Anda di halaman 1dari 15

Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan

(Job Order Costing)


Dalam sistem perhitungan berdasarkan pesanan (Job Order costing) seluruh biaya
produksi (direct material, direct labor, factory overhead) diakumulasikan untuk masingmasing pesanan. Tujuannya untuk menentukan harga pokok produk dari setiap pesanan baik
harga pokok pesanan secara keseluruhan dari tiap-tiap pesanan maupun untuk persatuan.
Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok
produksi persatuan di hitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan
tersebut. Jadi jika suatu perusahaan menerima pesanan sebanak 10 pesanan, maka akan ada
pengumpulan (akumulasi) biaya produk untuk 10 pesanan tersebut.
Agar perhitungan biaya berdasarkan pesanan menjadi efektif, pesanan harus dapat
diidentifikasi secara terpisah. Misalnya saja, jika suatu percetakan secara simultan
mempersiapkan pesanan untuk label, kertas kado berwarna, dan gambar tempel, maka selain
pesanan-pesanan tersebut dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan tampilan fisiknya,
biaya per unit dari pesanan-pesanan tersebut juga berbeda, sehingga perhitungan biaya
berdasarkan pesanan digunakan. Berikut karakteristik perusahaan yang menggunakan job
order costing :
1. Produk yag dihasilkan sesuai keinginan pesanan
2. Production cost yang dibebankan ke produk sebagai berikut :
Direct material berdasarkan actual cost
Direct labor berdasarkan actual cost
FOH berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka
3. perhitungan harga pokok produk dilakukan pada saat produk selesai, tanpa menunggu
pada akhir periode.
4. Perhitungan cost per unti dihitung =
total biaya setiap pesanan
Unit yang dihasilkan untuk setiap pesanan
5. Untuk setiap pesanan dibuat job order cost sheet
Contoh perusahaan yang menerapkan job order costing : percetakan, konstruksi, pembuatan
furniture, jasa kecantikan dan lain sebagainya.
Masalah utama dalam pembebanan biaya produksi yaitu biaya overhead pabrik yang
ditetapkan dimuka, mengapa ?
Dikarenakan sulitnya membebankan biaya overhead ke produk dengan alasan,
A. Adanya biaya-biaya yang baru dapat dibebankan pada akhir periode
Biaya penyusutan bangunan, gaji manajer pabrik yang merupakan
biaya tetap tetapi terlepas dari besar kecilnya volume produksi yang
baru dapat dibebankan pada akhir periode.
B. Adanya biaya yang muncul yang diakibatkan oleh kegiatan masa lalu
Biaya reparasi yang timbul jika dibebankan pada saat pesanan
dikerjakan maka harga pokok pesana tersebut mendapatkan beban
1

biaya yang tinggi sementara itu biaya reparasi ini timbul diakibatkan
oleh kegiatan sebelumnya.

Pencatatan Akuntansi
a.

Akuntansi biaya bahan baku

Pencatatan pemakaian bahan baku didasarkan pada bukti permintaan bahan (material
reguisition). Disamping dicatat di kartu persediaan bahan baku, pemakaian tersebut juga
harus dicatat di kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.
Pada saat pembelian
bahan baku

xxx

Utang usaha

xxx

Pada saat terjadi retur pembelian


Utang

xxx
bahan baku

xxx

Pada saat pembebanan


Barang dalam proses

xxx

Persediaan bahan baku

xxx

Pencatatan pembebanan bahan baku tak langsung


Pengendali overhead pabrik

xxx

Bahan baku
b.

xxx

Akuntansi Biaya Tenaga Kerja

Pembebanan upah langsung ke barang dalam proses, harus dicatat di kartu harga
pokok pesanan sesuai dengan pemakaian tenaga kerja yang bersangkutan.
Pada saat pembayaran kepada karyawan
Beban gaji

xxx

Kas

xxx

Pada saat pembebanan


Barang dalam proses

xxx
2

Beban gaji

xxx

Pada saat gaji belum terbayarkan


Beban gaji

xxx

Beban gaji yang masih harus dibayar

xxx

Pembayaran tenaga kerja tidak langsung


Pengendali overhead

xxx

Beban gaji

c.

xxx

Akuntansi Biaya Overhead Pabrik

Dalam harga pokok pesanan biaya overhead pabrik dibebankan berdasarkan tarif yang
ditentukan sebelum proses produksi berjalan (predetermined rate).
Adapun proses penentuan tarif adalah sebagai berikut:
1. Menentukan taksiran besarnya BOP selama periode tertentu
2. Menentukan dasar pembebanan (jam kerja langsung, jam kerja mesin, dll)
3. Menentukan tarif BOP berdasarkan:
Taksiran BOP
Tarip BOP = -----------------= Rp ....../Dasar pembebanan
Dasar pembebanan
Pada saat pembebanan
BDP - Biaya overhead pabrik

xxx

BOP yang dibebankan

xxx

Mencatat BOP Sesungguhnya


BOP yang sesungguhnya
Berbagai rekening dikredit

d.

xxx
xxx

Pencatatan Barang Jadi

Pencatatan barang jadi didasarkan kepada pesanan-pesanan yang telah selesai dengan
demikian harga pokok barang jadi didasarkan kepada harga pokok tiap pesanan yang telah
3

selesai dikerjakan, sehingga besarnya harga pokok tersebut dapat dilihat di kartu harga
pokok.

Persediaan barang jadi

e.

BDP - Biaya bahan baku

xxx

BDP - Biaya tenaga kerja

xxx

BDP - Biaya overhead pabrik

xxx

Pencatatan Persediaan Barang Dalam Proses

Persediaan barang dalam proses

f.

xxx

xxx

BDP - Biaya Bahan Baku

xxx

BDP - Biaya Tenaga Kerja

xxx

BDP - Biaya Overhead Pabrik

xxx

Pencatatan Penyerahan Barang Kepada Pemesan

Piutang

xxx
Penjualan

g.

xxx

Pencatatan Harga Pokok Penjualan

Harga pokok penjualan

xxx

Persediaan barang jadi

xxx

Contoh kartu biaya pesanan

Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan proses


5

(Process Costing)

Bila suatu produk yang diproduksi dalam suatu departemen selama periode tertentu
bersifat heterogen (berbeda) mka sebaiknya akumulasi biaya meggunakan system job order
costing. Sebaliknya jika suatu produk yang diproduksi suatu departemen selama priode
akuntansi tertentu bersifat homogen (serupa) maka sebaiknya akumulasi biaya menggunakan
process costing (mengakumulasikan biaya berdasarkan proses produksi dan berdasarkan
departemen).
Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan proses bahan baku, tenaga kerja, dan
overhead pabrik dibebankan ke pusat biaya. Biaya yang dibebankan ke setiap unit ditentukan
degan cara membagikan total biaya yangdibebankan ke pusat biaya tersebut dengan total unit
yang diproduksi. Pusat biaya biasanya adalah departemen, tetapi bisa juga pusat pemrosesan
dalam satu departemen. Persyaratanutama adalah bahwa semua produk yang diproduksi
dalam suatu pusat biaya selama suatu periode harus sama dalam hal sumber daya yag
dikonsumsi, bila tidak perhitungan biaya berdasarkan proses dapat mendistorsi biaya produk
tersebut.
Perhitungan biaya perdepartemen
Dalam perusahaan manufaktur, produksi dapat terjadi dibeberapa departemen sebagai
contoh, departemen pertama biasanya melakukan proses pekerjaan tahap permulaan atas
produk seperti memotong, mencetak atau membentuk produk atau komponen-komponennya.
Kemudian unit-unit tersebut diteransfer ke departemen kedua. Departemen kedua kemudian
melaksanakan tugasnya mukai dari perakitan, pengamplasan, pengecatan,atau pengemasan
kemudian melaksanakan tugasnya dan demikian seterusnya sampai unit-unit tersebut
akhirnya selesai dan ditransfer ke gudang jadi.
Perhitungan biaya berdasarkan proses digunakan ketika produk dihasilkan dalam
kondisi proses yang lontinu atau metode produksi massal, di mana produk-produk yang
dihasilkan dalam suatu departemen atau pusat biaya lainnya bersifat homogen. Kondisikondisi ini sering kali terdapat pada industri- industri yang memperoduksi komoditas seperti
kayu, kertas, pipa, plastik, minyak tekstil, baja, kawat,bata, semen, tepung dan gula.
Perhitungan biaya bedasarkan proses juga digunakan diperusahaan-perusahaan yang
memproduksi suku cadang sederhan atau komponen-komponen listrik sederhanadan industry
perakitan. Beberapa perusahaan (gas,air, dan listrik) menghitung biaya dari produknya
menggunakan perhitungan biaya berdasarkan proses.
Aliran Produksi Secara Fisik
Tiga format aliran produksi fisik yang berhubungan dengan perhitungan biaya
berdasarkan proses adalah berurutan, paralel, dan selektif.
1.
Aliran produk berurutan (Sequential Product Flow). Dalam aliran produk
berurutan, setiap produk diproses dalam urutan langkah-langkah yang sama.
Dalam suatu perusahaan dengan tiga departemen, pemotongan, perakitan, dan
pengemasan.
6

2.

3.

Aliran produk paralel (Parallel Product Flow). Dalam aliran produk paralel,
bagian tertentu dari pekerjaan dilakukan secara simuyltan dan kemudian
disatukan dalm satu atau lebih proses final untuk diselesaikan dan ditransfer ke
barang jadi.
Aliran produk selektif (Selective Product Flow). Dalam aliran selektif, produk
berpindah ke departemen-departemen berbeda dalam suatu pabrik, bergantung
paa produk final yang akan dihasilkan.

Akuntansi untuk Biaya Bahan Baku, Tenaga Kreja, dan Overhead


a.
Biaya bahan baku
Ayat jurnal untuk mencatat pengeluaran bahan baku dua departemen adalah sebagai berikut
Barang dalam proses- Departemen Pemotongan
xxx
Barang dalam proses- Departemen Perakitan
xx
Bahan baku
xxx
b.
Biaya tenaga kerja
Ayat jurnal untuk mencatat pembebanan tenaga kerja dua departemen adalah
Barang dalam proses- Departemen Pemotongan
xxx
Barang dalam proses- Departemen Perakitan
xx
Beban Gaji
xxx
c.
Biaya overhead pabrik
Ayat jurnal untuk mencatat pembebanan overhead pabrik dua departemen adalah
Barang dalam proses- Departemen Pemotongan
xxx
Barang dalam proses- Departemen Perakitan
xx
Overhead pabrik dibebankan
xxx
Laporan Biaya Produksi
Laporan biaya produksi (cost of production report) adalah kertas kerja yang
menampilkan jumlah biaya yang diakumulasikan dan dibebankan ke produksi selama satu
bulan atau periode lain.
Laporan biaya produksi untuk suatu departemen dapat memiliki banyak bentuk atau format,
tetapi sebaiknya laporan tersebut menunjukkan
1.
Biaya total dan biaya per unit dari pekerjaan yang diterima dari satu atau beberapa
departemen lainnya
2.
Biaya total dan biaya per unit dari bahan baku, dan overhead pabrik yang
ditambahkan oleh departemen tersebut
3.
Biaya dari persediaan barang dalam proses awal dan akhir, dan
4.
Biaya yang di transfer ke departemen berikutnya atau ke persediaan barang jadi.

Unit ekuivalen

Merupakan jumlah unit selesai yang sama atau serupa yang sudah dapat dihasilkan
berdasarkan jumlah pekerjaan yang benar-benar dilakukan atas unit-unit produk yang telah
selesai maupun yang selesai sebagian. Unit ekuivalen tidak sama dengan unit-unit secara
fisik.
Sebuah perusahaan manufaktur biasanya memiliki produk selesai (barang dalam
proses) pada akhir suatu periode akuntansi. Menurut sistem perhitungan biaya berdasarkan
proses, unit produk yang baru selesai sebagian ini tidak sulit untuk ditangani karena biaya
pesanan telah tersedia pada kartu biaya pesanan. Namun, pada sistem perhitungan biaya
berdasarkan proses, biaya produk untuk unit produk yang selesai sebagian tidak tersedia.
Dengan memperhitungkan unit yang telah selesai dan selesai sebagian, kita membutuhkan
cara untuk mengukur jumlah pekerjaan produksi secara tepat yang dilakukan selama periode
tersebut. Unit ekuivalen merupakan ukuran yang biasa digunakan.
Unit ekuivalen harus di kalkulasikan secara terpisah untuk bahan baku langsung,
tenaga kerja langsung dan overhead pabrik karena proporsi total pekerjaan yang di lakukan
pada unit-unit produk pada persediaan barang dalam proses tidak selalu sama untuk setiap
elemen biaya. Karena overhead seringkali dibebankan berdasarkan jam tenaga kerja,
beberapa perusahaan menggunakan dua kategori yaitu bahan baku langsung dan biaya
konversi.
a.
Biaya Konversi
Karena jumlah tenaga kerja langsung relative kecil dalam banyak industri
pemrosesan, seperti industri penyulingan minyak, alumunium, kertas kimia, dan farmasi,
biaya overhead pabrik dan tenaga kerja langsung terkadang dikombinasikan dan disebut juga
biaya konversi dengan tujuan menghitung unit ekuivalen produksi.
Operasi industri banyak dikenakan biaya konversi yang sama untuk seluruh produksi. Unit
setara dengan biaya konversi untuk menghasilkan perkalian persentase pesanan yang selesai
selama periode dengan jumlah unit yang bekerja adalah sebagian selesai.
b.
Bahan Baku Langsung
Bahan baku langsung dapat ditambahkan pada titik-titik produksi yang berlainan atau
secara terus-menerus selama produksi. Jika bahan baku yang ditambahkan menggunakan
proporsi yang sama digunakan untuk menghitung unit setara dengan bahan langsung adalah
sama dengan proporsi biaya konversi. Namun, jika bahan ditambahkan sekaligus, proporsi
yang digunakan dalam perhitungan tergantung pada apakah titik di memproses dimana bahan
yang ditambahkan telah tercapai.
Tahap-tahap Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses
Dokumen utama pada sistem perhitungan biaya berdasarkan proses secara umum
adalah laporan biaya produksi. Laporan biaya produksi meringkas jumlah unit fisik dan unit
ekuivalen dari satu departemen, biaya yang dikeluarkan selama periode bersangkutan, serta
biaya yang dibebankan ke unit yang selesai ditransfer maupun persediaan akhir barang dalam
proses. Penyusunan laporan biaya produksi meliputi lima tahapan yaitu :
1.
Menganalisis arus fisik dari unit produksi
Menentukan jumlah unit di awal proses pekerjaan, yang jumlah unit mulai ke
produksi (atau diterima dari departemen sebelumnya), jumlah unit selesai, dan jumlah unit
dalam mengakhiri persediaan dalam proses. Analisis unit fisik meliputi akuntansi untuk
8

kedua input dan unit output. Unit Masukan termasuk persediaan barang dalam proses dan
semua unit yang masuk departemen produksi selama periode akuntansi. Unit keluaran
termasuk unit yang lengkap dan ditransfer keluar dari bagian produksi dan unit dalam
persediaan barang dalam proses berakhir.
2.

Menghitung Unit Ekuivalen untuk Setiap Biaya Produksi


Tujuan dari perhitungan unit setara dengan produksi untuk bahan baku langsung,
tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik adalah untuk mengukur kerja total
pengeluaran produksi selama akuntansi periode. Unit fisik sebagian lengkap diubah menjadi
jumlah setara seluruh unit.
3.

Menentukan Total Biaya Untuk Setiap Elemen Biaya Produksi


Biaya produksi total untuk setiap elemen biaya (bahan, tenaga kerja, dan overhead)
termasuk saat ini biaya yang dikeluarkan dan biaya persediaan unit dalam proses awal.
Besarnya biaya ini diperoleh dari permintaan resmi materi, kartu waktu kerja, dan lembar
alokasi biaya overhead pabrik. Biaya produksi total untuk setiap elemen biaya juga disebut
total biaya untuk menjelaskan. Total biaya yang ditentukan pada langkah ketiga harus setuju
dengan total biaya ditugaskan pada langkah 5.
4.

Menghitung Biaya Per Unit Ekuivalen Untuk Setiap Elemen Biaya produksi
Tujuan dari komputasi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik per ekuivalen unit produksi adalah untuk memiliki produk yang tepat biaya
dan penentuan pendapatan untuk periode akuntansi, yang meliputi unit baik lengkap dan
tidak lengkap.
5. Membedakan Total Biaya Produksi Ke Unit Yang telah Selesai dan persediaan Akhir
Barang dalam proses
Tujuan dari laporan biaya produksi untuk menentukan biaya produksi total yang
dikeluarkan untuk unit diselesaikan selama periode dan unit yang masih dalam proses pada
akhir.
Pada umumnya perusahaan membagi laporan biaya produksi lima tahap ini kedalam tiga
bagian :
(1) informasi jumlah produksi,
(2) penentuan biaya perunit,
(3) pembebanan biaya.
Bagian pertama mencakup tahap 1, yaitu menganalisis arus unit fisik, serta tahap 2, yaitu
menghitung unit ekuivalen. Bagian kedua mencakup tahap 3, yaitu menentukan total biaya
yang akan diperhitungkan, serta tahap 4 yaitu menghitung biaya per unit ekuivalen. Bagian
ketiga mencakup tahap 5 yaitu pembebanan total biaya produksi (perhitungan total biaya).

Metode Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses


9

1.

Metode rata-rata tertimbang

Semua biaya dalam menghitung biaya satuan, termasuk biaya yang terjadi selama
periode berjalan dan biaya yang dikeluarkan pada periode sebelumnya yang ditampilkan
sebagai persediaan barang dalam proses awal periode berjalan. Dalam periode ini, metode
biaya sebelumnya dan biaya periode saat ini dirata-ratakan untuk menghasilkan nilai rata rata
tertimbang
2.

Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama (First in, First out FIFO)

Termasuk dalam menghitung biaya unit hanya biaya yang dikeluarkan dan pekerjaan
yang dilakukan selama periode berjalan. FIFO menganggap persediaan awal sebagai batch
terpisah dari barang barang dimulai dan diselesaikan dalam periode. FIFO mengasumsikan
bahwa pekerjaan pertama yang dilakukan adalah untuk menyelesaikan persediaan dalam
proses awal. Sehingga, semua persediaan dalam proses awal diasumsikan akan selesai
sebelum akhir periode berjalan
Perbedaan antara metode FIFO dan metode rata rata tertimbang
Matode rata-rata tertimbang dan metode FIFO menghasilkan biaya total yang sama
dicatat. Perbedaan utama antara kedua metode adalah penanganan awal sebagian
menyelesaikan unit persediaan barang dalam proses awal. FIFO memisahkan unit dalam
persediaan awal dari unit dimulai dan diselesaikan selama periode. Sebaliknya, metode ratarata tertimbang membuat ada perlakuan terpisah dari unit persediaan barang dalam proses
awal.
Dengan demikian, ada perbedaan antara harga pokok selesai metode rata-rata
tertimbang dan FIFO. Demikian pula, ada perbedaan antara persediaan barang dalam proses
awal di antara kedua metode.

10

Perhitungan biaya untuk produk sampingan dan produk


gabungan
Istilah produk sampingan (by-product) umumnya digunakan untuk mendefinisikan
suatu produk dengan total nilai yang relatif kecil dan dihasilkan secara simultan atau
bersamaan dengan suatu produk lain yang total nilainya lebih besar. Produk dengan nilai yang
lebih besar tersebut, biasanya disebut produk utama (main product), biasanya, produsen
hanya memiliki sedikit kendali atas jumlah produk sampingan yang diproduksi dalam jumlah
yang lebih besar dibanding dengan produk sampingan. Biasanya produsen hanya memiliki
sedikit kendali atas jumlah produk sampingan yang diproduksi. Sebaliknya, pengenalan
metode teknik yang lebih maju, seperti yang digunakan di industri perminyakan, telah
memungkinkan pengendalian yang lebih besar atas jumlah residu dan produk sampingan
lainnya. Misalnya, suatu perusahaan yang menyewa truk untuk mengangkut bahan tertentu
menemukan bahwa bahan buangan tersebut dapat diguakan sebagai pupuk. Produk
sampingan ini sekarang menjadi sumber pendapatan lain untuk seluruh industri.
Produk gabungan diproduksi secara bersamaan melalui suatu proses atau serentetan
proses umum dimana setiap produk ang dihasilkan emiliki lebih dari nilai nominal dalam
bentuk sesuai dengan hasil pemrosesan tersebut. Produksi bersifat simultan karena proses
produksi menghasikan seluruh produk tanpa dapat dihindari, akan menyebaban peningkatan
kuantitas dari produk atau produk-produk lain, demikian pula sebaliknya, walaupun tidak
harus dala proporsi yang samaTitik pisah batas (split-off-point) didefinisikan sebagai titik di
mana produk-produk tersebut dapat dipisahkan sebagai unit-unit individual. Sebelum titik
tersebut, produk-produk tadi masih dalam satu kesatuan yang homogen.
Metode Untuk Menghitung Biaya Produk Sampingan
Metode yang dapat diterima untuk menghitung biaya produk sampingan terbagi tas dua
kategori. Dalam kategori Pertama, biaya produksi gabungan tidak dialokasikan ke produk
sampingan. Dalam kategori ini, ada dua metode. Pendapatan yang dihasilkan dari penjualan
produk sampingan dikreditkan ke pendaatan atau ke biaya produk utama. Metode ini
dibedakan oleh perlakuannya atas pendapatan kotor dari produk sampingan dan disebut
sebagai metode 1. Alternatifnya, biaya produk sampingan setelah titik pisah batas di-offset
dengan pendapatan dari produk tersebut. Variasi ini dibedakan oleh perlakuannya atas
pendapatan bersih dari produk sampingan dan disebut sebagai metode 2.
Dalam metode 1, pendapatankotor dari penjualan produk sampingan ditampilkan
dalam laporan laba rugi sebaga isalah satu dari kategori ini :
a. Pendapatan lain-lain
b. Tambahan pendapatan penjualan
c. Pengurangan harga pokok penjualan dari produk utama
d. Pengurangan biaya produksi utama

11

Dalam metode 2, pendapatan besih dari produk sampingan, (pendapatan dari penjualan
produk sampingan dikuirangi dengan biaya administratif an pemasaran untuk
memasarkanproduk sampingan, kemuian dikurangi lagi dengan biaya pemrosesanlebih lanjut
setelah titik pisah-batas) ditampilkan di laporan laba rugi sebagai salah satu keempat kategori
untuk metode 1 seperti yang disebutkan diatas.
Dalam kategori yang kedua untuk menghitung biaya produk sampinga, sebagian biaya
gabungan dialokasikan ke produk tersebut. Alokasi biaya gabungan seperti ini hampir sama
dengan perlakuan terhadap produk gabungan. Nilai persediaan didasarkan pada besarnya
biaya gabungan yang dialokasikan ditambah dengan biaya pemrosesan lebih lanjut setelah
titik pisah batas. Dalam kategori ini, ada dua metode yang digunakan. Metode 3 merupakan
metode biaya penggantian, sedangkan metode 4 adalah metode nilai pasar, atau yang juga
dikenal sebagai metode pembatalan atau pembalikan biaya (reversal cpost method).
Metode 1 : Pengakuan Pendapatan Kotor
Dengan metode pendapatan kotor, biaya persediaan final dari prodyuk utama dihitung
terlalu tinggi (overstated) karena menanggung biaya yang seharusnya dibebankan ke produk
sampingan. Keterbatasan ini dikoreksidi metode Id, tetapi hanya sebagian, karena yang
dikurangi dari biaya produksi produk utama dalam metode ini adalah nilai jual produk
sampingan dan bukannya biaya produksinya.
Metode 1a : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pendapatan lain-lain.
Metode ini diilustrasikan dalam laporan laba rugi di bawah ini. Dengan asumsi
bahaw pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan adalah sebesar $1.500 :
Penjualan (produk utama, 10.000 unit @$2)
Harga pokok penjualan
:
Persediaan awal (1.000 unit @$1,50)
Total biaya produksi (11.000 unit @$1,50)
16.500
Tersedia untuk dijual
$ 18.000
Persediaan akhir (2.000 unit @$1,50)
Laba kotor
Beban pemasaran dan administrasi
Laba operasi
Pendapatan lain-lain : Pendapatan penjualan produk sampingan
Laba sebelum pajak

$20.000
$ 1.500

3.000

15.000
$ 5.000
2.000
$ 3.000
$ 1.500
$ 4.500

Metode 1b: Pendapatan Produk Sampingan sebagai Tambahan Pendapatan Penjualan.


Untuk metode ini, laporan laba rugi diatas akan menampilkan $1.500 dari pendapatan
penjualan produk sampingan sebagai bahan penjualan atas produk utama. Akibatnya, total
pendapatan penjualan berubah menjadi sebesar $15.000 harga pokok penjualan produk
utama, sehingga laba kotor dan laba operasi akan meningkat sebesar $1.500 dibandingkan
dengan yang ditampilkan di laporan laba rugi di atas. Laba sebelum pajak akan tetap sebesar
$4.500.
Metode 1c: Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pengurang Harga Pokok Penjualan.
Dalam metode ini, $1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan
dari $15.000 harga pokok penjualan produk utama, sehingga laba kotor dan laba operasi akan
12

meningkat sebesar $1.500 dibanding dengan yang ditampilkan di laporan laba rugi di atas.
Laba sebelum pajak akan tetap sebesar $4.500.
Metode 1d : Pendapatan Produk Sampingan Mengurangi Biaya Produksi
Dalam metode ini, $ 1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan
dari $ 16.500 total biaya produksi, sehingga biaya produksi bersih yang ditampilkan dalam
laporan laba rugi berikut ini $ 1.500. Biaya produksi yang sudah direvisi ini mengakibatkan
rata rata biaya oer unit produk utama menjadi sebesar $ 1,3625. Biaya yang dibebankan ke
persediaan akhir produk utama menjadi sebesar $ 2.725 dan bukannya $ 3.000. Dengan cara
yang hampir sama, biaya persediaan awal yang berkurang ($ 1,35 per unit seperti yang
diilustrasikan di laporan laba rugi berikut ini), disebabkan karena pendapatan dari penjualan
produk sampingan diperiode sebelumnya dikreditkan ke biaya produksi produk utama di
periode yang sama. Dan ketiga metode sebelumnya, tidak ada satu pun yang mempengaruhi
biaya per unit yang dilaporkan untuk produk utama. Hal ini adalah perbedaan penting dalam
perhitungan biaya produk, meskipun pada umumnya dampak dari metode ini dalam nilai
dolar adalah relatif kecil. Laporan laba rugi akan ditampilkan sebagai berikut :
Penjualan (produk utama, 10.000 Unit @$2)
Harga pokok penjualan :
Persediaan awal (1.000 Unit @ 1,35)
Total biaya produksi (11.000 Unit @ 1,50)
Pendapatan dari penjualan produk sampingan
Biaya produksi bersih
Tersedia untuk dijual (12.000 unit @ $ 1,3625
Biaya rata rata)
Persediaan akhir (2.000 unit @ $ 1,3625)
Laba kotor
Beban pemasaran dan administrasi
Laba operasi

$ 20.000
$ 1.350
$ 16.500
1.500
15.000
$ 16.350
2.725

13.625
$ 6.375
$

2.000
4.375

Untuk metode yang terakhir dijelaskan ini, tidak diperlukan ayat jurnal yang rumit.
Pendapatan yang diterima dari penjualan produk sampingan didebit ke Kas atau Piutang
Usaha. Dalam ketiga metode sebelumnya, Pendapatan dari Penjualan Produk Sampingan
yang dikreditkan; sedangkan dalam metode yang keempat, biaya produksi dari produk utama.
Hal ini biasanya dilakukan dengan mengkreditkan Barang dalam Proses.
Metode 2 : Pengakuan Pendapatan Bersih
Metode pendapatan bersih menyadari adanya kebutuhan untuk membebankan biaya
yang dapat ditelusuri ke produk sampingan. Akan tetapi, metode ini tidak berusaha untuk
mengalokasikan biaya produksi gabungan ke produksi gabungan ke produk sampingan. Biaya
yang terjadi setelah titik pisah batas guna memproses maupun memasarkan produk
sampingan dicatat dalam akun yang terpisah dari produk utama. Angka produk sampingan
ditampilkan dilaporan laba rugi dengan menggunakan salah satu tampilan yang dijelaskan
dalam metode 1.
Ayat jurnal dalam metode 2 melibatkan pembebanan biaya yang terjadi setelah titik
pisah batas ke pendapatan produk sampingan. Beban pemasaran dan administratif juga di
13

alokasikan ke produk sampingan. Beberapa perusahaan memiliki satu akun yang berjudul
Produk Sampingan. Semua biaya yang terjadi setelah titik pisah batas didebit ke akun ini,
sementara pendapatan yang diperoleh dikreditkan ke akun tersebut. Saldo dari akun ini
ditampilkan di laporan laba rugi, dengan mengikuti salah satu cara yang dijelaskan dalam
metode 1. Akumulasi biaya produksi yang dapat dibebankan ke persediaan produk sampingan
yang belum terjual dilaporkan dineraca.
Metode 3 : Metode Biaya Penggantian
Metode biaya penggantian biasanya digunakan oleh perusahaan itu sendiri. Adanya
produk sampingan menghilangkan kebutuhan untuk membeli bahan baku yang serupa dari
pemasok. Biaya produksi dari produk utama dikreditkan, dan debitnya diposting ke
departemen yang menggunakan produk sampingan tersebut. Jumlah yang diposting oleh ayat
jurnal tersebut merupakan biaya pembelian atau biaya penggantiannya.
Perhitungan biaya produk sampingan yang digunakan dalam perusahaan adalah sakag
satu contoh dari harga transfer dalam perusahaan, yang didiskusikan di Bab 25. Bab tersebut
membahas berbagai alternatif penggunaan biaya biaya penggantian atau harga pasar.
Misalnya, suatu harga transfer bisa diterapkan berdasarkan biaya untuk berdasarkan harga
arbitrer mungkin saja digunakan. Apa pun harga yang dipakai, biaya produksi produk utama
yang menghasilkan produk sampingan dikredit, dan debitnya diposting ke departemen yang
menggunakan produk sampingan tersebut.
Metode 4 : Metode Harga Pasar (Pembatalan Biaya Reversal Cost)
Metode harga pasar, atau metode pembatalan biaya, pada dasarnya hampir serupa
dengan teknik yang diilustrasikan metode 1 (d). Tetapi, metode tersebut mengurangi biaya
produksi dari produk utama, bukan dengan pendapatan aktual yang diterima, melainkan
dengan estimasi nilai produk sampingan pada saat dijual. Akun produk sampingan
dibebankan dengan nilai estimasi ini, dan biaya estimasi dari produk utama di kredit.
Tambahan biaya bahan baku, tenaga kerja, atau overhead pabrik yang terjadi setelah titik
pisah batas dibebankan ke produk sampingan. Saldo dari akun ini dapat ditampilkan di
laporan laba rugi dengan salah satu cara yang telah dijelaskan di metode 1. Biaya produksi
yang dapat dibebankan ke persediaan produk sampingan yang belum terjual di laporkan di
neraca.
metode harga pasar (pembatalan biaya) dalam menghitung biaya produk utama dan
produk ampingan dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Item
Bahan baku
Tenaga kerja
Overhead pabrik
Total biaya produksi (40.000 unit)
Harga Pasar (5.000 unit @$1,80)
Estimasi laba kotor terdiri atas :
Asumsi laba operasi (20% dari harga jual)
Beban pemasaran dan administrasi
(5% dari harga jual)

Produk
Utama

Produk Sampingan

$ 50.000
70.000
40.000
$ 160.000
$ 9.000
$ 1.800
450
$ 6.750

2.250

14

Estimasi biaya produksi setelah titik pisah batas


Bahan baku
Tenaga kerja
Overhead pabrik
Estimasi nilai produk nilai sampingan di titik
pisah batas yang akan dikreditkan ke
produk utama
biaya bersih dari produk utama
Ditambah biaya produksi aktual setelah
titik pisah batas
Total
Total jumlah unit
Biaya per unit

$ 1.000
1.200
300

2.500

4.250

$ 4.250

40.000
3.894

$ 2.300
$ 6.550
5.000
$ 1,31

$ 155.000

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa nilai estimasi dari produk sampingan pada titik pisah
batas, dihitung dengan cara mengestimasikan laba kotor dan biaya produksi setelah titik pisah
batas dari produk sampingan, lalu mengurangkannya dari harga pokok pasar finalnya.
Alternatif lain, jika produk sampingan memiliki nilai pasar pada titik pisah batas, maka akun
produk sampinan dibebankan dengan nilai pasar tersebut dikurangi dengan estimasi laba
kotor. Lawannya dikreditkan ke biaya produksi produk utama.
Metode 4 didasarkan pada ide bahwa biaya produk sampingan berkaitan dengan nilai
jualnya. Mungkin juga untuk menggunakan gabungan total harga pasar dari produk utama
dan produk sampingan pada titik pisah batas sebagai dasar untuk mengalokasikan bagian
biaya ke produk sampingan. Lawannya dikredit ke biaya produksi dari produk utama. Dalam
pendekatan ini, perlakuan terhadap produk sampingan serupa dengan produk gabungan,
sebagaimana dijelaska di bagian berikutnya dari bab ini. Dalam kasus apa pun, biaya produk
sampingan yang terjad setelah titik pisah batas dibebankan ke produk sampingan.
Alokasi Biaya Produksi Bersama ke Produk Gabungan.
Biaya produk gabungan (terjadi sebelum titik pisah-batas), dapat dialokasikan ke
produk gabungan menggunakan salah satu metode berikut ini :
1.
2.
3.
4.

metode harga pasar, berdasarkan pasar relatif dari produk individual.


metode biaya rata-rata per unit.
metode rata-rata tertimbang, berdasarkan pada faktir pembobotan yang telah
ditentukan sebelumnya.
metode unit kuantitatif, berdasarkan pada ukuran fisik unit seperti berat,
ukuran linear, atau volume.

15

Anda mungkin juga menyukai