Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Diare secara epidemiologik biasanya didefinisikan sebagai buang air besar

(defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair yang berlangsung lebih dari
3 kali dalam 24 jam. Sangat penting untuk mengetahui istilah ini apabila
menanyakan apakah anak menderita diare. Bayi yang mendapatkan ASI penuh
biasanya mengeluarkan tinja beberapa kali tinja yang lunak atau agak cair setiap hari.
Untuk hal tersebut, lebih praktis mendefinisikan diare sebagai meningkatnya
frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal
oleh ibunya.
Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan
konsistensi cair dan berlangsung 3-5 hari. Biasanya disertai gejala lain yaitu :
anoreksia, panas, muntah atau kembung.
Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di
negara berkembang, dengan perkiraan 3,2 juta kematian tiap tahun pada balita.
Secara keseluruhan anak-anak ini mengalami rata-rata 3,3 episode diare per tahun,
tetapi di beberapa tempat dapat lebih dari 9 episode per tahun. Sekitar 80% kematian
yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab
utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan
elektrolit melalui tinjanya.
Diare adalah penyebab penting kekurangan gizi. Ini disebabkan karena
adanya kehilangan selera makan pada penderita diare sehingga dia makan lebih

sedikit daripada biasanya dan kemampuan absorbsi makanan juga berkurang.


Padahal kebutuhannya meningkat akibat dari infeksi.
Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah /
menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa,
kemungkinan terjadinya intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah
dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk
melaksanakan terapi diare secara komprehensif, efisien dan efektif harus dilakukan
secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam
mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat
kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan
terganggunya masukan oral karena infeksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DEFINISI
Diare berasal dari kata dia yang berarti membuang dan rheo yang berarti
mengalir. Diare adalah perubahan konsistensi dan frekuensi buang air besar, dengan

tinja mengandung air lebih banyak yaitu 10ml/kgBB/hari yang disertai gejala lain
dan dapat menimbulkan komplikasi.
Diare Akut merupakan diare yang terjadi mendadak dan berlangsung 3-5 hari
dengan pengeluaran tinja yang lunak / cair dengan atau tanpa disertai lendir dan
darah. Biasanya sembuh sendiri jika tidak disertai dehidrasi. (Behrman, 2009).
2.2. EPIDEMOLOGI
Kuman penyebab diare menyebar masuk melalui mulut antara lain makanan
dan minuman yang tercemar tinja atau yang kontak langsung dengan tinja penderita.
Terdapat beberapa perilaku khusus meningkatkan resiko terjadinya diare
yaitu tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan,
menggunakan botol susu yang tercemar, menyimpan makanan masak pada suhu
kamar dalam waktu cukup lama, menggunakan air minuman yang tercemar oleh
bakteri yang berasal dari tinja, tidak mencuci tangan setelah buang air besar, sesudah
membuang tinja atau sebelum memasak makanan, tidak membuang tinja secara
benar (Ardhani, 2008).
Faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap diare antara lain

tidak

memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, imunodefisiensi /


imunosupressif.
Kebanyakan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden paling
banyak pada umur 6 10 bulan (pada masa pemberian makanan pendamping).
Variasi musiman pola musim diare dapat terjadi melalui letak geografi. Pada
daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas
sedangkan diare karena virus (rotavirus) puncaknya pada musim dingin. Pada daerah
tropik diare rotavirus terjadi sepanjang tahun, frekuensi meningkat pada musim
kemarau sedangkan puncak diare karena bakteri adalah pada musim hujan.

Kebanyakan infeksi usus bersifat asimtomatik / tanpa gejala dan proporsi ini
meningkat di atas umur 2 tahun karena pembentukan imunitas aktif.
2.3. ETIOLOGI
Terdapat beberapa macam penyebab diare antara lain sebagai berikut :
A. Faktor infeksi
Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus,
Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis)
dan jamur (C. albicans).
Infeksi parenteral yaitu infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat
menimbulkan diare seperti otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia,
ensefalitis dan sebagainya. (Behrman, 2009).
B. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat yaitu disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi
laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di
samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.

C. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi
terhadap jenis makanan tertentu.
D. Faktor Psikologis

Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

Gambar 1. Bagan Penyebab penyakit diare


2.4. PATOFISIOLOGI
Terdapat beberapa mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare yaitu:
A. Gangguan osmotik

Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare (Poorwo, 2003).
B. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya
timbul diare karena peningkatan isi lumen usus.
C.Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat
timbul diare (Poorwo, 2003).
2.5. MANIFESTASI KLINIS
Pada diare akut dapat ditemukan gejala dan tanda sebagai berikut
1. BAB lebih cair/encer dari biasanya, frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
2. Apabila disertai darah disebut disentri (diare akut invasif).
3. Dapat disertai dengan anoreksia, muntah, nyeri perut,kembung dan panas.
4. Bisa terjadi komplikasi yaitu gangguan elektrolit, dehidrasi, gangguan gas
darah/asidosis.
5. Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan :

A. Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit :

Napas cepat dan dalam (asidosis metabolik)

Kembung dan edema (hipokalemia)

Kejang (gangguan keseimbangan natrium)

B. Tanda-tanda dehidrasi :
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria sebagai berikut:
a. Dehidrasi ringan (kehilangan cairan < 5% berat badan):
1) Keadaan umum baik, sadar
2) Tanda vital dalam batas normal
3) Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan bibir basah
4) Turgor abdomen baik, bising usus normal
5) Akral hangat.
Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi
lain (tidak mau minum, muntah terus-menerus, diare frekuen)
(Ardhani, 2008).
b. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)

1) Keadaan umum gelisah atau cengeng


2) Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata
kurang, mukosa mulut dan bibir sedikit kering
3) Turgor kurang
4) Akral hangat
Pasien harus rawat inap(Ardhani, 2008).
c. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
1) Keadaan umum lemah, letargi atau koma
2) Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak
ada, mukosa mulut dan bibir sangat kering
3) Anak malas minum atau tidak bisa minum
4) Turgor kulit buruk
5) Akral dingin
Pasien harus rawat inap (Ardhani, 2008).
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam,
tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling
fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah
kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau
gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseorang
yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata

cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit
menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh
deplesi air yang isotonik. (Behrman, 2009).
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya
dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang
merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan
lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat
berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit),
tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka
pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium
pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun
sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan
timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal
ginjal akut.
2.6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Tinja
1. Dapat disertai darah atau lendir
2. PH asam/basa
3. Leukosit > 5/LBP
4. Biakan dan test sensitivitas untuk etiologi bakteri/ terapi

5. ELISA (bila memungkinkan, untuk etiologi viruz) (Poorwo, 2003).


B. Darah
1. Dapat terjadi gangguan elektrolit atau gangguan asam basa
2. Analisa gas darah (Poorwo, 2003).
2.7. PRINSIP PENATALAKSANAAN DIARE AKUT
Apabila derajat dehidrasi yang terjadi akibat diare sudah di tentukan, baru kemudian
menentukan tatalaksana yang akan diterapkan secara konsisten.
Terdapat lima tuntas tatalaksana diare, yaitu:
1. Rehidrasi
2. Dukungan nutrisi
3. Supplement zinc
4. Antibiotik selektif
5. Edukasi orang tua
A. Diare cair akut tanpa dehidrasi
Penanganan lini pertama pada diare akut tanpa dehidrasi antara
lain sebagai berikut:
1. Memberikan kepada anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk
mencegah dehidrasi. Dapat kita gunakan cairan rumah tangga yang
dianjurkan, seperti oralit, makanan cair (seperti sup dan air tajin) dan bila

tidak ada air matang, kita dapat menggunakan larutan oralit untuk anak.
Pemberian larutan diberikan terus hingga diare berhenti. Volume cairan
untuk usia kurang dari 2 tahun : 50-100cc, untuk usia lebih dari 2 tahun
mendapat 100-200cc.
2. Memberikan tablet zinc. Pemberian tablet zinc diberikan selama 10-14 hari
berturut-turut meskipun anak telah sembuh dari diare. Dosis zinc untuk anak
bervariasi, untuk anak usia dibawah 6 bulan sebesar 10mg (1/2 tablet)
perhari, sedangkan untuk usia diatas 6 bulan sebesar 20 mg perhari. Zinc
diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari
diare.
3. Memberikan anak makanan untuk mencegah kekurangan gizi.
4. Membawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3
hari atau menderita sebagai berikut buang air besar cair lebih sering, muntah
terus menerus, rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam,
dan tinja berdarah.
5. Anak harus diberi oralit dirumah

Formula oralit baru yangberasal dari WHO dengan komposisi sebagai


berikut:
Natrium

: 75 mmol/L

Klorida

: 65 mmol/L

Glukosa, anhydrous : 75 mmol/L


Kalium

:20 mmol/L

Sitrat

:10 mmol/L

Total osmolaritas

:245 mmol/L

Ketentuan pemberian oralit formula baru :


Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru, larutkan 1 bungkus oralit
formula baru dalam 1 L air matang, untuk persediaan 24 jam, berikan larutan
oralit pada anak setiap kali buang air besar dengan ketentuan untuk anak
usia kurang dari 2tahun berikan 50-100 ml setiap kali buang air besar,
sedangkan untuk untuk anak berumur 2 tahun atau lebih berikan 100-200 ml
tiap kali buang air besar. Jika dalam waktu 24jam persediaan oralit masih
tersisa, maka sisa larutan itu harus dibuang.
B. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang
1) Rehidrasi dapat menggunakan oralit 75cc/kgBB dalam 3 jam pertama
dilanjutkan pemberian kehilangan cairan yang sedang berlangsung sesuai
umur seperti diatas setiap kali buang air besar.
2) Rehidrasi intravena dengan cairan RL 50cc/kgBB/3jam

C. Diare akut dengan Dehidrasi Berat

Anak-anak dengan tanda-tanda dehidrasi berat dapat meninggal


dengan cepat karena syok hipovolemik, sehingga mereka harus mendapatkan
penanganan dengan cepat.
Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada beberapa hal yang
penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat,
yaitu:
1) Menentukan cara pemberian cairan
Penggantian cairan melalui intravena merupakan pengobatan pilihan
untuk dehidrasi berat, karena cara tersebut merupakan jalan tercepat
untuk memulihkan volume darah yang turun. Rehidrasi IV penting
terutama apabila ada tanda-tanda syok hipovolemik (nadi sangat cepat
dan lemah atau tidak teraba, kaki tangan dingin dan basah, keadaan
sangat lemas atau tidak sadar). Cara lain pemberian cairan pengganti
hanya boleh bila rehidrasi IV tidak memungkinkan atau tidak dapat
ditemukan disekitarnya dalam waktu 30 menit.
2) Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena
tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila
dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat
diberikan NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1
ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada
keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk
mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
3) Jumlah cairan yang hendak diberikan.

Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus


sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jika memungkinkan,
penderita sebaiknya ditimbang sehingga kebutuhan cairannya dapat diukur
dengan tepat. Kehilangan cairan pada dehidrasi berat setara dengan 10%
berat badan (100 ml/kg).
Bayi harus diberi cairan 30 ml/kg BB pada 1 jam pertama, diikuti
70ml/kg BB 5 jam berikutnya, jadi seluruhnya 100 ml/kgBB selama 6 jam.
Anak yang lebih besar dan dewasa harus diberi 30 ml/kgBB pada 30 menit
pertama, diikuti 70 ml/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya sehingga seluruhnya
100 ml/kgBB selama 3 jam. Sangat berguna memberi tanda pada botol, untuk
menunjukan jumlah cairan yang harus diberikan setiap jam bagi setiap
penderita.
Sesudah 30 ml/kg cairan pertama diberikan , nadi radialis yang kuat
dapat teraba. Bila masih lemah dan cepat, infuse 30 ml/kg harus diberikan
lagi dalam waktu yang sama. Meskipun begitu hal ini jarang dibutuhkan.
Larutan oralit dalam jumlah kecil harus juga diberikan melalui mulut (sekitar
5ml/kg BB per jam) segera setelah penderita dapat minum, untuk member
tambahan kalium dan basa, Hal ini biasa dilakukan setelah 3-4 jam untuk
bayi dan 1-2 jam untuk penderita yang lebih besar.

4) Jalan masuk atau cara pemberian cairan

Rute pemberian cairan meliputi oral dan intravena. Larutan oralit


dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g NaBik dan 1,5 g
KCl stiap liternya diberikan per oral pada diare ringan sebagai upaya pertama
dan

juga

setelah

rehidrasi

inisial

untuk

mempertahankan

hidrasi.

2.7.2. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.


Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan
keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui pemeriksaan
biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lengkap dan tinja lengkap (Hasan,
2007)
Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas melalui
pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan BJ
plasma.
Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik pemeriksaan
biakan empedu, Widal, preparat malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat
dianjurkan. Pemeriksaan khusus seperti serologi amuba, jamur dan Rotavirus
biasanya menyusul setelah melihat hasil pemeriksaan penyaring (Hasan, 2007)
Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut:
a. Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja.
b. Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir kental dan kadang-kadang
darah.

2.7.3. Memberikan terapi simtomatik

Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan


keuntungannya. Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk diare
yang diakibatkan oleh bakteri entero-invasif karena memperpanjang waktu
kontak bakteri dengan epitel usus yang seyogyanya cepat dieliminasi.
(Pusponegoro, 2004).

2.7.4. Memberikan terapi definitif.


Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:
a. Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.
b. V. parahaemolyticus,E. coli, tidak memerluka terapi spesifik
c. A. aureus : Kloramfenikol
d. Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon
seperti Siprofloksasin
e. Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol
f. Helicobacter: Eritromisin
g. Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol
h. Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol
i. Balantidiasis: Tetrasiklin
j. Candidiasis: Mycostatin
k. Virus: simtomatik dan support (Hasan, 2007)

BAB III
KESIMPULAN

Diare seringkali muncul karena berbagai penyebab, termasuk diantaranya


infeksi, malabsorpsi, makanan dan psikologis. Karena berbagai panyebab inilah
maka akan timbul berbagai mekanisme yang akan menyebabkan diare. Penanganan
diare sangat penting agar tidak terjadi komplikasi yang serius, dimana penangan
yang utama adalah penggantian terapi cairan diikuti dengan medikamentosa untuk
mengobati penyebabnya
Pada prinsipnya dalam penanganan medikamentosa tidak boleh diberikan
obat anti diare, penggunaan antibiotikpun harus sesuai hasil pemeriksaan penunjang.
Sebagai pilihan adalah kotrimoksazol, amoxicilin dan atau sesuai dengan hasil uji
sensitivitas. Dapat juga digunakan obat antiparasit seperti metronidazol.
Sedangkan pada penanganan cairan dan elektrolit pada diare cair akut dapat
menggunakan beberapa jenis cairan antara lain:
Peroral: cairan rumah tangga, oralit
Parenteral: ringer laktat, ringer asetat, larutan normal salin
Pemberian volume cairan disesuakan dengan derajat dehidrasinya, pada kasus
yang mengalami dehidrasi ringan kita dapat melakukan rehidrasi peroral dengan

cairan rumah tangga atau ASI semau anak. Serta diberikan oralit setiap kali BAB
dengan volume 50-100cc untuk usia dibawah 2 tahun, dan 100-200cc untuk usia
lebih dari 2 tahun. Sedangkan untuk diare akut dengan dehidrasi sedang dapat kita
berikan oralit 75cc/kgBB untuk 3 jam pertama, setelah itu dilanjutkan pemberian
cairan sesuai umur seperti pada dehidrasi ringan. Sedangkan untuk dehidrassi berat,
kita dapat melakukan rehidrasi perenteral dengan cairan ringer laktat atau ringer
asetat 100cc/kg BB. Dengan cara pemberian sebagai berikut:

usia kurang dari 1 tahun, 30cc/kgBB dalam 1 jam pertama dilanjutkan


70cc/kgBB dalam 5 jam berikutnya.

Lebih dari 1 tahun: 30cc/kgBB dalam jam pertama dilanjutkan 70cc/kgBB


dalam 2 jam berikutnya.
Minum diberikan jika pasien sudah mau minum 5cc/kgBB selama proses
rehidrasi (Pusponegoro, 2004).

Daftar Pustaka

Ardhani punky, 2008, Art of Theraphy: Ilmu Penyakit Anak, Pustaka


Cendekia Press: Jogjakarta
Behrman Richard et all, 2009, Nelson textbook of Pediatrics, Sanders:
Phyladelpia.
Pusponegoro hardiyono et all, 2004, Standar Pelayanan Medis Kesehatan
Anak: edisi I, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Poorwo sumarso et all, 2003, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi &
Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Hasan Rusepno et all, 2007, Ilmu Kesehatan Anak 1: cetakan ke 11,
Infomedika:

Jakarta.