Anda di halaman 1dari 29

PROPOSAL

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH 2016


Optimalisasi Sungai untuk Meningkatkan Pengelolaan Sumber Daya Air
Inovasi Pengendalian Daya Rusak Sungai

Penerapan Community Based River Normalization pada Sungai


Bengawan Solo Sebagai Pengendal Daya Rusak Sungai

Disusun Oleh :
1. Achsana Miftahul Jannah
2. Fabian Indra Arsalna
3. Titania Rofiatin

(I0114002)
(I0115034)
(I0115110)

Universitas Sebelas Maret Surakarta


2016

LEMBAR PENGESAHAN MAKALAH

1. Nama Tim

: Semar Bhadra

2. Institusi

: Universitas Sebelas Maret Surakarta

3. Alamat Institusi

: Jalan Ir. Sutami 36A Surakarta

4. Ketua Tim
a. Nama Lengkap

: Achsana Miftahul Jannah

b. NIM

: I0114002

c. No. Telp/HP

: 082136425283

d. Alamat email

: achsanamj@student.uns.ac.id

5. Jumlah Anggota Tim

: 3 orang

6. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar : R. Harya Dananjaya Hesti Indrabaskara, S.T, M.Eng.
b. NIP

: 19850917 201404 1 001

c. No. Telp/HP

: 085702003820

Mengetahui,

Surakarta, 30 April 2016

Dosen Pembimbing

Ketua Tim

R. Harya DHI., S.T., M.Eng.

Achsana Miftahul Jannah

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .
LEMBAR PENGESAHAN... .......
DAFTAR ISI .
DAFTAR TABEL .
DAFTAR GAMBAR

i
ii
Iii
V
vi

ABSTRAK.........................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........
1.2 Rumusan Masalah ...................
1.3 Tujuan Penelitian...................... ..
1.4 Metode Penelitian........................................................................................
1.5 Sistematika Penulisan..................................................................................
BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1 Pembahasan .........
2.2 Deskripsi Objek Penelitian...
2.3 Deskripsi Karya .......
2.4 Flowchart dan Timeline Penelitian..
2.5 Data Hasil Penelitian...................
2.6 Hipotesis karya........................
2.7 Analisa Kelebihan dan Kekurangan Karya.................................................
2.8 Analisa Dampak Karya
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan .....
3.2 Saran ....
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN..

iii

vii
viii

DAFTAR
iv TABEL

Tabel 2.1 Penetapan Nilai Batas Toleransi Erosi untuk Tanah-tanah di Indonesia
Tabel 2.2 Kondisi Bantaran Sungai Bengawan Solo Tahun 2007
Tabel 2.3 Timeline Penelitian di bantaran Sungai Bengawan Solo
Tabel 2.4 Kondisi Bantaran Sungai Bengawan Solo Tahun 2016

DAFTAR GAMBAR
v

Gambar 2.2 Diagram Alir untuk Penulisan Karya Tulis Ilmiah


Gambar 2.1 Sistematika Penulisan Karya Tulis

Penerapan Community Based River Normalization pada Sungai


vi

Bengawan Solo Sebagai Pengendali Daya Rusak Sungai

Achsana M. J.1, Fabian I. A.1, dan Titania R.1


1

Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik UNS Surakarta, Jl. Ir. Sutami 36 A
Kentingan Surakarta 57126
Email: achsanamj@student.uns.ac.id

ABSTRAK

Sungai Bengawan Solo yang membentang dari Provinsi Jawa Tengah hingga Jawa
Timur dan merupakan salah satu sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan panjang
mencapai 548,53 km. Total keseluruhan wilayah Sungai Bengawan Solo kurang lebih
20.125 km2. Di samping digunakan sebagai irigasi, sungai ini juga dimanfaatkan
sebagai prasarana transportasi. Dengan peran vitalnya bagi masyarakat, Sungai
Bengawan Solo sedang menghadapi ancaman erosi. Berdasarkan data yang dihimpun
dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2010 dapat diketahui
bahwa erosi tanah di DAS Bengawan Solo Hulu mencapai 3,18 mm/tahun yang telah
melampaui batas toleransi. Dampak erosi yang timbul antara lain terjadinya banjir,
perubahan bentuk sungai, retak pada tebing dan lain-lain. Untuk mengurangi dampak
erosi, maka perlu diterapkannya normalisasi sungai yang berbasis masyarakat
(community-based river normalization) sebagai salah satu inovasi pengendalian daya
rusak sungai. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat telah berhasil diterapkan
di beberapa daerah untuk penanganan longsor dan banjir. Maka tantangan berikutnya
adalah mengaplikasikan sistem normalisasi sungai berbasis masyarakat.
Tujuan utama sistem yang diusulkan adalah tidak hanya untuk menangani sungai
secara teknis, tetapi juga berusaha mengubah kebiasaan buruk masyarakat sekitar
yang sering menyebabkan meningkatnya daya erosi sungai. Pada sistem ini akan
dibangun krib yang berguna untuk mengatur arah arus sungai sehingga turbulensi
aliran sungai dapat ditekan dampaknya. Selain krib, retensi sungai ditingkatkan
dengan cara penanaman vegetasi pada daerah limpasan air hujan pinggir sungai.
Untuk menjaga agar sistem normalisasi sungai berlangsung secara
berkesinambungan, perlu dibentuk lembaga kemasyarakat di sekitar kawasan sungai.
Dengan partisipasi aktif dari masyarakat, diharapkan akan timbul rasa memiliki dan
kesadaran untuk menjaga kondisi, sehingga sistem ini akan menjadi sistem yang
berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi literatur dari berbagai
karya ilmiah dengan disertai pengumpulan data maupun wawancara langsung di
lapangan untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan masyarakat sekitar, agar bisa
dirumuskan solusi yang berkesinambungan.
Kata kunci: community-based river normalization,
sistem tanggap bencana erosi, krib, Sungai Bengawan Solo

penanaman

vegetasi,

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sungai merupakan salah satu sumber air bagi manusia yang
mempengaruhi perkembangan kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut
dikarenakan pentingnya pengaruh fungsi sungai diantaranya untuk irigasi,
perikanan, transportasi, MCK, hingga sebagai sumber air minum. Fungsifungsi penting tersebut dimiliki oleh hampir seluruh sungai di Indonesia salah
satunya adalah Sungai Bengawan Solo.

Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa.


Sungai tersebut melintasi kota Solo mulai dari pinggir sampai tengah kota.
Keberadaan sungai Bengawan Solo sangat dekat dengan kehidupan
masyarakat Solo sehari-hari. Kegiatan masyarakat yang berlangsung setiap
hari seperti membuang sampah sembarangan, mendirikan rumah di bantaran
sungai, hingga menggunakan pestisida yang berlebihan memberikan dampak
yang buruk bagi kondisi fisik aliran Sungai Bengawan Solo. Kondisi tersebut
diperburuk dengan laju erosi pada bantaran Sungai Bengawan Solo yang tiap
tahunnya semakin tinggi. Hal ini apabila dibiarkan terus menerus akan
menimbulkan sisi negatif,

seperti terjadinya perubahan morfologi sungai

karena adanya erosi pada tebing sungai yang dapat membahayakan


pemukiman penduduk dan perubahan muka air sungai akibat adanya sedimen
hasil erosi. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah erosi tersebut perlu
diadakan Penormalisasian Sungai yang Berbasis Masyarakat (communitybased river normalization).
Keuntungan dari inovasi Penormalisasian Sungai yang Berbasis
Masyarakat (community-based river normalization) yaitu dapat menimbulkan
efek yang berkelanjutan di dalam masyarakat. Efek positif dari penerapan
sistem normalisasi sungai yang berbasis masyarakat ini diantaranya adalah
masyarakat bisa sadar untuk mulai meninggalkan kebiasaan yang cenderung
meningkatkan laju erosi sungai. Selain itu, pada sistem ini juga akan dibangun
sebuah krib pada Sungai Bengawan Solo, sebagai pencegah dan pemulih
adanya erosi. Krib adalah sebuah struktur yang dibangun di bagian luar dari
sebuah belokan sungai untuk mengurangi laju aliran sungai, dan mencegah
erosi serta mampu mengembalikan keadaan bagian luar sungai seperti
sediakala. Selain itu, penanaman vegetasi pada limpasan air hujan dapat
mengurangi erosi dan mencegah land slide.
B. Rumusan masalah

Berdasarkan permasalahan yang ada, dapat dirumuskan pertanyaan :


1. Bagaimana

sistem

penormalisasian

sungai

berbasis

masyarakat

(community-based river normalization) diterapkan dalam masyarakat?


2. Bagaimana krib akan dibangun pada sistem normalisasi sungai berbasis
masyarakat (community-based river normalization)?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Dapat mengubah kebiasaan masyarakat yang berdampak buruk pada
kondisi sungai.
2. Dapat mengurangi laju erosi yang terjadi sepanjang aliran sungai.
3. Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan alam.
D. Metode Penelitian
Dalam pembuatan sebuah makalah, salah satu unsur penting yang tidak dapat
ditinggalkan adalah metodologi penelitian. Hal ini terkait dengan bagaimana
cara penulis mengumpulkan data yang dapat menunjang penulisan. Dalam
menyusun makalah ini, penulis menerapkan studi literatur pada jurnal maupun
buku. Selain itu, penulis juga melakukan wawancara serta observasi langsung
pada beberapa bagian Sungai Bengawan Solo.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan karya tulis ilmiah ditunjukkan oleh Gambar 2.1. Secara
garis besar, makalah terdiri dari tiga bab. Yaitu bab pendahuluan, landasan
teori, dan penutup.

Gambar 2.1 Sistematika Penulisan Karya Tulis


BAB 2
LANDASAN TEORI

A. Pembahasan
Sungai Bengawan Solo yang membentang dari Provinsi Jawa Tengah hingga
Jawa Timur dan merupakan salah satu sungai terpanjang di Pulau Jawa,
dengan panjang mencapai 548,53 km. Total keseluruhan wilayah Sungai
Bengawan Solo kurang lebih 20.125 km2. Di samping digunakan sebagai
irigasi, sungai ini juga dimanfaatkan sebagai prasarana transportasi. Dengan
peran vitalnya bagi masyarakat, Sungai Bengawan Solo sedang menghadapi
ancaman erosi. Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan
permukaan tanah atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin
(Suripin, 2004).
Butiran air yang berasal dari air hujan jatuh ke bumi karena adanya gaya
gravitasi. Air tersebut menghempas permukaan tanah sehingga partikel-

partikel tanah terlepas dan terlempar. Pada kondisi tanah miring, butiranbutiran air hujan yang terlalu banyak jumlahnya bisa menjadi ancaman.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) tahun 2010 dapat diketahui bahwa erosi tanah di DAS
Bengawan Solo Hulu mencapai 3,18 mm/tahun yang telah melampaui batas
toleransi. Erosi dan sedimentasi menjadi penyebab utama berkurangnya
produktivitas lahan pertanian, dan berkurangnya kapasitas saluran atau sungai
akibat pengendapan material hasil erosi (Hary Christady, 2012). Di samping
itu, erosi juga mengakibatkan terjadinya banjir, perubahan bentuk sungai,
retak pada tebing dan lain-lain. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh
Rusdianto (2002), besarnya batas toleransi untuk masing-masing jenis tanah
dipengaruhi oleh iklim pada daerah tersebut, batuan asal pembentuk tanah
maupun kedalaman tanah. Pada Tabel 2.1 ditunjukkan batas-batas toleransi
erosi tanah-tanah di Indonesia.
Untuk mengurangi dampak erosi, maka perlu diterapkannya normalisasi
sungai yang berbasis masyarakat (community-based river normalization)
sebagai salah satu inovasi pengendalian daya rusak sungai. Penanggulangan
bencana berbasis masyarakat telah berhasil diterapkan di beberapa daerah
untuk penanganan longsor dan banjir. Maka tantangan berikutnya adalah
mengaplikasikan sistem normalisasi sungai berbasis masyarakat.
Tabel 2.1 Penetapan Nilai Batas Toleransi Erosi untuk Tanah-tanah di
Indonesia

Pada sistem ini akan dibangun krib yang berguna untuk mengatur arah arus
sungai sehingga turbulensi aliran sungai dapat ditekan dampaknya. Krib yang
sesuai dengan kondisi bantaran Sungai Bengawan Solo yang menjadi objek
observasi adalah krib tiang pancang. Selain krib, retensi sungai ditingkatkan
dengan cara penanaman vegetasi pada daerah limpasan air hujan pinggir
sungai. Untuk menjaga agar sistem normalisasi sungai berlangsung secara
berkesinambungan, dibentuklah lembaga kemasyarakat di sekitar kawasan
sungai.

B. Deskripsi Objek Penelitian

Sungai Bengawan Solo terletak di Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur
dengan luas wilayah krang lebih 12% dari seluruh wilayah Pulau Jawa yang
merupakan sungai terbesar di Pulau Jawa. Sungai ini sebagai sumber air yang
sangat potensial bagi usaha-usaha pengelolaan dan pengembangan sumber
daya air (SDA), sungai Bengawan Solo digunakan untuk kebutuhan domestik,
air baku air minum dan industri, irigasi dan lain-lain.
Luas keseluruhan sungai Bengawan Solo kurang lebih 19.778 km2 yang
terdiri dari empat Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Bengawan Solo
dengan luas 16.100 km2 , DAS Kali Grindulu dan Kali Lorog di Pacitan
seluas 1.517 km2, DAS kecil dikawasan pantai utara seluas 1.441 km2 dan
DAS Kali Lamong seluas km2 .
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) tahun 2010 dapat diketahui bahwa erosi tanah di DAS
Bengawan Solo Hulu mencapai 3,18 mm/tahun dan sedimen lapang mencapai
250-1000 ton/ha/tahun. Berdasarkan data sounding, sedimentasi di
Bendungan Wonogiri mencapai 5,9 juta m3/tahun antara tahun 1980 1993.
Sedangkan antara tahun 1993- 2005 sedimentasi mencapai sekitar 3,1 juta
m3/tahun atau 3.192.000 ton/tahun.
1. Kondisi Masyarakat
Kondisi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai bengawan solo mayoritas
berpenghasilan menengah kebawah. Kondisi ekonomi yang tidak baik dan
sempitnya lahan pemukiman yang ada membuat mereka tetap tinggal bertahan
di bantaran sungai bengawan solo dengan segala konsekuensi yang ada seperti
terkena banjir hingga tanah longsor. Kondisi masyarakat yang seperti itu
menjadi penyebab terciptanya pemukiman kumuh di bantaran Sungai
Bengawan Solo.Akan tetapi, meskipun memiliki kondisi ekonomi yang tidak
begitu baik masyarakat di bantaran sungai bengawan solo memiliki SDM
yang cukup baik sehingga memungkinkan terjadinya perubahan pola hidup

dan pemikiran masyarakat apabila diberi arahan dan pengetahuan mengenai


pentingnya sungai bagi kehidupan
Kondisi masyarakat penghuni bantaran sungai bengawan solo saat initidak
jauh berbeda dengan kondisi enam tahun lalu. Gambaran mengenai kondisi
masyarakat sembilan tahun lalu di bantaran sungai bengawan solo kelurahan
Pucang Sawit berdasarkan jurnal GEMA TEKNIK - NOMOR 1/TAHUN X
JANUARI 2007 dapat dilihat pada table.
Tabel 2.2 Kondisi Bantaran Sungai Bengawan Solo Tahun 2007
Kondisi fisik

Sebagian besar rumah masih manggunakan dinding


bambu dan lantai semen serta bukaan yang sangat
minim. Sebagian besar rumah belum mempunyai
fungsi ruang yang jelas sehingga bagian teras
rumah mereka dijadikan tempat usaha kecil-kecilan
Kondisi rumah dapat dikategorikan dalam
bangunan permanen, semipermanen, dan non
permanen. Namun didominasi oleh rumah-rumah
non permanen. Setiap rumah rata-rata memiliki
luasan 20m2, dan di tempati 4-6 orang anggota
keluarga ( 3-5m2 per orang). Setiap lahan, 70-80%
dimanfaatkan untuk membangun rumah. Sering
terjadi banjir yang merupakan luapan dari
Bengawan Solo pada musim-musim penghujan,
Rumah-rumah yang ada dipinggir jalan lingkungan
tidak memiliki halaman, karena langsung
berbatasan dengan jalan tersebut. Hampir setiap

Kondisi
Lingkungan

rumah sudah dilengkapi dengan kamarmandi


Fisik Kondisi Jalan Pembuangan
Ketersediaan
sampah

air bersih

rata-rata

Kesadaran

Air bersih di

berlubang

masyarakat

lingkungan ini

dengan lebar

akan

berasal dari

2m dan 3m

kebersihan

sumur

untuk jalan

lingkungan

pompa.

lingkungan,

sudah

Dimana

terbuat dari

cukup tinggi.

se tiap pompa

semen,

Hal ini

digunakan

berhimpit

terbukti dengan

secara

dengan

tidak adanya

bersama-sama

rumah-rumah

masyarakat

oleh

penduduk

yang

kurang lebih 8

sekaligus

membuang

kepala

berfungsi

sampah

sebagai

sungai

di keluarga. Air
bersih dari

arena

PDAM

bermain

belum dapat

anak-anak.

menjangkau
semua
rumah
penduduk
yang ada di
RW 6

Fasilitas Umum

Sarana

Sarana

dan RW 8.
Sarana

Kesehatan
sarana

Transportasi
memanfaatkan

Pendidikan
kelurahan

kesehatan

sarana

Pucang

berupa

transportasi

sawit bisa

Puskesmas

pribadi seperti

dikatakan

pembantu

sepeda,

sudah

yang terdapat

sepeda motor,

mencukupi.

di RW XIII.

maupun mobil

Dari

Bangunan ini

dan bahkan

fasilitas TK,

memiliki

berjalan kaki.

SD,

ukuran 10 x

Hal ini

SLTP, SMU

7 m2, dengan

disebabkan

terdapat pada

luas lahan 15

belum

area

x 18 m2.

tersedianya

yang tidak

Kondisi

angkutan

terlalu

gedungnya

umum didaerah

jauh

sudah agak

ini

tua,

Bila dibandingkan dengan kondisi bantaran Sungai Bengawan Solo saat ini
sudah jauh berbeda. Hal tersebut terangkum dalam Tabel 2.3 berdasarkan hasil
survey yang telah dilakukan.

C. Deskripsi Karya
Pada sistem ini akan dibangun krib yang berguna untuk mengatur arah arus
sungai sehingga turbulensi aliran sungai dapat ditekan dampaknya. Selain
krib, retensi sungai ditingkatkan dengan cara penanaman vegetasi pada daerah
limpasan air hujan pinggir sungai. Untuk menjaga agar sistem normalisasi
sungai berlangsung secara berkesinambungan, perlu dibentuk lembaga
kemasyarakat di sekitar kawasan sungai. Dengan partisipasi aktif dari
masyarakat, diharapkan akan timbul rasa memiliki dan kesadaran untuk
menjaga kondisi, sehingga sistem ini akan menjadi sistem yang

berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi literatur dari


berbagai karya ilmiah dengan disertai pengumpulan data maupun wawancara
langsung di lapangan untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan masyarakat
sekitar, agar bisa dirumuskan solusi yang berkesinambungan.

D. Flowchart dan Timeline Penelitian


Flowchart dan timeline penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.2 dan Tabel 2.3
di bawah ini.

Gambar 2.2 Diagram Alir untuk Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Tabel 2.3 Timeline Penelitian di bantaran Sungai Bengawan Solo


Aktivitas
Pendaftaran
Study Litelatur mengenai kerusakankerusakan yang terjadi pada sungai
bengawan solo

Waktu
13 Februari 2016
21 Februari 2016

Lokasi
Online
Fakultas Teknik Universitas
Sebelas Maret

Menentukan sub tema berdasarkan


study litelatur
Survey wilayah sungai bengawan solo

22 Februari 2016

Fakultas Teknik Universitas

28 Februari 2016

Sebelas Maret
Pertemuan anak Sungai

yang terkena erosi

Bengawan Solo Sungai


Pepe dengan Sungai

Survey kondisi masyarakat yang

6 Maret 2016

Bengawan Solo
Jl. Penjalan no.383

tinggal di sekitar sungai bengawan

Gandekan, Solo (Kampung

solo

kumuh sepanjang bantaran


anak Sungai Bengawan

Study Literatur mengenai erosi pada


sungai, penyebab, dan
penanggulangannya.
Penggabungan ide berdasarkan study
literature
Penyusunan Abstrak
Pengumpulan Abstrak
Aktivitas
Survey dan pengumpulan data di

7 Maret 2016 - 12
Maret 2016

Sebelas Maret

13 Maret 2016

Fakultas Teknik Universitas

14 Maret 2016 19

Sebelas Maret
Fakultas Teknik Universitas

Maret 2016
20 Maret 2016
Waktu
31 Maret 2016

Badan Pusat Statistik Solo


Survey dan pengumpulan data di

Solo)
Fakultas Teknik Universitas

Sebelas Maret
Online
Lokasi
Jl. Dr. P. Lumban Tobing
no. 6 , Setabelan,

1 April 2016

Banjarsari, Surakarta
Ds. Bolon Kec. Colomadu

Basarnas
Study literatur dan mengolah data hasil

2 April 2016 3 April

survey
Survey dan pengumpulan data di Balai

2016
4 April 2016

Sebelas Maret
Jl.Solo - Kartosuro km.7

Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo


Study literatur dan mengolah data hasil

5 April 2016

Fakultas Teknik Universitas

survey

Kab. Karanganyar
Fakultas Teknik Universitas

Sebelas Maret

Survey dan pengumpulan data di

6 April 2016

Jl. Yosodipuro No. 162,

Badan Penanggulangan Bencana

Mangkubumen, Banjarsari,

Daerah
Wawancara dengan masyarakat yang

Surakarta
Jl. Penjalan no.383

7April 2016

tinggal di sekitar sungai bengawan

Gandekan, Solo (Kampung

Solo

kumuh sepanjang bantaran


anak Sungai Bengawan

Study literatur dan mengolah data hasil


survey
Penyusunan proposal
Pengumpulan proposal

8 April 2016

Solo)
Fakultas Teknik Universitas

9 April 2016 29

Sebelas Maret
Fakultas Teknik Universitas

April 2016
30 April 2016

Sebelas Maret
Online

E. Data Hasil Penelitian


Data hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.4. Selain itu, hasil yang
didapat dari penelitian berdasarkan observasi dan wawancara terhadap
masyarakat sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo dapat disimpulkan bahwa
masyarakat memiliki keinginan untuk diajak bekerja sama asalkan sistem
yang akan diterapkan harus konsisten dan bertanggung jawab. Masyarakat
terbuka atas usulan yang disampaikan yaitu tentang adanya krib sebagai salah
satu cara untuk mengurangi erosi dan penanaman vegetasi. Tanaman yang
bisa ditanam pada daerah lereng atau tepian sungai yaitu singkong, tanaman
jagung maupun sawi. Walaupun dalam penanamannya belum bisa memiliki
kualitas yang sangat baik karena adanya kendala dalam pemberian pupuk dan
cara perawata tanaman yang belum sepenuhmya baik dan benar. Jika sistem
normalisasi sudah dapat dinilai bagus dan berkesinambungan, ada rencana ke
depan untuk membina masyarakat untuk bercocok tanam dengan lahan minim
yang dapat menghasilkan panen yang berkualitas baik. Dengan adanya

kemauan dari mayarakat, pembinaan yang baik serta kerja sama antar instansi
yang berperan sistem normalisasi ini bukanlah hal yang tidak mungkin.

Tabel 2.4 Kondisi Bantaran Sungai Bengawan Solo Tahun 2016


Kondisi fisik

Sebagian besar rumah menggunakan dinding kayu


dan lantai semen. Sangat sedikit yang sudah
menggunakan keramik. Kondisi rumah dapat
dikategorikan dalam bangunan permanen,
semipermanen, dan non permanen. Namun
didominasi oleh rumah-rumah non permanen.
Masih sering terjadi banjir. Rumah-rumah yang ada
di pinggir jalan lingkungan tidak memiliki
halaman, karena langsung berbatasan
dengan jalan tersebut. Tidak setiap rumah sudah

Kondisi

memiliki fasilitas kamar mandi di dalamnya.


Fisik Kondisi Jalan Pembuangan
Ketersediaan

Lingkungan
Banyak jalan

sampah
Semakin

air bersih
Air
bersih

yang berlubang banyak

dapat diperoleh

dan kurang

masyarakat

dari air sungai.

terawat

yang

Sebagian

membuang

masyarakat

sampah
sungai

di sudah

dapat

merasakan
ketersediaan air
bersih

yang

berasal

dari

PDAM

walau

belum
Fasilitas Umum

Sarana

Sarana

maksimal.
Sarana

Kesehatan
Sarana

Transportasi
Dapat

Pendidikan
kelurahan

kesehatan yang memanfaatkan

Pucang

ada

sawit bisa

yaitu sarana

Puskesmas

transportasi

dikatakan

yang

pribadi seperti

sudah

jumlahnya

sepeda,

mencukupi.

sudah

lebih sepeda motor,

banyak

dari maupun mobil

sebelumnya.
Tetapi

dan bahkan

untuk berjalan kaki.

Dari
fasilitas TK,
SD,
SLTP, SMU

fasilitas

Untuk angkutan terdapat pada

puskesmas

umum,

tidak

terlalu semua wilayah yang tidak

lengkap
sehingga
kondisi

belum area

dijangkau oleh terlalu


jika moda
tidak transportasi

memungkinka

tersebut

jauh

dan

beberapa
bagian

sudah

n akan dirujuk

direnovasi

untuk menuju

dengan baik.

rumah

sakit

daerah
F. Hipotesis Karya
Dengan diterapkannya normalisasi sungai yang berbasis masyarakat
(community-based river normalization) masyarakat mendapatkan pengetahuan

dan pengalaman untuk merawat, menjaga, dan memanfaatkan sungai dengan


baik. Selain itu pemanfaatan bantaran sungai dengan penanaman vegetasi juga
memberikan nilai ekonomis sebagai sumber pendapatan masyarakat tanpa
menimbulkan dampak negative bagi sungai itu sendiri. Selanjutnya, pola
hidup masyarakat yang dulunya bersifat merusak sungai sedikit demi sedikit
akan berubah seiring berjalannya waktu dan diterapkannya normalisasi sungai
yang berbasis masyarakat (community-based river normalization).
Masyarakat juga akan lebih mandiri dalam membangun dan merawat salah
satu bangunan air pengendali erosi yaitu krib sehingga sebelumnya kondisi
krib yang tidak terawatt hingga mengalami kerusakan dapat terpecahkan oleh
pengetahuan masyarakat sekitar yang didapat dari sosialisasi, dan masalah
erosi pada bantaran sungai bengawan solo pun terpecahkan.
G. Analisa Kelebihan dan Kekurangan Karya
Pencegahan dan penanggulangan erosi pada bantaran sungai dengan cara
membangun krib atau tanggul dan pemberian groundsill tanpa ada perawatan
yang berkelanjutan hanya memberikan efek sementara pada proses erosi yang
terjadi. Bangunan- bangunan pengendali erosi tersebut apabila hanya sekedar
dibangun manfaatnya hanya akan didapat beberapa kurun waktu saja setelah
pembangunan selesai. Dengan cara Penormalisasian Sungai Berbasis
Masyarakat (community-based river normalization) inilah masyarakat akan
ikut berpartisipasi dalam mencegah dan menanggulangi erosi dengan tidak
hanya membangun tapi juga merawat, agar manfaat atau dampak positif yang
didapatkan tidak dirasakan beberapa waktu saja tapi bisa dirasakan terus
menerus atau berkelanjutan. Selain itu Penormalisasian Sungai Berbasis
Masyarakat(community-based

river

normalization)

juga

memberikan

pengalaman dan ilmu bagi masyarakat dengan diadakannya pelatihan dan


sosialisasi mengenai pembangunan dan perawatan krib serta memberikan nilai
ekonomis dari hasil penanaman vegetasi di bantaran sungai oleh masyarakat.

Pada pengimplementasian dari karya tulis ini, dibutuhkan pendekatan dengan


masyarakat baik dari segi psikologis seperti nasehat-nasehat akan pentingnya
sungai bagi kehidupan, maupun segi ekonomis jika diperlukan sebagai modal
awal pengembangan kegiatan pemberdayaan masyarakat sehingga penulis
dapat mengetahui dan menyesuaikan penerapan karya dengan pola hidup dan
karakteristik masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo
dengan harapan Penormalisasian Sungai Berbasis Masyarakat(communitybased river normalization) dapat terlaksanakan tanpa kendala dan tidak terjadi
penolakan dari masyarakat. Hal yang bisa menjadi kendala yaitu waktu yang
dibutuhkan untuk membina masyarakat dengan langkah-langkah konkrit dan
kerjasama antar instansi untuk menyukseskan sistem yang berkelanjutan ini.
H. Analisis Dampak Karya
Dengan disusunnya makalah ini, dampak positif yang diharapkan terjadi
adalah sebagai berikut :
1. Terjadi perubahan kebiasaan masyarakat yang awalnya dapat merusak
sungai menjadi peduli terhadap kondisi sungai.
2. Didapatkannya dampak positif yang berkelanjutan dengan diterapkannya
system normalisasi sungai berbasis masyarakat (community-based river
normalization).
3. Menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian alam
serta peningkatan kualitas dan daya dukung lingkungan yang pada
akhirnya mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan ketersediaan air
bersih, lingkungan yang sehat, yang dapat menyebabkan peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari studi penelitian community based river normalization pada Sungai


Bengawan Solo dapat disimpulkan beberapa hal penting diantaranya :
1. Community based river normalization merupakan sebuah inovasi dari sistem
penormalisasian sungai agar mampu memiliki daya guna seperti sedia kala
dengan faktor pengontrol yaitu masyarakat.
2. Dalam sistem Community based river normalization ini diharapakan
pemerintah sebagai faktor penyedia prasarana mampu menjalin hubungan
dengan masyarakat sekitar sebagai faktor pengguna yang bertanggung jawab
untuk merawat prasarana yang telah disediakan oleh pemerintah. Dalam hal
ini, prasarana yang dimaksudkan adalah krib.
3. Krib mampu menjaga arus aliran sungai seperti yang diharapkan. Oleh karena
itu, penggunaan krib lebih di fokuskan. Selain mengurangi efek erosi, krib
juga mampu mengembalikan tebing sungai yang telah terkena erosi. Namun
dalam pembuatan krib sendiri memakan biaya yang cukup mahal, terutama
krib beton.
4. Penggunaan krib yang mampu diterapkan pada Sungai Bengawan Solo adalah
Krib Tiang Pancang.
5. Penanaman vegetasi yang dapat diterapkan yaitu penanaman singkong,
tanaman jagung maupun sawi.
B. Saran
Demi kesempurnaan karya tulis ilmiah, penulis menyarankan :
1. Dalam pemilihan data dapat dipilah antara data yang valid dengan yang tidak.
2. Dalam penulisan lebih memperhatikan Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
3. Mampu memberi bukti fisik yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hardiyatmo, Hary Christad. 2012. Tanah Longsor dan Erosi. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press
Rusdianto, E.2002. Pengendalian Erosi Tanah Sebagai Upaya
Melestarikan Kemampuan Fungsi Lingkungan

Suripin.2004.Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air.Yogyakarta :


Penerbit Andi

vii
LAMPIRAN
Pertanyaan Quesioner
1. Pernahkah anda membuang sampah di sungai?
2. Sampah apa saja yang dibuang di sungai?
3. Berapa kali dalam sehari anda membuang sampah di sungai?

4. Sejak kapan kebiasaan membuang sampah di sungai dimulai?


5. Adakah tempat khusus pembuangan sampah di sekitar sungai?
6. Adakah tempat khusus pengolahan sampah di sekitar sungai?
7. Apakah sampah yang dibuang sudah dipilah-pilah?
8. Apakah ada kegiatan pemanfaatan limbah di sekitar sungai?
9. Apakah limbah yang dimanfaatkan menghasilkan produk?apa saja?
10. Apakah anda mengetahui dampak dari membuang sampah di sungai?apa saja?
11. Apakah air sungai ini dimanfaatkan oleh masyarakat?untuk apa saja?
12. Selain air sungai, sumber air apa saja yang ada di sekitar sungai?
13. Apakah sumber air tersebut diperoleh dengan cuma-Cuma?
14. Pernahkah terjadi kekeringan di daerah sekitar sungai saat musim kemarau?
15. Pernahkah terjadi banjir di daerah sekitar sungai saat musim penghujan?
16. Apakah banjir tersebut melumpuhkan aktivitas masyarakat di daerah sekitar
sungai?
17. Apakah banjir tersebut menimbulkan kerugian fisik ataupun material?apa
saja?
18. Adakah kegiatan yang dilakukan untuk menanggulangi banjir?
19. Seberapa sering banjir terjadi di daerah sekitar sungai?
20. Apakah ada keuntungan yang dapat diambil oleh masyarakat setelah terjadi
banjir?
21. Apakah anda melihat adanya proses pengikisan tanah di bantaran sungai?
22. Di daerah mana saja yang terlihat terjadi erosi secara mencolok?
23. Apa perbedaan yang terlihat pada bantaran sungai akibat adanya erosi?
24. Apakah proses erosi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar
sungai?
25. Apakah erosi tersebut menimbulkan kerugian?apa saja?
26. Apakah erosi tersebut menimbukan keuntungan? Apa saja?
27. Menurut anda apa penyebab dari erosi itu sendiri?
28. Menurut anda apa yang akan terjadi jika erosi dibantaran sungai terus terjadi?
29. Menurut anda apakah erosi tersebut dapat membahayakan masyarakat yang
bermukim di bantaran sungai? viii
30. Apakah ada upaya masyarakat untuk mengurangi atau menanggulangi laju
erosi yang terjadi di bantaran sungai?
31. Pernahkah diadakan sosialisasi dari pemerintah yang berkaitan tentang
sungai?
32. Apakah pemerintah sejauh ini sudah turun tangan untuk menanggulangi
masalah yang disebabkan oleh sungai?
33. Adakah upaya pemerintah untuk mencegah banjir?apa?

34. Adakah upaya pemerintah untuk mencegah kekeringan?apa?


35. Adakah lembaga swadaya masyarakat pemerhati sungai di daerah sekitar
sungai?
36. Apakah pernah diadakan sosialisasi oleh pihak swasta atau pihak lainnya?
37. Apakah anda tahu apa itu krib?
38. Sudah pernahkah dibangun sebuah krib di bantaran sungai?
39. Bagaimana kondisi krib tersebut saat ini?
40. Menurut anda apakah krib tersebut bermanfaat?
41. Apa matapencaharian mayoritas masyarakat di sekitar bantaran sungai?
42. Adakah industri rumah tangga di sekitar bantaran sungai?
43. Berapa rata-rata penghasilan setiap keluarga di daerah sekitar bantaran
sungai?
44. Apakah ada masyarakat berkesejahteraan rendah di daerah bantaran sungai?
45. Bagaimana menurut anda jika diadakan iuran rutin untuk memperbaiki
kondisi sungai dan untuk membangun fasilitas pengendali kerusakan sungai?
46. Apakah anda setuju jika di daerah bantaran sungai dibentuk suatu lembaga
swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perbaikan kondisi sungai?
47. Apakah anda mau bergabung dan berpartisipasi dalam kegiatan lembaga
swadaya tersebut?
48. Apakah anda setuju jika diadakan sosialisasi yang berkaitan tentang sungai
oleh lembaga swadaya tersebut?
49. Bagaimana menurut anda bila diadakan kegiatan rutin seperti kerja bakti di
sekitar bantaran sungai?
50. Menurut anda harusnya berapa kali dalam satu minggu kegiatan tersebut
dilakukan?
51. Bagaimana menurut anda jika di daerah bantaran sungai dibuat daerah hijau?
ix ditanam di daerah bantaran sungai?
52. Menurut anda tanaman apa yang cocok
53. Bagaimana menurut anda jika di daerah bantaran sungai dibangun krib lagi?
54. Apakah anda setuju jika diadakan pelatihan pembuatan krib yang baik dan
benar untuk masyarakat sekitar sungai?
55. Menurut anda seberapa pentingkah lembaga swadaya masyarakat dibentuk
untuk memperbaiki kondisi sungai yang semakin memburuk?
Quesioner dilakukan terhadap 10 orang penduduk yang tinggal di bantaran Sungai
Bengawan Solo