Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

PROSEDUR DAN TEKNIK OTOPSI JANTUNG

Oleh:
Hanifah Astrid Ernawati
G99131041

Pembimbing:
dr. Sugiharto, M.Kes, MMR, S.H

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN/ SMF ILMU KEDOKTERAN


FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015
1

BAB I
PENDAHULUAN
Kegunaan autopsi forensik pada hakekatnya adalah untuk membantu penegak
hukum untuk menjawab persoalan-persoalan yang di hadapi. Pemeriksaan jenazah di
bagian forensik meliputi pemeriksaan luar dan dalam atas jenazah yang di mintakan
oleh polisi penyidik yang menangani kasus. Suatu autopsi dapat mencegah orang
yang bersalah bebas dari hukuman dan juga dapat menyelamatkan orang yang tak
bersalah dari hukuman yang tidak semestinya.
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap bagian luar dan dalam, dengan tujuan
menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera melakukan interprestasi atas
penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan
sebab akibat antara kelainan-kelainan yang di temukan dengan penyebab kematian,
serta apakah kelainan yang lain turut memberi andil dalam terjadinya kematian.
Untuk mendapat hasil yang maksimal yang terbaik adalah dengan melakukan
autopsi yang lengkap meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada dan perut /
panggul, serta melakukan pembukaan terhadap seluruh alat-alat/organ dalam tubuh.
Untuk mendapatkan sebab kematian pasti dan tujuan lainnya, autopsi ada
baiknya selalu disertai dengan pemeriksaan yang lengkap, seperti pemeriksaan
bakteriologi, histopatologi, serologi, mikrobiologi, toksikologi dan lain-lain sesuai
kebutuhan.
Namun dari seluruh kegiatan autopsi dalam dunia kedokteran forensik autopsi
jantung juga sangat penting dilakukan dokter yang berpengalaman dalam menentukan
sebab, cara dan mekanisme kematian yang sangat erat kaitannya dengan sistem kerja
jantung. Misalnya pada korban yang meninggal oleh karena kasus keracunan,
meninggal tiba-tiba (sudden death), trauma, dan lain-lain.

BAB II
PEMBAHASAN
I. PENGERTIAN AUTOPSI
Pemeriksaan kedokteran forensik terhadap jenazah di rumah sakit sering
disebut dengan bedah mayat, dimana istilah lainnya yaitu : Autopsi, Seksi, Nekropsi,
Obduksi, atau pemeriksaan post mortem.
Dalam istilah Indonesia dipakai bedah mayat atau bedah jenazah.
Pemeriksaan post mortem (post-sudah, mortem-mati) berarti pemeriksaan yang
dilakukan pada orang yang telah mati. Necropsi berasal dari necros (jaringan mati)
dan opsi (lihat) jadi berarti pemeriksaan pada jaringan mati. Seksi berasal dari sectio
(potong, bedah). Autopsi bisa diterjemahkan langsung berarti lihat sendiri (autosendiri, opsi-lihat). Autopsi dimaksud sebagai pemeriksaan luar dan dalam pada
mayat untuk kepentingan pendidikan, hukum dan ilmu kesehatan.

A. Sejarah Autopsi
Autopsi sudah dilakukan beberapa abad yang lalu. Untuk perkembangan
pendidikan dibidang ilmu kedokteran, Raja Frederick II (Jerman) pada abad
ketiga belas telah memerintahkan dilakukan autopsi setiap 5 tahun dimuka umum.
Autopsi untuk kepentingan hukum (medicolegal autopsy) dimulai di Bologna
(Italy) oleh Bartholomeo Devarignana tahun 13021. Sejak abad ke 13 dan 14
autopsi telah merupakan bagian dari pendidikan mahasisiwa fakultas kedokteran.
Pada mulanya dipergunakan mayat dari autopsi medikolegal, yaitu korban
pembunuhan dan bunuh diri serta korban hukuman mati. Demikian penting
peranan autopsi pendidikan pada masa itu sehingga Giovanni Morgagni (16821771) yang dianggap sebagai Bapak Anatomi menyatakan : Those who have
dissected or inspected many bodies have at least learned to doubt,while those who
3

are ignorante of anatomy and do not take the trouble to attand to it, are in no
doubt at all.

B. Jenis Autopsi
Berdasarkan tujunnya autopsi dapat dibagi atas 3 jenis :
1. Autopsi anatomi, dilakukan oleh mahasisiwa fakultas kedokteran untuk
mengetahui susunan jaringan dan organ tubuh.
2. Autopsi klinik untuk menentukan sebab kematian pasti dari pasien yang
dirawat di rumah sakit (RS).
3. Autopsi forensik

(autopsi kehakiman) untuk membantu penegak hukum

dalam menentukan peristiwa kematian korban secara medis.

Autopsi Anatomi
Yaitu autopsi yang dilakukan oleh mahasiswa fakultas kedokteran dibawah
bimbingan langsung ahli ilmu urai anatomi di laboratorium anatomi fakultas
kedokteran. Tujuannya adalah untuk mempelajari jaringan dan susunan alat-alat
tubuh dalam keadaan normal.

Autopsi Klinik
Dilakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, dirawat di rumah
Sakit tetapi kemudian meninggal.
Tujuan dilakukannya autopsi klinik adalah untuk :
a. Menentukan sebab kematian yang pasti.
b. Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama perawatan sesuai dengan
diagnosis post mortem.

c. Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinis dan
gejala- gejala klinik.
d. Menentukan efektifitas pengobatan.
e. Mempelajari perjalanan lazim suatu proses penyakit.

Autopsi forensik (autopsi kehakiman)


Dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan undang- undang,
dengan tujuan :
a.

membantu dalam hal penentuan identitas mayat.

b.

menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta


memperkirakan saat kematian.

c.

mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas


benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan.

d.

Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk
Visum et Repertum.

e.

Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas
serta penuntutan terhadap orang yang bersalah.3

II. DASAR HUKUM


Pemeriksaan autopsi di atur dengan jelas dalam ketentuan hukum. Dalam RIB
(Reglemen Indonesia yang di perbaharui), hukum acara pidana sebelum KUHAP
yang berlaku sejak 31 desember 1981, di nyatakan adanya wewenang pegawai
penuntut umum dan megistrat pembantu (termasuk kepolisian) untuk meminta
bantuan dokter melakukan pemeriksaan jenazah.

Dalam KUHAP yang mulai berlaku pada penutup tahun 1981, terdapat
ketentuan yang menjelaskan keterlibatan dokter dalam melakukan autopsi

KUHAP Pasal 133


1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakim1an atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebut dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

KUHAP Pasal 134


1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah
mayat tidak mungkin lagi di hindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu
kepada keluarga korban.

KUHAP Pasal 222


Barang siapa dengan sengaja mencegah, mengalangi atau menggagalkan
pemeriksaan maya untuk penyidikan, dihukum dengan hukuman penjara selama
lamanya 9 bulan atau denda sebanyak banyaknya 300,- (Tiga ratus rupiah).

Instruksi Kapolri No. Pol Ins / E / 20 / IX / 75


Lampiran 3

: Dengan Visum et repertum atas mayat berdasarkan pemeriksaan


luar saja.

Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan / Panglima Angkatan


bersenjata No.Kep / b/ 20 / v / 1972.
Pasal II

: Bedah mayat klinis tidak diperlukan persetujuan anggota ABRI


yang bersangkutan sebelum meninggal atau keluarga yang
terdekat bila :

Pasal III

: Bedah mayat diperlukan persetujuan anggota ABRI yang


bersangkutan sebelum meninggal atau keluarga terdekat, bila

Fatwa Majelis pertimbangan kesehatan No. 4 / 1995 dan Syara


Departemen Kesehatan Indonesia memutuskan sebagai berikut :
Ayat 1

: Bedah mayat itu mubah / boleh hukumnya untuk kepentingan


ilmu pengetahuan, pendidikan dokter dan penegakan keadilan
diantara umat manusia.

Ayat 2

: Membatasi kemubahan ini sekedar darurat saja, menurut kadar


yang tidak boleh tidak, karena dilakukan untuk mencapai tujuantujuan tersebut.

Peraturan Pemerintah RI No. 18 Tahun 1981


Tentang bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis transplantasi alat atau
jaringan tubuh
manusia.

III.KETENTUAN UMUM DAN PERSIAPAN


Beberapa ketentuan umum dalam malaksanakan autopsi forensik oleh dokter
adalah :
a.Autopsi harus dilakukan sedini mungkin

Ini dilakukan unutk menghindari perubahan-perubahan lanjut yang mungkin terjadi


akibat proses post mortem pada mayat.
b.

Pemeriksaan harus dilakuakan pada siang hari.

Ini dilakukan untuk interprestasi kerja yang mungkin terjadi apabila pemeriksaan
dilakukan malam hari dan pencahayaan yang kurang baik.
c.Autopsi harus lengkap
Karena hasil dari pemeriksaan nantinya dimungkinkan digunakan sebagai pengganti
mayat (corpus delicti)
d.

Dilakukan sendiri oleh dokter

e.Pemeriksaan yang teliti.


Ini dilakukan dengan sebaik-baiknya karena tidak mungkin mengulang pemeriksaan
terhadap mayat apabila telah dikremasi.
f. Penyampaian hasil pemeriksaan yang segera kepada penyidik.
Ini berkaitan dengan masa penahanan tersangka yaitu 2 minggu. Demikian pula
dengan laporan
hasil (visum et repertum) tidak boleh ada yang dihapus.

A. Persiapan-Persiapan Yang Perlukan Di Perhatikan Dalam


Autopsi
1.

Permintaan tertulis
Menurut KUHAP 133 dan Pol Ins / E / 20 / IX / 75, maka harus diperhatikan
kelengkapan isi permintaan visum et repertum secara tertulis diterima dan
ditanda tangani.

2.

Kebenaran Mayat
Apakah mayat yang dikirim sesuai dengan permintaan visum et repertum.
8

3.

Keterangan pendukung pemeriksaan


Keterangan ini dihimpun atas segala sesuatu yang berhubungan dengan
korban / kasus, diperoleh dari penyidik dan atau kelurga korban ini sangat
membantu, tetapi kesimpulan tetap apa yang dilihat dan diperiksa.

4.

kehadiran penyidik pada saat pemeriksaan.


Ini untuk menguatkan hasil pemeriksaan.

5.

ketika autopsi dilakukan maka keluarga korban / pihak yang tidak berwenang
tidak berada pada ruang pemeriksaan.

6.

Ruang pemeriksaan dan alat alat di rumah sakit harus dipersiapkan.1,2

B. Alat dan Teknik Autopsi


Alat dan bahan yang biasa digunakan untuk autopsi yang biasa digunakan
biasa tersedia
dirumah sakit yaitu berupa :
1. Timbangan, yang besar untuk menimbang mayat dan yang kecil untuk
menimbang organ
2. Pisau, untuk memotong tulang rawan (cartilage knife). Memotong jaringan
otak (brain knife) dan pisau bedah mayat (post knife).
3. Gunting, untuk usus (intestinal scissor) dan untuk bedah (surgical scissor).
4. Pinset
5. Sonde Tumpul
6. Pemotong Tulang (Bone Forceps)
7. Gergaji Besi
8. Martil dan Pahat
9. Jarum jahit dan benang
10. Gelas Ukur
11. Meteran
9

12. Sarung tangan


13. Gelas objek dan piring petri
14. Cairan Pengawet
15. Air yang cukup terutama yang mengalir.2,3,4

Chissel

Morgue

Ribcutter

Saw

Needles

Postmortem table

Scalpel

10

Scissor

Tweesers

IV. TEHNIK AUTOPSI


a) Teknik VIRCHOW
Organ- Organ di keluarkan satu persatu dan langsung di periksa. Dengan
demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada masing-masing organ dapat
segera di lihat, namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang
tergolong dalam satu sistim menjadi hilang. Dengan demikian, tehnik ini
kurang baik bila di gunakan pada autopsi forensik, terutama pada kasus- kasus
penembakan dengan senjata api dan penusukan dengan senjata tajam, yang
perlu di lakukan penentuan saluran luka, arah serta dalamnya penetrasi yang
terjadi.
b) Teknik ROKITANSKY
Setelah rongga tubuh di buka, organ- organ di lihat dan di periksa dengan
melakukan beberapa irisan in situ, baru kemudian seluruh organ- organ
tersebut di keluarkan dalam kumpulan- kumpulan organ (en bloc). Tehnik ini
jarang di pakai, karena tidak menunjukkan keunggulan yang nyata atas tehnik
lainnya. Tehnik ini pun tidak baik di gunakan untuk autopsi forensik.

11

c) Teknik LETULLE
Setelah rongga dibuka, organ leher, dada, perut dikeluarkan sekaligus (en
messe) Plexus Coeliacus, Kelenjar aorta dibuka dan diperiksa rectum dipisah
dari sigmoid. Organ orogenetial dipisah dari organ lain. Bagian proksimal
yeyenum diikat didua tempat dan diputus. Esophagus dilepas dari trachea
tetapi hubungan dengan lambung dipertahankan.

d) Teknik GHON
Setelah rongga tubuh di buka, organ leher dan dada, hati, limpa dan organorgan pencernaan serta organ- organ urogenital diangkat ke luar sebagai 3
kumpulan organ- organ (bloc).

V. AUTOPSI JANTUNG
Setelah organ jantung tampak sehabis dilakukan pembukaan tulang dada yang
lengkap lalu perhatikan keadaan selaput pembungkusnya (pericard) apakah masih
dalam kondisi fisiologis atau tidak , kemudian lakukan pembukaan selaput tipis
pembungkus jantung (pericard) dengan metode penguntingan huruf Y terbalik.
Kemudian diperhatikan apakah terdapat cairan diantara bagian dalam selaput dengan
permukaan luar otot jantung yang berwarna kekuning-kuningan, perhatikan warna
selaput (normal : warna kuning gading kemerahan), perubahan warna cairan, dan
12

hitung jumlah volumenya (normal : 30-50 ml). Kemudian jantung diangkat dengan
cara memegang pada bagian apeknya dan perhatikan besar jantung (kira-kira sebesar
kepalan tangan korban), warna jantung, berat jantung, apakah ada dijumpai resapan
darah, adakah penebalan dinding jantung pada pembedahan jantung, perhatikan
ukuran keliling seluruh katup-katup jantung, tebal otot jantung, konsistensi,
pembuluh darah arteri dan vena, dan penyumbatan pembuluh darah jantung. Timbang
berat jantung, normal pada laki-laki perawakan sedang (60-70 kg) antara 250-350 gr.
Tekhnik:
Pada prinsipnya tekhnik membuka jantung mengikuti aliran darah jantung.
Pertama-tama buka atrium kanan dengan menggunting dinding belakang lumen vena
cava

superior-inferior

mengikuti

alirannya,

buka

ventrikel

kanan

dengan

memasukkan pisau dari lumen vena cava menuju ke apex jantung dan lanjutkan
dengan memotong kearah lateral, ukur keliling katup trikuspidalis (normal : 9,5 - 11
cm). Buka arteri pulmonalis dengan melakukan pengguntingan dari apex jantung
dengan jarak 1 cm lateral dengan sekat antar bilik ke arteri pulmonalis, ukur dan
perhatikan katup arteri pulmonal (normal : 5 - 7 cm). Buka atrium kiri dengan cara
memotong dinding posterior vena pulmonalis kanan dan kiri. Buka ventrikel kiri
dengan cara memasukkan pisau ke dalam ventrikel kiri dan tusuk sampai keluar dari
apek kea rah lateral, ukur dan perhatikan katup bikuspidalis (normal : 7 - 9,5 cm).
Buka aorta dengan cara menggunting otot jantung dari apex ke aorta dengan jarak 1
cm dengan sekat antar bilik. Tebal ventrikel / bilik kanan (normal : 3 - 5 mm) dan kiri
(normal : 12 - 14 mm) dengan cara membuat potongan tegak lurus pada 1 cm di
bawah katup tricuspidalis dan bicuspidalis. Bila diduga infark bisa dilihat dengan cara
melakukan sayatan pada septum interventrikularis dan myokard secara sejajar dengan
serabut otot. Arteri coronaria di buka dengan melakukan sayatan melintang mulai dari
muara arteri coronaria di pangkal aorta sampai ke distal pada jarak tiap cm lihat
adanya penebalan, penyempitan atau pelebaran lumen pembuluh darah.

13

14

Adapun nilai rujukan normal yang menjadi penilaian jantung pada autopsi tersebut :
Besar jantung sebesar kepalan tangan korban sendiri.
Berat normal 250-350 gram.
Katup trikuspidalis

= 9,5- 11 cm

Katup bicuspudalis

= 7- 9,5 cm

Katup a.pulmonalis

= 5-7 cm

Katup aorta

= 6,5 cm

Tebal otot bilik kanan

= 3-5 mm

Tebal otot bilik kiri

= 12-14 mm

VI. PENYAKIT CARDIOVASCULAR


Penyakit atherosklerosis pada pembuluh darah jantung merupakan
penyebab sudden death yang terbanyak. adalah atheroslerosis (pengerasan
pembuluh darah) merupakan penumpukan lemak (plaque) dan komponen lainnya
yang terjadi pada dinding pembuluh darah jantung. Menurut American Heart
Association ada beberapa penyakit sistem kardiovaskuler yang dapat menyebabkan
kematian yang pernah mencapai 81.100.000 orang dan menyebabkan kematian
mendadak, diantaranya :
Arteriosclerosis heart disease (425.425 orang), seperti :
= Coronary Artery Disease
= Coronary Thrombosis
= Coronary Occlusion
= Myocard Infark (8.500.00 orang)
Congestive Heart Failure (5.800.00 orang)
Pulmonary Embolism Infark
Aneurysma Aorta
15

Functional Heart Disease : = Arrhythmia


= Atrial fibrilation
Acut Myocarditis Non-Rheumatic
Rheumatic Myocarditis (3.257 orang)
Banyak ilmuwan yang beranggapan bahwa atherosclerosis berawal
karena lapisan paling dalam arteri rusak. Lapisan ini dinamakan endothelium.
Kerusakan pada endothelium mungkin disebabkan oleh tiga hal berikut:
Kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah meningkat
Tekanan darah yang tinggi
Asap rokok
Diabetes
Faktor-faktor genetik
Setelah dinding arteri mengalami kerusakan, terjadi pengendapan lemak,
kalsium, kolesterol yang secara keseluruhan penumpukan ini disebut plaque.
Demikian pula dengan

Aneurisma yang merupakan suatu penonjolan

(pelebaran, dilatasi) pada dinding suatu arteri. Aneurisma Aorta perut atau
Aneurisma Aorta Abdominalis (Abdominal aortic aneurysms terjadi pada bagian
dari aorta yang melewati perut. Penyakit ini cenderung terjadi pada suatu keluarga
(diturunkan). Aneurisma ini sering terjadi pada penderita tekanan darah tinggi,
ukurannya lebih besar dari 7,5 cm dan bisa pecah. (diameter normal dari aorta
adalah 1,8-2,5 cm).

16

BAB III
PENUTUP
Autopsi adalah suatu pemeriksaan terhadap tubuh jenazah untuk kepentingan
tertentu, meliputi pemeriksaan bagian dalam dengan menggunakan cara-cara yang
dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten. Karena
meliputi pemeriksaan bagian dalam maka autopsi memerlukan pembukaan tubuh
jenazah dengan melakukan irisan.
Pelaksanaan autopsi forensik di atur di dalam KUHAP, yang pada prinsipnya
autopsi baru boleh di lakukan jika ada surat permintaan tertulis dari penyidik dan
setelah keluarga di beri tahu serta telah memahaminya atau setelah 2 hari dalam hal
keluarga tidak menyetujui autopsi atau keluarga tidak di temukan.
Autopsi forensik atau medikolegal di lakukan terhadap mayat seseorang dengan
tujuan membantu dalam hal penemuan identitas mayat, sebab kematian, identitas
pelaku kejahatan, membantu laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta serta
melindungu orang yang tidak bersalah dalam penentuan identitas serta penuntutan
terhadap orang yang bersalah.
Namun dari seluruh kegiatan autopsi dalam dunia kedokteran forensik autopsi
jantung juga sangat penting dilakukan dokter yang berpengalaman dalam menentukan
sebab, cara dan mekanisme kematian yang sangat erat kaitannya dengan sistem kerja
jantung. Misalnya pada korban yang meninggal oleh karena kasus keracunan,
meninggal tiba-tiba (sudden death), trauma, dan lain-lain.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Arif Budiyanto, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran
Forensik FKUI, 1997; hlm.2, 214-218.
2. Gonzales TA, et al. Legal Medicine : Pathology and Toxicology. Appleton
Centuries Crofts, Inc : New York, 1996 : hlm 122-124, 132-133.
3. Hall & Guyton. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta, 1997 : EGC ;
hlm. 706-707.
4. Knight. B, Forensic Pathology. Second edition. Oxford University Press, inc :
New York, page 506 507.
5. Sheperd, Richard. Simpson's Forensic Medicine. 12 th edition. Greaat Britain:
Arade Publisher, 2003; page 120, 124-125.
6. Teknik Autopsi Forensik.Cetakan Pertama,Tahun 1981.Penerbit Bagian Ilmu
Kedokteran Kehakiman FK-UI : 1 43.
7. Modis.Medical Jurisprudence and Toxicology.Edited by
C.A.FRANKLIN.BOMBAY
8. N.M.TRIPATHI PRIVATE LIMITED 1988 ; page 69 95.
9. Dahlan S. Ilmu kedokteran Forensik. Cetakan III. Penerbit Universitas
Diponegoro.
10. Semarang. 2004: 177-182. 3. Amir A. Autopsi Medikolegal. Edisi Kedua.
Penerbit Ramadhan. 2004 ; page 1-50.

18

11. MD, Jurgen Ludwig. Handbook of : autopsy Practice. 3th ed. Totowa, New
Jersy Humana Press, 2002 ; page 1-83.
12. Dimaio Vincent J, Dimaio Dominick. Forensic Pathology. 2th ed. Florida :
CRC, 2001; page 43-48.
13. Knight B. Forensic Pathology. 2th ed. New York : Oxford University Press.
1996 ; page 1-29.
14. Hamdani N. Ilmu kedokteran kehakiman. Edisi kedua. Jakarta. 1991 ; page
48-59.

19

Anda mungkin juga menyukai