Anda di halaman 1dari 7

HERBISIDA EFEKTIF, EFISIEN DAN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK

PENGENDALIAN GULMA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAKYAT DI


PROVINSI BENGKULU
Wahyu Wibawa dan Dedi Sugandi
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu
Jl. Irian Km 6,5 Bengkulu Telp. 0736 23030 e-mail bptp_bengkulu@yahoo.com

ABSTRAK
Luas tanaman kelapa sawit mencapai 205.324 ha atau 34,55% dari total luas lahan perkebunan di
Provinsi Bengkulu. Secara umum biaya untuk mengendalikan gulma pada tanaman kelapa sawit adalah tertinggi
kedua setelah pemupukan. Tujuan pengkajian ini adalah untuk menentukan herbisida yang efektif, efisien, dan
ramah lingkungan dalam pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Provinsi Bengkulu.
Percobaan dilaksanakan di Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu dari bulan Maret sampai dengan
September 2012. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (1). Penggunaan herbisida paraquat dan glifosat secara
tunggal maupun campuran dengan Metil Metsulfuron lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan herbisida
Oxyfluorfen. (2).Penggunaan herbisida paraquat dan glifosat secara tunggal maupun campuran dengan Metil
Metsulfuron lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan herbisida Oxyfluorfen. (3) Penambahan herbisida
Metil Metsulfuron tidak direkomendasikan. (4) Berdasarkan kesiapan SDMnya, herbisida glifosat lebih sesuai
diaplikasikan untuk menghindari gangguan kesehatan dan lingkungan. (5). Glifosat memenuhi kriteria ideal
dalam pemilihan herbisida untuk perkebunan kelapa sawit rakyat yaitu efektif, efisien dan ramah lingkungan.
Kata Kunci:kelapa sawit, herbisida, efektif, efisien, ramah lingkungan

PENDAHULUAN
Luas tanaman kelapa sawit mencapai 205.324 ha atau 34,55% dari total luas lahan
perkebunan di Provinsi Bengkulu. Sebagian besar kelapa sawit rakyat di Provinsi Bengkulu termasuk
dalam kategori tanaman yang menghasilkan (mature) dengan luasan 129.455 ha (63,5%) (Badan
Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, 2011).
Gulma merupakan tumbuhan yang hadir secara alami, keberadaannya mengganggu tanaman
budidaya dan menghambat kegiatan pemeliharaan maupun panen sehingga menyebabkan
menurunnya keuntungan dalam sistem usahatani (Aldrich, 1984; Auld, 1994). Pemupukan dan
pengendalian gulma merupakan praktek budidaya yang penting pada usahatani tanaman kelapa
sawit. Secara umum biaya untuk mengendalikan gulma pada tanaman kelapa sawit adalah tertinggi
kedua setelah pemupukan (Sahid dan Chan, 2000; Azahari dkk., 2004).
Ada empat metode pengendalian gulma yang dipraktekkan pada perkebunan kelapa sawit,
yaitu kultur teknis, mekanis, biologis dan khemis (Sahid, 1992). Metode tersebut dapat diaplikasikan
secara parsial maupun terpadu (Azahari dkk., 2004). Pengendalian secara khemis dengan herbisida
dinilai paling praktis, efektif dan ekonomis untuk mengurangi permasalahan gulma, kehilangan hasil
dan menekan biaya produksi (Esterninos dan Moody, 1988).
Penggunaan herbisida meningkat seiring dengan peningkatan luas areal perkebunan kelapa
sawit di Provinsi Bengkulu. Penggunaan herbisida di Bengkulu di perkirakan mencapai 900 ribu liter
dengan asumsi pengendalian dilakukan 2 kali per tahun dengan dosis 4,5 liter/ha.
Kondisi yang diinginkan dari penggunaan herbisida adalah untuk mendapatkan pertumbuhan
dan hasil yang optimum dengan pengaruh negatif yang minimum terhadap petani, aplikator/tenaga
penyemprot, konsumen dan lingkungan. Kondisi ini sangat sulit untuk dicapai secara penuh. Berikut
ini adalah beberapa kerugian serius dalam penggunaan herbisida: 1) Herbisida dapat menyebabkan
resistensi pada gulma sasaran pada penggunaan secara terus-menerus dalam masa yang panjang 2)
Herbisida mempunyai pengaruh negatif terhadap aktivitas biologi dari mikroorganisme dalam tanah
3) Beberapa herbisida sangat berbahaya terhadap kesehatan pekerja dan konsumen 4) Aplikasi
herbisida yang aman memerlukan level training yang tinggi supaya petani dapat memilih formulasi,
dosis, waktu dan metode yang tepat untuk mengendalikan gulma dikaitkan dengan gulma sasaran.
Secara umum, pengetahuan dan keterampilan petani di Provinsi Bengkulu masih relatif
rendah. Pemilihan herbisida hanya didasarkan pada kebiasaan dan belum mempertimbangkan
komposisi jenis gulma sasaran maupun klas racunnya (Toxicity class). Apapun klas racunnya akan
dipilih dan digunakan oleh petani asalkan mempunyai daya basmi/pengendalian yang baik. Kondisi ini
yang harus diperbaiki melalui inovasi teknologi yang tersedia.

TUJUAN
Penggunaan herbisida sebagai metode untuk pengendalian gulma tidak tanpa masalah.
Herbisida tidak hanya toksik atau beracun terhadap organisme sasaran, tetapi mereka pada level
tertentu juga berbahaya terhadap manusia, binatang, dan lingkungan. Herbisida yang efektif dalam
mengendalikan gulma belum tentu efisien dan ramah lingkungan. Tujuan pengkajian ini adalah untuk
menentukan herbisida yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan dalam pengendalian gulma pada
perkebunan kelapa sawit rakyat di Provinsi Bengkulu.

METODOLOGI

Tempat dan Waktu


Percobaan dilaksanakan di Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu. Lahan tanaman
kelapa sawit yang dipilih merupakan tanaman yang telah menghasilkan (berumur 5 tahun) dan
memiliki homogenitas gulma yang cukup tinggi (>70%). Percobaan lapangan dimulai pada bulan
Maret sampai dengan September 2012.

Alat dan bahan


Alat yang digunakan dalam pengkajian meliputi: sprayer kapasitas 14 L, ember, corong, gelas
ukur, erlenmeyer, square berukuran 50 x 50 cm, gunting, timbangan analitik, oven, sabit, calkulator,
hand counter, alat tulis, dan gergaji. Bahan yang digunakan diantaranya adalah 4 bahan aktif
herbisida (Paraquat, Glifosat, Oxyfluorfene, dan Metil metsulfuron), plastik berbagai ukuran, amplop
kesing, tali rafia, dan tali tambang. Formulasi herbisida yang digunakan adalah gramoxone (R) (200 g
Paraquat/liter; Syngenta Crop Protection), Roundup(R) (360 g glifosat/liter; Monsanto), Goal(R) (240
oxyfluorfene/L) dan Ally(R).

Rancangan percobaan
Rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan digunakan untuk menyusun 7 perlakuan
pengendalian gulma. Perlakuan terdiri atas: 1). tanpa pengendalian sebagai kontrol, 2). paraquat
600 g bahan aktif (b.a.) ha-1 , 3). glifosat 600 g b.a. ha-1 , 4). oxyfluorfene 600 g b.a. ha-1 , 5).
paraquat 600 g b.a. + Metil metsulfuron 75 g b.a. ha-1 , 6). glifosat 600 g b.a. + Metil metsulfuron 75
g b.a. ha-1 , dan 7). Oxyfluorfene 600 g b.a. + Metil metsulfuron 75 g b.a. ha -1.
Tujuh perlakuan diaplikasikan dengan knapsack sprayer yang dilengkapi deflektor nozzle
untuk menyemprotkan larutan herbisida dengan application rate 300 liter ha-1, kecepatan langkah
(forward speed) 30 m/menit, lebar bidang semprotan (swath) 1 m dan jumlah semburan/detik (flow
rate) 900 ml/menit.

Pengambilan sampel dan analisis data


Analisis awal vegetasi gulma merupakan langkah penting untuk mengetahui spesies gulma
yang hadir, gulma yang dominan, dan tingkat keseragaman ( homogenity) dari komunitas gulma.
Keseragaman komunitas gulma harus diketahui sebelum percobaan pengendalian gulma
dilaksanakan. Tingkat keseragaman yang baik (>71%) merupakan kondisi yang diperlukan pada
pelaksanaan percobaan pengendalian gulma. Metode kuadrat digunakan untuk mengidentifikasi
spesies gulma melalui 50 x 50 cm kuadrat dan pengambilan sampel gulma dilakukan secara destruktif
(Destructive sampling method).
Areal percobaan dibagi dalam 3 strata yang mewakili jumlah blok atau ulangan. Gulma
dihitung dalam 10 quadrat per stratum untuk mengamati kerapatan, frekuensi, dan dominansi absolut
dan relatif pada tiap spesies gulma. Dominansi dari tiap spesies dan homogenitas komunitas gulma
diekpresikan sebagai Important Value Index (IVI), Summed Dominance Ratio (SDR) dan Coeficient
Community (CC).
Evaluasi dominansi (dalam bentuk berat kering) dilakukan setelah penghitungan spesies
gulma. Semua vegetasi gulma diambil dan dipisahkan per spesies; dijemur pada sinar matahari
selama 4 hari dan kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 75 oC selama 48 jam, selanjutnya
berat keringnya dicatat (Chokar dan Balyan, 1999; Felix dan Owen, 1999).
IVI adalah penjumlahan dari kerapatan, frekuensi, dan dominansi relatif dari spesies gulma.
Jumlah nilai dari IVI dari semua spesies harus 300, karena masing-masing nilainya adalah 100

persen. SDR merupakan IVI dibagi dengan 3. Spesies gulma yang dominan atau utama dapat
diketahui dari nilai SDRnya. SDR lebih disukai dibandingkan dengan IVI karena nilai totalnya tidak
pernah lebih dari 100 persen dan lebih mudah untuk diintepretasikan.

IVI dari suatu spesies = kerapatan relatif + frekuensi relatif + dominansi relatif
kerapatan relatif + frekuensi relatif + dominansi relatif
SDR dari suatu spesies = ---------------------------------------------------------------------3
Metode kuadrat digunakan untuk mengevaluasi pengendalian gulma yang disebabkan oleh
aplikasi herbisida. Pada percobaan ini sample akan diambil dengan menempatkan quadrat 50 x 50
cm pada tiga titik secara acak pada tiap plot. Metode destruktif dan non destruktif digunakan dalam
pengambilan sampel gulma. Parameter yang digunakan diantaranya adalah: persentase gulma yang
mati, pertumbuhan gulma (regrowth) berdasarkan berat kering gulma, persentase penurunan
pertumbuhan gulma (percentage of weed growth reduction), durasi pengendalian gulma yang efektif
(duration of effective weed control), absolut dan relatif dari kerapatan, frekuensi, dan dominansi
masing-masing spesies gulma, IVI, SDR dan CC.
1. Persentase gulma yang mati pada 2 dan 4 minggu setelah aplikasi
Persentase gulma yang mati merupakan indikator yang baik untuk menentukan efikasi dari
herbisida. Tujuh puluh persen (70%) gulma yang mati ditentukan sebagai batas minimum yang
dapat diterima dalam pengendalian gulma.
2. Kerapatan, frekuensi dan dominansi gulma (relatif dan absolut)
Kerapatan, frekuensi dan dominansi dari tiap jenis gulma diambil pada 4, 8, dan 12 minggu
setelah aplikasi. Dominansi gulma diukur berdasarkan berat kering gulma.
3. Berat kering gulma
Berat kering gulma masing-masing spesies diukur pada 4, 8, dan 12 minggu setelah aplikasi.
4. Penurunan pertumbuhan gulma (weed growth reduction) (%)
Penurunan pertumbuhan gulma menunjukkan kemampuan dari perlakuan untuk menekan
pertumbuhan gulma relatif terhadap control atau plot tanpa perlakuan.
5. Jangka waktu pengendalian gulma yang efektif
Dasar dari pengukuran jangka waktu pengendalian gulma yang efektif adalah dari berat kering
gulma pada 4, 8, dan 12 minggu setelah aplikasi dan penurunan pertumbuhan.
Data yang dikumpulkan dianalisis dengan ANOVA. Sebelum dianalisis, data ditransformasi
dengan logarithmic, square root, atau arcsine tergantung dari jenis datanya (Gomez dan gomez,
1984). ANOVA digunakan untuk mendeteksi perbedaan pengaruh dari perlakuan dan uji lanjutnya
digunakan DMRT.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis vegetasi gulma awal


Pengamatan pada analisis vegetasi awal ditemukan sebanyak 35 spesies gulma baik dari
golongan berdaun lebar maupun rumputan. Tidak satupun gulma yang sangat dominan. Sebagian
besar (80,28%) komposisi gulma terwakili oleh 10 spesies gulma yaitu Ipomoa triloba (SDR: 21,62),
Borreria leavis (SDR: 4,93), Melastoma affine (SDR: 2,32), Lindernia procumbens (SDR: 2.18), dan
Croton hirtus (SDR: 2,10) untuk gulma berdaun lebar sedangkan gulma berdaun sempit adalah
Brachiaria reptans (SDR: 23,23), Paspalum commersonii (SDR: 10,93), Imperata cilindrica (SDR:
7,50), Axonopus compresus (SDR: 2,77), Paspalum conjugatum (SDR : 2,70).
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat keseragaman komunitas gulma pada lahan mineral
yang digunakan untuk percobaan pengendalian gulma cukup tinggi, yaitu berkisar antara 71,47
74,31% dan kondisi ini diklasifikasikan sebagai kondisi yang baik untuk melakukan percobaan
(Bonham, 1989).

Efikasi herbisida
Persentase gulma yang mati dapat dipergunakan untuk menilai/mengevaluasi kinerja dari
herbisida yang diaplikasikan. Efikasi adalah kemampuan dari pestisida untuk menghasilkan pengaruh
yang diinginkan pada organisme sasaran (Kamrin, 1997). Istilah mode of action, injury, dan weed
killed (gulma yang mati) harus di pahami untuk menghindari persepsi yang tidak tepat. Sebagian
besar pengguna mempersepsikan efikasi berdasarkan periode yang diperlukan herbisida untuk
menunjukkan kerusakan jaringan/bagian (injury) gulma dalam pengendalian gulma. Hal ini tidaklah
tepat karena gulma yang cepat mengalami kerusakan ( injury) belum tentu mati. Gulma yang mati
adalah gulma yang seluruh bagian/jaringannya mati dari ujung (titik tumbuh) hingga leher
akar/permukaan tanah (Wahyu dkk., 2007).
Tabel 1 menunjukkan bahwa pada 2 MSA persentase gulma yang mati masih di bawah 70%,
kecuali pada perlakuan campuran Glifosat 600 g b.a. + Metil metsulfuron 75 g b.a. ha -1. Efikasi
sebagian besar atau hampir semua perlakuan pada 2 MSA masih rendah dan memerlukan waktu lebih
dari 2 minggu untuk menjadi efektif. Hal ini disebabkan karena tingginya keragaman vegetasi gulma
yang ditemukan (35 spesies).
Pada 4 MSA hampir semua perlakuan menunjukkan persentase gulma yang mati sudah lebih
dari 70%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perlakuan efektif dalam mengendalikan gulma.
Perlakuan yang kurang efektif (64,36%) dalam mengendalikan gulma adalah Oxyfluorfene 600 g b.a.
+ Metil metsulfuron 75 g b.a. ha-1. Perlakuan ini efektif dalam dalam mengendalikan gulma berdaun
lebar, tetapi kurang efektif dalam mengendalikan gulma rumputan. Ashton dan Crafts (1981)
menyatakan bahwa oxyfluorfen merupakan herbisida kontak yang dapat diaplikasikan melalui tanah
(soil application) dan melalui bagian tanaman (foliar application). Herbisida ini bukan termasuk
golongan herbisida selektif, tetapi mempunyai spektrum atau lingkup pengendalian yang relatif
sempit dibandingkan dengan paraquat dan glifosat. Wahyu dkk. (2009) menyatakan bahwa bahan
aktif dan dosis memainkan peran penting dalam pengendalian gulma. Tiap herbisida memiliki sifat
spesifik untuk mengendalikan gulma.
Tabel 1. Pengaruh Paraquat, Glifosat dan Oxyfluorfene terhadap persentase gulma yang mati (%).
Perlakuan
Kontrol
Paraquat 600 g b.a. ha-1
Glifosat 600 g b.a. ha-1
Oxyfluorfene 600 g b.a. ha-1
Paraquat 600 g b.a. + Metil Metsulfuron
75 g b.a. ha-1
Glifosat 600 g b.a. + Metil metsulfuron
75 g b.a. ha-1
Oxyfluorfene 600 g b.a. + Metil
metsulfuron 75 g b.a. ha-1
a

Persentase Gulma yang Mati (%) a


Minggu ke-2
Minggu ke-4
Berdaun Rumputan Total Berdaun Rumputan
Lebar
Lebar
0,00 a
0,00 a
0,00 a
0,00 a
0,00a
58,15 b
42,05 b 50,72 b 100,00 c
97,21 b
49,24 b
46,30 b 47,85 b 90,71 b
79,98 b
34,05 b
18,00 b 26,66 b 65,15 b
75,05 b

Total
0,00 a
95,67 c
83,00 c
75,45 b

46,70 b

67,66 c

55,92 c

96,06 c

100,00 c

94,75 c

71,15 c

46,87 b

55,64 c

96,85 c

89,17 b

89,00 c

34,45 a

33,30 b

34,36 b

82,45 b

52,60 b

64,36 b

Rata-rata dalam kolom (pada frame waktu pengamatan yang sama) yang diikuti dengan huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata dengan Least Significant different (LSD) pada level 5%.

Efisiensi pengendalian gulma

Biaya pengendalian gulma per tahun dipengaruhi oleh efikasi herbisida, durasi pengendalian
gulma yang efektif,
frekuensi penyemprotan herbisida dan harga herbisida. Efisiensi dalam
pengendalian gulma dapat dinilai berdasarkan nilai dari weed growth reduction(%), frekuensi
penyemprotan/tahun, harga herbisida (Rp/liter), biaya tenaga kerja (Rp/Orang/hari) (Tabel 2).
Tabel 2. Durasi pengendalian gulma yang efektif, frekuensi penyemprotan per tahun, dan biaya pengendalian
gulma per tahun.

Perlakuan

Kontrol
Paraquat 600 g bahan aktif (b.a.) ha-1
Glifosat 600 g b.a. ha-1
Oxyfluorfene 600 g b.a. ha-1
Paraquat 600 g b.a. + Metil Metsulfuron 75 g b.a. ha-1
Glifosat 600 g b.a. + Metil metsulfuron 75 g b.a. ha-1
Oxyfluorfene 600 g b.a. + Metil metsulfuron 75 g b.a. ha-1

Durasi
Frekuensi
Biaya
pengendalian penyemprotan/ pengendalia
gulma yang
tahun (kali)
n gulma
efektif (minggu)
(Rp/tahun)
0
12
12
9
12
12
9

0,00
4,33
4,33
5,78
4,33
4,33
5,78

0,00
1.218.679
1.218.679
2.171.546
1.316.104
1.316.104
2.301.596

Jangka waktu pengendalian gulma yang efektif berkaitan langsung dengan nilai persentase
penurunan pertumbuhan gulma (weed growth reduction). Jangka waktu pengendalian gulma yang
efektif mencerminkan kemampuan herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma secara efektif.
Chung dan Sharif (1991) melaporkan bahwa batas untuk melakukan penyemprotan kembali adalah
50% penurunan pertumbuhan gulma agar dicapai pengendalian gulm penurunan pertumbuhan gulma
penurunan pertumbuhan gulma yang efek penurunan pertumbuhan gulmatif.
Utulu (1988)
mengkategorikan 50% penurunan pertumbuhan gulma ke dalam kelompok pengendalian gulma
yang moderat (sedang). Jangka waktu pengendalian gulma yang efektif pada pengkajian ini berkisar
antara 6 sampai dengan 12 minggu.
Jangka waktu pengendalian gulma yang efektif berpengaruh langsung terhadap efisiensi
pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit. Semakin panjang jangka waktu pengendalian
gulma yang efektif berarti semakin rendah frekuensi penyemprotan herbisida per tahun. Kondisi ini
akan berdampak terhadap jumlah dan dosis herbisida yang diaplikasikan serta jumlah tenaga kerja
yang diperlukan.
Paraquat dan glifosat mempunyai jangka waktu pengendalian gulma yang efektif yang lebih
lama, frekuensi penyemprotan per tahun yang lebih rendah dan biaya pengendalian gulma per tahun
yang lebih murah dibandingkan dengan oxyfluorfen. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa herbisida
paraquat dan glifosat secara tunggal lebih efisien (Rp. 1.218.679) dalam pengendalian gulma pada
perkebunan kelapa sawit yang telah menghasilkan dibandingkan dengan herbisida oxyfluorfen (Rp.
2.301.596). Secara ekonomi, penggunaan paraquat dan glifosat lebih dianjurkan dibandingkan
oxyfluorfen. Penambahan herbisida metil metsulfuron tidak mampu meningkatkan efikasi dan efisiensi
pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu penngunaannya tidak
direkomendasikan karena hanya meningkatkan biaya dan bersifat pemborosan.

Pengaruh herbisida terhadap lingkungan dan manusia


Banyak pestisida termasuk herbisida mempunyai dua sisi seperti halnya pedang. Di satu sisi
dapat memberikan manfaat yang tinggi, tetapi pada sisi lain juga mempunyai efek samping terhadap
manusia, binatang, dan lingkungan. Manfaat dari penggunaan herbisida diantaranya adalah
meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pangan (Rowland, 1998). Harga herbisida yang
murah dan efektif sering berkaitan dengan peningkatan masalah dan resiko terhadap kesehatan
manusia dan lingkungan, karena petani atau pekebun cenderung untuk menggunakan racun dengan
dosis yang berlebihan.
Toksisitas (toxicity) adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan pengaruh
negatif yang dihasilkan oleh racun (Watson, 2004). Pengaruh negatif dapat berkisar dari gejala yang
ringan sampai yang berat. Salah satu ukuran yang digunakan secara umum dari toksisitas adalah
LD50. LD50 dari racun biasanya diekspresikan dalam mg bahan kimia per kg berat badan (mg/kg).
Bahan kimia dengan LD50 kecil mengindikasikan bahwa toxicnya tinggi. Bahan kimia dengan LD50
tinggi praktis mempunyai toksik yang rendah (Caseley, 1994; Oedejans, 1994; Kamrin, 1997;
Stenersen, 2004).

Berdasarkan Environment Protection Agency (EPA) Paraquat tergolong herbisida yang


berbahaya (kelas II) dengan simbol warna kuning. Herbisida ini memiliki nilai oral LD50: >50-500
mg/kg, dermal LD50: >200-2.000 mg/kg. Paraquat larut dalam air dengan mudah (Grey dkk., 2002;
Ouyang dkk., 2004), tetapi tidak mudah terlepas dari tanah karena terikat secara kuat pada lempung
dan bahan organik (FAO dan WHO, 2004). Jika digunakan secara tepat dan jika mengenakan
perlengkapan perlindungan diri secara ketat, paraquat mempunyai resiko yang kecil terhadap
kesehatan manusia (Hart, 1987; ILO dan WHO, 1991).
Hasil survey terhadap 100 responden (pekebun kelapa sawit) di Kabupaten Bengkulu Tengah
diketahui bahwa tingkat kesediaan petani untuk menerima resiko dalam aplikasi herbisida masih
tinggi, pengetahuannya terhadap herbisida masih rendah dan penggunaan alat pelindung diri
(Personal Protective Equipment, PPE) masih sangat rendah (Tabel 3).
Tabel 3. Tingkat kesediaan menerima resiko, pengetahuan, dan kesadaran petani menggunakan PPE.

Indikator
Kesediaan petani untuk menerima resiko
Pengetahuan petani terhadap herbisida
Kesadaran dalam menggunakan PPE

Persen (%)
74,8
39,43
5,00

Keterangan
Perlu
dilakukan
penyuluhan
tentang resiko herbisida terhadap
manusia dan lingkungan.

Tabel 3 menunjukkan bahwa pada umumnya petani kelapa sawit belum menyadari dan
belum mengetahui efek samping dari aplikasi herbisida terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan ataupun pencerahan dari lembaga penyuluhan maupun institusi
terkait lainnya untuk memberikan pencerahan terhadap petani dalam pemilihan, penyiapan,
penanganan dan aplikasi herbisida pada perkebunan kelapa sawit. Penyuluh juga perlu diberi bahan
informasi yang berkaitan dengan pestisida yang menyangkut efikasi, toksikologi, penanganan dan
pemilihan pestisida yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Hasil survey juga menunjukkan
bahwa sebagian besar petugas juga kurang memahami pestisida secara mendalam.
Pengetahuan petani terhadap herbisida juga lemah yang diindikasikan ketidakpahamannya
terhadap toksisitas, kandungan dan nama bahan aktif, kode warna label, maupun rekomendasi dosis
dan penanganan/handling herbisida. Akibat dari kurangnya pengetahuan petani menyebabkan
penggunaan herbisida tidak tepat dosis, sasaran dan cenderung menggunakan dosis berlebihan agar
gulma cepat mati.
Hasil survey juga menunjukkan bahwa sebagian besar petani memahami bahwa herbisida
dapat mengganggu kesehatan manusia, tetapi belum ada kesadaran untuk menghindari kontak
dengan herbisida. Sebagian besar, hampir seluruh responden (95%) menyatakan bahwa penggunaan
perlengkapan keselaman tidak nyaman, ribet, panas dan mengurangi produktivitas kerja mereka. Dari
hasil survey ini dapat dinyatakan bahwa petani kelapa sawit belum dapat memenuhi persyaratan
yang telah ditentukan dalam penggunaan herbisida yang berbahaya. Untuk itu penggunaan herbisida
yang memiliki dengan kelas toksisitas III dan IV (glifosat, oxyfluorfen) lebih disarankan dari pada
penggunaan herbisida berbahaya dengan kelas toksisitas I ataupun II (Paraquat) . Hal ini dilakukan
untuk menjaga kesehatan manusia dan lingkungan dengan lebih baik.

SIMPULAN
1. Penggunaan herbisida paraquat dan glifosat secara tunggal maupun campuran dengan Metil
Metsulfuron lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan herbisida Oxyfluorfen.
2. Penggunaan herbisida paraquat dan glifosat secara tunggal maupun campuran dengan Metil
Metsulfuron lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan herbisida Oxyfluorfen.
3. Penambahan herbisida Metil Metsulfuron tidak direkomendasikan
4. Berdasarkan kesiapan SDMnya, herbisida glifosat lebih sesuai diaplikasikan untuk menghindari
gangguan kesehatan dan lingkungan.
5. Glifosat memenuhi kriteria ideal dalam pemilihan herbisida untuk perkebunan kelapa sawit rakyat
yaitu efektif, efisien dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Aldrich, R.J. 1984. Weed-crop Ecology: Principles in Weed Management. Massachusetts: Breton Publishers.
Auld, B.A. 1994. Economic criteria for implementation of weed management. In Weed Management for
Developing Countries. FAO 120: 239-247.
Azahari M., Samingin, I. and Seman, I.A. 2004. Weed Management. In Oil palm Cultivation in Malaysia, ed. E.A.
Ghani, Z.Z. Zakaria, M.B. Wahid. Kuala Lumpur: MPOB.
Bonham, C.D. 1989. Measurement for Terrestrial Vegetation. New York: John Wiley & Sons.
Caseley, J.C. 1994. Herbicide. In Weed Management for Developing Countries. FAO 120: 183-223.
Chung, G.F. and Sharif, K. 1991. Bioefficacy of 5 herbicides in young mature mango. In Proceeding of the third
Tropical Weed Science Conference, ed. S.A. Lee and K.F. Kon, pp. 445-454. Kuala Lumpur: MAPPS.
Chhokar, R.S. and Balyan, R.S. 1999. Competition and control of weed in soybean. Weed Science 47: 107-111.
Estorninos, L.E. and Moody, K. 1988. Evaluation of herbicides for weed control in dry-seeded wetland rice (Oryza
sativa). Philippine Journal of Weed Science 15: 50-58.
Felix, M. and M.D.K. Owen. 1999. Weed population dynamics in land removed from the conservation reserve
program. Weed Science 47: 511 517.
Gomez, K.A. and Gomez, A.A. 1984. Statistical Procedures for Agricultural Research. New York: John Willey and
Sons.
Grey, L., Nguyen, B., and Yang, P. 2002. Liquid chromatography electro spray ionization isotope dilution massspectrometry analysis of paraquat and diquat in crops using conventional and multilayer solid-phase
extraction cartridges. Journal of Chromatography, A 958: 25-33.
Hart, T.B. 1987. Paraquat: a review of safety in agricultural and horticultural use. Human Toxicology 6: 13.
ILO and WHO, 1991. Paraquat: health and safety guide no. 51. Geneva: ILO and WHO.
Kamrin, M.A. 1997. Pesticide profiles: Toxicity, environment impact, and fate. New York : CRC Press.
Ouyang, Y., Mansell, R.S. and Nkedi-Kizza, P. 2004. A simple high performance liquid chromatography method
for analyzing paraquat in soil solution samples. Journal of Environmental Quality 33: 406-408.
Rowland, P. 1998. Pesticides, trade and the environment: an Australian perspective on sustainable crop
protection. In. Seeking Agricultural Produce Free of Pesticide Residues, ed. Kennedy I.R., J.H. Skerritt,
G.I. Johnson, and E. Highly, pp. 358-372. Canberra: ACIAR Proceedings.
Stenersen, J. 2004. Chemical pesticides: Mode of action and toxicology. London: CRC Press.
Utulu, S.N. 1998. Controlling regrowth of Chromolaena odorata in immature oil palm. Nigeria: NIFOR.
Watson, M. 2004. Toxicological assessment of agricultural pesticides. In Pesticide Residues Food and Drinking
Water: Human Exposure and Risk, ed. D. Hamilton and S. Crossley, pp. 149-168. England: