Anda di halaman 1dari 15

Dalam kedokteran ( kebidanan ), yang gawat janin merujuk pada adanya tanda-tanda dalam

kehamilan wanita -sebelum atau selama melahirkan -yang menunjukkan bahwa janin
mungkin tidak baik. Because of its lack of precision, the term is eschewed in modern
American obstetrics. Karena kurangnya presisi, istilah ini dihindari dalam kebidanan Amerika
modern.
Tanda dan gejala
Umumnya adalah lebih baik untuk menggambarkan tanda-tanda tertentu sebagai pengganti
menyatakan gawat janin yang meliputi:

Gerakan menurun dirasakan oleh ibu

Mekonium dalam cairan ketuban ("minuman keras mekonium")

Non-pola meyakinkan terlihat pada cardiotocography :


o peningkatan atau penurunan janin denyut jantung ( takikardi dan bradikardi ),
terutama selama dan setelah kontraksi
o penurunan variabilitas dalam janin detak jantung
o akhir deselerasi

Biochemical signs, assessed by collecting a small sample of baby's blood from a scalp
prick through the open cervix in labor Biokimia tanda-tanda, dinilai dengan
mengumpulkan sampel kecil dari darah bayi dari tusukan kulit kepala melalui leher
rahim terbuka dalam kerja
o fetal metabolic acidosis janin metabolik asidosis
o elevated fetal blood lactate levels (from fetal scalp blood testing ) indicating
the baby has a lactic acidosis peningkatan kadar laktat darah janin (dari tes
kulit kepala darah janin ) menunjukkan bayi memiliki asidosis laktat

Beberapa tanda-tanda ini adalah prediktor yang lebih dapat diandalkan kompromi janin
daripada yang lain. Misalnya, cardiotocography dapat memberikan tingkat tinggi positif
palsu, bahkan ketika ditafsirkan oleh tenaga medis yang berpengalaman. Asidosis metabolik
adalah prediksi yang lebih dapat diandalkan, tetapi tidak selalu tersedia.
Penyebab
Ada banyak penyebab "gawat janin" yaitu:

Breathing masalah

Abnormal posisi dan presentasi janin

Beberapa kelahiran

Distosia bahu

Prolaps tali pusat

Nuchal kabel

Plasenta abruption

Prematur penutupan janin duktus arteriosus

Uterine pecah

Pengobatan
Alih-alih mengacu pada "gawat janin" rekomendasi saat ini terus untuk mencari tanda-tanda
dan gejala yang lebih spesifik, menilai mereka, dan mengambil langkah yang tepat untuk
memperbaiki situasi. Secara tradisional diagnosis "gawat janin" memimpin dokter kandungan
untuk merekomendasikan cepat pengiriman dengan pengiriman instrumental atau melalui
operasi caesar jika pengiriman vagina tidak disarankan.
http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Fetal_distress&prev=/search%3Fq
%3Dfetal%2Bdistress%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26hs%3DbQC%26rls
%3Dorg.mozilla:en-US:official%26prmd
%3Dimvnsb&sa=X&ei=QsOgUNroDoTqrQfZ-oHYAw&ved=0CCUQ7gEwAA

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada kehamilan postterm telah terjadi perubahan produk kehamilan. Terkadang hal
tersebut kurang disadari sehingga menghasilkan keluaran janin dengan resiko mortalitas dan
morbiditas tinggi.
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan plasenta, cairan amnion dan janin. Hal ini
meningkatkan resiko terjadi oligrohidramnion, aspirasi mekonium, asfiksia janin dan distosia
bahu. Induksi persalinan dilakukan bila tidak ditemukan adanya kontra indikasi. Selama
persalinan pola denyut jantung janin di monitor untuk mendeteksi terjadinya fetal distress.
Pengelolaan yang tepat selama kehamilan dan persalinan dapat menurunkan resiko mortalitas
dan morbiditas janin. Kehamilan postterm menurut American College of Obstetrian dan

Gynaecologyst adalah usia kehamilan genap atau lebih dari 42 minggu ( 294 hari ) dari hari
pertama menstruasi terakhir. Istilah lain yang sering digunakan selain postterm adalah
postdates.
Angka kejadian postterm sekitar 8% dari 4 juta kelahiran di United States selama 1977.
Analisa dari 27.677 kelahiran wanita Norwegia terjadi peningkatan dari 10% ke 27%. Jika
kelahiran pertama postterm dan menjadi 39% jika dua kali kelahiran postterm 1.
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan keadaan plasenta, cairan amnion dan janin.
Perubahan tersebut meningkatkan resiko luaran perinatal yang buruk. Beberapa keadaan yang
penting untuk di waspadai adalah oligohidramnion aspirasi mekonium, asfiksia janin dan
distoksia bahu 1-3. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, maka perlu memahami faktor
resiko dan mempersiapkan secara seksama pengelolaan sebelum dan selama persalinan.
B.
1.

TUJUAN
Tujuan Instuksional Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan saat kehamilan terutama saat terjadi Fetal
Distress.

2.

Tujuan Instuksional Khusus

1.

Mengetahui gawat janin dalam persalinan

2.

Mengetahui perubahan pada kehamilan postterm

3.

Mengetahui etiologi dan patofisiologi dalam persalinan

4.

Mengetahui faktor risiko terjadi fetal disstres pada persalinan postterm

5.

Mengetahui pengelolaan antepartum dan intrapartum

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Fetal Distress
Fetal Distress (Gawat janin) adalah gangguan pada janin dapat terjadi pada masa
antepartum atau intrapartum. Kegawatan janin antepartum menjadi nyata dalam bentuk
etardasi pertumbuhan intrauterin. Hipoksia janin peningkatan tahanan vaskular pada
pembuluh darah janin. (Nelson, Ilmu Kesehatan Anak)
Fetal Distress (Gawat janin) terjadi bila janin tidak menerima Oksigen cukup,
sehingga mengalami hipoksia. (Abdul Bari Saifuddin dkk.2002 )
Fetal Distress (gawat janin) adalah kondisi hipoksia yang bila tidak di lakukan
penyelamatan akan berakibat buruk. Hipoksia ialah keadaan jaringan yang kurang oksigen,
sedangkan hipoksemia ialah kadar oksigen darah yang kurang. Asidemia adalah keadaan
lanjut dari hipoksemia yang dapat disebabkan menurunnya fungsi respirasi atau akumulasi
asam.
Asfiksia atau hipoksia dapat di tentukan dengan beberapa indikator yaitu :
a.

PH darah tali pusat <7,14 intra partum <7,20 dalam kehamilan

b.

BD = 12 mmol

c.

Scor APGAR < 3

d.

Kegagalan multi organ


Keasaman darah ditentukan oleh keseimbangan kadar hidrogen dan bikarbonat.
Score apgar memang agak sukar dikaitkan dengan hipoksia karena yang tumpang tindih dan
telah dibuktikan tidak berhubungan dengan kelangsungan hidup perinatal oleh karena itu
pada setiap diagnosa gawat janin atau asfiksia, sebaiknya di buktikan kelumpuhan otak
( cerebral palsy ) berkaitan dengan kejadian akut intrapartum, harus memenuhi kriteria :

a.

asidosis metabolik-PH arteri umbilikal < 7.0 defisit asam = 12 mmol-L

b.

ensefalopati sedang/berat, pada bayi usia > 34 minggu

c.

kelumpuhan otak jenis qaudriplegik spastik

d.

tidak ditemukan penyebab: trauma,kelainan pembekuan darah, infeksi, genetik.


Gawat janin selama persalinan menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin.
Tanpa oksigen yang adekuat, denyut jantung janin kehilangan variabilitas dasarnya dan
menunjukkan deselerasi (perlambatan) lanjut pada kontraksi uterus. Bila hipoksia menetap,
glikolisis (pemecahan glukosa) anaerob menghasilkan asam laktat dengan pH janin yang
menurun. ( Dr. Sutrisno dan Dr. I. Edward Kurnia S.L )
Fetal Distress adalah bradikardia janin persisten yang bila tidak diperbaiki akan
menimbulkan dekompresi respon fisiologis dan menyebabkan kerusakan permanen SSP dan
organ lain serta kematian.
Fetal distress merupakan asfiksia janin yang progresif yang dapat menimbulkan
berbagai dampak seperti dekompresi dan gangguan sistem saraf pusat serta kematian.
B. ETIOLOGI

1. Etiologi fetal distress- Ibu :


a) Penurunan kemampuan membawa oksigen ibu
b) Anemia yang signifikan
c) Penurunan aliran darah uterin
d) Posisi supine atau hipotensi lain, preeklampsia
e) Kondisi ibu yang kronis
f) Hipertensi
2. Etiologi Faktor Uteroplasental :
a) Kontraksi uterus seperti hiperstimulas dan solusio plasenta
b) Disfungsi uteroplasental

infark plasental

korioamnionitis

disfungsi plasental ditandai oleh IUGR, oligohidramnion


3. Etiologi Faktor Janin :

a)

Kompresi tali pusat

oligohidramnion

prolaps tali pusat

puntiran tali pusat

b) Penurunan kemampuan janin membawa oksigen

anemia berat, misal : isoimunisasi, perdarahan feto-maternal

4. Kesejahteraan Janin dalam Persalinan :


Asfiksia intrapartum dan komplikasi :

Skor Apgar 0-3 selama >/= 5 menit

sekuele neurologis neonatal

disfungsi multiorgan neonatal

pH arteri tali pusat 7,0

defisit basa arteri tali pusat >/= 16 mmol/L

C.

PATOFISIOLOGI
Ada beberapa proses atau tahapan terjadinya peristiwa Fetal Distress, antara lain :

1.

Perubahan pada kehamilan Postterm


Terjadi beberapa perubahan cairan amnion, plasenta dan janin pada kehamilan postterm.
Dengan mengetahui perubahan tersebut sebagai dasar untuk mengelola persalinan postterm.

2.

Perubahan cairan amnion


Terjadi perubahan kualitas dan kuantitas cairan amnion. Jumlah cairan amnion mencapai
puncak pada usia kehamilan 38 minggu sekitar 1000 ml dan menurun sekitar 800 ml pada 40
minggu. Penurunan jumlah cairan amnion berlangsung terus menjadi sekitar 480 ml , 250 ml,
160 ml pada usia kehamilan 42 dan 43 minggu.
Penurunan tersebut berhubungan dengan produksi urin janin yang berkurang.
Dilaporkan bahwa aliran darah janin menurun pada kehamilan postterm dan menyebabkan
oligohidramnion.
Selain perubahan volume terjadi pula perubahan komposisi cairan amnion menjadi
kental dan keruh. Hal ini terjadi karena lepasnya vernik kaseosa dan komposisi phosphilipid.
Dengan lepasnya sejumlah lamellar bodies dari paru-paru janin dan perbandingan Lechitin
terhadap Spingomielin menjadi 4 : 1 atau lebih besar. Dengan adanya pengeluaran mekonium
maka cairan amnion menjadi hijau atau kuning.
Evaluasi volume cairan amnion sangat penting. Dilaporkan kematian perinatal
meningkat dengan adanya oligohidramnion yang menyebabkan kompresi tali pusat. Keadaan
ini menyebabkan fetal distress intra partum pada persalinan postterm.
Untuk memperkirakan jumlah cairan amnion dapat di ukur dengan pemeriksaan
ultrasonografi. Metode empat kuadran sangat popular. Dengan mengukur diameter vertikal
dari kantung paling besar pada setiap kuadran. Hasil penjumlahan 4 kuadran disebut
Amniotic Fluid Index ( AFI ). Bila AFI kurang dari 5 cm indikasi oligrohidramnion. AFI 5

10 cm indikasi penurunan volume cairan amnion. AFI 10 15 cm adalah normal. AFI 15 20


cm terjadi peningkatan volume cairan amnion. AFI lebih dari 25 cm indikasi polihidramnion.
3.

Perubahan pada plasenta


Plasenta sebagai perantara untuk suplai makanan dan tempat pertukaran gas antara
maternal dan fetal. Dengan bertambahnya umur kehamilan, maka terjadi pula perubahan
struktur plasenta.
Plasenta pada kehamilan postterm memperlihatkan pengurangan diameter dan
panjang villi chorialis. Perubahan ini secara bersamaan atau di dahului dengan titik-titik
penumpukan kalsium dan membentuk infark putih. Pada kehamilan atterm terjadi infark 10
% - 25 % sedangkan pada postterm terjadi 60% - 80 %. Timbunan kalsium pada kehamilan
postterm meningkat sampai 10 g / 100 g jaringan plasenta kering, sedangkan kehamilan
atterm hanya 2 3 g / 100 g jaringan plasenta kering.
Secara histology plasenta pada kehamilan postterm meningkatkan infark plasenta,
kalsifikasi, thrombosis intervilosus, deposit fibrin perivillosus, thrombosis arterial dan
endarteritis arterial. Keadaan ini menurunkan fungsi plasenta sebagai suplai makanan dan
pertukaran gas. Hal ini menyebabkan malnutrisi dan asfiksia.
Dengan pemeriksaan ultrasonografi dapat diketahui tingkat kematangan plasenta.
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan sebagai berikut :

1.

Piring korion : lekukan garis batas piring korion mencapai daerah basal.

2.

Jaringan plasenta : berbentuk sirkuler, bebas gema di tengah, berasal dari satu kotiledon
( ada darah dengan densitas gema tinggi dari proses kalsifikasi, mungkin memberikan
bayangan akustik ) .

3.

Lapisan basal : daerah basal dengan gema kuat dan memberikan gambaran bayangan
akustik. Keadaan plasenta ini di kategorikan tingkat 3.
4. Perubahan pada janin
Sekitar 45 % janin yang tidak di lahirkan setelah hari perkiraan lahir, terus
berlanjut tumbuh dalam uterus. Ini terjadi bila plasenta belum mengalami insufisiensi.
Dengan penambahan berat badan setiap minggu dapat terjadi berat lebih dari 4000 g. keadaan
ini sering disebut janin besar. Pada umur kehamilan 38 40 minggu insiden janin besar
sekitar 10 % dan 43 minggu sekitar 43 %. Dengan keadaan janin tersebut meningkatkan
resiko persalinan traumatik.
Janin postmatur mengalami penurunan jumlah lemak subkutaneus, kulit menjadi
keriput dan vernik kaseosa hilang. Hal ini menyebabkan kulit janin berhubungan langsung

dengan cairan amnion. Perubahan lain yaitu : rambut panjang, kuku panjang, warna kulit
kehijauan atau kekuningan karena terpapar mekonium.
E. Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul jika janin mengalami gawat janin yaitu :
1.

Asfiksia

2.

Menyebabkan kematian janin jika tidak segera ditangani dengan baik.

F. Penatalaksanaan
Prinsip Umum :
a.

Bebaskan setiap kompresi tali pusat

b.

Perbaiki aliran darah uteroplasenter

c.

Menilai apakah persalinan dapat berlangsung normal atau kelahiran segera merupakan
indikasi. Rencana kelahiran (pervaginam atau perabdominam) didasarkan pada faktor-faktor
etiologi, kondisi janin, riwayat obstetric pasien dan jalannya persalinan.
Penatalaksanaan Khusus:

a.

Posisikan ibu dalam keadaan miring sebagai usaha untuk membebaskan kompresi
aortokaval dan memperbaiki aliran darah balik, curah jantung dan aliran darah uteroplasenter.
Perubahan dalam posisi juga dapat membebaskan kompresi tali pusat.

b.

Oksigen diberikan melalui masker muka 6 liter permenit sebagai usaha untuk
meningkatkan pergantian oksigen fetomaternal.

c.

Oksigen dihentikan, karena kontraksi uterus akan mengganggu curahan darah ke ruang
intervilli.

d.

Hipotensi dikoreksi dengan infus intravena dekstrose 5 % dalam larutan laktat. Transfusi
darah dapat di indikasikan pada syok hemoragik.

e.

Pemeriksaan pervaginam menyingkirkan prolaps tali pusat dan menentukan perjalanan


persalinan.

f.

Pengisapan mekonium dari jalan napas bayi baru lahir mengurangi risiko aspirasi
mekoneum. Segera setelah kepala bayi lahir, hidung dan mulut dibersihkan dari mekoneum
dengan kateter pengisap. Segera setelah kelahiran, pita suara harus dilihat dengan
laringoskopi langsung sebagai usaha untuk menyingkirkan mekoneum dengan pipa
endotrakeal.
(Abdul Bari Saifuddin dkk.2002 )

G.

Pengelolaan Antepartum

Dalam pengelolan antepartum diperhatikan tentang umur kehamilan. Menentukan umur


kehamilan dapat dengan menghitung dari tanggal menstruasi terakhir, atau dari hasil
pemeriksaan ultrasonografi pada kehamilan 12-20 minggu. Pemeriksaan ultrasonografi pada
kehamilan postterm tidak akurat untuk menentukan umur kehamilan. Tetapi untuk
menentukan volume cairan amnion (AFI), ukuran janin, malformasi janin dan tingkat
kematangan plasenta.
Untuk menilai kesejahteraan janin dimulai dari umur kehamilan 40 minggu dengan
pemeriksaan Non Stess Test (NST). Pemeriksaan ini untuk menditeksi terjadinya insufisiensi
plasenta tetapi tidak adekuat untuk mendiagnosis oligohidramnion, atau memprediksi trauma
janin.
Secara teori pemeriksaan profil biofisik janin lebih baik. Selain NST juga menilai volume
cairan amnion, gerakan nafas janin, tonus janin dan gerakan janin. Pemeriksaan lain
yaituOxytocin Challenge Test (OCT) menilai kesejahteraan janin dengan serangkaian
kejadian asidosis, hipoksia janin dan deselerasi lambat. Penilaian ini
Dikerjakan pada umur kehamilan 40 dan 41 minggu. Setelah umur kehamilan 41 minggu
pemeriksaan dikerjakan 2 kali seminggu. Pemeriksaan tersebut juga untuk menentukan
Penulis lain melaporkan bahwa kematian janin secara bermakna meningkat mulai umur
kehamilan 41 minggu. Oleh karena itu pemeriksaan kesejahteraan janin dimulai dari umur
kehamilan 41 minggu.
TABEL-2: Skoring biofisik menurut Manning
Dikutip dari: Hidayat W, Pemantauan biofisik Janin, jilid 1, Unpad, Bandung, 1997
Variabel biofisik
Nilai 2
Nilai 0
Gerak nafas
Dalam 30 menit ada gerak nafas
minimal selama 30 detik
Tidak ada gerak nafas lebih
dari 30 detik
Gerak janin
Dalam 30 menit minimal ada 3
gerak janin yang terpisah
Gerak kurang dari 3 kali

Tonus
Ada gerak ekstensi dan fleksi
sempurna, atau gerak membuka
dan menutup tangan
Tidak ada gerak/ekstensi
lambat disusul fleksi parsial
NST reaktif
Dalam 30 menit minimal 2
akselerasi selama 15 detik dengan
amplitudo 15 kali/menit
Kurang dari 2 akselerasi,
kurang dari 15 kali/menit
Cairan amnion
Minimal ada satu kantung amnion
dengan ukuran vertikal >1 cm
Kantung amnion < >
Penatalaksanaan:
Nilai 10 : janin normal, dengan risiko rendah terjadi asfiksia kronik. Pada postterm pemeriksaan diulang 2
kali seminggu
Nilai 8

: Janin normal, dengan risiko rendah terjadi asfiksia kronik. Bila ada ologohidramnion
dilakukan terminasi kehamilan.
Nilai < >
Pemeriksaan amniosintesis dapat dikerjakan untuk menentukan adanya mekonium di
dalam cairan amnion. Bila kental maka indikasi janin segera dilahirkan dan memerlukan
amnioinfusion untuk mengencerkan mekonium.
Dilaporkan 92% wanita hamil 42 minggu mempunyai serviks tidak matang dengan Bishop
score kurang dari 7. Ditemukan 40% dari 3047 wanita dengan kehamilan 41 minggu
mempunyai serviks tidak dilatasi. Sebanyak 800 wanita hamil postterm diinduksi dan
dievaluasi di Rumah Sakit Parkland. Pada wanita dengan serviks tidak dilatasi, dua kali
meningkatkan seksio cesarea karena distosia.
H.

Pengelolaan Intrapartum
Persalinan pada kehamilan postterm mempunyai risiko terjadi bahaya pada janin. Sebelum
menentukan jenis pengelolaan harus dipastikan adakah disporposi kepala panggul, profil
biofisik janin baik. Induksi kehamilan 42 minggu menjadi satu putusan bila serviks belum

matang denganmonitoring janin secara serial. Pilihan persalinan tergantung dari tanda adanya
fetal compromise. Bila tidak ada kelainan kehamilan 41 minggu atau lebih dilakukan dua
pengelolaan. Pengelolaan tersebut adalah induksi persalinan dan monitoring janin. Dilakukan
pemeriksaan pola denyut jantung janin.
Selama persalinan dapat terjadi fetal distress yang disebabkan kompresi tali pusat oleh
karena oligohidramnion. Fetal distress dimonitor dengan memeriksa pola denyut jantung
janin. Bila ditemukan variabel deselerasi, satu atau lebih deselerasi yang panjang maka seksio
cesarea segera dilakukan karena janin dalam bahaya.
Bila cairan amnion kental dan terdapat mekonium maka kemungkinan terjadi aspirasi
sangat besar. Aspirasi mekonium dapat menyebabkan disfungsi paru berat dan kematian
janin. Keadaan ini dapat dikurangi tetapi tidak dapat menghilangkan dengan penghisapan
yang efektif pada faring setelah kepala lahir dan sebelum dada lahir. Jika didapatkan
mekonium, trakea harus diaspirasi segera mungkin setelah lahir. Selanjutnya janin
memerlukan ventilasi.
The American College of Obstetricians and Gynecologist mempertimbangkan bahwa
kehamilan postterm (42 minggu) adalah indikasi induksi persalinan. Penelitian menyarankan
induksi persalinan antara umur kehamilan 41-42 minggu menurunkan angka kematian janin
dan biaya monitoring janin lebih rendah.
Ringkasan :
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan plasenta, cairan amnion dan janin. Keadaan
tersebut meningkatkan risiko terjadi luaran janin yang buruk. Untuk menurunkan risiko
tersebut perlu pemeriksaan dan monitoring janin yang tepat selama kehamilan dan persalinan.
Putusan pengelolaan persalinan pervaginam atau perabdominal berdasarkan pemeriksaan
pematangan serviks dan memprediksi kesulitan persalinan dan menilai risiko bahaya janin.
Selama persalinan dilakukan pengawasan ketat terhadap pola denyut jantung janin dan
keadaan ibu.

BAB III
PEMBAHASAN
A.

PENGKAJIAN

1.

Data Subyektif

a.

Identitas pasien
Teori menurut Varney(1997) pekerjaan yang berat menyebabkan uterus berkontraksi , karena
dengan kontraksi menimbulkan hipermortilitas rahim. Dalam kasus Ny. K pekerjaan ibu
tergolong ringan karena pekerjaan ibusebagai ibu rumah tangga . Sehingga pada kasus ini
terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, karena pada kasus Ny. K
terjadinya KPD mungkin disebabkan karena factor lain diantaranya yaitu riwayat intercourse.

b.

Keluhan Utama
Teori menurut Mochtar (1998) keluhan utama pada ibu bersalin dengan KPD adalah adanya
pengeluaraan cairan pervaginam berisi mukonium, vernik kaseosa, rambut lanugo, atau bila
terinfeksi berbau. Dalam kasus Ny. K ibu mengeluh mengeluarkan cairan dari alat kelamin,
sehingga pada kasus inoi terdapat kesamaan antara teori dan tinjauan kasus.

c.

Riwayat Kesehatan
Teori menurut Varney (1997) riwayat penyakit injeksi genital merupakan kulit ketuban
menjadi tipis dan terjadinya nekrosis pada jaringan ikat local. Dalam kasus ini pasien tidak
pernah mengalami gangguan infeksi genital sehingga terdapat kesenjangan antara tinjauan
teori dan tinjauan kasus karena pada kasus ini mungkin disebabkan karena factor lain yaitu
adanya riwayat intercourse.

d.

Riwayat Obsetrik

1)

Riwayat Menstruasi
Teori menurut Saifudin (2001) riwayat menstruasi dikaji untuk menuntukan umur kehamilan
apakah preterm atau aterm yang sebelumnya dapat mendukung penatalaksanaan pada KPD,
umur kehamilan dikatakan preterm < 37 mggu dan dikatakan aterm >37 mggu. Pada kasus
Ny. K umur kehanilan 39 mggu sehingga terdapat kesamaan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus

2.

Data Obyektif

a)

Pemeriksaan Umum
Teori menurut Hacker (2001) suhu badan dan nadi dikaji karena ada pasien yang terkena
infeksi ditandai dengan meningkatnya suhu badan > 38 dan nadi > 100 x/mnitpada kasus ini
Ny. K suhu badan 38 dan nadi 90x/mnit, sehingga pada kasus ini menunjukan adanya gejala
infeksi dan hal ini menunjukan hubungan dengan kasus dan teori.

b)

Status Obstretikus

1)

Inspeksi

Teori menurut Saifudin (2002) pada pemeriksaan genetilia untuk kasus KPD yaitu adanya
pengeluaran air ketuban dari vagina. Dalam tinjauan kasus Ny. K pemeriksaan secara infeksi
pada genetalia terdapat pengeluaran cairan air ketuban dari vagina. Sehingga terdapat
kesamaan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus.
2)

Palpasi
Teori menurut Mochtar (1998) palapasi untuk menentukan letak janin karena mal posisi pada
janin merupakan predisposisi dari KPD

Leopold I

: Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam


Leopold II

: Menentukan ke atas rahim kanan dan kiri,menentukan letak punggung janin.

Leopold III

: Menentukan bagian terbawah janin, apakah bagian bawah janin sudah masuk

atau masih goyang


Leopold IV

: Menentukan bagian terbawah janin apa dan berapa jauh sudah masuk

panggul
Sedangkan pada kasus Ny. K
Leopold I

: TFU 3 jari dibawah px, teraba satu bagian yang keras dan melenting

Leopold II

: pada bagian kanan teraba memanjang , ada tahanan, pada bagian kiri teraba

janin bagian yang kecil janin

B.

Leopold III

: teraba satu bagian yang lunak

Leopold IV

: bagian bawah janin sudah masuk di H.II

INTERPRESTASI DATA
Teori menurut Erney (1997) langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau
masih berdasarkan interprestasi yang akurat atas data-data yang telah dikumpulkan pada
kasus Ny.K umur 24 tahun G1P0A0 hamil 39 mggu, janin hidup intra uteri, presentasi
bokong, punggung kanan, dalam fase aktif kala 1 dengan ketuban pecah dini.

C.

DIAGNOSA POTENSIAL
Teori menurut Varney (1997) identifikasi masalah berdasarkan rangkaian masalah
dan identifikasi diagnosa potensial yang mungkin terjadi. Teori menurut mochtar (1997)
diagnosa yang muncul pada KPD berkaitan dengan adanya kemungkinan komplikasi
terjadinya IUFD, Asfiksia dan prematuritas dan infeksi pada anak. Sedangkan pada ibu terjadi
partus lam dan infeksi .pada kasus ini diagnosa potensial yang terjadi ada hubungannya
dengan teori ini.

D.

MAL PRESENTASI KEPALA


Pada kasus Ny. K pada pemeriksaan Leopold I ternyata terdapat mal presentasi,yaitu
presentasi bokong, dengan adanya KPD yang terlalu lama akan menyebabkan bayi kurang
baik bila dilakukan partus pada pervaginam, maka sebaiknya dianjurkan untuk operatif.
Persalinan perabdominam (Sectio Cesaria / SC).
Persalinan presentasi bokong dengan Sectio Cesaria merupakan cara yang terbaik
ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan presentasi bokong secara
pervaginam, memberi trauma yang sangat berarti bagi janin, yang gejala-gejalanya akan
tampak pada waktu persalinan maupun dikemudian hari.6
Namun hal ini tidak berarti bahwa semua presentasi bokong harus harus dilahirkan
secara perabdominam. Beberapa kriteria yang dapat dipakai pegangan bawa presentasi
bokong harus dilahirkan secara perabdominam, antara lain ;

1.

Primigravida tua,

2.

Nilai sosial janin tinggi,

3.

Riwayat persalinan yang buruk,

4.

Taksiran berat janin besar 3500 kg,

5.

Dicurigai terdapat kesempitan panggul

6.

Prematuritas.
Sebelum melakukan pertolongan persalinan sebaiknya dilakukan penilaian persalinan
sungsang. Metode penilaian yang lazim dipakai adalah dari Zatuchni-Andros.
Nilai
0
Primigravida
39 mg
> 3690 gr

1
Multipara
38 mgg
3692-31769 gr

2
37 mgg
< 3175 gr

0
sebelumnya (> 2500 gr)
Pembukaan
2 cm

3 cm

Penurunan

-2

4 cm
-1/lebih

Paritas
Umur kehamilan
Taksiran Berat Janin
Persalinan
sungsang

-3/lebih tinggi

Keterangan:
Bila skor
3

= Persalinan dianjurkan dengan bedah caesar

= Dilakukan reevaluasi. Pengawasan persalinan yang ketat.

rendah

Dapat lahir pervaginam tetapi masih mungkin tindakan operatif.


5

= Persalinan diharapkan dapat pervaginam.

BAB IV
PENUTUP
A.

Simpulan

Gawat Janin merupakan hal yang serius dan perlu dikenal&tindakan

Sebaiknya ada bukti Asidemia (pH darah)

Pemantauan denyut jantung penting : tiap 30 menit dalam kala 1 dan tiap 5-10 menit
dalam kala 2.

B.

Saran
Sebaiknya ibu hamil menjaga kondisi badannya saat kehamilan. Dengan cara
mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk ibu hamil agar janinnya tidak terjadi sesuatu
yang di inginkan. Sebaiknya kehamilan itu diperiksakan ke dokter kandungan setiap beberapa
bulan sekali. Agar janin tetap terjaga dan dalam keadaan sehat.
http://erieratna30.blogspot.com/2012/02/makalah-fetal-distrees.html

Anda mungkin juga menyukai