Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

PENGARUH DEBU KAPAS TERHADAP


KESEHATAN DI LINGKUNGAN KERJA

Disusun oleh :
Aulia Raudhatul Jannah
Dyah Ayu P.
I Putu Astra Adyana

AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO


UNGARAN
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun
makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Pengaruh
debu kapas terhadap kesehatan di lingkungan kerja .
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca
sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.

Ungaran,

September 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ......................................................................................

ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................

A. Latar Belakang...............................................................................
B. Tujuan............................................................................................

1
1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................

A.
B.
C.
D.
E.

Sejarah............................................................................................
Pengertian.......................................................................................
Diagnosa.........................................................................................
Nilai Ambang Batas.......................................................................
Penyakit Yang Ditimbulkan...........................................................

2
2
2
3
3

BAB III PENUTUP..........................................................................................

A. Kesimpulan....................................................................................
B. Saran..............................................................................................

5
5

DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu dampak negatif yang bisa timbul akibat industri tekstil yaitu
dihasilkannya debu kapas yang dapat mengganggu kenyamanan kerja dan
kesehatan pekerja. Debu tersebut dapat masuk ke organ tubuh melalui hidung
atau mulut dan masuk ke dalam paru-paru, sehingga lambat laun debu kapas
tersebut akan tertimbun dalam paru-paru yang akan mempengaruhi kapasitas
fungsi paru dan akhirnya dapat menyebabkan gangguan fungsi paru bagi
pekerja yang terpapar oleh debu tersebut.
B. Tujuan
Agar Mahasiswa mengetahui dan mengerti tentang Bahayanya debu kapas
di lingkungan kerja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi
Debu kapas terdiri dari empat fraksi: serat selulosa, debris tumbuhan
(serpihan-serpihan daun dan bulu kapas), tanah dan mikroorganisme saprofit
(biasanya bakteri Gram negatif dan jamur yang tumbuh pada kapas selama
penyimpanan).
B. Pengertian
Debu kapas adalah debu yang dihasilkan selama kegiatan pembuatan
kasur dengan menggunakan bahan baku kapas dan kapas yang digunakan
berasal dari sisa hasil industri tekstil.
Kapas yang dipetik dengan tangan kurang mengandung debris tanaman
daripada kapas yang dipanen dengan mesin, dan kapas segar sedikit
mengandung mikroorganisme daripada yang disimpan.
Debu rami kasar dan halus biasanya terdiri dari debris tanaman dan
mikroorganisme yang tumbuh pada rami selama perendaman. Kapas, rami dan
sisal tumbuh di berbagai bagian dunia. Industri kapas melibatkan berbagai
proses :
1. pemisahan biji kapas dari serat kapas
2. pengepakan (di negara pengekspor)
3. proses produksi kapas meliputi pembukaan pak, penghembusan,
penyisiran, pemintalan, penyiapan benang dan penenunan. Semua
bagian-bagian proses pengolahan kapas ini menghasilkan debu.
C. Diagnosa
Diagnosa didasarkan pada gejala-gejala yang dialami penderita, serta
adanya riwayat paparan terhadap debu kapas atau rami. Pemeriksaan yang bisa
dilakukan:
1. Tes fungsi paru. Pada orang-orang dengan bissinosis, terjadi penurunan
kapasitas paru saat hari-hari kerja. Biasanya, penurunan kapasitas paru
yang paling besar terjadi saat hari pertama kerja.

2. Rontgen dada atau CT scan dada, untuk membantu menyingkirkan


kemungkinan adanya penyakit paru lainnya, yang bisa menimbulkan
gejala-gejala yang serupa.
D. Nilai Ambang Batas
Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia) (2005) batas Nilai Ambang
Batas (NAB) untuk debu kapas adalah 0,2 mg/m dengan lama kerja seharihari tidak lebih dari 8 jam atau 40 jam seminggu.
E. Penyakit yang ditimbulkan
Bissinosis merupakan penyakit paru-paru yang diakibatkan terlalu sering
menghirup debu kapas atau debu serat tanaman lain seperti rami.
1. Penyebab
Bissinosis umumnya terjadi pada orang-orang yang bekerja dengan
kapas yang belum diolah. Pekerja yang mengolah rami juga kemungkinan
akan menderita penyakit ini. Pekerja yang rawan mengalami penyakit ini
adalah orang yang bekerja membuka karung kapas mentah atau bekerja
pada tahap awal pemrosesan kapas. Merokok bisa mengakibatkan risiko
terkena penyakit ini.
2. Gejala
Pada penderita ditemukan beberapa kondisi berikut:
a.

Batuk

b.

Mengi

c.

Dada terasa sesak

d.

Gejala memburuk pada hari kerja

e.

Gejala membaik bila penderita jauh dari tempatnya bekerja

3. Pengobatan
Pengobatan yang terpenting adalah menghilangkan sumber
pemaparan dari bahan penyebabnya. Untuk meringankan gejala, biasanya
diberikan bronkodilator, baik dalam bentuk hirup (albuterol) maupun
tablet (theophylline). Pada kasus yang berat bisa diberikan corticosteroid.
Selain itu, menghentikan kebiasaan merokok juga bisa mengurangi risiko
penyakit ini. Bila penyakitnya menahun maka perlu diberikan terapi

pernapasan berupa drainase postural dan nebulizer. Bila kadar oksigen


dalam darah rendah, bisa juga diberikan terapi oksigen.
4. Pencegahan
Bissinosis bisa dicegah dengan cara mengurangi kadar debu di
dalam pabrik pengolahan tekstil melalui perbaikan mesin atau sirkulasi
udara.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Debu kapas terdiri dari empat fraksi: serat selulosa, debris
tumbuhan

(serpihan-serpihan daun dan

bulu kapas), tanah

dan

mikroorganisme saprofit (biasanya bakteri Gram negatif dan jamur yang


tumbuh pada kapas selama penyimpanan).
Debu kapas adalah debu yang dihasilkan selama kegiatan
pembuatan kasur dengan menggunakan bahan baku kapas dan kapas yang
digunakan berasal dari sisa hasil industri tekstil.
Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia) (2005) batas Nilai
Ambang Batas (NAB) untuk debu kapas adalah 0,2mg/m dengan lama
kerja sehari-hari tidak lebih dari 8 jam atau 40 jam seminggu.
Bissinosis merupakan penyakit paru-paru yang diakibatkan terlalu
sering menghirup debu kapas atau debu serat tanaman lain seperti rami.
B. Saran
Dalam bekerja sebaiknya memakai peralatan keamanan seperti masker,
agar debu kapas tidak terhirup dan masuk ke dalam tubuh. Bagi
perusahaan atau industri yang memakai bahan baku kapas agar dapat
meminimalisir debu.

DAFTAR PUSTAKA

http://myr-medical.blogspot.com/2011/12/debu-kapas.html
http://doktersehat.com/awas-debu-kapas-bisa-membayakan-paru-paru/
http://chatcit.com/bissinosis-byssinosis/
SOLEH MARSAM, 2003. HUBUNGAN PEMAPARAN DEBU KAPAS
DENGAN PENURUNAN FUNGSI PARU(VC,FVC DAN FEV1) PADA
PEMBUAT

KASUR

DI

DESA

BANJARKERTA

KECAMATAN

KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2003.

JAJANG PRIHATA, 2003. HUBUNGAN KONSENTRASI DEBU KAPAS


DENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU (FVC DAN FEV1) PADA
TENAGA KERJA BAGIAN PRODUKSI INDUSTRI TEKSTIL DI PT.
EMBEE PLUMBON TEKSTIL KABUPATEN CIREBON.

Anda mungkin juga menyukai