Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini
termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang no.6 tahun
1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit yang
mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan
wabah.1
Sejauh ini imunopatogenesis demam tifoid belum sepenuhnya dipahami
sehingga kadang kala penatalaksanaanya belum optimal. Hal tersebut antara lain
karena beberapa akibat antara lain kerentanan individu, luasnya manifestasi klinis,
lambatnya menegakkan diagnosis, terapi yang kurang adekuat, malnutrisi serta
akibat timbulnya multidrug resisten

(MDR) strain Salmonella typhi yang

mempengaruhi derajat beratnya penyakit, timbulnya komplikasi bahkan


mendorong kearah kematian.2
Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan
global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai
13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa
per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di berbagai benua, mulai dari
Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus
(80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal,
Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu
wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada
kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus).3

Surveilens Departemen Kesehatan RI, frekuensi kejadian demam tifoid di


Indonesia pada tahun 2010 merupakan permasalahan kesehatan penting dibanyak
negara berkembang secara global, diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit
ini tiap tahunnya. Di Indonesia diperkirakan insiden demam tifoid adalah 300810 kasus per 100.000 penduduk per tahun dengan angka kematian2%. Kemudian
Case Fatality Rate(CFR) demam tifoid pada tahun 2010 sebesar 1,02% dari
seluruh kematian di Indonesia.4
Surveilans Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2009, tahun 2007 tercatat
jumlah penderita demam tifoid sebanyak 16.552 dengan kematian sebanyak 5
orang

(CFR=0,03

%)

dengan

sebaran

kasus

tertinggi

di

Kab.Gowa,

Kab.Enrekang, dan Kota Makassar. Penyakit typhus berdasarkan Riskesdas tahun


2007 secara nasional di Sulawesi Selatan, penyakit typhus tersebar di semua umur
dan cenderung lebih tinggi pada umur dewasa. Prevalensi klinis banyak
ditemukan pada kelompok umur sekolah yaitu 1,9%, terendah pada bayi yaitu
0,8%.5
Dari data program tahun 2008 penyakit typhus tercatat jumlah penderita
sebanyak 20.088 dengan kematian sebanyak 3 orang, masing-masing Kab. Gowa
(1 orang) dan Barru (2 orang) atau CFR= 0,01 %. Insiden Rate (IR=0.28%) yaitu
tertinggi di Kab.Gowa yaitu 2.391 kasus dan terendah di Kab. Luwu yaitu 94
kasus, tertinggi pada umur 15-44 tahun sebanyak 15.212 kasus.5
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka perlu dilakukan
penelitian terhadap karakteristik penderita demam tifoid, di mana sampel
penelitiannya adalah penderita demam tifoid di instalasi rawat inap rumah sakit
Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012.
1.2.
Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah


penelitian tentang bagaimana karakteristik penderita demam tifoid di instalasi
rawat inap rumah sakit Ibnu Sina Makassar.
1.3.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik penderita demam tifoid
yang dirawat inap di rumah sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember
2012.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi penderita demam tifoid menurut usia,
b. Mengetahui distribusi penderita demam tifoid menurut jenis kelamin,
c. Mengetahui distribusi penderita demam tifoid menurut gejala subjektif,
d. Mengetahui distribusi penderita demam tifoid menurut gejala objektif,
e. Mengetahui perbedaan lama rawatan penderita demam tifoid tanpa komplikasi
dan dengan komplikasi, dan
f. Mengetahui perbedaan keadaan penderita demam tifoid sewaktu pulang.
1.4.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan masukan bagi
pemerintah kota Makassar khususnya bagian kesehatan dalam menentukan arah
kebijakan untuk mencegah dan menanggulangi masalah penularan demam tifoid
di masa mendatang.
2. Manfaat bagi Pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai
karakteristik demam tifoid dan menjadi bahan bacaan untuk para peneliti
selanjutnya.
3. Manfaat bagi Peneliti
Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka menambah wawasan
pengetahuan serta pengembangan diri, khususnya dalam bidang penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Umum tentang Demam Tifoid
1.Definisi
Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut
yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih
dari 7 hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan
kesadaran.6
2. Insidensi
Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan
global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai

13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa
per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di berbagai benua, mulai dari
Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus
(80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal,
Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Di Indonesia penderita demam
tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar
di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama pada musim
panas. Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapipaling sering pada
anak besar,umur 5- 9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan
perbandingan 2-3 : 1.6,7,8
Di Indonesia, tifoid jarang dijumpai secara epidemis tetapi bersifat endemis
dan banyak dijumpai di kota kota besar. Tidak ada perbedaan yang nyata insiden
tifoid pada pria dengan wanita. Insiden tertinggi didapatkan pada remaja dan
dewasa muda. Demikian juga dari telaah kasus demam tifoid di rumah sakit besar
Indonesia menunjukkan angka kesakitan cenderung meningkat setiap tahun
dengan rata rata 500/100.000 penduduk. Angka kematian diperkirakan sekitar
0,6-5% sebagai akibat dari keterlambatan mendapat pengobatan serta tingginya
biaya pengobatan.9
Di negara yang telah maju, tifoid masih ada terutama sehubungan dengan
kegiatan wisata ke negara negara yang sedang berkembang. Secara umum
insiden tifoid dilaporkan 75% didapatkan pada umur kurang dari 30 tahun. Pada
anak anak biasanya di atas 1 tahun dan terbanyak di atas 5 tahun dan manifestasi
klinik ringan.9

3. Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi merupakan basil gram negatif,
bersifat aerobik, bergerak dengan rambut getar dan bersifat tidak berspora. Bakteri
ini mempunyai 3 macam antigen.2
Keterangan antigen:2
a. Antigen O (somatik), terletak pada lapisan luar yang mempunyai komponen
protein, lipopolisakarida (LPS) dan lipid. Sering disebut endotoksin.
b. Antigen H (flagella), terdapat pada flagella, fimbriae dan pili dari bakteri,
berstruktur kimia protein.
c. Antigen Vi (antigen permukaan), pada selaput dinding bakteri untuk
melindungi fagositosis dan berstruktur kimia protein.

4. Gambaran Klinis
Gejala klinis yang sering terjadi merupakan dampak dari sitokin proinflomatori
serta berbagai mediator kimia, maka muncul panas yang berkepanjangan lebih
dari 1 minggu, tipe panas stepladder yang mencapai 39-40 , kemudian panasnya
berlangsung persiten, kontinu atau tipe remitten. Bersamaan dengan munculnya
gejala panas sering disertai dengan keluhan saluran cerna seperti mual muntah,
nyeri abdominal, diare, dan konstipasi. Bakteremia kedua terjadi setelah beberapa
hari timbul gejala, lalu diperburuk dengan timbulnya panas dingin atau anoreksia.
Gejala ini disebut dengan demam tifoid akut dan antibodi spesifik yang terbentuk
adalah antibodi IgM yang bertahan yang selanjutnya digantikan dengan antibody
IgG. Pada kondisi ini dapat terjadi sepsis dan syok septik yang menyebabkan

kematian jika tidak diobati (15%), kekambuhan (10%), terjadi pada penderita
yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat, menjadi karier pada 1-4%.2
Gejala yang tidak spesifik seperti malaise, menggigil, sakit kepala, mialgia,
dan batuk yang muncul pada awal perjalanan penyakit. Apatis dan delirium terjadi
pada 10-45%, bradikardia relatif, lidah kotor, bercak ros yang muncul pada awal
penyakit namun lebih sering ditemukan pada orang kulit putih . Hepatomegali
lebih sering daripada splenomegali biasanya muncul pada akhir minggu pertama
atau awal minggu kedua. Pada pemeriksaan abdomen di dapatkan rasa nyeri lokal,
maupun difus, terkadang juga disertai dengan penurunan bising usus.2
Sembuh dari demam tifoid adalah hilangnya gejala demam dan gejala-gejala
lain setelah pemberian obat, tidak ada komplikasi, dan tidak terdapat relaps pada
pemeriksaan tindak lanjut. Pernyataan sembuh ini diberikan oleh dokter kepada
pasien yang dirawat inap berdasarkan perbaikan klinis, kemudian pasien diizinkan
untuk pulang.10,11
Membaik dari demam tifoid adalah hilangnya sebagian gejala setelah
pemberian obat. Pernyataan membaik ini diberikan oleh dokter kepada pasien
yang dirawat inap berdasarkan perbaikan klinis, kemudian pasien diizinkan untuk
pulang dan berobat jalan atau permintaan pasien untuk pulang sendiri disebabkan
biaya pengobatan yang mahal.10,11
Belum sembuh dari demam tifoid adalah belum hilangnya gejala demam
dan gejala-gejala lain setelah pemberian obat, ada atau tidak ada komplikasi, dan
terdapat relaps pada pemeriksaan tindak lanjut. Pernyataan belum sembuh ini
diberikan oleh dokter kepada pasien yang dirawat inap berdasarkan belum adanya

perbaikan klinis, kemudian pasien diizinkan untuk pulang atas permintaan sendiri
disebabkan biaya pengobatan yang mahal.10,11

Tabel 2.1 keluhan dan gejala demam tifoid

Periode Penyakit
Minggu Pertama

Mingu Kedua

Minggu Ketiga

Minggu keempat
dst

Keluhan dan gejala Demam tifoid


Keluhan
Gejala
Panas berlangsung Gangguan
insidious, tipe
saluran cerna
panas stepladder,
menggigil, nyeri
kepala
Rash, nyeri
Rose spots,
abdomen, diare,
splenomegali,
konstipasi
hepatomegali

Komplikasi :
perdarahan saluran
cerna, perforasi,
syok
Keluhan menurun,
relaps, penurun

Melena, ileus

Tampak sakit
berat

Patologi
Bakteremia

Vaskulitis,
hiperplasia pada
peyer patches,
nodul tifoid pada
limpa dan hati
Ulserasi pada
peyer patches,
peritonitis
Carrier kronik

berat badan
Dikutip dari kepustakaan 2
5. Patogenesis
Demam tifoid disebabkan bakteri Salmonella typhi atau Salmonella para typhi.
Penularan ke manusia melalui makanan dan atau minuman yang tercemar dengan
feses manusia. Setelah melewati lambung bakteri mencapai usus halus dan invasi
ke jaringan limfoid (plak peyer) yang merupakan tempat predileksi untuk
berkembang biak. Melalui saluran limfe mesenteric bakteri masuk aliran darah
sistemik (bakterimia I) dan mencapai sel sel retikuloendothelial dari hati dan
limpa. Fase ini dianggap masa inkubasi (7-14 hari). Kemudian dari jaringan ini
bakteri dilepas ke sirkulasi sistemik (bakterimia II) melalui duktus torasikus dan
mencapai organ organ tubuh terutama limpa, usus halus dan kandung empedu.9
Bakteri Salmonella typhi menghasilkan endotoksin yang merupakan kompleks
lipopolisakarida dan dianggap berperan penting pada patogenesis demam tifoid.
Endotoksin bersifat pirogenik serta memperbesar reaksi peradangan di mana
bakteri Salmonella berkembang biak. Di samping itu merupakan stimulator yang
kuat untuk memproduksi sitokin oleh sel sel makrofag dan sel lekosit di jaringan
yang meradang. Sitokin ini merupakan mediator mediator untuk timbulnya
demam dan gejala toksemia (proinflamatory). Oleh karena basil Salmonella
bersifat intraseluler maka hampir semua bagian tubuh dapat terserang dan kadang
kadang pada jaringan yang terinvasi dapat timbul fokal fokal infeksi.9
Kelainan patologis yang utama terdapat di usus halus terutama di ileum bagian
distal di mana terdapat kelenjar plak peyer. Pada minggu pertama, pada plek peyer
terjadi hiperplasia berlanjut menjadi nekrosis pada minggu ke 2 dan ulserasi pada

minggu ke 3, akhirnya terbentuk ulkus. Ulkus ini mudah menimbulkan perdarahan


dan perforasi yang merupakan komplikasi yang berbahaya. Hati membesar karena
infiltrasi sel sel limfosit dan sel mononuklear lainnya serta nekrosis fokal.
Demikian juga proses ini terjadi pada jaringan retikuloendotelial lain seperti limpa
dan kelenjar mesenterika. Kelainan kelainan patologis yang sama juga dapat
ditemukan pada organ tubuh lain seperti tulang, usus, paru, ginjal, jantung, dan
selaput otak. Pada pemeriksaan klinis, sering ditemukan proses radang dan abses
abses pada banyak organ, sehingga ditemukan bronchitis, arthritis septik,
pielonefritis, meningitis, dan lain lain. Kandung empedu merupakan tempat
yang disenangi basil Salmonella. Bila penyembuhan tidak sempurna, basil tetap
tahan di kandung empedu ini, mengalir ke dalam usus, sehingga menjadi karier
intestinal.9
Demikian juga ginjal dapat mengandung basil dalam waktu lama sehingga juga
menjadi karier (urinary carier). Adapun tempat tempat yang menyimpan basil
ini memungkinkan penderita mengalami kekambuhan (relaps).9

Gambar 2.1 patofisiologi demam tifoid


dikutip dari kepustakaan 1
6. Langkah Langkah Penegakan Diagnosis

10

Diagnosis tifoid dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis


atau jasmani, pemeriksaan bakteriologi atau pemeriksaan laboratorium. Diagnosis
demam tifoid dapat dibuat dari anamnesis berupa demam, gangguan
gastrointestinal dan mungkin disertai perubahan atau gangguan kesadaran. Pada
pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya lidah kotor (tampak putih di bagian
tengah dan kemerahan di tepi dan ujung), hepatomegali, splenomegali, distensi
abdominal, tenderness, bradikardia relatif, hingga ruam makulopapular berwarna
merah muda, berdiameter 2-3 mm yang disebut dengan rose spot. Untuk
memastikan diagnosis demam tifoid maka perlu dilakukan pemeriksaan sebagai
berikut :1,6,8,12

a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan Rutin
Walaupun pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan
leukopenia, dapat pula terjadi leukosit normal atau leukositosis. Leukositosis
dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu pula dapat
ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Laju endap darah pada demam
tifoid dapat meningkat.1
2) Uji widal
Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi.
Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen bakteri Salmonella
typhidengan antibodi yang disebut agglutinin. Antigen yang digunakan pada uji
widal adalah suspense Salmonella

yang sudah dimatikan dan diolah di

laboratrium. Maksud uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam

11

serum penderita tersangka demam tifoid yaitu: Aglutinin O (dari tubuh bakteri),
Aglutinin H(flagel bakteri), Aglutinin Vi (simpai bakteri).1
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk
diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan
terinfeksi bakteri ini. Hasil dari tes widal dapat diinterpretasikan sebagai berikut:13
a) Titer O yang tinggi atau kenaikan titer (1:160 atau lebih) menunjukkan
adanya infeksi aktif,
b) Titer H yang tinggi (1:160 atau lebih ) menunjukka bahwa penderita pernah
divaksinasi atau pernah terkena infeksi, dan
c) Titer Vi yang tinggi terdapat pada carrier.
Pembentukan agglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam,
kemudian meningkat secara cepat pada minggu keempat , dan tetap tinggi selama
beberapa minggu. Pada fase akut mula-mula timbul agglutinin O, kemudian
diikuti dengan agglutinin H. Pada orang yang telah sembuh, agglutinin O masih
tetap di jumpai setelah 4 6 bulan, sedangkan agglutinin H menetap lebih lama
antara 9 12 bulan. Oleh karena itu uji widal bukan untuk menentukan
kesembuhan penyakit.13
Adanya beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal yaitu:13
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Pengobatan dini dengan antibiotik,


Gangguan pembentukan antibodi, dan pemberian kortikosteroid,
Waktu pengambilan darah,
Daerah endemik atau non endemik,
Riwayat vaksinasi,
Reaksi anamnestik,

peningkatan titer aglutinin pada infeksi bukan demam tifoid akibat infeksi demam
tifoid masa lalu atau vaksinasi, dan
g) Faktor teknik pemeriksaan antara laboratorium,

12

akibat aglutinasi silang, dan strain salmonella yang digunakan untuk suspense
antigen.
Saat ini belum ada kesamaan pendapat mengenai titer aglitinin yang bermakna
diagnostik untuk demam tifoid. Batas titer yang sering dipakai hanya kesepakatan
saja, hanya berlaku setempat dan batas ini bahkan dapat berbeda di berbagai
laboratorium setempat.14
3) Uji Typhidot
Uji tyhphidot dapat mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang terdapat pada
protein membran luar Salmonella typhi. Hasil positif pada uji typhidot didapatkan
2-3 hari setelah infeksi dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM
dan IgG terhadap antigen s.typhi seberat 50 kD, yang terdapat pada strip
nitroselulosa.1
Didapatkan sensitivitas uji ini sebesar 98%, spesifitas sebesar 76,6% dan
efisiensi uji sebesar 84% pada penelitian yang dilakukan oleh Gopalakhrisnan dkk
yang dilakukan pada 144 kasus demam tifoid. Pada penelitian lain yang dilakukan
oleh Olsen dkk, didapatkan sensitifitas dan spesifitas uji ini hampir sama dengan
uji tubex yaitu 79% dan 89% dengan 78% dan 89%.1
Pada kasus reinfeksi, respons imun sekunder (IgG) terinveksi secara berlebihan
sehingga IgM sulit terdeteksi. IgG dapat bertahan sampai 2 tahun sehingga
pendeteksian IgG saja tidak dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi
akut dengan kasus reinfeksi atau konvalesen pada kasus infeksi primer. Untuk
mengatasi masalah tersebut, uji ini kemudian dimodifikasi dengan menginaktivasi
total IgG pada sampel serum. Uji ini, yang dikenal dengan nama uji Typhidot-M,

13

memungkinkan ikatan antara antigen dengan IgM spesifik yang ada pada serum
pasien. Studi evaluasi yang dilakukan oleh Khoo KE dkk pada tahun 1997
terhadap uji Typhidot-M menunjukkan bahwa uji ini bahkan lebih sensitif
(sensitivitas mencapai 100%) dan lebih cepat (3jam) dilakukan bila dibandingkan
dengan kultur.1

4) Uji Tubex
Uji tubex merupakan uji semi-kuantitatif kolometrik yang cepat (beberapa
menit) dan mudah untuk dikerjakan. Uji ini mendeteksi antibodi anti-S.typhi O9
pada serum pasien, dengan cara menghambat ikatan antara IgM anti-O9 yang
terkonjugasi pada partikel latex yang berwarna dengan lipopolisakarida S.typhi
yang terkonjugasi pada partikel magnetiklatex. Hasil positif uji tubex ini
menunjukkan terdapat infeksi Salmonella serogroup D walau tidak secara spesifik
menunjuk pada S.typhi. Infeksi oleh S.paratyphi akan memberikan hasil negatif.1
Secara imunologi, antigen O9 bersifat imunodominan sehingga dapat
merangsang respon imun secara independen terhadap timus dan merangsang
mitosis sel B tanpa bantuan dari sel T. Karena sifat-sifat tersebut, respon terhadap
antigen O9 berlangsung cepat sehingga deteksi terhadap anti-O9 dapat dilakukan
lebih dini, yaitu pada hari ke 4 5 untuk infeksi primer dan hari 3 2 untuk
infeksi sekunder. Perlu diketahui bahwa uji tubex hanya dapat mendeteksi IgM
dan tidak dapat mendeteksi IgG sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai
modalitas untuk mendeteksi infeksi lampau.1

14

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 3 macam komponen,


meliputi: 1)Tabung berbentuk V, yang juga berfungsi untuk meningkatkan
sensitivitas, 2)Reagen A, yang mengandung partikel magnetik yang diselubungi
dengan antigen S.typhi O9, 3)Reagen B yang mengandung partikel lateks
berwarna biru yang mengandung partikel lateks berwarna biru yang diselubungi
dengan antibodi monoklonal spesifik untuk antigen O9. Untuk melakuakan
prosedur pemeriksaan ini, satu tetes serum (25 L) dicampurkan ke dalam tabung
dengan satu tetes (25 L) reagen A. setelah itu reagen B (50 L) ditambahkan
kedalam tabung. Hal tersebut dilakukan pada kelima tabung lainnya. Tabungtabung tersebut kemudian diletakkan pada rak tabung yang mengandung magnet
dan di putar selama 2 menit dengan kecepatan 250 rpm. Interpretasi hasil
dilakukan berdasarkan warna larutan campuran yang dapat bervariasi dari
kemerahan hingga kebiruan. Berdasarkan warna larutan campuran yang dapat
bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan. Berdasarkan warna inilah ditentukan
skor, yang interpretasinya dapat dilihat pada tabel berikut:1

15

Tabel 2.2Interpretasi hasil uji tubex


Skor
<2
3

Negatif

4-5
>6

Positif
Positif

Borderline

Interpretasi
Tidak menunjuk infeksi tifoid aktif
Pengukuran tidak dapat disimpulkan. Ulangi
pengujian, apabila masih meragukan lakukan
pengulangan beberapa hari kemudian.
Menunjukkan infeksi tifoid aktif
Indikasi kuat infeksi tifoid
Dikutip dari kepustakaan 1

Konsep pemeriksaan ini dapat diterangkan sebagai berikut. Jika serum tidak
mengandung antibodi terhadap O9, reagen B ini bereaksi dengan reagen A. Jika
diletakkan pada daerah mengandung medan magnet (magnet rak), komponen
magnet yang dikandung reagen A akan tertarik pada magnet rak, dengan
membawa serta pewarna yang dikandung oleh reagen B. Sebagai akibatnya
terlihat warna merah pada tabung yang sesungguhnya merupakan gambaran serum
yang lisis. Sebaliknya, bila serum mengandung antibodi terhadap O9, antibodi
pasien akan berikatan dengan reagen A menyebabkan reagen B tidak tertarik pada
megnet rak dan memberikan warna biru pada larutan.1
5) Uji IgM dipstick
Uji ini secara khusus mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap S.typhi pada
spesimen serum atau whole blood. Uji ini menggunakan strip yang mengandung
antigen lipopolisakarida (LPS) S.typhi dan anti IgM (sebagai kontrol), reagen
deteksi yang mengandung antibodi anti IgM yang dilekati dengan lateks pewarna,
cairan membasahi strip sebelum di inkubasi dengan reagen dan serum pasien,
tabung uji. Komponen perlengkapan ini stabil untuk disimpan selama 2 tahun
pada suhu 4 25 C di tempat kering tanpa paparan sinar matahari. Pemeriksaan di

16

mulai dengan inkubasi strip pada larutan campuran reagen deteksi dan serum,
selama 3 jam pada suhu kamar. Setelah inkubasi, strip dibilas dengan air mengalir
dan dikeringkan. Secara semi kuantitatif, diberikan penilaian terhadap garis uji
dengan membandingkannya dengan reference stri. Garis kontrol harus terwarna
dengan baik.1
House dkk, 2001 dan Gasem MH dkk, 2002 meneliti mengenai penggunaan uji
ini dibandingkan dengan pemeriksaan kultur darah di Indonesia dan melaporkan
sensitivitas sebesar 65-77% dan spesifisitas sebesar 95-100%. Pemeriksaan ini
mudah dan cepat (dalam 1 hari) dilakukan tanpa peralatan khusus apapun, namun
akurasi hasil didapatkan bila pemeriksaan dilakukan 1 minggu setelah timbulnya
gejala.1
6) Kultur darah
Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid, akan tetapi hasil
negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin disebabkan beberapa
hal sebagai berikut:1
a) Telah mendapat terapi antibiotik.
Bila pasien sebelum dilakukan kultur darah telah mendapat antibiotik,
pertumbuhan bakteri dalam media biakan terhambat dan hasil mungkin negatif,
b) Volume darah yang kurang (diperlukan kurang lebih 5 cc darah).
Bila darah yang dibiakkan terlalu sedikit hasil biakan bisa negatif. Darah yang
diambil sebaiknya secara bedside langsung dimasukkan kedalam media cair
empedu (oxgall) untuk pertumbuhan bakteri,
c) Riwayat vaksinisasi.

17

Vaksinisasi di masa yang lampau menimbulkan antibodi dalam darah pasien.


Antibodi (aglutinin) ini dapat menekan bakteremia hingga biakan darah dapat
negatif, dan
d) Saat pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat agglutinin semakin
meningkat.
7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada demam tifoid dapat terbagi atas dua bagian
yaitu komplikasi pada usus halus (intestinal) dan komplikasi di luar usus halus
(ekstra intesitinal).1
Komplikasi intestinal terdiri dari:`1
a. Perdarahan usus
bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin.
Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri
perut dengan tanda tanda renjatan.
b. Perforasi usus
timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian
distal ileum. Penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang
hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar ke
seluruh perut dan disertai dengan tanda tanda ileus. Tanda tanda lainnya
adalah nadi cepat, tekanan darah turun, dan bahkan dapat syok.
c. Peritonitis

18

biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus.


Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen
tegang dan nyeri pada tekanan.
Komplikasi ekstraintestinal terdiri dari:1
a. Komplikasi kardiovaskuler
Kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis, trombosis, dan tromboflebitis.
b. Komplikasi darah
Anemia hemolitik, trombositopenia, dan sindrom uremia hemolitik.
c. Komplikasi paru
Pneumonia, bronchitis empiema, dan pleuritis.
d. Komplikasi hepar dan kandung empedu
Hepatitis dan kolesistitis.
e. Komplikasi ginjal
Glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.
f. Komplikasi tulang
Osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis.
g. Komplikasi neuropsikiatrik
Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer, sindrom guillain barre,
psikosis, dan sindrom katatonia.
Terdapat perbedaan lama rawatan rata-rata penderita demam tifoid berdasarkan
komplikasi dimana penderita dengan komplikasi lebih lama dirawat dari pada
penderita tanpa komplikasi. Tidak ada perbedaan komplikasi penderita demam
tifoid berdasarkan keadaan sewaktu pulang.15,16
8. Penatalaksanaan
Sampai saat ini masih dianut trilogy penatalaksanaan demam tifoid yaitu:1
a. Istirahat dan perawatan
Dengan tujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Tirah
baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makan, minum, mandi,
BAK dan BAB akan membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dalam

19

perawatan perlu dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perlengkapan yang
dipakai. Posisi pasien perlu diawasi untuk mencegah decubitus dan pneumonia
ortostatik serta hegiene perorangan.1
Mobilisasi pada pasien tifoid adalah sebagai berikut:1
1)
2)
3)
4)

Hari 1 duduk 2 x 15 menit


Hari 2 duduk 2 x 30 menit
Hari 3 jalan
Hari 4 pulang

b. Diet dan terapi penunjang


Dengan tujuan mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan pasien secara
optimal. Diet merupakan hal yang cukup penting dalam proses penyembuhan
penyakit demam tifoid, karena makanan yang kurang akan menurunkan keadaan
umum dan gizi penderita akan semakin turun dan proses penyembuhan menjadi
lama. Di masa lampau penderita tifoid diberi diet bubur saring, kemudian
ditingkatkan menjadi bubur kasar dan akhirnya diberikan nasi, yang perubahan
diet tersebut disesuaikan dengan tingkat kesembuhan pasien. Pemberian bubur
saring tersebut ditujukan untuk menghindari perdarahan saluran cerna atau
perforasi usus.1
c. Pemberian Antibiotik
Dengan tujuan menghentikan dan mencegah penyebaran bakteri. Obat obat
anti mikroba yang sering digunakan untuk mengobati tifoid antara lain adalah
sebagai berikut:1
1) Kloramfenikol

20

Di Indonesia kloramfenikol masih merupakan obat pilihan utama untuk


memgobati demam tifoid dengan dosis yang diberikan adalah 4x500mg secara per
oral atau IV. Diberikan sampai dengan 7 hari bebas panas.
2) Tiamfenikol
Dosis dan efektivitas dari tiamfenikol pada demam tifoid hampir sama dengan
kloramfenikol akan tetapi komplikasi hematologinya lebih rendah, dosis
tiamfenikol adalah 4x500mg.

3) Kotrimoksazol
Efektivitas obat ini dilaporkan sama dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang
dewasa adalah 2 x 2 tablet ( 1 tablet mengandung sulfametoksazol 400mg dan 80
mg trimethoprim) diberikan selama 2 minggu.
4) Ampisilin dan amoksisilin
Kemampuan obat ini untuk menurunkan demam lebih rendah dibandingkan
dengan kloramfenikol dosis yang dianjurkan adalah 50-150mg/kgBB digunakan
selama 2 minggu.
5) Sefalosporin generasi ketiga
Hingga saat ini golongan sefalosporin generasi ketiga yang terbukti efektif
untuk demam tifoid adalah seftriakson, dosis yang dianjurkan adalah 3-4 gr dalam
dekstrosa 100cc diberikan selama jam perinfus sekali sehari diberikan selama 3
5 hari.

21

Selain memberikan terapi dengan antibiotik kita juga perlu memperhatikan


tuntutan tubuh lainnya yaitu:1
1) Kondisi hipermetabolik selama infeksi
Dengan pemenuhan nutrisi yang adekuat, tinggi kalori dan protein serta
memperhatikan keseimbangan elektrolit.
2) Pemberian Suplemen
Suplemen yang mengandung beta karoten, vitamin C, E serta trace elemen
(misal Zn) guna mendongkrak kinerja seperoksidase dismutase (SOD), katalase,
dan gluthatione ( GSH ) di sitosol dan meredam peran TNF sehingga dapat
menghadang laju proses kematian sel patologis dipercepat akibat dampak negatif
dari ROS. ROS dapat mencetuskan timbulnya krisis scavenger enzyme akibat
defisit berbagai komponen mikronutrien seperti Fe,Zn, selenium, vitamin C,
vitamin B6, vitamin E atau ketidakseimbangan beberapa zat makanan, seperti
asam amino esensial dapat pula menyebabkan rusaknya komponen sistem
kekebalan tubuh.
9. Pencegahan
Pencegahan demam tifoid melalui gerakan nasional sangat diperlukan karena
akan berdampak cukup besar terhadap penurunan kesakitan dan kematian akibat
demam tifoid, menurunkan anggaran pengobatan pribadi maupun negara,
mendatangkan devisa negara yang berasal dari wisatawan mancanegara karena
telah hilangnya predikat negara endemik dan hiperendemik sehingga mereka tidak
takut lagi terserang tifoid saat berada di daerah kunjungan wisata.1

22

Tindakan preventif sebagai upaya penularan dan peledakan kasus luar biasa
(KLB) demam tifoid mencakup banyak aspek, mulai dari segi bakteri Salmonella
typhi sebagai agen penyakit dan faktor penjamu (host) serta lingkungan.1
Secara garis besar ada 3 strategi pokok untuk memutuskan transmisi tifoid
yaitu:1
a. Identifikasi dan eredikasi Salmonella typhi baik pada kasus demam tifoid
maupun kasus karier tifoid,
b. pencegahan transmisi langsung dari pasien terinfeksi S.typhi akut maupun
karier, dan
c. Proteksi pada orang yang berisiko terinfeksi.
Identifikasi dan eradikasi S.typhi pada pasien tifoid asimtomatik, karier dan
akut. Tindakan identifikasi atau penyaringan pengidap bakteri S.typhi ini cukup
sulit dan memerlukan biaya yang cukup besar baik ditinjau dari pribadi maupun
skala nasional. Cara pelaksanaanya dapat secara aktif yaitu mendatangi sasaran
maupun pasif menunggu bila ada penerimaan pegawai di suatu instasi atau swasta.
Sasaran aktif lebih diutamakan pada populasi populasi tertentu seperti pengelola
sarana makanan minuman baik tingkat usaha rumah tangga, restoran, hotel
sampai pabrik serta distributornya. Sasaran lainnya adalah yang terkait dengan
pelayanan pelayanan masyarakat yaitu petugas kesehatan, guru, petugas
kebersihan, pengelola sarana umum lainnya.1
Pencegahan transmisi langsung dari penderita terinfeksi S.typhi akut maupun
karier dapat dilakukan di rumah sakit, klinik maupun di rumah dan lingkungan
sekita orang yang telah diketahui mengidap bakteri S. typhi.1

23

Proteksi pada orang yang berisiko tinggi tertular dan terinfeksi. Sarana proteksi
pada populasi ini dilakukan dengan cara vaksinasi tifoid di daerah endemik
maupun hiperendemik. Sasaran vaksinasi tergantung daerahnya endemis atau non
endemis, tingkat resiko tertularnya yaitu berdasarkan tingkat hubungan
perorangan dan jumlah frekuensinya, serta golongan individu beresiko yaitu
golongan imunokompromais maupun golongan rentan.1
Tindakan preventif berdasarkan lokasi daerah, yaitu:1
a. Daerah non endemik. Tanpa ada kejadian outbreak atau epidemik
1) Sanitasi air dan kebersihan lingkungan,
2) Penyaringan pengelola pembuatan/ distributor/ penjual makanan minuman,
3) Pencarian dan pengobatan kasus tifoid karier.
b. Bila ada kejadian epidemik tifoid
1) Pencarian dan eliminasi sumber penularan,
2) Pemeriksaan air minum dan mandi cuci kakus, dan
3) Penyuluhan higiene dan sanitasi pada populasi umum daerah tersebut.
c. Daerah endemik
1) Memasyarkatkan pengelolaan bahan makanan dan minuman yang memenuhi
standar prosedur kesehatan, dan
2) Pengunjung kedaerah ini harus minum air yang telah melalui pendidihan,
menjauhi makanan segar.

24

2.2.Kerangka Teori

25

2.3.Bagan Kerangka Konsep

26

2.4.Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

27

1. Usia
Umur penderita demam tifoid sesuai dengan yang tertulis pada kartu status.
Untuk analisis statistik, kategori umur yang digunakan adalah:
a. 5-14 tahun
b. 15-24 tahun
c. 25-44 tahun
d. 45-64 tahun
1. Jenis Kelamin
Ciri khas tertentu yang dimiliki penderita demam tifoid sesuai dengan yang
tercatat dalam kartu status, dikategorikan atas:
a. Laki laki
b. perempuan
2. Gejala Subjektif
Keadaan penderita demam tifoid saat masuk ke rumah sakit yang merupakan
manifestasi dari infeksi Salmonella typhi sesuai dengan yang tertulis di kartu
status, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Demam
Sakit kepala
Sakit perut
Anoreksia
Mual
Muntah

g.
h.
i.
j.
k.

Konstipasi
Diare
Lidah kotor
Badan lesu
Nyeri ulu hati

3. Gejala Objektif
l. Gejala yang tampak pada penderita demam tifoid berdasarkan hasil
pemeriksaan dokter dan laboratorium yang dikategorikan menjadi:
a. Hasil
pemeriksaan
hematologi:
leukopeni,
leukositosis,

anemia,

trombositopenia, LED meningkat.


b. Hasil pemeriksaan serologi: uji widal (+), uji widal (-)
m. Hasil dari tes widal dapat diinterpretasikan sebagai berikut:13
1) Titer O yang tinggi atau kenaikan titer (1:160 atau lebih) menunjukkan
adanya infeksi aktif,
2) Titer H yang tinggi (1:160 atau lebih ) menunjukka bahwa penderita pernah
divaksinasi atau pernah terkena infeksi.
4. Jenis Komplikasi

28

n.

Adanya penyakit lainnya yang bersifat memperberat penyakit demam

tifoid sesuai dengan yang tertulis di kartu status yang dikategorikan menjadi:
a. Komplikasi intestinal
b. Komplikasi ekstraintestinal
5. Lama Rawatan
o. Lamanya penderita menjalani perawatan di rumah sakit, dihitung sejak
tanggal mulai dirawat dengan tanggal keluar seperti tercatat di kartu status yang
dapat dikategorikan:
a. <7hari
b. > 7hari
p.
6. Keadaan sewaktu Pulang
q. Keadaan penderita demam tifoid sesuai dengan yang tercatat di kartu
status yang dapat dikategorikan:
a. sembuh
b. Membaik
c. Belum sembuh

d. Meninggal < 48 jam


e. Meninggal > 48 jam

29

f.

Sembuh dari demam tifoid adalah hilangnya gejala demam dan gejala-

gejala lain setelah pemberian obat, tidak ada komplikasi, dan tidak terdapat
relaps pada pemeriksaan tindak lanjut. Pernyataan sembuh ini diberikan oleh
dokter kepada pasien yang dirawat inap berdasarkan perbaikan klinis,
kemudian pasien diizinkan untuk pulang.10,11
g.

Membaik dari demam tifoid adalah hilangnya sebagian gejala

setelah pemberian obat. Pernyataan membaik ini diberikan oleh dokter


kepada pasien yang dirawat inap berdasarkan perbaikan klinis, kemudian
pasien diizinkan untuk pulang dan berobat jalan atau permintaan pasien
untuk pulang sendiri disebabkan biaya pengobatan yang mahal.10,11
h.

Belum sembuh dari demam tifoid adalah belum hilangnya gejala

demam dan gejala-gejala lain setelah pemberian obat, ada atau tidak ada
komplikasi, dan terdapat relaps pada pemeriksaan tindak lanjut.
Pernyataan belum sembuh ini diberikan oleh dokter kepada pasien yang
dirawat inap berdasarkan belum adanya perbaikan klinis, kemudian pasien
diizinkan untuk pulang atas permintaan sendiri disebabkan biaya
pengobatan yang mahal.10,11
i. BAB III
METODE PENELITIAN

j.
k. 3.1.Jenis Penelitian
l. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yang
dimaksudkan untuk menggambarkan atau memaparkan karakteristik
penderita demam tifoid berdasarkan data sekunder yang tercatat dalam
rekam medis.

m. 3.2.Lokasi Penelitian
n. Penelitian ini dilakukan di rumah sakit Ibnu Sina Makassar.
Pemilihan lokasi ini atas dasar pertimbangan bahwa di RS Ibnu Sina
Makassar tersedia data penderita demam tifoid yang dibutuhkan.
o. 3.3.Populasi dan Sampel Penelitian
p. 1. Populasi
q.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita demam tifoid di

instalasi rawat inap RS Ibnu Sina Makassar periode Januari-Desember 2012.


2. Sampel
r. Sampel dalam penelitian ini adalah bagian penderita demam tifoid di
instalasi rawat inap RS Ibnu Sina Makassar sejak tanggal 1 Januari 31
Desember 2012 yang mempunyai data lengkap.
s. Penetapan sampel pada penelitian ini menggunakan jenis metode random
simple sampling. Untuk mengetahui ukuran sampel representatif yang didapat
berdasarkan rumus sederhana sebagai berikut:
N
t.
n= N d 2 +1
u.
v.
w.
x.
y.
z.

dimana:
N : besarnya populasi
n : besarnya sampel
d : tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan 10%
dengan rumus tersebut dapat dihitung ukuran sampel dari populasi

189 dengan mengambil tingkat kepercayaan (d) = 10%, sebagai berikut:


N
aa.
n= N d 2 +1

3.4.

ab.

189
n= (189)(0.102)+1

ac.

189
n= 2.89

ad.
=65,39
ae.
=65,39 + 10% = 72 sampel
Metode Pengumpulan Data

af. Pengumpulan data dilakukan dengan memakai data sekunder yang


diperoleh dari rekam medis penderita demam tifoid di instalasi rawat inap RS
Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012 kemudian dilakukan
pencatatan sesuai dengan variabel yang diperlukan.
3.5. Kriteria Seleksi
ag.Data rekam medik pasien dengan diagnosis demam tifoid di
Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar.
1. Kriteria inklusi
ah. Karakteristik sampel yang dapat dimasukkan atau layak untuk diteliti.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu:
a. Penderita yang mengalami rawat inap
b. Data rekam medik yang memiliki data identitas diri yang lengkap
2. Kriteria eksklusi
ai. Karakteristik sampel yang tidak dapat dimasukkan atau layak untuk
diteliti. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu:
a. Penderita yang mengalami rawat jalan
b. Data rekam medik yang memiliki data identitas diri yang tidak lengkap
3.6. Pengolahan dan Teknik Analisis Data
aj. Data yang dikumpulkan dari rekam medis diolah dengan menggunakan
metode komputerisasi dan disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif dan
dikelompokkan berdasarkan tujuan penelitian.
ak.
al.
am.
an.
ao.
ap.
aq.
ar.
as.
at.
au.
av.
aw.
ax. BAB IV

ay. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

az.

bc.

ba. Gambar 4.1. Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar


bb. Dikutip dari kepustakaan 17
4.1. Profil Rumah Sakit Ibnu Sina
bd.
Rumah Sakit Ibnu Sina adalah Rumah Sakit Swasta milik Yayasan
Badan Wakaf UMI. Sebelumnya bernama Rumah Sakit 45 milik
Yayasan Andi Sose yang didirikan berdasarkan keputusan Gubernur
Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan No. 6783/DK-IJSK/TV.1/X188,
tanggal 5 oktober 1988 dan pada hari Senin tanggal 16 Juni 2003 telah
dilakukan penyerahan kepemilikan dari Yayasan Andi Sose kepada
Yayasan Badan Wakaf UMI, yang ditandatangan oleh ketua Yayasan Andi
Sose yaitu Dr. H. Andi Sose dan ketua Yayasan badan Wakaf UMI bapak
Prof. Dr. Abdurrahman A. Basalamah SE., M.Si. Berdasarkan atas hak
kepemilikan tersebut, maka Rumah Sakit Ibnu Sina kemudian
direnovasi dan dioperasionalkan.17
be.
Berdasarkan surat permohonan dan Ketua Yayasan badan Wakaf
UMI, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan menerbitkan
surat Izin penyelenggaraan Rumah Sakit No. 6703A/DK-IV/PTSTKJ2/IX/2003, tanggal 23 September 2003, tentang pemberian Izin Uji
Coba penyelenggaraan Rumah Sakit Ibnu Sina yang terletak dijalan
Letnan Jendral Urip Sumoharjo Km.5 No.264 Makassar.17

bf.

Berhubung karena Surat Izin Uji Coba penyelenggaraan Rumah

sakit dan dinas Kesehatan propinsi Sulawesi Selatan hanya berlaku 1


tahun, maka berdasarkan surat pemohonan YBW UMI, menteri kesehatan
RI menerbitkan Surat Izin penyelenggaraan Rumah Sakit, tanggal 26
September 2006.17
bg.
Nomor

YM.02.04.3.5.4187

tentang

pemberian

izin

penyelenggaraan kepada YBW UMI No.43 tanggal akte notaris 7


november 1994 dengan alamat jalan Kakatua no. 27 Makassar untuk
menyelenggarakan Rumah sakit Ibnu Sina dengan alamat jalan Urip
Sumoharjo Km.5 Makassar, berlaku selama 5 tahun, terhitung tanggal 26
september 2005 s/d 26 September 2010.17
bh. 4.2. Visi dan misi Rumah sakit
bi. 1. Visi
bj.
Menjadi Rumah Sakit Pendidikan dengan pelayanan
Kesehatan yang Islami ekselen dan terkemuka di Indonesia.17
bk. 2. Misi17
1. Melaksanakan dan mengembangkan pelayanan kesehatan unggul yang
menjunjung tinggi moral dan etika ( Misi Pelayanan Kesehatan ),
2. Melaksanakan dan mengembangkan pendidikan kedokteran dan professional
kesehatan lainnya (Misi pendidikan),
3. Melangsungkan pelayanan dakwah dan bimbingan spiritual kepada penderita
dan pengelolaan Rumah Sakit ( Misi dakawah ),
4. Mengupayakan perolehan finansial dari berbagai kegiatan Rumah Sakit ( Misi
Finansial ), dan
5. Meningkatkan kesejahteraan pegawai ( Misi kesejahteraan ).
bl. 3. Nilai17
1. Amanah ( jujur, berdedikasi dan bertanggung jawab ),
2. Professional ( kompetensi dab etika ), dan

3. Akhlaqul qarimah ( menjaga silaturrahmi, saling menghargai dan kepedulian


yang tinggi )
bm. 4.3 Sarana dan Prasarana Rumah Sakit
bn. 1. Gedung
bo. RS. Ibnu Sina mempunyai luas tanah 18.008 m dengan luas gedung
12.025m yang terdiri atas :17
a. Gedung UGD, ICU, ICCU, kamar operasi ( 2 lantai )
b. Gedung perawatan dan administrasi ( 5 lantai )
c. Gedung poliklinik Umum, Poliklinik Spesialis dan Klinik Spesialis Konsultan
( 2 lantai)
bp. 2. Ketenagaan17
a.
b.
c.
3.

Tenaga Tetap : 263 orang


Tenaga Magang : 8 orang
Harian lepas 68 orang
Sarana Kesehatan17
bq. a. Fasilitas

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
b.

Instalasi Rawat darurat


Instalasi rawat Intensif
Instalasi radiologi
Instalasi Laboratorium
Instalasi Farmasi
Instalasi gizi
Instalasi rehabilitasi Medik
Instalasi pemulasaran jenazah
Instalasi pemelthraraan sarana Rumah Sakit
Rawat jalan
br. Instalasi rawat jalan adalah unit pelayanan yang menyediakan
fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan rawat jalan dan terdiri
dari poliklinik umum, dan beberapa poliklinik spesialis dalam berbagai
bidang disiplin ilmu kedokteran klinis.

1) Poliklinik Penyakit Dalam

bs.Pelayanan pada polilinik penyakit dalam meliputi pelayanan


rujukan penyakit dalam dan poliklinik umum, gawat darurat maupun
rujukan dan Luar rumah Sakit Ibnu Sina. Termasuk penyakit Kardiologi,
penyakit paru paru dan lain lain.
2) Poliklinik Bedah
bt. Poliklinik bedah memberikan pelayanan berbagai bedah meliputi
bedah umum, bedah digestif, bedah tumor, bedah saraf, bedah orthopedi,
bedah urologi, dan bedah plastik.
3) Poliklinik Penyakit Anak
bu.
4) Poliklinik kebidanan dan penyakit kandungan
5) Poliklinik kebidanan dan penyakit kandungan memberikan pelayanan pada
ibu hamil, keluarga berencana dan penyakit kandungan lainnya.
6) Poliklinik Penyakit saraf
7) Poliklinik Penyakit THT
8) Poliklinik Penyakit mata
9) Poliklinik Penyakit kulit dan Kelamin serta Pelayanan kosmetik
10) Poliklinik Penyakit Gigi dan Mulut
11) Poliklinik Konsultasi gizi
12) Poliklinik umum
c. Rawat Inap
1) Ruang Perawatan Nifas
2) Ruang perawatan bayi
3) Ruang Perawatan Umum
bv.
bw.
bx.
by.
bz.
ca.
cb.
cc.
cd.
ce. BAB V
cf. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
cg. 5.1. Hasil Penelitian

ch.Penelitian dilakukan pada tanggal 3-9 Februari 2013 di Rumah


Sakit Ibnu Sina Makassar. Data yang diambil merupakan pasien demam
tifoid yang dirawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode
Januari Desember 2012.
ci.

Karakteristik yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, gejala

subjektif, gejala objektif, lama rawatan tanpa komplikasi dan dengan komplikasi,
dan keadaan pasien sewaktu pulang.
cj.
Penetapan sampel pada penelitian ini menggunakan jenis metode

N
random simple sampling. Dengan rumus n= N d 2 +1

dapat dihitung ukuran

sampel dari populasi 189 dengan mengambil tingkat kepercayaan (d) = 10% yaitu
72 sampel.
ck.

Data tersebut penulis olah dengan menggunakan Microsoft Excel

dan SPSS, dan hasilnya penulis sajikan dalam bentuk tabel dengan menyertakan
pembahasan dari masing masing tabel.
cl.

Tabel 5.1. Karakteristik penderita demam tifoid di instalasi


rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 menurut usia

cm.
cn. Kategori usia
co. (tahun)
cr. 5 14
cs. 15 24
ct. 25 44
cu. 45 54
dd. Total

dg.

cp. Frekuensi
cv. 12
cw. 31
cx. 19
cy. 10
de. 72

cq. Persentase (%)


cz.
da.
db.
dc.
df.

16,7
43,1
26,4
13 9
100

Sumber: Rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar


dh.
Dari tabel di atas, memperlihatkan bahwa terdapat
penderita demam tifoid tertinggi pada kategori usia 15 24 tahun

sebanyak 31 orang (43,1%) dan terendah pada kategori usia 45 54 tahun


sebanyak 10 orang (13,9%). Sedangkan pada umur 25 44 tahun terdapat
19 orang (26,4%) dan pada kategori umur 5 14 tahun terdapat 12 orang
(16,7%).
Tabel 5.2. Karakteristik penderita demam tifoid di instalasi
rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 menurut jenis kelamin

di.
dj.

dk. Jenis kelamin


dl. Frekuensi
dm. Persentase (%)
dn. Laki laki
dp. 42
dr. 58,3
do. Perempuan
dq. 30
ds. 41,7
dt. Total
du. 72
dv. 100
dw.
Sumber: Rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar
dx.
Dari tabel di atas, memperlihatkan bahwa penderita demam
tifoid tertinggi pada jenis kelamin laki laki yaitu sebanyak 42 kasus
(58,3%) dibandingkan dengan perempuan yang jumlahnya 30 kasus
(41,7%).
dy.
dz.
ea.
eb.
ec.
ed.
ee.
ef.
eg.
eh.

Tabel 5.3. Karakteristik penderita demam tifoid di instalasi


rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 menurut gejala subjektif

ei. Gejala subjektif


el. Demam
eo. Sakit kepala
ep. Sakit
kepala
eq. Tidak sakit
kepala
ex. Sakit perut
ey. Sakit perut
ez. Tidak sakit

ej. Frekuensi
em. 72
er.
es. 22
et. 50

ek. Persentase (%)


en. 100
eu.
ev. 30,6
ew. 69,4

fa.
fb. 9
fc. 63

fd.
fe. 12,5
ff. 87,5

perut
fg. Anoreksia
fh. Anoreksia
fi. Tidak
anoreksia
fp. Mual
fq. Mual
fr. Tidak mual
fy. Muntah
fz. Muntah
ga. Tidak
muntah
gh. Konstipasi
gi. Konstipasi
gj. Tidak
konstipasi
gq. Diare
gr. Diare
gs. Tidak diare
gz. Lidah kotor
ha. Lidah kotor
hb. Tidak lidah
kotor
hi. Nyeri ulu hati
hj. Nyeri ulu
hati
hk. Tidak nyeri
ulu hati
hr. Total

hu.

fj.
fk. 3
fl. 69

fm.
fn. 4,2
fo. 95,8

fs.
ft. 40
fu. 32
gb.
gc. 21
gd. 51

fv.
fw. 55,6
fx. 44,4
ge.
gf. 29,2
gg. 70,8

gk.
gl. 4
gm. 68

gn.
go. 5,6
gp. 94,4

gt.
gu. 11
gv. 61
hc.
hd. 2
he. 70

gw.
gx. 15,3
gy. 84,7
hf.
hg. 2,8
hh. 97,2

hl.
hm. 15
hn. 57

ho.
hp. 20,8
hq. 79,2

hs. 72

ht. 100

Sumber: Rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar


hv.
Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa semua penderita
demam tifoid di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2013 yang mengalami gejala subjektif berupa demam (100%).
Gejala subjektif terendah yaitu lidah kotor sebanyak 2 orang (2,8%) dan
anoreksia sebanyak 3 orang (4,2%). Selebihnya masuk rumah sakit dengan
gejala objektif mual sebanyak 40 orang (55,6%), sakit kepala sebanyak 22
orang (30,6%), muntah sebanyak 21 orang (29,2%), nyeri ulu hati

sebanyak 15 orang (20,8%), diare sebanyak 11 orang (15,3%), sakit perut


hw.

sebanyak 9 orang (12,5%), dan konstipasi sebanyak 4 orang (5,6%).


Tabel 5.4. Karakteristik penderita demam tifoid di instalasi
rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 menurut gejala objektif

hx.
hy. Gejala objektif
hz. Frekuensi
ia. Persentase (%)
ib. Widal
ie.
ih.
ic. Widal (+)
if. 67
ii. 93,1
id. Widal (-)
ig. 5
ij. 6,9
ik. Anemia
in.
iq.
il. Anemia
io. 1
ir. 1,4
im. Tidak
ip. 71
is. 98,6
anemia
it. Kadar leukosit
ix.
jb.
iu. Leukosit
iy. 58
jc. 80,6
normal
iz. 5
jd. 6,9
iv. Leukopenia
ja. 9
je. 12,5
iw. Leukositosi
s
jf. Trombositopenia
ji.
jl.
jg. Trombosito
jj. 9
jm. 12,5
penia
jk. 63
jn. 87,5
jh. Tidak
trombositopenia
jo. Laju Endap darah
jr.
ju.
(LED)
js. 15
jv. 20,8
jp. Meningkat
jt. 57
jw. 79,2
jq. Tidak
meningkat
jx. Total
jy. 72
jz. 100
ka.
Sumber: Rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar
kb.
Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa penderita demam
tifoid yang dirawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar yang
memiliki gejala obektif terbanyak yaitu uji widal sebanyak 67 kasus
(93,1%), LED meningkat sebanyak 15 orang (20,8%), trombositopenia

dan leukositosis 9 kasus (12,5%), leukopenia 5 kasus (6,9%), dan anemia


1 kasus (1,4%).
kc.
kd.
ke.
kf.
kg.
kh.
ki.

lm.

Tabel 5.5. Karakteristik penderita demam tifoid di instalasi


rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 menurut lama rawatan penderita tanpa
komplikasi dan dengan komplikasi
kj. Komplikasi
kk. < 7 hari
kl. > 7 hari
km.
kn. total
kp. n
kq. %
kr. n
ks.
%
ku. Dengan
kv.
5
kw.7
kx. 2
ky.
kz. 7
komplikasi
1
28,
,
4
la. Tanpa
lb.
5
lc. 9
ld. 6
le.
lf. 65
komplikasi
9
0
9,2
,
8
lg. Total
lh. 6
li.
lj. 8
lk.
ll. 72
4
Sumber: Rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar
ln.
Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa penderita demam
tifoid yang dirawat inap < 7hari di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tanpa
komplikasi sebanyak 59 orang (90,8%) lebih banyak daripada dengan
komplikasi sebanyak 5 orang (71,4%). Sedangkan penderita demam tifoid
yang dirawat inap > 7hari di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tanpa
komplikasi sebanyak 6 orang (9,2%) lebih banyak dirawat dibandingkan

lo.
lp.

penderita dengan komplikasi sebanyak 2 orang (28,6%).


Tabel 5.6. Karakteristik penderita demam tifoid di instalasi
rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 menurut keadaan penderita sewaktu pulang

lq. Keadaan pulang

lr. Frekuensi

ls. Persentase (%)

lt. Sembuh
lw. 1
lz. 1,4
lu. membaik
lx. 56
ma.77,8
lv. Belum sembuh
ly. 15
mb. 20,8
mc.Total
md. 72
me.100
mf.
Sumber: Rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar
mg. Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa penderita demam
tifoid yang dirawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode
Januari Desember 2012 dengan keadaan pulang terbanyak yaitu
membaik sebanyak 56 orang (77,8%), belum sembuh sebanyak 15 orang
(20,8%), dan sembuh hanya 1 orang (1,4%).
mh.
mi. 5.2. Pembahasan
mj.
Variabel yang diteliti dari penelitian yang dilaksanakan di
Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar ini berdasarkan
usia, jenis kelamin, gejala subjektif, gejala objektif, perbedaan lama
rawatan dengan komplikasi dan tanpa komplikasi, serta keadaan penderita
sewaktu pulang.
mk. 5.2.1. Karakteristik penderita demam tifoid di Instalasi rawat inap
Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012
menurut usia
ml.

Pada tabel 5.1. memperlihatkan bahwa penderita demam

tifoid tertinggi pada kategori usia 15 24 tahun sebanyak 43,1% dan


terendah pada kategori usia 45 54 tahun sebanyak 13,9%. Sedangkan
pada umur 25 44 tahun terdapat 26,4% dan pada kategori umur 5 14
tahun terdapat 16,7% .Kategori usia 15 24 tahun dan 25 44 tahun
merupakan usia sekolah dan bekerja, di mana pada kelompok usia tersebut

sering melakukan aktivitas di luar rumah, seperti mengkonsumsi makanan


atau minuman yang terkontaminasi oleh Salmonella typhi.15
mm. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Siska Ishaliani di Rumah Sakit Sri Pamela PTPN 3 Tebing
Tinggi Sumatera Utara (2010) dari 231 penderita demam tifoid 47,2%
adalah kelompok umur 12 30 tahun.15
mn. 5.2.2. Karakteristik penderita demam tifoid di Instalasi rawat inap
Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012
menurut jenis kelamin
mo.
Pada tabel 5.2. memperlihatkan bahwa penderita demam
tifoid tertinggi pada jenis kelamin laki laki yaitu sebanyak 58,3%
dibandingkan dengan perempuan yang jumlahnya 41,7%. Hal ini dapat
dikaitkan bahwa laki laki lebih sering melakukan aktivitas di luar rumah
yang memungkinkan laki laki berisiko lebih besar terinfeksi Salmonella
typhi dibandingkan dengan perempuan, misalnya mengkonsumsi makanan
atau minuman yang terkontaminasi Salmonella typhi. Selain itu,
perempuan lebih memperhatikan higiene daripada laki laki.15
mp.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Siska Ishaliani di Rumah Sakit Sri Pamela PTPN 3 Tebing
Tinggi Sumatera Utara (2010) dari 231 penderita demam tifoid 61% laki
laki.15
mq. 5.2.3. Karakteristik penderita demam tifoid di Instalasi rawat inap
Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012
menurut gejala subjektif
mr.
Pada tabel 5.3. menunjukkan bahwa semua penderita
demam tifoid di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari

Desember 2013 yang mengalami gejala subjektif berupa demam (100%).


Gejala subjektif terendah yaitu lidah kotor sebanyak 2,8% dan anoreksia
sebanyak 4,2%. Selebihnya masuk rumah sakit dengan gejala objektif
mual sebanyak 55,6%, sakit kepala sebanyak 30,6%, muntah sebanyak 21
orang 29,2%, nyeri ulu hati sebanyak 20,8%, diare sebanyak 15,3%, sakit
perut sebanyak 12,5%, dan konstipasi sebanyak 5,6%.
ms.
Gejala demam merupakan gejala utama demam tifoid yang
terjadi karena Salmonella typhi dan endotoksinnya merangsang sintesis
dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. Hal
ini menunjukkan bahwa sensitivitas gejala klinik penderita demam tifoid
adalah demam, sedangkan spesifisitas gejala klinis penderita demam tifoid
adalah lidah kotor. Akan tetapi gejala demam juga bisa ditemukan pada
penyakit infeksi lain.15
mt.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Siska Ishaliani di Rumah Sakit Sri Pamela PTPN 3 Tebing
Tinggi Sumatera Utara (2010)) dari 231 penderita demam tifoid semua
mengalami gejala demam 100% dan gejala paling sedikit yaitu lidah kotor
sebanyak 2,2%.15
mu. 5.2.4. Karakteristik penderita demam tifoid di Instalasi rawat inap
Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012
menurut gejala objektif
mv.
Pada tabel 5.4. menunjukkan bahwa penderita demam tifoid
yang dirawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar yang memiliki
gejala objektif terbanyak yaitu uji widal sebanyak 93,1%, LED meningkat

sebanyak 20,8%, trombositopenia dan leukositosis 12,5%, leukopenia


6,9%, dan anemia 1,4%.
mw. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Rani N. F. Nainggolan di Rumah Sakit Tentara TK-IV 01.07.01
Pematang Siantar Sumatera Utara(2010) bahwa gejala objektif terbanyak
yaitu uji widal (+) sebanyak 53,7%.16
mx.
Sampai saat ini uji widal merupakan reaksi serologi yang
digunakan untuk membantu diagnosis demam tifoid. Uji widal mempunyai
kelemahan baik sensitivitas dan spesifitasnya yang rendah maupun
interpretasinya yang sulit dilakukan. Namun, uji widal (+) akan
memperkuat dugaan pada penderita demam tifoid. Sedangkan uji widal (-)
pada penderita tifoid dapat terjadi karena faktor faktor yang
berhubungan dengan penderita seperti pengambilan serum terlalu dini,
pengobatan antibiotik sebelumnya, adanya gangguan imunologi, serta
antigen yang bervariasi.16
my.
Pemeriksaan darah tepi pada penderita demam tifoid dapat
ditemukan leukopenia, trombositopenia, anemia, LED meningkat. Pada
hasil pemeriksaan darah tepi adanya leukopenia menjadi dugaan kuat
diagnosis demam tifoid.1,16
mz. 5.2.5. Karakteristik penderita demam tifoid di Instalasi rawat inap
Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012
menurutlama rawatan penderita tanpa komplikasi dan dengan
komplikasi
na.

Pada tabel 5.5. menunjukkan bahwa penderita demam tifoid

yang dirawat inap < 7hari di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tanpa
komplikasi sebanyak 90,8% lebih banyak daripada dengan komplikasi

sebanyak 71,4%. Sedangkan penderita demam tifoid yang dirawat inap >
7hari di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tanpa komplikasi sebanyak
9,2% lebih banyak dirawat dibandingkan penderita dengan komplikasi
sebanyak 28,6%. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang bermakna antara
lama rawatan penderita demam tifoid berdasarkan status komplikasi.
nb.
Sebagai informasi tambahan, selain komplikasi juga
terdapat diagnosis sekunder pada penderita demam tifoid yang di instalasi
rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar yaitu epigastric pain
syndrome,

bronchitis,

pneumonia,

bronchopneumonia,

TB

paru

antreatment, dan Hepatitis B.


nc.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Rani N. F. Nainggolan di Rumah Sakit Tentara TK-IV 01.07.01
Pematang Siantar (2010) bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna
antara lama rawatan penderita demam tifoid berdasarkan status
komplikasi.15
nd.

ne. 5.2.6. Karakteristik penderita demam tifoid di Instalasi rawat inap


Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari Desember 2012
menurut keadaan penderita sewaktu pulang
nf.
Pada tabel 5.6. menunjukkan bahwa penderita demam tifoid
yang dirawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode Januari
Desember 2012 dengan keadaan pulang terbanyak yaitu membaik
sebanyak 77,8%, belum sembuh sebanyak 20,8%, dan sembuh 1,4%.
ng.
Penderita demam tifoid yang dinyatakan baru sembuh
masih mengekspresikan Salmonella typhi dalam waktu 3 bulan ataupun
lebih dari 1 tahun, karena itu penderita demam tifoid yang dinyatakan

sembuh harus tetap melakukan pemeriksaan bakteriologis sebulan sekali


untuk mengetahui keberadaan Salmonella typhi dalam tubuh.16
nh.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Rani N. F. Nainggolan di Rumah Sakit Tentara TK-IV 01.07.01
Pematang Siantar (2010) bahwa keadaan penderita sewaktu pulang
terbanyak yaitu dalam keadaan membaik dan memilih berobat jalan
sebanyak 48,3%.16
ni.
nj.
nk.
nl.
nm.
nn.
no.
np. BAB VI
nq. PENUTUP
nr. 6.1. Kesimpulan
ns.Setelah melakukan penelitian mengenai karakteristik penderita
demam tifoid di instalasi rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar
periode Januari Desember 2012, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
2.
3.
4.
5.

Distribusi penderita demam tifoid menurut usia yaitu usia 15 24 tahun.


Distribusi penderita demam tifoid menurut jenis kelamin yaitu laki laki.
Distribusi penderita demam tifoid menurut gejala subjektif yaitu gejala demam.
Distribusi penderita demam tifoid menurut gejala objektif yaitu uji widal.
Tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan penderita demam

tifoid berdasarkan status komplikasi.


6. Keadaan penderita demam tifoid sewaktu pulang yaitu dalam keadaan
membaik.
nt. 6.2. Saran
1. Kepada bagian rekam medik Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar untuk lebih
melengkapi pencatatan rekam medik terkhusus yang berkaitan dengan

penderita demam tifoid yaitu hasil pemeriksaan hematologi, hasil pemeriksaan


serologi, gejala subjektif, dan status komplikasi.
2. Kepada pemerintah dan petugas medis diharapkan memberikan pendidikan
kesehatan khususnya tentang higiene perorangan dan sanitasi lingkungan pada
masyarakat
3. Untuk peneliti selanjutnya, kiranya mencari variabel variabel lain sehingga
hal hal yang berhubungan dengan demam tifoid dapat terbuka secara
keseluruhan.
nu. DAFTAR PUSTAKA
1. Aru W. Sudoyo. et. al. , editor. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
III, Jakarta: Internal Publishing. Hal. 2797-2805.
2. Nasronudin, editor.2011. Penyakit Infeksi di Indonesia Solusi Kini &
Mendatang. Surabaya: Airlangga University Press. Hal 187-198.
3. Dimas Satya Hendarta. 2009. Demam Tifoid. (online), (http://medicine.
uii.ac.id/index.php/Artikel/Demam-Tifoid.html, diakses 2013 Mei 21).
4. Soepardi Jane. 2011. Demam tifoid. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun
2011.(online),
(http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL_DATA_KESEHATAN
_INDONESIA_TAHUN_2011.pdf, diakses 2013 Mei 21).
5. Sudarianto. et. al. 2011. Morbiditas Penyakit Menular Typhus. Profil
Kesehatan Sulawesi Selatan 2009. (online), (http://www.depkes.go.id/
downloads/profil_kesehatanprov_kab/profil_kesehatan_sulawesi_selatan_200
9.pdf, diakses 2013 Mei 21).
6. Brusch JL. 2012. Typhoid Fever.(online), (http://emedicine.medscape.com/
article/231135-overview, diakses 2013 Mei 21).

7. Cammie F. Lesser, Samuel I. Miller, editor. 2005. Salmonellosis. Herrisons


Principles of Internal Medicine (16 th ed), Hal. 897-900.
8. Ikatan Dokter Anak Indonesia, editor. 2008. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri
tropis (2nd ed). Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
9. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

364/Menkes/SK/V/2006 tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid.


2006. Jakarta: Menteri Kesehatan Indonesia.
10. Widodo Darmowandowo. 2006. Demam Tifoid.

Bagian Ilmu Kesehatan

Anak, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya. (online). (http://old.pediatrik.


com/isi03.php?
page=html&hkategori=ePDT&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110fkxu277.htm, diakses 2014 Februari 13)
11. Lili Musnelina. 2005. Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Demam Tifoid
Anak Menggunakan Kloramfenikol dan Seftriakson Di Rumah Sakit
Fatmawati Jakarta Tahun 2001 2002 . (online) (http://journal.ui.ac.id/health/
article/viewFile/319/315, diakses 2014 Februari 13)
12. Chambers H.F. 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial. Current
Medical Diagnosis and Treatment (45th ed), 1425-1426.
13. E.jawetz, Jl.meknick, editor. 2005. Mikrobiologi Kedokteran Buku 1. Jakarta:
EGC.
14. Sloane ethel, editor.2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta:
EGC. Hal. 283-289.
15. Siska Ishaliani Hasibuan. 2010. Karakteristik Penderita Demam Tifoid Rawat
Inap Di Rumah Sakit Sri Pamela PTPN 3 Tebing Tinggi Tahun 2004-2008.

(online), (http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/14687?mode=

full,

diakses 2013 Mei 22).


16. Rani N. F. Nainggolan. 2010. Karakteristik Penderita Demam Tifoid Rawat
Inap Di Rumah Sakit Tentara TK-IV 01.07.01 Pematang Siantar Tahun 2008.
(online),(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14663/1/10E00215
pdf, diakses 2014 Februari 9)
17. Universitas Muslim Indonesia. 2013. Rumah Sakit Ibnu Sina. (online),
(http://www.umi.ac.id/sarana-kampus-universitas-muslim-indonesia/rumahsakit-ibnu-sina/, diakses 2014 Februari 11)
nv.
nw.
nx.
ny.
nz.
oa.
ob.
oc.
od.
oe.
of.
og.
oh.
oi.
oj.
ok.
ol.
om.
on.
oo.

Anda mungkin juga menyukai