Anda di halaman 1dari 17

PERAN APIP MENGAWAL AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA

MELALUI REVIU DAN IMPLEMENTASI SPIP


(LUSIANA)
lushiechand@gmail.com

ABSTRAKSI

Maraknya kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dilingkungan


Pemerintah telah menyebabkan berkurangnya kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah. Oleh sebab itu pemerintah berusaha melakukan
berbagai pembaharuan agar memperoleh kepercayaan masyarakat
kembali, dimana salah satunya melalui penguatan pengawasan melalui
penerapan SPIP dan peningkatan peran APIP yang merupakan bagian dari
pelaksanaan reformasi birokrasi. Akuntabilitas merupakan salah satu aspek
penting dalam mewujudkan suatu tata kelola pemerintahan yang baik yang
salah satunya tercermin melalui Laporan Keuangan. Oleh sebab itu
pemerintah dalam rangka untuk memperoleh opini WTP dari BPK RI,
memaksimalkan kinerjanya melalui keterlibatan APIP dalam melakukan
reviu atas laporan keuangan dan pengimplementasian SPIP di lingkungan
pemerintahan.

A. PENDAHULUAN
Dalam rangka mempercepat tercapainya tata kelola pemerintahan yang baik,
maka pemerintah melakukan upaya perbaikan melalui reformasi birokrasi diseluruh
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah. Salah satu bentuk usaha pemerintah untuk
meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan antara lain melalui
pelaksanaan reformasi dibidang keuangan dengan mengeluarkan paket

kebijakan

dibidang keuangan negara, yaitu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang


Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Tanggung
Jawab dan Pengelolaan Keuangan Negara.
Dalam rangka melaksanakan reformasi birokrasi, pemerintah juga telah
menyusun Grand Design Reformasi Birokrasi untuk tahun 2010 - 2025 seperti yang
dimuat dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design
Reformasi Birokrasi 2010 2025. Dimana pelaksanaan operasional Grand Design

Reformasi Birokrasi 2010- 2025, dituangkan dalam Road Map Reformasi Birokrasi yang
ditetapkan setiap 5 (lima) tahun sekali oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi.
Masyarakat Indonesia saat ini menjadi lebih peka tentang apa yang terjadi
dengan pemerintahan, terlebih maraknya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)
yang terjadi didalam tubuh birokrat pemerintah telah mengundang banyak kritik tajam
terhadap kinerja pemerintahan yang menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap kinerja pemerintahan.
Setiawan, H dan Putro, TS (2013), didalam penelitiannya menyebutkan bahwa
dari hasil pemeriksaan BPK RI menunjukkan besarnya tingkat kebocoran penggunaan
dana pemerintah dikarenakan oleh lemahnya pengendalian dan pengawasan internal.
Pengawasan dinilai belum dilaksanakan secara efektif dan efisien, yang ditunjukkan
dengan tetap terjadinya penyimpangan yang berulang-ulang, dalam bentuk kerugian
negara, rendahnya keberhasilan dan efisiensi pelaksanaan kegiatan yang diawasi serta
terjadinya tumpang tindih dalam pelaksanaan pengawasan.
Oleh sebab itu, dalam rangka untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah yang menjadi salah satu program yang dijalankan dalam reformasi
birokrasi adalah melalui penguatan pengawasan seperti yang dituangkan dalam Road
Map

Reformasi

Birokrasi

yang

terdapat

dalam

Peraturan

Menteri

Negara

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2010.


Dalam fungsi-fungsi manajemen, fungsi pengawasan (controlling) terkait
terhadap

keseluruhan

fungsi-fungsi

lainnya

seperti

perencanaan

(planning),

pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing) dan koordinasi (coordinating),


dimana pengawasan berfungsi untuk mengevaluasi apakah organisasi telah berjalan
dengan baik dalam pencapaian tujuannya.
Adapun program penguatan pengawasan yang telah ditetapkan dalam Road
Map Reformasi Birokrasi / RMRB terdiri dari 2 (dua) kegiatan, yaitu :
1. Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
2. Peningkatan peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sebagai quality
assurance dan consulting.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang
bersih dan bebas dari KKN pada masing-masing Kementerian/Lembaga dan Pemerintah
Daerah, antara lain agar :
1. Meningkatnya kepatuhan terhadap pengelolaan keuangan negara oleh masing-masing
K/L dan Pemda.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

2. Meningkatnya efektivitas pengelolaan keuangan negara pada masingmasing K/L dan


Pemda.
3. Meningkatnya status opini BPK terhadap pengelolaan keuangan negara pada masingmasing K/L dan Pemda.
4. Menurunnya tingkat penyalahgunaan wewenang pada masing-masing K/L dan
Pemda.
Pengawasan sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi dalam melaksanakan
kegiatan, termasuk sebagai upaya pencegahan terhadap penyimpangan-penyimpangan
yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu pengawasan menjadi unsur penting dalam
menunjang keberhasilan pencapaian good governance, yang pada akhirnya adalah untuk
meningkatkan pelayanan publik demi kesejahteraan masyarakat.
Salah satu komitmen pemerintah dalam mewujudkan penyelenggaraan Negara
yang bersih dan bebas dari KKN adalah dengan membangun sistem pengendalian intern
pemerintah yang efektif sesuai dengan amanat pasal 58 ayat (1) dan (2) Undang-Undang
Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yaitu dengan diterbitkannya
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah. Dimana dalam pasal 2 ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa untuk mencapai
pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel maka
menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian
atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilaksanakan dengan berpedoman pada
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).
Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah merupakan wujud komitmen pemerintah untuk
meningkatkan manajemen pemerintah dan menguatkan akuntabilitas instansi pemerintah
yang

mengutamakan

komitmen

pimpinan

dan

keterlibatan

seluruh

pegawai.

Pengendalian internal dalam pengawasan dan pelaporan diperlukan untuk menciptakan


akuntabilitas yang diharapkan masyarakat dalam rangka mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik.
Dalam implementasian SPIP, APIP memegang peranan yang penting dalam
mewujudkan llingkungan pengendalian sesuai dengan pasal 4 Peraturan Pemerintah
Nomor 60 tahun 2008,

yaitu dengan perwujudan peran Aparat Pengawasan Intern

Pemerintah (APIP) yang efektif. APIP juga memegang peranan penting dalam
mewujudkan akuntabilitas keuangan Pemerintah antara lain melalui review, audit,
evaluasi, pemantauan, dan pengawasan lainnya yang merupakan bagian dari
implementasi SPIP. Secara khusus untuk memberikan jaminan kualitas terhadap laporan
keuangan serta untuk memenuhi amanat peraturan perundang-undangan, maka APIP
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

dituntut untuk berperan dalam penyajian laporan keuangan melalui reviu atas laporan
keuangan agar dapat mendorong entitas pemerintah memperoleh opini Wajar Tanpa
Pengecualian dari BPK RI.Oleh karena itu, maka artikel ini akan membahas mengenai
peran APIP dalam mengawal akuntabilitas keuangan negara melalui reviu dan
implementasi SPIP.

B. AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


Sukses atau gagalnya mencapai pembangunan yang berkesinambungan salah
satunya dipengaruhi bagaimana pemerintah menjalankan tata kelola pemerintahan. Jika
baik maka manajemen sektor publik menjadi efisien, efektif, terintegrasi serta
meningkatkan akuntabilitas dan transparansi (Firdausy CM, 2010).
Ada 6 prinsip utama Good Governance, yaitu partisipasi, keadilan, akuntabilitas,
transparansi, efisiensi dan efektivitas (Hidayat, S dan Abdul Malik Gismar, 2010).
Akuntabilitas merupakan salah satu unsur utama dari good governance.
Menurut Sadjiarto, A (2000), Akuntabilitas dapat diartikan sebagai hubungan
antara pihak yang memegang kendali dan mengatur entitas dengan pihak yang memiliki
kekuatan formal atas pihak pengendali tersebut dan diperlukan pihak ketiga yang
accountable untuk memberikan penjelasan atau alasan yang masuk akal terhadap
seluruh kegiatan yang dilakukan dan hasil usaha yang diperoleh sehubungan dengan
pelaksanaan suatu tugas dan pencapaian suatu tujuan tertentu.
Akuntabilitas

dapat

juga

diartikan

sebagai

kewajiban

memberi

pertanggungjawaban atas kinerja suatu organisasi publik kepada pihak yang memiliki hak
atau kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban (Widodo, J. 2001).
Sedangkan menurut Kumorotomo Wahyudi (2005), akuntabilitas (accountability)
adalah ukuran yang menunjukan apakah aktivitas birokrasi atau pelayanan yang
dilakukan pemerintah telah sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang dianut atau norma
dan nilai-nilai masyarakat dan apakah pelayanan publik tersebut mampu mengakomodasi
kebutuhan rakyat.
Lembaga Administrasi Negara membedakan akuntabilitas menjadi 3 (tiga) jenis,
yaitu :
1. Akuntabilitas

keuangan,

merupakan

pertanggungjawaban

mengenai

integritas

keuangan, pengungkapan dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.


2. Akuntabilitas manfaat, pada dasarnya memberi perhatian kepada hasil-hasil kegiatan
pemerintah.
3. Akuntabilitas prosedural, yaitu pertanggungjawaban mengenai apakah suatu prosedur
penetapan dan pelaksanaan suatu kebijakan telah mempertimbangkan masalah
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

moralitas, etika, kepastian hukum, dan ketaatan pada keputusan politis untuk
mendukung pencapaian tujuan akhir yang ditetapkan.
Pengertian akuntabilitas sangatlah luas mencakup seluruh aktivitas birokrasi dan
pelayanan pemerintah dalam banyak bidang. Namun, pada artikel ini akan dibahas
secara khusus mengenai akuntabilitas keuangan yang tercermin dalam Laporan
Keuangan pemerintah.
Akuntabilitas keuangan menurut Mohamad Ismail, dkk (2004) merupakan
pertanggungjawaban mengenai integritas keuangan serta ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan. Sasaran pertanggungjawaban adalah keberadaan Laporan
Keuangan yang disajikan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku yang
mencakup penerimaan dan penggunaan uang.
Mohamad Ismail, dkk (2004) juga menjelaskan bahwa penerapan akuntabilitas
berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang harus
dapat diukur pencapaiannya. Ada 4 (empat) dimensi penerapan akuntabilitas yang baik,
yaitu :
1. Siapa yang harus melaksanakan akuntabilitas?
2. Kepada siapa dia berakuntabilitas?
3. Apa standar yang digunakan untuk menilai akuntabilitas itu sendiri?
4. Bagaimana nilai akuntabilitas itu sendiri?
Dalam penyelenggaraan pemerintah, maka yang mempunyai kewajiban
melaksanakan akuntabilitas adalah pemerintah. Hal ini jelas sebagaimana yang
diamanatkan

oleh

peraturan

mempertanggungjawabkan

perundang-undangan,

kinerjanya

melalui

dimana

penggunaan

pemerintah

sumber

daya

perlu
yang

merupakan milik rakyat. Dalam hal ini salah satu perwujudan akuntabilitas keuangan
kepada masyarakat yaitu melalui pelaporan keuangan yang disusun sesuai standar (yaitu
SAP) untuk selanjutnya hasil pertanggungjawaban tersebut berupa (Laporan Keuangan)
dinilai oleh pihak yang independen dan objektif (yaitu Auditor eksternal, dalam hal ini
dilakukan oleh BPK RI).
Laporan Keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
(PSAP) 01 paragraf 9 merupakan laporan terstruktur mengenai posisi keuangan dan
transaksi keuangan yang dilakukan oleh entitas pelaporan. Tujuannya adalah untuk
menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan
kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam
membuat keputusan mengenai alokasi sumber daya atau secara spesifik untuk
menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya.
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

Peranan laporan keuangan adalah untuk mengontrol aktivitas organisasi


mengenai perkembangannya maupun permasalahan yang dihadapi untuk segera
dilakukan perbaikan-perbaikan dalam pencapaian tujuan organisasi (Samsul, 2009).
Jadi Laporan Keuangan Pemerintah merupakan salah satu perwujudan
akuntabilitas keuangan pemerintah sebagai pertanggungjawaban penggunaan dana
APBN/APBD yang dapat diawasi langsung oleh masyarakat. Kehadiran Badan
Pemeriksa Keuangan Republik Indonesi (BPK RI) selaku auditor eksternal yang akan
melakukan pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah dan kemudian
memberikan penilaian berupa sebuah opini terhadap Laporan Keuangan yang diperiksa
tersebut, telah menjadi salah satu prioritas bagi pemerintahan sebagai tuntutan reformasi
birokrasi karena semakin baik opini yang diperoleh menunjukan tingkat akuntabilitas
keuangan yang semakin baik.
Namun,

pada

kenyataannya

masih

banyak

Kementerian/Lembaga

dan

Pemerintah Daerah yang belum mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
seperti yang diharapkan. Secara umum, beberapa faktor yang menyebabkan laporan
keuangan K/L dan pemda tersebut belum memperoleh opini WTP adalah karena
penyajian yang belum sepenuhnya sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP),
lemahnya sistem pengendalian intern, belum tertatanya barang milik negara/daerah
dengan tertib, pengadaan barang yang belum mengikuti ketentuan yang berlaku, dan
kurang memadainya kapasitas SDM pengelola keuangan.
Oleh sebab itu diperlukan penguatan diberbagai bidang dan salah satunya
adalah dibidang pengawasan, yaitu dengan memaksimalkan fungsi APIP sebagai
Aparatur yang akan mengawal terciptanya akuntabilitas keuangan melalui pelaksanaan
reviu atas Laporan Keuangan yang merupakan salah satu bentuk dari implementasi
SPIP.

C. SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP)


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2008
tentang

Sistem

Pengendalian

Intern

Pemerintah

menjelaskan

bahwa

Sistem

Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan
keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui :
1. Kegiatan yang efektif dan efisien.
Kegiatan instansi pemerintah dikatakan efektif bila telah ditangani sesuai dengan
rencana dan hasilnya telah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Sedangkan,

efisien

biasanya

dikaitkan

dengan

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

pemanfaatan

asset

untuk
5

mendapatkan hasil. Kegiatan instansi pemerintah dikatakan efisien bila mampu


menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi (pelayanan prima), dengan bahan baku
(sumber daya) yang sesuai dengan standar.
2. Keandalan pelaporan keuangan
Tujuan ini didasarkan pada pemikiran utama bahwa informasi sangat penting untuk
pengambilan keputusan. Agar keputusan yang diambil tepat sesuai dengan
kebutuhan, maka informasi yang disajikan harus handal/layak dipercaya, dan
menggambarkan keadaaan yang sebenarnya. Karena jika laporan yang tersaji tidak
memadai dan tidak benar, maka akan menyesatkan dan dapat mengakibatkan
keputusan yang salah serta merugikan organisasi.
3. Pengamanan aset negara.
Aset diperoleh dengan membelanjakan uang yang berasal dari masyarakat, terutama
dari penerimaan pajak dan bukan pajak, yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan
Negara/daerah. Pengamanan asset merupakan isu penting yang mendapat perhatian
serius dari pemerintah dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena kelalaian dalam
pengamanan asset akan berakibat mudahnya terjadi pencurian, penggelapan, dan
bentuk manipulasi lainnya.
4. Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Setiap kegiatan dan transaksi merupakan suatu perbuatan hukum. Oleh karena itu,
pelaksanaan transaksi atau kegiatan harus taat terhadap kebijakan, prosedur dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelanggaran terhadap aspek hukum
dapat mengakibatkan tindakan pidana maupun perdata berupa kerugian.
Sedangkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah Sistem
Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah
pusat dan pemerintah daerah.
Dalam peraturan tersebut dijelaskan pula bahwa dalam penerapan Sistem
Pengendalian Intern (SPI) harus senantiasa memperhatikan norma keadilan dan
kepatutan serta mempertimbangkan ukuran, kompleksitas dan sifat dari tugas dan fungsi
instansi pemerintah. Adapun unsur-unsur SPIP terdiri dari :
1. Lingkungan Pengendalian
Pimpinan Instansi Pemerintah dan seluruh pegawai harus menciptakan dan
memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang menimbulkan perilaku
positif dan mendukung terhadap pengendalian intern dan manajemen yang sehat,
melalui :
a. penegakan integritas dan nilai etika;
b. komitmen terhadap kompetensi;
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

c. kepemimpinan yang kondusif;


d. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan;
e. pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat;
f. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya
manusia;
g. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif; dan
h. hubungan kerja yang baik dengan Instansi pemerintah terkait.
Dalam poin (g) yaitu perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah
yang efektif haruslah dapat :
a. memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan
efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi
Pemerintah;
b. memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam
penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah; dan
c. memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan
fungsi Instansi Pemerintah.
2. Penilaian Resiko
Pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang dihadapi unit
organisasi baik dari luar maupun dari dalam.
3. Kegiatan Pengendalian
Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa arahan pimpinan Instansi
Pemerintah dilaksanakan. Kegiatan pengendalian harus efisien dan efektif dalam
pencapaian tujuan organisasi, antara lain melalui :
a. Reviu atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan.
b. Pembinaan sumber daya manusia.
c. Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi.
d. Pengendalian fisik atas aset.
e. Penetapan dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja.
f. Pemisahan fungsi.
g. Otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting.
h. Pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian.
i. Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya.
j. Akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya.
k. Dokumentasi yang baik atas Sistem Pengendalian Intern serta transaksi dan
kejadian penting.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

4. Informasi dan Komunikasi


Informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan Instansi Pemerintah dan
pihak lain yang ditentukan. Informasi disajikan dalam suatu bentuk dan sarana tertentu
serta

tepat

waktu

sehingga

memungkinkan

pimpinan

Instansi

Pemerintah

melaksanakan pengendalian dan tanggung jawabnya.


5. Pemantauan Pengendalian Intern
Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja dari waktu ke waktu dan memastikan
bahwa rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya dapat segera ditindaklanjuti.
Hidayah, K dan Rustan, A (2015), menuliskan bahwa dengan diterapkannya
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) diharapkan dapat menjadi alat untuk
mengantisipasi atau mendeteksi ketidaksesuaian atau celah pelanggaran yang mungkin
timbul dalam organisasi. Ketika Sistem PengendaIian Intern (SPI) yang dijabarkan dalam
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) bekerja maka SPI yang dilaksanakan
terus menerus tersebut dapat menjadi budaya organisasi pemerintahan di Indonesia,
sehingga SPIP juga dapat menciptakan sistem yang mencegah atau mendeteksi
kejadian-kejadian yang akan merugikan keuangan negara.
Dengan

demikian

dengan

penerapan

SPIP

dapat

mengurangi

praktik

kecurangan karena proses pemerintahan dilaksanakan secara akuntabel dan transparan


sehingga bisa diawasi oleh berbagai pihak dalam organisasi pemerintah maupun
masyarakat. Melalui pengimplementasian SPIP ini merupakan salah satu upaya
pemerintah mencapai tata kelola pemerintah yang baik.
D. TUGAS DAN FUNGSI APIP
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah menjelaskan bahwa Pengawasan Intern adalah
seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan
lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan
keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur
yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Dalam pelaksanaannya, pimpinan dibantu oleh Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah (APIP), yang terdiri atas :
1. Badan Pengawasan Keuangan Pemerintah (BPKP)
Badan Pengawasan Keuangan Pemerintah (BPKP) melakukan pengawasan
intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan tertentu yang meliputi :

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

a. Kegiatan yang bersifat lintas sektoral.


b. Kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
c. Kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
BPKP juga melakukan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebelum
disampaikan Menteri Keuangan kepada Presiden serta melakukan pendampingan
pada Pemerintah Daerah, antara lain melalui :

Kegiatan pendampingan penyusunan laporan keuangan K/L/pemda.

Review laporan keuangan K/L/pemda sebelum diaudit oleh BPK.

Menindaklanjuti hasil temuan BPK.

Pendampingan perbaikan sistem pelaporan.

Implementasi Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA).

Sosialisasi, pembentukan satgas, dan workshop SPIP.

Peningkatan kapasitas SDM pengelolaan keuangan daerah dan APIP.

2. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan


pengawasan intern
Melakukan

pengawasan

terhadap

seluruh

kegiatan

dalam

rangka

penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga yang didanai dengan


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta melakukan reviu atas
laporan keuangan kementerian negara/lembaga sebelum disampaikan kepada
menteri/pimpinan lembaga kepada Menteri Keuangan.
3. Inspektorat Provinsi
Inspektorat Provinsi melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam
rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Provinsi yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD )
Provinsi serta melakukan reviu atas laporan keuangan Pemerintah Daerah Provinsi
sebelum disampaikan Gubernur kepada Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia.
4. Inspektorat Kabupaten/Kota
Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan
dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) Kabupaten/Kota yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) Kabupaten/Kota serta melakukan reviu atas laporan keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sebelum disampaikan Bupati/Walikota kepada
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009 tentang


Pelaporan Keuangan dan Kinerja Pemerintah, indikator kinerja inspektorat sebagai
pengawas intern yaitu sebagai berikut:
a. Dilaksanakan SPI atas pengelola keuangan daerah oleh SKPD.
b. Dilaksanakannya transaksi penerimaan, penyetoran dan pembukuan penerimaan
pendapatan daerah pada SKPD.
c. Tersusunnya laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.
d. Menentukan efesiensi dan efektifitas prosedur dan kegiatan pemerintah daerah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern, peran inspektorat selaku internal audit pemerintah lainnya untuk
memperkuat dan menunjang efektifitas Sistem Pengendalian Intern (SPI) selain
sebagai pengawas intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dan
melakukan pembinaan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
(SPIP).

Berdasarkan

peraturan tersebut,

indikator kinerja inspektorat

dalam

melakukan pembinaan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern (SPI) antara lain:


a. Penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP.
b. Sosialisasi SPIP.
c. Peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern pemerintah.
E. REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN
Laporan Keuangan Pemerintah merupakan salah satu bentuk akuntabilitas
penggunaan dana yang berasal dari anggaran pemerintah dan dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat. Di Indonesia saat ini, opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
terhadap

Laporan

Keuangan

Pemerintah

masih

menjadi

perhatian

lembaga

pemerintahan maupun masyarakat, karena opini tersebut menunjukkan kualitas


akuntabilitas keuangan lembaga pemerintah.
Maka sangatlah penting untuk mencapai akuntabilitas keuangan negara sebagai
wujud untuk mencapai kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Dalam rangka
mewujudkan akuntabilitas keuangan negara, maka APIP ikut terlibat dalam proses
tersebut, antara lain melalui keterlibatan APIP dalam melaksanakan reviu Laporan
Keuangan yang merupakan bagian dari implementasi SPIP dilingkungannya.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah yang merupakan penjabaran dari Undangundang Nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara dijelaskan bahwa Aparat
Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) pada Kementerian Negara/Lembaga/pemerintah
daerah dapat melakukan reviu atas Laporan Keuangan dalam rangka meyakinkan
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

10

keandalan informasi yang disajikan pada Laporan Keuangan sebelum disampaikan oleh
Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota kepada pihak-pihak terkait seperti
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI). Peran APIP ini dalam rangka
memberikan jasa konsultasi dan jaminan mutu.
Reviu atas kinerja Instansi Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat (3) huruf a dilaksanakan dengan membandingkan kinerja dengan tolok ukur kinerja
yang ditetapkan.
Reviu menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang
Pedoman Pelaksanaan Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah adalah prosedur
penelusuran angka-angka dalam laporan keuangan, permintaan keterangan, dan analitis
yang harus menjadi dasar memadai bagi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)
untuk memberi penilaian terbatas terhadap keandalan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
dan kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Reviu atas Laporan
Keuangan Pemerintah dilakukan untuk memberikan keyakinan atas kualitas laporan
keuangan Pemerintah Daerah. Reviu atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka
penyusunan pernyataan tanggung jawab (statement of responsibility) atas laporan
keuangan. Pernyataan tanggung jawab tersebut menyatakan bahwa laporan keuangan
telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan sesuai dengan
standar akuntansi pemerintahan (SAP).
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelaksanaan Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah menjelaskan tentang proses
pemahaman terhadap SPI yang terdiri atas memahami sistem dan prosedur pengelolaan
keuangan daerah, melakukan observasi dan/atau wawancara dengan pihak terkait
disetiap prosedur yang ada, melakukan analisis atas resiko yang telah diidentifikasi pada
sebuah kesimpulan tentang kemungkinan terjadinya salah saji yang material dalam
penyusunan laporan keuangan dan melakukan analisis atas resiko yang telah
diidentifikasi pada sebuah kesimpulan tentang arah pelaksanaan reviu.
Ruang lingkup reviu sebatas penelaahan Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan
kesesuaian Laporan Keuangan dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), yang
dilakukan dengan melihat kesesuaian antara angka-angka yang disajikn dalam LK
terhadap buku besar, buku pembantu, catatan dan laporan lain yang digunakan dalam
sistem akuntansi di lingkungan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah yang
bersangkutan (Syarifuddin, 2009).

Apabila aparat pengawasan intern yang melakukan review menemukan


bahwa terdapat kekurangan, kesalahan dan penyimpangan dari Standar Akuntansi
Pemerintah dan peraturan lainnya, aparat pengawasan intern memberitahukan hal
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

11

tersebut kepada entitas yang direview untuk dilakukan perbaikan sebagaimana


mestinya.
Reviu atas Laporan Keuangan merupakan bagian dari pelaksanaan SPIP
yang dilaksanakan oleh APIP. Dalam pasal 47 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun

2008

Bupati/Walikota

menyatakan
bertanggung

bahwa

Menteri/Pimpinan

jawab

atas

efektivitas

lembaga,

Gubernur

penyelenggaran

dan

Sistem

Pengendalian Intern (SPI) dilingkungan pemerintahan masing-masing. Berdasarkan


pasal ini, tanggung jawab penyelenggaran SPIP dan keberhasilan penerapan SPIP
sangat tergantung pada komitmen dari Pimpinan / Kepala Daerah masing-masing. Dalam
hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga, Gubernur dan Bupati/Walikota dibantu oleh APIP.
Dengan

diterapkan

SPIP,

maka

diharapkan

Pemerintah

dapat

meningkatkan

akuntabilitasnya yang salah satunya tercermin dalam opini terhadap Laporan Keuangan
Pemerintah.
F. PERAN APIP DALAM MENGAWAL AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA
APIP memegang peranan yang cukup penting dalam sistem pemerintahan,
dimana sebagai fungsi pengawasan (controlling) APIP bertanggungjawab dalam
mengevalusi dan menilai fungsi-fungsi manajemen yang lain, yaitu fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing) dan koordinasi
(coordinating) agar tujuan organisasi dapat tercapai.
Salah satu peran APIP dalam mengawal akuntabilitas keuangan negara yaitu
melalui reviu atas laporan keuangan pemerintah dan merupakan bagian dalam
pengimplementasi SPIP secara keseluruhan. Dengan memaksimalkan fungsi APIP
dalam

melakukan

reviu

atas

laporan

keuangan

dan

implementasi

SPIP

dilingkungannya, diharapkan dapat meningkatkan kinerja pemerintahan secara khusus


dalam hal akuntabilitas keuangan yang tercermin melalui opini atas Laporan Keuangan
yang diberikan BPK RI.
Dalam pengimplementasian SPIP, BPKP selaku APIP berperan dalam
pembinaan penyelenggaraan SPIP yang meliputi :
1. Penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP.
2. Sosialisasi SPIP.
3. Pendidikan dan pelatihan SPIP.
4. Pembimbingan dan konsultansi SPIP.
5. Peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern pemerintah.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

12

Pemerintah ingin meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap


kinerja pemerintah dengan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari
hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan oleh BPK RI. Oleh sebab itu diperlukan
usaha

yang

melibatkan

semua

unsur

pemerintahan

yang

ditempuh

dengan

pelaksanaan SPIP oleh semua pegawai dan meningkatkan kualitas reviu atas laporan
keuangan yang dilakukan oleh APIP sebagai fungsi konsultasi dan jaminan mutu.
G. KESIMPULAN
Akibat maraknya berbagai kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)
dilingkungan Pemerintah telah menyebabkan berkurangnya kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah. Oleh sebab itu pemerintah berusaha melakukan berbagai
pembaharuan diberbagai bidang agar memperoleh kepercayaan masyarakat kembali.
Usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah antara lain dengan pelaksanaan
reformasi birokrasi, dimana salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui penguatan
pengawasan melalui penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan
peningkatan peran Aparatur Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).
Akuntabilitas merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan suatu
tata kelola pemerintahan yang baik. Akuntabilitas keuangan merupakan suatu wujud
pertanggungjawaban pemerintahan atas penggunaan sumber daya yang diperoleh dari
anggaran pemerintah kepada masyarakat. Untuk menilai akuntabilitas keuangan suatu
pemerintahan maka perlu dilakukan pemeriksaan oleh pihak yang independen, dalam
hal ini dilaksanakan oleh auditor eksternal pemerintah, yaitu Badan Pemeriksa
Keuangan Republik Indonesia (BPK RI). Hasil pemeriksaan BPK berupa opini atas
Laporan Keuangan pemerintahan yang mencerminkan tingkat akuntabilitas keuangan
pemerintah.

Tingkat

akuntabilitas

keuangan

ini

dapat

meningkatkan

tingkat

kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.


Oleh sebab itu banyak Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah
berusaha mencapai akuntabilitas keuangan melalui perolehan opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangannya. Untuk mencapai maksud
tersebut

tentulah

diperlukan

usaha

dan

kerjasama

seluruh

aparatur

dalam

Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah masing-masing, dimana salah satu cara


yang ditempuh adalah melalui pengimplementasian Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) yang melibatkan seluruh pegawai dalam menerapkan Sistem
Pengendalian Intern untuk memberikan keyakinan yang memadai atas pelaksanaan
kegiatan yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan, keandalan pelaporan
keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundangundangan.
Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara
melalui Reviu dan Implementasi SPIP

13

Untuk mencapai keandalan pelaporan keuangan, APIP juga melakukan


reviu atas Laporan Keuangan sebelum diserahkan ke BPK RI untuk dilakukan audit.
Reviu yang dilakukan oleh APIP ini sebagai bentuk evaluasi dan jika ada hal-hal yang
tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) ataupun peraturan
perundang-undangan yang berlaku, maka akan terdeteksi lebih dini oleh APIP untuk
selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Reviu atas Laporan
Keuangan merupakan bagian dari implementasi SPIP dan diharapkan melalui
implementasi SPIP dan Reviu Laporan Keuangan dapat meningkatkan opini atas
Laporan Keuangan yang diberikan oleh BPK RI yang tentunya akan meningkatkan
akuntabilitas keuangan pemerintah sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan
kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

14

DAFTAR PUSTAKA

Firdausy,Carunia Mulya. 2010. Konsep dan Kebijakan Good Governance : Suatu Tinjauan
Ekonomi.Good Governance dalam Peningkatan Pelayanan Publik dan
Pembangunan Ekonomi di Daerah. Syarif Hidayat (Editor). Jurnal Ekonomi dan
Pembangunan, Vol. XVII Nomor.2.Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Herbasuki. 2015. Identifikasi Kondisi dan Upaya Penguatan Pengawasan dalam Rangka
Reformasi Birokrasi di Kabupaten Pekalongan. Gema Publika Jurnal Manajemen dan
Kebijakan Publik. Vol. 1, No. 1, Oktober 2015.

Hidayah, K dan Rustan, A. 2015. Analisis Penerapan Unsur Lingkungan Pengendalian SPIP
di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Jurnal Borneo
Administrato. Volume 11/No. 1/2015 : 73.

Hidayat, S dan Abdul Malik Gismar. 2010. Good Governance VS Shadow State dalam
Penyelenggaraan Pemerintah daerah, Jurnal Penelitian Politik, vol. 7 no. 1, hlm
23-35.
Kumorotomo, Wahyudi. 2005. Akuntabilitas Birokrasi Publik, Sketsa pada Masa Transisi
Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Mohamad, Ismail, dkk. 2004. Konsep dan Pengukuran Akuntabilitas. Penerbit Universitas
Trisakti. Jakarta.
Purba, CB. 2014. Opini dan Status Tindak Lanjut Rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan
pada Pemerintah Daerah di Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur. Jurnal Akuntansi.
Volume XVIII, No. 03, September 2014: 384-407.

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.


________________, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006
tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Pemerintah.
________________, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008
tentang Sistem Pengendalian Intern.
________________, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang
Pedoman Pelaksanaan Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

15

________________, Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan


Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi
2010 2014.
Sadjiarto, A. 2000. Akuntabilitas dan Pengukuran Kinerja Pemerintahan. Jurnal Akuntansi &
Keuangan. Vol. 2, No. 2, Nopember 2000: 138 150.
Samsul. 2009. Analisis Akuntabilitas Pelaporan Keuangan Inspektorat Kabupaten Konawe
Provinsi Sulawesi Tenggara. Tesis. Program Magister Akuntansi. Pascasarjana
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.
Setiawan, H dan Tri Sukirno, P. 2013. Optimalisasi Fungsi Inspektorat dalam Pengawasan
Keuangan Daerah. Jurnal Kebijakan Publik. Volume 4, Nomor 2, Oktober 2013, hlm.
119-218.
Syarifuddin. 2009. Analisis Implementasii Review Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
oleh Auditor Intern Pemerintah Daerah (Studi Kasus pada Inspektorat Provinsi
Sulawesi Tenggara). Tesis. Program Magister Akuntansi. Pascasarjana Fakultas
Ekonomi Universitas Brawijaya.
Widodo, Joko. 2001. Good Governance, Telaah Dimensi : Akuntabilitas dan Kontrol
Birokrasi pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Penerbit Insan Cendekia.
Surabaya.

Peran APIP dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan Negara


melalui Reviu dan Implementasi SPIP

16