Anda di halaman 1dari 7

Pembimbing Penyajian Ilmiah

SEMINAR PENYAJIAN ILMIAH


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN

Reswita S.P., MM
NIP : 19801218 200801 2 011

UNIVERSITAS BENGKULU
Nama/Npm

: Sinta Puspita Sari E1D013004


Miti Novita Sari

Judul Penelitian

E1D013050

: Prosfek Pengembangan Agribisnis Ayam Kampung (Ayam


Buras)

Pembimbing

: Reswita S.P., MM

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat terhadap daging dewasa ini terus menerus meningkat seiring
dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Sementara itu, angka produksi ayam kampung
belum dapat mengimbangi pertumbuhan permintaan pasar. Oleh karena itu, usaha budidaya
ayam buras ini perlu dikembangkan.
Ayam buras memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan ayam rasa atau ayam
lainnya. Kelebihan ayam buras, yaitu pemeliharaan mudah karena tahan pada kondisi
lingkungan dan pengelolaan yang kurang mendukung, tidak memerlukan lahan yang luas,
tidak mudah stres dan daya tahan tubuh lebih kuat, harga jual relatif stabil dan lebih
tinggi dibandingkan dengan ayam lainnya. pakan bisa didapat dari sisa hasil pertanian yang
ada atau sisa makanan dari rumah tangga yang dibuang, serta lebih tahan terhadap berbagai
penyakit ayam.
Sumbangan ayam buras pedaging dalam menyediakan daging mencapai 22%.
Populasi ayam buras mencapai lebih dari 250 juta ekor dengan tingkat perkembangan yang
cukup pesat. Pemerintah telah memfokuskan pola pemeliharaan ayam buras secara intensif
dengan cara program intensifikasi ayam buras (Prahasta, 2009). Sedangkan sumbangan ayam
buras pedaging dan petelur saat ini untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat
Indonesia sebesar 5,49% untuk ayam pedaging dan 3,86% ayam buras petelur (Kementrian
Pertanian RI, 2016).

Tabel 1. Sumbangan Ayam Buras (Ayam Kampung)


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015

Populasi Ayam

Produksi Telur

Produksi Daging

Konsumsi Telur

Konsumsi Daging

Buras

Ayam Buras

Ayam Buras

Ayam Buras

Ayam Buras

(ton)
264.795
267.492
319.599
297.653
313.996

(Kg)
3.702
3.754
2.764
2.607
2.607

(kg)
0.626
0.521
0.469
0.521
0.626

(ekor)
(ton)
257.554.104
172.216
274.564.428
197.084
276.776.676
194.620
275.116.120
184.637
285.021.084
191.765
Sumber : Kementrian Pertanian RI, 2016.

Produktivitas ayam buras sekarang ini masih belum berkembang dibandingkan ayamayam lainnya sehingga produktivitasnya perlu ditingkatkan lagi, melihat permintaan yang
setiap tahunnya meningkat agar antara supply dan demand ayam buras dapat seimbang maka
dari itu diperlukan strategi untuk pengembangan produksi ayam buras. Oleh karena itu kami
ingin mengetahui prospek pengembangan agribisnis ayam buras di indonesia.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ayam buras ?
2. Bagaimana strategi untuk meningkatkan produksi ayam buras petelur dan pedaging ?
3. Bagaimana prospek pengembangan agribisnis ayam buras ?
I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ayam buras.
2. Untuk mengetahui strategi peningkatan produksi ayam buras petelur dan pedaging.
3. Untuk mengetahui prospek pengembangan agribisnis ayam buras.
I.4 Manfaat
1. Bahan acuan untuk penelitian kedepan tentang Prosfek Pengembangan Agribisnis
Ayam Kampung (Ayam Buras).
2. Bagi peneliti memberikan wawasan atau penerapan ilmu yang telah didapatkan dan
bagi pembaca memberikan pengetahuan mengenai Prosfek Pengembangan Agribisnis
Ayam Kampung (Ayam Buras).

II PEMBAHASAN
2.1 Fakor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Ayam Buras

Produktivitas ayam buras jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan ayam ras.
Selain sifat genetik, faktor lain yang turut mempengaruhi rendahnyaproduktivitas ayam buras
adalah adanya sifat mengeram, mengasuh anak, istirahat dan lambat dewasa kelamin, serta
pola pemeliharaannya yang sangat sederhana/tradisional. Mengingat pentingnya peranan
ayam buras dalam menunjang perekonomian petani di pedesaan maka kiranya perlu
dipikirkan upaya-upaya terobosan untuk meningkatkan produktivitas ayam buras, melalui
perbaikan pola pemeliharaan, pemberian makanan, persilangan (grading up) dan lain-lainnya.
Menurut Adiwinas (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi produktifas telur ayam
kampung adalah sebagai berikut.
1. Faktor Genetik
Untuk lebih meningkatkan kapasitas produksi telur ayam kampung, tentunya peternak
harus memilih ayam kampung tipe petelur. Apabila pada peternakan ayam kampung kapasitas
produksi telurnya sedikit, peternak harus meneliti ayam kampung termasuk ke dalam jenis
ayam kampung pedaging.
2. Faktor Kesehatan
Hewan ternak lebih memilih mempertahankan kelangsungan hidupnya di banding
dengan bereproduksi. Apabila kondisi tubuhnya mengalami sakit atau mengidap suatu
penyakit, maka seluruh nutrisi yang di dapat dari makanan akan difokuskan untuk di gunakan
memperbaiki kesehatannya di bandingkan untuk bereproduksi. Salah satu penyakit yang tidak
mematikan akan tetapi sangat merugikan adalah penyakit cacingan pada ayam dan bisa juga
ayam kampung yang dipelihara mempunyai sejarah terserang penyakit di masa lalu, seperti
tetelo, berak kapur, berak darah, coryza. Biasanya ayam yang pernah terserang penyakit
kemudian sembuh, dikemudian hari kemampuan untuk memproduksi telur ayam kampung
menjadi menurun.
3. Kualitas Nutrisi Dalam Pakan
Apabila ayam yang di pelihara tidak mempunyai dua point di atas, kemungkinan
terbesar yang menyebabkan rendahnya produksi telur pada peternakan ayam kampung adalah
karena

rendahnya

kandungan

nutrisi

pada

ransum

peternakan

ayam

kampung.

sehingga peternak tidak bisa berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi telur ayam

kampung, apabila peternak tidak memberikan nutrisi yang cukup pada ransum yang
diberikan.
4. Usia Ayam betina
Usia sangat berpengaruh terhadap kemampuan ayam untuk memproduksi telur.
Semakin tua usia ayam yang dipelihara, maka akan semakin rendah kemampuan
memproduksi telurnya. Untuk memastikan penyebab terjadinya penurunan produksi telur
pada ayam kampung yang dipelihara, peternak harus memastikan usia ayam yang dipelihara.
Apabila ayam yang dipelihara sudah memasuki masa segera untuk ditangani dengan
mengambil dagingnya segera, daripada pengeluaran yang dikeluarkan untuk biaya pakan
tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan.
5. Lama Pencahayaan
Pencahayaan yang cukup dapat merangsang hormon reproduksi, lama pencahayaan
yang di butuhkan oleh ayam kampung betina adalah selama kurang lebih 16 jam. Sementara
penyinaran secara alami hanya mampu memberikan pencahayaan ke dalam kandang antara
11-12 jam. Meningkatkan kapasitas produksi telur ayam kampung dapat di bantu dengan
memberikan pencahayaan tambahan pada malam hari dengan menggunakan lampu neon atau
lampu jari. Jumlah lampu penerangan, tentunya di sesuaikan dengan luas kandang, dan untuk
penempatannya, di atur supaya cahaya dapat menyebar secara merata.
6. Cuaca Yang Terlalu Panas
Cuaca panas yang terlalu ekstrim tentu sangat berpengaruh terhadap kapasitas
produksi telur ayam kampung. Ketika cuaca terlalu panas, ayam kampung yang dipelihara
akan lebih banyak mengkonsumi air minum dibanding dengan mengkonsumsi makanan,
sementara makanan yang disediakan mengandung beberapa sumber nutrisi sebagai
pembentuk telur. Cara mengatasi cuaca panas yang ekstrem, solusi jangka pendek dapat di
lakukan penyiraman pada lantai kandang. Solusi jangka panjang adalah dengan menanam
pepohonan, dengan adanya pepohonan lingkungan kandang akan menjadi lebih sejuk.

3.1 Strategi Untuk Meningkatkan Produksi Ayam Buras Petelur Dan Pedaging (Ayam
Buras Organik)
Strategi untuk meningkatkan produksi ayam buras petelur dan pedaging dapat
dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
1. Pembuatan pagar batas
Upaya untuk meningkatkan produktivitas agar beternak ayam buras ini memberikan
imbalan yang baik, maka ayam perlu dipelihara secara intensif, yaitu dengan cara
memberikan ruang gerak yang lebih terbatas misalnya di areal pekarangan yang berpagar.
Dengan adanya pagar batas, maka konsekuensinya adalah peran peternak dalam
pemeliharaan ayam buras dituntut lebih besar. Pemenuhan konsumsi makanan dan minuman
yang cukup serta adanya upaya pencegahan penyakit seperti melakukan vaksinasi secara
teratur menjadi lebih mudah. Adanya rasa tanggung jawab yang demikian akan menimbulkan
suatu motivasi ekonomi produktif Keadaan ini akan menjadikan usaha beternak ayam buras
bukan sebagai usaha sambilan lagi, tetapi lebih maju yaitu mengarah pada segi ekonomi atau
segi keuntungan.
2. Penyapihan secara dini
Penyapihan dini adalah memisahkan anak ayam dari induknya seawal mungkin,
setelah telur menetas dan dipelihara dalam kandang indukan. Artinya induk tidak diberi
kesempatan untuk mengasuh anaknya, sebagaimana sifat alami/ kebiasaan ayam buras yang
dipelihara secara tradisional. Salah satu faktor penyebab yang turut mempengaruhi rendahnya
produktivitas ayam buras adanya sifat/kebiasaan mengasuh anak. Dengan tidak adanya waktu
mengasuh anak, mengakibatkan jangka waktu untuk bertelur kembali semakin singkat, serta
frekuensi bertelur dalam satu tahun dapat meningkat .
Menurut hasil penelitian Pandiangan (1988), rataan ayam buras dalam mengasuh anak
adalah 107 hari . Keuntungan lain dari program penyapihan dini adalah bisa menekan angka
kematian. Pada pola pemeliharaan tradisional anak ayam diasuh oleh induknya dibawa
berkeliaran kesana-kemari, sehingga banyak mengalami resiko kematian, dengan penyapihan
dini, resiko-resiko tersebut dapat dihindari .
3. Perbaikan pakan
Perbaikan pakan yang kami bahas di makalah ini adalah pakan dari bahan organik
sehingga ayam tersebut menjadi ayam organik yang sehat dikonsumsi oleh masyarakat.
Untuk itu penggunaan bahan pakan organik alternatif sangat dibutuhkan agar kebutuhan
nutrisi ternak dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau. Bahan pakan alternatif tersebut
antara lain dengan memanfaatkan limbah non konvesional, salah satu limbah non

konvensional adalah limbah industri perkebunan kelapa sawit yang setiap tahun meningkat
jumlahnya seiring dengan meningkatnya industri kelapa sawit yang mulai menjadi primadona
untuk devisa negara, di antara limbah tersebut yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan
adalah lumpur sawit.
Menurut Hidayat et al (2007) lumpur minyak sawit merupakan sumber daya yang
cukup potensial sebagai bahan pakan ternak, murah, tersedia dalam jumlah besar dan relatif
tersedia sepanjang waktu. Hasil analisa Sinurat et al (1992) melaporkan bahwa kandungan
nutrisi lumpur sawit kering adalah protein kasar 11,9% dan serat kasar 29,76%. Kandungan
nutrisi yang rendah tersebut menjadi kendala dalam pemanfaatan lumpur sawit sebagai bahan
pakan untuk ternak unggas, maka diperlukan sentuhan teknologi fermentasi. Proses
fermentasi terlebih dahulu dilakukan untuk meningkatkan nilai nutrisi yang terkandung
didalamnya.
4. Pengendalian dan Pengawasan Penyakit
Di dalam pengendalian penyakit hendaknya perlu diingat bahwa mencegah timbulnya
atau berjangkitnya suatu penyakit adalah lebih baik, lebih mudah dan lebih murah bila
dibandingkan dengan biaya pengobatan. Pencegahan bisa dilakukan berbagai cara seperti
sanitasi yang baik, vaksinasi yang teratur, penggunaan obat-obatan yang dicampurkan
kedalam makanan atau air minum yang berbentuk feed suplement serta segera mengisolasi
ayam yang sakit. Dengan adanya pengawasan penyakit secara rutin diharapkan bisa
meningkatkan produktivitas ayam buras.
3.1 Prospek Pengembangan Agribisnis Ayam Buras

Tahun
2011
2012
2013
2014
2015

Populasi Ayam

Produksi Telur

Produksi Daging

Konsumsi Telur

Konsumsi Daging

Buras

Ayam Buras

Ayam Buras

Ayam Buras

Ayam Buras

(ton)
264.795
267.492
319.599
297.653
313.996

(Kg)
3.702
3.754
2.764
2.607
2.607

(kg)
0.626
0.521
0.469
0.521
0.626

(ekor)
(ton)
257.554.104
172.216
274.564.428
197.084
276.776.676
194.620
275.116.120
184.637
285.021.084
191.765
Sumber : Kementrian Pertanian RI, 2016.

Prospek pengembangan agribisnis ayam buras dari tahun ke tahun terus meningkat
melihat dari perkembangan populasi ayam buras yang setiap tahunnya meningkat pada tahun
2014 sebesar 275.116.120 ekor mengalami peningkatan tahun 2015 sebesar 285.021.084
ekor hal ini terjadi karena para peternak ayam buras mampu membaca kondisi konsumen
yang sekarang banyak menggemari ayam buras dari daging maupun telurnya. Dan sekarang
penyuluhan budidaya ayam buras sudah semakin banyak dilakukan sehingga ayam buras

sekarang bukan hanya untuk peliharaan saja melainkan dijadikan usaha tetap bagi peternak
yang menjanjikan keuntungan cukup besar.
III Kesimpulan
Dari pembahasan makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ayam buras adalah faktor genetik,
faktor kesehatan, kualitas nutrisi dalam pakan, usia ayam betina, lama pencahayaan,
cuaca yang terlalu panas.
2. Strategi untuk meningkatkan produksi ayam buras petelur dan pedaging (ayam buras
organik) dengan cara pembuatan pagar batas, penyapihan secara dini, perbaikan pakan
dengan lumpur sawit, pengendalian dan pengawasan penyakit.
3. Prospek pengembangan agribisnis ayam buras di Indonesia cukup baik karena setiap
tahunnya populasi ayam buras meningkat seiring dengan pemrintaan yang tiap
tahunnya juga meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Adwinas, Wing. 2010. Cara meningkatkan produksi ayam kampung.
%20folder/ayam/cara-meningkatkan-produksi-telur-ayam.html.

file:///G:/New
Diakses

pada

tanggal 11 April 2016 jam 14.55 WIB.


Hidayat, C., S. Iskandar, dan T. Sartika. 2011. Respon Kinerja Perteluran Ayam Kampung
Unggul Balitnak Terhadap Perlakuan Protein Ransum Pada Masa Pertumbuhan.
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner vol. 16 No 2 : 83-89.
Kementrian Pertanian RI, 2015. Produksi Ayam Buras Indonesia. Jakarta : Kementrian
Pertanian RI.
Pandiangan, H. 1988. Untuk Tingkatkan Produktivitas. Poultry Indonesia . Majalah Ekonomi,
Industri dan Teknik Perunggasan Populer. No. 108/ th IX Desember 1988.
Prahasta, A. 2009. Agribisnis Ternak Ayam Buras Pedaging. Bandung : CV Pustaka Grafika.
Sinurat, A.P., Santoso, E. Juarini, Sumanto, T. Murtisari dan B. Wibowo. 1992. Peningkatan
produktivitas ayam buras melalui pendekatan sistem usahatani pada peternak kecil.
Ilmu dan Peternakan. Maret. Vol. 5. N0.2 : 73-77. Balitnak Bogor.