Anda di halaman 1dari 11

PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI

DAMPAK BIROKRASI PEMERINTAHAN


DAMPAK TERHADAP POLITIK DAN DEMOKRASI

KELAS 1A
D4 KEPERAWATAN
KELOMPOK 5
Putu Nabila Eka Shanti Diah Pramesti Putri

(P07120215014)

Ni Ketut Sinta Dewi

(P07120215013)

Ni Wayan Linsa Mirawati Galuh

(P07120215015)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
SEMESTER II
TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas
segala rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan paper ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga paper ini dapat dipergunakan sebagai salah

satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca mengenai Dampak


Birokrasi Pemerintahan dan Dampak Terhadap Politik dan Demokrasi dalam
mata kuliah Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi.
Harapan penulis semoga paper ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk
maupun isi paper ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Paper ini penulis akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
penulis miliki sangat kurang. Oleh karena itu penulis harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan paper ini.

Denpasar, April 2016


Penulis

DAFTAR IS

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................8
1.1

Latar Belakang...........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah......................................................................................2

1.3

Tujuan Penulisan........................................................................................2

1.4

Manfaat Penulisan......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1

Dampak Korupsi Terhadap Birokrasi Pemerintahan.................................3

2.2

Dampak Korupsi Terhadap Politik dan Demokrasi...................................5

BAB III PENUTUP.................................................................................................7


3.1

Simpulan....................................................................................................7

3.2

Saran..........................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................8

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan suatu negara

sangat ditentukan

oleh

kemampuan

dan

keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagaisuatu


proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan
masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan oleh
dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang yang terlibat sejak dari
perencanaan sampai pada pelaksanaan) dan pembiayaan. Diantara dua faktor
tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya. Indonesia merupakan
salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber
daya alamnya. Tetapi ironisnya, negara tercinta ini dibandingkan dengan negara
lain di kawasan Asia bukanlah merupakan sebuah negara yang kaya malahan
termasuk negara yang miskin. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya
adalah rendahnya kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan
hanya dari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas
moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari
aparat penyelenggara negara menyebabkan terjadinya korupsi.
Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi sosial (penyakit
sosial) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah mengakibatkan kerugian
materiil keuangan negara yang sangat besar. Namun yang lebih memprihatinkan
lagi adalah terjadinya perampasan dan pengurasan keuangan negara yang
dilakukan secara kolektif oleh kalangan anggota legislatif dengan dalih studi
banding, THR, uang pesangon dan lain sebagainya diluar batas kewajaran. Bentuk
perampasan dan pengurasan keuangan negara demikian terjadi hampir di seluruh
wilayah tanah air. Hal itu merupakan cerminan rendahnya moralitas dan rasa
malu, sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan dan aji mumpung.
Korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas dan dapat membawa
negara ke jurang kehancuran. Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis
adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk
pemerintah/pemerintahan rentan korupsi dalam praktiknya. Beratnya korupsi
berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan
1

dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi


berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi,
yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura
bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Korupsi yang muncul di bidang politik
dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau
korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika,
pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini
saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting
untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas kejahatan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Apa dampak korupsi terhadap birokrasi pemerintahan?

1.2.2

Apa dampak korupsi terhadap politik dan demokrasi?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1

Untuk

mengetahui

dampak

korupsi

terhadap

birokrasi

pemerintahan
1.3.2

Untuk mengetahui dampak korupsi terhadap politik dan demokrasi

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1

Bagi pembaca

Dapat menambah wawasan mengenai dampak korupsi terhadap birokrasi


pemerintahan, politik, dan demokrasi.
1.4.2

Bagi penulis

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang dampak korupsi


terhadap birokrasi pemerintahan, politik, dan demokrasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dampak Korupsi Terhadap Birokrasi Pemerintahan
Negara kita sering disebut bureaucratic polity. Birokrasi pemerintah
merupakan sebuah kekuatan besar yang sangat berpengaruh terhadap sendi-sendi
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, birokrasi pemerintah juga
merupakan garda depan yang berhubungan dengan pelayanan umum kepada
masyarakat.

Namun di sisi lain, birokrasi sebagai pelaku roda pemerintahan

merupakan kelompok yang rentan terhadap jerat korupsi. Korupsi melemahkan


birokrasi sebagai tulang punggung negara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
birokrasi di tanah air seolah menjunjung tinggi pameo jika bisa dibuat sulit,
mengapa harus dipermudah. Semakin tidak efisien birokrasi bekerja, semakin
besar pembiayaan tidak sah atas institusi negara ini. Sikap masa bodoh birokrat
pun akan melahirkan berbagai masalah yang tidak terhitung banyaknya.
Singkatnya, korupsi menumbuhkan ketidakefisienan yang menyeluruh di dalam
birokrasi.
Korupsi, tidak diragukan, menciptakan dampak negatif terhadap kinerja
suatu sistem politik atau pemerintahan. Pertama, korupsi mengganggu kinerja
sistem politik yang berlaku. Pada dasarnya, isu korupsi lebih sering bersifat
personal. Namun, dalam manifestasinya yang lebih luas, dampak korupsi tidak
saja bersifat personal, melainkan juga dapat mencoreng kredibilitas organisasi
tempat si koruptor bekerja. Pada tataran tertentu, imbasnya dapat bersifat sosial.
Korupsi yang berdampak sosial sering bersifat samar, dibandingkan dengan
dampak korupsi terhadap organisasi yang lebih nyata. Kedua, publik cenderung
meragukan citra dan kredibilitas suatu lembaga yang diduga terkait dengan tindak
korupsi. Ketiga, lembaga politik diperalat untuk menopang terwujudnya berbagai
kepentingan pribadi dan kelompok. Ini mengandung arti bahwa lembaga politik
telah dikorupsi untuk kepentingan yang sempit (vested interest). Sering terdengar
tuduhan umum dari kalangan anti-neoliberalis bahwa lembaga multinasional
seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), IF, dan Bank Dunia adalah
perpanjangan kepentingan kaum kapitalis dan para hegemoni global yang ingin
mencaplok politik dunia di satu tangan raksasa. Tuduhan seperti ini sangat

mungkin menimpa pejabat publik yang memperalat suatu lembaga politik untuk
kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dalam kasus seperti ini, kehadiran
masyarkat sipil yang berdaya dan supremasi hukum yang kuat dapat
meminimalisir terjadinya praktik korupsi yang merajalela di masyarakat.
Sementara itu, dampak korupsi yang menghambat berjalannya fungsi
pemerintah, sebagai pengampu kebijakan negara, diantaranya:
1. Korupsi menghambat peran negara dalam pengaturan alokasi,
2. Korupsi menghambat negara melakukan pemerataan akses dan aset,
3. Korupsi juga memperlemah peran pemerintah dalam menjaga stabilitas
ekonomi dan politik.
Contoh dampak korupsi di bidang otoritas pemerintahan:
1) Matinya Etika Sosial Politik
Korupsi bukan suatu tindak pidana biasa karena ia merusak sendi-sendi
kehidupan yang paling dasar yaitu etika sosial bahkan kemanusiaan. Kejujuran
sudah tidak ditegakkan lagi. Kejujuran yang dihadapi dengan kekuatan politik
adalah sesuatu yang tidak mendidik dan justru bertentangan dengan etika dan
moralitas. Melindungi seorang koruptor dengan kekuatan politik adalah salah satu
indikasi besar runtuhnya etika sosial poltik.
2) Tidak efektifnya peraturan dan perundang-undangan
Dewasa ini banyak sekali seseorang yang memiliki perkara

atau

permasalahan ingin diposisikan sebagai pihak yang benar. Oleh sebab itu banyak
upaya yang dilakukan oleh seseorang dalam memenangkan perkaranya seperti
menyuap hakim,memberikan iming-iming, gratifikasi bahkan sampai kepada
ancaman nyawa. Di sisi aparat hukum, semestinya menyelesaikan masalah dengan
fair dan tanpa adanya unsur pemihakan,seringkali harus mengalahkan
integritasnya dengan menerima suap, iming-iming, gratifikasi atau apapun untuk
memberikan kemenangan. Peraturan dan perundang-undangan yang berlaku
menjadi mandul karena setiap perkara selalu diselesaikan dengn korupsi.
3) Birokrasi Tidak Efisisen
Menurut Survei Oleh PERC menunjukkan bahwa indonesia menempati
peringkat kedua dengan birokrasi terburuk di Asia. Banyak investor yang tertarik
menanamkan modalnya di Indonesia, namun untuk mendapatkan perizinan usaha

dan investasi harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Pada akhirnya suap
adalah jalan yang banyak ditempuh oleh para pengusaha untuk memudahkan izin
usaha mereka. Maka sebaiknya birokrasi di Indonesia harus dibenahi.
2.2 Dampak Korupsi Terhadap Politik dan Demokrasi
Korupsi tidak terlepas dari kehidupan politik dan demokrasi. Rencana
anggaran yang diajukan pihak eksekutif kepada pejabat legislatif yakni pihak
DPR/DPRD untuk disetujui dalam APBN/APBD adalah berdampak politik.
Anggaran APBN/APBD yang dikucurkan ke masyarakat implementasinya harus
dapat dipertangungjawabkan secara accountable kepada masyarakat dan bebas
dari intervensi kepentingan pribadi maupun golongan tertentu.
Korupsi mengganggu kinerja sistem politik yang berlaku. Publik cenderung
meragukan citra dan kredibilitas suatu lembaga yang diduga terkait dengan
tindakan korupsi.
Dampak korupsi terhadap politik dan demokrasi antara lain:
1. Memunculkan kepemimpinan korup karena kondisi politik yang carut
marut dan cenderung koruptif.
2. Hilangnya kepercayaan publik pada demokrasi karena terjadinya tindak
korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh petinggi pemerintah, legislatif,
yudikatif atau petinggi partai politik.
3. Menguatnya
plutokrasi
(sistem politik

yang

dikuasai

oleh

pemilik modal/kapitalis), dan


4. Hancurnya kedaulatan rakyat yang disebabkan kekayaan negara hanya
dinikmati oleh sekelompok tertentu.
Contoh dampak terhadap politik dan demokrasi:
1) Munculnya Kepemimpinan Korup
Kondisi politik yang carut marut dan cenderung sangat koruptif
menghasilkan masyarakat yang tidak demokratis. Perilaku koruptif dan tindak
korupsi dilakukan dari tingkat yang paling bawah. Konstituen di dapatkan dan
berjalan karena adanya suap yang diberikan oleh calon-calon pemimpin partai,
bukan karena simpati atau percaya terhadap kemampuan dan kepemimpinannya.
Hubungan transaksional sudah berjalan dari hulu yang pada akhirnya pun
memunculkan pemimpin yang korup juga karena proses yang dilakukan juga
transaksional. Masyarakat juga seolah-olah digiring untuk memilih pemimpin

yang korup dan diberikan mimpi-mimpi dan janji akan kesejahteraan yang
menjadi dambaan rakyat sekaligus menerima suap dari calon pemimpin tersebut.
2) Hilangnya Kepercayaan Publik pada Demokrasi
Demokrasi yang diterapkan di Indonesia sedang menghadapi cobaan berat
yakni berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Hal ini
dikarenakan terjadinya tindak korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh petinggi
pemerintah, legislatif atau petinggi partai politik. Kondisi ini mengakibatkan
berkurangnya bahkan hilangnya kepercayaan publik terhadap pemerintahan yang
sedang berjalan.
Masyarakat akan semakin apatis dengan apa yang dilakukan dan diputuskan
oleh pemerintah. Apatisme yang terjadi ini seakan memisahkan antara masyarakat
dan pemerintah yang akan terkesan berjalan sendiri-sendiri. Hal ini benar-benar
harus diatasi dengan kepemimpinan yang baik, jujur, bersih dan adil. Sistem
demokrasi yang dijalankan Indonesia masih sangat muda, walaupun kelihatannya
stabil namun menyimpan berbagai kerentanan.
3) Menguatnya Plutokrasi
Korupsi yang sudah menyandera pemerintahan pada akhirnya akan
menghasilkan konsekuensi menguatnya plutokrasi (sitem politik yang dikuasai
oleh pemilik modal/kapitalis) karena sebagian orang atau perusahaan besar
melakukan transaksi dengan pemerintah, sehingga pada suatu saat merekalah
yang mengendalikan dan menjadi penguasa di negeri ini.
Perusahaan-perusahaan besar ternyata juga ada hubungannya dengan partaipartai yang ada di kancah perpolitikan negeri ini, bahkan beberapa pengusaha
besar menjadi ketua sebuah partai politik. Tak urung antara kepentingan partai
dengan kepentingan perusahaan menjadi sangat ambigu.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi sosial
(penyakit sosial) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi membawa
dampak negatif yang cukup luas dan dapat membawa negara ke jurang
kehancuran. Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis
Semua bentuk korupsi dicirikan dengan tiga aspek. Pertama
pengkhianatan terhadap kepercayaan atau amanah yang diberikan, kedua
penyalahgunaan wewenang, dan yang ketiga pengambilan keuntungan
material. Ciri-ciri tersebut dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk korupsi
yang mencangkup penyapan pemerasan, penggelapan dan nepotisme
Kesemua jenis ini apapun alasannya dan motivasinya merupakan bentuk
pelanggaran terhadap norma-norma tanggung jawab dan menyebabkan
kerugian bagi badan-badan negara dan publik.
3.2 Saran
Dengan penulisan paper ini, penulis mengharapkan kepada pembaca
agar dapat memilih manfaat yang tersirat didalamnya dan dapat dijadikan
sebagai motivasi agar kita tidak terjerumus oleh hal-hal korupsi dan dapat
menambah wawasan dan pemikiran yang intelektual hususnya dalam mata
kuliah Budaya Anti Korupsi
1.5

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Hukum Universitas Palangkaraya. 2011. Dampak Masif dan Upaya
Pemberantasan Korupsi di
Indonesia.http://www.scribd.com/doc/176201367/DAMPAK-MASIF-DANUPAYA-PEMBERANTASAN-KORUPSI-DI-INDONESIA. Diakses pada
29 Maret 2016
Nisa, Indah Khoirun. 2014. Pendidikan Anti Korupsi. http://indah-khoirunfeb13.web.unair.ac.id/artikel_detail-105020-PPKN-Pendidikan%20Anti
%20Korupsi%20(1).html. Diakses pada 29 Maret 2016

Anda mungkin juga menyukai