Anda di halaman 1dari 5

TUGAS ILMU GIZI

ABSORBSI DAN METABOLISME


Diajukan Untuk Memenuhi Nilai Salah Satu Mata Kuliah Ilmu Gizi

Oleh:
Kelas : TP/D
Kelompok : 8
Sarah Restu Putri

123020173

Nur Mariyam Saleha 123020174


Rian Fahriza

123020.

Nurul Hikmah

123020181

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2015

METABOLISME MAKRO DAN MIKRO NUTRIENT


A. MIKRO NUTRIENT
Mineral Mikro Mikromineral (Zat besi, Seng, Tembaga dan fluor, selenium).

Besi

Besi (Fe)
Absorbsi zat besi dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu :
Kebutuhan tubuh akan besi, tubuh akan menyerap sebanyak yang dibutuhkan. Bila besi
simpanan berkurang, maka penyerapan besi akan meningkat.
Rendahnya asam klorida pada lambung (kondisi basa) dapat menurunkan penyerapan Asam
klorida akan mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih mudah diserap oleh mukosa usus.
Adanya vitamin C gugus SH (sulfidril) dan asam amino sulfur dapat meningkatkan absorbsi
karena dapat mereduksi besi dalam bentuk ferri menjadi ferro. Vitamin C dapat meningkatkan
absorbsi besi dari makanan melalui pembentukan kompleks ferro askorbat. Kombinasi 200 mg
asam askorbat dengan garam besi dapat meningkatkan penyerapan besi sebesar 25 50 persen.
Kelebihan fosfat di dalam usus dapat menyebabkan terbentukny kompleks besi fosfat yang
tidak dapat diserap.

Adanya fitat juga akan menurunkan ketersediaan Fe


Protein hewani dapat meningkatkan penyerapan Fe
Fungsi usus yang terganggu, misalnya diare dapat menurunkan penyerapan Fe.Penyakit
infeksi juga dapat menurunkan penyerapan Fe.
Zat besi diserap di dalam duodenum dan jejunum bagian atas melalui proses yang kompleks.
Proses ini meliputi tahap tahap utama sebagai berikut :
Besi yang terdapat di dalam bahan pangan, baik dalam bentuk Fe3+ atau Fe2+ mula mula
mengalami proses pencernaan.
Di dalam lambung Fe3+ larut dalam asam lambung, kemudian diikat oleh gastroferin dan
direduksi menjadi Fe2+.
Di dalam usus Fe2+ dioksidasi menjadi FE3+. Fe3+ selanjutnya berikatan dengan apoferitin
yang kemudian ditransformasi menjadi feritin, membebaskan Fe2+ ke dalam plasma darah.
Di dalam plasma, Fe2+ dioksidasi menjadi Fe3+ dan berikatan dengan transferitin.
Transferitin mengangkut Fe2+ ke dalam sumsum tulang untuk bergabung membentuk
hemoglobin. Besi dalam plasma ada dalam keseimbangan.
Transferrin mengangkut Fe2+ ke dalam tempat penyimpanan besi di dalam tubuh (hati,
sumsum tulang, limpa, sistem retikuloendotelial), kemudian dioksidasi menjadi Fe3+. Fe3+ ini
bergabung dengan apoferritin membentuk ferritin yang kemudian disimpan, besi yang terdapat
pada plasma seimbang dengan bentuk yang disimpan.
Pengangkutan dan Penyimpanan Besi
Ketika besi diabsorbsi dari usus halus menuju ke plasma darah, besi tersebut bergabung dengan
apotransferin membentuk transferin, yang selanjutnya diangkut dalam plasma darah. Besi dan
apotransferin berikatan secara longgar, sehingga memungkinkan untuk melepaskan partikel besi
ke sel jaringan dalam tubuh yang membutuhkan. Absorbsi besi diatur melalui besarnya cadangan
besi dalam tubuh. Absorbsi besi rendah jika cadangan besi tinggi, sebaliknya jika cadangan besi
rendah absorbsi besi ditingkatkan.
Setelah itu, besi dalam tranferin di plasma darah masuk ke dalam sumsum tulang untuk
pembentukan eritrosit dan hemoglobin. Besi yang berlebih akan bergabung dengan protein
apoferritin, membentuk ferritin dan disimpan dalam sistem retikuloendotelial (RE). Oleh karena
apoferritin mempunyai berat molekul besar, 460.000, ferritin bisa mengikat sejumlah besar besi.
Besi yang disimpan sebagai ferritin disebut besi cadangan. Ditempat penyimpanan, terdapat besi
yang disimpan dalam jumlah yang sedikit dan bersifat tidak larut, yang disebut hemosiderin.

Bila jumlah besi dalam plasma sangat rendah, besi yang terdapat dipenyimpanan ferritin
dilepaskan dengan mudah ke dalam plasma, dan diangkut dalam bentuk transferin dan kembali
ke sumsum tulang untuk dibentuk eritrosit. Bila umur eritrosit sudah habis dan sel dihancurkan,
maka hemoglobin yang dilepaskan dari sel akan dicerna oleh sistem makrofag-monosit. Disini
terjadi pelepasan besi bebas, dan disimpan terutama di tempat penyimpanan ferritin yang akan
digunakan untuk kebutuhan pembentukan hemoglobin baru.

Zink

Zink
Seperti halya besi, zink diabsorpsi relatif sedikit. Dari konsumsi zink 4-14 mg/hari, hanya 10-40
%-nya yang diabsorpsi. Absorpsi menurun dengan adanya agen pengikat atau kelat sehingga
mineral tersebut tidak terserap. Zink berikatan dengan ligan yang mengandung sulfur, nitrogen
atau oksigen. Zink membentuk kompleks dengan fosfat (PO4), klorida (Cl-) dan karbonat
(HCO3). Buffer N-2-hydroxyethyl-pysera-zine-N-2-ethanesulfonic acid (HEPES) berefek kecil
terhadap ikatan zink dengan ligan tersebut. Zink dapat berikatan dengan ligan tersebut dan
diekskresikan melalui feces. Orang yang menderita geophagic dan/atau yang mengkonsumsi
makanan tinggi fitat (khususnya produk sereal) berresiko defisiensi zink. Oberleas (1993) diacu
dalam Berdanier (1998) telah memperhitungkan bahwa diet dengan rasio fitat dan zink lebih
besar daripada 10, menyebabkan defisiensi zink, tanpa memperhatikan jumlah total zink dalam
diet tersebut. Pada sistem pencernaan, mineral dicerna di usus halus.

Cu

Tembaga
Unsur tembaga yang terdapat dalam makanan melalui saluran pencernaan diserap dan diangkut
melalui darah. Segera setelah masuk peredaran darah, unsur tembaga akan berikatan dengan
protein albumin. Kemudian diantarkan dan dilepaskan kepada jaringan-jaringan hati dan ginjal
lalu berikatan dengan protein membentuk enzim-enzim, terutama enzim seruloplasmin yang
mengandung 90 94% tembaga dari total kandungan tembaga dalam tubuh. Ekskresi utama
unsur ini ialah melalui empedu, sedikit bersama air seni dan dalam jumlah yang relatif kecil
bersama keringat dan air susu. Jika terjadi gangguan-gangguan pada rute pembuangan empedu,
unsur ini akan diekskresi bersama air seni (INOUE et al., 2002).