Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang Masalah


Pendidikan

memegang

peranan

yang

sangat

penting

dalam

mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh sebab itu dari waktu ke waktu adanya
usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan
dapat dilihat dari keberhasilan pada pendidikan formal. Tujuan pendidikan
matematika
matematika,

secara

nasional

menggambarkan

pentingnya

pelajaran

untuk mempersiapkan siswa yang sanggup menghadapi

perubahan keadaan didalam kehidupan siswa yang mampu berfikir logis,


rasional, kritis, jujur dan efisien.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka peran guru sangat penting
karena guru adalah pelaksana utama dalam proses pembelajaran sebagai inti
pendidikan. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran guru harus
memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran.
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran matematika
adalah sikap siswa terhadap matematika itu sendiri.
Jika seorang siswa bersikap senang terhadap matematika, tentu
sikapnya

itu mempengaruhi

tingkah lakunya

terhadap

matematika

sedangkan sikap yang tidak menyukai matematika merupakan suatu


hambatan untuk belajar matematika (Hudojo, 1981). Sikap positif terhadap
matematika berkorelasi positif dengan prestasi belajar, oleh sebab itu untuk
mencapai prestasi belajar matematika yang lebih baik, maka sikap positif

2
siswa terhadap pelajaran matematika harus ditingkatkan (Russefendi dalam
Syofni, 1992).
Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru kelas II di SDN. 004
Bangko selama ini dalam mendidik siswa kelas II SD pada pokok materi
pelajaran matematika siswa cenderung kurang memperhatikan pelajaran,
usaha yang sudah peneliti lakukan untuk meningkatkan sikap terhadap
pelajaran matematika bagi siswa salah satunya membimbing siswa dalam
menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, meminta siswa mengerjakan
latihan didepan kelas, namun masih banyak siswa yang bersikap nagatif
terhadap pelajaran matematika.
Hal ini dapat terlihat dari kurangnya minat siswa untuk mau menjawab
pertanyaan yang diajukan guru dan bertanya tentang materi yang diajarkan.
Terlebih lagi apabila materi yang diajarkan cukup sulit untuk dimengerti
oleh siswa. Hal ini mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa kurang
dan hasil belajar kurang memuaskan. Untuk mengubah sikap belajar siswa
yang negatif, maka guru perlu memiliki strategi pembelajaran yang dapat
menciptakan iklim belajar yang menyenangkan agar siswa menyukai
pelajaran matematika.
Soetomo (1993), menyatakan bahwa memberikan variasi dalam proses
pembelajaran merupakan hal yang penting dan harus selalu diperhatikan
oleh guru. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu model pembelajaran yang tepat
sehingga

benar-benar

dapat

pembelajaran matematika.

menanamkan

konsep

dalam

kegiatan

3
Berdasarkan hal di atas, peneliti mencoba menerapkan model
pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran matematika. Karena model
pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa dalam memahami konsepkonsep sulit, menumbuhkan kemampuan kerjasama, berfikir kritis dan
kemampuan membantu teman. Teori perkembangan mengasumsikan bahwa
interaksi antar siswa di sekitar tugas-tugas yang sesuai, meningkatkan
penguasaan mereka terhadap konsep-konsep yang sulit. Untuk itu
pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa untuk bekerjasama
dalam mempelajari informasi atau keterampilan yang relatif telah terdefinisi
dengan baik. Selain itu pembelajaran kooperatif juga pembelajaran berbasis
proyek atau pembelajaran positif (Stern, 1996). Metode pembelajaran
berbasis proyek melibatkan siswa bekerja dalam kelompok untuk menyusun
suatu laporan, eksperimen atau proyek yang lain.
Sejumlah penelitian menunjukan bahwa dalam pengaturan kelas
kooperatif, siswa lebih banyak belajar dari guru. Konsekuensinya
pengembangan komunikasi yang efektif seharusnya tidak ditinggalkan
demi kesempatan belajar tersebut. Metode pembelajaran kooperatif
memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi. Hasil lain
penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki
dampak yang amat positif untuk siswa yang rendah hasil belajarnya (Linda
Lundgren,1994: 6)
Hasil-hasil

dari

pembelajaran

kooperatif

secara

konsisten

menunjukkan keunggulan sepanjang dua kondisi penting dipenuhi. Pertama,

4
berbagai bentuk pengakuan atau ganjaran kecil harus diberikan kepada
kelompok yang kinerjanya baik sehingga anggota kelompok itu dapat
melihat bahwa menjadi kepentingan mereka bersama untuk membantu
belajar teman dalam kelompok mereka. Kedua, harus ada tanggung jawab
individual. Artinya, keberhasilan kelompok itu harus ditentukan oleh hasil
belajar individual dari seluruh anggota kelompok, seperti satu laporan
kelompok atau satu karya kelompok.
Memperhatikan sikap siswa yang rendah dan mengingat Sikap sangat
berpengaruh dalam hasil belajar siswa. Maka peneliti sebagai guru merasa
terpanggil untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran matematika.
Proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara positif dalam belajar dan
dapat mendorong siswa untuk belajar mandiri atau belajar dalam
kelompoknya. Siswa menemukan sendiri pemecahan suatu masalah dengan
cara menyelidikinya sehingga pembelajaran itu lebih bermakna bagi siswa.
Perbaikan yang dilakukan itu adalah pembelajaran kooperatif tipe Student
Team Achievement Division (STAD).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini mengajarkan tahap-tahap
keterampilan yaitu : merumuskan masalah, pengkajian akademis, kegiatan
individu dan kelompok. Keunggulan pembelajaran kooperatif tipe STAD
adalah siswa terlibat positif dalam pembelajaran baik secara individu
maupun kelompok. Siswa dapat mengembangkan ide dan kemampuan
intelektualnya mempercepat pemecahan soal-soal.
demokratis dan menyenangkan membangkitkan

Suasana kelas yang


semangat siswa untuk

5
mengeluarkan pendapatnya.

Memperhatikan keunggulan-keunggulan

tersebut, maka dalam pembelajaran yang dilaksanakan nantinya diharapkan


dapat meningkatkan sikap belajar matematika siswa.
B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka yang
menjadi masalah dalam penelitian ini adalah Apakah model kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan sikap terhadap pelajaran matematika bagi
siswa kelas II SDN. 004 Bangko.

C.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sikap terhadap pelajaran
matematika bagi siswa kelas II SDN. 004 Bangko setelah mengikuti
pembelajaran

matematika

siswa

melalui

penerapan

pembelajaran

kooperatif tipe STAD .


D.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai
berikut:
1. Bagi siswa, merupakan suatu usaha mengembangkan daya pikir,
menumbuhkan sikap postif belajar siswa dan menggiring siswa untuk
lebih mencintai matematika.
2. Bagi guru merupakan suatu masukan tentang salah satu strategi
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan sikap
belajar matematika.

6
3. Bagi

sekolah

sebagai

pertimbangan

dalam

rangka

pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah.


4. Menambah pengetahuan dan memperluas wawasan peneliti.

perbaikan