Anda di halaman 1dari 17

PERBEKALAN

STERIL
STERILISASI dengan PENAMBAHAN ZAT KIMIA

Pengertian Sterilisasi
Sterilisasi adalah proses atau kegiatan membebaskan suatu
bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan (termasuk
virus).
Menurut Hogg (2005), secara teoritis dampak sterilisasi
terhadap jumlah mikroorganisme yang homogen yaitu akan
mematikannya secara eksponensial dengan kecepatan yang
seragam.

STERILISASI
dengan
PENAMBAHAN
BAHAN KIMIA

Pengertian
Sterilisasi secara kimia yaitu memaparkan alat atau bahan
yang mengandung mikroba terhadap suatu senyawa kimia
sehingga dengan suatu reaksi tertentu dapat membunuh
atau menghentikan pertumbuhan mikroba tersebut tanpa
merusak bahan atau alat yang disterilisasi.

Faktor yang Mempengaruhi

Jumlah mikroorganisme. Semakin besar jumlah


kontaminan maka semakin lama waktu sterilisasi.

Keadaan populasi mikroorganisme. Seringkali


kontaminan yang harus dimusnahkan bukan satu
spesies, melainkan campuran bakteri, jamur, spora
dan virus sehingga membutuhkan spektrum bahan
antimikroba yang luas.

Temperatur dan pH dari lingkungan

Konsentrasi (dosis) senyawa antimikroba

Cara senyawa antimikroba dalam membunuh (mode


of action)

Adanya pelarut, senyawa organik lain yang

Faktor diatas dapat digambarkan pada grafik berikut:

Pengaruh waktu terhadap kematian mikroorganisme

Pengaruh jumlah mikroorganisme terhadap kematian mikroorganisme

Pengaruh jenis mikroorganisme (spora dan sel vegetatif) terhadap


kematian mikroorganisme

Grafik pengaruh penambahan agen antimikroba, apakah bersifat


membunuh atau menghambat.

ISO7128 (2007:28) menyarankan menggunakan chlorinbased products, alcohols, quatenary ammonium


compounds sebagai agen dekontaminasi dengan
konsentrasi yang sesuai dan waktu kontak yang cukup.

Alkohol
Alkohol lebih efisien dalam mematikan mikroorganisme
pada konsentrasi di bawah 100%. Dengan adanya air
bercampur alkohol maka denaturasi protein lebih mudah
terjadi (seperti halnya uap panas lebih efisien dibanding
panas kering). Konsentrasi yang sering digunakan untuk
disinfektan adalah 70%. Selain mendenaturasi protein,
alkohol juga dapat melarutkan lemak sehingga berpengaruh
terhadap membran sel dan kapsul beberapa jenis virus. Sel
vegetatif dan hifa dapat dimatikan dengan alkohol, namun
spora seringkali resisten. Alkohol juga dapat digunakan
sebagai pelarut disinfektan lain, seperti iodine yang dapat
meningkatkan efektivitas disinfeksinya.

Halogen
Salah satu jenis halogen adalah klorin. Klorin efektif
sebagai disinfeksi dalam bentuk gas bebas dan sebagai
senyawa pelepas klorin seperti chlorite dan chloramines.
Gas klorin (compressed) umumnya digunakan sebagai
disinfektan pada pengolahan air, kolam renang atau untuk
keperluan industri. Bentuk senyawa klorin lainnya adalah
Sodium hypochlorite (bleach) yang dapat mengoksidasi
gugus suphydryl (-SH) dan disulphide (S-S) pada protein.

Seperti klorin, hipoklorit dapat diinaktivasi dengan keberadaaan materi


organik. Senyawa lain yang lebih stabil yaitu chloramines yang memiliki
keunggulan lebih tahan terhadap bahan organik. Chloramines juga lebih tidak
beracun dan mampu melepas klorin secara perlahan sehingga memperpanjang
eefk bakterisidal disinfektan ini. Jenis halogen lain adalah iodine. Daya kerja
iodine adalah berekasi dengan residu tirosin pada protein. Efek disinfeksi
iodine dapat ditingkatkan dengan melarutkannya pada etanol 70% (iodine 1%
+ etanol 70%).

Senyawa fenol
Senyawa fenol memiliki gugus asam karboksilat yang bersifat mematikan
dengan daya kerja merusak protein dan membran. Salah satu keuntungan
menggunakan senyawa fenol adalah tetap aktif walaupun terdapat senyawa
organik dan detergen. Disinefktan seperti Dettol, Lysol, dan Chlorhexidine
adalah derivatif dari senyawa fenol. Dalah satu senyawa fenol bernama
Hexachlorophene sangat efektif membunuh bakteri gram positif seperti
staphylococci atau streptococci sehingga digunakan sebagai salah satu bahan
pembuatan sabun, deodoran, dan shampoo.

Surfaktan
Molekul surfaktan atau surface active agent seperti sabun dan detergen
memiliki kemampuan memposisikan dirinya sendiri sejajar di antara dua
lapisan. Dengan sifat ini maka bahan tidak larut air akan dilingkupi oleh
molekul surfaktan. Sabun ataupun detergen lebih berguna untuk
memfasilitasi pemindahan kotoran dan mikroorganisme dibandingkan dengan
sifat disinfektannya. Pemindahan kotoran dapat terjadi karena bahan tidak
larut air seperti sekret minyak pada kulit dan kotoran akan dilarutkan
(emulsifying) pada air sehingga dapat dibasuh dan dibuang. Detergen dapat
berupa anionik (bermuatan negatif), kationik (bermuatan positif) atau nonionik. Detergen kationik seperti quartenery ammonium compounds (senyawa
ammonium kuartener) dapat melisiskan sel dengan berkombinasi terhadap
fosfolipid membran sel dan merusaknya.

Ethylene oxide
Pada umumnya pendedahan secara kimia seperti contoh di atas adalah hanya
bersifat disinfeksi. Namun, jika menggunakan gas etilen oksida maka baik sel
vegetatif, spora dan virus dapat dimusnahkan sehingga istilah yang digunakan
adalah sterilisasi. Gas etilen oksida umumnya dipakai untuk sterilisasi
peralatan kedokteran dalam jumlah dan material yang tidak tahan panas
seperti plastik. Sedangkan pada industri pangan, gas ini digunakan sebagai
zat antifungi fumigant untuk buah-buahan kering, bawang dan kacang. Bahan
yang akan disterilisasi ditempatkan ke dalam wadah tertutup kemudian diisi
gas dengan udara lembab pada suhu 40-500C selama beberapa jam. Etilen
oksida sangat mudah terbakar dan penggunaannya dapat dengan
mencampurkan 10% gas ini ke dalam gas lain yang tidak mudah terbaar
seperti karbondioksida. Bahan yang telah disterilisasi menggunakan gas etilen
oksida harus dibasuh dengan udara segar untuk menghilangkan gas ini karena
sangat toksik. Cara kerja gas etilen oksida membunuh mikroorganisme adalah
dengan mendenaturasi protein dengan memindahkan hidrogen labil seperti
pada gugus sulfihidril dengan hydroxyl ethyl radical.

Senyawa detergen,
senyawa klorin,
senyawa fenol dan
etilen oksida (Hogg,
2005:344-347)

Daftar Pustaka
ISO

(International Standard Organization). 2007. ISO


7218:2007 (E) Microbiology of Food and Animal
Feeding Stuffs general requirements and
guidance for microbiological examinations.

Hogg, Stuart. 2005. Essential Microbiology. Chicester: John


Wiley and Sons, Ltd.
Talaro, KP dan A Talaro. 2002. Foundation in Microbiology.
Ed IV. McGraw Hill Companies.

TERIMA KASIH