Anda di halaman 1dari 19

30

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.

Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerapan
pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pelaksanaan tindakan melalui beberapa
tahap sebagai berikut
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini peneliti menyiapkan instrumen penelitian yang
terdiri dari perangkat pembelajaran dan instrumen pengumpulan data.
Perangkat pembelajaran terdiri dari silabus pada lampiran A, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada lampiran B1 - B9, Lembar Kerja
Siswa (LKS) pada lampiran C1 C9, Kisi-kisi Soal pada lampiran D1
D3, Lembar Pengamatan Aktifitas Guru dan Siswa pada lampiran E,
Lembar Pengamatan Sikap Siswa pada lampiran F, Daftar Pembentukan
Kelompok Kooperatif Tipe STAD Berdasarkan Kemampuan Akademis
pada lampiran G, Daftar Nilai Perkembangan dan Penghargaan Kelompok
pada lampiran H1 H3, Hasil Pengamatan Aktifitas Guru dan Siswa pada
lampiran I1 I9 dan Hasil Pengamatan Sikap Siswa pada lampiran J1 J9.

2.

Tahap Penyajian Kelas


a. Siklus Pertama
1) Pertemuan Pertama (17 03 2008)

31
Proses pembelajaran pada pertemuan pertama ini secara
umum berlangsung sesuai dengan langkah-langkah pada RP-1.
Pada tahap ini terlebih dahulu Guru menginformasikan materi dan
tujuan pembelajaran. Kemudian menjelaskan kepada siswa
langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Setelah itu,
siswa diminta untuk duduk pada kelompok yang sudah ditentukan,
masing-masing siswa diberikan LKS-1.
Pada kegiatan awal, di dalam kelompoknya masing-masing
siswa diminta untuk membaca dan mempelajari LKS-1, kemudian
siswa diminta untuk mengerjakan LKS tersebut. Pada tahap ini
terlihat beberapa siswa masih bingung untuk mengerjakan LKS.
Beberapa siswa lainnya ada yang langsung saja berusaha
mengerjakan LKS yang diberikan dan akhirnya menemukan
kesulitan. Di sini juga terlihat bahwa siswa tersebut masih malumalu bertukar fikiran dengan teman nya. Hal ini terlihat pada saat
bekerjasama siswa tersebut tidak ada yang bertanya dan tidak ada
yang mengeluarkan pendapat. Kendala lainnya juga terlihat antara
lain masih ada siswa yang kurang tekun mengerjakan LKS dan
berpura-pura belajar sambil menunggu jawaban dari teman
kelompok nya.
Pada tahap berikutnya siswa diminta untuk membandingkan
hasil kerja mereka dengan teman sekelompok. Namun pada tahap
ini belum terlihat adanya diskusi kelompok untuk saling

32
membantu. Tanggung jawab terhadap teman kelompok untuk
menguasai materi juga belum terlihat. Laporan kelompok hanya
dibuat oleh satu atau dua orang saja. Siswa juga terlihat sangat sulit
membuat kesimpulan hasil kerja kelompok mereka. Guru berusaha
mengatasi hal tersebut dengan memberikan bimbingan seperlunya.
Berdasarkan pengamatan peneliti, pada pertemuan pertama
ini belum terlihat adanya gejala sikap siswa yang menunjukkan
peningkatan sikap positif siswa terhadap pelajaran Matematika dan
proses

pembelajaran

belum

berjalan

sesuai

dengan

yang

diharapkan.
Meski proses pembelajaran pada pertemuan pertama ini
berjalan lambat, namun pelaksanaan RP-1 selesai sesuai dengan
yang telah ditetapkan.

2) Pertemuan Kedua (18 03 2008)


Proses pembelajaran pada pertemuan kedua dimulai dengan
menginformasikan materi dan tujuan pembelajaran serta model
pembelajaran yang akan digunakan. Siswa duduk di kelompoknya
masing-masing

dan

Guru

membagikan

LKS-2.

Proses

pembelajaran pada pertemuan kedua ini berlangsung sesuai dengan


langkah-langkah yang telah ditetapkan pada RP-2.
Kondisi pembelajaran pada pertemuan kedua ini sudah mulai
terlihat adanya sedikit kemajuan dalam kerjasama antara anggota
kelompok. Siswa terlihat tidak lagi merasa asing dengan anggota

33
kelompok nya dan mulai melakukan kerjasama walaupun masih
terlihat yang mendominasi adalah siswa yang mempunyai
kemampuan akademik tinggi. Selain itu, masih ada sebagian siswa
yang terlihat diam atau pura-pura mengerjakan sambil menunggu
jawaban dari teman kelompoknya.
Dari pengamatan peneliti selama proses pembelajaran
berlangsung seperti yang telah diuraikan sebelumnya sudah terlihat
adanya kemajuan sikap siswa dan menunjukkan adanya sikap
positif terhadap pelajaran Matematika dibanding pertemuan
pertama.
Proses pembelajaran pada pertemuan kedua ini berlangsung
lebih cepat dibanding dengan pertemuan pertama. Di akhir
pertemuan diberikan tugas sebagai PR.
3) Pertemuan Ketiga (24 03 2008)
Sebelum

pelajaran

dimulai

terlebih

dahulu

Guru

menanyakan apakah terdapat soal yang sulit dari tugas yang


diberikan, kemudian membahasnya bersama-sama. Selanjutnya
Guru kembali menginformasikan materi dan tujuan pembelajaran
serta model pembelajaran yang akan digunakan. Siswa diminta
duduk pada kelompok nya masing-masing. Setelah LKS-3
dibagikan, siswa diminta bekerja secara kelompok dengan
mengikuti petunjuk di dalam LKS tersebut.

34
Pada pertemuan ketiga ini siswa nampak lebih bersemangat
bekerjasama dalam kelompok masing-masing. Sudah terlihat
interaksi yang lebih baik dalam kelompok dengan adanya saling
tanya jawab. Namun masih ada masalah yang muncul dalam
pertemuan ketiga ini yaitu sebagian kelompok merasa kekurangan
waktu untuk mengerjakan soal-soal dalam LKS tersebut. Hal ini
mungkin disebabkan karena pada pertemuan ketiga ini siswa
sedikit lambat dalam memahami soal-soal cerita. Namun soal-soal
cerita tetap dapat diselesaikan meskipun memakan waktu lebih
lama dari pertemuan kedua
Berdasarkan hasil pengamatan yang berpedoman pada
lembaran pengamatan terlihat bahwa aktivitas siswa pada
pertemuan ketiga ini sudah cukup baik sehingga suasana
pembelajaran berjalan dengan baik. Setelah pertemuan pertama,
kedua dan ketiga selesai, dilaksanakan ulangan harian I guna
melihat perkembangan kelompok setelah tiga kali pertemuan.
b. Refleksi Siklus Pertama
Berdasarkan observasi peneliti selama melakukan tindakan
sebanyak tiga kali pertemuan ditemukan bahwa pada pertemuan
pertama terlihat beberapa siswa masih bingung untuk mengerjakan
LKS. Beberapa siswa lainnya ada yang langsung mengerjakan LKS
namun pada akhirnya menemukan kesulitan. Namun pada pertemuan
kedua dan ketiga hal tersebut tidak ditemukan lagi. Kerjasama antara

35
sesama anggota kelompok masih didominasi oleh siswa yang
mempunyai kemampuan akademik tinggi, sedangkan sebagian anggota
yang lain masih menunggu jawaban dari teman kelompoknya . Selain
itu pada pertemuan ketiga ditemukan kendala sebagian kelompok
kekurangan waktu untuk mengerjakan soal-soal dalam LKS. Hal ini
disebabkan karena siswa sedikit lambat untuk memahami soal-soal
cerita, sedangkan waktu yang dialokasikan tetap 35 menit.
Rencana yang akan dilakukan peneliti untuk memperbaiki
tindakan adalah terus memberikan bimbingan kepada siswa tentang
cara penyelesaian LKS dan dan mengintensifkan cara pembelajaran
kooperatif tipe STAD. Waktu yang dirasa kurang rencananya akan
diatur dengan mengatur jalannya diskusi sedemikian rupa sehingga
waktu yang digunakan untuk berdiskusi bisa terlaksana dengan efektif
dan efisien.
c. Siklus Kedua
1) Pertemuan Keempat (25 03 2008)
Pada pertemuan keempat ini Guru mengumumkan hasil
analisis nilai ulangan harian I yang berupa penghargaan kelompok.
Guru mengumumkan kelompok yang memperoleh nilai tertinggi
dengan harapan dapat mempengaruhi kelompok yang lain agar
lebih

giat

meningkatkan

aktifitas

belajarnya.

Penghargaan

kelompok tersebut berpengaruh kepada proses pembelajaran

36
dimana mereka berlomba agar kelompok nya menjadi yang terbaik.
Hal ini terlihat dalam aktifitas belajar. Pada tahap mengerjakan
LKS terlihat sudah sebagian besar siswa aktif untuk menyelesaikan
LKS yang diberikan.
Setelah hasil ulangan harian di umumkan maka siswa dibagi
dalam anggota kelompok yang baru yang berpedoman pada hasil
ulangan harian I. Setelah Guru membagi anggota-anggota
kelompok, selanjutnya siswa duduk pada kelompok masing-masing
yang telah ditentukan. Sebelum pembelajaran dimulai, Guru
kembali menginformasikan materi dan tujuan pembelajaran serta
model pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pada RP-4.
Guru membagikan LKS-4 dan meminta setiap kelompok
mengerjakan soal-soal yang ada di dalam LKS tersebut. Guru
kembali mengawasi kegiatan siswa. Pada pertemuan ke empat ini,
terlihat bahwa siswa mulai terbiasa dengan belajar kelompok
sehingga setiap anggota kelompok dapat langsung bekerja sesuai
dengan petunjuk yang telah diberikan. Pada akhir pertemuan Guru
kembali memberikan PR.
2) Pertemuan Kelima (28 03 2008)
Proses pembelajaran pada pertemuan kelima berlangsung
sesuai langkah-langkah yang telah ditetapkan pada RP-5. Sebelum
pembelajaran dimulai, Guru dan siswa terlebih dahulu membahas
pekerjaan rumah yang diberikan pada pertemuan sebelumnya.

37
Siswa yang di anggap mampu diminta untuk mengerjakan tugas
tersebut di papan tulis dan dibahas bersama-sama.
Tahap selanjutnya Guru kembali menginformasikan materi
dan tujuan pembelajaran serta model yang akan digunakan,
kemudian Guru membagikan LKS-5. Pada pertemuan kelima ini
terlihat tanggung jawab anggota kelompok terhadap anggota yang
lain sudah mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat pada saat diskusi
kelompok mereka tidak lagi sekedar mencontoh jawaban teman
nya, tetapi terjadi diskusi saling bertanya dan menjawab dan saling
mengeluarkan pendapat.
Selama siswa bekerja, Guru berkeliling mengamati, memberi
bantuan jika diperlukan dan memotivasi siswa agar lebih
bersemangat mengerjakan LKS yang diberikan. Selanjutnya,
sebelum proses pembelajaran selesai, Guru meminta wakil-wakil
tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja mereka di
depan kelas. Kelompok yang lain diminta untuk mendengarkan
dengan baik dan memberi tanggapan.
Dari hasil pengamatan Guru, pada pertemuan kelima ini
semua kelompok sudah mulai bekerjasama dengan baik. Di akhir
pertemuan, Guru kembali memberikan PR.
3) Pertemuan Keenam (01 04 2008)
Sebelum pembelajaran dimulai, Guru kembali menanyakan
pekerjaan rumah yang dianggap sulit dan membahasnya bersama-

38
sama. Setelah itu, dilanjutkan dengan menginformasikan materi
dan tujuan pembelajaran serta model yang akan digunakan. Pada
pertemuan ke enam ini, seluruh kelompok sudah bekerja dengan
baik. Siswa yang berkemampuan akademik tinggi tidak lagi
mendominasi kegiatan kelompok tersebut. Hasil kerja kelompok
tidak lagi dibuat oleh satu atau dua orang saja, akan tetapi telah
didiskusikan bersama oleh anggota kelompok. Masing-masing
kelompok berusaha menyelesaikan LKS lebih cepat dari kelompok
lain. Kelompok yang dapat menyelesaikan LKS lebih cepat dengan
benar diberikan pujian dan diberikan soal tambahan.
Meski secara umum proses pembelajaran berjalan dengan
lebih baik daripada pertemuan sebelumnya, namun masih ada
sebagian kecil siswa yang tidak peduli dengan proses pembelajaran
dimana mereka hanya mencontoh teman sekelompok nya. Namun
demikian, secara umum gejala sikap yang dapat diamati selama
proses

pembelajaran

berlangsung

sebagaimana

yang

telah

diuraikan sebelumnya terlihat adanya kemajuan dan peningkatan


sikap positif siswa terhadap pelajaran Matematika.
Setelah pertemuan keempat, kelima dan keenam selesai,
kembali dilaksanakan ulangan harian II untuk kembali melihat
perkembangan sikap dari setiap kelompok.

39
d. Refleksi Siklus Kedua
Pada siklus kedua ini kelompok ditukar dengan kelompok yang
baru yang berpedoman kepada ulangan harian I. Meskipun kelompok
baru namun siswa telah terbiasa dengan belajar kelompok sehingga
terlihat setiap anggota kelompok dapat langsung bekerja sesuai dengan
petunjuk yang telah diberikan. Tanggung jawab anggota kelompok
terhadap anggota kelompok terhadap anggota yang lain sudah mulai
meningkat.

Meskipun secara umum proses pembelajaran berjalan

dengan lebih baik dari pada pertemuan sebelumnya, namun masih ada
sebagian kecil siswa yang tidak perduli dengan proses pembelajaran
dimana mereka hanya mencontoh teman sekelompoknya.
Rencana pada siklus kedua ini untuk memperbaiki tindakan
adalah tetap memberikan bimbingan terhadap anggota kelompok yang
masih

belum

peduli

dengan

proses

pembelajaran.

Guru

mengumumukan kelompok yang memperoleh nilai tertinggi dengan


harapan dapat mempengaruhi kelompok lain agar lebih giat
meningkatkan aktifitas belajarnya.
e. Siklus Ketiga
1) Pertemuan Ketujuh (04 04 2008)
Di awal pertemuan Guru terlebih dahulu menginformasikan
analisis hasil ulangan harian II yang dilaksanakan pada pertemuan
sebelumnya. Setelah itu, Guru kembali membagi siswa dalam

40
anggota kelompok yang baru dengan berpedoman pada hasil
ulangan harian tersebut. Selanjutnya siswa diminta duduk pada
kelompok yang telah ditetapkan. Sebelum pembelajaran di mulai,
Guru kembali menginformasikan materi dan tujuan serta model
pembelajaran yang akan digunakan. Guru membagi LKS-7 dan
meminta siswa mengerjakannya. Pada pertemuan ini hampir
seluruh siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Siswa terlihat berusaha mengerjakan LKS dengan baik. Aktifitas
kelompok terlihat semakin meningkat dimana siswa berdiskusi,
saling bertanya dan menjelaskan.
Berdasarkan gejala sikap yang diamati selama proses
pembelajaran berlangsung sebagaimana yang telah diuraikan
sebelumnya, secara umum dapat dikatakan bahwa ada peningkatan
sikap positif siswa terhadap pelajaran Matematika dibanding
sebelum metode belajar kelompok ini dilaksanakan. Di akhir
pertemuan, Guru memberikan PR.
2) Pertemuan Kedelapan (07 04 2008)
Proses

pembelajaran

pada

pertemuan

kedelapan

ini

berlangsung sesuai langkah-langkah yang telah ditetapkan pada


RP-8. Sebelum pembelajaran di mulai, Guru terlebih dahulu
menjelaskan dan membahas pekerjaan rumah yang sulit bagi siswa.
Proses pembelajaran pada pertemuan kedelapan ini berlangsung
dengan baik. Pada saat mengerjakan LKS, terlihat sudah seluruh

41
siswa terlibat secara aktif mengerjakan LKS. Mereka membaca,
mempelajari dan mengerjakan LKS dengan sungguh-sungguh.
Pada saat diskusi kelompok, aktifitas diskusi juga makin
meningkat. Siswa saling mengeluarkan pendapat, menjelaskan
dengan baik ketika ada anggota kelompok yang bertanya. Siswa
juga membuat laporan kelompok.
Selanjutnya kelompok yang dapat menyelesaikan LKS-8
dengan lebih cepat dan benar kembali diberikan pujian dan
diberikan soal tambahan. Kemudian kelompok tersebut diminta
untuk mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas. Siswa
yang lain diminta untuk memberikan tanggapan. Di sini terlihat
bahwa ada kelompok yang bertahan dengan pendapat nya. Hal ini
menunjukkan adanya interaksi yang baik antara masing-masing
kelompok dimana siswa tidak lagi menerima begitu saja pendapat
yang dikemukakan oleh temannya, tapi mereka juga bisa
membandingkan

dengan

hasil

kerja

nya

dan

bahkan

mempertahankannya.
Berdasarkan gejala sikap yang dapat diamati selama proses
pembelajaran berlangsung sebagaimana yang telah diuraikan
sebelumnya terlihat sikap siswa terhadap pelajaran Matematika
cukup positif dan secara umum dapat dikatakan meningkat. Pada
akhir pertemuan, Guru kembali memberikan PR.

42
3) Pertemuan Kesembilan (08 04 2008)
Seperti biasa, sebelum pembelajaran dimulai Guru kembali
menanyakan dan membahas pekerjaan rumah yang dianggap sulit
bagi siswa. Setelah itu, Guru menginformasikan materi dan tujuan
serta model pembelajaran yang akan digunakan pada pertemuan
kesembilan.
Berdasarkan hasil pengamatan Guru, pada tahap ini terlihat
sudah semua siswa terlihat aktif bekerja secra kelompok. Hasil
kerja pada pertemuan kesembilan ini juga sangat memuaskan
sesuai dengan apa yang diharapkan dalam rencana pembelajaran.
Siswa berdiskusi dengan aktif, saling bertukar fikiran, melakukan
tanya jawab dan saling mengeluarkan pendapat. Setiap kelompok
juga mampu membuat laporan hasil kerja kelomponya dengan baik.
Kegiatan belajar terlihat semakin marak karena siswa semakin
bersemangat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap positif
siswa terhadap pelajaran Matematika semakin meningkat dibanding
dengan sebelum metode belajar kelompok ini dilaksanakan. Setelah
pertemuan ketujuh, kedelapan dan kesembilan selesai maka kembali
dilaksanakan ulangan harian III.
f. Refleksi Siklus Ketiga
Pada siklus ketiga proses pembelajaran lebih baik dari siklus
sebelumnya.

Seluruh siswa terlibat secara aktif dalam proses

pembelajaran. Aktifitas kelompok terlihat semakin meningkat dimana

43
siswa berdiskusi, saling bertanya dan menjelaskan. Setiap kelompok juga
mampu membuat laporan hasil kerja kelompoknya dengan baik.
Kegiatan belajar terlihat semakin marak karena siswa semakin
bersemangat.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap positif

siswa terhadap pelajaran matematika semakin meningkat. Siklus ketiga


ini, peneliti tidak melakukan perencanaan lagi.
B.

Analisis Hasil Tindakan


Pada bagian ini akan disajikan hasil analisis perkembangan sikap siswa
terhadap pelajaran Matematika dalam bentuk analisis deskriptif. Dari hasil lembar
pengamatan sikap yang telah diamati, baik lembar pengamatan sikap siswa
maupun lembar pengamatan proses pembelajaran diperoleh hasil yakni adanya
perbaikan sikap siswa terhadap pelajaran Matematika. Hal ini dapat dilihat dari
hasil kerja kelompok siswa dari pertemuan pertama sampai pertemuan
kesembilan dan juga dapat dilihat dari hasil ulangan harian selama menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga mampu memperbaiki sikap
belajar siswa terhadap pelajaran Matematika.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Pada pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga untuk indikator rasa suka
dan senang terhadap matematika dari tujuh kelompok yang diamati terdapat
dua kelompok yang tekun mengerjakan soal dan mendapat hasil yang baik
(semua jawaban benar). Kemudian terdapat tiga kelompok yang kurang tekun
mengerjakan soal dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk
menyelesaikan soal yang diberikan tetapi juga memperoleh nilai yang baik

44
(semua jawaban benar). Selanjutnya terdapat dua kelompok yang tidak benarbenar serius mengerjakan soal sehingga menghabiskan waktu yang cukup
lama untuk menyelesaikan soal yang diberikan dan memperoleh hasil yang
tidak memuaskan (banyak terdapat jawaban yang salah). Satu sampai dua
orang dari tiap kelompok sudah mulai bertanya tentang soal yang kurang
jelas. Kemudian satu sampai dua orang dari tiap kelompok sudah mulai
senang mengerjakan soal-soal di papan tulis. Pada indikator rasa ingin
mempelajari matematika sendiri, ada dua orang sampai tiga orang dalam
setiap kelompok yang menunggu jawaban dari teman, kemudian ada dua
orang sampai tiga orang dari tiap kelompok yang tidak mengerjakan sendiri
soal-soal yang sulit. Indikator Rasa bangga atas prestasinya, ada tiga sampai
empat orang siswa dari seluruh kelompok yang tidak gembira mendapat nilai
yang tinggi. Satu sampai dua orang siswa dari tiap kelompok memberikan
penjelasan kepada teman yang kurang jelas. Pada umumnya siswa merasa
senang jika dipuji hanya satu sampai dua orang yang malu.
2. Setelah ulangan harian pertama dilaksanakan, maka dibentuk kelompok kerja
siswa yang baru yang anggota nya ditetapkan berdasarkan nilai
perkembangan siswa yang diperoleh dari ulangan harian I. Setelah dibentuk
kelompok yang baru maka dilaksanakan proses pembelajaran selama tiga kali
pertemuan (pertemuan keempat sampai pertemuan keenam). Dari hasil
pengamatan yang dilakukan dalam tindakan kelas maka dijumpai pula dari
pertemuan keempat sampai pertemuan keenam untuk indikator Rasa suka dan
senang terhadap matematika terdapat empat kelompok siswa yang tekun

45
mengerjakan soal yang diberikan dan memperoleh hasil yang baik (semua
jawaban benar). Dari empat kelompok tersebut terdapat satu kelompok yang
anggotanya terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan akademis sedang
(rangking 4) yaitu kelompok empat. Sedangkan sebelumnya siswa yang
mampu menyelesaikan soal dalam waktu yang relatif singkat adalah
kelompok 1, 2 dan atau 3 karena dalam tiga kelompok tersebut terdapat
siswa yang mempunyai kemampuan akademis tinggi (rangking 1, 2 dan atau
3). Ternyata pada perubahan anggota kelompok ini kelompok yang diketuai
oleh siswa yang memperoleh rangking 4 di kelas mampu menyelesaikan soal
dalam waktu yang singkat dan memperoleh nilai yang baik. Selanjutnya
terdapat pula dua kelompok yang masih terdapat anggota yang tidak benarbenar serius mengerjakan soal dan menghabiskan banyak waktu untuk
mengerjakan soal yang diberikan tetapi juga memperoleh nilai yang baik
(semua jawaban benar). Kemudian terdapat pula satu kelompok yang kurang
tekun mengerjakan soal yang diberikan sehingga memperoleh nilai yang tidak
memuaskan (hanya dua jawaban yang benar). Pada indikator rasa ingin
mempelajari matematika sendiri, ada satu orang sampai dua orang dalam
setiap kelompok yang menunggu jawaban dari teman, kemudian ada satu
orang sampai dua orang dari tiap kelompok yang tidak mengerjakan sendiri
soal-soal yang sulit. Indikator Rasa bangga atas prestasinya, ada dua sampai
tiga orang siswa dari seluruh kelompok yang tidak gembira mendapat nilai
yang tinggi. Dua sampai tiga orang siswa dari tiap kelompok memberikan

46
penjelasan kepada teman yang kurang jelas. Pada umumnya siswa merasa
senang jika dipuji hanya satu sampai dua orang yang malu.
3. Setelah ulangan harian II dilaksanakan, maka kembali dibentuk kelompok
kerja siswa yang baru yang anggota nya ditetapkan berdasarkan nilai
perkembangan siswa yang diperoleh dari ulangan harian II. Selanjutnya
kembali dilaksanakan proses pembelajaran selama tiga kali pertemuan
(pertemuan ketujuh, kedelapan dan kesembilan). Setelah dilaksanakan
tindakan kelas dari hasil yang diamati terdapat kelompok yang sudah mampu
menyelesaikan soal yang diberikan dalam waktu yang singkat dan mendapat
hasil yang baik (semua jawaban benar), dan terdapat dua kelompok yang
menghabiskan waktu yang lebih lama tetapi juga memperoleh hasil yang baik
(semua jawaban benar). Pada indikator rasa ingin mempelajari matematika
sendiri, ada satu orang sampai dua orang dalam setiap kelompok yang
menunggu jawaban dari teman, kemudian ada satu orang sampai dua orang
dari tiap kelompok yang tidak mengerjakan sendiri soal-soal yang sulit.
Indikator Rasa bangga atas prestasinya, ada satu sampai dua orang siswa dari
seluruh kelompok yang tidak gembira mendapat nilai yang tinggi. Hanya
Dua sampai tiga orang siswa dari seluruh kelompok yang mampu
memberikan penjelasan kepada teman yang kurang jelas. Seluruh siswa
merasa senang jika dipuji.
Untuk lebih jelas melihat peningkatan sikap siswa terhadap pelajaran
Matematika setelah tindakan kelas dilaksanakan, maka dapat dilihat pada
halaman lampiran.

47
C.

Pembahasan Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil penelitian dan beberapa masalah yang ditemukan
maka terdapat beberapa hal yang dapat dibahas antara lain analisis hasil penelitian
dapat simpulkan bahwa sikap siswa setelah tindakan lebih baik daripada sebelum
tindakan. Ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD
mampu memperbaiki sikap siswa terhadap pelajaran matematika khususnya pada
materi pokok perkalian dan pembagian di SDN 004 Bangko Tahun Pelajaran
2007 / 2008.
1. Analisis secara umum dari 3 indikator sikap yang ditetapkan menunjukkan
adanya peningkatan sikap siswa terhadap pelajaran matematika. Namun
demikian, pada hasil analisis per indikator masih terdapat indikator yang
kurang meningkat yaitu pada indikator kedua tentang mempelajari
matematika sendiri. Hal ini disebabkan karena banyaknya siswa yang terbiasa
menunggu jawaban dari teman atau guru.
2. Peneliti menemukan kelemahan yaitu siswa tidak memiliki buku teks
sehingga siswa hanya dapat membaca catatan yang diberikan oleh guru di
sekolah. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya semangat siswa untuk
mempelajari matematika secara mandiri. Oleh sebab itu, disarankan kepada
setiap guru yang memberikan pelajaran matematika dikelas sebelum kegiatan
belajar dilaksanakan sebaiknya terlebih dahulu mengusahakan dan
menganjurkan kepada siswa agar mempunyai buku teks matematika. Ini
bertujuan agar siswa dapat mempelajari materi yang akan disampaikan
sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan.

48