalam kondisi aerob yang menurunkan kerja dari enzim schardinger
tersebut.
Pada tabung R, susu mendapatkan perlakuan dengan dipanaskan sampai
mendidih. Hal ini membuat susu mengalami kerusakan enzim yang dimana warna
tabung tidak berubah sebelum atau setelah dimasukkan dalam inkubator. Dan juga,
bakteri sulit menghasilkan senyawa reduksi yang mengubah warna biru pada metylen
blue menjadi putih karena bakteri sudah mulai hilang / mati pada pemanasan susu
44

sebelum diuji dengan metylen blue. Enzim schardinger tidak dapat mengkatalisis
formaldehid sehingga warna tabung tetap berwarna biru.
V.

Kesimpulan
Enzim schardinger bekerja pada kondisi anaerob. Dimana pada pemanasan
yang tinggi dapat merusak enzim yang terdapat dalam susu. Penambahan formaldehid
dapat mempercepat kerusakan susu (merusak kesegaran susu), karena berperan
sebagai substrat dengan enzim schardinger.Semakin lama warna biru berubah menjadi
putih maka semakin baik susu tersebut karena bakteri penghasil senyawa reduksi
semakin sedikit

ASAM AMINO DAN PROTEIN


I.

Tujuan
Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui cara mengidantifikasi sifat dan reaksi dari
protein dan asam amino.

II. Teori Dasar


Protein adalah molekul besar (berat molekulnya bisa sampai beberapa juta).
Terdapat di semua makhluk hidup. Protein tersusun atas kira-kira 20 macam asam amino
yang berikatan satu sam lain dengan ikatan peptide yang dibentuk antara gugus karboksil
asam amino dengan gugus amino dari asam amino berikutnya.
Protein pada umumnya diklasifikasikan atas daya larut dan komposisi kimianya.
a

Simple protein
Merupakan protein yang hanya mengandung 1-alfa-asam amino atau derivatnya.
Contoh : albumin, globulin, glutelin, protamine, albuminoid, histon, dll.
Conjugated protein
Merupakan protein yang bergabung dengan zat lain yang bukan protein. Zat yang
bukan protein ini disebut gugus prostetik. Contoh : nucleoprotein, glikoprotein,
fosfoprotein, lipoprotein, metaloprotein, dll.
Asam amino dan protein secara umum mempunyai sifat-sifat fisik yang sama.

Sebagai contoh : asam amino dan protein memiliki gugus asam dan basa. Kelarutan
protein dala air juga berbeda, tergabtung banyaknya ion positif dan ion negative yang
terdapat di dalam protein. Protein apabila dihidrolisis akan terurai menjadi beberapa jenis

45

asam amino. Aktivitas biologis dari protein tergantung dari bentuk tiga dimensi asam
amino penyusunnya.
Destruksi atas bentuk tiga dimensi suatu protein disebut denaturasi. Bentuk tiga
dimensi tergantung atas ikatan hydrogen, ikatan ter-ionik / jembatan garam, dan ikatan
disulfide. Suatu agen atau zat-zat tertentu yang dapat berinterferensi dengan ikatan
hydrogen, ikatan terionik dan ikatan disulfide dapat mendenaturasi protein. Perubahanperubahan yang terjadi pada protein akibat dari denaturasi, antara lain adalah
berkurangnya daya larut enzim, hilangnya aktivitas protein (khususnya untuk enzim dan
hormon), berubah atau hilangnya antigen.

Golongan tersebut adalah :


a

Dengan rantai samping alifatik (asam amino non polar) : Glisin, Alanin, Valin, Leusin,

Isoleusin.
Dengan rantai samping yang mengandung gugus hidroksil (OH), (asam amino polar) :

Serin, Treonin, Tirosin.


Dengan rantai samping yang mengandung atom sulfur (asam amino polar) : Sistein

dan metionin.
Dengan rantai samping yang mengandung gugus asam atau amidanya (gugus R

bermuatan negatif) : Asam aspartat, Asparagin, Asam glutamat, Glutamin.


Dengan rantai samping yang mengandung gugus basa (gugus R bermuatan positif):

f
g

Arginin, lisin, Histidin, Hydrolisin.


Yang mengandung cincin aromatik : Histidin, Fenilalanin, Tirosin, Triptofan.
Asam imino : prolin, 4-hidroksiprolin.
Asam amino yang tidak terdapat dalam molekul protein antara lain adalah beta-

alanin, taurin, gama aminobutirat, ornitin dan sitrulin.

Sifat-sifat asam amino antara lain :


1 Kristal putih yang larut dalam air, asam atau basa kuat.
2 Beberapa mempunyai rasa manis, ada yang mempunyai rasa tawar da nada pula

yang pahit.
3 Mempunyai atom C simetris (kecuali glysin), sehingga mempunyai sifat optis aktif.
4 Bersifat amfoter.
5 Pada pH isoelektrik, asam amino tidak bergerak dalam medan listrik.
Terdapat 2 jenis asam amino berdasarkan kemampuan tubuh dalam sintesisnya :

46

Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis didalam tubuh,
tetapi diperoleh dari luar misalnya melalui makanan (Lisin, Leusin, Isoleusin,

Treonin, Tritophan, Methionin, Valin, Fenilalanin, Histidin, dan Arginin).


Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis didalam tubuh
melalui perombakan senyawa lain. Asam amino ini juga terdapat dalam makanan
sebagai sumber nitrogen.

III.

Prosedur Praktikum
Alat yang digunakan
- Tabung reaksi + rak tabung reaksi
- Pipet tetes
- Beaker glass
- Penangas air
- Corong
- Kertas saring
- Batang pengaduk
- Gelas ukur
- Pembakar spiritus
- Kaki tiga dan kasa

Bahan yang digunakan


- Albumin A 2%
- Albumin V 2%
- Putih telur
- Fenol 2%
- Pereaksi millon
- Larutan Hopkins-cole
- Larutan Ninhidrin 0,1%
- NaOH 10%
- HNO3 pekat
- Larutan alkali pekat (NaOH atau NH4OH)
- HgCl2 2%

Skema kerja
a Test Millon
o Prinsip :
Reaksi ini disebabkan oleh derivat-derivat monofenol seperti tirosin. Pereaksi
yang digunakan adalah larutan ion merkuri / merkuro dalam asam nitrat atau
nitrit. Warna merah yang terbentuk mungkin disebabkan oleh garam merkuri
dari tirosin yang ternitrasi.
o Prosedur :

47

Disiapkan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan

Larutan protein 3ml, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang beebeda.

Setiap tabung, ditambahkan 5 tetes reagen Millon

Panaskan campuran
dengan hati-hati

48