Anda di halaman 1dari 75

Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di

Tinjau Dari Undang-Undang Nomor 23


Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

..

Skripsi ini untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam mendapatkan Gelar


Sarjana Hukum (S.H.) Melalui Ujian Skripsi Penjaminan Mutu Internal Fakultas
Hukum Universitas Kristen Papua Merauke

Program Studi Ilmu Hukum


Fakultas Hukum

Universitas Hukum Papua Merauke 2015

Universitas Hukum Papua Merauke 2015


Jl. .., Merauke ., Telp. Rektorat .,Fax : ()
Administrasi Akademik : , E-Mail : rektorat@ukip.ac.id. Website : http://www.ukip.acid

KepadaYth.
Ketua Program Studi Ilmu Hukum
Fakultas Hukum
Universitas Kristen Papua Merauke
PENDAFTARAN UJIAN SKRIPSI
NIM

Nama Mahasiswa

Progam Studi

: Ilmu Hukum

Fakultas

: Hukum

Judul

: Skripsi Kekerasan Seksual Terhadap Anak Ditinjau Dari


Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak

Mendaftarkan diri untuk menempuh ujian Skripsi pada semester Genap Tahun
Akademik 2014/2015.
PERSETUJUAN PEMBIMBING
No
1
2

Nama Dosen

Merauke,
Mahasiswa

November 2015

..
NIM.

Jabatan
Pembimbing I
Pembimbing II

Tanda tangan
1.
2.

Universitas Hukum Papua Merauke 2015


Jl. .., Merauke ., Telp. Rektorat .,Fax : ()
Administrasi Akademik : , E-Mail : rektorat@ukip.ac.id. Website : http://www.ukip.acid

SURAT KETERANGAN BEBAS PINJAMAN / PEMBAYARAN

NIM

Nama Mahasiswa

Progam Studi

: Ilmu Hukum

Fakultas

: Hukum

Judul

: Skripsi Kekerasan Seksual Terhadap Anak


Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2002

Tentang Perlindungan Anak


Yang bersangkutan dinyatakan telah bebas pinjaman / pembayaran sesuai dengan
ketentuan Universitas Kristen Papua Merauke.
No
Uraian/Bagian
1 Perpustakaan
2 Laboratorium Komputer
3 Keuangan

Ketua Program Studi

..
NIDN.

Nama Petugas

Tanggal

Tanda tangan

HALAMAN PERSETUJUAN
Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing dan diterima untuk diajukan
kepada Panitia Ujian Skripsi yang dibentuk oleh Dekan Fakultas Hukum UKiP
Merauke, untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh Gelar Sarjana
Hukum (SI) Ilmu Hukum.

Merauke,

November 2015

PEMBIMBING I

PEMBIMBING II

..

Mengetahui
DEKAN FAKULTAS HUKUM UKiP MERAUKE

..
NIDN. .

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama

: .

NIM

: .

Program Studi

: Ilmu Hukum

Dengan ini menyatakan bahwa :


1. Skripsi ini diajukan adalah asli dan tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh derajat S1 di Universitas Kristen Papua
maupun perguruan Tinggi lainnya.
2. Skripsi adalah murni merupakan gagasan, rumusan dan penelitian penulis
sendiri serta dibuat sendiri tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan dari
Pembimbing I dan Pembimbing II.
3. Demikian pernyataan ini, tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali yang secara tertulis diajukan
dalam daftar pustaka.
Demikian pemyataan ini, saya buat dengan sesungguhnya dan apabila Pernyataan
saya tersebut diatas tidak benar, maka saya bersedia dituntut dan batalkan
kelulusan

Merauke,

November 2015

NIM : .

KATA PNGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa Atas Segala Rahmat dan
karunia-Nya dan dilimpahkan kepada Penulis sehingga Penulisan ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya sebagai pertanda langkah maju dan awal
perjuangan yang panjang. Penulisan skripsi ini disusun dalam rangka mememuhi
salah satu persyaratan guna memperoleh Gelar Sarjana Hukum Universitas
Kristen Papuan (UKiP) Merauke pada Fakultas Hukum Program Studi Ilmu
Hukum dengan Judul Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Tinjau dari UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindunngan Anak .
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan ini bisa terselesaikan berkat
bantuan banyak pihak baik dalam bentuk moril maupun materil dan bantuan
secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu pada kesempatan yang baik ini
penulis menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya serta mengucapkan
terima kasih yang setinggi-tingginya kepada :
1. , selaku Rektor Universitas Kristen Papua (UKiP)
Merauke
2. Bapak , selaku Dekan Fakultas Hukum yang telah
memberikan motivasi dan semangat kepada penulis sampai saat ini.
3. . selaku Ketua Program Studi Ilmu yang telah
membimbing dan menyemangati penulis sampai saaat ini.
4. Bapak .. dan Bapak . selaku Dosen
Pembimbing I dan II atas kesediaannya membimbing walaupun disibukan
dengan tugas pokok sehari-hari dan dengan senang hati dapat meluangkan
waktu untuk membimbing penulis hingga selesainya penulisan ini.
Akhirnya dengan kerendahan hati penulis mendoakan pihak yang terlibat dan
berjasa baik langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaian studi dan
penulisan ini, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa Memberkati dan memberikan
imbalan yang setimpal budi baiknya.

Disadari bahwa penulisan ini tidak luput dari kekeliruan dan kesalahan oleh
karena itu sarana dan kritik dari semua pihak demi penyempurnaan sknipsi ini
penulis terima dengan senang hati dan kiranya penulisan ini dapat bermanfaat bagi
yang membutuhkannya.

Merauke,

November 2015

Penulis

DAYAR ISI:
IIJ%.1.Lt%1_I,LN PE1iGFSA1IA.N ea. I
PER.SEf IJIJIJAJ .
SURAT PERNYATAAN KEASLL4N lii
PJNG44I1TAR .. iv
D44.F[A.R ISI vii
BAB I PENDARULUAN
A. Latar Belakang Masalah I
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 4
D. Sistematika Penulisan 4
BAB II TINJAUAN PUSTAICA
A. Pengertian Anak 6
B. Pengertian Perlindungan Anak 14
C. Pengertian Perilaku Seksual Anak 15
D. Tahap-tahap Perilaku Seksual 21
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual 24
F. Pengertian Tindak Pidana Pemerkosaan 30
G. Pendidikan Seks 33

BAB ifi METODE PENELITIAN


A. Tipe Penelitian 40
B. Lokasi Penelitian 40
C. Jenis dan Sumber Data 40
D. Teknik Pengumpulan Data 41
E. Teknik Analisa Data 41
F. Waktu Penelitian 42
BAB IV PEMBABASAN
A. Langkah Perlindungan Hukum Bagi Anak Korban Kekerasan
Seksual 43
B. Prosedur Penyelesaian Tindak Kekerasan Seksual Terhadap Anak
Menurut Undang-undang Perlindungan Anak 52
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 61
B. Saran 61
DAFEAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tingkat perkembangan kasus perkosaan yang terjadi di masyarakat
pada saat ini dapat dikatakan bahwa kejahatan pemerkosaan telah
berkembang dalam kuantitas maupun kualitas perbuatannya. Lebih buruknya
adalah salah satu dari pelaku tindak pidana pemerkosaan adalah orang
terdekat atau bahkan orang yang berada disekitar kita. Pemerkosaan
merupakan suatu perbuatan yang dinilai bertentangan dengan seluruh norma
yang ada, karena pemerkosaan dilakukan dalam suatu perbuatan yang
memaksakan seseorang (perempuan) untuk bersetubuh diluar perkawinan/
didalam perkawinan. Bahkan pemerkosaan adalah puncak dari pelecehan
seksual yang paling mengerikan yang bagi setiap perempuan adalah hal yang
menakutkan dan tidak seorang perempuan pun yang menginginkannya.
Tindak pidana pemerkosaan sering menimbulkan luka traumatik yang
mendalam.
Negara-negara peserta mengakui hak setiap anak yang disangka,
ditindak atau diakui telah menjadi korban atau melanggar hukum pidana
diperlakukan sesuai dengan martabat dan nilai-nilai anak, memperkuat
penghargaan anak pada hak-hak asasi manusia.1

Setiap orang tua pasti bangga melihat anak-anaknya tampak lucu,


lincah dan cerdas. Masa anak-anak merupakan masa yang rentan terhadap
pengaruh lingkungan, hati sebab anak-anak hanya biasa menuruti dengan apa
1 Darwan Prinst, Hukum Acara Pidana Praktek,1997 hal 16

yang mereka telah dapatkan. Orang tualah yang mempunyai tanggung jawab
besar terhadap anak-anaknya. Anak merupakan masa depan bangsa harus di
didik dan diasuh secara hati-hati dan benar.
Namun disela-sela perhatian besar orang tua, disaat anak menjadi
kebanggaan orang tua ternyata ada pihak lain yang membuat hati orang tua
menjadi terpukul atas tindakan yang dilakukan terhadap buah hatinya. Suatu
tindakan yang tidak diinginkan oleh orang tua dan tindakan itu membuat anak
berubah sikap. Tindakan yang dilakukan terhadap seorang anak adalah suatu
tindakan yang dilakukan oleh seorang individu yang ditujukan kepada
individu lain dan memungkinkan menyebabkan kerugian fisik dan psikologis,
tindakan seperti ini dinamakan suatu kekerasan.
Kekerasan seksual terhadap anak bisa terjadi dalam ejek-ejekan
tentang jenis kelamin tertentu terutama perempuan, sampai dengan tindakan
pencabulan dan akhirnya terjadi pemerkosaan. Berita tentang pencabulan dan
pelecehan seksual belakangan ini bukan sesuatu yang terlalu asing, bahkan
setiap hari selalu mewarnai media cetak maupun media elektronik. Korban
pelaku tindakan ini bukan hanya orang-orang dewasa tetapi juga pada anakanak yang masih dibawah umur.
Merebaknya tindakan kekerasan seksual terhadap anak di bawah
umur di sebabkan oleh orang-orang yang akal dan moralnya telah di
pengaruhi oleh sesuatu yang menyesatkan hingga mereka melampiaskan
nafsu bejatnya dan parahnya dilakukan terhadap anak di bawah umur. Anakanak yang sudah terlanjur menjadi korban tindak kekerasan seksual harus

mendapatkan suatu perlindungan untuk mengembalikan kebahagiaannya


kembali bersama teman lainnya. Negaralah yang mempunyai peran dan
kewajiban untuk melindungi warganya dan tindakan tersebut dengan
menegakkan aturan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis tertarik untuk
menjabarkan dan mengetahui lebih jauh mengenai penerapan ketentuan
tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak, dengan judul KEKERASAN
SEKSUAL TERHADAP ANAK DI TINJAU DARI UNDANG-UNDANG
NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di rumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana langkah perlindungan hukum bagi anak korban kekersan
seksual?
2. Bagaimana prosedur penyelesaian tindak kekerasan seksual terhadap anak
menurut Undang-Undang perlindungan anak?
C. Tujuan dan Manfaat penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan sebagaia berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana langkah perlindungan hukum bagi anak
korban kekerasan seksual.
2. Untuk mengetahui prosedur penyelesaian tindak kekerasan seksual
terhadap anak menurut Undang-Undang perlindungan anak.
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini di harapkan dapat di pakai sebagai sumbangan bahan bacaan


dan kajian bagi para mahasiswa Fakultas Hukum serta sebagai masukan
dalam pengembangan ilmu hukum.
2. Salah satu syarat untuk menyusun skripsi guna menyelesaikan studi dan
mendapatkan gelar sarjana hukum pada Fakuhas Hukum Universitas
Muhammadiyah Merauke.
D. Sistematika Penulisan
BAB I pendahuluan meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II

Tinjauan

Pustaka

meliputi

pengertian

anak,

pengertian

perlindungan anak, pengertian perilaku seksual anak, tahap-tahap


perilaku seksual, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual,
pengertian tindak pidana perkosaan dan pendidikaan seks.

BAB III

Metode penelitian berisi tentang Tipe penelitian, Lokasi Penelitian,


jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data dan waktu penelitian

BAB IV

Hasil Analisa Data atau Pembahasan berisi tentang pembahasan


mengenai langkah perlindungan hukum bagi anak korban kekerasan
seksual dan prosedur penyelesaian tindak kekerasan seksual terhadap
anak menurut undang-undang perlindungan anak.

BAB V

Penutup berisi tentang Kesimpulan dan Saran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Anak
Anak menurut kamus hukum adalah setiap manusia yang berusia di
bawah 18 tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam
kandungan apabila hal tersebut adalah hal kepentingan.2
Secara

Nasional

definisi

anak

menurut

perundang-undangan,

diantaranya Pengertian anak dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang


perlindungan anak pada pasal 1 angka (1) memberikan rumusan bahwa anak
adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan, Undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan
Anak, anak adalah orang yang dalam perkara anak telah mencapai usia 8 tahun
tetapi belum mencapai usia 18 tahun dan belum perna menikah, Sedangkan
jika dilihat dan KUHPerdata memberikan batasan mengenai pengertian anak
atau orang yang belum dewasa adalah mereka yang berumur 21 tahun, seperti
yang dinyatakan dalam pasal 330 BW yang berbunyi belum dewasa adalah
mereka yang belum mencapai umur genap ( dua puluh satu ) tahun, dan tidak
lebih dahuLu kawin. Dan jika dilihat dari KUHP ( kitab undang-undang
hukum pidana ) usia maksimal tentang anak adalah berbeda-beda, antara lain :
a. Pasal 45 dan 72 KUHP menegaskan usia maksimal anak adalah 16 tahun.
b. Pasal 283 KUHP, usia maksimal anak adalah 17 tahun.
c. Pasal 287-293, usia maksimal anak adalah 15 tahun.
Definisi anak yang ditetapkan Perundang-undangan berbeda dengan
definisi menurut hukum islam dan hukum adat. Menurut hukum Islam dan hukum
2 Marwan dan Jimmy, Kamus Hukum, 2009 hal 41

adat sama-sama menentukan seseorang masih anak-anak atau sudah dewasa bukan
dan usia anak. Hal ini karena masing-masing anak berbeda usia untuk mencapai
tingkat kedewasaan. Hukum islam menentukan definisi anak dilihat dari tandatanda pada seseorang apakah seseorang itu sudah dewasa atau belum. Artinya
seseorang dinyatakan sebagai anak apabila anak tersebut memiliki tanda-tanda
yang dimiliki oleh orang dewasa sebagaimana ditentukan dalam hukum Islam.
Dalam hukum adat Indonesia, batasan umur untuk disebut anak
bersifat pluralistik. Dalam artian kriteria untuk menyebut bahwa seseorang tidak
lagi disebut anak dan telah dewasa beraneka ragam istilanya.3
Ter haar, seorang tokoh adat mengatakan bahwa hukum adat
memberikan dasar untuk menentukan apakah seseorang itu anak-anak atau orang
dewasa yaitu melihat unsur yang dipenuhi seseorang,yaitu apakah anak tersebut
sudah kawin, meniggalkan rumah orang tua atau rumah mertua dan mendirikan
kehidupan keluarga sendiri.4
Pembatasan anak dan segi umurnya tidak selamanya tepat karena
kondisi umur seseorang dihubungkan dengan kedewasaan merupakan sesuatu
yang bersifat semu dan relative. Kenyataannya ada anak dan segi kemampuannya
masih terbatas akan tetapi dari segi usia anak tersebut telah dewasa. Oleh karena
itu, penentuan kedewasaan seseorang dan segi usia tidak tepat.

B. Pengertian anak menurut para ahli


a. Nicholas Mc Bala
3 Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak Di Indonesia, 2011 hal 4-5
4 MrB.Ter.Hart, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, 2012nhal 268

Dalam bukunya juvenile justice system mengatakan anak adalah periode di


antara kelahiran dan permulaan kedewasaan. Masa ini merupakan masa
perkembangan hidup, juga masa dalam keterbatasan kemampuan termasuk
keterbatasan untuk membahayakan orang lain.5

b. Maulana Hasan Wadong


Pengertian anak meliputi dimensi sebagai benikut:
1. Ketidak mampuan untuk mempertanggungjawabkan tindak pidana.
2. Pengembalian hak-hak anak dengan jalan menstubtitusiakan hakhak anak yang timbul dan lapangan hukum keperdataan,tata
Negara, dengan maksud untuk mensejahterakan anak.
3. Hak-hak anak menerima pelayanan dan asuhan
4. Hak-hak anak dalam proses hukum acara pidana.
Adapun proses perkembangan anak terdiri dan beberapa fase
pertumbuhan yang bisa digolongkan berdasarkan parelitas perkembangan
jasmani anak dengan perkembangan jiwa anak. Penggolongan tersebut di
bagi dalam 3 fase, yakni :
1. Fase pertama adalah dimulainya pada usia anak 0 tahun sampai
dengan 7 tahun yang biasa disebut dengan anak kecil dan masa
perkembangan kemampuan mental, perkernbangan fungsi-fungsi
tubuh, perkembangan kehidupan emosional, bahasa bayi dan arti
bahasa bagi anak-anak.

5 Marlina, Peradilan Pidana Anak Di Indonesia, 2009 hat 32-36

2. Fase kedua adalah dimulai pada usia 7 sampai 14 tahun disebut


sebagai masa kanak-kanak, di mana dapat digolongkan ke dalam 2
periode yaitu :6
a. Masa anak sekolah dasar mulai dari usia 7-12 tahun adalah
periode intelektual. Periode intelektual ini adalah masa belajar
awal dimulai dengan memasuki masyarakat di luar keluarga
yaitu lingkungan sekolah kemudian teori pengamatan anak dan
hidupnya perasaan, kemauan serta kemampuan anak dalam
berbagai macam potensi, namun masih bersifat tersimpan.
b. Masa remaja/pra-pubertas. pada periode ini terdapat
kematangan fungsi jasmaniah ditandai dengan berkembangnya
tenaga fisik yang melimpah-limpah yang menyebabkan tingkah
laku anak kelihatan kasar, canggung, berandal, kurang sopan,
liar dan lain-lain. Sejalan dengan berkembangnya fungsi
jasmaniah, perkembangan intelektual pun berlangsung sangat
intensif sehingga minat pada pengatahuan dan pengalaman
baru pada dunia luar sangat besar terutama yang bersifat
konkrit, karenanya anak puber disebut sebagai fragmatis atau
utilitas kecil, di mana minatnya terarah pada kegunaankegunaan teknis.
3. Fase ketiga adalah dimulai pada usia 14-21 tahun, yang dinamakan
masa remaja,dalam arti sebenarnya yaitu fase pubertas dan

6 Nasrhiaria, Op cit, hal 19

adolescent,di mana terdapat masa penghubung dan masa peralihan


dan anak menjadi orang dewasa.7
Masa remaja/pubertas dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
a. Masa awal pubertas, disebut pula sebagai masa pra-pubertas
b. Masa menentang kedua, fase negatif atau periode vemeinung.
c. Masa pubertas sebenarnya, mulai kurang Iebih 4 tahun. Masa
pubertas pada anak wanita pada umurnnya berlangsung lebih
awal dan pada masa pubertas anak laki-laki.
d. Fase Adelescence, mulai kurang lebih usia 17 tahun sampai
sekitar 19 hingga 21 tahun. Pada masa ini biasanya hal-hal
yang ingin di capai adalah :
1. Hubungan-hubungan yang baru dan lebih matang dengan
2.
3.
4.
5.
6.

teman-teman sebaya dari kedua jenis.


Suatu peranan sosial sebagai pria dan wanita.
Kebebasan emosional dari orang tua dan orang lain.
Kebebasan keterjaminan ekonomis
Menerima dan menggunakan fisiknya secara efektif
Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan

atau jabatan.
7. Mempersiapkan diri untuk persiapan perkawinan dan
berkeluarga
8. Mengembangkan konsep-konsep dan intelektual yang
diperlukan sebagai warga Negara yang kompeten
9. Secara sosial menghendaki dan mencapai kemampuan
bertindak secara bertanggung jawab.
10. Mempelajari dan mengembangkan seperangkat sistem
nilai-nilai dan etika sebagai pasangan untuk bertindak.8
7 Marlina, op cit, hal 47
8 Ahmad Juntika Nurihsan dan Mubiar Agustin, Dinamika Perkembangan Anak
dan Remaja, 2010 hal 19

Di lihat dari tingkatan usia, ada berbagai Negara di dunia yang


memberikan batasan seseorang dikategorikan sebagai anak antara
lain:
1. Di amerika serikat, 27 negara bagian menentukan batas umur
antara 8-18 tahun, sementara 6 negara bagian lain menentukan
batas umur antara 8-17 tahun, sementara ada pula Negara bagian
lain menentukan batas umur anatara 8-16 tahun.
2. Di Inggris, ditemukan batas umur antara 12-16 tahun
3. Di Australia, kebanyakan Negara bagian menentukan batas umur
antara 8-16 tahun.9
4. Di Belanda, menentukan batas umur antara 12-18 tahun
5. Di Srilangka, menentukan batas umur antara 8-16 tahun
6. Di Iran, menentukan batas umur antara 6-18 tahun
7. Di jepang dan Korea, menentukan batas umur antara 14-20 tahun
8. Di Taiwan, menentukan batas umur antara 14-18 tahun
9. Di Kamboja, menentukan batas umur antara 15-18 tahun
10. Di Negara-negara ASEAN lain, Filipina (antara 7-16 tahun);
Malaysia (antara 7- 18 tahun); Singapura ( 7-18 tahun)
Memperhatikan apa yang telah dilakukan oleh Negara-negara di dunia
terkait perumusan tentang batasan usia kategori anak dalam kaitan dengan
pertanggungjawaban pidanah. menunjukan sebagian besar mengatur usia
minimum anak antara 7 dan 8 tahun, dan apabila dikaitkan Instrumen
lnternasionai yang mengatur tentang anak dalam kaitan dengan
pertanggungjawaban pidana, Bejing Rules mengatur hal yang serupa,
walaupun sebenarnya berapapun usia yang ditemukan sebagai batas
minimal diserahkan kepada Negara-negara di dunia yang disesuaikan
dengan kondisi sosial kemasyarakatan Negara yang bersangkutan.
9 Ibid hal 21

Di Indonesia, penentuan batas usia anak dalam kaitan dengan


pertanggungjawaban pidana, telah diatur secara eksplisit setelah pada 19
Desember 1996, Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui dan
mengesahkan Rancangan Undang-undang yang kemudian diundangkan
pada 3 januari 1997.
Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan
Anak, Pasal 1 butir 1 merumuskan bahwa anak adalah orang yang dalam
perkara anak telah mencapai umur 8 (delapan) tahun, tetapi belum
mencapai umur 18 (delapan belas ) tahun dan belum perna kawin. Dari
rumusan yang telah ada tersebut, wagiati Soetodjo menyatakan bahwa
pembentuk Undang-Undang telah mempunyai ketegasan usia berapa
seseorang diartikan sebagai anak di bawah umur, sehinggah berhak
mendapat keringanan hukum demi menerapkan perlakuan khusus bagi
kepentingan psikologi anak.
Apabila dilihat batasan usia dari sudut psikososial, Singgih Gunarso
dalam makalahnya berjudul perubahan sosial dalam masyarakat yang
disampaikan dalam seminar Keluarga dan Budaya Remaja di
Perkotaan yang dilakukan di Jakarta, menyebutkan bahwa klasifikasi
perkembangan anak hingga dewasa dikaitkan dengan usia dan
kecenderungan kondisi kejiwaannya, menurut Singgih Gunarso terbagi
menjadi 5 tahap, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Anak, seseorang yang berusia di bawah 12 tahun


Remaja dini, yaitu seseorang yang berusia antara 12-15 tahun
Remaja penuh, yaitu seseorang yang berusia antara 15-17 tahun
Dewasa muda, yaitu seseorang yang berusia antara 17-21 tahun

5. Dewasa, yaitu seseorang yang berusia di atas 21 tahun)10

B. Pengertian Perlindungan Anak


Pengertian perlindungan anak dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang perlindungan anak pada pasal 1 angka (2) memberikan
rumusan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin
dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang,
dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Perlindungan juga dapat juga di artikan sebagai segala upaya yang ditujukan
untuk mencegah, merehabilitasi, dan memberdayakan anak yang mengalami
tindak perlakuan yang salah, exploitasi dan kekerasan seksual.

C. Pengertian Perilaku Seksual Anak


Masa remaja merupakan

suatu

perjalanan

perkembangan

meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang disertai dengan


adanya perubahan dari segi fisik, psikis, maupun sosial dan berlangsung dari
usia 11 sampai 24 tahun.11 Berfungsinya hormon-honnon seksual remaja
disertai dengan gejolak yang bersal dari timbulnya dorongan seksual bisa
menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak mudah dipahami.12
10 Singgih Gunarso, Keluarga dan Budaya Remaja di Perkotaan (makalah), Jakarta, 2000 hal 7-9

11 Sarlito irawan sarwono, psikologi remaja, 1991 hal 37


12 Singgih D. gunarsa, Anak Remaja dan Keluarga, 1991 hal 52

Perilaku diartikan sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana


maupun kompleks serta mempunyai sifat diferensial, artinya satu stimulus
dapat menimbulkan lebih dan satu respon yang sama.13 13 Perilaku sebagai
sesuatu yang dapat dilakukan individu dan yang dapat diobservasi baik secara
langsung maupun tidak langsung. Ditambahkan pula bahwa perilaku itu dapat
diukur dengan melihat apa yang dikerjakan sehingga dapat dibuat satu
kesimpulan mengenai perasaan-perasaan, sikap-sikap dari proses mental yang
lain.
Chaplin mengolompokan perilaku menjadi 2 yaitu, 14 perilaku yang
tidak dapat diamati secara langsung seperti pikiran, perasaan dan kehendak
serta perilaku yang dapat diamati secara langsung. Dengan demikian dapat
ditarik suatu kesimpulan bahwa perilaku adalah manifestasi dari proses mental
secara internal, dan bisa diobservasi dan diukur dengan berbagai cara baik
secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu bentuk perilaku manusia
yang selalu mewarnai hari-hari hidupnya adalah periilaku dalam kaitannya
dengan masalah-masalah seksual.
Dalam kamus bahasa, seks berarti jenis kelamin. Segala sesuatu yang
berhubungan dengan jenis kelamin disebut dengan seksualitas. seksualitas
menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, diantaranya adalah dimensi
biologis,psikologis,sosial dan kultural.15 Seks merupakan sesuatu kekuatan
13 Azru azwan, Pengantar Pendidikan Kesehatan, 1995 hal 34
14 C.P.chapliri, kamus lengkap psikologi, 1989 hal 97
15 W.Master, V.E. Johnson & R.C.koloeng, Human Sexuality 4th edition, 1992 hal
42

yang dapat mendorong organism untuk melakukan aktivitas yang sifatnya


seksual baik untuk tujuan reproduksi atau tidak.
Menurut sarwono dan siamsidar memberikan pengertian seksualitas
dalam dua arti yaitu dalam arti sempit, seksualitas berarti kelamin yang terdiri
dari alat kelamin, anggota tubuh dan ciri-cini badaniah yang membedakan pria
dan wanita, kelenjar dan hormon kelamin, hubungan seksual serta pemakaian
alat kontrasepsi, sedangkan pengertiari dalam anti luas seksualitas merupakan
segala hal yang terjadi akibat dan adanya perbedaan jenis kelamin, seperti
tingkah laku, perbedaan atribut, perbedaan peran dari hubungan pria dan
wanita. Secara ringkas seksualitas adalah dorongan hidup manusia yang
sifatnya naluriah, baik dalam arti organ-organ tubuh dan ciri badaniah yang
membedakan laki-laki dan perempuan maupun hal-hal lain yang terjadi akibat
adanya perbedaanjenis kelamin.16
Definisi perilaku seksual sebagai segala macam bentuk kegiatan yang
dapat menyalurkan dorongan seksual seseorang. Dalam hubungan antar jenis,
bentuk-bentuk kegiatan yang dapat menyalurkan dorongan seksual biasanya
melibatkan dua orang yang berbedajenis kelaminnya.17
Perilaku seksual menurut kallen adalah salah satu dari perilaku sosial
yang diatur masyarakat melalui norma-norma dan di pelajari melalui proses

16 Poespitarini, Perkembangan Anak jilid 2, Rajawati:Jakarta,1990 hal 19


17 Sarlito Irawan Sarwono, Psikologi Remaja, Rajawali Pers, 1989 hal 56

sosialisasi.18 Dengan demikian penyaluran dan pemuasan dorongan seksual


dapat di kendalikan melalui proses belajar.
Perilaku seksual remaja adalah suatu perkembangan pada remaja yang
dipengaruhi oleh kemasakan hormonal salah satu tanda yang muncul pada fase
ini adalah dalam kegiatannya remaja selalu berusaha untuk berkelompok
dengan teman sebaya yang berlainan jenis. Pada masa remaja, seks merupakan
bagian dari pengalaman remaja yang sangat diinginkan secara lahiriah.19
Sahabat remaja berpendapat bahwa perilaku seksual adalah segala macam
bentuk perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual. Bentuk
perilaku seksual bermacam-macam dari bergandengan tangan, berpelukan,
bercumbu sampai dengan berhubungan seks.20
Menurut Simkins perilaku seksual adalah perilaku yang didorong oleh
hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sejenis, mulai dari
berkencan, bercumbu sampai bersenggama.21 Objek seksualnya bisa-bisa
berupa orang lain, orang dalam khayalannya atau diri sendiri. Sebagian dari
tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa terutama jika tidak ada
akibat fisik atau sosial yang ditimbulkannya. Tetapi pada sebagian perilaku
seksual yang muncul dampaknya dapat cukup serius, seperti perasaan
bersalah, depresi, marah dan aborsi. Pendapat lain yang dikemukakan
Sarwono mengatakan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang
18 Kallen, community member attributed here, Second Edition,California, 1984
hal 25
19 Arthur jersild,The Psychology of Adolescence,Belmot, Callfornia,1963 hal 17
20 Sahabat Remaja, Focus on Young adults, 1999 hal 31
21 Singarimbun, Manajemen Sumber Daya Manusia, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 1991 hal

didasari oleh hasrat seksual baik yang disalurkan dengan sesama jenis maupun
lawan jenis. Bentuk perilaku seksual dimulai dan perasaan tertarik, berkencan,
bercumbu, dan bersenggama.22
Fauziah berpendapat bahwa perilaku seksual adalah segala bentuk
kegiatan dan aktivitas yang dapat menyalurkan dorongan seksual remaja
dalam hubungannya dengan lawan jenis dan dilakukan remaja sebelum
menikah.23 Sementara Mayasari berpendapat bahwa perilaku seksual dapat
diartikan sebagai manifestasi dan dorongan seksual individu dalam bentuk
perbuatan yang tampak atau terselubung dengan berbagai macam objek
seksual yang dapat diobservasi dan diukur dengan berbagai cara, baik secara
langsung maupun tidak langsung.24 Perilaku seksual itu dimulai dari saling
berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, necking, petting tahap ringan
hingga berat dan kemudian melakukan senggama.
Perilaku seksual itu dimulai dan adanya perasaan saling tertarik lalu
timbul cinta yang kemudian diikuti dengan saling memberi respon secara fisik
mulai dari petting sampai bersenggama yang semuanya itu diperoleh dari
pengalaman pacaran.25 segala macam penilaku yang dilakukan seseorang dan
perubahan jasmaniah yang dialami seseorang dan perubahan jasmaniah yang
dialami seseorang selama hidupnya termasuk perilaku seksualnya dapat diukur
secara langsung.
22 Sarlito Irawan Sarwono, op ci,hal 59
23 Fauziah, Heterational Ethologi Conferency, 1997 hal 27
24 Azrwal Saifuddin, Rehabilitasi dan Validitas, 2000 hal 151
25 R.Setianingsih, Kesehatan ibu dan Anak, 1994 hal 41

Semakin memuncaknya dorongan seksual yang dialami remaja


membutuhkan adanya penyaluran dorongan seksual dapat dibedakan menjadi
dua yaitu perilaku seksual pasif tertentu dengan cara menyublimasikan pada
perilaku tertentu seperti puasa dan mengaktualisasikan kedalam perilaku
seksual aktif. Dalam kaitannya dengan perilaku seks pasif dalam bentuk
sublimasi dan aktualisasi dorongan seksual paling tidak ada tiga hal yang
diasumsikan dapat mempengaruhi yaitu idealisme pribadi, kadar kepercayaan
beragama dan kontrol sosial baik yang berupa norma budaya maupun
masyarakat dimana remaja tersebut berada.
Perilaku sosial sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar, dalam arti
sebagian besar manusia pada akhirnya mengalami hal itu. Karena perilaku
seksual melibatkan orang lain maka perilaku seksual juga merupakan perilaku
sosial. Seperti perilaku sosial yang lain, maka perilaku seksual juga harus
diatur sesuai norma yang berlaku di masyarakat.
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual
adalah segala bentuk perilaku yang muncul akibat adanya dorongan
seksua[ individu, dimana perilaku tersebut muncul karena bekerjanya hormonhormon seksual dan seharusnya dapat dikendalikan menurut norma yang
berlaku di masyarakat. Morgan,dkk mengungkapkan bahwa perilaku tersebut
dapat diukur dengan melihat apa yang dikerjakan sehingga dapat diukur
dengan melihat apa yang dikeijakan sehingga dapat dibuat sam kesimpulan
mengenai perasaanperasaan, sikap-sikap dan proses mental yang lain.26

26 Pospitarini,op cit, hal 27

D. Tahap-Tahap Perilaku Seksual


Pada masa remaja perhatian lebih tercurah pada lawan jenisnya
sehingga perhatian kepada kelompok yang sejenisnya menjadi berkurang. 27
Hal ini kemudian dimanifestasikan kedalam perilaku pacaran, menurut
Hurlock pola-pola berpacaran remaja dibagi menjadi empat periode, yaitu :
a. Periode pertama, seorang individu melakukan kencan dengan beberapa
individu berbeda. Berkencan diartikan seperti percakapan ditelepon,
pertemuan di perpustakan, di jalan dan sebagainya.
b. Periode kedua, remaja mulai menyeleksi satu orang yang akan dipilih
menjadi pasangan tetap
c. Periode ketiga, sudah terjadi hubungan yang lebih serius dan
merencanakan pertunangan.
d. Periode keempat, pasangan sudah siap melangkah ke jenjang perkawinan.
Besarnya hasrat yang dimiliki remaja karena telah berfungsinya
hormon-hormon seksual mereka membuat remaja kemudian berusaha untuk
memanifestasikannya ke dalam bentuk perilaku yang nyata.
Ehrmann membagi perilaku berkencan remaja menjadi satu skala yang
dimulai dari tidak ada kontak fisik sama sekali. berpegangan tangan, sampai
bersenggama.28
Clayton,dkk. dalam penelitiannya berhasil mendapatkan tipe-tipe
perilaku seksual remaja yaitu berkencan, berciuman, bercumbu, masturbasi,

27 Eflzabet Hurlock,Adolescent Development, Mc Grew, Tokyo 1973 hal 67


28 Ibid hal 70

hubungan seksual pra nikah, homoseksual dan penggunaan alat kontrasepsi. 29


Sementara bentuk-bentuk penilaku seksual sebagai berikut :30
a.
b.
c.
d.

Pergi bersama pada janji pertama


Berciuman
Kontak jasmaniah
Mempertemukan alat kelamin tetapi tidak sampai melakukan hubungan

seksual
e. Bersenggama.
Tahapan perilaku heteroseksual, yaitu perilaku-perilaku seksual dengan
lawan jenis yang pernah dilakukan remaja sebelum menikah. Mulai dari tahap
paling awal atau rendah sampai dengan terjadinya hubungan senggama
sebagai benikut :
(1) Memandang tubuh lawan bicara tetapi menghindari adanya kontak
mata, (2) Mengadakan kontak mata (3) berbicang-bincang dan
membandingkan gagasan, jika pada tahap ini ada kecocokan hubungan
akan berjalan terus, jika tidak maka hubungan menjadi terputus, (4)
berpegangan tangan. (5) memeluk bahu, tubuh lebih didekatkan, (6)
memeluk pinggang, tubuh dalam kontak yang rapat, (7) ciuman di bibir,
(8) berciuman bibir sambil berpelukan, (9) rabaan, elusan dan eksplorasi
tubuh pasangannya, (10) saling meraba-raba bagian daerah erogen, dan
(11) bersenggama.

29 LM.Newcomb, An approachtonthe study of communicative acts,psychology


review, 1998 hal 6
30 B. simanjuntak dan I .L. Pasaribu, pen gantar psikologi perkembangan,Tarsito,
Bandung 1984 hal 97

Hasil penelitian GRK (Gerakan Remaja untuk Kependudukan)


mengemukakan perilaku seksual remaja meliputi :
a. Berkunjung ke rumah pacar atau dikunjungi pacar
b. Berjalan berdua
c. Berpegangan tangan
d. Mencium pipi
e. Mencium bibir
f. Memegang payudara
g. Memegang organ seksual dari dalam baju
h. Memegang organ seksual dari luar baju
i. Melakukan hubungan seksual
E. Faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku seksual
Seks merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan remaja, untuk
perilaku seksual remaja perlu diperhatikan jika tidak ingin membawa
malapetaka yang bisa menghancurkan hidupnya. Upaya untuk menyalurkan
dorongan seksual yang dimiliki oleh remaja pada dasarnya dipengaruhi oleh
berbagai faktor baik dari dalam diri individu sendiri yaitu munculnya
dorongan seksualnya ataupun dari luar diri individu berupa rangsanganrangsangan yang dapat berasal dari media cetak ataupun media elektronika.
Pengaruh dan dalam diri individu itu berasal dari perubahan hormonal
yang tenjadi secara alamiah dan berakibat pada peningkatan hasrat seksual
seseorang. Hal ini kemudian tidak dapat tersalurkan karena adanya aturan
hukum tentang batas usia tertentu untuk perkawinan kondisi remaja yang
mengalami masa puber pada hormone-hormon seksualnya juga akan
meningkatkan keinginan individu untuk melakukan aktivitas seksual .
Meningkatnya hormon-hormon seksual berakibat pada perilaku seseorang
yang kemudian tertarik pada orang lain dan mempunyai dorongan untuk

memuaskan kebutuhan seksualnya tersebut.31 Sementara pengalaman dari luar


dirinya dapat diperoleh melalui pengalaman kencan, informasi yang diperoleh
dari teman, orang tua, pengalaman masturbasi, tontonan porno, serta pacaran.
Beberapa faktor eksternal yang berhubungan dengan sikap dan
perilaku seksual seseorang yaitu :
a. Kelompok referensi sosial, beberapa penilitan menujukkan adanya
hubungan yang siknifikan antara punya teman yang bersikap primisif
terhadap seks dengan perilaku seksual yang akan dilakukan. Dengan kata
lain kelompok sebaya yang membawa pengaruh yang kuat terhadap
pembentukan perilaku seksual seseorang.
b. Pendidikan, remaja yang mempunyai prestasi tinggi akan mempunyai
sikap yang cendrung kurang menyukai perilaku seksual sebelum menikah,
karena selalu terpacu untuk berprestasi dan menjadi semacam mekanisme
pertahanan diri dalam melawan perlawanan dorongan seksualnya.
c. Karakteristik psikologis, menyebutkan bahwa remaja pria atau wanita
yang telah pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah akan
semakin premisif dalam perilaku seksualnya dan lebih berani mengambil
resiko dalam hal seksualnya. Hal tersebut terjadi karena rendahnya super
ego yang ia miliki yang bertugas mengatur norma-norma mana saja yang
boleh serta aturan yang tidak boleh untuk dilakukan.
d. Hubungan keluarga, biasanya remaja yang telah melakukan hubungan seks
sebelum menikah berasal dari keluarga yang kurang harmonis, kurang
mendapat perhatian serta sering terjadi konflik internal keluarga bahkan
telah bercerai antara ayah dan ibunya.
31 Rahman dan Hirmaningsih, Pacaran Sehat Panduan Ceramah,1997 hal 13

e. Tempat tinggal, remaja yang bertempat tinggal di perkotaan cnderung


lebih banyak melakukan hubungan seks sebelum menikah, karena fungsi
kontrol sosial yang kurang akibat sikap individualis dari masyarakat yang
kurang memperdulikan apa yang dilakukan oleh lingkungan sekitarnya.
f. Status sosial ekonomi, remaja yang telah melakukan hubungan seks
sebelum menikah biasanya berasal dari keluarga yang status ekonomi
rendah. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian dari orang tua yang
telah memperhatikan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang lebih mendasar
serta mendesak.
Imran menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
seksual seseorang yaitu,32
a. Pengalaman seksual, makin banyak pengalaman melihat, mendengar dan
mengalami hubungan seksual akan semakin memperkuat stimulasi yang
dapat mendorong munculnya perilaku seksual.
b. Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai keagamaan, remaja yang memiliki
penghayatan yang kuat tentang nilai-nilai keagamaan cenderung mampu
menampilkan perilaku seksual yang selaras dengan nilai yang diyakininya
sehingga perilaku yang muncul akan sesuai dengan norma yang berlaku.
c. Fungsi keluarga dalam menjalankan fungsi kontrol, keluarga yang
harmonis akan dapat membantu remaja menyalurkan dorongan

F.

32 Imran, Perkembangan seksual Remaja, PKBI Jawa Barat, Bandung, 1998 hal
41

seksualnya secara selaras yang sesuai dengan norma-norma yang berlak di


masyarakat. karena dalam keluarga yang hannonisakan terjadi komunikasi yang
harmonis pula yang di dalanmya remaja dapat secara terbuka menyampaikan
permasalahan seksualitas yang sedang Ia hadapi.
Factor yang mempengaruhi perilaku seksual seseorang dapat dibedakan menjadi
dua factor yaitu dan dalam din remaja dan dan uar remaja. Peningkatan hormone
seks, perbedaan usia kematangan seksual, bentuk din ekspresi cinta, dan
kepribadian remaja merupakan factor dan dalam din remaja, sedangkan
pengetahuan akan seksualitas, pengalaman seksual, pemahaman nilai agama dan
sosial, penyebaran informasi dan tekanan dan teman sebaya merupakan factor dan
luar din remaja.
Sanderowits dan Paxman mengemukakan beberapa factor yang mempengaruhi
perilaku seksual remaja, yaitu:3
1. Faktor sosial ekonomi seperti rendahnya pendapatan dan taraf pendidikan
2. Besarnya jumblah keluarga
3. Penghargaan akan din yang rendah
4. Kontrol din yang kurang.
Salah satu factor yang mempengaruhi penilaku seksual seseorang adalah jenis
kelamin. Pada pria cenderung memiliki tingkat
Sarhto Irawan Sarwono, op cit, h& 79

perilaku seksual yang lebih tinggi, hal mi dikarenakan adanya standar ganda.
Adanya tuntutan yang berbeda aritara pria dan wanita dalam hal seksual membuat
pria lebih bebas melakukan perilaku seksual sementara wanita cenderung berhatihati. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Mussen dan Hanani yang
mengatakan bahwa salah satu factor yang mempengaruhi perilaku seksual
seseorang adalahjenis kelamin. Sementara ketidakberdayaan wanita dalam
menolak ajakan untuk berhubungan seksual karena ketidakmampuannya
mengekang hawa nafsu sendiri, control din yang Iemah, dominamnya sifat-sifat
infantile, ketidakmampuan menahan din akan godaan seksual sesaat, motif-motif
narsisme ekstrim dan dorongan pemberontakan. Sementara Paul mengatakan
bahwa laki-laki lebih memiliki
keterbukaan mengenai masalah perilaku seksualnya daripada perempuan.34
Dalam berhubungan dengan laki-laki, bagi perempuan seks tidak hanya
menyangkut moral, tetapi juga kehamilan serta kehormatan din dan keluarga.
Karena faktor-faktor internal dan dalam, dirinya serta pengaruh budaya ketimuran
yang masih kental maka dapat dikatakan bahwa kecenderungan perilaku seksual
laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.
Hampir dalam setiap penelitian ditemukan adanya perbedaan sikap atau perilaku
seksual antara subyek laki-laki dengan subyek perempuan, hal mi teijadi karena
adanya standar ganda yang
Andi Mappiare,Psikologi Remaja, Usaha Nasiona,Surabaya,1982 hal 39

masih berlaku di mana laki-laki lebih mendapatkan toleransi dalam melakukan


berbagai macam aktivitas seksual. Walaupun standar ganda
mi mulai pudar dalam beberapa tahun terakhir, dimana standar ganda telah mulai
menjadi standar tunggal yang mengaligap bahwa antara laki-laki dan perempuan
mempunyai hak yang sama, namun hal mi belumlah merata. Hal mi tampak lebih
jelas pada penelitian yang dilakukan oleh Faturrochman dkk di Bali yang
mengatakan bahwa jenis kelamin dapat digunakan sebagai preciktor permisif
terhadap hubungan seksual sebelum menikah terutama jenis kelamin laki-laki,
karena subjek laki-laki memperlihatkan sikap permisif yang lebih tinggi
dibandingkan subjek wanita.3 Dan uraian irii disimpulkan bahwa jenis kelamin
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual. Selain itu
menurut Savitri selama mi wanita menjadi korban dan konstruksi sosial yang
menempatkan perempuan ke dalam subordinasi daripada kaum pria, sehingga
segala sesuatu keputusan yang diambilnya cenderung tidak mandiri.36
Dan keseluruhan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang
mempengaruhi perilaku seksual seseorang dapat berasal dan faktor internal
dirinya sendiri, yaitu perubahan hormonal, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
kontrol din serta penghargaan din yang rendah dan pemahaman nilai agama serta
faktor ekstemal yang bersi fat pengaruh dan luar yaitu pengaruh lingkungan
tempat tinggal, kondisi
35Faturrachman, Sikap dun Perilaku Seksuai Remaja, 1992 hal 24
36G.N.Savitri, Fenomena Perilaku Seksual Remaja Berpacaran, 2000 hal 27

keluarga, dan pengaruh kelompok sebaya yang menjadi ujung tombak dalarn
metode pendidikan teman sebaya menjadi sentral dalam rangka mempengaruhi
perilaku seksual remaja. Seperti yang diungkapkan Fuhrmann remaja cenderung
berperilaku mengikuti standar perilaku dan teman-temannya dalam kelompok.
Selain itu intensitas pertemuannya yang cukup besar serta ketakutan rernaja akan
dijauhi oleh kelompoknya membuat semakin besarnya pengaruh kelompok sebaya
dalam mempengaruhi kecenderungan perilaku seksual remaja.37 Hasil penelitian
yang dilakukan sahabat remaja dan plan internasional tahun 1999 juga
menunjukan hasil bahwa 82,8 % remaja dan 187 responden yang berusia 14-24
tahun berdiskusi seputar masalah seksualitasnya dengan teman sebaya disbanding
dengan guru dan orang tuanya.
F. Pengertian Tindak Pidana Pemerkosaan
Tindak pidana pemerkosaan diatur dalam pasal 285 KUHP, Bab
XIV tentang kejahatan terhadap kesopanan. Namun demikian ada pasal-pasal lain
yang dapat di gunakan dalam menangkap pelaku tindak pidana pemerkosaan,
yaitu pasal 286 dan 287 KUHP. Pasal 285 KUHP sifatnya adalah pasal pokok
untuk kasus pemerkosaan. Adapun bunyi dan pasal pasal tersebut, antara lain:
I. Pasal 285 KUHP berbunyi:
B.S.Furhmann, Adolescence, Adolescents, 1990 hal 31

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa


perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia di luar
pernikahan dihukum karena memperkosa dengan hukurnan
penara selama-lamanya 12 tahun.
2. Pasal 286 KUHP berbunyi:
Barang siapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya
sedang diketahuinya bahwa perempuan itu pinsan atau tidak
berdaya, dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun.
3. Pasal 287 KUI-IP ayat I berbunyi:
Barang siapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya
sedang dikatahuinya atau patut disangkanya,bahwa umur
perempuan itu belum cukup 15 tahun, atau kalau umurnya tidak
ternyata, bahwa belum mampu untuk kawin dihukum
penjaraselama-Iamanya 9 tahuii.
Pasal 287 ayat (2) KUHP penuntutan hanya dilakukan kalau ada
pengaduan, kecuali kalau umurnya perempuan itu belum sampai
12 tahun atau jika ada salah sam hal yang tersebut pada pasal 291
dan pasal 294 KU HP.
Adapun perbedaan pasal 285,dengan pasal 286 dan pasal
287 ayat(1) KUHP adalah bahwa yang menjadi objek atau korban
pada pasal 285 adalah wanita tanpa batas umur, sedangkan pada
pasal 286 yang menjadi objek atau korban adalah seorang wanita
dalam keadaan pinsan atau tidak berdaya dan yang menjadi objek

pada pasal 287 ayat (1) adalah seorang wanita yang belum bemmur 15 tahun atau
belum waktunya kawin jika tidak jelas berapa umurnya.
Menurut R. Sugandhi. yang dimaksud dengan perkosaan adalah seorang pria
yang memaksa pada seorang wanita yang bukan istrinya untuk melakukan
persetubuhan dengannya dengan ancaman kekerasan, yang mana diharuskan
kemaluan pria telah masuk ke dalam lubang kemaluan seorang wanita kemudian
mengeluarkan air mani.38 Sedangkan P.A.F. Lamintang dan Djisman samosir
berpendapat bahwa perkosaan adalah perbuatan seseorang yang dengan
kekerasan memaksa seorang wanita untuk melakukan persetubuhan di luar ikatan
perkawinan dengan dirinya.39
G. Pendidikan Seks
Secara umum dapat dikatakan seseorang akan memperoleh suatu informasi
ataupun pengetahuan dapat bersumber dan pengalaman ketika menghadapi suatu
permasalahan yang kemudian memunculkan insight dan dan proses pembelajaran.
Pendidikan seks adaiah sebuah perencanaan yang dipengaruhi atas proses
pembelajaran langsung atau tidak langsung dihubungkan pada pola perilaku
seksual atau pengalaman,
38 R.Sugandhi, KUHP,Usaha Nasional, Surabaya, 2000 hal 335
P.A.F.Lamintang dan Djasmin Samosir, Delik-delik Khusus Kejahatan yang
Ditujukan Terhadap Hak Milik dan lain-loin Hak yang Timbul Dan Hak
Milik,Nuaransa Aulia, Jakarta, 2010 hal 43

sama dengan pola dan sebuah system nilai yang lebih terfokuus path seksualitas.
Pada saat mi pendidikan seks didasari oleh 2 pandangan dan pendekatan yang
berbeda yaitu:
1. Pendekatan psikoanalisis. yang hanya mengakui bahwa perkembangan psikoseksual ditentukan oleh pembawaan yang untuk sebagian besar sifatnya autonom.
2. Pendekatan sosiologis yang mengakui adanya pengaruh Iingkungan dalam
mempengaruhi perilaku seksual seseorang.
Pendidikan seks diartikan sebagai proses pembudayaan seksualitas din sendiri
dalam kehidupan bersama orarig lain yang hams ditempatkan dalam konteks
keluarga dan masyarakat. Pendidikan mi menyadarkan manusia tentang keharusan
mengatur dorongan seksualnya sesuai nilai dan moralitas yang berlaku.
Pendidikan seks berarti manusia menjelaskan dan memberikan informasi tentang
seksualitas manusia serta meneguhkan rnakna atau menafsirkan nilai manusiawi
terhadap seksualitas tersebut. pendidikan seks bertujuan mengartikan penghayatan
kehidupan seksual manusia sehingga diharapkan terbentuk individu remaja
menjadi orang dewasa baaik laki-laki maupun wanita yang mampu berpenilaku
seksual sesuai dengan lingkungan sekitamya.
Menurut sahabat remaja pendidikan seks merupakan sebuah diskusi yang
realistis,jujur,dan terbuka dan bukan merupakan dikte moral belaka. Dalam
pendidikan seks diberikan pengetahuan yang factual,

menempatkan seks pada perspktif yang tepat, berhubungan dengan self esteem
(rasa penghargaan terhadap din), penanaman rasa percaya din dan difokuskan
pada peningkatan kemampuan dalam mengambil keputusan. Ada enam prinsip
dasar menurut sahabat remaja yang termuat dalam pendidikan seks, yaitu :
1. Perkembangan manusia, berisi tentang anatomi,reproduksi dan fisiologi.
2. 1-lubungan antar manusia,baik sesame teman,hubungan dalam keluarga,
pacaran dan perkawinan.
3. Kemampuan personal, berisi tentang nilai-nilai, cara pengambilan
keputusan,keterampilan komunikasi, dan negosiasi.
4. Perilaku seksual, benisi tahapan dan perilaku seksual serta akibat yang
ditimbulkannya.
5. Kesehatan seksual, benisi tentang pencegahan terhadap penyakit menular
seksLal, kontrasepsi,dan kekerasan seksual.
6. Budaya dan masyrakat, bagaimana nilai-nilai yang benlaku di masyrakat, peran
gender serta nilai nilai agama.
Sahli berpendapat bahwa pendidikan seks berarti penerangan yang bertujuan
untuk membimbing serta mengasuh tiap-tiap lelaki dan perempuan, sejak dan
anak-anak sampai sudah dewasa, perihal hubungan antar kelamin umumnya dan
kehidupan seksual khususnya, agar mereka dapat melakukan sebagaimana
mestinya sehingga kehidupan
Sahabat Remaja, op cit, hal 46

berkelamin itu mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat


manusia.41 Nashih Ulwan mengatakan bahwa pendidikan seks adalah masalah
mengaj arkan,member pengertian,dan menjelaskan masalah masalah yang
menyangkut seks, naluri, dan perkawinan kepada anak sejak akalnya mulai
tumbuh dan siap memahami hal tersebut. Dalam pendidikan seks dapat
dibedahkan antara sex instructiondan seks sex education in sexuality. Sex
instruction ialah penerangan mengenai anatomi, seperti pertumbuhan bulu pada
ketiak dan sekitar alat kelamin, dan mengenai biologi dan reproduksi yaitu proses
berkembangnya melalui hubungan kelamin untuk mempertahankan jenisnya.
Sedangakan sex education in sexuality meliputi bidang etika, moral, fisiologi,
ekonomi dan pengetahuan Iainya yang dibutuhkan agar seseorang dapat
memahami sebagai individu sekual.42
Secara umum pendidikan seks bertujuan untuk menghasilkan manusia-manusia
dewasa yang dapa menjalankan kehidupan yang bahagia karena dapat
menyesuaikan din dengan masyarakat dan lingkungannya, serta bertanggung
jawab terhadap dirinya dengan orang lain (international conference of sex
education and family planning tahun 1962, dalam Miqdad 2000).
Seks adalah pembenian informasi tentang seksualitas dan perkembangan tubuh
yang akan membantu individu mempercayai apa
41Akhmad Miqdad, Pendidikan Seks Bagi Remaja Menurut Hukum Islam,Mitra
Usaha, Yogyakarta,
2000 hal 31
42 Ibid Hal 32

yang ia rasakan tentang masalah seksualitasnya. Pendapat lain yang dikemukakan


oleh Bruess dan Grenberg yang mengatakan bahwa pendidikan seks merupakan
pandangan yang jujur dan terbuka mengenai seks dan sifatnya secara realistis.4
Jadi tidak hanya membicarakan bagaimana seseorang harus menyikapi seks secara
moral namun juga menyangkut bagaimana individu tersebut mengambil
keputusan mengenai masalah seksualitasnya.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Peterson menyarankan agar dalam
pendidikan seks disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Menganjurkan remaja untuk menjaga kesehatan diii sendiri.
2. Memberikan fakta nyata tentang kesehatan reproduksi yang berfokus pada
kasus-kasus kehamilan yang telah dialami remaja.
3. Mendukung remaja untuk tidak melakukan hubungan sebelum menikah.
4. Meningkatkan intensitas komunikasi antara orang tua dengan anaknya.
5. Memberikan pendidikan seks secara komprehensif dan melibatkann orang tua
serta komunitas remaja yang ada.
Rosoff mengatakan bahwa pendidikan seks hendaknya melibatkan pihak sekolah
selaku pendidik yang memiliki intensitas pertemuan yang
C.E.Bruess & J.S.Grenberg, sex education, Theory and Practice,Belmot,
CaliforniaI989 hal 52 Peterson, Human Comprehension Processes and The
Hidoterminacy of Meaning,1988 hal 33

cukup dengan siswanya.4 Pedapat mi diperkuat oleh Forrest dan Silverman yang
mengatakan bahwa banyak sekolah melupakan aspek seksualitas dalam
pendidikannya, padahal seluruh dalam sekolah tersebut mengalami masalah
seksualitas.46
Dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks merupakan
pemberian informasi tentang seksualitas kepada remaja yang diberikan secara
terbuka dan bukan hanya sebuah dikte moral belaka. Dalam pendidikan seks mi
diberikan berbagai informasi sepu tar masalah seksual yang mereka alami.
Berdasarkan uraian di atas maka kemudian muncullah salah satu model
pendidikan seks yang dikembangkan oleh sahabat remaja dengan metode
pendidikkan teman sebaya. Pada program mi remaja menjadi pelaku aktif sebagai
sumber informasi dan mendukung teman teman sebayanya dalam
pembentukan perilaku seksual yang sehat. Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan
metode pendidikan teman sebaya adalah sebagai berikut:
1. Penawaran kerjasama
Path proses mi sahabat remaja menawarkan kerjasama program pendidikan seks
dengan metode pendidikan teman sebaya kepada pihak sekolah yang bersangkutan
untuk kemudian disepakati sebuah kerja sarna dalam pelaksanaan program
nantinya.
V.E.Johnson & R.c. Koloeng, Human Sexuality 4th Edition, Harpercollins
Publisher, New York,HaI 45
46 Iblid hal 46

2. Rekrutmen atau pendaftaran


Setelah disepakati bahwa disuatu sekolah akan diadakan program pendidikan
teman sebaya,maka langkah awal adalah rekrutmen caloncalon kader pendidik
teman sebaya yang diambil dan siswa tersebut. Dalam proses rekrutmen mi
diusahakan di reknit siswa-siswa yang cukup mengakar di antara temantemannya, yaitu mereka yang dipercaya serta mempunyai pengaruh yang besar
terhadap temantemannya.
3. Pelatihan.
Setelah diadakan rekrutmen, Iangkah selanjutnya adalah pemberian pelatihan bagi
calon kader pendidik teman sebaya. Pelatihan dilakukan dengan materi meliputi
perkembangan manusia antara lain anatomi, reproduksi, dan fisiologi. Materi
kemampuan negosiasi, pengambilan keputusan dan hubungan antar personal.
4 Pelaksanaan program
Setelah melalui tahapan awal maka proses selanjutnya para kader pendidik temari
sebaya tersebut mulai memberikan infonnasi seputar masalah seksualitas remaja
secara beranting dengan teman-teman sebayanya dengan konsep perkawanan dan
kesetaraan.
Diharapkan melalui program mi akan banyak remaja yang mendapatkan infonnasi
tentang pendidikan seks. Hal mi akan tems berlanjut dengan menghasilkan terus
remaja- remaja kader pendidik teman sebaya rnelalui pelatihan yang nantinya
mereka akan tems

memberikan informasinya kepada teman sebaya secara berantai dengan metocle


yang dapat diterima oleh sebuah kelompok remaja. Melelui program mi juga
diharapkan keterbukaan akan muncul di kalangan para remaja tentang masalah
seksualitasnya serta dapat menjawab rasa ingin tau mereka agar tidak melekukan
hal-hal yang bersifat coba-coba yang malah dapat menjerumuskan mereka
kepada kehidupan yang sebelumnya tidak pemah mereka bayangkan (Lentera
PKBI DIY,1996).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Menggunakan tipe penelitian empiris, yaitu dengan menjelaskan data yang telah
masuk untuk mengetahui cocok atau tidaknya dengan segi praktisnya peraturan
yang ada.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Poires Sorong Kota. dengan alasan bahwa
sumber-sumber data mengenai Tindak Kekerasan Seksual Terhadap Anak ditinjau
Dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak akan
diperoleh lebih banyak dan lebih mudah karena di wilayah kerja Poires Sorong
Kota paling banyak terjadi tindak kekerasan seksual terhadap anak.
C. Jenis dan Sumber Data
1. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dan lapangan dengan
cara Wawancara langsung dengan nara sumber serta dengan mengamati langsung
objek penelitian, untuk mendapatkan informasi atau data yang sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.
2. Data sekunder ialah data yang diperoleh dengan mempelajari bukubuku
pustaka, peraturan-peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan obj ek
penelitian.

D. Teknik pengumpulan data


Data yang diperoleh akan disusun secara logis dan sistematis untuk mendapatkan
gambaran tentang bagaimana Iangkah perlindungan hukurn bagi anak korban
kekerasan seksual yang meliputi:
1. Wawancara dengan ibu BrigpoL Sendi Wanggay, S.H
Penulis mencan data melalui wawancara secara langsung dengan pihak yang
berwenang, yang berhubungan dengan rumusan masalah yang diambil.
2. Observasi
Penulis mencari data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap
objek yang berkaitan dengan judul skripsi yaitu kekerasan seksual terhadap anak
ditinjau dan LJndang-Undang 23 tahun 2002.
3. Studi Pustaka.
Penulis mengambil data dan beberapa referensi buku yang berhubungan dengan
judul sknipsi.
E. Teknik analisa data
Keseluruhan data yang diperoleh dalam buku-buku referensi maupun dalam
penelitian nanti akan diolah dan dianalisa secara kualitatif guna mengungkapkan
mekenisme teijadinya tindak kekerasan seksual terhadap anak ditinjau dan
undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
F. Waktu penelitian
Penelitian mi dilaksanakan selama dua bulan ( 60 Han ) dan buan Oktober
November 2013.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Langkah Perlindungan Hukum Bagi Anak Korban Kekerasan Seksual
Indonesia sebagai Negara hukum sebagaimana yang diamanatkan dalam undangundang dasar 1945 mempunyai konsekuensi untuk memberikan perlindungan
hukuin terhadap korban dan suatu kejahatan. Dalam hal mi penyusun
menggunakan teori victimologi, secara etimologi victimologi berasal dan kata
victim yang berarti korban dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dalam
pengertian terminology, victimologi adalah studi yang mempelajani tentang
korban, penyebab terjadinya korban I timbulnya korban dan akibat-akibat
penimbulan korban yang merupakan masalah manusia sebagai suatu kenyataan
social.47
Dalam undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
disebutkan bahwa perlindurigan anak adalah segala kegiatan untuk menjainin dan
melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan
berpartisipasi - secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaai-i
serta mendapat perlindungan dan kekerasan dan diskniminasi.
Bambang Waluyo, Viktimologi Penindun gun Korban don Saksi, Jakarta: Sinai
Grafika. 2011. Hal 9

Kaitannya dengan persoalan perlindungan hukum bagi anak,mka dalam undangundang 1945 pada pasal 34 telah ditegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak
terlantar dipelihara oleh Negara
Hal mi menunjukan adanya perhatian serius dan pemerintah terhadap hak-hak
anak dan perlindungannya.48 Termasuk perlindungan dalam bidang kesejatraan
social yang diatur dalam undang-undang nomor 4 tahun 1979 tentang kesejatraan
anak.
Indonesia telah mengeluarkan dua undang-undang yang diperuntukan untuk
melindungi anak yaitu undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang pengadilan
anak dan undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Undang-undang nomor 3 tahun 1997 untuk melindungi anak yang merupakan
pelaku tindak pidana, dengan membedahkannya dengantata cara peradilan yang
dilakukan oleh orang dewasa. Sedangkan undang-undang nomor 23 tahun 2002
merupakan regulasi yang melindungi anak sebagai korban atas suatu tindak
pidana.
Bentuk bentuk perlindungan hukum terhadap anak
1. Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
Pasal 28B ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang berhak membentuk keluarga
dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. Dan pasal 28B ayat (2)
menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta
Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anok, Bandung, Rafika Aditama, 2006. Hal 67

berhak sebagai berikut -atas perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi. Serta
dalarn 34 ayat (2) menyatakan fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh
negara.
2. Kitab Undang undang [-lukum Acara Pidana ( KUHAP)
Berkaitan dengan hak korban untuk mengajukan tuntutan ganti rugi melalui cara
penggabungan perkara sebagai diatur dalam pasal 98 sampai dengan 101 KUHAP,
pihak-pihak yang berkepentingan perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu
sebagai berikut:
1. Kerugian yang terjadi hams ditimbulkan oleh tindak pidana itu sendiri.
2. Kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana atau orang lain yang menderita
kerugian ( korban ) sebagai akibat langsung dan tindak pidana tersebut.
3. Gugatan ganti kerugian yang diakibatkan tindak pidana tadi ditunjukan kepada
si pelaku tindak pidana (terdakwa).
4. Dan, tuntutan ganti rugi yang diajukan kepada terdakwa tadi digabungkan atau
diperiksa dan diputus sekaligus bersamaan pada pemeriksaan dan putusan perkara
pidana yang didakwakan kepada terdakwa dan dalam bentuk satu putusan.
R. Soeparmono. Praperadilan dan Penggabungan Perkara Gugatan Ganti kerugian
Dalam KUHAP. Mandar Maju: Bandung.2003. Hal 83

3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Beraiii


ketentuan dalam peraturan perundang-undangan juga mengatur tentang
pentingnya perlindungan terhadap hak asasi anak. Hal mi dapat dilihat dalam UU
Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dimana hak asasi anak
mendapat tempat tersendiri
dalam undang-undang mi. Perlindungan terhadap keberadaan anak ditegaskan
secara eksplisit dalam 15 pasal yang mengatur hak-hak anak sesuai pasal 52- pasal
66 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Apabila anak telah menjadi korban tindak pidana maka usaha yang dilakukan
menurut undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pada
pasal 64 ayat ( 2 ) yang pada dasarnya memuat tentang upaya yang diberikan
pemerintah dalain melindungi anak yang menjadi korban tindak pidana yang
meliputi:
a. Upaya rehabilitasi yang dilakukan di dalam suatu lembaga maupun di luar
lembaga, usaha tersebut dilakukan untuk memulihkan kondisi mental, fisik, dan
lain sebagainya setelah mengalami trauma yang sangat mendalam akibat suatu
peristiwa pidana yang dialarninya.
b. Upaya perlindungan pada identitas korban dan publik. usaha tersebut
diupayakan agar identitas anak yang menjadi korban ataupun keluarga korban
tidak diketahui oleh orang lain yang

bertujuan untuk nama baik korban dan keluarga korban tidak


tercemar.
c. Upaya memberikan jaminan keselamatan kepada saksi korban
yaitu anak dan saksi ahli, baik fisik. mental maupun sosialnya
dan ancarnan pihak-pihak tertentu, hal mi diupayakan agar
proses perkaranya berjalan dengan efisien.
d. Pemberian aksebilitas untuk mendapatkan informasi mengenai
perkembangan perkaranya, hal mi diupayakan agar pihak korban
dan keluarga mengetahui mengenai perkembangan proses
perkaranya.
5. Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga.
Keluarga merupakan lingkungan social pertama yang dikenal oleh manusia.
Dalam keluarga manusia belajar untuk mulai berinteraksi dengan orang lain. Oleh
karena itulah. umumnya orang banyak menghabiskan waktunya dalam lingkungan
keluarga. Kasus kekerasan dalam rurnah tangga banyak tenjadi di tengah-tengah
keluarga. Hal tersebut melibihi data resmi yang dikeluarkan oleh lembaga baik
pemenintah maupun swasta. Menurut pasal 1 angka 3 UU nomor 23 tahun 2004
tentang PKDRT, yang dimaksud dengan korban adalah orang yang mengalami
kekerasan dan / atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga. Korban
menurut UU mi adalah socially weak

victims, yaitu mereka yang memiliki kedudukan social yang lemah yang
menyebabkan ia menjadi korban.
Korban kekerasan dalam rumah tangga akan mengalami penderitaan / kerugian
yang sangat beragam seperti materiil, fisik maupun psikis sehingga perrlindungan
yang diberikan kepada korbanpun harus beragam pula.
6. Undang-undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
Berdasarkan ketentuan pasal 5 ayat (2) undang-undang nomor 13 tahun 2006
tidak setiap saksi atau korban yang memberikan keterangan ( kesaksian ) dalam
proses peradilan pidana secara otomatis memperoleh
perlindungan seperti yang dinyatakan dalam undang-undang mi.
Khusus untuk korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat, berdasarkan
pasal 6 IJU nomor 13 tahun 2006 tidak hanya berhak atas perlindungan
sebagaimana disebutkan dalam pasal 5 tetapi juga berhak untuk mendapatkan
bantuan medis dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial yaitu bantuan yang diberikan
oleh psikolog kepada korban yang menderita trauma atau masala kejiwaan Iainnya
untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan lainnya, memulihkan kembali
kondisi kejiwaan korban ( penjelasan pasal 6 huruf b). Dalam kasus pelanggaran
hak asasi manusia yang berat, tidak menutup kemungkinan bagi korban untuk
menuntut hak atas kompensasi dan hak atas restitusi atau ganti kerugian yang
menjadi tanggungjawab pelaku tindak pidana ( pasal 7 ayat [i}).

Perlindungan lain yang juga diberikan kepada saksi atau korban dalam suatu prses
peradilan pidana, meliputi:
a. Memberikan kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan tempat perkara
tersebut diperiksa, tentunya setelah ada izin dan hakim ( pasal 9 ayat [1]);
b. Saksi, korban dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana
maupun perdata atas laporan, kesaksian yang akan, sedang atau telah
diberikannya.
7. Undang-undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
UU nomor 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak merupakan hukum yang khusus
( lex spesialis) dan hukum yang umum ( lex generalis ) yang tertuang dalam kitab
undang undang hukum pidana ( KUHP) dan kitab undang undang hukum
acara pidana ( KUHAP )50 Dalam ketentuan UU nornor 3 tahun 1997 dikenal
adanya pembatasan umur untuk dapat diadili pada siding anak. Menurut ketentuan
pasal 1 ayat (1), pasal 4 dan pasal 5 ayat (1) UU nomor 3 tahun 1997 bahwa anak
yang telah mencapai umur tahun, tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan
belum pemah kawin dapat dihadapkan ke sidang anak.
Dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan Pengadilan Pidana Anak berdasarkan
UU pengadilan anak mengarah pada tujuan
pernbinaan dan perlindungan terhadap anak. Tujuan pembinaan dan
perlindungan mi dihubungkan dengan tugas dan wewenang sidang
Nashriana. Perlindun gun Hukum Pidana BagiAriak Di Indonesia. Rajagrafindo
Persada, Jakarta. 2011. Hal 75

pengadilan anak yang diatur dalam pasal 3 UU Pengadilan Anak, maka tujuan
system peradilan pidana anak Indonesia adalah : memeriksa perkara anak nakal,
memutus perkara anak nakal dan menyelesaikan perkara anak nakal dalam rangka
pembinaan dan perlindungan terhadap anak.
8. Undang-undang Nomor Ii tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
Dalam UU SPPA diatur tentang eksistensi deversi. Ketentuan pasal 1 angka 7
menyebutkan diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dan proses
peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Kemudian dalam pasal 6 UU
SPPA diversi bertujuan untuk mencapai perdamaian antara korban dan anak,
menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindarkan anak dan
perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dan
menanamkan rasa tanggungjawab kepada anak.
Dalam pasal 89 UU SPPA menyebutkan anak korban dan / atau anak saksi berhak
atas semua perlindungan dan hak yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan.
9. Undang undang nomor 4 tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.
Ketentuan-ketentuan pasal 2 sampai dengan pasal 9 (Bab 11 Undangundang
nornor 4 tahun 1979) mengatur tentang hak-hak anak atas kesej ahteraan, yaitu:
a. Hak atas kesejahteraan, perawatan,asuhan dan bimbingan;

b. Flak atas pelayanan;


c. Hak atas pemeliharaan dan perlindungan;
d. Hak atas perlindungan Iingkungan hidup;
e. Flak mendapat pertolongan pertama;
f. Flak untuk memperoleh asuhan;
g. Flak untuk memperoleh bantuan;
h. Flak diberi pelayanan dan asuhan;
i. Hak untuk memperoleh pelayanan khusus;
j. Flak untuk mendapat bantuan dan pelayanan.
Langkah perlindungan hukum bagi anak korban kekerasan seksual menurut Kanit
PPA Ibu Sendi Wanggay yaitu:
1. Pihak korban melaporkan masalah kekerasan seksual kepada instansi
Kepolisian.
2. Pihak Kepolisian sebagai penyidik memanggil Dokter untuk melakukan visum
terhadap korban guna mengetahui korban diperkosa atau hanya dicabuli.
3. Hasil visum dan Dokter dijadikan sebagai salah satu alat bukti untuk menjerat
pelaku sesuai dengan aturan Undang-undang yang berlaku.
Tindak kekerasan seksual yang terjadi di Kota Sorong selama mi menurut Kanit
PPA Ibu Brigpol Sendi Wanggay,S.H banyak terjadi
Wawancara Tanggal 27 November Tahun 2013 dengan Kanit PPA Poires Kota
Sorong Ibu Brigpol Sendi Wanggay, S.H.

di luar kalangan keluarga, di dalam keluarga ada tapi hanya sedikit kasus yang
dilaporkan ke Poires Sorong Kota.2
Tabel I
Perbandingan Tingkat Kriminalitas Persetubuhan Terhadap Anak dan Tingkat
Kiiminalitas Pencabulan Terhadap Anak di Poires Sorong Kota
KRIMINALITAS
2011 [ 2012 2013
IJ(JNo.23 Tahun 2002 tentang Persetubuhan terhadap anak
19
I1
15
UU No. 23 Tahun 2002 tentang Pencabulan terhadap anak
8
4
6
Sumber: Kantor Reskrim Poires Sorong Kota tahun 2013
B. Prosedur Penyelesaian Tindak Kekerasan Seksual Terhadap Anak Menurut
Undang-Undang Perlindungan Anak
Pasal 81 (1) U ndang-undang nomor 23 tahun 2002 mengatur ketentuan pidana
bagi pelaku yang melakukan persetubuhan di luar perkawinan dengan pidana
minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. Dalam penjelasan ketentuan pasal
tersebut terbagi 2 (dua) unsur pidana pemerkosaan yakni dilakukan dengan
ancaman kekerasan atau kekerasan (pasal 81 (1)) dan dilakukan dengan bujuk
rayu, tipu muslihat atau serangkaian kebohongan (pasal 81 (2)). Narnun kalau
pemerkosaan dilakukan karena kesalahan dan pelaku maupun korban yang
dilakukan atas dasar suka sama suka, bahkan kesalahan dan korban yang rana
korban yang sebenarnya menjadi pelaku dengan berlagak diperkosa dengan tujuan
hanya mendapatkan sesuatu dan pihak pelaku maka pelaku tidak dapat dibeni
pemberatan hukuman.
52 Wawancara OP.cit

Adapun tujuan pemidanaan tersebut adalah:


a. Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi
pengayoman masyarakat. dengan terjadinya tindak pidana berarti norma hukum
yang berlaku dalam masyarakat telah dilanggar sehingga perlu ditegakan kembali
dengan member atau menjatuhkan sanksi kepada sipelanggar.
b. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi
orang yang baik dan berguna; hal mi berarti penjatuhan sanksi atau hukuman pada
pelaku tindak pidana disamping bertujuan membuatnya jera juga bermaksud
membina agar pelaku menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna.
c. Menyelesaikan konilik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan
keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat; hal mi berarti,
dengan penjatuhan sanksi atau hukuman pada pelaku tindak pidana, diharapkan
konflik yang teijadi akibat tindak pidana dapat hilang dan masyarakat kembali
damai.
d. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Dengan penjatuhan sanksi atau
hukuman pada pelaku tindak pidana diharapkan dapat membebaskan pelaku dan
rasa bersalah atas tindak pidana yang telah dia lakukan.
Kemudian adanya pidana tambahan berupa ganti kerugian (restitusi/kompensasi),
menuntut ganti rugi akibat suatu tindak pidana /kejahatan yang menimpa din
korban melalui cara penggabungan perkara perkara perdata dengan perkara pidana
(pasal 98 sampai dengan pasal 101

KUHAP). Hak mi diberikan guna memudahkan korban untuk menuntut ganti mgi
pada tersangkalterdakwa. Permintaan penggabungan perkara gugatan ganti mgi
hanya clapat diajukan selambat-Iambatnya sebelum penuntut umum mengajukan
tuntutan pidana, atau jika penuntut umum tidak hadir pennintaan tersebut diajukan
selambat-Lambatnya sebelurn hakim menjatuhkan putusan. Penggabungan
gugatan ganti rugi dapat diajukan apabila pihak yang dirugikan mengajukan
penggabungan ganti mgi terhadap terdakwa dalam kasus yang didakwakan
kepadanya.
Berkaitan dengan hak korban untuk mengajukan tuntutan ganti mgi melalui cara
penggabungan perkara sebagaimana diatur dalam pasal 98-101 KUHAP, pihakpihak yang berkepentingan perlu memperhatikan beberapa hal yaitu:
a. Kemgian yang terjadi harus ditimbulkan oleh tindak pidana itu sendiri.
b. Kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana atau orang -iain yang menderita
kerugian (korban) sebagai akibat langsung dan tindak pidana tersebut.
c. Gugatan ganti kemgian yang diakibatkan Tindak pidana. tersebut ditunjukan
kepada pelaku tindak pidana (terdakwa).
d. Tuntutan ganti mgi yang diajukan kepada terdakwa tersebut digabungkan atau
diperiksa dan diputus sekaligus bersamaan pada pemeriksaan dan putusan perkara
pidana yang didakwakan kepada terdakwa dan dalam bentuk satu putusan.
Kemudian upaya preventif perlu juga dibentuknya lembaga yang berskala
nasional untuk menampung anak yang menjadi korban tindak

kekerasan seperti perkosaan. Lembaga penyantun korban semacam mi sudah


sangat mendesak, mengingat viktiniisasi yang terjadi di Indonesia pada beberapa
tahun terakhir mi sangat memprihatinkan. Koordinasi dengan pihak kepolisian
harus dilakukan, agar kepolisian segera meminta bantuan lembaga mi ketika
mendapat Laporan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan. Lembaga mi
perlu didukung setidaknya o[eh pekerja social, psikolog, ahli hukum dan dokter.
Dalam kondisi daerah yang tidak memungkinkan, harus diupayakan untuk
menempatkan orang-orang dengan kualifikasi yang paling mendekati para
profesional di atas dengan maksud agar lembaga mi dapat mencapai tujuan yang
diinginkan dengan baik. Pendanaan untuk lembaga mi harus dimulai dan
pemeritah sendiri, baik pusat maupun daerah. Dan tentunya dapat melibatkan
masyarakat setempat baik secara individu maupun kelompok.53
Secara represifdiperlukan perlindurigan hukuni berupa:
a. Pemberian restitusi dan konpensasi bertujuan mengembalikan kerugian yang
dialami oleh korban baik fisik maupun psikis, serta penggantian atas biaya yang
dikeluarkan sebagai akibat viktimisasi tersebut. Mengenai hak mi diatur dalam
pasal 98 ayat (1) KU I-lAP,
yaitu:
Jika suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatun pemeriksaan
perkara pidana oleh Pengadilan Negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain,
maka Hakim Ketua Sidang atas permintaan
Harkristuti Harkrisnowo, Hukum Pidana dan PerspektifKekerasan Terhadap
Perempuan Indonesia,psi.utoc.id/jurnal/l02harkristutihtm. 2013

orang itu dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti


kerugian kepada perkara pidana itu.
Ketentuan yang ada dalam pasal 98 KU 1-lAP tersebut, tentang kemungkinan
korban mendapat ganti kerugian sangatlah kurang, terutama karena ganti kerugian
yang dipekenankan adalah yang berkenaan dengan penggatian biaya yang telah
dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan ( korban).
b. Konseling diberikan kepada anak sebagai korban perkosaan yang mengalami
trauma berupa rehabilitasi yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi psikis
korban semula. Sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 64 ayat (3) UU nomor
23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, bahwa salah satu bentuk perlindungan
khusus bagi anak yang menjadi korban adalah upaya rehabilitasi, baik dalam
lembaga maupun di luar lembaga.
c. Pelayanan!bantuan medis, diberikan kepada yang menderita secara medis akibat
suatu tindak pidana seperti perkosaan, yang mengakibatkan penderitaan fisik.
Sebagaimana diatur dalam pasal 90 ayat (1) U U no. 11 tahun 2012 tentang
system peradilan pidana anak. meiijelaskan bahwa anak korban dan anak saksi
berhak atas upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi social, balk dalam lembaga
maupun di luar lembaga . Yang dimaksud dengan rehabillitasi medis tersebut
adalah proses kegiatan pengobatan secara terpadu dengan memulihkan kondisi
fisik anak, anak korban dan atau anak saksi. Kemudian yang

dimaksud dengan rehabilitasi. social adalah proses kegiatan pemulihan secara


terpadu, baik fisik, mental. maupun social, agar anak korban, dan atau anak saksi
dapat kembali melaksanakan fungsi social dalam kehidupan di masyarakat.4
Oleh karena itu, perlu dibentuknya lembaga social untuk menampung kaum
perempuan maupun anak yang menjadi korban tindak kekerasan maupun
kekerasan seksual. Lembaga penyantun korban semacam mi sudah sangat
mendesak, mengingat viktimisasi yang terjadidi Indonesia pada beberapa tahun
terakhir mi sangat memprihatinkan.
Sebagaimana di dalam ketentuan pasal 18 UU no.23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak menyatakan bahwa, setiap anak yang menjadi korban atau
pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.
Penjelasan pasal 18 tersebut, mendapatkan bantuan lainnya dalam ketentuan mi
termasuk bantuan medis, social, rehabilitasi, vokasional dan pendidikan.
d. Pemberian informasi, hak korban untuk mendapat informasi mengenai
perkembangan kasus dan juga keputusan hakim. Hak korban untuk mendapat
informasi mengenai perkembangan kasus dan juga keputusan hakim, termasuk
pula hk untuk diberitahu apabila si pelaku telah dikeluarkan atau dibebaskan dan
penjara ( kalau ia dihukum). Apabila tidak dihukum, misalnya karena bukti yang
kurang kuat seyogyanya
Penjelasan pasa 91 ayat (3) UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak
Penjetasan pasal 18 UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban.

korban diberi akses untuk mendapatkan perlindungan agar tidak terjadi


pembalasan dendam oleh pelaku dalam segala bentuknya.
e. Perlindungan yang diberikan oleh keluarga maupun masyarakat. Keluarga
merupakan orang-orang terdekat korban ( anak ) yang mempunyai andil besar
dalam membantu memberikan perlindungan kepada korban. Hal mi dengan dapat
ditunjukan dengan selalu menghibur korban (anak), tidak mengungkit dengan
menanyakan peristiwa perkosaan yang telah dialaminya, member dorongan dan
motivasi bahwa korban tidak boleh terlalu larut dengan masalah yang
dihadapinya, member keyakinan bahwa perkosaan yang dialaminya tidak boleh
merusak masa depannya, melindungi dia dan cibiran masyarakatyang menilai
buruk dirinya, dan lain-lain. Sedangkan berkaitan dengan peran masyarakat oleh
media masa hams dilakukan dengan bijaksana demi perlindungan anak karena
dalam pasal 64 UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak ditegaskan
perlindungan dan pemberitaan identitas melalui media masa dan untuk
menghindari labelisasi. Artinya dalam hal mi seharusnya masyarakat ikut
membantu memulihkan kondisi kejiwaan korban. Masyarakat diharapkan ikut
mengayomi dan melindungi korban dengan tidak mmengucilkan korban, tidak
member penilaian buruk kepada korban. Perlakuan semacam mi juga dirasa
sebagai salah satu perwujudan perlindungan kepada korban, karena dengan sikap
masyarakat yang baik, korban tidak merasa minder dan takut dalam menjalani
kehidupan bermasyarakat.

Sekalipun hak-hak korban kejahatan telah tersedia secara mamadai, bukan berarti
kewajiban dan korban kejahatan diabaikan eksistensinya karena melalui peran
korban dan keluarganya diharapkan peneriggulangan kejahatan dapat dicapai
secara signifikan. Untuk itu, ada beberapa kewajiban umum dan korban kejahatan
antara lain:
a, Kewajiban untuk tidak melakukan upaya main hakim sendiri / balas dendam
terhadap pelaku ( tindakan pembalasan).
b. Kewajiban untuk mengupayakan pencegahan dan kemungkinan terulangnya
tindak pidana.
c. Kewajiban untuk memberikan informasi yang memadai mengenai terjadinya
kejahatan kepada pihak yang berwenang.
d. Kewajiban untuk tidak mengajukan tuntutan yang terlalu berlebihan kepa&a
pelaku.
e. Kewajiban untuk menjadi saksi atas suatu kejahatan yang menimpa dirinya,
sepanjang tidak membahayakan bagi korban dan kduarganya.
f. Kewajiban untuk membantu berbagai pihak yang berkepentingan dalam upaya
penanggulangan kejahatan.
g. Kewajiban untuk bersedia dibina atau membina din sendiri untuk tidak menjadi
korban lagi.
Perlu diperjuangkan perlindungan anak sebagai korban perkosaan, baik dalam
pertimbangan penjatuhan pidana, ganti rugi, bahkan perlu suatu perlindungan
khusus, misalnya perpindahan sekolah, tempat tinggal untuk
Dikdik M. Arief Mansur- Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korbari
Kejahatan, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2007, h& 54.

proses penyembuhan kehiduparmya. Meskipun tampaknya untuk situasi Indonesia


mmang masih agak herat untuk merealisirnya, tetapi hal itu menjadi kewajiban
pemerintah dalam melindungi warganya khususnya korban perkosaan. Oleh
karena itu, apabila perlindungan hukum secara represif dapat terwujud maka
pemerataan keadilan, kesejahteraan umum, dan hak-hak korban tindak pidana
perkosaan pun dapat terlindungi, karena pada dasarnya merupakan bagian integral
dan hak asasi di bidang jaminan social. Sehingga masyarakat, bangsa dan Negara
dianggap telah melaksanakan kewajibannya untuk melindungi warga negaranya
dengan balk. Hal mi merupakan salah satu tujuan Negara yang termasuk dalam
pembukam UUD tahun 1945,yaitu pemenintahan Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Menurut Kanit PPA Bnigpl sendi wanggay,S.H., upaya pertama yang dilakukan
oleh Kepolisian dalam menyelesaikan kasus tindak pemerkosaan yaitu memanggil
pihak-pihak untuk berdamai tapi mencapai kesepakatan kasus tersebut akan
limpahkn ke Pengadilan untuk diselesaikan menurut Undang-undang yang
berlaku.7 Pengamatan yang dilihat penulis dan kasuskasus yang dilaporkan
kepada pihak kepolisian, banyak kasus yang langsung di tangani dan di selesaikan
di tingkat penyidikan.
Wawancara Tangga 27 November tahun 2013 dengan Kanit PPA Pofres Kota
Sorong bapak Brigpol Sendi Wanggay,S.H.

Bfti B V
PENUTUP
A. Kesimpulan
L Langkah perlindungan hukum bagi anak korban kekerasan seksual yaitu melalui
tindakan prevensif, tindakan represif dan tindakan rehabilitasi.
2. Prosedur penyelesaian tindak kekerasan seksual terhadap anak menurut
undang-undang perlindungan anak yaitu hams segera melaporkan
pelakunyakepada pihak yang berwenang, melakukan visum dan melakukan
penangkapan serta pemeriksaan kepada pelaku pemerkosaan.
B. Saran
1. Di harapkan kepada aparat penegak hukum agar4Jpaya perlindungan hukum
terhadap anak perlu secara tents menerus diupayakan demi tetap terpeliharanya
kesejahteraan anak, mengingat anak merupakan salah satu aset berharga bagi
kemajuan suatu banga dikemudian han.
2. Diharapkan kepada lembaga lembaga negara yang berwenang dalam
membuat undang-undang agar Perlu diadakan amandemen terhadap undangundang perlindungan anak lebih khusus lagi mengatur tentang ketentuan ganti mgi
yang dapat diajukan oleh korban.

DAFTAR PUSTAKA
Azwar. Azrul. 1995. Pengantar Pendidikan Kesehatan. Semarang: Madira Jaya
Abadi
Bruess. C.E & J.S.Grenberg. 1981. Sex Education. Theory and Practice. Belmot,
California: Wadsworth Publishing Company
Chaplin,C.P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. Makassar: Rjawali Pers
Didik M.arif Mansyur-Elisatris Gultom. 2007. Urgensi Perlindungan Korban
kejahatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Faturrochman Dkk. 1992. Sikap Dan Perilaku Seksual Remaja. Yogyakarta: UGM
Fuhrmann, B.S. 1990. Adolescence, Adolescents, London:
scott,Foresman!Iittle, Brown Higher Education
Gunarsa, Singgih D. 1991. Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta. BPK. Gunung
Mulia
Harkrisnowo, Harkristuti. 2013. Hukum Pidana dan Perspektf Kekeraan Terhadap
Perempuan Indonesia. Psi.ut.oc.idlj urnal/ I O2harkristuti
Hurlock, Elizabet B. 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Grew. Hill
Kogakusha
Hurlock, Elizabet B. 1992. Development psychology. Tokyo: A.life. Span
Aproach
lm.ran. I. 1998. Perkembangan Seksual Remaja. Bandung: PKBI Jawa Barat
Jesild, Arthur T. 1963. The Psychology Of Adolescence

Kartono. 1992. Kenakalan Remaja. Jakata: CV.Rajawali


Lerner, R.M. G.B. spainier. 1980. Adolescent Development. A. Life Span
Perspective
Lumintang.P.A.F. 2010.Delik-Delik Khusus Kejahatan Yang Ditujukan Terhadap
Hak Milik Dan Lain-lain Hak Yang Timbul dan Hak Milik. Jakarta:m Nuaransa
Aulia
Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Subrabaya: Usaha Nasional
Marlina. 2009. Peradilan Pidana anak di Indonesia. Bandung: PT.refika Aditama
Warwan dan Jimmy. 2009. Kamus Hukum. Surabaya: Realite Publisher
Master. W., V.E. Johnson & R.C. Koloeng. 1992. Human Sexuality 41/1 edition.
New York: Harpercollins publisher
Miqdad, Akhmad. A.A., 2000. Pendidikan Seks bagi Remaja Menurut Hukum
Islam. Yogyakarta: Mitra Pustaka
Nashriana. 2011. Perlindungan Hukum pidana Bagi Anak Di Indonesia. Jakarta:
Raja Grafindo Persada
Newcomb, T.M. 1984. An Approachtonthe Study of Communicative Acts.
California: Psycologi Review
Nurihsan A.J dan Mubiar agustin. 2010. Dinamika Perkembangan Anak Dan
Remaja. Bandung: PT Rafika Aditama
Prinst, Darwan. 1997. ifukum Acara Pidana. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Rahman, A dan Hirmaningsih. 1997. Pacaran Sehat Panduan Ceramah.


Yogyakarta: Sahabat Remaja
Sarwono, Sarlito [rawan. 1989. Psikologi Remaja. Jakarta. Rajawali Pers.
Sarwono. sarlito Irawan. 1994. Psikologi remaja. Jakarta. Raja grafindo Persada
Savitri. G.N. 2000. Fenomena Perilaku Seksual Remaja Berpacaran. Skripsi.
Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas gadja mada
Setianingsih, Pujiati. 1994. Kesehatan Ibu dan Anak. Semarang:
Universitas Negeri Semarang
Setianingsih, R. 1994. Hubungan Antara Minat Membaca Rubrik Seks dengan
Perilaku Seksual Remaja di SMA. Yogyakarta: Fakultas Psilokogi Uriiversitas
Gadja Mada
Simanjuntak, B.,I.L. Pasaribu. 1984. Pengantar Psikologi Perkembangan.
Bandung: Tarsito
Soeparrmono, R. 2003. Praperadilan dan Penggabungan Perkara Gugatan Ganti
Kerugian Dalam KUHAP. Bandung: Mandar Maju
Soetodjo,Wagiati. 2006. Hukum Pidana Anak. Bandung: Rafika Aditama
Sugandhi, R. KUHP. Surabaya: Usaha Nasional
Ter Hart. 2012. Asas-Asas Dan Susuna Hukum Adat. Jakarta: Radja Paramita
Thornhurg, D.H. 1982. Development In Adolescence. Second Edition. California:
Brook Cole Publishing co

Waluyo, Bambang. 201 1. Viktimologi Perlindungan saksi dan Korban. Jakarta:


Sinar Grafika
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesehteraan Anak
UU No .8 Tahun 198! tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP)
UU No .3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
UU No. 39 Tahun 1999 tentang flak Asasi Manusia
UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak
UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalarn Rumah Tangga
UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban UU No. 11 tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak http:// www.edubanchmark
.com/pendidikan-seks pd anak-dasrernaj a.htrnl
http :1/rn itraaks i.
Wawancara tanggal 27 November 2013 dengan Kanit PPA Poires Kota Sorong
Bapak Brigpol Sendi Wanggay, S.H

Anda mungkin juga menyukai