Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM PROYEK TUMBUHAN (BI-2204)

KULTUR JARINGAN TUMBUHAN Crysanthemum indicum


Tanggal praktikum: 18 Februari 2014
Tanggal pengumpulan: 11 Maret 2014
Disusun oleh:
Annisa Mitsalia (10612002)
Assifa Nur Hisana (10612012)
Irneza Apriladea (10612035)
Zainab A Al-Ghazali (10612061)
Andreas Vetra (10612068)
Asisten:
Nadia Karisa
10611025

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengertian kultur adlaah budidaya dan pengertian kata jaringan adalah
sekelompok sel yang memiliki fungsi yang sama. Jadi kultur jaringan
merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman, contohnya
protoplasma, sel, jaringan, dan organ. Bagian tanaman yang diisolasi tersebut
harus ditumbuhkan dalam media dengan kondisi aseptik yang kaya nutrisi
dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup dan tembus cahaya sehingga
bagian tanaman tersebut dapat diperbanyak dan tumbuh menjadi tanaman
utuh yang memiliki sifat yang sama dengan induknya. Kultur jaringan
merupakan salah satu cara untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif
(Hameed et al, 2006).
Menurut Surtowinoto (1991), pelaksanaan kultur jaringan ini diawali
dari penemuan teori sel yang ditemukan oleh Scheiden dan Schwann yang
menyatakan bahwa sel memiliki kemampuan autonon bahkan, totipotensi.
Setelah itu, pada 1902, Gottlieb Haberlandt mencoba untuk mengisolasi dan
mengkulturkan sel palisade tunggal dari daun dalam larutan garam Knop
yang diperkaya dengan sukrosa, namun sel-sel tidak mengalami pembelahan.
Pada tahun-tahun selanjutnya sudah banyak percobaan untuk mengkultur
jaringan namun tidak banyak yang berhasil. Pada 1944, kultur invitro pertama
berhasil dilakukan pada tanaman tembakau dan pada 1948, Skoog dan Tsui
berhasil dalam pembentukan tunas dan akar adventif dari tanaman tembakau.
Skoog dan Tsui juga berhasil menemukan bahwa pembentukan akar dan tunas
bergantung pada perbandingan auksin dan sitokinin paa 1958. Lalu mulailah
penemuan yang sangat pesat mulai dari fusi protoplas, hibridisasi somatic,
dan juga perkembangan rekayasa genetik.
Menurut Anderson (2000), metode kultur jaringan dikembangkan untuk
memperbanyak

tanaman

khususnya

untuk

tanaman

yang

sulit

dikembangbiakkan secara vegetatif. Bibit yang dihasilkan dari metode kultur


jaringan memiliki beberapa keuntungan antara lain adalah memiliki sifat yang
identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar dalam
waktu yang singkat, tidak membutuhkan tempat yang luas, dan kesehatan
bibit lebih mudah untuk diperhatikan.
1.2 Tujuan
1. Menentukan konsentrasi NAA dan BAP terhadap kultur kisan pada
medium MS
2. Menentukan pengaruh sumber eksplan terhadap kultur krisan pada
medium MS
3. Menentukan konsentrasi hormon dan sumber eksplan yang optimal untuk
pertumbuhan kultur krisan.
1.3 Hipotesis
1. Dengan perbandingan konsentrasi NAA yang lebih besar dibandingkan
BAP, eksplan akan tumbuh membentuk akar. Sedangkan dengan
perbandingan NAA yang lebih kecil dibandingkan BAP, eksplan akan
tumbuh membentuk pucuk.
2. Sumber eksplan yang bebas dari hama dan penyakit serta memiliki sel
terdiferensiasi yang seditki
3. Konsentrasi hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang optimal
adalah hormon yang memiliki campuran NAA dan BAP dengan seimbang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Sumber Eksplan (Chrysanthemum sp.)


Chrysanthemum sp. atau yang umum dikenal sebagai bunga krisan
memiliki klasifikasi sebagai berikut (tabel 2.1):
Tabel 2.1 Klasifikasi Tanaman Krisan

Krisan

Kingdom

Plantae

Divisi

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Ordo

Asterales

Famili

Asteraceae

Genus

Chrysanthemum

Spesies

Chrysanthemum sp.

Sumber: The International Plant Names Index (2005)


Persebaran dari tumbuhan ini bermula dari wilayah Asia dan timur
laut dari Eropa. Kebanyakan spesies berasal dari Asia timur dengan Cina
sebagai pusat diversitas. Tumbuhan krisan merupakan tumbuhan herba
perennial. Daunnya tersusun secara bersilangan dengan tepian daun yang
kebanyakan bergerigi. Tumbuhan ini membentuk perbungaan dengan
perhiasan bunga yang kebanyakan berwarna putih, kuning, atau kemerahan.
Bagian diskus dari bunga biasanya berwarna kuning (Shi, 2011).
Tumbuhan krisan telah dikenal oleh masyarakat akibat ragam
manfaatnya. Perhiasan bunga dengan warna yang beragam menjadikan krisan

sebagai tumbuhan yang sering dijadikan ornamen dan perhiasan. Selain itu,
ekstrak krisan juga sering dimanfaatkan sebagai minuman herbal atau sebagai
pengusir nyamuk. Tumbuhan krisan juga dipercaya dapat menyaring polusi
udara pada suatu ruangan (Wolverton,1984). Sebagai tumbuhan yang kaya
dengan

manfaat,

krisan

merupakan

tumbuhan

yang

baik

untuk

dibudidayakan. Salah satu cara yang efisien untuk memperbanyak tumbuhan


krisan tersebut adalah dengan menggunakan metode kultur jaringan.
2.2 Kultur Jaringan
Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture,
weefsel cultus atau gewebe kultur. Kultur adalah budidaya dan jaringan
adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk sama dan fungsi yang sama.
Maka kultur jaringan berarti membudidayakan suat jaringan tanaman menjadi
tanaman kecil yang memiliki sifat seperti induknya (Hendaryono, 2004).
Dengan kata lain, Kultur jaringan tanaman merupakan suatu metode atau
teknik mengisolasi bagian tanaman (protoplasma, sel, jaringan, dan organ)
dan menumbuhkannya pada media buatan dalam kondisi aseptik di dalam
ruang yang terkontrol sehingga bagian-bagian tanaman tersebut dapat tumbuh
dan berkembang menjadi tanaman lengkap.
Penggunaan teknik kultur jaringan pada awalnya hanya untuk
membuktikan teori totipotensi (total genetic potential) dikemukakan oleh
Schleiden dan Schwann yang menyatakan bahwa sel tanaman sebagai unit
terkecil dapat tumbuh dan berkembang apabila dipelihara dalam kondisi yang
sesuai (Kusuma, 2009). Teori totipotensi adalah kemampuan setiap sel , dari
mana saja sel tersembut diambil, apabila diletakkan dalam lingkungan yang
sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Hendaryono,
2004).
Menurut Gunawan (1995), ada beberapa macam teknik kultur jaringan
yang telah dikenal antara lain :
a. Maristem kultur, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan
eksplan (bagian tanaman) dari jaringan muda atau maristem.

b. Pollen atau anther kultur, yaitu teknik kultur jaringan dengan


menggunakan eksplan dari serbuk sari atau benang sari.
c. Protoplast kultur, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan
eksplan protoplast (sel hidup yang telah dihilangkan dinding selnya).
d. Cloroplast kultur, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan
eksplan cloroplast untuk keperluan memperbaiki sifat tanaman dengan
membuat varietas baru.
e. Somatic cross atau silangan protoplasma, yaitu penyilangan dua macam
protoplasma menjadi satu, kemudian dibudidayakan sehingga menjadi
tanaman kecil yang mempunyai sifat baru.
Medium yang umum digunakan pada metode kultur jaringan ini
adalah medium Murashige dan Skoog . Medium MS ini mengandung garam
dan nitrat dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding media lain dan
berhasil digunakan pada berbagai macam tanaman dikotil (Yuliarti, 2007).
Komposisi medium MS adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Komposisi Medium Murashige dan Skoog (MS)

Bahan Kimia
Makronutrien
NH4NO3

Konsentrasi Dalam Media (mg/L)

KNO3

1900,000

CaCl2. H2O

440,000

MgSO4. 7H2O
KH2PO4
Iron
Na2EDTA

370,000
10,000

FeSO4. 7H2O
Mikronutrien
MnSO4. 4H2O

2,000

ZnSO4. 7H2O

8,600

H3BO3

6,200

KI

0,830

NaMoO4. 2H2O

0,250

1650,000

37,000

22,300

CuSO4. 5H2O

0,025

Co2Cl. 6H2O

0,025

Vitamin
Glycine

2,000

Nicotine Acid

0,500

Pyrodoxin HCl

0,500

Thyamine HCl
Myo-inositol
Sukrosa
Agar
pH

0,100
100,000
30.000,000
7.000,000
5,8

Selain makronutrien, mikronutrien dan nutrisi lainnya, dalam kultur


jaringan juga dibutuhkan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang
optimal. ZPT dalam jaringan tanaman berfungsi untuk mengatur proses
fisiologis seperti pembelahan dan pemanjangan sel serta mengatur
pertumbuhan akar, batang, daun, bunga, dan buah (Saptarini, 1988).
Berdasarkan pernyataan Gunawan (1995), secara umum zat pengatur
tumbuh yang digunakan dalam kultur jaringan ada tiga kelompok besar, yaitu
auksin, sitokinin, dan giberelin. auksin digunakan secara luas dalam kultur
jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, akar, suspensi sel dan organ.
2.3 Hormon Tumbuh (NAA dan BAP)
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) merupakan senyawa organik bukan hara,
yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat, dan dapat
mengubah proses fisiologi tumbuhan. Fungsi ZPT tersebut adalah untuk
merangsang pertumbuhan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan, dan organ.
Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan pada kultur jaringan adalah
auksin dan sitokinin (Ayabe and Sumi, 1998). Auksin merupakan zat pengatur
tumbuh yang berfungsi untuk menginisiasi pemanjangan dan pembesaran sel.

Salah satu golongan auksin yang paling banyak digunakan pada teknik kultur
in vitro adalah Naphthalene Acetic Acid (NAA). NAA merupakan zat
pengatur tumbuh sintetik yang mempunyai sifat lebih stabil dan tidak mudah
terurai oleh enzim yang dikeluarkan sel atau pemanasan pada proses
sterilisasi dibandingkan golongan auksin lainnya (Hendaryono, 1994).
Zat pengatur tumbuh lain yang digunakan adalah sitokinin. Sitokinin
berfungsi untuk meregulasi pembelahan sel, memacu morfogenesis,
perkembangan kloroplas, menginduksi embriogenesis, dan organogenesis
(Hendaryono, 1994). Golongan sitokinin yang biasa digunakan dalam kultur
in vitro adalah kinetin, BA, zeatin dan BAP. Penggunaan BAP sering
digunakan karena bersifat tahan terhadap degradasi dan harganya lebih
murah. Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin tidak bekerja sendirisendiri, tetapi kedua ZPT tersebut bekerja secara berinteraksi dalam
mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Sitokinin merangsang
pembelahan sel tanaman dan berinteraksi dengan auksin dalam menentukan
arah diferensiasi sel. Apabila perbandingan konsentrasi sitokinin lebih besar
dari auksin, maka pertumbuhan tunas dan daun akan terstimulasi. Sebaliknya
apabila sitokinin lebih rendah dari auksin, maka pertumbuhan akar yang akan
terstimulasi. Apabila perbandingan sitokinin dan auksin berimbang, maka
pertumbuhan tunas, daun, dan akar akan berimbang (Wareing&Phillips,
1970).
2.4. Komposisi Medium MS
Menurut Stoor (1984), medium Murashige-Skoog yang biasa
digunakan sebagai medium untuk kultur jaringan memiliki komposisi sebagai
berikut:

Tabel 1 Komposisi Medium Murashige-Skoog

Komponen
Makronutrien

NH4NO3

Konsentrasi
Akhir (mg/dm3)
1650,0

Inorganik

KNO3
CaCl2.7H2O
MgSO4.7H2O
KH2PO4
Na2EDTA
FeSO4.7H2O
H3BO3
MnSO4.4H2O
ZnSO4.4H2O
KI
Na2MoO4.2H2

Besi EDTA
Mikronutrien
Inorganik

O
Organik
Vitamin

CuSO4.5H2O
CoCl2.6H2O
Sukrosa
Inositol
Thiamine HCl

1900,0
440,0
370,0
170,0
37,3
27,8
6,2
16,9
8,6
0,83
0,25
0,025
0,025
20.000,0
100,0
0,1

Pengaruh sumber eksplan terhadap kultur krisan pada medium MS


Pada bagian tumbuhan terdapat jaringan meristem apikal yang secara
aktif menghasilkan auksin. Pengaruh auksin pada tingkat jaringan adalah
terjadinya diferensiasi pucuk dan akar. Auksin dikenal memberikan efek
terhadap pertambahan pertumbuhan akar pada tumbuhan yang telah dewasa
serta menginduksi pembentukan kalus dari eksplan pada metode kultur
jaringan. Sementara eksplan yang diberi perlakuan auksin dalam konsentrasi
rendah yang dipadukan dengan pemberian sitokinin dengan konsentrasi tinggi
akan cenderung mengalami pertumbuhan rhizogenesis (George et al, 2007).
Eksplan yang berasal dari batang memiliki lebih banyak kadar auksin dalam
jaringan penyusunnya. Oleh karena itu, jika diberi perlakuan auksin yang
sama, eksplan dari batang akan lebih cenderung unntuk mmenghasilkan akar
karena adanya pengaruh kadar auksin yang terkandung jika dibandingkan
dengan eksplan dari daun.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini disajikan pada
tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel 3.1 Alat dan Bahan

Erlenmeyer

Alat
Scalpel

Gelas Piala
Gelas Ukur
Botol Kultur
Batang pengaduk
Pipet Ukur
Hot plate
pH meter

Pinset
Cawan Petri
Lampu spiritus
Clean bench
Rak kultur

Bahan
Eksplan daun dan tunas tanaman
Chrysantemum indicum
NaClO 2,6%
Alkohol
Alumunium foil
Napthaleneacetic (NAA)
Benzylamino purine (BAP)
Medium MS
Pupuk growmore

3.2 Metode Kerja


3.2.1 Pembuatan Medium MS
Sebanyak 1200 mL media MS disipakan ke dalam gelas kimia.
Kemudian media MS ditambahkan gula 30% sebanyak 100 mL. Lalu
larutan tersebut dibagi rata kedalam dua belas tabung reaksi. Kedalam
kedua belas tabung reaksi tersebut ditambahkan larutan NAA dan BAP
sesuai pada konsentrasi masing-masing. pH dari masing-masing tabung
reaksi diperiksa dan harus berada dalam range 5,6-5,8. Apabila terlalu
asam, ditambahkan NaOH, dan apabila terlalu basa, ditambahkan HCl.
Setelah itu, tiap tabung reaksi ditambahkan agar swallow dan didihkan.
Kemdian larutan dituangkan sebanyak 15 mL ke dalam botol kultur
jaringan. Botol kultur jaringan harus segera ditutup dengan alumunium
foil dan kemudian disterilkan dengan autoklaf pada 121 C dan
tekanan 1,5

kg
cm3

selama 15 menit.

3.2.2 Sterilisasi dan Penanaman Eksplan

Pada praktikum kali ini, objek yang digunakan adalah tanaman


krisan. Tanaman krisan dipetik daun muda kedua sampai daun muda
kelima dan juga batang muda krisan. Daun dan batang krisan dicuci
dengan menggunakan air mengalir, lalu diletakkan diatas cawan petri
yang sudah dilapisi dengan kertas saring. Kemudian daun dan batang
krisan direndam dengan menggunakan NaClO 1,7% dalam tabung
Erlenmeyer selama delapan sampai sepuluh menit. Daun dan batang
yang sudah steril dibilas dengan menggunakan aquades dan diletakkan
kembali di atas cawan petri. Daun dipotong sebesar 1x1 cm 3 pada
bagian dekat dengan urat daun. Begitu juga dengan batang, dipotong
sebesar 1x1 cm3. Potongan daun dan batang yang sudah steril kemudian
ditanamkan pada botol kuljar dengan posisi abaksial pada daun
menghadap ke medium. Sampel kultur jaringan ditempatkan pad arak
kultur dengan diterangi lampu LTD tiga puluh enam watt.
3.2.3 Pengamatan
Sampel kultur jaringan yang disimpan pada rak kultur diamati
setiap tiga hari sekali proses diferensiasi pada tiap potong jaringannya.
Sampel juga diamati pembentukan pucuk, akar, dan kalusnya. Apabila
terdapat kontaminasi pada sampel kultur jaringan, sampel dipisahkan ke
tempat yang berbeda dari yang lainnya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Daun

Kode

Foto

Kelompok 2
Ket: Tumbuh Kalus

*
Ket : Tumbuh kalus

Kod
e

Foto

Kod
e

Kelompok 12
5 Maret 2014
Ket : Belum terlihat
pertumbuhan yang signifikan

Foto

kelompok 4
Kamis, 6 Maret 2014
Ket:Kontaminasi jamur

Kelompok 8
Kamis, 6 Maret 2014
Ket: Tumbuh Kalus

Kelompok 14
5 Maret 2014
Ket : Belum terlihat
pertumbuhan yang signifikan

Kelompok 17
Rabu 5 Maret 2014
Ket : belum terlihat
pertumbuhan yang signifikan

Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Batang

Kode

Foto

Ket: Terkontaminasi jamur

Kelompok 11
Tgl 5 maret 2014
Ket: Ada 2 daun baru

Kelompok 12
5 Maret 2014
Ket: Tumbuh kalus dan daun

Kode

Foto

Kode

Foto

Kelompok
Ket: Terkontaminasi jamur
S

Ket: Tumbuh daun dan akar


W

*
Kelompok 8
Kamis ,
Ket:

DAFTAR PUSTAKA
Anderson. 2000. Effect of Level and Duration Suplementary Light on
Development of Chrysantemum hort. 61(92) : 148-155
Ayabe, M., Sumi, S. 1998. Establishment of a Novel Tissue Culture Metthod,
Stem-disc Culture and Its Practical Application to Micropropagation of
Garlic (Allium sativum L). Plant cell. Rep. 17:773-779.
George, Edwin F., M.A. Hall, Geert-Jan de Klerk. 2007. Plant Growth
Regulator Plant Propagation by Tissue Culture (1):185-186
Gunawan, LW. 1995. Teknik kultur in-vitro dalam holtikultura. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Hameed, N., Shabbir A., Ali A., Bajwa R. 2006. Invitro Micropropagation of
Disease Free Rose (Rosa indica) Mycopath. 4 : 35-48
Hendrayono, Daisy P. Sriyanti dan Wijayanti, Ari. 2004. Teknik Kultur Jaringan,
Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan. Yogyakarta: Kanisius.
Kusuma, Leo Anjar. 2009. Teori Dasar Kultur Jaringan Tanaman.
http://leqi.files.webs.id/2009/02/teori-dasar-kultur-jaringan-tanaman.pdf
diakses pada tangga 4 Maret 2014 pukul 23.22
Saptarini, N. 1988. Membuat Tanaman Cepat Berbuah. Jakarta: Niaga Swadaya
Shi, Z., et al. 2011. Chrysanthemum Linnaeus. Flora of China, 20-21: 6
Storr, Tony. 1984. Plant Tissue Culture. Herts: The Standing
Conference on Schools Science and Technology
The International Plant Names Index. 2005. Chrysanthemum. Online.
http://ipni.org/ipni/idPlantName. Diakses pada 24 Februari pukul 21.05.
Wareing, P.F. and I.D.J. Phillips. 1970. The Control of Growth and
Differentiations in Plants. Pergamon Press, Oxford.
Wolverton, B. C., et al. 1984. Foliage Plants for Removing Indoor Air Pollutions.
Economic Botany, 38(2): 224-228
Yuliarti, Nurheti. 2010. Kultur jaringan Tanaman Skala Rumah
Tangga.Yogyakarta: ANDI