Anda di halaman 1dari 13

KORELASI MATA KULIAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN DENGAN BUKU

YANG BERJUDUL MINDFUL LEARNING; MEMBONGKAR 7 MITOS


PEMBELAJARAN YANG MENYESATKAN
KARANGAN ELLEN J. LANGER

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Dasar Kependidikan
(MKDK) Psikologi Pendidikan

Oleh:
Nama

: WINDA ELVA YUANITA

NIM

: 1305366

Seksi

: 65284

Dosen

: ROZA EVA SUSANTI, S.Psi

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2014

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah
ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini penyusun
akan

membahas

mengenai

KORELASI

MATA

KULIAH

PSIKOLOGI

PENDIDIKAN DENGAN BUKU YANG BERJUDUL MINDFUL LEARNING;


MEMBONGKAR 7 MITOS PEMBELAJARAN YANG MENYESATKAN
KARANGAN ELLEN J. LANGER.
Makalah ini telah dibuat dengan menganalisa buku Mindful Learning dan
beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan
hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karena itu, kami mengundang pembaca untuk memberikan saran
serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
kami harapkan untuk penyempurnaan makalah ini selanjutnya.
Akhir kata semoga akalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Padang,

Juni 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................
KATA PENGANTAR.................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................
A. Latar Belakang Penulisan Buku.....................................................................
B. Rumusan Konsep...........................................................................................
BAB II CUPLIKAN ISI BUKU................................................................................
A. Ketika Latihan Membuahkan Ketidaksempurnaan........................................
B. 1066 Apa? Atau Bahaya Menghafal...............................................................
C. Pandangan Baru tentang Lupa.......................................................................
D. Mindfulness dan Kecerdasan.........................................................................
BAB IV PEMBAHASAN..........................................................................................
A. Ketika Latihan Membuahkan Ketidaksempurnaan........................................
B. 1066 Apa? Atau Bahaya Menghafal...............................................................
C. Pandangan Baru tentang Lupa.......................................................................
D. Mindfulness dan Kecerdasan.........................................................................
BAB III PENUTUP....................................................................................................

i
ii
iii
1
1
2
3
3
4
6
7
9
9
9
10
10
11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan Buku
Mitos dan dongeng tertentu membantu memajukan suatu budaya dengan
meneruskan suatu kearifan yang mendalam dan kompleks pada generasi
penerusnya. Buku ini berisi tujuh mitos yang begitu mengakar, atau cara
berpikir/ mindset, yang merusak proses pembelajaran. Buku ini juga
menjelaskan bagaimana kita dapat menghindari efeknya yang melemahkan
dalam berbagai situasi.
1. Kemampuan-kemampuan dasar harus dipelajari dengan baik sehingga
menjadi sifat kedua.
2. Memerhatikan berarti tetap berfokus pada satu hal di satu waktu.
3. Menunda kepuasan itu penting.
4. Penghafalan tanpa berfikir kritis perlu dalam pendidikan.
5. Lupa adalah masalah.
6. Kecerdasan berarti mengetahui apa yang ada di sana.
7. Ada jawaban yang benar dan salah.
Mitos-mitos ini merusak pembalajaran yang benar. Mitos tersebut
melumpuhkan kreativitas, membungkam pertanyaan kita, dan mengurangi
harga diri kita. Buku ini akan menelaah mitos-mitos itu dengan melakukan
percobaan di Harvard dan di tempat lain.
Gagasan-gagasan yang ditawarkan

buku

ini

untuk

melepaskan

cengkeraman mitos-mitos yang melemahkan tersebut sangat sederhana.


Kesederhanaan fundamental dari gagasan tersebut masih memperlihatkan mitos
penghambat lain bahwa suatu perbaikan besar yang dapat mencintakan sebuah
system pendidikan yang efektif.
Buku ini lebih menggunakan

pendekatanmengapa

daripada

bagaimana. Namun, berbagai contoh dan percobaan yang dijelaskan secara


implicit menganjurkan cara-cara belajar secara mindful. Suatu pendekatan yang
mindful terhadap setiap aktivitas memiliki tiga karakteristik: penciptaan
kategori-kategori baru yang berkelanjutan; keterbukaan terhadap informasi
baru; dan kesadaran yang implicit akan adanya lebih dari satu persepsi.
B. Rumusan Konsep
4

Berdasarkan latar belakang penulisan buku Mindful Learning di atas,


berikut ini adalah bab-bab yang mempunyai korelasi dengan mata kuliah
Psikologi Pendidikan.
1. Ketika Latihan Membuahkan Ketidaksempurnaan
2. 1066 Apa? Atau Bahaya Menghafal
3. Pandangan Baru tentang Lupa
4. Mindfulness dan Kecerdasan

BAB II
CUPLIKAN ISI BUKU
A. Ketika Latihan Membuahkan Ketidaksempurnaan
Salah satu mitos yang paling dijunjung tinggi dalam pendidikan atau
pelatihan adalah bahwa untuk mempelajari suatu keterampilan, seseorang harus
melatihnya hingga melakukannya tanpa berfikir.
1. Keterampilan yang Dipelajari Terus-menerus
Menghafal keterampilan dasar secara terus-menerus hingga
menjadikannya sebagai sifat kedua tidak selalu bisa diterapkan dengan
situasi yang berbeda. Kebanyakan dari kita hanya berpedoman pada apa
yang harus dilakukan berdasarkan sesuatu yang telah dipelajari, bukan
berdasarkan situasi. Kita tidak akan bisa menerapkan keterampilan
tersebut dalam konteks atau situasi yang berbeda. Sebagai contoh,
seseorang yang sudah terampil mengemudikan mobilnya di jalanan
Amerika akan merasa sangan canggung saat mengemudi di jalanan
Inggris karena berbeda posisi setir.
Sebagian besar kita telah diajar untuk menyerap informasi seolaholah informasi tersebut benar sekalipun dalam konteks berbeda. Untuk
itu, diperlukannya sikap keterbukaan terhadap informasi yang baru, atau
sikap mindful. Tidak masuk akan jika kita terpaku pada hal yang pertama
kita pelajari ketika pembelajaran itu terjadi ketika kita kekurangan
informasi.
Mempelajari kemampuan-kemampuan dasar dengan menghafal dan
tanpa berpikir hamper pasti menghasilkan kemampuan rata-rata. Untuk
itu, aturan yang diberikan untuk kita latih didasarkan pada kebenarankebenaran umum sudah diterima tentang cara melaksanakan tugas itu
alih-alih berdasarkan kemampuan pribadi kita.
2. Nilai Keraguan
Kunci menuju cara mengajar yang baru ini didasarkan pada
penghargaan terhadap sifat dunia yang kondisional atau bergantung pada
konteks dan nilai keraguan. Informasi yang sering didapat siswa dari

buku, televisi, sekolah, dan rumah disampaikan dari perspektif tunggal,


seolah-olah hal itu benar, bebas konteks. Bahan-bahan pengajaran
kondisional mengizinkan para siswa untuk menggunakan informasi
secara kreatif dalam konteks yang berbeda. Instruksi yang mengizinkan
penggunaan alternatif akan mendorong mindful learning.
Hanya siswa yang diajar secara kondisional, menggunakan
instruksi-instruksi yang tidak mengekang pikiran mereka, akan

lebih

kreatif dan menikmati pembelajaran. Semakin kita mempelajari informasi


awal secara kaku, akan semakin sulit membuka paket-paket tertutup
untuk menampung informasi baru. Hal ini dapat menghambat kreativitas
siswa dan cara belajarnya.
3. Pembelajan Sideways (Menyamping)
Pembelajaran sideways bertujuan untuk memelihara keadaan
mindful. Sebagaimana kita lihat, konsep mindfulness berkisar seputar
keadaan psikologi tertentu yang merupakan versi yang sangat berbeda
dari hal yang sama: (1) keterbukaan terhadap hal baru; (2) kesadaran akan
perbedaan; (3) kepekaan terhadap konteks yang berbeda; (4) kesadaran
implicit; dan (5) orientasi ke masa kini.
B. 1066 Apa? Atau Bahaya Menghafal?
Para siswa yang bergantung pada cara belajar menghafal bisa mendapati
dirina sendiri tak berdaya. Sebagian besar siswa masih mempersiapkan diri
dengan menghafal sebanyak mungkin fakta dari bacaan yang diwajibkan dan
catatan yang dibuat di kelas. Dan banyak, kalau tidak sebagian besarnya, guru
bersikeras agar siswanya mengetahui informasi kunci di luar kepala.
1. Mengurung Informasi
Menghafal adalah strategi untuk menyerap materi yang tidak
memiliki arti personal. Siswa akan mengalami masalah ketika mereka
ingin menerapkan materi itu dalam konteks baru. Kebanyakan dari kita
menganggap kegiatan menghafal membutuhkan banyak energy dan
merasa bahwa mempelajari begitu banyak fakta dapat membebani atau
mengacaukan pikiran kita.

Bahaya cara belajar menghafal sudah diperlihatkan selama


bertahun-tahun. Meningkatnya tingkat kebosanan siswa sering kali terjadi
di sekolah-sekolah yang menekankan penghafalan dan latihan-latihan.
Sebagian guru berusaha menyediakan kesempatan bagi pengembangan
pengetahuan lewat pemahaman yang fleksibel melalui materi belajar.
Penghafalan tampaknya tidak efektif menyimpan informasi untuk
jangka waktu yang lama. Penghafalan adalah cara menyerap materi yang
tidak relevan secara personal. Menjadikan informasi itu relevan dapat
menghilangkan keharusan untuk menghafal.
Ada dua cara seorang guru bisa membuat fakta atau gagasan
tampak penting secara personal. Pendekatan yang paling umum adalah
membentuk atau menafsirkan gagasan sehingga hubungannya dengan
hidup, minat, dan keingintahuan mayoritas siswa menjadi jelas.
Pendekatan kedua adalah mengubah sikap siswa terhadap materi itu,
yakni mengajar siswa untuk membuat materi itu berarti bagi diri mereka
sendiri.
2. Menarik Perbedaan
Mengajar siswa untuk menarik perbedaan memberi ruang bagi
mindful learning. Siswa belajar menciptakan konsep-konsep dasar yang
secara kontinu direvisi dan tidak meniadakan fenomena yang mungkin.
Jenis informasi yang dipelajari secara kondisional ini memungkinkan
dapat diakses, bahkan ketika ia tidak diprioritaskan oleh pikiran
seseorang. Proses belajar yang kondisional menghasilkan daya ingat yang
lebih baik.
C. Pandangan Baru tentang Lupa
Melupakan sesuatu tidak selamanya buruk. Apa jadinya jika kita
mengingat semua hal dari masa kecil hingga masa kini? Kita tidak akan bisa
menikmati hidup ini.
1. Tinggal di dalam Kekinian
Mempelajari sesuatu untuk kedua kalinya lebih mudah daripada
melupakan dan kemudian mempelajarinya secara berbeda. Fakta-fakta
8

yang diajarkan kepada kita sekarang sering kali bertentangan dengan apa
yang diajarkan kepada kita ketika kita masih belia.
2. Bahaya Ingatan Mindless
Ketika kita sudah mempelajari informasi secara mindful, kita tetap
terbuka terhadap kemungkinan informasi itu berbeda dalam situasi yang
beragam. Fakta-fakta yang diingat cenderung dianggap benar. Namun,
kebenaran sering kali berubah menurut konteks dan waktu. Lupa
memungkinkan kita sampai pada solusi-solusi yang lebih baik karena
solusi-solusi baru itu didasarkan atas pengalaman yang lebih banyak dan
mempertimbangkan konteks kekinian.
3. Pelupa versus Cara Berpikir Lainnya
Genius atau tidak, begitu kita telah mengetahui bahwa kita telah
melupakan sesuatu yang kita butuhkan, kita jadi berorientasi pada
kekinian dan membarui atau menemukan kembali apa yang perlu kita
ketahui. Dalam pengertian ini, lupa membangkitkan mindfulness.
Menghafal mengurung kita dalam masa lalu; lupa mendorong kita masuk
ke dalam kekinian.
D. Mindfulness dan Kecerdasan
Pengertian mengenai kecerdasan itu mungkin diselimuti oleh sebuah
mitos: keyakinan bahwa cerdas berarti mengetahui apa yang ada di luar sana.
Sebuah pandangan alternative yang menjadi dasar penelitian mindfulness, yaitu
bahwa individu bisa selalu mendefinisikan relasi mereka dengan lingkungannya
dalam beberapa cara, yang intinya menciptakan realitas di luar sana. Apa yang
ada di luar sana dibentuk oleh bagaimana kita memandangnya.
Dilihat dalam kerangka evolusioner, kecerdasan adalah kemampuan untuk
menyimpan dan mengatur persepsi yang meningkatkan peluang kita untuk
bertahan.
Perbedaan antara Kecerdasan dan Mindfulness:
Kecerdasan
Sesuai dengan realitas dengan

Mindfulness
Mengontrol realitas dengan

mengidentifikasi kesesuaian optimal

mengidentifikasi perspektif yang

antara individu dan lingkungan

mungkin digunakan untuk melihat situasi


9

Sebuah proses linear yang bergerak dari

Sebuah proses melangkah mundur dari

masalah ke resolusi secepat mungkin

masalah dan solusi untuk melihat situasi

sebagai hal baru


Suatu alat untuk mencapai hasil-hasil Sebuah proses pemberian makna kepada
yang diharapkan
hasil
Dikembangkan dari perspektif ahli yang Dikembangkan dari kemampuan pelaku
meneliti, yang berfokus pada kategori- untuk mengalami control personal
kategori stabil
Bergantung pada fakta-fakta yang diingat

dengan mengubah perspektif


Bergantung pada kelancaran pengetahuan

dan keterampilan-keterampilan yang

dan keterampilan serta mengenali

dipelajari dalam konteks yang kadang-

keuntungan dan kerugian masing-masing

kadang dipersepsi baru


Ketika kita bersikap mindful, kita akan secara implicit atau eksplisit (1)
memandang sebuah situasi dari beberapa perspektif, (2) melihat informasi yang
disajikan dalam situasi itu sebagai hal baru, (3) memerhatikan konteks dimana
kita mempresepsikan informasi itu, dan (4) menciptakan kategori-kategori baru
lewat mana informasi ini bisa dipahami.

10

BAB III
PEMBAHASAN
A. Ketika Latihan Membuahkan Ketidaksempurnaan
Melatih keterampilan dengan pengulangan

terus-menerus

tanpa

memerhatikan konteks atau situasi dapat menghambat kreativitas siswa dalam


memecahkan masalah. Dimana kreativitas adalah suatu proses mental individu
yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang efektif
yang bersifat imajinatif, fleksibel, suksesi, dan diskontinuitas, yang berdaya
guna dalam berbagai bidang untuk pemecahan suatu masalah.
Dalam hal ini, peran guru sangat diperlukan terlebih saat memberikan
instruksi untuk mengerjakan sesuatu. Instruksi yang kondisional atau mindful
dapat membuat siswa berpikir lebih kreatif, imajinatif, dan cerdas.
Pembahasan yang diungkapkan oleh Ellen J. Langer sesuai dengan teori
kreativitas dalam Psikologi Pendidikan. Dimana siswa yang kreatif mempunyai
cirri-ciri: keterampilan berpikir lancar, luwes, orisinil, keterampilan memperinsi
dan mengevaluasi. Ciri-ciri ini dapat didapatkan jika guru menerapkan
pembelajaran yang mindfulness yaitu membebaskan pikiran siswa.
B. 1066 Apa? Atau Bahaya Menghafal?
Benar bahwa siswa sudah terbiasa dengan kegiatan menghafal dalam
belajar. Guru mengajarkan mereka dengan menghafal, karena guru juga
melakukan hal terebut saat belajar. Belajar dengan cara menghafal mampu
mengurung informasi sehingga mereka akan terpaku pada apa yang telah
dihafal. Masalah ini berkaitan dengan teori pemrosesan informasi dalam belajar
dalam Psikologi Pendidikan.
Materi yang hanya dihafal hanya akan tersimpan dalam Short Term
Memori dan tidak akan bertahan lama. Memori adalah system yang sangat
berstruktur yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang
dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya
( Schlessinger dan Groves, 1976). Untuk itu, tugas guru adalah menciptakan
situasi yang kondisional agar siswa dapat berada dalam konsep sensasi, atensi,

11

persepsi dan memori. Mengajar dengan cara mindfulness, seperti yang telah
disebutkan dalam bab sebelumnya.
Karena teori sibernetik lebih mementingkan sistem informasi dari pesan
atau materi yang dipelajari, maka cara belajar dengan menghafal tidaklah
mendukung teori ini.
C. Pandangan Baru tentang Lupa
Dalam Psikologi Pendidikan, lupa adalah hilangnya kemampuan untuk
menyebutkan atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita
pelajari. Factor-faktor penyebab lupa sesuai dengan yang diungkapkan dalam
buku Mindful Learning, yaitu: proactive interference, perbedaan waktu dan
kondisi belajar dengan waktu mengingat kembali, perubahan sikap dan minat,
dan prubahan urat syaraf.
Untuk itu, belajar dengan cara mindful atau kondisional dapat
menghindarkan diri dari kelupaan, karena kita akan bersikap terbuka terhadap
informasi-informasi yang baru. Belajar melalui perbedaan juga dapat
meningkatkan daya ingat akan suat informasi.
D. Kecerdasan dan Mindfulness
Dalam buku Mindful Learning telah dipaparkan perbedaan antara
kecerdasan dengan mindfulness. Kecerdasan diartikan sebagai penyesuaian diri
secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. Hal ini sesuai dengan konsep
belajar mindfulness yang menekankan pada suatu kondisional.

12

BAB IV
KESIMPULAN
Mindful Learning adalah cara belajar yang (1) memandang sebuah situasi dari
beberapa perspektif, (2) melihat informasi yang disajikan dalam situasi itu sebagai hal
baru, (3) memerhatikan konteks dimana kita mempresepsikan informasi itu, dan (4)
menciptakan kategori-kategori baru lewat mana informasi ini bisa dipahami. Jika
siswa telah belajar secara mindful, maka mereka akan menyenangi pelajara, yang
didapat, tidak merasa jenuh, lebih kreatif dan imajinatif, tidak lupa tanpa menghafal,
dan mampu melihat melalui berbagai perspektif.
Untuk menciptakan kondisi belajar yang mindful, peran guru dalam
memberikan instruksi sangat diperlukan. Guru harus pandai memberikan instruksi
yang kondisional sehingga siswa dapat berpikir bebas mengenai suatu informasi.

13