Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM VII

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA: METODE DILUSI PADAT

A. Tujuan
Menentukan kadar hambar minimum (KHM) dan kadar bunuh minimun (KBM) dari
suatu sampel terhadap mikroba uji.
B. Dasar teori
Prinsip dasar metode dilusi padat adalah adanya seri kadar sampel uji aktivitas
antibakteri yang disuspensikan dalam media uji padat (tambah agar) dan mikroba uji
digoreskan di permukaan media. Kepekaan bahan uji terhadap bahan anti-bakteri
ditentukan dengan pengamatan secara makroskopis setelah masa inkubasi berakhir
yaitu dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan koloni kuman / bakteri uji dalam
medium (Pelczar, 1986).
Antibakteri ialah obat pembasmi bakteri, khususnya bakteri yang merugikan
manusia. Suatu antibakteri yang ideal memiliki toksisitas selektif, berarti obat
antibakteri tersebut hanya berbahaya bagi bakteri, tetapi relatif tidak membahayakan
bagi hospes. Berdasarkan sifat toksisitas selektif ada bakteri yang bersifat
menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan ada yang bersifat membunuh
bakteri (bakterisida) (Jawetz,1984).
Kadar minimum yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri
atau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai Kadar Hambat Minimum (KHM)
dan Kadar Bunuh Minimum (KBM. Antibiotik (L. anti =lawan, bios=hidup) adalah
zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, memiliki khasiat mematikan atau
menghambat pertumbuhan kuman dan toksisitasnya relatif kecil bagi manusia.
Turunan zat tersebut, yang dibuat secara semi-sintetis dan sintetis juga berkhasiat
sebagai antibakteri (Pelczar, 1986).
Mekanisme kerja yang terpenting adalah perintangan sintesa protein, sehingga
kuman musnah atau tidak berkembang lagi, misalnya kloramfenikol, tetrasiklin,
aminoglikosida, makrolida dan linkomisin. Selain itu beberapa antibiotika bekerja

terhadap dinding sel (penisilin dan sefalosporin) atau membran sel (polikmisin, zatzat polyen dan imidazol). Antibiotik tidak aktif terhadap kebanyakan virus kecil,
mungkin karena virus tidak memiliki proses metabolisme sesungguhnya, melainkan
tergantung dari proses tuan rumah (Jawetz, 1984).
Metode dilusi digunakan untuk menentukan kadar hambat minimum (KHM)
dan kadar bunuh minimal (KBM) dari obat anti mikroba. Konsentrasi terendah obat
pada biakan padat yang ditunjukan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba
adalah KBM dan obat terhadap bakteri uji. Kelebihan dari metode ini adalah dapat
menguji lebih dari satu jenis bakteri di setiap petri. Kelemahannya adalah sulit
membedakan antara aktivitas penghambatan bakteri atau pembunuhan bakteri (Erna
dkk., 2015)
C. Alat dan Bahan
Alat
Piring petri
Erlenmeyer
Mikropipet, blue tip dan yellow tip
Gelas ukur 10 ml
Ose bulat
Bunsen/spiritus
Eppendorf
Tabung reaksi
Kompor listrik
Timbangan
Kertas Timbang
Bahan
Sampel minyak atsiri yang akan diuji kadarnya: Minyak atsiri jeruk purut
Media NA ( Nutrient Agar)
Pelarut: DMSO dan aquadest
Suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dalam kaldu
nutrien

Larutan baku antibiotik

D. Cara Kerja

E. Hasil Pengamatan
Media dengan kadar larutan stok berbeda

Larutan stok 1%
Koloni Staphylococcus aureus: Ada
Koloni Escherichia coli: Ada

Larutan stok 0,5%


Koloni Staphylococcus aureus: Ada
Koloni Escherichia coli: Ada

Larutan stok 0,25%


Koloni Staphylococcus aureus: Ada

Larutan stok 0,125%


Koloni Staphylococcus aureus: Ada

Koloni Escherichia coli: Ada

Koloni Escherichia coli: Ada

Larutan stok 0,0625%


Koloni Staphylococcus aureus: Ada
Koloni Escherichia coli: Ada
Media Kontrol

Kontrol pelarut (terdapat koloni

Kontrol positif (tidak terdapat koloni

bakteri yang hidup)

bakteri yang hidup)

F. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar hambatan minimum (KHM)
dan kadar bunuh minimun (KBM) dari suatu sampel terhadap mikroba uji. Metode
yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode dilusi padat. Sampel yang
difunakan adalah minyak atsiri dari jeruk purut.

Ekstrak jeruk purut adalah ekstrak yang didapatkan dari jeruk purut yang dapat
diperoleh dengan melakukan penyulingan. Jeruk purut adalah salah satu anggota suku
jeruk-jerukan, Rutacea, dari jenis Citrus. Nama latinnya adalah Citrus hystrix.
Buahnya tidak umum dimakan, karena tak enak rasanya. Banyak mengandung asam
dan berbau wangi agak keras. Tinggi pohonnya antara 2-12 meter. Batangnya agak
kecil, bengkok atau bersudut dan bercabang rendah. Batang yang telah tua berbentuk
bulat, berwarna hijau tua, polos atau berbintik-bintik. Daun jeruk purut berwarna hijau
kekuningan dan berbau sedap. Bentuknya bulat dengan ujung tumpul dan bertangkai.
Tangkai daun bersayap lebar, sehingga hampir menyerupai daun. Daun ini banyak
dipakai untuk bumbu masakan. Buah jeruk purut lebih kecil dari kepalan tangan,
bentuknya seperti buah pir, tetapi banyak tonjolan dan berbintil. Kulit buahnya tebal
dan berwarna hijau. Buah yang matang benar berwarna sedikit kuning. Warna daging
buahnya hijau kekuningan, rasanya sangat masam dan agak pahit (Anonim,2012).
Jika daun jeruk purut itu disuling, dihasilkan minyak atsiri yang dari tidak
berwarna (bening) sampai kehijauan (tergantung cara ekstraksi), minyak atsiri berbau
harum mirip bau daun (jeruk purut). Minyak atsiri hasil destilasi (penyulingan)
menggunakan uap mengandung 57 jenis komponen kimia. Yang utama dan terpenting
adalah sitronelal dengan jumlah 81, 49%, sitronelol 8,22%, linalol 3,69% dan geraniol
0,31%. Komponen lainnya ada dalam jumlah yang sedikit (Anonim,2012).
Pada praktikum kali ini menggunakan medium Nutrient Agar atau NA.
Medium NA merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, media
ini dipanaskan agar mencair, kemudian sedikit didinginkan sehingga suhunya kirakira 40-500C. Pendinginan ini dilakukan untuk mendapatkan suhu yang ideal sehingga
agar tidak mengeras namun tidak terlalu panas yang mengakibatkan kematian koloni
yang akan dibiakkan. Kegunaan dari nutrient agar adalah untuk kultivasi dan
perawatan sebagian besar dari mikroorganisme. Komposisi dari nutrient agar adalah
agar sebanyak 2 gram dan ekstrak kaldu sebanyak 1 gram. Pada praktikum yang
dilakukan, digunakan nutrient agar yang dibuat secara instan, begitu pula dengan
nutrient broth.
Sifat-sifat yang digunakan untuk faktor pertumbuhan yaitu harus mudah
tumbuh, media harus dibuat, pertumbuhan bakteri harus khas dan mempunyai sifat-

sifat yang diinginkan. Jika sifat ini dipenuhi, maka pertumbuhan bakteri akan bagus
(Pelczar,2008).
Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini sampel yang mengandung
minyak atsiri yang dibuat dalam 5 seri pengenceran sehingga diperoleh sampel uji
dengan kadar berbeda yaitu 1%, 0.5%, 0.25%, 0.125% dan 0.625%.
Pertama-tama disiapkan 6 buah eppendorf. Dibuat larutan stok dengan
mencampurkan 20% v/v minyak atsiri sebanyak 200 l dalam 800 l DMSO.
Kemudian dibuat sampel uji yang mengandung 2% v/v minyak atsiri dengan
mencampurkan 150 l larutan stok dan ditambah dengan 1350 l aquadest steril.
Sedangkan untuk membuat sampel uji yang mengandung 1% v/v minyak atsiri,
diambil 750 l dari sampel uji 2% v/v miyak atsiri tersebut dan diencerkan dengan
750 l aquadest steril. Dengan cara yang sama, dibuat sampel uji dengan kadar 0.5%,
0.25%, 0.125% dan 0.625%.
Selanjutnya dibuat kontrol pelarut dengan mencampurkan 100 l DMSO dan
900 l aquadest steril. Dibuat juga kontrol positif dengan menimbang 25 mg
antibiotik dan dicampu dengan 1000 l aquadest steril.
Langkah selanjutnya adalah disiapkan 8 buah cawan petri. Pada bagian luar
masing-masing cawan tersebut diberi label dan dibagi menjadi dua bagian dengan
digaris menggunakan spidol. Setelah itu, dari masing-masing eppendorf yang berisi
hasil pengenceran minyak diambil sebanyak 1 ml tiap seri pengenceran minyak dan
dituang ke petri. Kemudian sebanyak 10 ml nutrien agar yang telah dicairkan,
ditambahkan ke dalam petri dan petri digoyang hingga homogen dan dibiarkan
memadat. Hal yang sama dilakukan pada kontrol pelarut dan kontrol positif. Untuk
kontrol media, dituangkan 10 ml nutrient agar ke dalam cawan petri dan dibiarkan
memadat.
Setelah nutrien agar memadat, pada tiap cawan petri tersebut (kecuali kontrol
media) digoreskan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada bagian
yang sudah dibagi tadi. Penggoresan bakteri dilakukan dengan teknik aseptis dan
digunakan ose bulat dalam penggoresannya. Kemudian cawan petri ditutup dan
diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam.

Pada pengamatan terhadap kelima cawan petri dengan seri kadar yang
berbeda-beda didapatkan hasil pada kelima cawan petri terdapat koloni bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Dari hasil pengamatan, diketahui KHM
ditujukan pada media dengan kadar 1%.
Salah satu kelemahan percobaan dengan metode dilusi padat ini adalah tidak
dapat dibedakan antara zona penghambat pertumbuhan bakteri (KHM) dan zona
bunuh bakteri (KBM).
G. Kesimpulan
1. Metode uji antimikroba yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode dilusi
padat.
2. Media NA (Nutrient Agar) sebagai media pertumbuhan bakteri yang baik.
3. Pengujian dilakukan pada bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus.
4. Pada percobaan ini, KHM ditujukan pada media dengan kadar 1%. Akan tetapi,
zona hambat dan zona bunuh pada bakteri sulit dibedakan.
H. Daftar Pustaka
Anonim, 2012, Minyak Atsiri dari Daun Jeruk Purut: Proses
Penyulingan dan Ekstraksi, www.artikelkimia.com, diakses
tanggal 20 Maret 2015.
Erna dkk., 2015, Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Farmasi,
Laboratorium Mikrobiologi Farmasi UGM, Yogyakarta.
Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 1984, Mikrobiologi Kedokteran, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S., 1986, Dasar-dasar Mikrobiologi, UI Press, Jakarta.
Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S., 2008, Dasar-dasar Mikrobiologi, UI Press, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai