Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA 2

ISOLASI SENYAWA KIMIA MENGGUNAKAN KROMATOGRAFILAPIS


TIPIS PREPARATIF PADA FRAKSI DAUN KELOR(Moringa
oleiferaLam.)ASAL DESAMANGGALUNG
KECAMATANMANDALLEKABUPATEN PANGKEP

Oleh :

NAMA
STAMBUK
KELOMPOK
KELAS
ASISTEN

: ARIN RIZKI TALIB


: 15020130082
: 2 (DUA)
: C.3
: MUS MUALIM,S.Farm.

PROGRAM STUDI FARMASI


LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


A. Latar Belakang
Kromatografi adalah tehnik untuk memisahkan campuran menjadi
suatu komponen dengan bantuan dari suatu perbedaan dari sifat fisik
masing-masing komponen.
Dari berbagai metode kromatogarfi dapat memberikan suatu cara
pemisahan paling baik. Karena pemanfaatan yang luas untuk pemisahan
analitik dan preparatif. Untuk kromatografi analitik dipakai pada tahap
permulaan pada semua cuplikan, sedangkan kromatografi preparatif
hanya untuk fraksi murni dari suatu campuran tanaman.
Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah
penapis senyawa
ini

digunakan

kimia
metode

yang

terkandung

Kromatografi

dalam

Lapis

tanaman.

Tipis

(KLT)

Cara
untuk

mengidentifikasi senyawa yang terkandung didalam suatu sampel


tanaman obat yang nantinya akan diteliti selanjutnya.
Sifat utama yang terlibat dalam pemisahan secara kromatografi ada
3 yaitu: (1). Kecenderungan suatu molekul untuk melarut dalam cairan
(kelarutan), (2). Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan
serbuk halus (adsorpsi, penjerapan) dan (3). Kecenderungan molekul
untuk menguap atau berubah kekeadaan uap (keatsirian).
Terjadinya pemisahan dikarenakan adanya komponen suatu
cuplikan yang bergerak dengan jarak yang berbeda akibat adanya
perbedaan partisi dari komponen yang dipisahkan. Pemisahan dan

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


pemurnian komponen terjadi karena adanya perbedaan distribusi diantara
dua fase yaitu antara fase diam dan fase gerak.
Untuk tehnik kromatografi yang sering digunakan yaitu kromatografi
kolom, kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas dan kromatografi gas.
Pemilihan suatu tehnik kromatografi sebagian besar tergantung dari sifat
kelarutan dan keatsirian dari suatu senyawa yang ingin dipisahkan.
Sehingga dilakukan praktikum ini untuk mengetahui senyawa
isolasi dengan menggunakan kromatografi kolom konvensional dan
kromatografi cair vakum yang akan dilanjutkan pada percobaan
kromatografi lapis tipis preparatif.
B. Maksud Percobaan
Maksud percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami
untuk mengisolasi komponen kimia dengan metode kromatografi lapis tipis
preparative dari fraksi daun kelor ( Moringa oleifera L. ) dengan
menggunkan eluen n-Heksan dan Etil Asetat reaksi sehingga diperoleh
senyawa murnimenggunakan kromatografi lapis tipis preparatif.

C. Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan adalahuntuk mengisolasi komponen kimia dengan
metode kromatografi lapis tipis preparative dari fraksi daun kelor (

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Moringa oleifera L. ) dengan menggunkan eluen n-Heksan dan Etil Asetat
reaksi sehingga diperoleh senyawa murni.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Tumbuhan
1. Klasifikasi (Roloff et al, 2009)
Regnum
: Plantae
Division
: Spermatophyta
Subdivisio
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledoneae
Subclassis
: Dialypetalae
Ordo
: Rhoeadales (Brassicales)
Familia
: Moringaceae
Genus
: Moringa
Species
: Moringa Oleifera
2. Morfologi
Kelor (Moringa oleifera) tumbuh di dataran rendah maupun dataran
tinggi sampai di ketinggian 1000 dpl. Kelor banyak ditanam sebagai
tapal batas atau pagar di halaman rumah atau ladang. Daun kelor
dapat dipanen setelah tanaman tumbuh 1,5 hingga 2 meter yang
biasanya memakan waktu 3 sampai 6 bulan. Namun dalam budidaya
intensif yang bertujuan untuk produksi daunnya, kelor dipelihara
dengan ketinggian tidak lebih dari 1 meter. Pemanenan dilakukan
dengan cara memetik batang daun dari cabang atau dengan
memotong cabangnya dengan jarak 20 sampai 40 cm di atas tanah
(Kurniasih, 2013).
3. Nama Daerah

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Tanaman kelor mempunyai nama lokal yaitu kelor (Jawa, Sunda,
Bali, Lampung), Kerol (Buru), Marangghi (Madura), Moltong (Flores),
Kelo (Gorontalo), Keloro (Bugis), Kawano ( Sumba), Ongge (Bima),
Hau fo (Timor) (Aliya,2006).
4. Kandungan Kimia
Kelor

(Moringa

oleifera)

mempunyai

kandungan

senyawa

4(Lrhamnopyranosyloxy) benzyl isothiocyanate, pterygospermin, dan


4-(-Lrhamnopyranosyloxy) benzylglucosinolate. Moringaceae kaya
kandungan gula sederhana, rhamnose, dan senyawa unik yaitu
glukosinolat dan isotiotianat. Daun kelor (Moringa oleifera) terdapat
senyawa benzil isotiosianat dan dari hasil studi fitokimia daun kelor
(Moringa oleifera) juga mengandung senyawa metabolit sekunder
flavonoid, alkaloid, phenols yang juga dapat menghambat aktivitas
bakteri (Nugraha,2013).
5. Kegunaan
Tanaman kelor di daerah pedesaan biasanya digunakan sebagai
tapal batas rumah atau ladang. Akar kelor dapat dimanfaatkan
sebagai antilithic (pencegah terbentuknya batu urine), rubefacient
(obat kulit merah), vesicant (menghilangkan kutil), antifertilitas dan
antiinflamasi (peradangan). Batang kelor dimanfaatkan sebagai
rubefacient,

vesicant,

menyembuhkan

penyakit

mata,

untuk

pengobatan pasien mengigau, mencegah pembesaran limpa dan


untuk menyembuhkan bisul (Krisnadi, 2013).
B. Landasan Teori

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya paling
murah dan memakai peralatan sangat sederhana ialah kromatografi lapis
tipis preparatif (KLTP).Walaupun KLTP dapat memisahkan dalam jumlah
gram,sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah miligram. KLT
preparatif dilakukan dengan menggunakan lapisan tebal (sampai 1 mm)
sebagai pengganti lapisan penyerap yang tipis (Harborne, 1987).
Preparatif thin- layer chromatography (PTLC) atau kromatografi
lapis tipis preparative (KLTP) merupakan metode isolasi yang sudah lama
popular karena digunakan secara universal oleh mahasiswa dan peneliti
khususnya bahan alam. Popularitas metode ini berkurang setelah muncul
metode high pressure liquid chromatography (HPLC) dan counter current
chromatography (CCC) (Gritter, 1991).
Kromatografi Lapis Tipis preparative adalah salah satu metode
yang paling sederhana dan murah untuk mengisolasi komponen kimia
dari suatu bahan alam. Meskipun pengerjaannya intensif dan hanya
sedikit isolate yang diperlukan dari tiap prosedur fraksinasi (Rusli,2005).
Pemisahan komponen kimia dengan Kromatografi Lapis Tipis
preparative pada dasarnya sama dengan KLT biasa namun perbedaannya
ialah KLT-preparatif menggunakan lempeng yang besar (ukuran 20 x 20
cm dan 20 x 40 cm) dengan ketebalan 0,5-2mm. Dan sampel ditotolkan
berupa garis lurus pada salah satu sisi lempeng. Penjerap yang paling
umum digunakan ialah silica gel 60 dan

dipakai untuk pemisahan

campuran senyawa lipofil maupun senyawa hidrofil (Gritter, 1991).

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Fraksi aktif dilarutkan sedikit demi sedikit sebelum ditotolkan pada
pelat KLTP. Pelarut yang baik adalah pelarut atsiri (heksan, diklometer, etil
asetat) karena jika bukan pelarut atsiri akan menyebabkan pelebaran pita.
Konsentrasi fraksi harus sekitar 5-10 %. Fraksi ditotol sesempit mungkin
untuk menghindari pita yang terbentuk. Penotolan dapat dilakukan dengan
cara (pipa kapiler tetapi baik dengan penotolan otomatis / camay desage)
atau mikropipet (Gritter,1991).
Pada

KLTP,

kebanyakan

penjerap

mengandung

indikator

flouresensi untuk membantu deteksi kedudukan pita yang terpisah


sepanjang senyawa tersebut menyerap sinar UV (Gritter,1991).
Pada kromatografi lapis tipis preparatif, cuplikan yang akan
dipisahkan ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi pelat lapisan besar
dan dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga
campuran akan terpisah menjadi beberapa pita. Pita ditampakkan dengan
cara yang tidak merusak jika senyawa itu tanwarna, dan penyerap yang
mengandung senyawa pita dikerok dari pelat kaca. Kemudian cuplikan
dielusi dari penyerap dengan pelarut polar. Cara ini berguna untuk
memisahkan campuran reaksi sehingga diperoleh senyawa murni untuk
telaah pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan analisis, untuk meneliti
bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan campurannya rumit dan
untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk mengkalibrasi kromatografi
lapis tipis kuantitatif (Gritter, 1991).

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Pengembangan plat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana
kaca yang dapat menampung beberapa plat. Keefisienan pemisahan
dapat

ditingkatkan

dengan

cara

pengembangan

berulang.

Harus

diperhatikan bahwa semakin lama senyawa berkontak dengan penyerap


maka semakin besar kemungkinan penguraian (Hostettman, 1995).
Dalam perkembangan selanjutnya metode KLT tidak hanya
digunakan untuk mengidentifikasi noda akan tetapi juga untuk mengisolasi
ekstrak, metode ini kemudian dikenal sebagai KLT preparatif. Metode ini
merupakan salah satu metode yang paling sederhana dan murah untuk
mengisolasi komponen kimia dari suatu bahan alam. Prinsip kerjanya
yaitu adsorpsi dan partisi, dengan menggunakan lempeng yang besar (20
X 20) (Gritter, 1991).
Metode kerjanya meliputi penotolen ekstrak bahan alam dalam
bentuk pita pada lempeng. Hal ini memungkinkang sampel dalam jumlah
besar dapat muat pada lempeng KLT, lempeng dikembangkan dalam
pelarut yang telah diketahui mampu memisahkan komponen, yang paling
penting adalah harus digunakan metode deteksi yang tidak merusak
sampel (Najib, 2013).
Kromatografi preparatif dipakai untuk memperoleh komponen
campuran dalam jumlah yang memadai (mg sampai g) dalam keadaan
murni sehingga komponen itu dapat dicirikan lebih lengkap atau dipakai
pada reaksi berikutnya (Gritter, 1991)

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Meski banyak terdapat metode seperti yang telah disebutkan di
atas, terdapat metode lain yang pembiayaannya paling murah dan
memakai peralatan paling dasar yaitu Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
(KLTP). adsorben yang paling banyak digunakan yaitu silika gel yang
dipakai untuk pemisahan campuran lipofil maupun senyawa hidrofil.
ketebalan adsorben yang paling sering digunakan ialah 0,5 2 mm.
pembatasan ketebalan lapisan dan ukuran plat sudah tentu mengurangi
jumlah bahan yang dapat dipisahkan dengan KLTP. Ukuran partikel dan
porinya kurang lebih sama dengan ukuran tingkat mutu KLT (Maston,
1986).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


A Alat dan Bahan
1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Alat penyemprot
DPPH, Batang pengaduk panjang, Chamber KLTP, Gelas ukur,Lemari
Asam, Mistar, Pipa kapiler, dan Sendok besi.
2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Aluminium foil,
DPPH,Etil Asetat, Fraksi aktif KKK dan KCV, Lempeng kaca, Kapas, nHeksan, dan tissu.
B Cara Kerja
Disiapkan alat dan bahan. Dipilih hasil fraksi yang terelusi dengan
baik pada kromatografi kolom konvensional dan kromatografi kolom cair
vakum. Kemudian masing-masing fraksi yang telah dipilih dilarutkan
dengan eluen dan ditotolkan pada lempeng KLTP menggunakan pipa
kapiler. Selanjutnya dielusi dalam chamber yang berisi eluen n-heksan:etil
(7:3) yang telah jenuh. Kemudian dibiarkan terelusi, selanjutnya diamati
penampakan bercak noda pada lampu UV 254 dan 366 nm. Dan
dilakukan uji antioksidan dengan pereaksi DPPH.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE

Fraksi

Jumlah Pita

Warna

Penyemprota
n DPPH

Kromatografi
Kolom
Konvensional

Kuning dengan

Latar Ungu

(KKK)
Kromatografi
Cair Vakum

Kuning dengan

Latar Ungu

(KCV)

Ket: + = Positif sebagai Antioksidan


B. Pembahasan
Kromatografi Lapis Tipis merupakan teknik pemisahan cara lama
yang digunakan secara luas, terutama dalam analisis campuran yang
rumit dari sumber alam. Tetapi dalam kuantisasi belakangan ini
kromatografi lapis tipis digantikan oleh HPLC (High Performance Thinlayer Chromatography) atau Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi.
Adapun tujuan percobaan adalah untuk melakukan pemisahan
komponen kimia dengan metode kromatografi lapis tipis preparative
(KLTP) dari ekstrak daun kelor (

Moringa oleifera L. ) dengan

menggunakan eluen n-Heksan dan Etil Asetat.


Pada praktikum ini dilakukan percobaan Kromatografi lapis tipis
preparatif (KLTP). Dimana pada KLT preparative pada dasarnya sama
dengan kromatografi lapis tipis biasa, namun perbedaan yang nyata ialah
pada KLT preparative menggunakan lempeng kaca yang besar (ukuran 20
x 20 cm) dengan ketebalan 0,5-2 mm dan sampel ditotolkan berupa garis

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


lurus pada salah satu sisi lempeng. Dan setelah itu pada bagian langkah
akhir silica akan dikeruk yang mana disebut sebagai isolate.
Cara kerja dari metode ini diambil fraksi aktif dari hasil KKK dan
fraksi aktif dari hasil KCV kemudian ditotolkan berbentuk pita garis
penotolan yang telah dibuat sebelumnya. Lempeng yang digunakan
berukuran 20 x 20 cm. setelah sampel ditotolkan, disemprotkan dengan
DPPH

kemudian

dikembangkan

dengan

eluen kloroform

etanol

7:3 didalam chamber KLTP. Setelah pengelusian, lempeng-lempeng dan


diaamati di bawah lampu UV. Kemudian pita-pita tersebut dideteksi dan
diberi bawah lampu UV. Kemudian pita-pita tersebut dideteksi dan diberi
tanda kemudian dikeruk yang selanjutnya disebut sebagai isolate.
Senyawa dideteksi adalah flavonoid yang ditandai dengan noda yang
berpendar di bawah UV 366 nm
Dari hasil yang di dapatkan bahwa bahwa fraksi 18 pada
(KKK) dan fraksi

9:1

6:4 (KCV) merupakan senyawa yang sangat efektif

sebagai antioksidan yg ditandai dengan terbentuknya pita berwarna biru


(UV 254) dan warna kuning (UV 366) pada lempeng KLTP dimana
senyawa tersebut merupakan isolat murni/tunggal yg nantinya akan
digunakan pada praktikum KLT multi eluen dan dua dimensi.
KLTP memiliki keuntungan yaitu sebagai salah satu metode
pemisahan yang memerlukan pembiayaan paling murah dan memakai
peralatan dasar. Sedangkan kerugian KLTP yaitu pengambilan senyawa
dari plat yang dilanjutkan dengan pengekstraksian penjerap memerlukan

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


waktu lama dan jika senyawa beracun harus dikeruk dari plat akan
meningmbulkan banyak masalah terus.

BAB V

PENUTUP
A Kesimpulan

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Berdasarkan data yg dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa fraksi
18 pada

9:1 (KKK) dan fraksi

6:4 (KCV) merupakan senyawa yang

sangat efektif sebagai antioksidan yg ditandai dengan terbentuknya pita


berwarna biru (UV 254) dan warna kuning (UV 366) pada lempeng KLTP
dimana senyawa tersebut merupakan isolat murni/tunggal yg nantinya
akan digunakan pada praktikum KLT multi eluen dan dua dimensi.
B Saran
Bimbingan dari asisten sangat kami harapkan dalam melakukan
suatu praktikum agar praktikan dapat mengerjakan praktikum dengan baik

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2016. Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokimia iI. UMI:
Makassar.
Aliya. 2006. Mengenal Teknik Penjernihan Air. Semarang : CV Aneka Ilmu.

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Gritter, roy. 1991. Pengantar kromatografi. ITB: Bandung.
Rusli.2005. Penuntun praktikum fitokimia I. Laboratorium fitokimia
fakultas farmasi UMI: Makassar.
Hostetmann and Manson,1986, CARA KROMATOGRAFI PREPARATIF,
ITB, Bandung
Kurniasih. 2013. Khasiat dan Manfaat Daun Kelor.Yogyakarta: Pustaka
Baru Press
Krisnadi, A. Dudi. 2013. Kelor Super Nutrisi. Lembaga Swadaya
Masyarakat Media Peduli Lingkungan (LSM-MEPELING).
Kunduran. Yogya.
Munson, James,W., 1991, ANALISIS FARMASI, Airlangga University
Press, Surabaya
Najib, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Fitokimia II. Fakultas Farmasi
Universitas Muslim Indonesia : Makassar.
Nugraha, A., 2013. BIOAKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa
oleifera) TERHADAP Eschericia coli PENYEBAB KOLIBASILOSIS
PADA BABI . Fakultas Kedokteran Hewan., Universitas Udayana :
Denpasar
Roloff, A., H. Weisgerber., U. Lang., B. Stimm. 2009. Moringa oleifera
LAM., 1785. WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim.
Roth, Herman, J., Blaschike, G., 1988, ANALISIS FARMASI, Gadjah Mada
University Press, Yogya

LAMPIRAN
Skema Kerja
Disiapkan alat dan bahan
Dipilih hasil fraksi yang terelusi baik pada KCV dan KKK

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE


Kemudian masing-masing fraksi dilarutkan dengan eluen dan totolkan
pada KLTP pada sisi yang berbeda (lempeng KLTP yang telah dibagi dua
sisi) menggunakan pipa kapiler

Dielusi dalam chamber yang berisi eluen n-heksan :etil asetat (8:2) yang
telah jenuh

Diamati penampakan pita yang terbentu pada lampu UV 254 dan UV 366
nm

Lempeng KLTP disemprot menggunakan pereksi DPPH untuk pengujian


antioksidan

Diamati lagi penampakan pita yang terbentuk pada lampu UV 254 dan UV
366 nm

Foto Pengamatan

KKK

Pita

KCVK

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIVE

UV 366
Lempeng Kaca

KKK

Pita

KCVK

UV 254