Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Landasan Bimbingan dan Konseling


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling
Dosen Pengampu:
Ust. Sapari, M.Pd

Disusun Oleh :
Landayani
NIRM: 4671010114051
Hasani
NIRM:4671010114055

SEMESTER 6
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAM ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ASY-SYUKRIYYAH
TANGERANG
2016

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ....................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Landasan filosofis ............................................................................. 2
B. Landasan historis .............................................................................. 3
C. Landasa religius................................................................................ 5
D. Landasan psikologis .......................................................................... 6
E. Landasan sosial Budaya .................................................................... 7
F. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ........................................ 8
G. Landasan Pedagogis ......................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan..................................................................................... 12

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Landasan

dalam

bimbingan

dan

konseling

pada

hakikatnya

merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan


khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan
layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat
berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan
lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka
bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk.
Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila
tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan
kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang
menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).
B. Perumusan Masalah
1. Apa saja landasan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling?
2. Bagaimanakah implikasi landasan-landasan tersebut dalam bimbingan
dan konseling?
C. Tujuan Penulis
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman
atau pengetahuan tentang landasan-landasan apa saja yang digunakan
dalam bimbingan dan konseling dan implikasinya terhadap penerapan BK
itu sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan dalam Bimbingan dan Konseling
1. Landasan Filosofis
Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: philos, yang
berarti cinta dan sophos, berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan
terhada kebijaksanaan. Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan
manusia, yaitu bahwa :
a. Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan
b. Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
c. Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan
d. Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu
berubah.
Para penulis Barat (Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes,
Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan
tentang hakikat manusia sebagai berikut :
1) Manusia adalah makhluk rasional
2) Manusia

berusaha

terus-menerus

memperkembangkan

dan

menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.


3) Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk
4) Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual
5) Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya
6) Manusia adalah unik
7) Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya
untuk

membuat

pilihan-pilihan

yang

menyangkut

perilaku

kehidupannya sendiri.
Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya
bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat
tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan
kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok

utuh manusia dengan berbagai dimensinya. 1


2. Landasan Historis
a. Sekilas tentang sejarah bimbingan dan konseling
Secara umum, konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal
manusia melalui sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi individu
dapat ditelusuri dari masyarakat yunani kuno. Mereka menekankan
upaya-upaya untuk mengembangkan dan menguatkan individu melalui
pendidikan. Plato dipandang sebagan koselor Yunani Kuno karena dia telah
menaruh

perhatian

besar

terhadap

masalah-masalah

pemahaman

psikologis individu seperti menyangkut aspek isu-isu moral, pendidikan,


hubungan dalam masyarakat dan teologis.
b. Perkembangan layanan bimbingan di Indonesia
Layanan BK di industri Indonesia telah mulai dibicarakan sejak tahun
1962. ditandai dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA yakni
dengan adanya program penjurusan, program penjurusan merupakan
respon akan kebutuhan untuk menyalurkan siswa kejurusan yang tepat
bagi dirinya secara perorangan. Puncak dari usaha ini didirikan jurusan
Bimbingan dan penyuluhan di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Negeri, salah
satu yang membuka jurusan tersebut adalah IKIP Bandung (sekrang
berganti nama Universitas Pendidikan Indonesia).
Dengan

adanya

gagasan

sekolah

pembangunan

pada

tahun

1970/1971, peranan bimbingan kembali mendapat perhatian. Gagasan


sekolah pembangunan ini dituangkan dalam program sekolah menengah
pembangunan persiapan, yang berupa proyek percobaan dan peralihan dari
sistem persekolahan Cuma menjadi sekolah pembangunan.
Sistem sekolah pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proyek
pembaharuan pendidikan yang dinamai PPSP (Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan) yang diujicobakan di 8 IKIP. Badan pengembangan
1

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/landasan-bimbingan-dan-konseling/

pendidikan berhasil menyusun 2 naskah penting yakni dengan pola dasar


rencana-rencana pembangunan program Bimbingan dan penyuluhan
melalui proyek-proyek perintis sekolah pembangunan dan pedoman
operasional pelayanan bimbingan pada PPSP.
Secara resmi BK di programkan disekolah sejak diberlakukan
kurikulum 1975, tahun 1975 berdiri ikatan petugas bimbingan Indonesia
(IPBI) di Malang. Penyempurnaan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984
dengan memasukkan bimbingan karir di dalamnya. Selanjutnya UU No.
0/1989 tentang Sisdiknas membuat mantap posisi bimbingan dan konseling
yang kian diperkuat dengan PP No. 20 Bab X Pasal 25/1990 dan PP No. 29
Bab X Pal 27/1990 yang menyatakan bahwa Bimbingan merupakan
bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan
pribadi,

mengenal

lingkungan

dan

merencanakan

masa

depan.

Perkembangan BK di Indonesia semakin mantap dengan berubahnya 1 PBI


menjadi ABKIN (Asuransi Bimbingan dan Konseling Indonesia) tapa tahun
2001.
3. Landasan Religius
Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
a. Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk Tuhan
b. Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia
berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
c. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara
optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai
dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan
pemecahan masalah individu.
Landasan Religius berkenaan dengan :
a. Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan.
b. Sikap Keberagamaan
Menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari

sikap keberagaman. Sikap keberagaman tersebut pertama difokuskan pada


agama itu sendiri, agama
harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya
harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai
upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
c. Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar,
tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang
bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat
berperan positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman
hidup ia memiliki fungsi :
1) Memelihara fitrah
2) Memelihara jiwa
3) Memelihara akal
4) Memelihara keturunan
4.

Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang

tingkah laku individu yang menjadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting
karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien,
yaitu tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan untuk
mengatasimasalah yang dihadapi Untuk keperluan bimbingan dan
konseling sejumlah daerah kajiandalam bidang psikologi perlu dikuasai,
yaitu tentang:
a. Motif dan motivasi
b. Pembawaan dasar dan lingkungan
c. Perkembangan individu
d. Belajar
e. Kepribadian 2
2

https://rahmawatiindahlestari.wordpress.com/semester-1/lkpp/landasan-psikologis-pendidikan/

5. Landasan Sosial Budaya


Landasan

sosial-budaya

merupakan

landasan

yang

dapat

memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan


dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku
individu. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat
mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.
Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara
konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki
latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003)
mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam
komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu : (a) perbedaan
bahasa; (b) komunikasi non-verbal; (c) stereotype; (d) kecenderungan
menilai; dan (e) kecemasan. Agar komunikasi sosial antara konselor dengan
klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut
perlu diantisipasi.
Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh.
Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling
multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan
multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti
Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan
semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman.
Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada
nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan
kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.
6. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional
yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun
prakteknya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara
logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti:

pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, yang dituangkan


dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah
lainnya.
Bimbingan

dan

konseling

merupakan

ilmu

yang

bersifat

multireferensial. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan


bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling, seperti :
psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi, filsafat, sosiologi,
antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama. Beberapa
konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan
pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori
maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan
konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan
melalui berbagai bentuk penelitian.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi
informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah
banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel
(Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer
ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan. Moh.
Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan
teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang
dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka
tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui
internet, dalam bentuk cyber counseling. Dikemukakan pula, bahwa
perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan
adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan
bimbingan dan konseling.
Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran
konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana
dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno, 2003) bahwa konselor adalah
seorang

ilmuwan.

Sebagai

ilmuwan,

konselor

harus

mampu

mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling,

baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk


kegiatan penelitian.
7. Landasan Pedagogis
Bimbingan dan konseling identik dengan pendidikan. Artinya, ketika
seseorang melakukan praktik bimbingan dan konseling berarti ia sedang
mendidik, dan begitu pula sebaliknya. Pendidikan itu merupakan salah satu
lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi
sosial (Budi Santoso, 1992)
Landasan pedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau
dari tiga segi, yaitu:
a. Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan,
bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan
dimensi

ke

individualannya,

kesosialisasinya,

kesosilaanya

dan

keberagamaanya.
b. Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang
dijalani oleh klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan
gerakan Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada
tahun 1953, Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling
adalah proses yang berorientasi pada belajar. Belajar untuk memahami
lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan
merupakan secara efektif berbagai pemahaman.. Lebih jauh, Nugent
(1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien mempelajari
ketrampilan dalam pengambilan keputusan. Pemecahan masalah, tingkah
laku, tindakan, serta sikap-sikap baru . Dengan belajar itulah klien
memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya dan dengan memperoleh
hal-hal baru itu juga seorang klien akan semakin berkembang.
C. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling
Tujuan

Bimbingan

dan

Konseling

disamping

memperkuat

tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada


umumnya. Hal itu dapat dimengerti karena program-program bimbingan
dan konseling meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu,
khususnya yang menyangkut kawasan kematangan pendidikan karier,
Kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial, semuanya
untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan
pendidikan menengah
(Borders dan Drury, 1992). 3
B. Implikasi Landasan Bimbingan dan Konseling
Secara naluriah manusia memiliki kebutuhan untuk hidup bahagia,
sejahtera, nyaman dan menyenangkan. Prayitno dan Erman (dalam yusuf,
2010) mengemukakan model witney sweeney tentang kebahagiaan dan
kesejahteraan

hidup

serta

upaya

mengembangkan

dan

berusaha

mempertahankannya sepanjang hayat.


Bagi bangsa indonesia yang menjadi landasan filosofis bimbingan dan
konseling adalah pancasila, yang nilai-nilainya sesuai dengan fitrah manusia
sebagai makhluk Tuhan yang bermartabat. Maka pembuatan program
bimbingan dan konseling harus merujuk kepada nilai-nilai yang terkandung
dalam kelima sila pancasila tersebut. Pancasila sebagai landasan bimbingan
dan konseling mempunyai implikasi sebagai berikut:
1. Tujuan bimbingan dan konseling harus selaras dan sesuai dengan
nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila pancasila. Dengan demikian
tujuan bimbingan dan konseling adalah memfasilitasi peserta didik agar
mampu ; (1) mengembangkan potensi, fitrah dan jati dirinya sebagai
makhluk Tuhan Yang maha Esa dengan cara mengimani, memahami dan
mengamalkan ajaranNya. (2) mengembangkan sikap-sikap yang positif
seperti respek terhadap harkat dan martabat sendiri dan orang lain, dan
bersikap empati. (3) mengembangkan sikap-sikap kooperatif, kolaboratif,
toleransi dan altruis (taawun bil maruf) (4) mengembagkan sikap
3

http://www.scribd.com/doc/57115880/Landasan-Pedagogis-Dalam-B

demokratis, menghargai pendapat orang lain, dan bersikap mengayomi


masyarakat. (5). Mengembangkan kesadaran untuk membangun bangsa
dan negara yang sejahtera dan berkeadilan dalam berbagai aspek
kehidupan (ekonomi, hukum, pendidikan, dan pekerjaan).
2. Konselor seyogyanya menampilkan kualitas pribadi yang sesuai dengan
nilai-nilai pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa, bersikap respek terhadap
orang lain, mau bekerja sama dengan orang lain. Bersikap demokratis, dan
bersikap adil terhadap para siswa.
3. Perlu melakukan penataan lingkungan (fisik dan sosial budaya) yang
mendukung twrwujudnya nilai-nilai pancasila dalam kehidupan perorangan
maupun masyarakat pada umumnya. Upaya itu diantaranya: (1) menata
kehidupan lingkungan yang hijau berbunga, bersih dari polusi (2)
mencegah dan memberantas kriminalitas (3) menghentikan tayangan
televisi yang merusak nilai pancasila, seperti tayangan yang merusak
akidah, moral masyarakat (4) mengontrol secara ketat penjualan alat
kontrasepsi (5) memberantas korupsi dan melakukan clean government.
Landasan religius dalam bimbingan dan konseling mengimplikasikan
bahwa konselor sebagai helper, pemberian bantuan yang dituntut untuk
memiliki pemahaman akan nilai-nilai agama, dan komitmen yang kuat
dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,
khususnya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada
klien

atau

peserta

didik.

Konselor

semestinya

menyadari

bahwa

memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada klien merupakan


salah satu kegiatan yang bernilai ibadah, karena didalam proses bantuanya
terkandung nilai amar maruh nahyi munkar (mengembangkan kebaikan
dan mencegah keburukan). Agar bantuan layanan yang diberikan itu
bernilai ibadah, maka kegiatan tersebut harus didasarkan kepada
keikhlasan dan kesabaran. Kaitannya dengan hal tersebut, Prayitno dan
Erman Amti mengemukakan persyaratan bagi konselor, yaitu sebagai
berikut.
a. Konselor hendaklah orang yang beragama dan mengamalkan dengan

10

baik keimanan dan ketakwaannya sesuai dengan agama yang dianutnya.


b. Konselor sedapat-dapatnya mampu mentransfer kaidah-kaidah agama
secara garis besar yang relevan dengan masalah klien.
Konselor harus benar-benar memperhatikan dan menghormati agama
klien.

11

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Sebagai sebuah layanan profesional, bimbingan dan konseling harus
dibangun di atas landasan yang kokoh. Karena landasan bimbingan dan
konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan
bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.
Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis,
(b) landasan histori; (c) landasan religius; (d) landasan psikologis; (e)
landasan sosial budaya; (f) ilmu pengetahuan dan teknologi dan (g)
landasan pedagogis.
Landasan filosofis berkenaan dengan upaya memahami hakikat
manusia, dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling.
Landasan religius berkenaan dengan manusia sebagai mahluk Tuhan, sikap
keberagamaan, peranan agama. Landasan psikologis berhubungan dengan
pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan
bimbingan dan konseling, meliputi : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan
dan lingkungan; (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (d)
kepribadian.

12

DAFTAR PUSTAKA
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/landasan-bimbingan
-dan-konseling/
http://www.scribd.com/doc/57115880/Landasan-Pedagogis-Dalam-Bk
Diposkan oleh Icha di 17.02 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke
TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

13