Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

F POST
PARTUM SPONTAN (P1A0) ATAS INDIKASI PRE
EKLAMSIA BERAT (PEB)
DI RUANG PERMATA HATI RSUD BANYUMAS

DISUSUN OLEH :
E R N I R A H M A W AT I
13.096

Latar Belakang
Angka kematian ibu dan bayi tinggi
PEB dengan persalinan normal atau sectio caesarea
Angka kejadian PEB di Indonesia meningkat yaitu
4,1% - 14,3% (2013 2014.)
Angka kejadian PEB di ruang Permata Hati RSUD
Banyumas pada periode Januari-Desmber 2016
sebanyak 70 kasus atau sekitar 5,8 %.
1

Pengertian
Persalinan normal adalah proses lahirnya
bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga
ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat (Asrinah,
2010).
Pre eklampsia berat menurut Nugroho (2010)
adalah suatu komplikasi kehamilan yang
ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110
mmHg atau lebih disertai dengan proteinuria
dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu
atau lebih.
2

TINJAUAN KASUS
Pengkajian dilakukan pada tanggal 20 Januari 2016 pada
jam 10 WIB di ruang Permata Hati RSUD Banyumas diperoleh
data, mengenai identitas pasien yang bernama Ny. F, umur 21
tahun, alamat Kebasen, agama islam, status menikah,
pendidikan terakhir pasien SMP, pekerjaan ibu rumah tangga,
pasien masuk RS pada tanggal 19 Januari 2016 jam 10.00
dengan diagnosa medis P1A0 post partum spontan indikasi
PEB.
Saat dilakukan pengkajian didapatkan data keluhan utama
pasien mengatakan nyeri kepala dengan P : hipertensi, Q:
tertusuk-tusuk, R: kepala, S: skala 4, T: hilang timbul. Keluhan
tambahan klien mengatakan pusing, asi sudah keluar namun
belum banyak, klien belum BAB selama 3 hari.
3

Riwayat penyakit sekarang


Klien mengatakan kontrol di poli kandungan
RSUD Banyumas saat usia kehamilan 30 minggu
+3,
namun
ketika
dilakukan
pemeriksaan
didapatkan tekanan darah yang tinggi yaitu 160/90
mmHg, sehingga pasien disarankan untuk meminta
surat rujukan dari puskesmas. Kemudian klien
masuk RS pada tanggal 18 Januari 2016, masuk ke
poli dan kemudian masuk ke ruang vk. Klien
melahirkan pada tanggal 19 Januari 2016 jam 07.00
WIB dengan persalinan normal, pada jam 10.00 WIB
klien dipondahkan ke ruang permata hati.
4

Analisa Data

Waktu
Data fokus
Rabu, 20 Jan DS : Klien mengatakan nyeri kepala.
2016

P: hipertensi

Jam 14.30

Q: tertusuk-tusuk

Penyebab
Agen injury biologis

Masalah
Nyeri akut

R: kepala
S: skala 4
T: hilang timbul
DO: TD: 160/90 mmHg, klien tampak
bedrest, klien tampak menahan nyeri,
sikap melindungi area nyeri.
DS: klien mengatakan terdapat luka di Trauma
perineum.

jaringan Resiko infeksi

(episiotomi)

DO: Tampak terdapat hecting episiotomi,


luka

tampak

basah,

suhu

36,7

terdapat pengeluaran lochea rubra, Hb:


7,96 g/dL, HCT: 25,3 %, WBC: 24,0
10e3/uL.
DS: klien mengatakan belum bab selama Kelemahan otot

Perubahan

3 hari

pola eliminasi

DO: bising usus 10 x/menit, mampu

Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas


a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury biologis

yang ditandai dengan klien mengatakan nyeri kepala, P:


hipertensi, Q: cekot-cekot, R: kepala, S: skala 4, T:
hilang timbul, TD: 160/90 mmHg, klien tampak bedrest,
klien tampak menahan nyeri, sikap melindungi area
nyeri.
b. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
(episiotomi) yang ditandai dengan klien mengatakan
terdapat luka di perineum, tampak terdapat hecting
episiotomi, luka tampak basah, suhu 36,7 oC terdapat
pengeluaran lochea rubra, Hb: 7,96 g/dL, HCT: 25,3 %,
WBC: 24,0 10e3/uL.
c. Perubahan pola eliminasi BAB berhubungan dengan
kelemahan otot yang ditandai dengan klien mengatakan
belum bab selama 3 hari, bising usus 10 x/menit,
6
mampu flatus, keletihan.

Intervensi Keperawatan
No.
dx

Tujuan

Intervensi

1.

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2x8 jam
diharapkan masalah nyeri akut
teratasi dengan kriteria hasil:
a. Mampu mengontrol nyeri
b. Mampu mengenali nyeri
c. Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang

a. Monitor TTV
b. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif
c. Ajarkan teknik non farmakologis,
kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri
d. Tingkatkan istirahat
e. Kolaborasi dengan dokter
pemberian analgetik.

2.

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2x8 jam
diharapkan masalah resiko infeksi
teratasi. Dengan kriteria hasil:
a. Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
b. Menunjukkan kemampuan
untuk mencegah timbulnya
infeksi
c. Menunjukkan perilaku hidup
sehat

a. Batasi pengunjung
b. Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan keperawatan
c. Tingkatkan intake nutrisi
d. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
e. Berikan penkes tentang cara
menghindari infeksi
f. Kolaborasi dengan dokter
pemberian antibiotik.

3.

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2x8 jam
diharapkan masalah perubahan
pola eliminasi BAB teratasi.
Dengan kriteria hasil:
a. Pola eliminasi teratur
b. Tidak ada kesulitan BAB
c. Tidak ada konstipasi
d. Feses lunak dan warna khas
fese

a. Kaji pola BAB dan


kesulitan BAB
b. Anjurkan ambulasi
dini, anjurkan pasien
untuk minum banyak
c. Kaji adanya hemoroid,
anjurkan diet
makanan tinggi serat
dan peningkatan
cairan
d. Kaji bising usus setiap
8 jam.

Implementasi Keperawatan
Dx. Kep : Nyeri Akut
Rabu, 20 Januari 2016
15.00 melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
15.10 mengajarkan teknik nonfarmakologis
16.20 memonitor TTV
Kamis, 21 Januari 2016
15.00 melakukan tindakan memonitor
15.15 melakukan kolaborasi dengan dokter pemberian
analgetik
15.30 melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
9

Dx. Kep : Resiko Infeksi


Rabu, 20 Januari 2016
16.10 membatasi pengunjung
15.30 meningkatkan intake
nutrisi
16.20 mencuci tangan setiap
sebelum dan sesudah
tindakan
Kamis, 21 Januari 2016
14.30 mengkaji tanda dan
gejala infeksi sistemik dan
lokal
14.45 memberikan pendidikan
kesehatan tentang cara
menghindari infeksi

Dx. Kep : Perubahan Pola


Eliminasi
Rabu, 20 Januari 2016
16.45 mengkaji pola BAB
dan kesulitan BAB
17.00 mengkaji adanya
hemoroid.
17.10 menganjurkan diet
makanan tinggi
serat dan
peningkatan cairan.
10

Evaluasi Keperawatan
Dx. Kep : Nyeri Akut
Kamis, 21 Januari 2016 jam 19.00 S: klien
mengatakan sudah tidak nyeri kepala. O: TD:
120/80
mmHg,
klien
tampak
tenang.
Assesment masalah nyeri akut teratasi.
Planning/intervensi lanjutan masalah nyeri akut
yaitu pasien boleh pulang sehingga dilakukan
discharge planning: jika sering merasa nyeri
kepala atau pusing dianjurkan untuk cek
tekanan darah secara rutin.
11

Dx. Kep : Resiko Infeksi


Kamis, 21 Januari 2016 jam 19.15. S: klien
mengatakan luka pada perineum sering dibersihkan
dan rutin ganti pembalut. O: tampak terdapat hecting
episiotomi, luka tampak basah, pengeluaran lochea
dalam batas normal. Assesment masalah resiko infeksi
belum teratasi.
Planning/lanjutan intervensi masalah resiko infeksi
yaitu klien boleh pulang, discharge planning yang
dilakukan: anjurkan mengganti pembalut 3-4 x/hari,
anjurkan untuk melakukan vulva hygiene, motivasi
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
12

Dx. Kep : Perubahan Pola Eliminasi


Kamis, 21 Januari 2016 jam 19.30. S: klien
mengatakan sudah BAB. O: bising usus 12
x/menit, klien dapat flatus, klien tampak tenang
dan nyaman. Assesment masalah perubahan pola
eliminasi BAB teratasi.
Planning atau lanjutan intervensi masalah
perubahan pola eliminasi BAB yaitu pasien boleh
pulang, dilakukan discharge planning: anjurkan
pasien untuk diet makanan tinggi serat seperti
sayur dan buah-buahan.
13

Daftar Pustaka
Asrinah. et al. 2010. Asuhan Kebidanan Masa
Persalinan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Hardhi, Kusuma. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan
Bedasarkan Diagnosa Medis & NANDA. Jakarta : Media
Action.
Jitowiyono, S., & Kristiyanasari, W. (2010). Asuhan
Keperawatan Post Operasi. Yogyakarta : Nuha medika.
Mansjoer,Arif, dkk., (2007).Kapita Selekta
Kedokteran,Edisi 3.Jakarta: Medica Aesculpalus. FKUI
Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa
Nifas (Postpaerum). Jakarta: EGC.
14