Anda di halaman 1dari 21

ASSIGNMENT

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN, ICT, & TEFL 1


Model of Teaching

ANDI RIZAL SANI


414116

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) MUHAMMADIYAH BONE
2016

Page 1

A. Model Pembelajaran (Model Of Teaching)


Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka
konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran.
Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang
relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran. Berdasarkan karakteristik dari
setiap model pembelajaran tersebut, Joyce dan Weil mengklasifikasi model-model
pembelajaran kedalam empat rumpun model.
1. Rumpun Model Pengolahan Informasi (The Information Processing
Models).
Model-model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun ini bertolak dari
prinsip-prinsip pengolahan informasi oleh manusia dengan memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara
menggali

dan

mengupayakan

mengorganisasikan

data,

jalan

serta

keluarnya

merasakan

adanya

pengembangkan

masalah
bahasa

dan
untuk

mengungkapkannya. Kelompok model ini menekankan pada peserta didik agar


memilih kemampuan untuk memproses informasi sehingga peserta didik yang
berhasil dalam belajar adalah yang memiliki kemampuan dalam memproses
informasi. Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat beberapa model
pembelajaran, yaitu:
a. Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
Model pembelajaran pencapaian konsep dikembangkan oleh Bruner
(Joyce, 2010:32). Bruner, Goodnow, dan Austin (1967) dalam Joyce (2010:125)
menyatakan bahwa pencapaian konsep merupakan proses menvariasi dan
mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan untuk membedakan contoh-contoh
yang tepat dengan contoh yang tidak tepat dari berbagai kategori.
Model pembelajaran pencapaian konsep merupakan metode yang efisien
untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu topik yang
luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium
perkembangan konsep. Model pembelajaran pencapaian konsep ini dapat
memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsepkonsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.

Page 2

Joyce (2010:128) menyatakan bahwa pengajaran konsep menyediakan


kemungkinankemungkinan untuk menganalisis proses-proses berpikir siswa
dan membantu mereka mengembangkan strategi-strategi yang lebih efektif. Dari
pernyataan Joyce tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran pencapaian
konsep menekankan pada proses mengembangkan keterampilan berpikir siswa
b. Latihan Penelitian (Inquiry Training)
Model Inquiry Training (Latihan Inkuiri) adal.ah model pembelajaran
dimana pengajar melibatkan kemampuan berpikir kritis pembelajaran untuk
menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Latihan inkuiri
bertolak dari kepercayaan bahwa agar seseorang menjadi mandiri, dituntut
metode yang dapat memberi kemudahan pada pembelajar untuk melibatkan diri
dalam penelitian ilmiah. Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan
induktif dalam menemukan pengetahuan dan berpusat pada keaktifan
pembelajar. Jadi bukan pembelajaran yang berpusat pada pengajar. Dalam model
pembelajaran ini isi dan proses peyelidikan diajarkan bersama-sama dalam
waktu yang bersamaan. Pembelajar melalui proses penyelidikan akhimya sampai
kepada isi pengetahuan itu sendiri. Jadi, tujuan umum dan model latihan inlmiri
adalah membantu peserta didik mengembangkan keterampi~an intelektual dan
keterampilan-keterampilan

lrunnya,

seperti

mengajukan

pertanyaan

dan

menemukan (mencari) jawaban yang berawal dari keingintahuan mereka (Sani


dan Syihab, 2010:17-18).
Joyce dan Weil (2009) mengemukakan pembelajaran model inquiry
training memiliki 5 langkah pokok:
1) Menghadapkan pada masalah:

menjelaskan

prosedur

penelitian,

menjelaskan perbedaan- perbedaan.


2) Pengumpulan data (Verifikasi): memverifi- kasi hakikat objek dan
kondisinya memve- rifikasi peristi\w. dari keadaan permasalahan.
3) Pengumpulan data (Eksperimentasi): memi- sahkan variabel yang relevan,
menghipotesiskan (serta menguji) hubungan kausal.
4) Mengolah, memformulasikan suatu penjelasan: memformulasikan aturan
dan penjelasan.
5) Analisis proses

penelitian:

menganalisis

mengembangkan yang paling efektif


c. Berpikir induktif (Inductive Thinking)

strategi

penelitian

dan

Page 3

Taba dalam Purwanto (2012) model pembelajaran berpikir induktif


sebenarnya merupakan pembawaan sejak lahir dan keberadaannya sudah absah.
Ia hadir sebagai suatu revolusioner, mengingat sekolah-sekolah saat ini telah
memutuskan untuk mengajar dalam corak yang tidak absah dan sering
merongrong kapasitas bawaan sejak lahir.
Model belajar berfikir induktif (inductive thinking) sangat diperlukan
dalam

kegiatan

kemampuan

akademik.

Berfikir

untuk menganalisa

induktif

(inductive thinking) adalah

informasi dan membangun konsep umumnya

dianggap sebagai keterampilan pemikiran mendasar. Bahkan jika pembelajaran


konsep tidak begitu kritis dalam perkembangan pemikiran, organisasi informasi
yang

begitu

fundamental

dalam

ranah

kurikulum.

Dengan

demikian,

pemikiran induktif akan menjadi model yang sangat penting untuk belajar dan
mengajar mata pelajaran sekolah.
d. Pemandu Awal (Advance Organizer)
Advance organizer adalah suatu rencana pembelajaran yang digunakan
untuk menguatkan struktur kongnitif siswa ketika mempelajari konsep- konsep
atau informasi yang baru dan bagaimana sebaiknya pengetahuan itu disusun
serta dipahami dengan benar. Advance organizer merupakan suatu pendekatan
dalam pembelajaran untuk menyiapkan siswa melihat kebermaknaan konsep
yang akan dipelajari dan menghubungkan dengan konsep yang sudah dimiliki
(Hansiswany, 2000). Pembelajaran menggunakan advance organizer dapat
membuat belajar bersifat hafalan menjadi bermakna dengan cara menjelaskan
hubungan konsep baru dengan konsep relevan yang ada dalam struktur kognitif
siswa, agar siswa dapat memahami konsep lebih efektif dan efisien. Untuk
memahami konsep agar efektif dan efisien diperlukan perencanaan pembelajaran
sistematis agar proses pembelajaran menjadi bermakna. Jadi proses belajar tidak
sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, namun berusaha
menghubungkan konsep-konsep itu untuk menghasilkan pemahaman yang utuh,
sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan mudah diingat
(Rahayu. S, Widodo, A. T, & Supartono, 2015:498).
2. Rumpun Model Personal (Personal Models)
Rumpun model personal bertolak dari pandangan kedirian atau selfhood dari
individu. Proses pendidikan sengaja diusahakan yang memungkinkan seseorang

Page 4

dapat memahami diri sendiri dengan baik, sanggup memikul tanggung jawab untuk
pendidikan dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Penggunaan model-model pembelajaran dalam rumpun personal ini lebih
memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan
kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan
bertanggung jawab atas tujuannya. Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat
beberapa model pembelajaran, yaitu:
a. Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
Menurut John B. Caroll model pembelajaran yang dapat menghasilkan
aspek afektif siswa adalah model pembelajaran non directive. Model
pembelajaran non-directive adalah model pembelajaran yang berpusat pada
siswa, guru berperan sebagai fasilisator. Guru membantu siswa menggali ide
atau

pemikiran

mereka

tentang

materi

pembelajaran.

Dengan

model

pembelajaran non directive siswa dapat menemukan pemahaman tentang materi


pembelajaran melalui proses diskusi dan tanya jawab yang pada akhirnya siswa
memiliki kesadaran diri dan dapat membangun diri kearah yang lebih positif.
Senada dengan hal diatas Joyce (1992) menyatakan bahwa model pembelajaran
non directive mempunyai nurturant effect/hasil, : kesadarn diri dan konsep diri
siswa. Dengan demikian model pembelajaran ini tepat untuk menumbuhkan
kesadaran siswa terhadap nilai-nilai akhlak yang mulia. Melihat pendapat Joyce
di atas maka dapat diasumsikan bahwa model pembelajaran non directive dapat
meningkatkan aspek afektif siswa terhadap nilai-nilai akhlak yang mulia.
b. Model Sinektik (Synectics Model)
Gordon (dalam Joyce 2011:252) menggagas sinektik berdasarkan empat
gagasan yang sekaligus juga menyaingi pandangan-pandangan konvensional
tentang kreativitas. Pertama, karena kreativitas penting dalam kehidupan seharihari. Kedua, proses kreatif tidak selamanya serius. Ketiga, penemuan yang
dianggap inovasi atau kreatif sama rata di semua bidang seni, sains, teknik, dan
ditandai oleh proses intelektual yang sama. Keempat, bahwa penemuan (pola
pikir kreatif) individu maupun kelompok tidak berbeda. Melalui aktivitas
metaforis dalam model sinektetik, kreativitas menjadi proses yang dapat
dijalankan

secara

sadar.

Metafora-metafora

membangun

hubungan

Page 5

perumpamaan,perbandingan satu objek atau gagasan dengan objek atau gagasan


lain, dengan cara menukarkan posisi keduanya.
Melalui substitusi ini, proses kreatif muncul, yang dapat menghubungkan
sesuatu yang familiar dengan yang tidak familiar atau membuat gagasan baru
dari gagasan-gagasan yang biasa. Terdapat dua strategi atau model pengajaran
yang didasarkan pada prosedur-prosedur sinektik. Salah satunya adalah
membuat sesuatu yang baru (creating something new), dirancang untuk
membuat hal-hal yang familiar menjadi asing, untuk membantu siswa melihat
masalah-masalah, gagasan-gagasan, dan hasil-hasil yang lama dengan cara yang
baru, pandangan yang lebih kreatif. Sedangkan strategi yang lain yaitu membuat
yang asing menjadi familiar (making the strange familiar), dirancang untuk
membuat gagasan-gagasan yang baru dan tidak familiar menjadi bermakna.
c. Latihan Kesadaran (Awareness Training)
Model ini merupakan suatu model pembelajaran yang ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran manusia. Model ini dikembangkan oleh Milliam
Schutz. la menekankan pentingnya pelatihan interpersonal sebagai sarana
peningkatan kesadaran pribadi (pemahaman diri individu).
Mengapa demikian? Karena ia percaya bahwa ada empat tipe
perkembangan yang dibutuhkan untuk merealisasikan potensi individu secara
utuh, yaitu: (1) fungsi tubuh, (2) fungsi personal, termasuk di dalamnya akuisisi
pengetahuan dan pengalaman, kemampuan berpikir logis dan kreatif dan
integrasi intelektual, (3) perkembangan interpersonal, dan (4) hubungan
individu dengan institusi-institusi sosial, organisasi sosial dan budaya
masyarakat.
d. Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)
Model ini diciptakan berdasarkan terapi realitas yang dipelopori oleh
William Glasser. Model pertemuan kelas ini bertolak dari pandangan psikologis,
yang berasurnsi bahwa kekacauan psikologis yang dialami seseorang karena
adanya kegagalan memfungsikan diri dalam lingkungan sosialnya (kegagalan
fungsi sosial). Ia percaya bahwa setiap manusia mempunyai dua kebutuhan dasar
yaitu cinta dan harga diri. Kebutuhan-kebutuhan vital psikologis manusia yang
paling esensial ialah mencintai dan dicintai. Ketidakpuasan dalam hal cinta ini
menimbulkan berbagai sindrom seperti gejala takut tanpa alasan, depresi, dan

Page 6

sebagainya. Terapi gangguan psikologis ini tidak bisa dilakukan secara individu
oleh psikiater, tetapi harus melaului konteks kelompo sosial, seperti di dalam
kelas atau sekolah. Di dalam kelas cinta itu menjelma dalam bentuk
tanggungjawab sosial, yaitu suatu tanggung jawab untuk membantu individuindividu lainnya. Jadi model pertemuan kelas adalah model pembelajaran yang
ditujukan untuk membangun suatu kelompok sosial yang saling menyayangi,
saling menghargai, mempunyai disiplin diri, dan komitmen untuk berprilaku
positif.
Pendidikan dalam hal ini ialah pendidikan akan tanggung jawab sosial.
Pendidikan untuk tanggung jawab sosial ini mencakup berpikir, pernecahan
masalah, dan pengambilan keputusan baik sebagai individu maupun kelompok
tentang pokok-pokok yang berkaitan dengan siswa itu. menurut Glasser terdapat
3 (tiga) tipe perternuanjd kelas itu yakni sebagai berikut: (1) perternuan
pemecahan masalah, (2) pertemuan open-ended, (3) perternuan diagnosis
pendidikan. Ketiga tipe tersebut di atas masing-masing berbeda fokusnya. tipe
pertemuan pernecahan masalah menyangkut diri sendiri dengan masalah
tingkahlaku dan masalah social, tetapi dapat pula mengenai persahabatan,
kesendirian dan pilihan jurusan.
3. Rumpun Model Interaksi Sosial (Social Models)
Penggunaan rumpun model interaksi sosial ini menitik beratkan pada
pengembangan kemampuan kerjasama dari para siswa. Model pembelajaran rumpun
interaksi sosial didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu (a) masalah-masalah sosial
diidentifikasi dan dipecahkan atas dasar dan melalui kesepakatanm-kesepakatan yang
diperoleh di dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial, dan (b) proses
sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan masyarakat
dalam arti seluas-luasnya secara build-in dan terus menerus. Dalam rumpun model
pembelajaran ini terdapat beberapa model pembelajaran, yaitu:
a. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Group Investigation merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif
yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri
materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang
tersedia. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan

Page 7

kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai
dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran (Slavin, 2005). Metode
Group Investigation memiliki tiga konsep utama, yaitu: penelitian, pengetahuan,
dan dinamika kelompok (Winaputra, 2001). Langkah-langkah penerapan metode
Group Investigation menurut Slavin (2005) meliputi: 1) identifikasi topik dan
mengatur murid dalam kelompok, 2) pencanaan tugas yang akan dipelajari, 3)
pelaksanaan investigasi, 4) penyiapan laporan akhir, 5) presentasikan laporan
akhir, dan 6) evaluasi (Sulastri, 2014:14).
b. Bermain Peran (Role Playing)
Model ini dirancang khususnya untuk membantu siswa mempelajari nilai
nilai sosial moral dan pencerminannya dalam perilaku. Sebagai model belajar,
model ini mencoba untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial dan
berusaha

mencegah

dilemadilema

sosial

dengan

bantuan

kelompok.

Jika ditelaah dari isinya, model bermain peran lebih menitikberatkan keterlibatan
partisipasipan dan pengamat dalam situasi nyata serta berusaha mangatasinya.
Shaftel, dalam sebuah buku yang berjudul Role Playing For Social Studies
yang dibahas kembali oleh sumantri dan permanana (1998/1999) menyarankan 9
langkah penerapan role and playing didalam pembelajaran, yaitu: fase pertama
membangkitkan semangat kelomok, fase kedua pemilihan peserta, fase ketiga
menentukan area panggung, fase keempat mempersiapkan pengamat, fase
kelima pelaksanaan kegiatan, fase keenam berdiskusi dan mengevaluasi, fase
ketujuh melakukan lagi bermainperan, fase kedelapan melakukan lagi diskusi,
fase kesembilan berbagi pengalaman dan melakukan generalisasi.
c. Latihan Laboratoris (Laboratory Training)
Model pembelajaran laboratoriun training (pelatihan laboratoriun)
pertama kali dikembangkan oleh: Joice and Weil. Menurut Joice and Weil
(1986) metode laboratory training memiliki dua prinsip utama yaitu:
1) kerja kelompok; dan
2) Menekankan pengembangan empat area kepribadian
Empat area penekanan keperibadian tersebut adalah:
a) Intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi di dalam diri suatu individu
atau dengan kata lain proses komunikasi dengan diri sendiri. Terjadi proses

Page 8

komunikasi disini karena adanya seseorang yang memberi arti

terhadap

suatu objek yang diamatinya atau terbetik dalam pikirannya.


b) Interpersonal (Antar Pribadi) adalah kemampuan untuk mendengarkan dan
mengerti orang lain.
c) Dinamisasi kelompok; dan
d) Self direction.
d. Inkuiri Sosial (Social Inquiri)
Pada awalnya pembelajaran inkuiri banyak diterapkan dalam ilmu-ilmu
alam (natural science), kemudian para ahli pendidikan ilmu sosial berusaha
mengadopsinya sehingga muncullah pembelajaran inkuiri sosial. Menurut Bruce
Joyce, inkuiri sosial merupakan strategi pembelajaran dari kelompok sosial
(social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society).
Subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa metode pendidikan bertujuan
untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat
mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus
diberi pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalanpersoalan yang muncul di masyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu
akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan masyarakatnya
e. Simulation
Simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan penerapan dari
prinsip sibernetik sebagai salah satu cabang psikologi. Para ahli psikologi
sibernetik menganalogikan manusia dengan mesin yang memiliki system kendali
yang mampu membangkitkan gerakan dan mengendalikan diri sendiri. Karena
itu mereka berpendapat bahwa siswa sebagai subyek yang mampu melakukan
dan mengendalikan diri melalui mekanisme umpan balik terhadap dirinya
sendiri.
4. Rumpun Model Sistem Perilaku (Behavioral Systems)
Rumpun model system perilaku mementingkan penciptaan sistem lingkungan
belajar

yang

memungkinkan

penciptaan

sistem

lingkungan

belajar

yang

memungkinkan manipulalsi penguatan tingkah laku (reinforcement) secara efektif


sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki. Model ini memusatkan
perhatian pada perilaku yang terobservasi dan metode dan tugas yang diberikan
dalam

rangka

mengkomunikaksikan

keberhasilan. Dalam

pembelajaran ini terdapat beberapa model pembelajaran, yaitu:


a. Belajar Tuntas (Mastery Learning)

rumpun

model

Page 9

Belajar tuntas (mastery Learning) merupakan proses pembelajaran yang


dilakukan dengan sistematis dan terstruktur, bertujuan untuk mengadaptasikan
pembelajaran pada siswa kelompok besar (pengajaran klasikal), membantu
mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat pada siswa, dan berguna untuk
menciptakan kecepatan belajar (rate of program). Belajar tuntas diharapkan
mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang melekat pada pembelajaran
klasikal. Belajar tuntas dilandasi dua asumsi, pertama, bahwa adanya korelasi
antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial (bakat). John B Carrol
(Yamin 2008;215) menyatakan bahwa anak didik apabila didistribusikan secara
normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa
bidang pengajaran, kemudian siswa diberi pengajaran yang sama dan hasil nilai
yang tinggi Kedua, apabila pembelajaran dilaksanakan secara sistematis dan
terstruktur, maka semua peserta didik (siswa) akan mampu menguasai bahan
yang disajikan kepadanya.
Tujuan proses mengajar belajar secara ideal adalah agar bahan yang
dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh siswa. Ini disebut mastery learning atau
belajar tuntas, artinya penguasaan penuh. Cita cita ini hanya dapat dijadikan
tujuan apabila guru meninggalkan kurva normal sebagai patokan keberhasilan
mengajar.
b. Belajar Kontrol Diri (Learning Self Control)
Model pembelajaran kontrol diri ini termasuk ke dalam rumpun
pembelajaran behavioral atau model modifikasi tingkah laku. Nama lain dari
model ini adalah Pembelajaran Pengendalian Diri atau "Self Control Model".
Dalam proses pendidikan melibatkan tiga faktor di dalamnya, yaitu anak sebagai
peserla didik, guru atau orang tua sebagai pendidik, dan lingkungan sebagai
tempat pendidikan. Selain rnemberikan pengetahuan, guru juga memperhatikan
perilaku siswa dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dibutuhkan
kontrol diri pada dalam diri siswa untuk membentuk tingkah iaku positif dan
mengurangi tingkah laku yang negatif. Kontrol diri ini dapat diterapkan pada
sebuah model pembelajaran yang dinamakan dengan model pembelajaran
kontrol diri (Haryani. M, Jaenudin. R, & Rusmin, 2014:418).
c. Latihan Assertif (Assertive Training)

Page 10

Assertive training merupakan latihan keterampilan sosial yang diberikan


pada individu yang di ganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hakhaknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain mendorong dirinya, tidak mampu
mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung (Lutfifauzan).
Assertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang
diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan
menghargai hak-hak serta perasaan orang lain (Wahyuningsih, dkk). Corey
(1995:87) menyatakan bahwa asumsi dasar dari pelatihan asertif adalah bahwa
setiap orang mempunyai hak untuk perasaanya, pendapat, apa yang diyakini
serta sikapnya degan orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hakhak orang tersebut.
Maka Assertive Training merupakan salah satu strategi bantuan dari
pendekatan terapi perilaku yang digunakan atau direkomendasikan untuk
mengurangi dan menghilangkan gangguan kecemasan serta meningkatkan
kemempuan interpersonal individu. Latihan asertif dapat diartikan pula sebagai
salah satu teknik dalam treatmen ganguan tingkah laku dimana klien
diinstruksikan, diarahkan, dilatih, serta didukung untuk bersikap asertif dalam
menghadapi situasi yang tidak nyaman atau kurang menguntungkan bagi dirinya.
Menurut Goldstein (1986) latihan asertif merupakan rangkuman yang sistematis
dari ketrampilan, peraturan, konsep atau sikap yang dapat mengembangkan dan
melatih kemampuan individu untuk menyampaikan dengan terus terang pikiran,
perasaan, keinginan dan kebutuhannya dengan penuh percaya diri sehingga
dapat berhubungan baik dengan lingkungan sosialnya (Aruna, N. Y, Suarni, N. K
& Antari, N. M, 2014).

B. Continum Model
1. The Audio Tutorial
Audio Tutorial Methods merupakan proses belajar dengan memanfaatkan alat
bantu audiovisual sangat membantu mahasiswa untuk memahami pelajaran, dengan
peralatan audiovisual dan petunjuk pembelajaran, memungkinkan peserta didik

Page 11

bekerja mandiri. Peserta didik melihat video atau mendengarkan tape sambil
mengikuti tindakan manual, menjawab pertanyaan sebelum praktik kemudian
melakukan ketrampilan praktikum, dan akhirnya melakukan pengkajian terhadap apa
saja yang sudah dilakukan (Nursalam, 2007). Audio merupakan sarana untuk
menyampaikan informasi tentang esensi persoalan yang berkaitan dengan materi
yang akan diajarkan melalui multimedia pembelajaran. Selain itu, audio juga
merupakan unsur penarik perhatian siswa agar menyimak isi pesan yang
dikomunikasikan. Unsur audio dapat dimanfaatkan untuk memperkaya imajinasi
dengan cara menghadirkan theatre of mind agar isi materi pelajaran lebih dihayati
oleh mahasiswa (Ariasdi, 2008).
2. Personalized Intruction
Personalized Intruction adalah metode pembelajaran yang menggunakan system
modular dimana siswa dibantu oleh seorang tutor dapat berupa guru atau teman satu
kelas. Model ini semula dikembangkan oleh Keller (1986), tujuan Keller dari metode
ini adalah menyediakan siswa untuk belajar dengan bebas, jadi guru dapat
berinteraksi dengan iswa lain yang memerlukan bantuan.
Personalized System of Instructions (PSI) merupakan pembelajaran berbasis
personal atau individu siswa yang sudah dimodifikasi dengan sistem cooperative
learning. PSI merupakan pembelajaran yang menggunakan sistem modular dimana
siswa dibantu oleh seorang tutor yang dapat berupa guru atau teman satu kelasnya.
Sistem pengajaran Personalization System of Instruction (PSI) diterapkan
pada suatu pelajaran yang lengkap. Pendekatan umumnya berdasarkan pada sebuah
buku ajar dengan satuan pelajaran yang terdiri atas bacaan, pertanyaan, dan soal.
Setelah mempelajari setiap bagian bahan dan menjalankan seperangkat pertanyaan
yang berkaitan atau menyelesaikan berbagai kegiatan, siswa melaporkan kepada
pengawas atau tutor bahwa siap untuk diuji tentang bagian tertentu dari bahan ajar.
Personalized System of Instruction (PSI) dalam pelaksanaannya sudah
mencerminkan system pembelajaran individual, dengan beberapa modivikasi.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran sangat memperhatikan
perbedaan individual.
3. Goal Based Scenario
Pada pembelajaran GBS peserta tanpa dibekali dengan konsep dan teori yang
diperlukan, namun diberikan assignment dengan goal tertentu. Dalam menyelesaikan

Page 12

peserta harus mencari sendiri konsep dan teori yang diperlukan secara mandiri
maupun dengan memanfaatkan expert team yang tersedia.
Rasioanal Goal Based Scenario (GBS) adalah bahwa proses belajar orang
dewasa akan lebih efektif ketika terjadi secara aktif dibandingkan secara pasif dan
mereka akan lebih menghayati pengetahuan yang diperoleh sendiri dibandingkan
bilamana pengetahuan tersebut diterima begitu saja dari orang lain.
4. Case Based Training
Case Based Learning adalah sebuah rancangan model intruksional yang
merupakan sebuah varian dari pembelajaran berorientasi project. Case Based
Learning popular dalam dunia bisnis dan sekolah-sekolah hukum. Case Based
Learning dalam lingkup yang lebih sempit benar-benar serupa dengan problem based
learning, namun Case Based Learning lebih terbuka dalam definisi dari project based
learning. Menurut Case Based Learning, kasus adalah berita faktual, masalah yang
kompleks ditulis untuk menstimulasi diskusi kelas dan analisis kolaborasi. Kasus
diajarkan dengan melibatkan siswa agar interaktif, eksplorasi ide berpusat pada siswa
dan situasi yang spesifik.
5. Anchored Instruction (AI)
Model pembelajaran AI secara umum mirip dengan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL). Namun keduanya tetap memiliki perbedaan, dalam
PBL siswa diharapkan melakukan dan mencari sumber informasi yang terkait dalam
pembelajaran sendiri. Sedangkan model pembelajaran AI mempunyai tipe
menempelkan semua informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah dalam
bentuk anchor (dapat berupa video atau teknologi multimedia interaktif lain) yang
telah disajikan, menekankan pada penggunaan multimedia (terutama yang bersifat
visual) dalam penyajian anchor, memberikan kemudahan mengatur pembelajaran
dengan waktu dan sumber pembelajaran yang terbatas. Model AI juga
memungkinkan siswa dan guru untuk saling berbagi perspektif dari suatu
pengalaman secara kooperatif. Sehingga model pembelajaran AI merupakan salah
satu model yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam lingkungan belajar
berbasis masalah.

6. Cooperative Learning

Page 13

Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran


dimana para siswa bekerja dalam kelopmpok-kelompok kecil untuk saling membantu
satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran. Dalam metode
pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang
beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru.

7. Problem Based Learning


Problem Based Learning merupakan pembelajaran berangkat dari sebuah kasus
tertentu dan kemudian dianalisis lebih lanjut guna ditemukan pemecahan
masalahnya. Dalam hal ini kemampuan pemecahan masalah dapat menjadi
kompetensi yang diharapkan dan juga merupakan alat ukur sejauh mana kompetensi
individu mampu menyelesaikan persoalan yang ada.

8. Learning Environment
Model environmental learning merupakan model pembelajaran berbasis
lingkungan yang dikembangkan agar siswa memperoleh pengalaman lebih berkaitan
dengan lingkungan sekitar. Ali (2010:26) menyatakan bahwa, Model environmental
learning adalah model pembelajaran yang mengedepankan pengalaman siswa dalam
hubungannya dengan alam sekitar, sehingga siswa dapat dengan mudah memahami
isi materi yang disampaikan. Artinya, model pembelajaran environmental learning
ditujukan agar siswa dapat memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Model environmental learning digunakan dengan tujuan agar siwa dapat
dengan mudah berinteraksi dengan bahan pelajaran yang telah disusun dan
disesuaikan dengan model pembelajaran. Bahan pembelajaran yang disajikan kepada
siswa disusun dengan melibatkan lingkungan sekitar. Artinya, pembelajaran bisa
dilakukan tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas dengan tujuan agar
siswa lebih nyaman dan aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran
berbasis lingkungan ini menerapkan sistem permainan dan belajar di luar kelas.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model environmental learning yaitu isi
dan prosedur pembelajaran harus sesuai dengan lingkungan pembelajar, pengetahuan
yang diberikan harus memberikan jalan keluar dalam menanggapi lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa model
environmental learning merupakan model pembelajaran berbasis lingkungan yang
bertujuan agar siswa dapat memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Penggunaan

Page 14

model pembelajaran ini dapat dilakukan dengan sistem belajar di luar kelas agar
siswa memiliki pengalaman lebih dan proses pembelajaran bisa menyenangkan.

9. Free Discovery Learning


Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund discovery adalah
proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip.
Proses mental tersebut ialah mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan,
membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya
(Roestiyah, 2001:20).
Sedangkan menurut Jerome Bruner penemuan adalah suatu proses, suatu
jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item
pengetahuan tertentu. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan
penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan
dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat
mencari jalan pemecahan (Markaban, 2006:9).
Model pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang
menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran
dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang
mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan
semacamnya.
C. Teori Belajar
Teori belajar merupakan kumpulan prinsip umum yang saling berhubungan dan
penjelasan atas sejumlah fakta serta penemuan yang berkaitan dengan peristiwa
belajar.
1. Behaviorism
Menurut teori behavioristik, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang
dapat diamati secara langsung, yang terjadi melalui hubungan stimulus-stimulus dan
respon-respon menurut prinsip-prinsip mekanistik (Dahar, 1988: 24). Para penganut
teori ini berpendapat bahwa sudah cukup bagi siswa untuk mengasosiasikan
stimulus-stimulus dan respon-respon yang diberi reinforcement apabila ia
memberikan respon yang benar. Mereka tidak mempersoalkan apa yang terjadi dalam
pikiran siswa sebelum dan sesudah respon dibuat.

Page 15

Behavioris berkeyakinan bahwa setiap anak manusia lahir tanpa warisan


kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan dan warisan yang bersifat abstrak
lainnya (Syah, 2004: 104) dan menganggap manusia bersifat mekanistik, yaitu
merespon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas dan mempunyai peran
yang sedikit terhadap dirinya sendiri. Dalam hal ini konsep behavioristik memandang
bahwa perilaku individu merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan
memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar dan didukung dengan
berbagai penguatan (reinforcement) untuk mempertahankan perilaku atau hasil
belajar yang dikehendaki
(Sanyata, 2012: 3). Semuanya itu timbul setelah manusia mengalami kontak dengan
alam dan lingkungan sosial budayanya dalam proses pendidikan. Maka individu akan
menjadi pintar, terampil, dan mempunyai sifat abstrak lainnya tergantung pada
apakah dan bagaimana ia belajar dengan lingkungannya (Rusuli. I, 2014:41).
2. Cognitivism
Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan
manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting
dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia
pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses
belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang
baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan keterampilan.
Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar
aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristik menekankan
pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar
adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam
tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121)
bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan
suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh
Winkel (1996: 53) bahwa Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-

Page 16

perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan


itu bersifat secara relatif dan berbekas.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses
usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai
akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu
perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan
nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih
cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasilnya tidak
dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Berikut adalah
beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif:
Menuru teori belajar kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku
dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat
perkembangan dan pemahamannya atas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki
kepercayaan, ide-ide dan prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya.
Teori kognitif berasal dari teori kognitif dan teori psikologi. Aspek kognitif
mempersoalkan bagaimana seseorang memperoleh pemahaman mengenai dirinya
dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar.
Sedangkan aspek psikologis membahas masalah hubungan atau interaksi antara
orang dan lingkungan psikologisnya secara bersamaan. Psikologi kognitif
menekankan pada penting proses internal atau proses-proses mental.
3. Humanism
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya
sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha
memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya. Peran guru dalam teori ini adalah sebagai fasilitator bagi para siswa
sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna kehidupan siswa.
Guru mamfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk

Page 17

memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha


agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik- baiknya. Siswa
berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya
sendiri. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada dalam diri mereka
D. Model Of Teaching
Model Of Teaching
Personal
Sosial

Information

Processing
Concept

Non Directive

Attainment
Advance

Teaching
Awareness

Organizer
Inquiry
Training
Inductive

Training
Classroom
Meeting
Synectic

Behavior System

Role Playing
Social Inquiry
Group

Investigation
Laboratory

Training
Simulation

Latihan Assertif
(Assertive
Training)
Learning Self
Control
Mastery
Learning

Thinking

Top-down
The Audio Tutorial

Continum Model
Social
Case Based Training

Bottom-up
Problem Based Learning

Page 18

Awareness Training
Learning Self
Control
Anchored Instruction

Personalized Instruction

Simulation
Goal Based Scenario

Laboratory Training
Cooperative Learning

Advance Organizer
Social Inquiri
Assertive Training

Group Investigation
Role Playing
Mastery Learning

Behaviorism
Personalized

Instruction
Learning Environment
Cooperative Learning

Cognitivism
The audio tutorial
Problem based

learning
Free discovery

learning
Anchored
Instruction

Concept Attainment
Inquiri Training
Inductive Thinking
Learning Environment

Classroom Meeting
Free Discovery Learning

Non Directive

Teaching
Synectic

Humanism
Case based training
Goal based scenario

Page 19

DAFTAR PUSTAKA

Ariyanti, D. L. 2015. Model Pembelajaran Inovatif Beradu Pantun Sebagai Upaya


Meningkatkan Kreatifitas Memproduksi Teks Pantun Dalam Pembelajaran
Bahasa

Indonesia

Sma/

Smk.

Seminar Nasional Pendidikan Bahasa Indonesia. Pp.224-225, ISSN: 2477


636X.
Damanik. E. 2015. Klasifikasi Model Pembelajaran Menurut Bruce Joyce dan
Marsha

Weil.

http://ariplie.blogspot.co.id/2015/03/klasifikasi-model-

pembelajaran-menurut.html. Diakses pada tanggal 3 April 2016.


Alfarabi.

2015.

Model

Pembelajaran

Pencapaian

Konsep.

http://fisikawansastra.blogspot.co.id/2015/04/model-pembelajaran-pencapaiankonsep.html. Diakses pada tanggal 3 April 2016.


Sani, R. A. & M. Zainul Abidin T. Syihab. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran
Inquiry Training (Latihan Inkuiri) Terhadap Penguasaan Konsep Fisika Siswa
Kelas X Sma Negeri 1 Tanjung Beringin. Jurnal Penelitian Inovasi
Pembelajaran Fisika. Vol. 2, No. 2, Pp. 16-17. ISSN 2085-5281.
Rahayu. S, Widodo, A. T, & Supartono. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran
Advance Organizer Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa.
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia. Vol. 4, No. 1, Pp. 498.
Jihan. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Non Directive Aqidah Akhlak Dan
Lingkungan Sekolah Terhadap Aspek Afektif Siswa Di Mts. Nurul Huda
Munjul Kabupaten Cirebon. Tesis Pendidikan Islam.
Retno.

2013.

Model

Pembelajaran

Inductive

Thinking.

http://retnoayuse.blogspot.co.id/2013/01/model-pembelajaran-inductivethinking.html. Diakses pada tanggal 4 April 2016.


Sulastri. 2014. Pembelajaran Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup dengan
Model Pembelajaran Group Investigation untuk SMA/MA. Jurnal Pendidikan
Sains. Vol. 2, No. 1, Pp. 14, ISSN: 2338-9117.

Page 20

Haryani. M, Jaenudin. R, & Rusmin. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Kontrol


Diri Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA
Negeri 8 Palembang. Jurnal Forum Sosial. Vol. 7, No. 1, Pp. 418.
Aruna, N. Y, Suarni, N. K & Antari, N. M. 2014. Efektivitas Konseling Behavioral
Teknik Assertive Training Untuk Meminimalisasi Perilaku Menyimpang Pada
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Singaraja Tahun Pelajaran 2013/2014. EJournal Undiksa Jurusan Bimbingan Konseling. Vol. 2, No. 1.
Moengil.

N.

2008.

Manfaat

Audio

Tutorial.

http://wickreognursing.blogspot.co.id/2008/11/manfaat-audio-tutorialbagi.html. Diakses pada tanggal 04 April. 2016.


Tan.

JR.

2012.

Model

Environmental

Learning.

http://smartcriminal.blogspot.co.id/2012/09/model-environmentallearning.html. Diakses pada tanggal 04 April 2016.


Edu.

2016.

Model

Pembelajaran

Discovery

Learning.

https://www.academia.edu/6644958/model_pembelajaran_discovery_learning.
Diakses pada tanggal 04 April 2016.
Rusuli. I. 2014. Refleksi Teori Belajar Behavioristik Dalam Perspektif Islam. Jurnal
Pencerahan. Vol. 8, No. 1, Pp. 41, ISSN: 1693 7775.
Robert.

2012.

Konsep

Dasar

Teori-teori

Belajar.

rober.blogspot.co.id/2012/01/konsep-dasar-teori-teori-belajar.html.

http://robertDiakses

pada tanggal 04 April 2016.


Slavin, R. E. 2010. Cooperative Learning (Teori, Riset, dan Praktis). Bandung. ISBN.
979-1305-10-5.