Anda di halaman 1dari 3

Instrumentasi

Kebanyakan instrumen spektroskopi terdiri dari lima komponen :


Sumber energi radiasi yang stabil
Selektor panjang gelombang yang memungkinkan isolasi panjang gelombang pada
wilayah yang terbatas
Wadah sample
Detektor radiasi, yang mengubah energi radiasi menjadi sinyal terukur
Prosessor sinyal dan pembacaan
(Clarke, 2011).
Spektrofotometer UV-Vis
Spektorfotometer single-beam
Berbeda dari colorimeter, ini menggunakan prisma atau berkualitas tinggi kisi difraksi
monokromator, bersama-sama dengan tambahan intens sumber radiasi UV, biasanya lampu
deuterium (atau hidrogen). Mempunyai presisi tinggi, terutama di range absorbansi yang optimal
(0,3-0,6 unit absorbansi). Sel referensi dan sampel harus dipindahkan masuk dan keluar secara
manual dari sinar radiasi pada setiap panjang gelombang, sehingga tidak praktis untuk memindai
spektrum menggunakan alat tersebut (Clarke, 2011).
Spektorfotometer double-beam
Spektrofotometer double-beam menggunakan komponen optik berkualitas tinggi yang sama
dengan yang ada di instrumen single-beam . Namun, radiasi dari monokromator dibagi menjadi
dua sinar identik oleh cermin berutar. Satu sinar melewati sampel dan lainnya melalui sel
referensi, sebelum digabungkan untuk fokus pada detektor . Setiap Sinyal diproses secara tepat
oleh detektor untuk mengukur absorbansi 10-20 kali per detik, yang memberikan kompensasi
penuh untuk sel dan penyerapan pelarut. Sebuah mesin akan memindai jalannya monokromator
untuk memberikan perubahan panjang gelombang yang konstan per detik, yang disinkronkan
dengan perekam atau plotter digital untuk menyajikan spektrum. Untuk broad-band, kecepatan
pemindaian yang dapat digunakan hingga 2 nm/s. Beberapa spektrofotometer dikendalikan oleh
komputer dengan kemampuan pengolahan data yang cepat sehingga dapat memindai pada
kecepatan mendekati 20 nm/s dengan kualitas spektral yang baik untuk menghasilkan puncak
yang tajam (Clarke, 2011).
Sebuah jenis sumber energi yang relatif baru adalah lampu xenon. Lampu ini digunakan sebagai
sumber lampu yang memancarkan cahaya dengan mode discontinuous (yaitu lampu
memancarkan cahaya hanya pada saat pengukuran cahaya ). Lampu xenon mencakup panjang
gelombang 200-1100 nm . Keuntungan dari lampu xenon adalah sebagai berikut :
Tidak terdapat daerah transisi antara rentang UV dan visible
Tidak perlu pemanasan untuk memastikan stabilitasnya
Lampu memiliki daya tahan yang lebih lama dibanding lampu konvensional
(Clarke, 2011).

i.

Sumber cahaya, lampu deuterium untuk bagian UV dari 190-350nm dan quartz halogen
atau lampu tungsten untuk bagian visible dari 350-900nm
ii.
Monokromator, digunakan untuk membubarkan cahaya menjadi konstituennya pada
panjang gelombang yang dipilih oleh slit. Monokromator diputar sehingga berbagai
panjang gelombang dapat melalui sampel yang dibaca oleh instrumen di spektrum
iii.
Optik, mungkin dirancang untuk memisahkan berkas cahaya sehingga sinar melewati dua
kompartemen sampel dan dalam seperti instrumen double-beam. Sebuah larutan blanko
kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki pembacaan atau spektrum sampel. Blanko
adalah yang paling umum pelarut di mana sampel dilarutkan
(Watson, 2000).
iv. Wadah Sampel (Kuvet)
Kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanyan kebanyakan wadah
sampel adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu
haruslah meneruskan energi cahaya dalam daerah spektral yang diminati: jadi sel kaca
melayani daerah tampak, sel kuarsa atau kaca silica tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet.
Kuvet (sel ) Adalah tempat disimpannya larutan sampel yang akan diukur serapannya, kuvet
ini diletakkan pada jalan cahaya dari monokromator.
Adapun syarat khusus yang harus dipenuhi , yaitu :
o Tidak berwarna (agar dapat mentransmisikan semua cahaya)
o Permukaannya sejajar
o Inert (tidak bereaksi terhadap bahan kimia)
o Tidak rapuh
o Tidak menyerap cahaya
o Terbuat dari gelas silikat biasa (kaca korex untuk daerah UV)
o Ukuran diameter 1 cm dengan volume 5ml
o Bentuk sederhana ( persegi panjang atau silinder )

(Marzuki, 2012).
Terdapat berbagai jenis dan bentuk kuvet pada spektrofotometer. Umumnya pada
pengukuran di daerah UV, digunakan kuvet yang terbuat dari bahan kuarsa atau plexiglass.
Kuvet kaca tidak dapat mengabsorbsi sinar uv, sehingga tidak digunakan pada saat
pengukuran di daerah UV. Oleh karena itu, bahan kuvet dipilih berdasarkan daerah panjang
gelombang yang digunakan. Gunanya agar dapat melewatkan daerah panjang gelombang
yang digunakan.
UV : fused silika, kuarsa
Visible : gelas biasa, silika atau plastic
(Marzuki, 2012).
v.

Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian diubah
menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan dalam bentuk angkaangka pada reader (komputer). Detector dapat memberikan respons terhadap radiasi pada
berbagai panjang gelombang Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah
melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan
serapan ultra-violet (Marzuki, 2012).

vi.
Visual display/recorder
Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam
bentuk % Transmitan maupun Absorbansi. Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah
gugus fungsional atau gugus kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat
eksutasi rendah. Tiga jenis elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron bebas.
Kromofor-kromofor organik seperti karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil mampu
menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang maksimumnya dapat
berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Auksokrom adalah gugus fungsional yang
mempunyai elektron bebas seperti hidroksil, metoksi, dan amina. Terkaitnya gugus kromofor
akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar
dan disertai dengan peningkatan intensitas (Marzuki, 2012).
Marzuki, A., 2012. Kimia Analisis Farmasi. Makassar : Dua Satu Press., hal. 2225.
Clarke, EGC., 2011, Clarkes Analysis of Drugs and Poisons, 4th Ed., London,
Pharmaceutical Press, P.538.
Watson, D.G., 2000, A Textbook for Pharmacy Students and Pharmaceutical
Chemist, London, Harcourt, P. 80.