Anda di halaman 1dari 7

1. Jelaskan jenis baja tahan karat yang saudara ketahui dan perbedaan masing-masing.

Tunjukkan lokasi baja tersebut di dalam diagram Schaefler.


Jawaban :
Beberapa jenis baja tahan karat antara lain adalah :
a. Baja tahan karat ferritik :
Fasa matriksnya adalah ferrite
mengandung 10.5% and 27% Cr, sedikit Ni and biasanya ditambah molybdenum.
Common grades: 18Cr-2Mo, 26Cr-1Mo, 29Cr-4Mo, and 29Cr-4Mo-2Ni
Magnetic (high in Fe content) and may rust due to iron content.
Lower strength vs 300 series austenitic grades
Cheap
b. Baja tahan karat austenitik :
Chromium-nickel steel digunakan secara luas dan dikenal dengan nama 18-8 (CrNi) steel
Umumnya ketahan korosi sangat baik, kecuali pada lingkungan khlorida
Ketahanan panas baik
ketahanan creep dan oksidasi pada temperatur tinggi yang baik.
Ketangguhannya baik (pada Temp tinggi dan rendah)
Kekuatan rendah hingga moderat.
Keuletan dan mampu bentuk baik.
Mampu las baik.
Non Magnetik
Harga relatif tinggi (sebab mengandung Nikel)
c. Baja tahan karat dupleks :

Memiliki fasa ferrite dan austenit

Idealnya ferrite : austenit 50 : 50

d. Baja tahan panas martensitik:


Merupakan paduan chromium dan karbon yang mengalami distorsi struktur kristal
bcc (body centered cubic) pada saat proses pengerasannya.
1

Komposisi :
Cr : 10,5 18 %

C : > 1,2 %

Sifat :
ferromagnetik
hardenable
tahan terhadap korosi pd lingkungan tertentu
Berikut merupakan diagram Scaffler yang menentukan jenis dari baja tahan karat, yakni
Ni ekuivalen dan chrome ekuivalen.

Ni equivalent
0%
UR B66 /S31266
UR B26 / 6 Mo
N08926
5%
SR50A
20%
32050
UR B25
S31254

32
28

AUSTENITE

24
20

DUPLEX

A+M

50a / 50g

317 LN

16

S32520/550/750/760

316L

12
8

MARTENSITE

12-6.5.2.5
12-4.5.1.5

11-2.5

UR 52N+/S32205
UR45N/S31803
UR 35N/S32304

304L

100%

A+M+F

F+M

12 16 20 24

FERRITE

28

32 36

40

Cr equivalent
Cr% + Mo% + 1,5 Si% + 0,5 Nb% + 5 V% + 3 Al%

2. Jelaskan weldability dari baja tahan karat. Dan sebutkan urutan tertinggi hingga
terendah dalam hal kemampulasannya.
Jawaban :
Weldability dari baja tahan karat adalah baja tahan karat mudah dilas dalam berbagai
metode. Struktur serta sifat yang terbentuk dari hasil pengelasan sangat bergantung
kepada komposisi kimia hasil lasan. Jenis struktur ditentukan dari Diagram Schaefler dan
2

De-long

Urutan tertinggi hingga terendah dalam hal kemampulasannya :


a. Austenitik SS
b. Duplex SS
c. Ferritik SS
d. Martensitik SS
3. Jelaskan mekanisme terjadinya weld decay (korosi batas butir) dan bagaimana cara
pencegahannya.
Jawaban :
Weld decay terjadi ketika baja tahan karat terkena panas pada temperatur 500-800 oC.
Pada temperatur tersebut terjadi perpindahan atom-atom Cr secara difusi dari daerah
dekat batas butir menuju batas butir membentuk endapan kromium karbida pada batas
butir. Hal ini menyebabkan daerah dekat batas butir menjadi kekuarangan kromium atau
daerah Chrome Depleted Zone. Akibat adanya endapan dan daerah kekurangan kromium
ini menyebabkan daerah batas butir menjadi sangat lemah dan akan terjadi koros batas
butir.
Pencegahan weld decay dapat dilakukan dengan cara :
a. Menggunakan jenis 321 ( Ti Stabilized) Ti = 5x%C atau jenis 347 (Nb stabilized), Nb
= 10x%C
b. Penghilangan endapan karbida dengan melakukan solution heat treatment pada 1050
O

C yang diikuti dengan pendinginan cepat

c. Menggunakan L grade low carbon


4. Jelaskan mekanisme terjadinya solidification cracking dan bagaimana cara
pencegahannya.
Jawaban :
Solidification cracking terjadi jika logam las membeku sebagai fasa tunggal gamma (),
yaitu jika Crek/Niek < 1,5. Jenis cacat ini dapat dihindari dengan menciptakan 5-10% ferrite pada logam las melalui pemilihan kawat las yang tepat.
Terjadinya retak tersebut tergantung pada :
3

Geometri sambungan dan rigiditasnya yang menentukan derajat restraint sebagai


faktor penentu level tegangan yang ditimbulkan

Rentang temperatur rapuh material

Komposisi kimia baja

Cara pencegahan dari solidification cracking dilakukan denganmemastikan SS yang dilas


tidak mengandung pengotor serta menggunakan fluks saat mengelas untuk melindungi SS
dari impurities.
5. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat feritik.
Jawaban
Pada baja tahan karat ferritik biasanya terjadi problem-problem berikuut, antara lain :
a. Butir akan kasar dan ketangguhan daerah HAZ yang rendah karena laju difusi Fe
yang tinggi, untuk itu Heat Input yang diberikan pada saat pengelasan harus rendah
b. Kemungkinan terbentuk martensit dari austenit yang bersifa keras dan getas, oleh
karena itu perlu dilakukann preheating agar laju pendinginannya rendah
c. Terjadi sensitasi, yakni terbentuk endapan karbida atau nitrida di batas butir akibat
proses pemanasan, untuk itu perlu dlakukan preheating
6. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat dupleks.
Jawaban :
Pada baja tahan karat dupleks biasanya terjadi problem-problem berikut, antara lain :
a. Sulit mendapatan austenit 50% untuk itu perlu ditambahkan nikel (over-matching)
b. Kemungkinan terjadi grain growth dari full ferrite pada HAZ sehingga masukan
panas perlu dikontrol
c. Low arc energy menyebabkan kandungan ferrite meningkat sedang sebaliknya akan
terbentuk fasa sigma
7. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat
martensitik.
Jawaban:
Pada baja tahan karat martensitik biasanya terjadi problem-problem berikut, antara lain :

a. Retak las akibat terbentuknya struktur yang keras dan rapuh (martensi) di HAZ.
Untuk itu perlu dilakukan preheating dan interpass temperatur yang tergantung dari
kadar karbonnya.
b. Post Weld Heat Treatment (PWHT) diperukan untuk meningkatkan sifat mekanisdan
mengurangi tegangan sisa. Untuk sambungan yang kompleks PWHT dilakukan sesaat
setelah pengelasan yaitu pada saat mencapai temperatur martensit start (130-150 oC)
c. Kandungan hidrogen harus rendah dan pakai austenitic filler metal
8. Proses finishing apa yang dilakukan pada pengelasan baja tahan karat austenitik, apa
yang terjadi bila hal tersebut tidak dilakukan.
Jawaban :
Proses finishing yang dilakukan pada pengelasan baja tahan karat austenitik antara lain
adalah :
a. Proses pickling : dengan larutan asam atau pasta untuk mencegah / menghilangkan
kontaminasi besi oksida, untuk menghilangkan tanda terbakar (heat tint) maupun
scale yang terbentuk akibat pemanasan pada temperatur tinggi.
b. Proses pasivasi : untuk menghilangkan tanda terbakar dan menghilangkan besi pada
permukaan SS agar tidak terjadi korosi pitting.
c. Degreasing merupakan proses penghilangan lemak, minyak, oli dll dari permukaan
stainless steel. Jika proses degreasing tidak dilakukan maka akan menimbulkan korosi
pada daerah las (misalnya Stress Corrosion Cracking karena adanya tegangan yang
diakibatkan oleh adanya tegangan yang ditimbulkan oleh karbon yang terkandung
dalam minyak) Bila tidak dilakukan maka akan terjadi korosi
9. Jelaskan metoda pengelasan dissimilar metal antara baja karbon dan baja tahan
karat austenitik. Jelaskan pengaruh kawat las bila a) kawat las tidak diberikan
(ditambahkan) dan b) bila kawat las diberikan (E309). Gambar dalam diagram
schaeffler dan beri kesimpulan hasilnya.
Jawaban :
Untuk melakukan pengelasan beda logam antara baja karbon dengan baja tahan austenitik
maka digunakan proses pengelasan SMAW dengan arus sebesar 60 amper. Masukan

panas dijaga rendah untuk menghindari crack atau embrittlement. Elektroda yang dapat
digunakan antara lain (tergantung jenis baja) E 304 and R 990.
Penggunaan kawat las akan berpengaruh terhadap besarnya daerah dilusi, dilusi ialah
perbandingan daerah base metal yang berfusi dibagi dengan seluruh daerah kampuh las.
Berikut merupakan diagram scaffler untuk pengelasan dissimilar baja tahan karat
austenitik dengan baja karbon tanpa filler:

Sementara itu pengaruh apabila kawat las yang diberikan adalah (E309)

10. Apa yang dimaksud dengan dilution dalam pengelasan dissimilar metal. Sebutkan
sarat-sarat dalam mengelas dissimilar metal agar dicapai struktur mikro dan kekuatan
yang baik. Ambil kasus 9 b diatas.
Jawaban :
6

Dilusi pada dissimilar metal adalah perbandingan daerah base metal yang berfusi dibagi
dengan seluruh daerah kampuh las.Dengan ilustrasi di bawah ini, dilusi dapat dirumuskan
sebagai berikut:

Syarat-syarat dalam mengelas dissimilar metal agar dicapai struktur mikro dan
kekuatan yang baik antara lain
-

Pemilihan Jenis filler elektroda yang tepat: analisis diagram Schaffler menunjukkan
bahwa penggunaan elektroda jenis E 308 sudah memenuhi syarat untukmenyambung
bahan dissimilar metal antara baja stainless SUS 304 dengan baja karbonrendah.

Heat input yang tepat : Masukan panas dijaga rendah untuk menghindari crack atau
embrittlement

Anda mungkin juga menyukai