Anda di halaman 1dari 22

Arthropoda

Pengertian
Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro yang berarti ruas dan podos yang
berarti kaki. Jadi, Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas. Organisme yang
tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang berbuku-buku. Hewan ini memiliki jumlah
spesies yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000 spesies. Hewan yang tergolong
arthropoda hidup di darat sampai ketinggian 6.000 m, sedangkan yang hidup di air dapat
ditemukan sampai kedalaman 10.000 meter. Contoh anggota filum ini antara lain kepiting,
udang, serangga, laba-laba, kalajengking, kelabang, dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain
yang dikenal hanya berdasarkan fosil. Habitat hewan anggota filum arthopoda di air dan di
darat.

Ciri-ciri umum :
F Tubuh dan kaki yang beruas-ruas atau berbuku.
F Tubuh Arthropoda terdiri atas caput (kepala), toraks(dada), dan abdomen (perut) yang
bersegmen-segmen.
F Bentuk tubuh simetri bilateral, triploblastik selomata, dan tubuhnya bersegmen.
F Tubuh ditutupi lapisan kutikula yang merupakan rangka luar (eksosketelon). Eksoskeleton
tersusun dari kitin yang di sekresikan oleh sel kulit. Eksoskeleton melekat pada kulit
membentuk perlindungan tubuh yang kuat.
F Memiliki organ sensoris yang sudan berkembang, seperti mata, penciuman, serta antena yang
berfungsi sebagai alat peraba dan pencium
F System Saraf tangga tali yang disebut ganglia. Ganglia berfungsi sebagai pusat refleks dan
pengendalian berbagai kegiatan
F Sistem peredaran darahnya merupakan sistem peredaran darah terbuka yang tidak memiliki
kapiler darah
F Alat pencernaan makanan lengkap terdiri atas mulut, kerongkonganusus, dan anus
Secara morfologi Arthropoda dicirikan dengan badan yang beruas biasnya mencapai lebih
dari 21 ruas, yang tiap ruasnya mempunyai sepasang anggota badan (appendages) namun
sepasang anggota badan ini ada yang mereduksi atau berubah bentuk dan fungsi sesuai
dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Ciri penting lain adalah kelompok arthropoda
tidak memunyai struktur tulang di dalam tubuhnya. Arthropoda mempunyai struktur dinding

badan keras yang menutupi tubuh bagian luar untuk melindungi bagian dalam tubuh yang
biasanya disebut eksosekeleton. Bagian paling luar mempunyai struktur yang paling keras
dan diperkuat oleh khitin. Meskipun keras namun strukutur ini masih memungkinkan
pergerakan di tiap ruas.

Filogeni dan Sistematika


Berikut ini subfilum, kelas, sub kelas, ordo, dan contoh spesies dari filum Arthropoda:
2.3.1 Subfilum
Sejak tahun 1990 banyak ahli zoology membagi kelompok Arthopoda menjadi
subfilum Onychophora, subfilum Trilobita, subfilum Chelicerata, subfilum Uniramia, dan
subfilum Crustacea. Pemisahan ini terutama berdasarkan perbedaan dalam hal struktur dan
susunan kaki serta apendik yang lain, sebagaimana perbedaan embriologi dan anatomi
dalamnya. Bahkan berdasarkan evolusinya, Crustacea dan Uniramia berasal dari kelompok
nenek moyang bentuk cacing yang berbeda.
Filum Arthopoda dibagi menjadi empat subfilum yaitu Trilobita, Chelicerata,
Onychophora, dan Mandibulata. Semua anggota Trilobita sudah punah tetapi kemungkinan
masih ada yang dapat dijumpai pada Arthopoda primitif.
Subfilum yang pertama yaitu Trilobita merupakan arthopoda laut yang primitif dan
sangat melimpah pada masa Paleozoic, terdiri dari 4000 spesies. Tubuh berukuran 10-675
mm, terbagi atas dua alur memanjang menjadi tiga cuping. Tubuh dilindungi oleh cangkang
bersegmen yang keras. Kepala jelas terdiri atas empat segmen tubuh, memiliki sepasang
antenula, empat pasang apendik biramus dan sepasang mata majemuk. Contoh anggota
subfilum ini adalah Triarthus eatoni. Subfilum yang kedua yaitu Chelicerata, tubuhnya
dibedakan atas dua bagian yaitu sefalotorak (prosoma) dan abdomen (opisthosoma) (kecuali
Acarina). Memiliki 6 pasang apendik. Tidak memiliki antena atau manibula. Bagian-bagian
mulut dan saluran pencernaan utamanya untuk fungsi penusuk, beberapa diantaranya
memiliki kelenjar racun, respirasi menggunakan paru-paru buku, trakea atau insang.
Subfilum yang ketiga adalah Onychophora, bentuk tubuhnya seperti cacing dengan
14-43 pasang kaki (lobopodia) rongga tubuhnya berupa homocoel. Memiliki kelenjar lumpur
yang hasil sekresinya akan dikeluarkan melalui papilla oral untuk menangkap mangsa atau
predator. Saluran pencernaannya lengkap. Enzim-enzim dilepaskan ke dalam mangsa
selanjtnya zat-zat nutrisi dihisap. Sistem saraf memiliki ganglion, kepala dan dua tali saraf
longitudinal yang membentuk tali tangga. Jantung berbentuk tubular terletak di sebelah
dorsal system sirkulasi terbuka. Subfilum keempat adalah Mandibilata, karakter spesial yang
dimiliki anggota subfilum ini adalah mandibula dan antenna.

Kelas, Sub Kelas, dan Ordo


Arthropoda dapat dibagi menjadi 6 kelas, yaitu Crustacea, Onychophora, Arachnida,
Chilopoda, Diplopoda, dan Insecta. Tetapi kadang-kadang kelas Chilopoda dan Diplopoda
dimasukkan ke dalam satu kelas yaitu Myriapoda. Diuraikan sebagai berikut:

A. Crustacea
Sementara Arachnoidea dan serangga berhasil hidup di darat, sebagian besar
krustasea tetap berada di lingkungan laut dan air tawar, dimana mereka sekarang diwakili
oleh sekitar 40.000 spesies. Kepiting, udang galah, crayfish (udang karang), dan udang
adalah hewan krustasea yang paling terkenal.
Crustacea merupakan kelas dari Arthropoda yang hidupnya terutama menempati
perairan baik air tawar maupun laut. Bernapas dengan menggunakan insang. Tubuhnya
terbagi menjadi kepala (cephalo), dada (thorax), dan perut (abdomen) atau kadang-kadang
kepala dan dada bersatu membentuk cephalotorax. Kepala biasanya terdiri dari dari empat
segmen yang bersatu, pada bagian kepala itu terdapat dua pasang antena, satu pasang
mandibula (rahang pertama) dan dua pasang

maksila (rahang kedua). Bagian dada

mempunyai embelah dengan jumlah yang berbeda-beda yang diantaranya ada yang
berfungsi sebagai alat gerak. Segmen bagian perut umumnya sempit dan lebih mudah
digerakkan dibandingkan dengan kepala dan dada. Bagian perutpun mempunyai embelan
yang didalam ukurannya mengalami pengurangan.
Crustacea bernapas dengan insang dan ada juga yang yang menggunakan
permukaan tubuhnya. Alat ekskresi berupa sepasang badan yang disebut greenland
(kelenjar hijau), terletak pada bagian ventral dari cefalotoraks di depan esofagus.
Bereproduksi secara kawin, jenis kelamun terpisah. Sistem saraf berupa tangga tali. Alat
pencernaan dilengkapi dengan mulut, esofagus, lambung, usus dan anus. Sistem peredaran
darah terbuka.
1. Sub Kelas Branchiopoda
Hewan dari subkelas Branciopoda ini merupakan hewan yang sangat kecil,
ukuran tubuhnya hanya beberapa mili meter saja walaupun ada yang mencapai 2,5 cm
tetapi tidaklah begitu banyak. Hidup di air tawar, tubuhnya semi transparan, sehingga
kadang-kadang organ-organ dalamnya dapat terlihat dari luar, berwarna pucat ada
yang berenag

menggunakan bagian punggungnya. Embelan di bagian dada

menyerupai bulu halus dan digunakan sebagai alat pernapasan, terdapat karapak.
Diantaranya ada yang sengaja dikultur untuk makanan ikan terutama ikan mas.
Contoh spesies: Eubranchipus vernalis, Daphnia sp.
2. Sub Kelas Ostracoda

Hidup di air tawar dan laut, dapat berenang dengan bebas, bergerak dengan
menggunakan antena kedua atau kedua pasang antenanya. Karapak terdiri dari 2
belahan. Embelan tidak menyerupai bulu halus. Ukuran tubuhnya 1 mm sampai
beberapa mm saja.
Contoh pada jenis Eucypris virens yang hidup di air tawar karapak ditutupi
oleh bulu-bulu yang pendek, memiliki sebuah mata. Panjang tubuhnya 2 mm,
berenang dengan menggunakan

pasangan pertama kakinya. Merupakan hewan

partenogenesis di mana telur-telurnya dapat berkembang tanpa dibuahi.


3. Sub Kelas Copepoda
Hewan-hewan dari subkelas ini hidup di air tawar atau laut, dapat berenang
bebas atau sebagai parasit pada ikan. Tidak mempunyai karapak, umumnya
mempunyai 6 pasang embelan dada.
Contohnya ialah Cicplos viridis, hidup di kolam-kolam air tawar. Panjang
tubuh 1,5-5 mm. Umumnya berwarna kehijau-hijauan, mata berwarna merah. Pada
bagian ekor sering terdapat suatu kantung yang penuh berisi telur. Merupakan
plankton hewan yang kadang-kadang sangat berlimpah. Tubuhnya dapat dibedakan
atas kepala, dada, dan perut.
4. Sub Kelas Cirripedia
Umumnya hidup melekat pada benda-benda di perairan seperti batu, kayu,
karang, dasar-dasar perahu/kapal, tiang-tiang di laut, dan sebagainya. Karapak
menutupi tubuhnya. Umumnya hermaprodit, begian tubuh umumnya ditutupi oleh
suatu rangka atau cangkok dari kapur, sehingga mula-mula hewan ini diduga sebagai
Mollusca. Diantaranya ada yang hidup sebagai parasit. Contoh spesies: Lepas
fascicularis.
5. Sub Kelas Malacostraca
Subkelas ini merupakan hewan-hewan yang paling banyak dari kelas
Crustacea kira-kira nya termasuk ke dalam Malacostraca. Umumnya bertubuh besar,
terdiri atas segmen-segmen sebagai berikut: 4 segmen di bagian kepala. 8 segmen di
bagian dada, dan 6 segmen di bagian perut. Beberapa jenis yang termasuk ke dalam
Malacostraca ini ialah udang, kepiting, ketam, dan sebagainya. Contoh spesiesnya:
Cambarus bartoni.

B. Onychopora
Kelas ini tidak begitu dikenal sehingga tidak terlalu dibahas secara panjang lebar.
Hewan ini memiliki kutikula yang tipis, tidak bersegmen, dinding tubuh berotot, terdapat
sepasang rahang dan sebaris lubang nephridium, panjang tubuh 5 cm. Contohnya adalah
Peripatus.

C. Arachnoidea
Arachnoidea (dalam bahasa Yunani, arachno=laba-laba) disebut juga kelompok
laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja. Kalajengking adalah salah satu
contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies. Ukuran tubuh Arachnoidea
bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm. Arachnoidea
merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit. Arachnoidea
yang hidup bebas bersifat karnivora. Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu
Scorpionida, Arachnida, dan Acarina.

Sub Kelas
1. Megastomata

Ordo
a.Xiphosura

(Giantastraca)

Contoh Spesies
Limulus polyphemus
(sudah punah)

b.Euripterida
a.Scorpionida
b.Pedipalpi
c.Araneida
d.Palpigradi
e.Pseudoscorpionida
f. Solpugida
g.Phalangida
h.Acarina

3. Pycnogonida

Diplocentrus whitei
Tarautula whitei
Salticus scenicus
Keonia wheeleri
Chelifer caucroides
Eremobates oallipes
Liobunum vittatan
Sarcoptes scabi
Nimphom striomii

(Pantopoda)
4. Tardigrada
5. Pentastomida

Macrobiotes hufelandi
Linguatula serrata

2. Arachnida

(Linguatulida)
1. Ordo Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen terakhir.
Contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng (Buthus
after).
2. Ordo Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan memiliki kelenjar beracun pada
kaliseranya (alat sengat). Contoh hewan ini adalah laba-laba serigala (Pardosa
amenata), laba-laba kemlandingan (Nephila maculata).
3. Ordo Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, bulat atau oval, pipih, dorsoventral,
caput,torax, dan abdomen bersatu, tanpa segmen. Contohnya adalah caplak atau
tungau (Acarina sp.).

D. Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa Yunani, myria=banyak, podos=kaki) merupakan hewan
berkaki banyak. Pembagian tubuh Myriapoda ini terdiri atas kepala (chepalo) dan perut

(abdomen) tanpa dada (thoraks). Dibagian kepala terdapat satu pasang antena sebagai alat
peraba dan sepasang mata tunggal (ocellus). Penambahan jumlah segmen terjadi pada
setiap pergantian kulit. Alat gerak pada kelompok hewan Chilopoda adalah satu pasang
kaki di setiap segmen perut kaki, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua pasang kaki
pada tiap segmen perut, kecuali segmen terakhirnya. System pernapasannya berupa satu
pasang trakea berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas, kecuali pada Diplopoda
terdapat dua pasang di tiap ruasnya. Sistem pencernaan, saluran pencernaanya lengkap dan
mempunyai kelenjar ludah. Chilopoda bersifat karnivor dengan gigi beracun pada segmen
I, sedangkan Diplopoda bersifat herbivor, pemakan sampah atau daun-daunan. System
reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma (fertilasi internal).
Myriapoda ada yang vivipar dan ada yang ovipar.
1. Sub Kelas Chiliopoda
Chiliopoda disebut juga centipede, tubuhnya pipih dan bersegmen-segmen.
Jumlah segmen tersebut tidak sama tergantung pada jenis spesiesnya spesiesnya yaitu
berkisar antara 15-17 segmen. Tiap segmen tersebut mempunyai sepasang kaki
kecuali 2 segmen terakhir dan sebuah segmen di belakang kepala. Pada segmen yang
di belakang kepala tersebut terdapat sepasang cakar beracun yang disebut maxilliped,
digunakan untuk membunuh mangsanya. Antena panjang terdiri dari 12 segmen atau
lebih. Contoh: Lithobius forficatus (kelabang/lipan).
2. Sub Kelas Diplopoda
Diplopoda disebut juga Millipede. Tubuhnya bulat panjang dan terdiri dari 25100 segmen atau lebih tergantung jenis spesiesiesnya. Setiap segmen tampaknya
mempunyai dua pasang embelan. Sesungguhnya segmen tersebut tersusun rapat
sehingga terlihat seperti satu segmen. Jadi sebenarnya adalah setiap segmen hanyalah
mempunyai sepasang embelan. Contoh: Julus virgatus (keluing/kaki seribu).

E. Insecta
Serangga adalah salah satu anggota kerajaan binatang yang mempunyai jumlah
anggota yang terbesar. Hampir lebih dari 72 % anggota binatang termasuk kedalam
golongan serangga. Serangga telah hidup di bumi kira-kira 350 juta tahun, dibandingkan
dengan manusia yang kurang dari dua juta tahun. Selama kurun ini mereka telah
mengalami perubahan evolusi dalam beberapa hal dan menyesuaikan kehidupan pada
hamper setiap tipe habitat. Serangga dapat berperan sebagai pemakan tumbuhan (serangga
jenis ini yang terbanyak anggotanya). Sebagai parasitoid (hidup secara parasit pada
serangga lain), sebagai predator (pemangsa), sebagai pemakan bangkai, sebagai penyerbuk
(misalnya tawon dan lebah) dan sebagai penular (vektor) bibit penyakit tertentu.

Serangga dapat dijumpai di semua daerah di atas permukaan bumi. Di darat, laut,
dan udara dapat dijumpai serangga. Mereka hidup sebagai pemakan tumbuhan, serangga
atau binatang lain, bahkan menghisap darah manusia dan mamalia. Serangga hidup
sebagai suatu keluarga besar di dalam sebuah kehidupan sosial yang rumit, seperti yang
dilakukan oleh lebah, semut dan rayap yang hidup di dalam sebuah koloni.
Manfaat serangga antara lain sebagai penyerbuk (pollinator) andal untuk semua
jenis tanaman. Di bidang pertanian serangga berperan membantu meningkatkan produksi
buah-buahan dan biji-bijian. Serangga juga berperan sebagai organism perombak
(dekomposer) yang mendegradasi kayu yang tumbang, ranting, daun yang jatuh, hewan
yang mati dan sisa kotoran hewan.
Serangga disebut pula Insecta, adalah kelompok utama dari hewan beruas
(Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah mereka disebut pula
Hexapoda (dari bahasa Yunani yang berarti berkaki enam. Kajian mengenai kehidupan
serangga disebut entomologi. Serangga termasuk dalam kelas insekta (subfilum Uniramia)
yang dibagi lagi menjadi 29 ordo, antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera
(misalnya kumbang), Hymenoptera (misalnya semut, lebah, dan tabuhan), dan Lepidoptera
(misalnya kupu-kupu dan ngengat). Kelompok Apterigota terdiri dari 4 ordo karena semua
serangga dewasanya tidak memiliki sayap, dan 25 ordo lainnya termasuk dalam kelompok
Pterigota karena memiliki sayap. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat
adaptasi yang sangat tinggi. Ukuran serangga relatif kecil dan pertama kali sukses
berkolonisasi di bumi.
Insecta sering disebut serangga atau heksapoda. Heksapoda berasal dari kata
heksa berarti 6 (enam) dan kata podos berarti kaki. Heksapoda berarti hewan berkaki
enam. Diperkirakan jumlah insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas insecta baik bentuk maupun
sifat dan kebiasaannya. Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kaput, toraks,
dan abdomen. Kaput memiliki organ yang berkembang baik, yaitu adanya sepasang
antena, mata majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli). Insecta memiliki organ
perasa disebut palpus. Insecta yang memiliki syap pada segmen kedua dan ketiga. Bagian
abdomen Insecta tidak memiliki anggota tubuh. Pada abdomennya terdapat spirakel, yaitu
lubang pernapasan yang menuju tabung trakea. Trakea merupakan alat pernapasan pada
Insecta. Pada abdomen juga terdapat tubula malpighi, yaitu alat ekskresi yang melekat
pada posterior saluran pencernaan. Sistem sirkulasinya terbuka. Organ kelaminnya
dioseus.
Berikut penggolongan serangga adalah sebagai berikut:

1.

Sub Kelas Apterygota (tidak bersayap, primitif, tidak bermetamorfosa, pada abdomen
terdapat appendage sebelah ventral)
Ordo Thysanura (Tysanos=pita penunjuk halaman buku). Ordo ini biasanya dapt
demukan pada buku atau tumpukan kertas yang telah lama dibiarkan. Ujung abdomen
mempunyai embelan, abdomen itu sendiri terdiri dari 11 segmen, tipe alat mulut untuk
mengunyah. Hewan ini dapat merusak buku atau baju-baju yang dikanji karena dapapt
meghasilkan enzim selulosa yang dapat mencernakan selulosa menjadi glukosa. Contoh:

2.

Lepisma saccharina (kutu buku).


Sub Kelas Pterygota
a) Ordo Orthoptera. Berasal dari kata orthos yang artinyalurus dan pteron
artinya sayap. Golongan serangga ini sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan
tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator. Sewaktu
istirahat sayap bagian belakangnya dilipat secara lurus dibawah sayap depan. Sayap depan
mempunyai ukuran lebih sempit daripada ukuran sayap belakang. Alat mulut nimfa dan
imagonya menggigit-mengunyah yang ditandai adanya labrum, sepasang mandibula,
sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium
dengan palpus labialisnya. Tipe metamorfosis ordo ini adalah paurometabola yaitu terdiri
dari 3 stadia (telur-nimfa-imago). Beberapa contoh serangga jenis ordo orthoptera:
belalang kayu (Valanga nigricornis Burn.), belalang pedang (Sexava spp.),

jangkrik

(Gryllus mitratus Burn dan Gryllus bimaculatus De G.), anjing tanah (Gryllotalpa
africana Pal.).
Ordo Orthoptera mempunyai metamorfosa yang bertingkat, tipe alat mulut untuk
menggigit dan mengunyah. Ukuran tubuhnya relatif besar, umumnya dengan sayap depan
yang bersifat liat dan disebut juga tegmina, sayap belakan tipis berupa selaput, pada waktu
istirahat dilipat lurus di atas badan ditutupi oleh syap depan (tegmina). Kaki belakang
umumnya panjang juga kuat yang dipakai untuk meloncat.
b) Ordo Hemiptera. Hemi artinya setengah dan pteron artinya sayap. Beberapa
jenis serangga dari ordo ini

pemakan tumbuhan dan adapula sebagai predator yang

mengisap tubuh serangga lain dan golongan serangga ini mempunyai ukuran tubuh yang
besar serta sayap depannya mengalami modifikasi, yaitu setengah didaerah pangkal
menebal, sebagiannya mirip selaput, dan syap belakang seperti selaput tipis.
Paurometabola merupakan tipe perkembangan hidup dari ordo ini yang terdiri dari 3 stadia
yaitu telur > nimfa > imago. Tipe mulut menusuk-mengisap yang terdiri atas moncong
(rostum) dan dilengkapi dengan stylet yang berfungsi sebagai alat pengisap. Nimfa dan
imago merupakan stadium yang bisa merusak tanaman: Beberapa contoh serangga

anggota ordo Hemiptera ini adalah kepik buah jeruk (Rynchocoris poseidon Kirk), hama
pengisap daun teh, kina, dan buah kakao (Helopeltis antonii), walang sangit (Leptocorixa
acuta Thumb), kepik buah lada (Dasynus viridula).
c) Ordo Homoptera. Homo artinya sama dan pteron artinya sayap serangga
golongan ini mempunyai sayap depan bertekstur homogen. Sebagian dari serangga ini
mempunyai dua bentuk, yaitu serangga bersayap dan tidak bersayap. Misalnya kutu daun
(Aphis sp.) sejak menetas sampai dewasa tidak bersayap. Namun bila populasinya tinggi
sebagian serangga tadi membentuk sayap untuk memudahkan untuk berpindah habitat.
Tipe perkembangan hidup serangga ini adalah paurometabola (telur-nimfa-imago). Jenis
serangga ini, antara lain: wereng coklat (Nilaparvta lugens), wereng hijau (Nephotettix
apicalis), kutu loncat (Heteropsylla), kutu daun (Myzus persicae).
d) Ordo Lepidoptera. Berasal dari kata lepidos sisik dan pteron artinya sayap.
Tipe alat mulut dari ordo. lepidoptera menggigit-mengunyah tetapi pada imagonya bertipe
mulut menghisap. Perkembangbiakannya bertipe holometebola (telur-larva-pupaimago). Larva sangat berpotensi sebagai hama tanaman, sedangkan imagonya (kupu-kupu
dan ngengat) hanya mengisap madu dari tanaman jenis bunga-bungaan. Sepasang
sayapnya mirip membran yang dipenuhi sisik yang merupakan modifikasi dari rambut.
Yang termasuk jenis serangga dari ordo ini, antara lain: ulat daun kubis (Plutella
xyllostella), kupu-kupu pastur (Papilio memnon L), ulat penggulung daun melintang pada
teh (Catoptilia theivora Wls), penggerek padi putih (Tryporyza innotata Walker).
e) Ordo Coleoptera. Coleos artinya seludang pteron sayap. Tipe serangga ini
memiliki sayap depan yang mengeras dan tebal seperti seludang berfungsi untuk menutup
sayap belakang dan bagian tubuh. Sayap bagian belakang mempunyai struktur yang tipis.
Perkembangbiakan ordo ini bertipe holometabola atau metamorfosis sempurna yang
perkembangannya melalui stadia : telur larva kepompong (pupa) dewasa (imago).
Tipe alat mulut nyaris sama pada larva dan imago (menggigit-mengunyah) jenisnya bentuk
tubuh yang beragam dan ukuran tubuhnya lebih besar dari jenis serangga lain. Anggotaanggotanya sebagian sebagai pengganggu tanaman, namun ada juga yang bertindak
sebagai pemangsa serangga jenis yang berbeda. Serangga yang yang merusak tanaman,
antara lain: kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros L.), kumbang daun kangkung, semangka,
dan terung (Epilachna sp.), kumbang daun keledai (Phaedonia inclusa Stal.), penggerek
batang cengkih (Nothopeus fasciatipennis Wat.).
Ordo Coleoptera (coleos=seludang/sarung) meliputi bermacam-macam kumbang
dan kepik, metamorfosa sempurna. Tipe alat mulut untuk mengunyah. Merupakan hewan
bersayap 2 pasang atau tidak bersayap, pada hewan yang bersayap, sayap bagian depan

yang biasanya terletak di bagian luar keras mengandung zat tanduk disebut juga elitra,
sedangkan sayap bagian belakang seperti membran yang dilipatkan ke bawah elytra. Ordo
ini merupakan ordo terbesar pada kelasnya.
f) Ordo Diptera. Di artinya dua dan pteron artinya sayap merupakan bangsa
lalat, nyamuk meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan
parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedangkan sayap
belakang telah berubah menjadi halter yang multifungsi sebagai alat keseimbangan, untuk
mengetahui arah angin, dan alat pendengaran. Metamorfosisnya holometabola (telur-larvakepompong-imago). Larva tidak punya tungkai, dan meyukai tempat yang lembab dan tipe
mulutnya menggigit-mengunyah, sedangkan imago bertipe mulut menusuk-mengisap atau
menjilat-mengisap. Jenis serangga golongan ini, antara lain: lalat buah (Bactrocera sp.),
lalat bibit kedelai (Agromyza phaseoli Tryon), lalat bibit padi (Hydrellia philippina), hama
ganjur (Orseolia oryzae Wood Mason).
g) Isoptera (Isos=sama, pteron=sayap). Ordo ini mempunyai 2 sayap yang
berbentuk dan ukurannya sama atau tidak bersayap. Alat mulut untuk mengunyah. Perut
dan dada bersegmen-segmen contoh yang banyak ditemukan ialah rayap (Reticulitermis
sp.).
h) Neuroptera (Neuron=syaraf). Neuroptera mempunyai metamorfosa (perubahan
bentuk) yang sempurna, tipe alat mulut untuk mengunyah, terdapat empat buah sayap
yang sama se[e]]perti membran (selapu) dan biasanya sayap tersebut dengan venasi (urat
sayap) yang jelas. Larvanya merupakan hewan karnivora, beberapa diantaranya dengan
mulut untuk menghisap. Insang trakea biasanya ada pada larva-larva yang hidup di air.
Contoh: Myrmeleon frontalis (undur-undur).
i) Ordo Odonata. Merupakan bangsa capung, memiliki anggota yang besar dan
mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Metamorfosisnya bersifat
Hemimetabola, pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan
hidup di dalam air. Anggota-anggotanya dikenal sebagai pemangsa pada beberapa
serangga lain jenis. Contoh: Ischnura cercula.

Contoh Spesies-Spesies dan Klasifikasinya


Berikut ini deskripsi dan klasifikasi contoh-contoh spesies dari filum Arthropoda,
sebagai berikut:
Kelas Crustacea
A. Udang Windu (Penaeus monodon)

Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian
badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari
13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan
abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan
(kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4
lembar dan satu telson yang berbentuk runcing. Bagian kepala dilindungi oleh cangkang
kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang
disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian
bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon.
Udang memiliki sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat
digerakkan, mulutnya terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula)
yang kuat. Terdapat sepasang sungut besar atau antenna dan dua pasang sungut kecil atau
antennula. Udang juga memiliki sepasang sirip kepala (scophocerit) dan sepasang alat
pembantu rahang (maxilliped). Untuk alat gerak udang memiliki lima pasang kaki jalan
(pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan cheladan pada
bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang.
Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh
selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama
sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami
perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang
meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati
adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.
Udang hidup disemua jenis habitat perairan dengan 89% diantaranya hidup
diperairan laut, 10% diperairan air tawar dan 1% di perairan teresterial. Udang laut
merupakan tipe yang tidak mampu atau mempunyai kemampuan terbatas dan mentolerir
perubahan salinitas. Kelompok ini biasanya hidup terbatas pada daerah terjauh pada
estuari yang umumnya mempunyai salinitas 30% atau lebih. Kelompok yang mempunyai
kemampuan untuk mentolerir variasi penurunan salinitas sampai dibawah 30%. Hidup di
daerah terestrial dan menembus hulu estuari dengan tingkat kejauhan bervariasi sesuai
dengan kemampuan spesies untuk mentolerir penurunan tingkat salinitas.
Adapun klasifikasi dari udang windu adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum
: Arthropoda
Class
: Crustacea
Subclass : Malacostraca
Order
: Decapoda
Suborder : Dendrobranchiata

Family
Genus
Species

: Penaeidae
: Penaeus
: Penaeus monodon

B. Kepiting (Callinectes sapidus)


Kepiting adalah binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari upabangsa
(infraordo) Brachyura, yang dikenal mempunyai "ekor" yang sangat pendek (bahasa
Yunani: brachy=pendek, ura=ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali
tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar yang
sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Ketam adalah
nama lain bagi kepiting.
Kepiting terdapat di semua samudra dunia. Ada pula kepiting air tawar dan darat,
khususnya di wilayah-wilayah tropis. Rajungan adalah kepiting yang hidup di perairan
laut dan jarang naik ke pantai, sedangkan yuyu adalah ketam penghuni perairan tawar
(sungai dan danau).
Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam kacang, yang lebarnya hanya
beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m.
Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama
dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir
semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di
bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan
bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang
kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (phyllobranchiate), mirip dengan insang
udang, namun dengan struktur yang berbeda.
Adapun klasifikasi dari kepiting adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum
: Arthropoda
Class
: Crustacea
Subclass : Malacostraca
Ordo
: Decapoda
Upaordo : Pleocyemata
Infraordo : Brachyura
Genus
: Callinectes
Spesies
: Callinectes sapidus
Kelas Onychopara
A. Peripatus juanensis
Organisme ini terlihat seperti siput dengan kaki, milik filum Onychophora,
sekelompok kecil hewan dengan banyak kesamaan antara cacing yang benar (Annelida)
dan invertebrata dengan tubuh tersegmentasi (Artropoda). Onychophora adalah filum yang

sangat kuno/primitif, dan tampaknya tidak menderita perubahan sejak era mori. Hanya 90
spesies hidup yang dikenal di seluruh dunia. Sebagian besar anggota kelompok ini lebih
suka lingkungan lembab, seperti hutan hujan tropis.
Invertebrata ini bertubuh lembut (~15-70 mm) kulit beludru dan dipasangkan kaki
yang tidak bersegmen. Meskipun penampilan nguler dan memiliki tubuh tersegmentasi,
peripatus memiliki kaki yang bergerak dalam cara yang sama dengan mata siput dan dapat
diperpanjang oleh variasi tekanan darah intern. Bernapas dengan pembukaan sistem di
sepanjang sisi tubuh yang dikenal sebagai trakea, dan berbagi sistem pernapasan mirip
dengan serangga.
Hewan ini tanggal kembali 400 juta tahun dan mungkin hilang kontak antara
Arthropoda (Serangga dan Crustacea) dan Annelida (cacing tersegmentasi lembut
bertubuh, termasuk cacing tanah). Makhluk ini pemalu, mampu bersembunyi di celahcelah ketat yang luar biasa, hewan ini jarang terlihat di habitat alami mereka, tetapi dapat
ditemukan dalam serasah daun, terowongan tanah dan dedaunan, di bawah batu, dan
batang jatuh.
Persyaratan utama mereka adalah tempat yang gelap dan lembab, di mana mereka
bisa menghabiskan hari-hari aktif dan berburu di malam hari. Memangsa mereka adalah
invertebrata kecil, isopoda, rayap dan moluska kecil. Mereka menembak cairan perekat
dari wadah yang terletak dekat mulut mereka. Ketika mengering perekat, setelah beberapa
detik, mangsa terjebak ke tanah dan tidak bisa melarikan diri. Kemudian itu mangsa
pendekatan beludru cacing dengan itu rahang bawah dan menusuk lubang di mangsa dan
mengeluarkan pencernaan jus. Akhirnya, itu berlaku itu mulut ke luka dan mengisap
keluar makanan dari korban. Glueis ticky ini juga digunakan sebagai pertahanan terhadap
predator mereka sendiri.
Distribusi terbatas untuk hutan hujan wilayah Amerika Selatan, Afrika, Australia,
The Caribbean, Malaysia dan Oseania. Jarang ditemukan karena kebiasaan rahasia,
organisme ini dapat ditemukan secara kebetulan ketika mikrohabitat bisa terkena.
Keluarga ini, Onychophora, diwakili di hutan Tabonuco oleh spesies peripatus
yang kadang-kadang ditemukan mencari makan di lumut dan ganggang batuan tertutup di
lantai hutan imobilisasi mangsa dilakukan dengan mengarahkan dan semprot perekat pada
korban, mangsa besar seperti jangkrik dan kecoak dapat ditangkap oleh strategi ini.
Adapun klasifikasi dari Peripatus juanensis adalah sebagai berikut:
Kerajaan

: Animalia

Filum
Kelas
Subkelas
Ordo

: Arthropoda
: Onychophora
: Undeonychophora
: Euonychopora

Famili
Genus
Spesies

: Peripetidae
: Peripatus
: Peripatus juanensis

Kelas Arachnoidea
A. Laba-Laba (Nephila maculata)
Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan Arachnoidea yang sering kita jumpai,
yaitu laba-laba. Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu sefalotoraks (kepala-dada) pada
bagian anterior dan abdomen pada bagian posterior. Sefalotoraks adalah penyatuan tubuh
bagian sefal atau kaput (kepala) dan bagian toraks (dada). Pada sefalotoraks terdapat
sepasang kalisera (alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan enam pasang kaki untuk
berjalan. Kalisera dan pedipalpus merupakan alat tambahan pada mulut. Pada bagian
abdomen (opistosoma) laba-laba terdiri dari mesosoma dan metasoma. Pada bagian
posterior abdomen terdapat spineret yang merupakan organ berbentuk kerucut dan dapat
berputar bebas.
Didalam spineret terdapat banyak spigot yang merupakan lubang pengeluaran
kelenjar benang halus atau kelenjar benang abdomen. Kelenjar benang halus
mensekresikan cairan yang mengandung protein elastik. Protein elastik tersebut akan
mengeras di udara membentuk benang halus yang digunakan untuk menjebak mangsa.
Laba-laba bernapas dengan paru-paru buku atau trakea. Paru-paru buku adalah organ
respirasi berlapis banyak seperti buku dan terletak pada bagian abdomen. Ekskresi labalaba dilakukan dengan tubula (tunggal=tubulus) Malpighi. Tubula Malpighi merupakan
tabung kecil panjang dan buntu dan organ ini terletak di dalam hemosol yang bermuara ke
dalam usus. Selain Tubula Malpighi, ekskresi lainnya dilakukan dengan kelenjar koksal.
Kelenjar koksal merupakan kelenjar ekskretori buntu yang bermuara pada daerah koksa
(segmen pada kaki insecta).
Adapun klasifikasi dari laba-laba adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Arachnoidea
Subkelas : Arachnida
Ordo
: Araneae
Family
: Nephilidae
Genus
: Nephila
Spesies
: Nephila maculata
B. Kalajengking (Hemiscorpius lepturus)
Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda)
yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih
berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis

kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49 U, kecuali Selandia Baru dan
Antarktika.
Hemiscorpius lepturus (kalajengking) kebanyakan hidup di daerah tropis dan
panas, yaitu di bawah batu-batu atau lubang dalam tanah. Segmen pada ekor mrmpunyai
alat penyengat. Ciri morfologinya yaitu tubuh terdiri dari cepalotoraks dan abdomen
(bersegmen-segmen), preabdomen, dan post abdomen. Cepalotoraks tertutup karapas.
Memiliki umbai-umbai berbentuk cakar yang berfungsi untuk menangkap mangsa
(celicera) dan cakar berbentuk penjepit (pedipalpus). Mempunyai 4 pasang kaki tanpa
antena terletak pada cepalotoraks, 2-12 mata oceli. Abdomen bersegmen 12, yang 7
segmen disebut mesosoma besar, dan 5 segmen terminal disebut metasoma. Pemanjangan
pada ujung abdomen berbentuk ekor sebagai alat sengat (telson) mengandung kelenjar
toksin. Alat napas berupa 4 pasang paru-paru buku, terletak sebelah ventral segmen III dan
XV. Bersifat vivipar dan merupakan binatang karnivora.
Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada umumnya, bisa kalajengking
termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius
lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil
dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang
korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa
mereka agar mudah dimakan. Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap artropoda
lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan
menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies
kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia.
Adapun klasifikasi dari kalajengking adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum
: Arthropoda
Sub filum : Chelicerata
Kelas
: Arachnoidea
Sub kelas : Arachnida
Ordo
: Scorpionida
Genus
: Hemiscorpius
Spesies
: Hemiscorpius lepturus
Kelas Myriapoda
A. Lipan/Kelabang (Scolopendra sp.)
Lipan atau kelabang (bahasa Inggris: centipede) adalah hewan arthropoda yang
tergolong dari kelas Chilopoda dan upafilum Myriapoda. Lipan adalah hewan metamerik
yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang
berbisa, dan termasuk hewan nokturnal.

Lipan mudah ditemukan di daerah yang diarsir seperti bagian bawah daun-daun
mati, batu, gua, hutan, dan bahkan bagian dalam rumah. Mereka biasanya ditemukan di
daerah iklim seperti padang pasir, pegunungan, dan hutan. Mereka adalah arthropoda
soliter dan malam. Pada siang hari mereka pergi untuk mencari perlindungan di lahan
basah dan gelap. Jika cuaca terlalu basah atau terlalu kering, mereka mencari tempat lain
untuk datang berlindung di dalam rumah. Spesies yang hidup di zona beriklim panas
biasanya lebih kecil (hingga 10 cm) dari mereka menghuni daerah khatulistiwa yang
lembab, yang dapat melebihi 30 cm.
Lipan dianggap sebagai hewan berbisa meskipun bisa lipan kurang mematikan
manusia, tetapi lipan biasa dikonsumsi di Thailand dan di beberapa bagian Afrika. Bahkan
pengobatan Cina memotong atau menggunakan bagian dari lipan sebagai obat untuk
penggunaan oral, meskipun efektivitas pengobatan ini belum terbukti secara ilmiah.
Adapun klasifikasi dari kelabang adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Myriapoda
Sub kelas : Chilopoda
Ordo
: Scolopendromorpha
Famili
: Scolopendridae
Genus
: Scolopendra
Spesies
: Scolopendra sp.
B. Kaki Seribu (Trigoniulus corallinus)
Kaki seribu atau millipede (kelas Diplopoda, sebelumnya juga disebut
Chilognatha) adalah artropoda yang memiliki dua pasang kaki per segmen (kecuali
segmen pertama di belakang kepala, dan sedikit setelahnya yang hanya memiliki satu
kaki). Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan
sekitar kita. Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat. Terutama
di tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya di kebun dan di bawah batubatuan.
Umumnya kaki seribu memakan sisa tumbuhan yang membusuk. Namun ada
beberapa spesies yang tergolong karnivora. Mereka menelan bahan makanan yang
ditemui, mengekstrak nutrisinya, lalu mengeluarkan kembali sisa-sisa yang tidak bisa
dicerna. Cara makan ini tidak berlaku untuk beberapa spesies yang memiliki tipe mulut
penghisap.
Adapun klasifikasi dari kaki seribu adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Myriapoda
Sub kelas : Diplopoda

Genus
Spesies
2.4.2

: Trigoniulus
: Trigoniulus corallinus

Kelas Insecta
A. Jangkrik (Gryllus assimilis)
Hewan ini hidup diberbagai habitat, baik lingkungan basah ataupun lingkungan

kering, terutama yang dinaungi rumput. Selain itu Gryllus sp. (jangkrik) dapat ditemukan
di rumah-rumah, sisa tanaman yang lembab. Beberapa jenis jangkrik pandai bersuara,
suara itu dihasilkan dari saling menyentuhkan tegumina bersama-sama. Hewan ini aktif di
malam hari dan mampu bergerak dan melompat dengan cepat.
Hewan yang sudah dewasa umumnya berwarna hitam, sedangkan nypha berwarna
kuning pucat dengan garis - garis coklat. Antena panjang dan kaku seperti rambut. Hewan
dewasa akan kehilangan sayap setelah menetap di lingkungan sawah. Hampir semua
hewan ni bertindak sebagai predator. Telur penggerek batang padi, penggulung daun.
Hewan yang termasuk dalam ordo Orthoptera, termasuk di dalamnya Gryllus
assimilis (jangkrik) adalah bersifat hemimetabola, mulutnya tipe pengunyah, memilki 2
pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan seperti kertas dari kulit, yang disebut tegumina.
Sayap belakang berupa membran dan dilipat seperti kipas dan terletak di bawah sayap
depan. Pada beberapa spesies, sayap hanya berupa sisa saja atau ada juga yang tidak
bersayap.
Secara morfologi, jangkrik memiliki tubuh rata dan antena panjang. Memiliki
sepasang sayap dan 2 pasang kaki. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan suaranya
yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan
menolak jantan lainnya. Suara cengkerik ini semakin keras dengan naiknya suhu
sekitarnya.
Klasifikasi Gryllus assimilis (jangkrik) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Orthoptera

Family

: Grylludae

Genus

: Gryllus

Spesies

: Gryllus assimilis

B. Belalang Kayu (Valanga nigricornis)


Pada belalang kayu (Valanga nigricornis), pada waktu istirahat berperilaku khas
yaitu sayap belakang dilipat lurus dibawah sayap depan. Memiliki tipe mulut nimfa dan

imagonya mengigit, mengunyah, dan menggerek. Contohnya pada helaian daun jagung
terdapat bekas gigitan, yang menyebabkan daun berlubang yang terdapat pada tengah dan
ujung daun. Daur hidup belalang pada umumnya bertelur pada musim kemarau dan
menetas pada musim hujan, memiliki caput, toraks, abdomen, antena, mata majemuk,dan
tungkai.
Belalang (Valanga nigricornis) yang tergolog dari ordo orthoptera biasa disebut
dengan belalang kayu. Belalang kayu memiliki ciri-ciri antara lain memiliki antena
pendek, organ pendengaran terletak pada ruas abdomen serta alat petelur yang pendek.
Kebanyakan warnanya kelabu atau kecoklatan dan beberapa mempunyai warna cemerlang
pada sayap belakang. Serangga ini termasuk pemakan tumbuhan dan sering kali merusak
tanaman. Adapun alat mulutnya bertipe penggigit pengunyah.
Tipe ordo ini memiliki 2 pasang sayap. Sayap depan lebih kecil daripada sayap
belakang dan memiliki vena-vena yang menebal yang disebut dengan tegmina. Dua pasang
sayap serta tiga pasang kaki melekat pada bagian thorakal. Pada segmen/ruas pertama
abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanium. Spirakulum yang
meruapkan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen/thorax. Anus dan
alat genetalia terdapat pada ujung abdomen. Belalang memiliki alat tambahan yang berupa
sepasang mata faset (majemuk), dua buah antena, dan tiga buah mata sederhana (oseli).
Tipe metamorfosis dari ordo ini adalah paurometabola (metamorfosis sederhana).
Perkembangan tubuh terjadi dengan melewati masa telur, nimfa, dan imago. Bentuk nimfa
dan dewasa hampir sama, hanya pada bagian sayap, ukuran tubuh, dan kematangan alat
kelamin saja yang membedakan. Pada masa nimfa, sayap masih berupa selaput tipis,
sedangkan pada serangga dewasa sudah memiliki tegmina. Ukuran ubuh antara nimfa dan
dewasa juga berbeda, nimfa lebih kecil sedangkan belalang dewasa jauh lebih besar.
Belalang adalah tipe serangga pemakan daun. Alat mulut dari belakang bertipe
penggigit-pengunyah dengan bagian-bagian seperti labrum, mandibel, labium, dan maxilla.
Akibat dari serangan hama ini adalah berlubangnya daun yang dimulai dari tipe tanaman
dengan kerusakan yang lebar.
Klasifikasi Valanga nigricornis (belalang kayu) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalis
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Orthoptera
Family
: Acrididae
Genus
: Valanga
Spesies
: Valanga nigricornis
C. Belalang (Atractomorpha similis)

Belalang ini menunjukkan suatu struktur umum dari kelas insekta walaupun dalam
hewan ini terdapat beberapa spesialiasasi. Rangka luar yang terdiri dari kitin menutupi
seluruh bagian tubuhnya. Pada bagian kepala terdapat dua buah mata majemuk, tiga buah
mata tunggal (oselus), sepasang antena dan alat-alat mulut. Alat-alat mulut terdiri dari
bibir atas (labrum), dan dua buah mandibula dengan sebuah hypofaring diantara dua buah
maksila dan bibir bawah (thorax) terbagi menjadi: bagian depan disebut pothorax, bagian
tengah disebut mesothorax, dan bagian belakang disebut metathorax. Masing-masing
segmen tersebut mempunyai sepasang kaki. Pada mesothorax dan metathorax masingmasing terdapat sepasang sayap. Segmen kaki dari bagian pangkal ke ujung tersusun
sebagai berikut: coxa, trochanter, frmur, tibia, dan tarsus (kadang-kadang satu segmen).
Pasangan sayap depan liat dan tebal menutupi pasangan sayap belakang yang seperti
membran.
Abdomen (perut) terdiri dari 11 segmen di bagian depannya terdapat alat
pendengar yang disebut membran timpani, sedangkan di bagian belakang alat kelamin
bagian luar. Saluran pencernaan makanan terdiri dari foregut, midgut, dan hindgut.
Peredaran darah terbuka, jantung terbagia atas sederetan ruang yang memanjang, terletak
pada sinus pericardium bagian dorsal perutnya. Sistem pernapasan terdiri dari sistem
cabang (jaringan) dari saluran/pembuluh-pembuluh yang disebut trakea. Alat ekskresi
berupasaluran malphigi yang terbuka ke segian depan dari hindgut (usus belakang). Sistem
saraf terdiri dari ganglion supra esofagus atau otak dua buah phageal connectives dan
ganglion dibawah esofagus yang kesemuanya terletak di bagian kepala. Sistem reproduksi:
alat reproduksi jantan terdiri dari dua buah testes tempat dimana spermatozoa
berkembang, sedangkan alat reproduksi betina terdiri dari dua buah ovarium yang terdiri
dari sejumlah tabung-tabung telur yang disebut ovarioles.
Adapun klasifikasi Atractomorpha similis adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum
: Arthropoda
Class
: Insecta
Order
: Orthoptera
Family
: Acrididae
Genus
: Atractomorpha
Species
: Atractomorpha similis
D. Kumbang Lege (Exopholis hypoleuca)
Exopholis hypoleuca, kumbang (imago) panjangnya 2,5 cm, kepala dan toraks
hitam kecoklatan, sayap coklat, di Jawa Barat terkenal dengan lege. Uret ditemukan pada
kedalaman 3-10 cm, pupa pada kedalaman 15-20 cm. Uret merusak padi gogo, sereh,

kacang tanah, dan karet. Pada tanaman karet uret ditemukan sampai kedalaman 60 cm.
Imago betina bertelur 15-60 butir.
Exopholis mempunyai metamorfosa yang sempurna. Siklus hidupnya terditi dari:
Stadium telur, lamanya 14 hari. Kumbang dewasa akan keluar pada bulan Oktober sampai
November dan meletakkan telurnya dalam tanah. Jumlah telur 50-60 butir tiap ekor
kumbang. Stadium larva terjadi 10-14 hari sejak telur diletakkan di dalam tanah. Stadium
larva terdiri atas tiga instar. Instar I 45 hari, instar II 2-3 bulan dan instar III 3-4
bulan. Satdium pupa lamanya 17-24 hari. Stasium imago lamanya 2-3 bulan, diantaranya
15 hari berada di dalam tanah.
Klasifikasi kumbang lege (Exopholis hypoleuca) adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Coleoptera
Famili
: Scarabidae
Genus
: Exopholis
Spesies
: Exopholis hypoleuca
Manfaat dan Kerugian Serangga
Serangga dapat pula dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Salah satu pemanfaatan
serangga adalah sebagai sumber makanan. Di berbagai wilayah di dunia, seperti di Afrika,
Australia, Amerika Latin, dan Asia, serangga telah lama dikonsumsi sebagai makanan
tradisional. Pada masa kini, beberapa jenis serangga telah menjadi menu makanan istimewa
bagi kalangan terpandang di Thailand, Jepang, dan Meksiko. Diperkirakan terdapat sekitar
500 jenis serangga yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Jenis serangga yang banyak
dikonsumsi antara lain belalang, laron, jangkrik, lebah, semut, rayap dan beberapa
serangga air dan berbagai jenis ulat. Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica). Selain
itu, beperan dalam bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori).
Sementara yang merugikan manusia anatara lain:
1. Vektor perantara penyakit bagi manusia. Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam
berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor
penyakit tifus.
2. Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebabkudis, kutu kepala, dan
kutu busuk.
3. Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng cokatdan kumbang tanduk
4. Perusak makanan. Contohnya kutu gabah.
5. Perusak produk berbahan baku alam.Contohnya rayap dan kutu buku.

PERANAN ARTHROPODA

Beberapa keuntungan Arthropoda bagi manusia adalah sebagai berikut :

1.

Udang dan kepiting merupakan makanan sumber protein yang sangat disenangi karena
dagingnya yang enak. Udang dan kepiting juga dapat dijadikan sebagai hiasan karena rangka
luarnya yang keras.

2.

Kupu-kupu, lebah, dan sejenisnya menyukai bunga yang berwarna-warni. Mereka datang
untuk mencari makanan yang berupa serbuk sari atau mengisap madu yang dihasilkan oleh
kelenjar madu atau nektarium. Beberapa butir serbuk sari menempel di kepala, tubuh, atau
kaki dan terbawa terbang pada saat hewan tersebut meninggalkan bunga itu. Pada waktu
hewan itu mendatangi bunga yang lain untuk maksud yang sama, ada kemungkinan beberapa
serbuk sari bunga yang dibawanya menempel di kepala putik bunga yang dikunjungi,
sehingga terjadilah penyerbukan yang diikuti dengan pembuahan. Tanpa penyerbukan bunga
tidak akan menjadi buah. Hewan Arthropoda merupakan perantara berlangsungnya
penyerbukan. Setiap Iebah madu yang pulang berburu serbuk sari dan madu, membawa
bahan-bahan tersebut ke sarangnya. Bahan tersebut diperuntukkan sebagai makanan bagi
larva yang keluar dari telur yang dihasilkan oleh ratunya. Lebah yang mengumpulkan madu
tersebut adalah lebah pekerja dalam masyarakat Iebah. Madu merupakan makanan dan obat
bagi manusia. Dan sarangnya juga dihasilkan malam.

3.

Ulat sutera menghasilkan benang-benang halus yang dijalin membentuk kokon. Kokon ini
digunakan oleh hewan yang bersangkutan untuk pelindung pada stadium istirahat (pupa) dari
daur hidupnya, dan pada saat ulat keluar dari kokon telah berubah menjadi kupu-kupu ulat
sutera. Dan kokon ini manusia mampu mengolah untuk mendapatkan benang sutera sebagai

bahan sandang seperti sarung dan selendang.


4. Beberapa
jenis
udang
yang
sangat

kecil

seperti Dafnia,

Copepoda,

Estheria, dan Conchostraca, dengan ukuran kurang dari 1 mm, merupakan plankton dan
makanan bagi hewan-hewan yang lebih besar. Dengan demikian, Arthropoda jenis ini
merupakan mata rantai makanan dalam kehidupan di air. Untuk kehidupan di darat bertindak
5.

sebagai mata rantai makanan adalah Arthropoda jenis Insecta.


Arthropoda dari kelompok Collembola yang mendiami permukaan tanah menghasilkan
pupuk. yaitu kotorannya yang merupakan bahan humus. Humus tidak saja sebagai pupuk
tetapi juga menjaga tanah agar terhindar dari erosi. Adanya humus berpengaruh baik terhadap
kandungan air dan udara dalam tanah, sehingga tumbuhan yang tumbuh di ternpat itu dapat
menyerap zat-zat hara dengan mudah.

Beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh Arthropoda bagi kehidupan manusia adalah
sebagai berikut:
1. Lalat, kecoa, dan semut sangat suka mengerumuni makanan atau hidangan. Hewan ini juga
suka berada di tempat-tempat yang kotor, sehingga hewan-hewan ini sering membawa bibit
penyakit bagi manusia.
2. Penyakit seperti malaria,demam berdarah, dan penyakit tidur disebarkan dari penderita ke
calon

inang

oleh

hewan

Arthropoda.

Malaria

disebarkan

oleh

nyamuk

malaria (Anopheles), demam berdarah oleh nyamuk Aedes Aegypti, dan penyakit tidur oleh
lalat Tsetse .Hewan-hewan itu bertindak sebagai vektor. Selain menyebarkan penyakit mereka
juga mengisap darah.
3. Belalang pemakan daun. Apabila belalang berjumlah sangat banyak dapat merupakan hama
bagi ladang-ladang petani. Walang sangit sangat popular menyerang tanaman padi. Padi yang
diserangnya menjadi mati atau hampa. Kumbang kelapa memakan pucuk kelapa, ketika
pucuk itu masih

menggulung. Apabila

pucuk

itu mekar daun kelapa terlihat seperti

digunting.
4. Beberapa jenis kumbang membuat lubang pada kayu sebagai sarangnya, seperti bangunan
rumah dari kayu. Pengecatan bahan bangunan dengan cat dapat menghindari serangan
5.

Arthropoda ini.
Arthropoda kelompok Isopoda yang tinggal di air laut atau air tawar menyerang kayu yang

terendam air. Kayu menjadi berlubang-lubang karena digerek sehingga menjadi rapuh.
6. Bermacam-macam kutu, seperti kutu yang hidup di kepala manusia, kutu busuk, kutu pada
anjing dan kucing adalah pengisap darah. Beberapa jenis kutu lainnya merusak bahan
makanan seperti beras, kacang hijau, jagung, dan lain-lain.
7. Kalajengking, lipan, lebah penyengat, tawon, dan beberapa jenis labah-labah ditakuti karena
dapat menyengat. Sengatannya cukup berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian.
Ketam atau kepiting mem buat lubang tanah sehingga dapat merusak pematang sawah