Anda di halaman 1dari 8

Sosiologi Hukum

1. Jika kita tinjau secara etimologis, istilah sosiologi berasal dari bahasa latin,
yaitu socius dan logos. Socius berarti 'teman' atau 'kawan'. Karena manusia
hidup tidak mempunyai satu kawan saja,hubungan antar kawan dapat
diartikan pula sebagai 'pergaulan hidup'. Adapun, logos yang berasal dari
bahasa Yunani berarti 'kata' atau 'berbicara'. Jadi secara harfiah sosiologi
berarti membicarakan atau memperbincangkan pergaulan hidup manusia.
Pengertian tersebut akhirnya diperluas menjadi ilmu pengetahuan yang
membahas serta mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat.
2. Soerjono Soekanto:

Sosiologi hukum didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan


yang secara analitis dan empiris menganalisis atau mempelajari
hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial
lainnya (Soerjono Soekanto dalam buku Mengenal Sosiologi Hukum,
Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989)

Satjipto rahardjo:
Pengertian sosiologi hukum (sociology of law) adalah pengetahuan
hukum terhadap pola prilaku masyarakat dalam konteks sosialnya
(Satjipto rahardjo dalam buku Ilmu Hukum, Penerbit Alumni,
Bandung, 1982)
3. Ruang lingkup Sosiologi Hukum juga mencakup 2 (dua) hal, yaitu :
a. Dasar-dasar sosial dari hukum, contoh: hukum nasional Indonesia, dasar sosialnya
adalah Pancasila, dengan ciri-cirinya : gotong-royong, musyawarah-kekeluargaan.
b. Efek-efek hukum terhadap gejala-gejala sosial lainnya, contoh : UU PMA terhadap
gejala ekonomi, UU Pemilu dan Partai Politik terhadap gejala politik, UU Hak Cipta
tahun 1982 terhadap gejala budaza, UU Perguruan Tinggi terhadap gejala pendidikan.
Dalam ruang lingkup terdapatnya pendekatan-pendekatan yang terdiri dari :
a. Pendekatan Instrumental
b. Pendekatan Hukum Alam
c. Kontribusi Sosiologi Hukum Terhadap Perkembangan Ilmu Hukum
4. Pendekatan Intrumental dalam metode penelitian menurut pendapat Adam
Podgorecki yang dikutip oleh Soerjono Soekanto yaitu bahwa sosiologi hukum
merupakan suatu disiplin ilmu teorotis yang umumnya mempelajari
ketentraman dan berfungsinya hukum, dengan tujuan disiplin ilmu adalah
untuk mendapatkan prinisp-prinsip hukum dan ketertiban yang didasari
secara rasional dan didasarkan pada dogmatis yang mempunyai dasar yang
akurat.

5. Karakteristik Kajian Sosiologi Hukum:


a. Deskripsi : Sosiologi Hukum berusaha untuk memberikan deskripsi terhadap
praktek hukum dan dapat dibedakan dalam pembuatan Undang-Undang,
penerapan dalam pengadilan, maka mempelajari pula bagaimana parktek yang
terjadi pada masing-masing bidang kegiatan hukum tersebut.
b. Penjelasan: Sosiologi hukum bertujuan untuk menjelaskan mengapa sesuatu
praktek-praktek hukum didalam kehiduipan social masyarakat itu terjadi, sebabsebabnya, factor-faktor apa yang mempengaruhi. Latar belakang dan sebagainya
c. Pengungkapan (revealing): Sosiologi hukum senantiasa menguji kesahian empiris
dari suatu peraturan atau pernyataan hukum, sehingga mampu memprediksi suatu
hukum yang sesuai dan/atau tidak sesuai dengan masyarakat tertentu.
d. Prediksi: Sosiologi Hukum tidak melakukan penilaian terhadap hukum, tingkah
laku yang mentaati hukum, sama-sama merupakan obyek pengamatan yang
setaraf, tidak ada segi obyektifitas dan bertujuan untuk memberikan penjelasan
terhadap fenomena hukum yang nyata.
6.
Perbandinga
n
Objek
Fokus
Proses
Pilihan
(purpose)
Tujuan (goal)

FALSAFAT HUKUM

Yuridis Empiris

Yuridis Normatif

Sociological Model
Social Struktur
Perilaku (behavior)

Jurisprudence Model
Analisis Aturan (rules)
Logika (logic)

Ilmu Pengatahuan (scintific) Praktis (practical)


Penjelasan (explanation)

Pengambilan Keputusan

1. Pengertian Filsafat Hukum adalah kegiatan perenungan nilai-nilai, penyerasian nilainilai dan sekaligus menunjukkan ke arah mana nilai-nilai tersebut akan berkembang.
2. Pengertian keadilan menurut Aristoteles yang mengatakan bahwa keadilan
adalah tindakan yang terletak diantara memberikan terlalu banyak dan
sedikit yang dapat diartikan memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai
dengan apa yang menjadi haknya.
3. Menurut Gustav Radbruch tujuan hukum yaitu keadilan, kepastian dan
kemanfaatan. Keadilan harus mempunyai posisi yang pertama dan yang
paling utama dari pada kepastian hukum dan kemanfaatan. Secara historis,
pada awalnya menurut Gustav Radburch tujuan kepastian hukum menempati
peringkat yang paling atas diantara tujuan yang lain. Namun, setelah melihat
kenyataan bahwa dengan teorinya tersebut di Jerman di bawah kekuasaan
Nazi melegalisasi praktek-praktek yang tidak berperikemanusiaan selama
masa Perang Dunia II dengan jalan membuat hukum yang mensahkan
praktek-praktek kekejaman perang pada masa itu. Gustav Radbruch pun
akhirnya meralat teorinya tersebut diatas dengan menempatkan tujuan
keadilan menempati posisi diatas tujuan hukum yang lain
4. Hukum diciptakan agar agar setiap individu anggota masyarakat melakukan
sesuatu tidakan yang diperlukan untuk menjaga ikatan sosial dan mencapai
tujuan kehidupan bersama atau sebaliknya agar tidak melakukan suatu
tindakan yang dapat merusak tatanan keadilan. Jika tindakan yang
diperintahkan tidak dilakukan atau suatu larangan dilanggar, tatanan sosial
akan terganggu karena terciderainya keadilan. Untuk mengembalikan tertib
kehidupan bermasyarakat, keadilan harus ditegakkan. Setiap pelanggaran
akan mendapatkan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran itu sendiri dan
diberikan kepastian hukum

MPH

1. Metodologi penelitian hukum:


Metodologi penelitian adalah ilmu mengenai jalan yang dilewati untuk mencapai
pemahaman dengan syarat ketelitian dalam arti kebenarannya harus dapat dipercayai.
Menurut Noeng Muhadjir, metodologi peneitian adalah ilmu yang mempelajari tentang
metode-metode penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian, yaitu alat-alat untuk
mencari kebenaran.
2. Jelaskan antara penelitian normatif dan penelitian emperis:
Berikut ini merupakan daftar perbandingan antara penelitian hukum normatif dan
empiris:

TAHAP
PENELITIAN
Metode
pendekatan

PENELITIAN
HUKUM
NORMATIF

PENELITIAN
HUKUM EMPIRIS

Normatif/ juridis,
Empiris/ sosiologis,
hukum
hukum
diidentifikasikan
diidentifikasikan
sebagai norma
sebagai perilaku yang
peraturan atau undang- mempola
undang (UU)
Kerangka teori Teori-teori intern
Teori sosial mengenai
tentang hukum seperti hukum atau teori
undang-undang (UU), hukum
peraturan
sosiologis.Pembuktian
pemerintah.Pembuktian melalui masyarakat.
melalui pasal.
Data
Menggunaan data
Menggunakan data
skunder (data yang
primer (data yang
diperoleh dari studi
diperoleh langsung dari
kepustakaan)
kehidupan masyarakat
dengan cara
wawancara, observasi,
kuesioner, sample dan
lain-lain)
Objek kajian Hukum positif (aspek Aspek internal dari
internal)
hukum positif
Optik yang
Preskriptif
Netral, objektif,

digunakan
Teknik
pengumpulan
data

deskriptif

Data skunder
dikumpulkan dengan
cara studi
kepustakaan.Data
primer dikumpulkan
dengan cara
wawancara
Dasar untuk
Norma, yurisprudensi, Teori-teori sosiologi
menganalisis dan doktrin
hukum, antropologi
hukum, psikologi
hukum atau teori-teori
social
Logika berfikir Deduktif
Induktif
Tujuan
Membuat keputusan/ Deskriptif, ekplanatif
menyelesaikan masalah (memahami), prediktif
Bentuk analisis Logis normatif
Kuantitatif
(berdasarkan logika
(kesimpulan yang
dan peraturan UU),
dituangkan dalam
silogisme (menarik
bentuk angka)
kesimpulan yang telah
ada), kualitatif
3. Tahapan-tahapan dalam melakukan penelitian ilmiah:
Proses pelaksanaan penelitian ilmiah terdiri dari tahapan- tahapan yang juga menerapkan
prinsip metode ilmiah. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilakukan selama melakukan
penelitian ilmiah adalah sebagai berikut:
1. mengidentifikasi dan merumuskan masalah
2. melakukan studi pendahuluan
3. merumuskan hipotesis
4. mengidentifikasi variabel dan definisi operasional variabel
5. menentukan rancangan dan desain penelitian
6. menentukan dan mengembangkan instrumen penelitian
7. menentukan subjek penelitian
8. melaksanakan penelitian

9. melakukan analisis data


10. merumuskan hasil penelitian dan pembahasan
11. menyusun laporan penelitian dan melakukan desiminasi.

4. Kriteria metodologi penelitian yang ideal dalam ilmu penelitian:

Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode


ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan Fakta
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang
akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang
nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal,
kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.
2. Bebas dari Prasangka
Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari
pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan
dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.
3. Menggunakan Prinsip Analisa
Dalam memahami serta member! arti terhadap fenomena yang kompleks,
harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab
serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang
mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat
deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan
menggunakan analisa yang tajam.
4. Menggunakan Hipotesa
Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan
menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan
serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil
yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa
merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.
5. Menggunakan Ukuran Obyektif
Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif.
Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani.
Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan
menggunakan pikiran yang waras.
6. Menggunakan Teknik Kuantifikasi
Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan,
kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuranukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus
selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang,
sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagainya Kuantifikasi yang
termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating.

HUkum perburuan dan ketenagakerjaan


1. Kaitan Aspek perburuan dengan:
a. Aspek social
b. Aspek ekonomi
c. Aspek politik
Jelaskan sesuai dengan dinamika pemerintahan
a. Aspek social
b. Aspek ekonomi
c. Aspek politik

2. Yang melatarbelakangi demo buru:

Saat ini, di Indonesia seringkali terjadi demo buruh. Faktor utama penyebab sering
terjadinya demo buruh di Indonesia yaitu kecilnya upah minimum regional yang
ditetapkan oleh pemerintah. Para buruh merasa upah yang ditentukan tidak sebanding
dengan beratnya pekerjaan mereka.
3. UU perburuan /ketenagakerjaan yang berlaku sekarang ini apakah perlu ada
perubahan di UU tersebut:
Tidak perlu, yang di perlukan adalah bagaimana penerapan dari UndangUndang tersebut. Apakah dapat di implemtasikan atau tidak. UU No 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan sejatinya dibuat untuk menggantikan produk hukum yang
lama karena dianggap menempatkan pekerja pada posisi kurang menguntungkan dalam

hubungan industrial. Kenyataan menunjukkan hal berbeda. Beberapa pasal UU


Ketenagakerjaan justru dibatalkan Mahkamah Konstitusi karena dinilai merugikan buruh.

Hukum Pemerintah