Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI LINGKUNGAN DAN KESEHATAN KERJA


Dosen : dr. Fauziah Elytha,MSc

EPIDEMIOLOGI GANGGUAN MUSKULOSKELETAL


Oleh :
Kelompok 4
Fivi Susanti
Gita Andriana
Fani Putri Nandes
Rini Nurvia Agustin
Khairal Hayati
Latifah Husniati
Elvisa Rahmi
Roma Yuliana

1311211092
1311211093
1311211094
1311211098
1311211103
1311211107
1311211097
1311211109

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapakan kehadirat Tuhan Yang Esa yang tiada hentinya
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Atas taufik dan hidayah-Nya pula penulis
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul Epidemiologi
Gangguan Muskuloskeletal ini tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Epidemiologi Lingkungan dan Kesehatan Kerja oleh dosen pembimbing yaitu dr.
Fauziah Elytha,MSc. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan, penyusunan, penguraian, maupun
isinya. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah
memberi dukungan baik moril maupun materil dalam proses penulisan makalah ini.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi semua
pihak, baik bagi pembaca maupun kami sendiri.

Padang, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

ii

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB 1 : PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gangguan Muskuloskeletal

2.2 Sinonim Gangguan Muskuloskeletal 4


2.3 Epidemiologi Gangguan Muskuloskeletal

2.4 Faktor Penyebab Gangguan Muskuloskeletal 6


2.5 Faktor risiko Gangguan Muskuloskeletal
2.6 Gejala Gangguan Muskuloskeletal

18

2.7 Keluhan Gangguan Muskuloskeletal 19


2.8 Jenis-jenis Gangguan Muskuloskeletal20
2.9 Dampak Gangguan Muskuloskeletal 25
2.10 Pengukuran Muskuloskeletal Disorders (Nordic Body Map)25
2.11 Metode Penilaian Keluhan Sistem Muskuloskeletal 27
2.12 Upaya pencegahan Gangguan Muskuloskeletal

29

2.13 Pengendalian Gangguan Muskuloskeletal/ Muskuloskeletal Disorders

iii

29

BAB 3 : PENUTUP 31
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

31

31

DAFTAR PUSTAKA 32
ANALISIS JURNAL 1

33

ANALISIS JURNAL 2

35

iv

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, sehingga peralatan sudah
menjadi kebutuhan pokok pada lapangan pekerjaan, artinya peralatan dan teknologi
merupakan salah satu penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan
produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu,akan terjadi dampak
negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin
akan timbul (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010).
Hal ini tentunya dapat di cegah dengan adanya antisipasi berbagai risiko, antara
lain kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang berhubungan
dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat menyebkan kecacataan dan
kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian
antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai
pendekatan ergonomi (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010).
Sikap

kerja

merupakan

faktor

penting

dalam

menentukan

tingkat

kenyamanan kerja. Sikap kerja yang tidak sesuai dapat menyebabkan keluhan fisik
seperti rasa nyeri pada otot dan pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap tingkat
produktivitas.Dimana keluhan tersebut sering digambarkan sebagai rasa kesemutan,
rasa terbakar, mati rasa, kekakuan, gangguan tidur dan rasa lemah (Humantech,
1995).Gangguan muskuloskeletal yang muncul dapat merupakan akibat dari
pekerjaan yang dilakukan dan dipengaruhi oleh faktor - faktor resiko yang terbagi
dalam empat kelompok yaitu beban, postur, frekuensi dan durasi pekerjaan
(Bridger,2003).
Gangguan muskuloskeletal dapat menimbulkan kerugian bagi pekerja itu
sendiri dan bagi pengusaha. Bila kesehatan pekerja terganggu maka pekerja
menjadi tidak produktif sehingga tidak dapat bekerja dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya. Bagi perusahaan akan mengalami kerugian dikarenakan
hilangnya waktu kerja dan menurunnya produktifitas serta kualitas dari karyawan,
sehingga proses kerja akan terhambat dan tidak maksimal, selain itu harus
mengeluarkan biaya kompensasi pengobatan dan kerugian lainnya yang berkaitan
langsung atau tidak langsung dengan timbulnya gangguan muskuloskeletal (CTD).
1

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa rumusa masalah yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apakah pengertian dari gangguan muskuloskeletal ?


Bagaimana epidemiologi gangguan Muskuloskeletal ?
Apakah faktor penyebab gangguan muskuloskeletal ?
Apakah gejala dan keluhan gangguan muskuloskeletal ?
Apa sajakah jenis-jenis gangguan muskuloskeletal ?
Bagaimana dampak gangguan musculoskeletal?
Bagaimana pengukuran Muskuloskeletal Disorder ?
Bagaimana upaya pencegahan dan pengendalian gangguan muskuloskeletal ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Untuk mengetahui definisi gangguan muskuloskeletal


Untuk mengetahui epidemiologi gangguan Muskuloskeletal.
Untuk mengetahui faktor penyebab gangguan muskuloskeletal.
Untuk memahami gejala dan keluhan gangguan muskuloskeletal.
Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis gangguan muskuloskeletal.
Untuk mengetahui dampak gangguan musculoskeletal.
Untuk memahami bagaimana pengukuran Muskuloskeletal Disorder.
Untuk mengetahui upaya pencegahan dan pengendalian gangguan
muskuloskeletal.

BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gangguan Muskuloskeletal


MSDs

merupakan

sekelompok

kondisi

patologis

dimana

dapat

mempengaruhi fungsi normal dari jaringan halus sistem musculoskeletal yang


mencakup sistem saraf, tendon, otot dan struktur penunjang .bagian tubuh yang
menjadi fokus pada penelitian ini adalah punggung dan bahu.
Menurut National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dan
WHO MSDs merupakan gangguan yang disebabkan ketika seseorang melakukan
aktivitas kerja dan kondisi pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya
fungsi normal jaringan halus pada sistem Muskuloskeletal yang mencakup saraf,
tendon, otot. MSDs umumnya terjadi tidak secara langsung melainkan penumpukanpenumpukan cidera benturan kecil dan besar yang terakumulasi secara terus menerus
dalam waktu yang cukup lama.Yang diakibatkan oleh pengangkatan beban saat
bekerja, sehingga menimbulkan cidera dimulai dari rasa sakit, nyeri, pegal-pegal
pada anggota tubuh. Musculoskeletal disorders merupakan suatu istilah yang
memperlihatkan bahwa adanya gangguan pada sistem musculoskeletal.
World
muskuloskeletal

Health

Organization (WHO)

(musculoskeletal

mendefinisikan

gangguan

disorder/MSD) merupakan gangguan pada

otot, tendon, sendi, ruas tulang belakang, saraf perifer, dan sistem vaskuler yang
dapat terjadi secara tiba-tiba dan akut maupun secara perlahan dan kronis.
Menurut Occupational

Health

and

Safety

Council

of

Ontario

(OHSCO) tahun 2007, Keluhan muskuloskeletal adalah serangkaian sakit pada


tendon, otot, dan saraf. Aktifitas dengan tingkat pengulangan tinggi dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri
dan rasa tidak nyaman pada otot. Keluhan musculoskeletal dapat terjadi walaupun
gaya yang dikeluarkan ringan dan postur kerja yang memuaskan.
Keluhan
kerusakan

muskuloskeletal

atau

gangguan

otot

rangka

merupakan

pada otot, saraf, tendon, ligament, persendian, kartilago, dan discus

invertebralis. Kerusakan pada otot dapat berupa ketegangan otot, inflamasi, dan
degenerasi. Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro faktur,
patah, atau terpelintir (Merulalia, 2010).
3

Musculoskeletal disorder adalah gangguan pada bagian otot skeletal yang


disebabkan oleh karena otot menerima beban statis secara berulang dan terus
menerus dalam jangka waktu yang lama dan akan menyebabkan keluhan berupa
kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon (Rizka, 2012).
Berdasarkan pada definisi yang telah diungkapkan dari beberapa sumber,
dapat disimpulkan bahwa musculoskeletal disorders (MSDs) adalah serangkaian
gangguan yang dirasakan pada bagian otot, tendon, saraf, persendian yang
menimbulkan

rasa

nyeri

dan

ketidaknyamanan

akibat

dari aktifitas yang

berulang-ulang (repetitive) dalam jangka waktu yang lama.


MSDs terjadi dengan dua cara:
1. Kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau
periode waktu yang lama dari usaha otot, dihubungkan dengan pengulangan
atau usaha yang terus menerus dari bagian tubuh yang sama meliputi posisi
tubuh yang statis;
2. Kerusakan tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas yang sangat kuat/berat
atau pergerakan yang tak terduga.
2.2 Sinonim Gangguan Muskuloskeletal
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Muskuloskeletal Disorder (MSDs)
bukanlah diagnosis klinis, melainkan rasa nyeri karena kumpulan cedera pada system
musculoskeletal ekstremitas atas akibat gerakan kerja biomekanik berulang-ulang.
Pada beberapa Negara, digunakan istilah berbeda-beda untuk menggambarkan
kejadian MSDs tersebut, diantaranya (NIOSH, 1993):
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Cumulative Trauma Disosders (CTDs)


Repetitive Strain Injuries (RSIs)
Occupational Overuse Syndrome
Neck and Limb Disorders
Overuse Syndrome
Wear and Tear Disorders
Occupational Cervico Bracial Disorders (OCD)

2.3 Epidemiologi Gangguan Muskuloskeletal


World Health Organization (WHO) tahun 2004 memperkirakan prevalensi
keluhan muskuloskeletal pada perawat hampir mencapai 60% dari semua penyakit
akibat kerja pada perawat (Lorusso, 2007).

Menurut data yang diperoleh dari American Nurses Association (ANA)


hampir 40% perawat di Amerika Serikat mengalami keluhan muskuloskeletal. Dari
data tersebut 12% mengundurkan diri sebagai perawat dan 20% pindah ke unit
kesehatan lain. Beberapa diantaranya mengeluh mengalami penurunan kualitas kerja
sebagai perawat akibat keluhan muskuloskeletal (Castro, 2008).
Menurut data Biro Statistik Departemen Tenaga Kerja Amerika (2001), pada
periode tahun 1996 1998 terdapat 4.390.000 kasus penyakit akibat kerja yang
dilaporkan, 64 % diantaranya adalah gangguan yang berhubungan dengan faktor
resiko ergonomi. OSHA (2000) menyatakan sekitar 34 % dari total hari kerja yang
hilang karena cedera dan sakit yang diakibatkan oleh Musculoskeletal Disorders
(MSDs) sehingga memerlukan biaya kompensasi sebesar 15 sampai 20 miliar dolar
US.
National Academy of Science (1999) melaporkan lebih 1 juta pekerja
kehilangan jam kerjanya setiap tahun karena MSDs pada punggung dan tangan dan
menghabiskan $15 M per tahun, sedangkan jika dihitung dari biaya tidak langsung
seperti berkurangnya produktivitas, kehilangan pelanggan dan pergantian karyawan,
maka total biaya yang dikeluarkan per tahunnya mencapai $1 triliun atau sekitar 10%
dari Gross Domestic Product Amerika (dalam Melhorn & Wilkinson, 2008).
Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008. Laporan lainnya
yakni di Israel, angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16.8%)
dibandingkan pekerja sektor industri lain. Di Australia, diantara 813 perawat, 87%
pernah NPB, prevalensi 42% dan di AS, insiden cedera musculoskeletal 4.62/100
perawat per tahun.
Penelitan Bridger, mengutip data dari NIOSH menyebutkan bahwa sekitar
500.000 pekerja menderita cidera akibat penggunaan tenaga yang berlebih, 20%
karena mendorong dan menarik, 60% disebabkan karena aktivitas mengangkat.
Aktivitas manual handling yang paling sering menyebabkan cidera adalah
mengangkat (lifting) dan membawa (carrying) objek yaitu sebesar 61,3%, dan 60%
dari jumlah tersebut menderita nyeri punggung.
Riset yang dilakukan badan dunia ILO tentang kecelakaan kerja
menunjukkan setiap hari rata-rata 6.000 orang meninggal berkaitan dengan pekerjaan
mereka. Angka ini berarti setara dengan satu orang setiap 15 detik, atau 2,2 juta
orang meninggal per tahun akibat sakit atau kecelakan kerja. Sementara itu anggaran
untuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang terbanyak yaitu penyakit
5

muskuloskeletal sebanyak 40%, penyakit jantung 16%, kecelakaan 16%, dan 19%
penyakit saluran pernafasan (ILO, 2003).
Diperkirakan setidaknya 70% manusia menderita sakit punggung, baik kronis
maupun sporadis. Di Negara Inggris dan melaporkan 17,3 juta orang Inggris pernah
mengalami nyeri punggung pada suatu waktu dan dari jumlah tersebut 1,1 juta
mengalami kelumpuhan akibat nyeri punggung. Di Indonesia diperkirakan angka
prevalensi 7,6% sampai 37%. Masalah nyeri punggung pada pekerja pada umumnya
dimulai pada usia dewasa muda dengan puncak prevalensi pada kelompok usia 25-60
(Steven, 2005).
Hasil Studi Departemen Kesehatan dalam profil masalah kesehatan di
Indonesia tahun 2005 menunjukkan bahwa sekitar 40.5% penyakit yang diderita
pekerja berhubungan dengan pekerjaannya. Gangguan kesehatan tersebut dijelaskan
dalam penelitian oleh Sumiati (2007) terhadap 9482 pekerja di 12 kabupaten/kota di
Indonesia ditemukan yang paling banyak adalah gangguan Musculoskeletal
Disorders (16%), selanjutnya penyakit kardiovaskuler (8%), gangguan pernafasan
(3%), dan gangguan THT (1.5%).
Prevalensi penyakit muskuloskeletal di Indonesia berdasarkan pernah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan yaitu 11,9 persen dan berdasarkan diagnosis atau
gejala yaitu 24,7 persen (Riskesdas, 2013). Prevalensi penyakit musculoskeletal
tertinggi berdasarkan pekerjaan adalah pada petani, nelayan atau buruh yaitu 31,2
persen (Riskesdas, 2013).
2.4 Faktor Penyebab Gangguan Muskuloskeletal
Menurut Peter Vi (2004), faktor penyebab keluhan muskuloskeletal antara lain:
1. Peregangan otot yang berlebihan (over exertion)
Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya dikeluhkan oleh
pekerja dimana aktivitas kerjanya menuntut pengerahan yang besar,
seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, menahan beban yang
berat. Perawat melakukan aktivitas yang dikategorikan membutuhkan
tenaga yang besar, seperti mengangkat dan memindahkan pasien serta
merapikan tempat tidur (bed making).Mengangkat dan memindahkan
pasien dilakukan 5-20 pasien untuk setiap tugas bergilir yang khusus.
Saat bed making membungkuk dan mengharuskan untuk melakukan
peregangan saat memasang sprai ke tempat tidur (Sardewi, 2006).
6

2. Aktivitas

berulang

menerus.

Seperti

adalah

pekerjaan

mencangkul,

yang

membelah

dilakukan secara

kayu,

angkat-angkat

terus
dan

sebagainya. Perawat memiliki aktivitas yang dilakukan berulang-ulangs


seperti mengangkat dan memindahkan pasien, melakukan bed making dan
aktivitas kerja lainnya yang dilakukan setiap hari secara berulang-ulang
dan dalam waktu yang relative lama.
3. Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi
bagian-bagian
pergerakan

tubuh

tangan

bergerak
terangkat,

menjauhi

posisi

alamiah,

misalnya

punggung

terlalu

membungkuk

dan

sebagainya. Perawat adalah tenaga medis yang 24 jam berada di dekat


pasien, kebutuhan dasar pasien harus diperhatikan oleh seorang perawat.
Tingginya aktivitas yang dilakukan perawat, sehingga perawat tidak
memperhatikan posisi tubuh yang baik saat melakukan tindakan.
Selain itu terdapat factor penyebab sekunder dari

keluhan

muskuloskeletal yaitu:
a) Tekanan
Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak secara
berulang-ulang dapat menyebabkan nyeri yang menetap.
b) Getaran
Getaran dengan frekuensi yang tinggi akan menyebabkan kontraksi otot
bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak
lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri
otot.
c) Mikroklimat
Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan,
kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga

pergerakan pekerja menjadi

lamban,

menurunnya

sulit

bergerak

disertai

dengan

kekuatan otot.

Perbedaan besar suhu yang besar antara lingkungan dan suhu tubuh akan
mengakibatkan

sebagian

energi

yang

ada

di

dalam

tubuh

akan

diigunakan untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan. Apabila hal ini


tidak diimbangi dengan asupan energi yang cukup, suplai energi di otot akan
menurun,

terhambati

proses

metabolisme

karbohidrat

dan terjadinya

penimbunan asan laktat yang dapat menyebabkan nyeri otot.


Penyebab lain yang berperan dalam terjadinya keluhan muskuloskeletal
apabila dalam melakukan tugas perawat di hadapkan pada beberapa factor
risiko dalam waktu yang bersamaan, yaitu:

a) Umur
Keluhan muskuloskeletal mulai dirasakan pada usia kerja, yaitu pada usia
25-65 tahun. Keluhan biasanya akan mulai dirasakan pada usia 35 tahun dan
akan semakin meningkat semakin bertambahnya usia. Hal ini terjadi karena
pada usia setengah baya, kekuatan dan ketahanan otot akan meningkat
(dryastiti, 2013).
b) Jenis Kelamin
Jenis kelamin sangat mempengaruhi ingkat risiko keluhan otot. Hal ini
terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot wanita lebih rendah
daripada pria. Prevalensi sebagian besar gangguan tersebut meningkat
dan lebih menonjol pada wanita dibandingkan pria (3:1) sehingga daya
tahan otot wanita untuk bekerja lebih rendah dibandingkan pria.
c) Kebiasaan merokok
Semakin lama dan semakin tinggi tingkat frekuensi merokok, semakin
tinggi pula keluhan otot yang dirasakan. Kebiasaan merokok dapat
menurunkan

kapasitas

paru-paru

sehingga

kemampuan untuk

mengkosumsi oksigen menurun. Apabila perawat denga kebiasaan merokok


melakukan aktivitas kerja dengan beban kerja yang tinggi, maka akan
sangat mudak mengalami kelelahan otot.
d) Kesegaran jasmani
Keluahan otot jarang terjadi pada perawat yang memiliki waktu istirahat
yang cukup, tetapi perawat memiliki system kerja shift malam yang
memungkinkan tidak mendapat waktu istirahat yang cukup. Tingkat
kesegaran tubuh yang rendah akan mempertinggi risiko terjadinya keluhan
otot.
e) Kekuatan fisik
Secara fisiologis
mempunyai

ada

kekuatan

yang
fisik

dilahirkan
lebih

kuat

dengan

struktur otot

dibandingkan

yang

dengan yang

lainnya. Apabila dengan kekuatan otot yang sama, perawat diberikan


beban kerja yang tinggi, maka cenderung perawat yang memiliki
kekuatan yang lebih rendah akan mengalami cidera otot.
f) Ukuran tubuh (antrometri) : Keluhan muskuloskeletal yang terkait
dengan ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan
struktur rangka di dalam menerima beban, baik beban berat tubuh
maupun beban tambahan.

2.5 Faktor risiko Gangguan Muskuloskeletal


MSDs dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan
kejadian cedera yang terdiri dari:
a) Faktor Pekerjaan
Salah satu faktor yang datang dari luar adalah kondisi lingkungan kerja di sekitar
tempat kerja seperti : temparatur, sirkulasi udara, cahaya, kebisingan dan
kelembaban yang kesemuanya berpengaruh secara signifikan terhadap hasil
kerja manusia dan kondisi pekerjaan agar senantiasa memenuhi persyaratan
keselamatan dan kesehatan kerja (ILO. 1998).
1. Peregangan Otot
Peregangan otot yang berlebihan Gangguan Muskuloskeletal merupakan
gangguan yang terjadi pada tubuh manusia akibat dari kegiatan tubuh
dilakukan selama bergerak terlalu menerima beban berat yang dapat
menyebabkan kelelahan otot.Proses kerja secara manual lebih memerlukan
penggunaan tenaga otot dan kekuatan otot ditentukan oleh sifat dari sel otot
itu sendiri. Kontraksi otot memerlukan energi dan menghasilkan zat sisa
metabolisme (Cummings. 2003).
2. Gerakan berulang
Tingkat keparahan risiko tergantung pada frekuensi pengulangan, kecepatan
gerakan atau tindakan, jumlah otot yang terlibat dalam kerja, dan gaya yang
dibutuhkan. Frekuensi dapat diartikan sebagai banyaknya gerakan yang
dilakukan dalam suatu periode waktu. Jika aktivitas pekerjaan dilakukan
secara berulang, maka dapat disebut sebagai repetitive. Gerakan repetitif
dalam pekerjaan, dapat dikarakteristikan baik sebagai kecepatan pergerakan
tubuh, atau dapat di perluas sebagai gerakan yang dilakukan secara berulang
tanpa adanya variasi gerakan.
Bridger (1995) menyatakan bahwa aktivitas berulang, pergerakan yang cepat
dan membawa beban yang berat dapat menstimulasikan saraf reseptor
mengalami sakit. Frekuensi terjadinya sikap tubuh yang salah terkait dengan
beberapa kali terjadi repetitive motion dalam melakukan suatu pekerjaan.
Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja terus
menerus

tanpa

memperolah

kesempatan

untuk

relaksasi.

Dalam Humantech (1995), posisi tangan dan pergelangan tangan berisiko


apabila dilakukan gerakan berulang/frekuensi sebanyak 30 kali dalm semenit
dan sebanyak 2 kali per menit untuk anggota tubuh seperti bahu, leher,
punggung dan kaki. Gerakan lengan dan tangan yang dilakukan secara
9

berulang-ulang terutama pada saat bekerja mempunyai risiko bahaya yang


tinggi terhadap timbulnya CTDs. Tingkat risiko akan bertambah jika
pekerjaan dilakukan dengan tenaga besar, dalam waktu yang sangat cepat dan
waktu pemulihan kurang.
3. Postur kerja
Penyimpangan dari postur kerja yang ideal dari lengan pada sisi siku batang
tubuh, lengan, dengan pergelangan tangan lurus.Postur janggal biasanya
termasuk meraih ke belakang, memutar, dan jongkok.Jika postur yang
canggung selama bekerja, ada peningkatan risiko cidera.Semakin sendi
bergerak jauh dari posis netral, kemungkinan cedera semakin besar.
Postur tubuh adalah posisi relatif dari bagian tubuh tertentu. Bridger (1995)
menyatakan bahwa postur didefinisikan sebagai orientasi rata-rata bagian
tubuh dengan memperhatikan satu sama lain antara bagian tubuh yang lain.
Postur dan pergerakan memegang peranan penting dalam ergonomi. Posisi
tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap posisi normal saat
melakukan pekerjaan dapat menyebabkan stress mekanik lokal pada otot,
ligamen, dan persendian. Hal ini mengakibatkan cedera pada leher, tulang
belakang, bahu, pergelangan tangan, dan lain-lain. Namun di lain hal,
meskipun postur terlihat nyaman dalam bekerja, dapat berisiko juga jika
mereka bekerja dalam jangka waktu yang lama. Pekerjaan yang dikerjakan
dengan

duduk

dan

berdiri,

seperti

pada

pekerja

kantoran

dapat

mengakibatkan masalah pada punggung, leher dan bahu serta terjadi


penumpukan darah di kaki jika kehilangan kontrol yang tepat.
4. Beban angkut
Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan otot
rangka. Berat beban yang direkomendasikan adalah 23-25 kg, sedangkan
menurut Departemen Kesehatan (2009) mengangkat beban sebainya tidak
melebihi dari aturan yaitu laki-laki dewasa sebesar 15-20 kg dan wanita (1618) sebesar 12-15 kg. Beban angkut adalah ektifitas pekerjaan yang
dibebankan kepada tenaga kerja meliputi beban fisik maupun beban mental.
Akibat beban angkut yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu
lemah dapat mengakibatkan seseorang pekerja menderita gangguan atau
penyakit akibat kerja.
Beban angkut fisiologis dapat didekati dari banyaknya O2 yang
digunakan tubuh, jumlah kalori yang dibutuhkan, nadi kerja/menit, kecepatan
penguapan berkeringat. mengangkat suatu beban yang terlalu berat dapat
10

mengakibatkan Diskus pada tulang belakang serta dapat menyebabkan


kelelahan karena adanya peningkatan yang disebabkan oleh tekanan pada
diskus intervertebralis. Beban dapat diartikan sebagai muatan (berat) dan
kekuatan pada struktur tubuh. Satuan beban dinyatakan dalam newton atau
pounds, atau dinyatakan sebagai sebuah proporsi dari kapasitas kekuatan
individu (NIOSH, 1997). Pekerja yang melakukan aktivitas mengangkat
barang yang berat memiliki kesempatan 8 kali lebih besar untuk
mengalami low back pain dibandingkan pekerja yang bekerja statis.
Penelitian lain membuktikan bahwa hernia diskus lebih sering terjadi pada
pekerja yang mengangkat barang berat dengan postur membungkuk dan
berputar (Levy dan Wegman, 2000).
Dalam berbagai penelitian dibuktikan cedera berhubungan dengan
tekanan pada tulang akibat membawa beban. Semakin berat benda yang
dibawa semakin besar tenaga yang menekan otot untuk menstabilkan tulang
belakang dan menghasilkan tekanan yang lebih besar pada bagian tulang
belakang. Pembebanan fisik yang dibenarkan adalah pembebanan yang tidak
melebihi 30-40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam 8 jam
sehari dengan memperhatikan peraturan jam kerja yang berlaku.semakin
berat beban maka semakin singkat pekerjaan.(Sumamur, 1989).
5. Posisi kerja
Posisi alamiah sehingga tidak menimbulkan sikap paksa yang melampaui
kemampuan fisiologis tubuh (Grandjean &Kroemer, 2000).Sikap tidak
alamiah ini terjadi karena interaksi antara pekerja dan alat kerja yang kurang
berimbang atau alat kerja yang digunakan kurang sesuai dengan antropometri
pekerja.Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan
bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiahnya.Semakin jauh posisi
bagian tubuh dari pusat gravitasi, semakin tinggi pula terjadi keluhan otot
skeleta. Sikap kerja tidak alamiah pada umumnya karena ketidaksesuaian
pekerjaan dengan kemampuan pekerja (Grandjen. 1993)
6. Durasi
Durasi adalah lamanya pajanan dari faktor risiko. Durasi selama bekerja akan
berpengaruh terhadap tingkat kelelahan. Kelelahan akan menurunkan kinerja,
kenyamanan dan konsentrasi sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
Durasi manual handling yang lebih besar dari 45 menit dalam 1 jam kerja
adalah buruk dan melebihi kapasitas fisik pekerja.Selain itu, ada pula yang

11

menyebut durasi manual handling yang berisiko adalah > 10 detik


(Humantech. 1995).Sedangkan dalam REBA, aktivitas yang berisiko adalah 1
menit jika ada satu atau lebih bagian tubuh yang statis.
7. Genggaman
Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak. Sebagai contoh,
pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot tangan yang lunak
akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat, dan apabila hal ini
sering terjadi, dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap (Tarwaka et
al, 2004). Menurut Sumamur (1989) memegang diusahakan dengan tangan
penuh dan memegang dengan hanya beberapa jari yang dapat menyebabkan
ketegangan statis lokal pada jari tersebut harus dihindarkan.

b) Faktor Individu
1. Umur
Pertambahan umur pada masing-masing orang menyebabkan adanya
penurunan kemampuan kerja pada jaringan tubuh (otot, tendon, sendi dan
ligament). Penurunan elastisitas tendon dan otot meningkatkan jumlah sel
mati sehingga terjadi adanya penurunan fungsi dan kapabilitas otot, tendon,
ligament yang akan meningkatkan respon setres mekanik sehingga tubuh
menjadi rentan terhadap MSDs. Dengan demikian adanya kecenderungan
bahwa risiko MSDs meningkat seiring bertambahnya umur.
Keluhan otot skeletal biasanya dialami seseorang pada usia kerja yaitu
24-65 tahun. Biasanya Keluhan pertama dialami pada usia 30 tahun dan
tingkat keluhan akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada
usia 30 thn terjadi degenerasi berupa kerusakan jaringan, penggantian
jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan. Hal ini menyebabkan
stabilitas pada tulang dan otot berkurang. Semakin tua seseorang, semakin
tinggi resiko orang mengalami penurunan elastisitas pada tulang yang
menjadi pemicu timbulnya gejala keluhan MSDs. menurut penelitian di kota
12

Bogor menyatakan bahwa keluhan MSDs tertinggi dialami oleh kelompok


dengan usia 35 tahun keatas sebanyak 41 orang dengan persentase sebesar
58,6% dan usia kurang dari 35 tahun terdapat 29 orang mengalami keluhan
MSDs dengan persentase sebesar 41,4%.
2. Kebiasaan merokok
Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi
pula tingkat keluhan yang dirasakan (Tarwaka. 2004).Perokok lebih memiliki
kemungkinan menderita masalah punggung dari pada bukan perokok.
Efeknya adalah hubungan dosis yang lebih kuat dari pada yang diharapkan
dari efek batuk risiko meningkat sekitar 20% untuk setiap 10 batang rokok
perhari (Pheasant. 1991).
Meningkatnya keluhan otot ada hubungannya dengan lama dan
tingkat kebiasaan merokok. kebiasaan merokok dibagi menjadi 4 kategori
yaitu kebiasaan merokok berat > 20 batang/hari, sedang 10-20 batang/hari,
ringan < 10 batang/hari dan tidak merokok. Meningkatnya keluhan otot ada
hubungan dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok seseorang. Risiko
meningkatnya kebiasaan merokok pada seseorang 20% untuk tiap 10 batang
rokok per hari. mereka yang berhenti merokok selama setahun memiliki
risiko MSDs. Adanya kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paruparu, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen akan menurun. Jika
seseorang dituntut untuk melakukan tugas dengan pengerahan tenaga, maka
akan mudah lelah karena kandungan oksigen didalam darah rendah dan
pembakaran karbohidrat terhambat, sehingga dalam hal ini terjadi tumpukan
asam laktat dan akhirnya menimbulkan rasa nyeri otot.
Hasil dari penelitian di kota klaten menunjukkan bahwa kebiasaan
merokok ada hubungannya dengan keluhan MSDs yaitu dengan persentase
19,04% beresiko tinggi dan 54,76% beresiko sedang. Pekerja yang memiliki
kebiasaan merokok lebih berisiko mengalami keluhan MSDs dibanding
dengan pekerja yang tidak memiliki kebiasaan merokok.
3. Kebiasaan Olahraga
Tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan meningkatkan risiko terjadinya
keluhan otot. Kesegaran tubuh terdiri dari 10 komponen, yaitu: kekuatan,
daya tahan, kecepatan, kelincahan, kelenturan, keseimbangan, kekuatan,
koordinasi, ketepatan dan waktu reaksi. Kesepuluh komponen tersebut dapat
diperkuat melalui kebiasaan olahraga. Bagi pekerja dengan kekuatan fisik

13

yang rendah, risiko keluhan menjadi tiga kali lipat dibandingkan yang
memiliki kekuatan fisik tinggi (Ariani. 2009)
4. Lama kerja
Umumnya dalam sehari seseorang bekerja selama 6-8 jam dan sisanya 14-18
jam digunakan untuk beristirahat atau berkumpul dengan keluarga dan
berkumpul dengan masyarakat.Adanya penambahan jam kerja yang dapat
menurunkan

efisiensi

pekerja,

menurunkan

produktivitas,

timbulnya

kelelahan dan dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan. Seseorang


biasanya bekerja selama 40-50 jam dalam seminggu.
Menurut Disnaker Lama kerja juga diatur dalam undangundang no 13 tahun
yang menyatakan bahwa jam kerja yang berlaku 7 jam dalam 1 hari dan 40
jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu, 8 jam 1 hari dan 40
jam dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja. menurut pasal 77 ayat 2 dalam
undang-undang no 13 tahun 2003 menyatakan bahwa jumlah jam kerja secara
akumulatif masing-masing shift tidak diperbolehkan bekerja lebih dari 40 jam
dalam seminggu. Lama kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan
keluhan otot dan dapat meningkatkan resiko gangguan musculoskeletal
disorders terutama untuk jenis pekerjaan dengan menggunakan kekuatan
kerja yang cukup tinggi.
5. Masa kerja
Masa kerja adalah waktu yang dihitung dari pertama kali pekerja
masuk kerja sampai penelitian berlangsung. Penentuan waktu dapat diartikan
sebagai pengukuran kerja untuk mencatat tentang jangka waktu dan
perbandingan kerja yaitu mengenai suatu unsur pekerjaan tertentu yang
dilaksanakan dalam suatu keadaan. Yang berguna untuk menganalisa
keterangan hingga ditemukan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan pada tingkat prestasi tertentu.38 secara umum pekerja dengan masa
kerja > 4 tahun memiliki kerentanan untuk munculnya gangguan kesehatan
dibandingkan dengan masa kerja yang < 4 tahun.
Masa kerja merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi
seseorang mempunyai risiko terkena MSDs terutama pada pekerja yang
menggunakan

kekuatan

kerja

yang

tinggi.Dikarenakan

masa

kerja

mempunyai hubungan dengan keluhan otot. Semakin lama waktu seseorang


untuk bekerja maka seseorang tersebut semakin besar resiko untuk
14

mengalami MSDs40 Sebuah penelitian di kota Jakarta menyatakan bahwa


kelompok pekerja yang memiliki keluhan MSDs sebanyak 9,4% dengan ratarata masa kerja 170,3 bulan (tahun), sedangkan kelompok dengan masa kerja
82 bulan (7tahun) sebanyak 77,3%. Hal ini menunjukkan bahwa keluhan
MSDs berbanding lurus dengan bertambahnya masa kerja.
6. Status gizi
Berat badan, tinggi badan dan massa tubuh erat kaitannya dengan
status gizi pada seseorang. Gizi kerja adalah gizi yang diterapkan pada
karyawan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis dan tempat kerja
dengan adanya tujuan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas yang
tinggi. Status gizi pada seorang pekerja umur 18 tahun keatas ditandai dengan
indeks massa tubuh . indeks massa tubuh dihitung berdasarkan pada berat
badan dan tinggi badan.Keterikatan antara indeks masa tubuh dengan MSDs
yaitu semakin gemuk seseorang maka akan bertambah besar risiko orang
tersebut untuk mengalami MSDs. Hal ini disebabkan karena seseorang
dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menopang berat badan
dari dengan cara mengontraksikan otot punggung. Dan jika ini dilakukan
terus menerus dapat menyebabkan adanya penekanan pada bantalan saraf
tulang belakang.
Indeks masa tubuh dapat digunakan sebagai indikator kondisi status
gizi pada pekerja. Dengan menggunakan rumus BB2/TB (berat badan2/tinggi
badan), sedangkan menurut WHO dikategorikan menjadi tiga yaitu kurus
ringan (18,5- 25), gemuk (>25,0-27,0) dan obesitas (>27,0). Kaitan indeks
masa tubuh dengan MSDs adalah semakin gemuk seseorang maka bertambah
besar risiko untuk mengalami MSDs. Hasil penelitian pada tenaga kerja
bongkar muat di pelabuhan Manado menjelaskan bahwa tidak ada hubungan
antara status gizi dengan keluhan MSDs.
c) Faktor Lingkungan
1. Getaran
Getaran ini terjadi ketika spesifik bagian dari tubuh atau seluruh tubuh kontak
dengan benda yang bergetar seperti menggunakan Power Hand Tooldan
pengoperasianforklift

saat

mengangkat

beban.

Getaran

juga

dapat

menyebabkan kontraksi otot meningkat yang menyebabkan peredaran darah

15

tidak lancar, sehingga terjadi peningkatan timbunan asam laktat yang dapat
menimbulkan rasa nyeri.
Vibrasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai gerakan ditimbulkan
tubuh terhadap titik tertentu. Vibrasi yang ditimbulkan oleh mesin biasanya
sangat komplek tapi regular. Vibrasi memiliki 2 parameter yaitu: kecepatan
dan intensitas (Oborne, 1995). Vibrasi dengan frekuensi 4-8 hz (frekuensi
natural dari trunk) dapat menimbulkan efek nyeri, khususnya untuk bagian
tubuh dada, bahkan menyebabkan kesulitan bernafas. Pada frekuensi 10-20
Hz dapat menyebabkan sakit kepala dan tegangan mata, sedangkan pada
frekuensi 4-10Hz akan menimbulkan nyeri pada abdominal. Komplain akan
sakit punggung biasanya terjadi jika terdapat getaran 8-12 Hz (Pulat, 1992).
2. Suhu
Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh mengakibatkan sebagian
energi di dalam tubuh dihabiskan untuk mengadaptasikan suhu tubuh
terhadap lingkungan. Apabila tidak disertai energi yang cukup akan terjadi
kekurangan suplai energi ke otot (Tarwaka. 2004).
Pajanan pada udara dingin, aliran udara, peralatan sirkulasi udara dan
alat-alat pendingin dapat mengurangi keterampilan tangan dan merusak daya
sentuh. penggunaan otot yang berlebihan untuk memegang alat kerja dapat
menurunkan resiko ergonomi. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh
mengakibatkan

sebagian

energi

di

dalam

tubuh

dihabiskan

untuk

mengadaptasikan suhu tubuh terhadap lingkungan. Apabila tidak disertai


pasokan energi yang cukup akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot
(Tarwaka, 2004).
Berdasarkan rekomendasi NIOSH (1984) tentang kriteria suhu
nyaman, suhu udara dalam ruang yang dapat diterima adalah berkisar antara
20-24 C (untuk musim dingin) dan 23-26 C (untuk musim panas) pada
kelembapan 35-65%. Rata-rata gerakan udara dalam ruang yang ditempati
tidak melebihi 0.15 m/det untuk musim dingin dan 0.25 m/det untuk musim
panas. Kecepatan udara di bawah 0.07 m/det akan memberikan rasa tidak
enak di badan dan rasa tidak nyaman. Beberapa penelitian menyimpulkan
bahwa pada temperature 27-30 C, maka performa kerja dalam pekerjaan
fisik akan menurun (Pulat, 1992).
3. Pencahayaan
Pencahayaan akan mempengaruhi ketelitian dan performa kerja. Bekerja
dalam kondisi cahaya yang buruk, akan membuat tubuh beradaptasi untuk
16

mendekati cahaya. Jika hal tersebut terjadi dalam waktu yang lama
meningkatkan tekanan pada otot bagian atas tubuh (Bridger. 1995).
Pencahayaan yang inadekuat dapat merusak salah satu fungsi organ tubuh.
Hal ini berkaitan dengan tingkat pekerjaan yang membutuhkan tingkat
ketilitian yang tinggi atau tidak. Bila pencahayaan yang inadekuat pada
ruangan kerja akan menyebabkan postur leher lebih condong kedepan (fleksi)
begitupun dengn postur tubuh, postur seperti ini dapat menambah risiko
MSDs.
d) Faktor Psikososial
Faktor psikososial yaitu kepuasan kerja, stress mental, organisasi kerja
(shift kerja, waktu istirahat, dll) (Dinardi, 1997). Organisasi kerja didefinisikan
sebagai distribusi dari tugas kerja tiap waktu dan diantara para pekerja, durasi dari
tugas kerja dan durasi serta distribusi dari periode istirahat. Durasi kerja dan
periode istirahat memiliki pengaruh pada kelelahan jaringan dan pemulihan. Studi
khusus pada pengaruh organisasi kerja pada gangguan leher telah dilakukan.
Ditemukan bahwa kerja VDU yang melebihi empat jam per hari berhubungan
dengan gejala pada leher (Riihimaki,1998).
Bernard et al (1997) menyatakan bahwa walaupun banyak penelitian yang
menunjukkan MSDs dipengaruhi oleh faktor psikososial tetapi umumnya
memiliki kekuatan yang lemah. Pernyataan Bernard tersebut didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Kerr et al (2001) menunjukkan bahwa faktor
psikososial menyebabkan terjadinya MSDs tetapi memiliki hubungan yang lemah.
2.6 Gejala Gangguan Muskuloskeletal
MSDs ditandai dengan adanya gejala sebagai berikut yaitu : nyeri, bengkak,
kemerah-merahan, panas, mati rasa retak atau patah pada tulang dan sendi dan
kekakuan, rasa lemas atau kehilangan daya koordinasi tangan, susah untuk
digerakkan. MSDs diatas dapat menurunkan produktivitas kerja, kehilangan waktu
kerja, menimbulkan ketidakmampuan secara temporer atau cacat tetap.Untuk
memperoleh gambaran tentang gejala MSDs bisa menggunakan Nordic Body Map
(NBM) dengan cara melihat tingkat keluhan sakit dan tidak sakit. Dengan melihat
dan menganalisa peta tubuh (NBM) sehingga dapat diestimasi tingkat dan jenis
keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh para pekerja.

17

Gejala keluhan muskuloskeletal dapat menyerang secara cepat maupun


lambat (berangsur-angsur), menurut Kromer (1989), ada tiga tahap terjadinya MSDs
yang dapat diidentifikasi yaitu:
Tahap 1 :

Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan selama jam kerja tapi gejala
inibiasanya menghilang setelah waktu kerja (dalam satu malam).
Tidak berpengaruh pada kinerja. Efek ini dapat pulih setelah istirahat;

Tahap 2 : Gejala ini tetap ada setelah melewati waktu satu malam setelah
bekerja. Tidak mungkin terganggu. Kadang-kadang menyebabkan
berkurangnya performa kerja;
Tahap 3 : Gejala ini tetap ada walaupun setelah istirahat, nyeri terjadi ketika
bergerak
melakukan

secara

repetitif.

pekerjaan,

Tidur

terganggu

kadang-kadang

tidak

dan

sulit

sesuai

untuk

kapasitas

kerja.

Menurut Humantech (1995), gejala MSDs biasanya sering disertai dengan


keluhan yang sifatnya subjektif, sehingga sulit untuk menentukan derajat keparahan
penyakit tersebut. MSDs ditandai dengan beberapa gejala yaitu sakit, nyeri, rasa
tidak nyaman, mati rasa, rasa lemas atau kehilangan daya dan koordinasi tangan, rasa
panas, agak sukar bergerak, rasa kaku dan retak pada sendi, kemerahan, bengkak,
panas, dan rasa sakit yang membuat terjaga ditengah malam dan rasa untuk memijit
tangan, pergelangan dan lengan.
Menurut Sumamur (1996), gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh
seseorang adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Leher dan punggung terasa kaku


Bahu tersa nyeri, kaku ataupun kehilangan fleksibelitas
Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk
Siku ataupun mata kaki mengalami sakit, bengkak dan kaku
Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai

bengkak.
6. Mati rasa, terasa dingin, rasa terbakar ataupun tidak kuat.
7. Jari menjadi kehilangan mobitasnya, kaku dan kehilangan kekuatan serta
kehilangan kepekaan.
8. Kaki dan tumit merasakan kesemutan, dingin, kaku ataupun sensasi rasa
panas.

18

2.7 Keluhan Gangguan Muskuloskeletal


Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal
yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit.
Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama,
akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament, dan
tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan
MSDs atau cedera pada system musculoskeletal (Grandjean, 1993). Secara garis
besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a. keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot
menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang
apabila pembebanan dihentikan.
b. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan oto yang bersifat menetap.
Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot
masih terus berlanjut.
Selain itu, menurut Humantech (1995), keluhan yang menggambarkan keparahan
penyakit MSDs terbagi menjadi:
a. Tahap 1
Nyeri dan kelelahan pada saat bekerja tetapi setelah beristirahat yang cukup
tubuh akan pulih kembali. Tidak mengganggu kapasitas kerja.
b. Tahap 2
Keluhan rasa nyeri tetap ada setelah waktu semalam, istirahat, timbul
gangguan tidur, dan sedikit mengurangi performa kerja.
c. Tahap 3
Rasa nyeri tetap ada walaupun telah istirahat, nyeri dirasakan saat bekerja,
saat melakukan gerakan yang repetitive, tidur terganggu, dan kesulitan dalam
menjalankan pekerjaan yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya
inkapasitas.
2.8 Jenis-jenis Gangguan Muskuloskeletal
Adanya gangguan muskuloskeletal yang diakibatkan oleh cidera pada saat
bekerja yang dipengaruhi oleh lingkungan kerja dan cara bekerja. Sehingga
menyebabkan kerusakan pada otot, syaraf, tendon, persendian.Sedangkan arti
gangguan musculoskeletal sendiri adalah penyakit yang menimbulkan rasa nyeri
berkepanjangan. Gangguan musculoskeletal yang berhubungan dengan pekerjaan
dapat terjadi bilamana ada ketidak cocokan antara kebutuhan fisik kerja dan
kemampuan fisik tubuh manusia.
Jenis-jenis keluhan Keluhan muskuloskeletal antara lain:
19

a. Sakit Leher : Sakit leher adalah penggambaran umum terhadap gejala


yang mengenai leher, peningkatan tegangan otot atau myalgia, leher
miring atau kaku leher.
b. Nyeri Punggung : Nyeri punggung merupakan istilah yang digunakan
untuk gejala nyeri punggung yang spesifik seperti herniasi lumbal,
arthiritis, ataupun spasme otot.
c. Carpal Tunnel Syndrome : Merupakan kumpulan gejala yang mengenai
tangan dan pergelangan tangan yang diakibatkan iritasi dan nervus
medianus.

Keadaan

ini

disebabkan

oleh

aktivitas

berulang

yang

menyebabkan penekanan pada nervus medianus.


d. Thoracic Outlet Syndrome : Merupakan keadaan yang mempengaruhi
bahu, lengan, dan tangan yang ditandai dengan nyeri, kelemahan, dan
mati rasa pada daerah tersebut. Terjadi jika lima saraf utama dan dua
arteri yang meninggalkan leher tertekan.
Thoracic outlet syndrome disebabkan oleh gerakan berulang dengan
lengan diatas atau maju kedepan.
e. Tennis Elbow : Tennis elbow adalah suatu keadaan inflamasi tendon
ekstensor, tendon yang berasal dari siku lengan bawah dan berjalan
keluar ke pergelangan tangan. Tennis elbow disebabkan oleh gerakan
berulang dan tekanan pada tendon ekstensor.
f. Low Back Pain : Low back pain terjadi apabila ada penekanan pada
daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan
posisi tubuh membungkuk ke depan maka akan terjadi penekanan pada
discus.Hal ini berhubungan dengan posisi duduk yang janggal, kursi
yang tidak ergonomis, dan peralatan lainnya yang tidak sesuai dengan
antopometri pekerja.
Gangguan Kesehatan Pada Muculoskeletal Tiap Bagian Tubuh
1) Cidera Pada Tangan
Cidera pada bagian tangan, pergelangan tangan dan siku bisa disebabkan dari
pekerjaan tangan yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya postur janggal
pada tangan dengan durasi yang lama, pergerakan yang berulang/repetitif, dan
tekanan dari peralatan/ material kerja. Sembilan belas studi menyatakan bahwa
pekerjaan repetitive berpengaruh pada cidera pada tangan dan pergelangan tangan
misalnya CTS (Bernard et al, 1997). Penelitian dari Chiang (1993) pada tiga grup
pekerjaan menyimpulkan bahwa prevalensi CTS ditemukan sebbesar 14,5% sebagai
20

gejala awal dari pergerakan repetitive yang dilakukan pekerja. (Bernard et al;
NIOSH, 1997).
a.

Tendinitis
Merupakan peradangan pada tendon, adanya struktur ikatan yang melekat
pada masing-masing bagian ujung dari otot ke tulang. Keadaan tersebut akan
semakin berkembang ketika tendon terus menerus digunakan untuk
mengerjakan hal-hal yang tidak biasa seperti tekanan yang kuat pada tangan,
membengkokkan pergelangan tangan selama bekerja, atau menggerakkan
pergelangan tangan secara berulang. Jika ketegangan otot tangan ini terus
berlangsung, akan menyebabkan tendinitis. Gejala yang dirasakan antara lain
Pegal, sakit pada bagian tertentu khususnya ketika bergerak aktif seperti pada
siku dan lutut yang disertai dengan pembengkakan. Kemerah-merahan, terasa
terbakar, sakit dan membengkak ketika bagian tubuh tersebut beristirahat.
Pekerjaan yang berpotensi antatra lain adalah Industri perakitan automobile,
pengemasan makanan, juru tulis, sales, manufaktur.

b.

Carpal Tunnel Syndrome (CTS).


CTS dapat menyebabkan sulitnya seseorang menggenggam sesuatu pada
tangannya. CTS merupakan Gangguan tekanan/ pemampatan pada syaraf
yang mempengaruhi syaraf tengah, salah satu dari tiga syaraf yang menyuplai
tangan dengan kemampuan sensorik dan motorik. CTS pada pergelangan
tangan merupakan terowongan yang terbentuk oleh carpal tulang pada tiga
sisi dan ligamen yang melintanginya. Gejalanya antara lain Gatal dan mati
rasa pada jari khususnya di malam hari, sakit seperti terbakar, mati rasa yang
menyakitkan, sensasi bengkak yang tidak terlihat, melemahnya sensasi
genggaman karena hilangnya fungsi syaraf sensorik. Faktor risiko yang dapat
menyebabkan CTS Manual handling, postur, getaran, repetisi, force/ gaya
yang membutuhkan peregangan, frekuensi, durasi, suhu. Pekerjaaan yang
berpotensi adalah pekerjaan Mengetik dan proses pemasukan data, kegiatan
manufaktur, perakitan, penjahit dan pengepakan/ pembungkusan.

c.

Trigger finger
Tekanan yang berulang pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang
memiliki pelatuk) dimana menekan tendon secara terus menerus hingga ke
jari-jari dan mengakibtakan rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari.

d.

Epicondylitis
21

Merupakan rasa nyeri atau sakit pada bagian siku. Rasa sakit ini berhubungan
dengan perputaran ekstrim pada lengan bawah dan pembengkokan pada
pergelangan tangan. Kondisi ini juga biasa disebut tennis elbow atau golfers
elbbow.
e.

Hand-Arm Vibration Syndrome (HAVS).


Gangguan pada pembuluh darah dan syaraf pada jari yang disebabkan oleh
getaran alat atau bagian / permukaan benda yang bergetar dan menyebar
langsung ke tangan. Dikenal juga sebagai getaran yang menyebabkan white
finger, traumatic vasospastic diseases atau fenomena Raynauds kedua.
Gejala dari HAVS adalah Mati rasa, gatal-gatal, dan putih pucat pada jari,
lebih lanjut dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas terhadap panas dan
dingin. Gejala biasanya muncul dalam keadaan dingin. Faktor yang berisiko
menyebabkan HAVS diantaranya adalah Getaran, durasi, frekuensi, intensitas
getaran, suhu dingin. Pekerjaan yang birisiko adalah Pekerjaan konstruksi,
petani atau pekerja lapangang, perusahaan automobil dan supir truk, penjahit,
pengebor, pekerjaan memalu, gerinda, penyangga, atau penggosok lantai.

2) Cidera Pada Bahu dan Leher


Pekerjaan dengan melibatkan bahu memiliki kemungkinan yang besar dalam
penyebabkan cidera pada bagian tubuh tersebut. Beberapa postur bahu seperti
merentang lebih dari 45 atau mengangkat bahu ke atas melebihi tinggi kepala.
Durasi yang lama dan gerakan yang berulang juga mempengaruhi kesakitan pada
bahu. Terdapat hubungan yang positif antara pekerjaan repetitif dan MSDs pada bahu
dan leher, studi lainnya menyatakan bahwa kejadian cidera bahu juga disebabkan
karena eksposur dengan postur janggal dan beban yang diangkat (Bernard et al,
1997).
a. Bursitis.
Peradangan (pembengkakan) atau iritasi yang terjadi pada jaringan ikat yang
berada pada sekitar persendian. Penyakit ini akibat posisi bahu yang janggal
seperti mengangkat bahu di atas kepala dan bekerja dalam waktu yang
lama.
b.

Tension Neck Syndrome.


Gejala ini terjadi pada leher yang mengalami ketegangan pada otot-ototnya
disebabkan postur leher menengadah ke atas dalam waktu yang lama.

22

Sindroma ini mengakibatkan kekakuan pada otot leher, kejang otot, dan rasa
sakit yang menyebar ke bagian leher.
3) Cidera Pada Punggung dan Lutut
Di beberapa jenis pekerjaan, dibutuhkan pekerjaan lantai atau mengangkat
beban yang menyebabkan postur punggung tidak netral. Posisi berlutut,
membungkuk, atau jongkok bisa menyebabkan sakit pada punggung bagian bawah
atau pada lutut, jika dilakukan dalam waktu yang lama dan kontinyu mengakibatkan
masalah yang serius pada otot dan sendi (NIOSH, 2007). Menurut Ablett (2001)
dalam Santoso (2004), terdapat 80% orang dewasa mengalami nyeri pada bagian
tubuh belakang (back pain) karena berbagai sebab dan kejadian back pain ini
mengakibatkan 40% orang tidak masuk kerja.
a. Low Back Pain.
Kondisi patologis yang mempengaruhi tulang, tendon, syaraf, ligamen,
intervertebral disc dari lumbar spine (tulang belakang). Cidera pada punggung
dikarenakan otot-otot tulang belakang mengalami peregangan jika postur
punggung membungkuk. Diskus (discs) mengalami tekanan yang kuat dan
menekan juga bagian dari tulang belakang termasuk syaraf. Apabila postur
membungkuk ini berlangsung terus menerus, maka diskus akan melemah yang
pada akhirnya menyebabkan putusnya diskus (disc rupture) atau biasa disebut
herniation. Gejala yang dirasakan adalah Sakit di bagian tertentu yang dapat
mengurangi tingkat pergerakan tulang belakang yang ditandai oleh kejang otot.
Sakit daritingkat menengah sampai yang parah dan menjalar sampai ke kaki.
Sulit berjalan normal dan pergerakan tulang belakang menjadi berkurang. Sakit
ketika mengendarai mobil, batuk atau mengganti posisi.
Faktor risiko yang dapat menimbulkan LBP adalah Pekerjaan manual yang berat,
postur janggal, force/ gaya,beban objek,getaran, repetisi, dan ketidakpuasan
terhadap pekerjaan. Pekerjaan yang berisiko antara lain Pekerja lapangan atau
bukan lapangan, pelayan, operator,tekhnisian dan manajernya, profesional, sales,
pekerjaan yang berhubungan dengan tulis-menulis dan pengetikan, supir truk,
pekerjaan manual handling, penjahit dan perawat.
b. Penyakit musculoskeletal
Yang terdapat di bagian lutut berkaitan dengan tekanan pada cairan di antara
tulang dan tendon. Tekanan yang berlangsung terus menerus akan mengakibatkan
cairan tersebut (bursa) tertekan, membengkak, kaku, dan meradang atau biasa
23

disebut bursitis. Tekanan dari luar ini juga menyebabkan tendon pada lutut
meradang yang akhirnya menyebabkan sakit (tendinitis).

2.9 Dampak Gangguan Muskuloskeletal


Dampak yang diakibatkan oleh MSDs pada aspek ekonomi perusahaan yaitu
(Pheasant, 1991):
a. Pada askpek produksi yang berkurangnya output, kerusakan material, prodk
yang akhirnya menyebabkan tidak terpenuhinya deadline atau target
produksi, pelayanan yang tidak memuasakan, dan lain-lain.
b. Biaya yang timbul akibat absensi perkerja yang akan menyebabkan
penurunan keuntungan, biaya untuk pelatihan karyawan baru yang
menggantikan pekerjaan yang sakit, biaya untuk menyewa jasa konsultan
atau agensi.
c. Biasa pergantian pekerjaan (turnover) untuk recruitment dan pelatihan.
d. Biaya asuransi.
e. Biaya lainnya (opportunity cost).
Sementara

itu,

menurut

Bird

(2005),

MSDs

dapat

menjadi

suatu

permasalahan penting karena dapat :


a. Waktu kerja yang hilang karena sakit umumnya disebabkan penyakit otot
rangka.
b. Menurunkan produktivitas kerja.
c. MSDs terutama yang berhubungan dengan punggung merupakan masalah
penyakit akibat kerja yang penanganannya membutuhkan biaya yang tinggi.
d. Penyakit MSDs bersifat multikausal sehingga sulit untuk menentukan
proporsi yang semata-mata akibat hubungan kerja.
e. Penurunan kewaspadaan.
f. Meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.

24

2.10 Pengukuran Muskuloskeletal Disorders (Nordic Body Map)


Pengukuran muskuloskeletal disorders (Rizka, 2012): melalui NBM dapat
diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan mulai dari rasa tidak nyaman
(agak sakit) sampai sangat sakit.

Nordic Body Map merupakan salah satu metode pengukuran subyektif untuk
mengukur rasa sakit otot para pekerja. Kuesioner Nordic Body Map merupakan salah
satu bentuk kuisioner checklist ergonomi. Kuisioner

Nordic Body Map adalah

kuesioner yang paling sering digunakan untuk mengetahui ketidaknyamanan pada


para pekerja karena sudah terstandarisasi dan tersusun rapi.
Pengisian kuisioner Nordic Body Map ini bertujuan untuk mengetahui bagian
tubuh dari pekerja yang terasa sakit sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan pada
stasiun kerja. Survei ini menggunakan banyak pilihan jawaban yang terdiri dari dua
bagian yaitu bagian umum dan terperinci. Bagian umum menggunakan bagian tubuh
yaitu yang dilihat dari bagian depan dan belakang. Responden yang mengisi
kuisioner diminta untuk memberikan tanda ada tidaknya gangguan pada bagian area
tubuh tersebut.
Nordic Body Map memiliki 28 pertanyaan tentang tingkat keluhan
muskuloskeletal dari leher hingga ujung kaki. Masing-masing sisi tubuh kiri dan
kanan memiliki pertanyaan yang berbeda, sehingga seluruh tubuh yang nyeri akan
dinilai dengan cermat. Pada NBM terdapat empat rentang skor yaitu skor satu untuk
tidak sakit, skor dua untuk agak sakit, skor tiga untuk sakit dan skor empat untuk
sangat sakit. Setelah kuesioner diisi, skor dari

25

masing-masing pertanyaan akan

diakumulasi untuk mengetahui tingkatan keluhan musculoskeletal yang diderita


(Dryastiti, 2013).
2.11 Metode Penilaian Keluhan Sistem Muskuloskeletal
Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi
ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan
otot skeletal. Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan
berbagai faktor subjektif seperti; kinerja, motivasi, harapan dan toleransi kelelahan
(Waters & Anderson, 1996). Alat ukur ergonomik yang dapat digunakan cukup
banyak dan bervariasi. Namun demikian, dari berbagai alat ukur dan berbagai
metode yang ada tentunya mempunyai kelebihan dan keterbatasan masing-masing.
Untuk itu kita harus dapat secara selektif memilih dan menggunakan metode secara
tepat sesuai dengan tujuan observasi yang akan dilakukan. Beberapa metode
observasi postur tubuh yang berkaitan dengan resiko gangguan pada sistem
muskuloskeletal (seperti metode OWAS,RULA dan REBA) dan penilaian
subjektif terhadap tingkat keparahan terhadap sistem muskuloskeletal dengan metode
Nordic Body Map serta checklist sederhana yang dapat digunakan untuk
melakukan identifikasi potensi bahaya pada pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan
dengan resiko MSDs.
1. Metode OWAS (Ovako Working Analysis System)
Metode OWAS merupakan suatu metode yang digunakan untuk
menilai, postur tubuh pada saat bekerja seperti halnya metode RULA dan
REBA. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang penulis dari
Osmo Karhu Finlandia, tahun 1997 dengan judul Correcting Working
postures in industry: A practical method for analysis. Yang diterbitkan
didalam jurnal Applied Ergonomics. Metode ini awalnya ditujukan untuk
mempelajari suatu pekerjaan di industri baja di Finlandia, dimana akhirnya
pasa ergonomists, dan penulis dapat menarik suatu kesimpulan yang valid
dan memperkenalkan metode ini secara luas dan menamainya dengan metode
OWAS. Metode OWAS ini seperti dijelaskan oleh penulisnya adalah
merupaka sebuah metode yang sederhana dan dapat digunakan untuk
menganalisis suatu pembebanan pada postur tubuh. Penerapan pada metode
ini dapat memberikan suatu hasil yang baik, yang dapat meningkatkan
kenyamanan

kerja,

sebagai

peningkatan
26

kualitas

produksi,

setelah

dilakukannya perbaikan sikap kerja. Sampai saat ini, metode ini telah
diterapkan secara luas diberbagai sektor industri.
Aplikasi metode OWAS didasarkan pada hasil penga,matan dari
berbagai posisi yang diambil pada pekerja selama melakukan pekerjaanny,
dan digunakan untuk mengidentifikasi sampai dengan 252 posisi yang
berbeda, sebagai hasil dari kemungkinan kombinasi postur tubuh bagian
belakang (4 posisi), lengan (3 posisi), kaki (7 posisi), dan pembebanan (3
interval).
2. Metode RULA (The Rapid Upper Limb Assessment)
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Lynn McAtamney dan
Nigel Corlett, E. (1993), seorang ahli ergonomic dari Nottinghams Institute
of Occupational Ergonomics England. Metode ini prinsip dasarnya hampir
sama dengan metode REBA (Rapid Entire Body Assessment) maupun metode
OWAS (Ovako Postur Analysis System). Metode RULA merupakan suatu
metode dengan menggunakan target postur tubuh untuk mengestimasi
terjadinya resiko gangguan otot skeletal, khususnya pada anggota tubuh
bagian atas (upper limb disorders), seperti adanya gerakan repetitif, pekerjaan
diperlukan pengerahan kekuatan, aktivitas otot statis pada otot skeletal, dll.
Penilaiannya sistematis dan cepat terhadap resiko terjadinya gangguan
dengan menunjuk bagian anggota tubuh pekerja yang mengalami gangguan
tersebut. Analisis dapat dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, untuk
menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan akan dapat menurunkan resiko
cedera.
Di dalam aplikasi, metode RULA dapat digunakan untuk menentukan
prioritas pekerjaan berdasarkan faktor risiko cedera dan mencari tindakan
yang paling efektif untuk pekerjaan yang memiliki resiko relatif tinggi. Di
samping itu metode RULA merupakan alat untuk melakukan analisis awal
yang mampu menentukan seberapa jauh resiko pekerja yang terpengaruh oleh
faktor-faktor penyebab cedera, yaitu postur tubuh, kontraksi otot statis,
gerakan repetitif dan pengerahan tenaga dan pembebanan.

27

2.12 Upaya pencegahan Gangguan Muskuloskeletal


Diperlukan suatu upaya pencegahan untuk meminimalisasi timbulnya MSDs
pada lingkungan kerja.upaya pencegahan tersebut dapat mempunyai manfaat berupa
penghematan

biaya,

meningkatkan

produktivitas

serta

kualitas

kerja

dan

meningkatkan kesehatan para karyawan.


Berikut upaya yang bisa dilakukan oleh para pekerja untuk mengurangi risiko
terjadinya kecelakaan kerja yaitu:
1. Peregangan otot sebelum melakukan pekerjaan pada setiap harinya.
2. Posisi sedikit berlutut saat mengambil barang jangan membungkuk.
3. Mencodongkan punggung saat mengangkat beban.
2.13 Pengendalian Gangguan Muskuloskeletal/ Muskuloskeletal Disorders
Berdasarkan

rekomendasi

dari

Occupational

Safety

and

Health

Administration (OSHA) dalam Tarwakal , et al (2004), tindakan ergonomik untuk


mencegah adanya sumber penyakit adalah memalui dua cara yaitu Rekayasa Teknik
( desain stasiun dan alat kerja) dan Rekayasa Menejemen ( kriteria dan organisasi kerja).
a. Rekayasa Teknik Rekayasa Teknik pada umumnya dilakukan melalui pemilihan
beberapa
alteralitf, meliputi (et al Tarwaka, 2004) :
Eliminasi,yaitu dengan menghilangkan sumber bahaya yang ada. Hal ini
jarang dilakukan mengingat kondisi dan tuntutan pekerja yang mengharuskan
untuk menggunakan peralatan yang ada;
Substitusi, yaitu mengganti alat atau bahan lama dengan alat atau bahan
baru yang aman, menyempurnakan proses produksi dan menyempurnakan
prosedur penggunaan peralatan;
Partisi, yaitu melakukan pemisahan antara sumber bahaya dengan pekerja;
Ventilasi, menamah ventilasi untk mengurangi risiko sakit
b. Rekayasa Menejemen Rekayasa Menejemen dapat dilakukan melalui tindakan
berikut :
Pendidikan dan pelatihan agar pekerja lebih memahami lingkungan dan alat kerja
sehingga diharapkan dapat melakukan penyesuaian dan inovatif dalam melakukan upaya
pencegahan terhadap risiko sakit akibat kerja;
Pengaruh waktu kerja dan istirahat yang seimbang, dalam arti disesuaikan
dengan kondisi lingkungan kerja dan karakterisktik pekerjaan, sehingga dapat
mencegah paparan yang berlebihan terhadap sumber bahaya;
28

Pengawasan yang intensif, agar dapat dilakukan pencegahan secara lebih


dini terhadap kemungkinan terjadinya risiko sakit akibat kerja (et al
Tarwaka, 2004)
Agar tidak mengalami risiko MSDs pada saat melakukan pekerjaan, maka
ada beberapa hal yang harus dihindari. Hal tersebut adalah :
Jangan memutar atau membungkukkan badan ke samping.
Jangan menggerakkan, mendorong atau menarik secara sembarangan,

karena dapat meningkatkan risiko cidera.


Jangan ragu meminta tolong pada orang.
Apabila jangkauan tidak cukup, jangan memindahkan barang.
Apabila barang yang hendak dipindahkan terlalu berat, janganme

lanjutkan.
Lakukan senam/peregangan otot sebelum bekerja. (Cohen et al, 1997).

29

BAB 3 : PENUTUP

3.1 Kesimpulan
World
muskuloskeletal

Health

Organization (WHO)

(musculoskeletal

mendefinisikan

gangguan

disorder/MSD) merupakan gangguan pada

otot, tendon, sendi, ruas tulang belakang, saraf perifer, dan sistem vaskuler yang
dapat terjadi secara tiba-tiba dan akut maupun secara perlahan dan kronis.
Faktor risiko gangguam muskuloskeletal adalah faktor pekerjaan, faktor individu,
faktor lingkungan dan faktor psikosoasial.
Prevalensi penyakit muskuloskeletal di Indonesia berdasarkan pernah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan yaitu 11,9 persen dan berdasarkan diagnosis atau
gejala yaitu 24,7 persen (Riskesdas, 2013). Prevalensi penyakit musculoskeletal
tertinggi berdasarkan pekerjaan adalah pada petani, nelayan atau buruh yaitu 31,2
persen (Riskesdas, 2013).
Berikut upaya yang bisa dilakukan oleh para pekerja untuk mengurangi risiko
terjadinya kecelakaan kerja yaitu:
1. Peregangan otot sebelum melakukan pekerjaan pada setiap harinya.
2. Posisi sedikit berlutut saat mengambil barang jangan membungkuk.
3. Mencodongkan punggung saat mengangkat beban.
Berdasarkan

rekomendasi

dari

Occupational

Safety

and

Health

Administration (OSHA) dalam Tarwakal , et al (2004), tindakan ergonomik untuk


mencegah adanya sumber penyakit adalah memalui dua cara yaitu Rekayasa Teknik
( desain stasiun dan alat kerja) dan Rekayasa Menejemen ( kriteria dan organisasi kerja).
3.2 Saran
Penulis menyarankan kepada perusahaan atau tempat kerja untuk selalu
menerapkan prinsip ergonomis untuk mencegah gangguan muskuloskeletal.
Kemudian menyarankan dalam melakukan kajian terhadap metode penilaian
gangguan muskuloskeletal harus lebih rinci lagi, agar penanganan yang dilakukan
untuk gangguan muskuloskeletal dapat teratasi dengan baik.

30

DAFTAR PUSTAKA

Harrianto, Ridwan. 2010. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Amalia, Mumtaza. 2014. Gangguan Muskoloskeletal. http:/ /mumtazamalia.
blogspot.co.id/2014/04 gangguan-muskuloskeletal.html (Diakses pada tanggal
26 April 2016, pukul 16.37 WIB).
Martina, Lia. 2013. Musculoskeletal Disorders (MSDs) http:// fairytoot.blogspot.co.
id/2013/12/musculoskeletal-disorders-definisi-msds_7865.html (Diakses pada
tanggal 27 April 2016, pukul 16.40 WIB).
Asamara,

Jullyansyah

Saputra.

2013.

Sistem

Muskuloskeletal.

julyyansyahsaputra.blogspot.co.id/2013/11/sistem-muskuloskeletal.html
(Diakses pada tanggal 27 April 2016, pukul 16.45 WIB).

31

http://

ANALISIS JURNAL 1
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN KELUHAN
MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA BENGKEL
DI CV. KOMBOS KOTA MANADO TAHUN 2013

1. Latar Belakang
Kegiatan di bengkel CV. Kombos terbagi dalam lima bagian yang terdiri dari
bongkar pasang , las ketok, pendempulan, service rutin dan painting/pengecetan
pekerjaan ini dilakukan oleh teknisi yang ahli di bidangnnya masing masing
pekerjaan tersebut melibatkan aktivitas fisik manual material handling seperti
mengangkat, menahan, dan memindahkan barang. Berdasarkan hasil survey dan
wawancara pada supervisor bengkel bahwa pernah terjadi kecelakaan kerja
seperti terpeleset saat membawa barang, jatuhnya mesin yang diangkat dengan
katrol yang saat itu dapat menimpa pekerja di area bongkar pasang, tersetrum,
dan yang fatal pernah terjadi adalah saat menggerinda body mobil alat yang
digunakan / mata gerinda pecah yang mengakibatkan luka robek terkena pecahan
alat mata gerinda dan pekerja dilarikan ke rumah sakit. Selain itu juga dari hasil
pengamatan langsung bahwa sikap ataupun postur pada saat bekerja yang
menjauhi posisi alamiah.
2. Metode
Penelitian ini dilakukan pada bulan September-November 2013. Metode
penelitian yang digunakan analitik dengan desain cross sectional (potong
lintang). Sampel yang diambil seluruh pekerja bengkel yang bekerja di bengkel
CV. Kombos Manado yang berjumlah 51 orang.
3. Hasil
-

Responden dengan masa kerja 1 10 tahun yaitu (58,82%) dibandingkan


dengan responden yang memiliki masa kerja 11 - 23 tahun (41,18%).

Bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan oleh pekerja bengkel yaitu;
leher bawah sebanyak 42 responden (82,35%), pinggang 41 responden
(80,39%), leher atas 40 responden (78,43%), punggung 35 responden
(68,63%), bahu kiri dan bahu kanan masing-masing 34 responden (66,67%).

Berdasarkan tingkat keluhan bahwa 34 responden (66,67%) merasakan


keluhan muskuloskeletal rendah, sedangkan 13 responden (25,49%)
32

merasakan keluhan muskuloskeletal sedang dan sebanyak 4 responden (7,84)


merasakan keluhan muskuloskeletal tinggi.
-

Hasil nilai statistic aktivitas fisik dengan keluhan musculoskeletal didapat p


value= 0,749 (p value> 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan antara
aktivitas fisik dengan keluhan musculoskeletal.

4. Kesimpulan
Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan keluhan muskuloskeletal
pada pekerja bengkel di CV. Kombos Manado yang berarti aktivitas fisik tidak
berpengaruh terhadap keluhan muskuloskeletal pada oleh pekerja bengkel di CV.
Kombos Manado

33

ANALISIS JURNAL 2
HUBUNGAN TINGKAT RISIKO ERGONOMI DAN MASA KERJA
DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA
PEMECAH BATU

1.

Latar Belakang
Desa Leyangan merupakan salah satu sentral pemecahan batu di Kecamatan
Ungaran, Semarang. Di desa ini terdapat 4 Depo pemecahan batu namun hanya 3
Depo yang masih beroperasi saat ini. Pemecahan Batu di Desa Leyangan
merupakan pekerjaan informal yang menjadi salah satu mata pencaharian
penduduk. Dalam melakukan pekerjaannya, pekerja telah melakukan pembagian
tugas dimana terdapat pekerja sebagai pemecah batu besar, pekerja angkat-angkut
dan pekerja pemecah batu kecil. pemecahan batu dilakukan dengan
membungkukkan badan dan pemecahan batu menggunakan palu dilakukan
secara berulang-ulang.
Berdasarkan wawancara saat survei awal yang dilakukan oleh peneliti pada
10 orang pemecah batu di Desa Leyangan, 100% pekerja pemecah batu
mengeluhkan adanya keluhan nyeri di daerah lengan atas, leher, bahu dan
pinggang setelah pemecahan batu. Keluhan paling sering dirasakan pada daerah
pinggang. Keluhan ini terasa hingga pekerja kembali ke rumah.

2.

Metode
Desain studi yang digunakan cross sectional dengan subjek penelitian para
pemecah batu di desa Leyangan yang berjenis kelamin laki-laki dan jumlah
subyek penelitian adalah sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara. Metode yang digunakan untuk mengukur tingkat risiko
ergonomi adalah metode REBA (Rapid Entire Body Assesment) sedangkan untuk
mengukur keluhan muskuloskeletalnya digunakan metode Nordic Body Map.

3.

Hasil
-

Sebanyak 16 orang (53,3%) melakukan pekerjaan dengan tingkat risiko


rendah. Sedangkan responden yang melakukan pekerjaan dengan tingkat
risiko tinggi sebanyak 14 orang (46,7%).

34

Masa kerja pada pekerja pemecah batu yang 5 tahun sebanyak 21 orang
(70%). Sedangkan responden yang bekerja selama <5 tahun sebanyak 9
orang (30%).

Mayoritas umur pekerja pemecah batu adalah 30 tahun dengan jumlah


responden sebanyak 21 orang (70%). Sedangkan responden yang berumur
<30 tahun sebanyak 9 orang (30%).

Sebanyak 18 orang (60%) responden merasakan keluhan muskuloskeletal


pada seluruh tubuh dengan tingkat risiko rendah dan sebanyak 12 orang
(40%) responden merasakan keluhan muskuloskeletal dengan tingkat risiko
tinggi, dan sebanyak 23 orang (76,7%) responden merasakan keluhan
muskuloskeletal pada punggung bawah.

Dari hasil statistik tidak ada hubungan antara tingkat risiko ergonomi dengan
keluhan muskuloskeletal dengan p > 0.05 (pvalue=0,073).

Dari hasil statistik dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara masa kerja
dengan keluhan muskuloskeletal p < 0.05 (p-value = 0,049).

4.

Kesimpulan
Tidak ada hubungan antara tingkat risiko ergonomi dengan keluhan
muskuloskeletal tetapi terdapat hubungan antara masa kerja dengan keluhan
muskuloskeletal.

35