Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL KLIEN DENGAN

MASALAH KEPERAWATAN KURANGNYA PENGETAHUAN


KLIEN TERHADAP CARA PENGOBATAN YANG
DIPILIH PADA SUKU MADURA
MAKALAH

oleh
Kelompok 5

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016

ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL KLIEN DENGAN


MASALAH KEPERAWATAN KURANGNYA PENGETAHUAN
KLIEN TERHADAP CARA PENGOBATAN YANG
DIPILIH PADA SUKU MADURA
MAKALAH
diajukan guna untuk memenuhi tugas mata kuliah transkultural
dengan dosen pengampu : Ns.Kushariyadi, S.Kep. M.Kep.

oleh
Lisnawati

NIM 142310101033

Mahda F.E.P.P

NIM 142310101069

Nishrina dini

NIM 142310101072

Ryan DL

NIM 142310101111

Nanda Ema A

NIM 142310101120

Rommiyatun Z

NIM 142310101126

Delia Nur F

NIM 142310101139

Sheila Paramitha R

NIM 152310101251

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016
KATA PENGANTAR
ii

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang melimpahkan karunia-Nya sehingga


penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan
Transkultural Klien Dengan Masalah Keperawatan Pendidikan Kesehatan Pada
Budaya Suku Madura . Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dalam
Mata Kuliah Keperawatan Transkultural yang diampu oleh Ns.Kushariyadi, S.Kep.
M.Kep.di Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Jember.
Penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari kontribusi berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1.

Ns.Kushariyadi, S.Kep. M.Kep., selaku Dosen Penanggung Jawab Mata Ajar


Keperawatan Transkultural yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat

2.

menjadi pembelajaran bagi penulis;


Keluarga di rumah yang senantiasa memberikan dorongan dan doanya demi

3.

terselesaikannya makalah ini;


Rekan-rekan satu kelompok yang sudah bekerjasama dan berusaha semaksimal

4.

mungkin sehingga makalah ini dapat terealisasi dengan baik;


Semua pihak yang secara tidak langsung membantu terciptanya makalah ini
yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi

kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Jember, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

iii

Halaman Judul....................................................................................................... ii
Kata Pengantar ..................................................................................................... iii
Daftar Isi................................................................................................................. iv
BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................................
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................
1.3 Tujuan ...............................................................................................................
1.4 Manfaat ............................................................................................................
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................
2.1 Konsep Dasar I...................................................................................................
2.2 Konsep Dasar II.................................................................................................
BAB 3. APLIKASI TEORI ..................................................................................
3.1 Gambaran Kasus ...............................................................................................
3.2 Pengkajian..........................................................................................................
3.2.1 Faktor Teknologi .....................................................................................
3.2.2 Faktor Agama dan Filosofi .....................................................................
3.2.3 Faktor Kekeluargaan dan Sosial .............................................................
3.2.4 Nilai-Nilai Budaya, Kepercayaan, dan Gaya Hidup ...............................
3.2.5 Faktor Kebijakan dan Peraturan .............................................................
3.2.6 Faktor Ekonomi ......................................................................................
3.2.7 Faktor Pendidikan ...................................................................................
3.3 Diagnosa Keperawatan .....................................................................................
3.4 Rencana Keperawatan .......................................................................................
3.5 Implementasi Keperawatan ...............................................................................
3.6 Evaluasi ............................................................................................................
BAB 4. PEMBAHASAN........................................................................................
BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN......................................................................
5.1 Simpulan............................................................................................................
5.2 Saran..................................................................................................................
Daftar Pustaka ......................................................................................................
iv

Lampiran ...............................................................................................................

BAB1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbicara mengenai masyarakat madura, fenomena yang saat ini berkembang
adalah masyarakat madura sebagai masyarakat marginal, terbelakang dalam hampir
berbagai aspek kehidupan. Masyarakat madura diidentikkan dengan orang yang
kurang berpendidikan kasar, keras, kurang tahu tata pergaulan sosial, bahkan disebut
tukang carok yang selalu menyebarkan kekerasan. Masyarakat Madura dikenal
memiliki budaya yang khas, unik dan identitas budayanya itu dianggap jati diri setiap
individual etnik madura dalam berperilaku dan bermasyarakat. Salah satu persoalan
krusial yang mendera masyarakat Madura umumnya adalah masalah kesehatan. Salah
satu contohnya terletak pada cara pengobatan yang digunakan dan dipilih oleh
masyarakat. Dibandingkan daerah-daerah lainnya di Jawa Timur, kita

harus

mengakui dengan jujur bahwa pembangunan maupun penerapan kesehatan di Madura


masih ketinggalan dalam banyak hal. Selain itu, persepsi dari masyarakat Madura
yang masih mempercayai pengobatan alternatif dibandingkan dengan pengobatan
secara medis oleh ahli kesehatan. Rendahnya kesadaran masyarakat akan pola hidup
sehat, ketersediaan fasilitas kesehatan termasuk obat-obatan yang terbatas dan
langkanya tenaga kesehatan memperburuk situasi tersebut.
Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bidang kesehatan Kabupaten
Sumenep berdasarkan data yang menunjukkan angka harapan hidup, yakni pada tahun
2009 sebesar 65,86 dan tahun 2010 sebesar 66,26. Di beberapa kecamatan, hak rakyat

untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sekalipun tidak terpenuhi. Ini yang
menyebabkan masalah penyakit menular dan gizi buruk bermunculan. Angka
kematian ibu dan bayi baru lahir juga masih tinggi. Hal tersebut membuktikan bahwa
semakin bertambahnya tahun maka semakin meningkat prevalensi harapan hidupnya.
Madura dikenal sebagai masyarakat patriarkal, dimana perempuan tidak
memiliki posisi yang signifikan, hal ini dapat dilihat dengan lemahnya posisi tawar
perempuan Madura terhadap laki-laki. Lemahnya posisi tawar perempuan rupanya
membawa konsekuensi yang jauh lebih besar, yaitu perempuan tidak memiliki akses
1

besar terhadap pendidikan kesehatan maupun pelayanan kesehatan,bahkan ketika ibu


sedang hamil. Tentu saja tidak adanya akses terhadap kesehatan membawa dampak
yang lebih besar, yaitu bahaya yang dapat menimpa ibu hamil, mulai dari kekurangan
asupan gizi, bahaya pada waktu hamil, ketika melahirkan maupun pasca melahirkan.
Disebabkan masyarakat tidak mau meninggalkan kebudayaan ataupun kebiasaan
yang jelas secara medis, itu hal yang kurang baik bagi kesehatan bayi maupun ibu
hamil itu sendiri. Walaupun di zaman yang berkembang ini, ilmu pengetahuan dan
teknologi semakin berkembang namun penanganan ibu saat melahirkan masih banyak
masyarakat menggunakan dukun bayi di daerah-daerah pedesaan atau daerah
terpencil. Tentu saja ketiadaan akses pelayanan kesehatan dapat menyebabkan angka
kematian cukup tinggi, tetapi bukan hanya kepada ibu terhadap anak yang akan
dilahirkan pun dapat berdampak negatif. Persoalannya menjadi pelik ketika
memperhatikan kurangnya sarana kesehatan yang disediakan oleh pemerintah dan
swasta. Oleh karena itu, minimnya tenaga kesehatan membuat jasa dukun bayi
semakin dibutuhkan. Adanya pengaruh budaya (mitos) seputar kehamilan yang
cukup kuat mengakibatkan sebagian besar masyarakat lebih mempercayai budaya
tersebut daripada anjuran tenaga kesehatan (dokter dan bidan). Mereka tetap
melakukan pemeriksaan kehamilan ke dukun karena menganggap bahwa dukun
lebih mengerti posisi bayi dalam kandungan dan dapat melakukan pemijatan
perut yang

mempermudah

saat

persalinan. Ketika

periksa

kehamilan

ke

pelayanan kesehatan, mereka hanya ingin diperiksa dan memastikan bahwa


kondisinya sehat dan diberi obat. Oleh karena itu, ketika akan bersalin sebagian
masyarakat lebih memilih bersalin ke dukun daripada bidan, karena bersalin ke
bidan

dianggap

persalinan

Madura Malarat sehingga akan

yang
menjadi

susah/sulit

yang

dalam

bahasa

aib cenderung malu (dilihat

dan

dibicarakan banyak orang) bagi ibu hamil dan keluarga ibu. Selain karena latar
belakang budaya, hasil penelitian tersebut juga menyatakan beberapa alasan lain
yang menyebabkan ibu hamil tidak melakukan persalinan pada bidan, yaitu
karena biaya persalinan bidan mahal, keluarga yang ikut campur dalam

memberi keputusan, takut operasi dan berobat ke puskesmas, serta rendahnya


pengetahuan kesehatan ibu hamil.
Berdasarkan masalah yang terjadi di Suku Madura tersebut, untuk mencegah
terjadinya bayi yang lahir nutrisi dari tubuhnya tidak sesuai, sebaiknya dari
pemerintah dapat meningkatkan kembali sosialisasi pada masyarakat misalnya
dengan mengadakan pendidikan kesehatan tentang bahaya dari memeriksakan
kesehatan maupun kehamilan pada dukun. Selain itu, perawat disini dapat
memberikan informasi berupa pengetahuan untuk meluruskan persepsi dari
masyarakat Madura agar beralih pada pengobatan medis.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana masalah keperawatan kurangnya pengetahuan klien terhadap cara
pengobatan yang dipilih pada Suku Madura?
1.3 Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui dan melakukan asuhan keperawatan kurangnya
pengetahuan klien terhadap cara pengobatan yang dipilih pada Suku Madura.
1.4 Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui mengenai budaya Madura sehingga dapat
mempermudah asuhan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien yang
berasal dari budaya Madura. Sehingga jika kita menjumpai masyarakat dengan
latar belakang budaya Madura, perawat dapat mengaplikasikan dalam pemberian
asuhan keperawatan transkultural pada suku tersebut.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar I
3

2.2 Konsep Dasar II


1. Faktor Teknologi, dengan adanya teknologi yang canggih pada zaman
sekarang contohnya

smartphone dengan fasilitas internet partisipasi

masyarakat dalam pengobatan semakin meningkat karena pengaruh informasi


yang didapat akibat globalisasi atau secara mendunia.
2. Faktor Agama dan Filosofi, faktor keyakinan merupakan faktor yang sangat
mendasar bagi masyarakat, ada masyarakat yang meyakini bahwa partisipasi
masyarakat dalam pengobatan merupakan hal yang sangat penting dan perlu
untuk ditindaklanjuti. Namun, ada juga masyarakat yang menganggap remeh
atau tidak meyakini bahwa partisipasi masyarakat dalam pengobatan tidak
terlalu penting karena hanya menghabiskan biaya dan waktu.
3. Faktor Kekeluargaan dan Sosial, faktor sosial merupakan faktor yang
berpengaruh besar terhadap peningkatan partisipasi masyarakat dalam
pengobatan, karena faktor ini mudah untuk disebarluaskan.
4. Nilai-Nilai Budaya, Kepercayaan, dan Gaya Hidup, budaya merupakan faktor
yang sangat sulit dibentuk untuk mencapai tujuan peningkatan partisipasi
masyarakat dalam pengobatan, karena faktor budaya ini berkaitan dengan
faktor keyakinan.
5. Faktor Kebijakan dan Peraturan, kebijakan merupakan tanggung jawab
pemerintah yang terkait dengan kesehatan, kebijakan merupakan hal yang
sangat vital untuk peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengobatan.
6. Faktor Ekonomi, jika ekonomi masyarakat tinggi maka partisipasi masyarakat
dalam pengobatan pun akan meningkat. Jika ekonomi masyarakat rendah ada
kemungkinan partisipasi masyarakat dalam pengobatan akan pasif. Namun,
semua tergantung pada individu masing-masing.

7. Faktor Pendidikan, faktor pendidikan merupakan faktor penunjang untuk


melakukan partisipasi dalam pengobatan. Jika pemahaman masyarakat
tentang pendidikan kesehatan sudah matang maka masyarakat secara aktif
akan berpartisipasi dalam pengobatan kesehatan.

BAB 3. APLIKASI TEORI


3.1 Gambaran Kasus
Kasus
Sebuah keluarga di daerah Madura yang terdiri dari suami (Tn. X) seorang
nelayan berusia 40 tahun yang pulang ke rumah seminggu sekali dan istrinya (Ny. Y)
seorang petani yang berusia 29 tahun. Mereka bersuku Madura dan beragama islam
yang sangat berpegang teguh pada ajarannya. Sang istri menjadi seorang petani
dikarenakan ia ingin membantu suaminya untuk mencari uang. Suatu ketika istrinya
hamil, dia lebih banyak mengonsumsi nasi dan sedikit mengonsumsi sayuran, dan
sangat jarang mengonsumsi telur dan susu, konsumsi daging pun sangat kurang, dan
5

hanya mengkonsumsi ikan, itu pun jumlahnya sangat tidak mencukupi. Dia juga
sering memeriksakan kehamilannya kepada dukun beranak yang ada di desanya
karena tidak percaya dengan tenaga kesehatan profesional. Setelah sembilan bulan,
dia mulai merasakan kontraksi yang hebat. Kemudian oleh sang suami dibawa ke
rumah seorang dukun yang berada di desanya. Setelah satu jam ditangani oleh dukun
tersebut, ternyata bayi (bayi Z) ibu tersebut memiliki berat badan yang kurang dari
2400 gram. Bapak dan ibu bayi tersebut khawatir dengan kondisi bayinya yang
kurang dari berat ideal (3000 gram). Dukun bayi tersebut kebingungan dan tidak bisa
berbuat apa-apa karena dukun tersebut tidak memiliki peralatan medis sama sekali.
Bapak dan ibu tersebut kebingungan karena dukun yang dipercayainya tidak
bisa membantu sang bayi. Akhirnya mereka membawa bayi mereka pulang ke rumah.
Setelah dua hari bayi tersebut berada di rumah, bayi tersebut mengalami demam yang
cukup tinggi. Kemudian oleh kedua orang tuanya, sang bayi di bawa ke seorang
dukun yang dipercayai keluarganya secara turun-menurun oleh keluarganya. Dukun
tersebut memberikan sebotol air untuk diberikan kepada sang bayi.
Beberapa hari kemudian air yang diberikan oleh dukun tersebut habis, tetapi
sang bayi masih demam. Tetangga mereka yang menjadi seorang perawat
menyarankan kepada mereka untuk membawa sang bayi ke rumah sakit agar
mendapat penangan medis. Orang tua sang bayi tidak mau karena mereka tidak
percaya pada tenaga medis yang proposional. Akhirnya sang bayi dibawa ke rumah
dukun lagi, karena mereka sangat percaya kepada pengobatan alternatif. Sang dukun
menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit, karena sang dukun tidak mampu
mengatasi keadaan sang bayi.
Keesokan harinya, mereka membawa bayi mereka ke sebuah rumah sakit.
Setelah diperiksa, bayi tersebut berat badannya kurang karena dari factor sang ibu
pada saat hamil hanya mengkonsumsi nasi, sedikit jenis sayuran, sangat jarang
mengkonsumsi telur dan susu. Padahal makanan tersebut sangat bermanfaat bagi
kesehatan karena protein berperan untuk mendukung perkembangan tubuh dan sel
otak, manfaat sayur bagi kesehatan yaitu membentuk sel darah merah untuk sang ibu
dan mencegah anemia bagi sang bayi, dan manfaat susu bagi kesehatan yaitu
membentuk tulang dan gigi bayi. Sehingga diduga untuk bayi yang berat badannya
6

kurang dari berat ideal bayi baru dilahirkan karena efek dari sang ibu yang kurang
mengkonsumi sayur, telur, protein, dan susu. Jadi untuk menghindari bayi lahir
dengan berat badan kurang ideal yaitu dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat 5
sempurna secara rutin.
3.2

Pengkajian
3.2.1 Faktor Teknologi
Dalam hal ini, klien tidak memanfaatkan dan menerapkan kemajuan dari

teknologi kesehatan yang telah ada. Hal tersebut bisa dilihat dari klien yang memilih
memeriksakan kesehatan dan melakukan proses persalinan pada dukun yang ada di
sekitar tempat tinggalnya.
3.2.2 Faktor Agama dan Falsafah Hidup
Pasien beragama islam, dan memeluk erat agama islam. Hal ini terbukti dari
klien yang lebih memilih pergi ke dukun yang berjenis kelamin perempuan. Dalam
agama islam melarang seseorang yang bukan mahramnya untuk berdekatan atau
bersinggungan.

3.2.3 Faktor Kekeluargaan dan Sosial


Klien sangat dekat dengan keluarganya dan hubungannya juga harmonis. Hal
ini terbukti dari suaminya yang mengantarkan sang istri ke dukun beranak dan ke
rumah sakit sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa pasien juga dekat dengan
keluarganya dan sangat patuh terhadap tradisi keluarga (terbukti mereka
mengutamakan bersalin ke dukun beranak).
3.2.4 Nilai-Nilai Budaya, Kepercayaan, dan Gaya Hidup
Gaya hidup yang terjadi pada klien ini membutuhkan pembenaran dan
pendekatan perawat dalam pemilihan bantuan proses persalinan dan kebiasaan dari
klien yang lebih banyak mengonsumsi nasi dan sedikit mengonsumsi sayuran, serta
sangat jarang mengonsumsi protein seperti telur dan susu, konsumsi daging pun juga
sangat kurang dan hanya mengkonsumsi ikan, itu pun jumlahnya sangat tidak
mencukupi. Sedangkan dilihat dari segi budaya, pasangan suami istri tersebut lebih
7

memilih melakukan proses kelahiran dan kontrol kesehatan ke dukun di sekitar


tempat tinggalnya. Faktor ini menguraikan alasan klien memilih dukun beranak
sebagai tempat rujukan untuk bersalin dikarenakan tradisi keluarga klien yang lebih
percaya kepada dukun beranak ketimbang tenaga kesehatan professional.
3.2.5 Faktor Kebijakan dan Peraturan
Dari hasil analisa kasus, klien sangat mengandalkan dukun beranak desa
tempat tinggalnya. Klien juga memerlukan pembenaran tentang kebiasaan makan
yang tidak bergizi dari perawat, agar klien mengikuti peraturan yang berlaku di
rumah sakit dengan mengganti konsumsi nasi dan sedikit mengonsumsi sayuran, serta
sangat jarang mengonsumsi telur dan susu, konsumsi daging pun sangat kurang, dan
hanya mengkonsumsi ikan menjadi makanan berprotein tinggi.
3.2.6 Faktor Ekonomi
Hasil analisa kasus didapatkan bahwa klien merupakan sebuah keluarga yang
kurang berkecukupan dalam hal ekonomi. Ditinjau dari sudut pekerjaan nya, sang
suami berprofesi sebagai seorang nelayan dan sang istri (Ny. Y) memutuskan menjadi
seorang petani untuk membantu ekonomi keluarga.
3.2.7 Faktor Pendidikan
Di tinjau dari kasus, klien merupakan orang yang kurang berpendidikan dan
berpengetahuan. Hal ini terbukti dari persepsi klien yang enggan memeriksakan
kehamilannya ke rumah sakit dan lebih memilh untuk pergi ke dukun. Selain itu juga,
dari segi pemenuhan nutrisi saat hamil, Ny. Y kurang memperhatikan asupan gizi
yang seimbang untuk calon bayinya.
3.3
Diagnosa Keperawatan
1. Deficient knowledge b.d sistem pengobatan yang dipilih ditandai dengan tidak
maunya klien untuk memeriksa bayinya kepada tenaga kesehatan.
3.4

Rencana Keperawatan
NOC :
1. Knowledge : disease process
2. Knowledge : health behavior
8

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam, Deficient knowledge


teratasi dengan kriteria hasil:
1.

Klien bersedia pergi ke tenaga kesehatan

2.

Klien memahami mengenai penyakitnya

3.

Klien mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan dengan benar

4.

Klien mampu menjelaskan kembali penjelasan dari tenaga kesehatan

NIC
Teaching : disease process
1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan klien mengenai proses
2.
3.
4.
5.

penyakit yang spesifik


Berikan pendidikan kesehatan kepada klien
Berikan penjelasan patofisiologi dari penyakit
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
Diskusikan mengenai perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan

3.5
Implementasi Keperawatan
1. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai penyakit yang diderita klien
2. Menanyakan persepsi keluarga mengenai penyakit yang diderita sehingga
perawat dapat tahu mengenai tingkat pengetahuan klien
3. Perawat menjelaskan mengenai penyakit yang diderita klien seperti tanda dan
gejala, penyebab dan komplikasi yang mungkin terjadi kepada klien
4. Perawat menanyakan mengenai tindakan apa saja yang dilakukan klien untuk
mengatasi penyakitnya apabila bertentangan maka dilakukan negoisasi dan
kemudian menrestrukrisasi dari tindakan yang dilakukan klien
3.6 Evaluasi
S : klien bersedia pergi ke tenaga kesehatan
O : klien mengetahui mengenai penyakitnya dan bersedia mengikuti pengobatan
yang telah direncanakan
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi

BAB 4. PEMBAHASAN

10

BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan
Pada kebudayaan masyarakat Madura masih banyak masyarakat yang
mempercayai pengobatan alternative dibandingkan dengan pengobatan medis
bahkan cenderung semua masyarakat lebih memilih pengobatan alternative seperti
dukun dibandingkan harus datang ke pelayanan kesehatan seperti puskemas atau
rumah sakit. Terutama kepada keluarga yang memiliki anggota yang sedang hamil,
mereka cenderung lebih memilih bantuan kepada dukun beranak untuk membantu
memeriksa kandungan bahkan sampai melahirkan. Menurut mereka melahirkan
dengan bantuan dukun akan lebih mudah dan tidak sulit seperti melahirkan dengan
dibantu tenaga kesehatan. Selain itu biaya melahirkan pada dukun beranak lebih
terjangkau dalam hal ekonomi dibandingkan kepada tenaga kesehatan.
5.2 Saran
Sebagai seorang perawat kita harus dapat melakukan pendekatan kepada
keluarga yang masih mempercayai pengobatan alternative dibandingkan kepada
tenaga kesehatan. Kita harus mengetahui cara meyakinkan mereka dengan baik
sehingga mereka dapat memahami maksud dari apa yang kita jelaskan. Dengan
pendekatan yang baik, seseorang pasti akan lebih mudah untuk menerima dan
memahami.

11

DAFTAR PUSTAKA
Abd Aziz Faiz. 2011. KLEBUN DAN DUKUN (Tradisi Politik Pada Masyarakat
Madura di Desa Tampojung Tengah Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan).
Yogyakarta.http://digilib.uinsuka.ac.id/9847/1/BAB%20I,%20V,
%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf (diakses 25 april 2016 )

12

Andayani, Anik. POLA PENGASUHAN DAN KESEHATAN ANAK PADA


KELUARGA MADURA PERANTAUAN DENGAN STATUS IBU BEKERJA DI
SIDOARJO DAN SEKITARNYA.
ejournal.unesa.ac.id/article/8486/107/article.pdf ( diakses 25 april 2016 )
Rofiqotinazizah.

Kebudayaan

Kesehatan

di

Madura

Khususnya

Daerah

Kabupaten Sumenep.https://rofiqotinazizah.wordpress.com/2013/10/06/kebu
dayaan-kesehatan-di-madura-khususnya-daerah-kabupaten-sumenep/
(diposting 6 oktober 2013. Diakses 25 april 2016)
Shrimarti R. Devy. Dkk. Perawatan Kehamilan dalam Perspektif Budaya Madura di
Desa Tambak dan Desa Rapalaok Kecamatan Omben Kabupaten Sampang.
http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/Perawatan%20Kehamilan
%20dalam%20Perspektif%20Budaya%20Madura%20di%20Desa
%20Tambak%20dan%20Desa%20Rapalaok%20Kecamatan%20Omben
%20Kabupaten%20Sampang.pdf (diakses 25 april 2016)
http://MADURA/DENGAN/MASALAH/KESEHATAN_IPUTUJUNIARTHASEMA
RA PUTRA.htm (diakses pada tanggal 25 April 2016)
http://www.maduratea.com.au/ (diakses pada tanggal 25 April 2016)
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1260/suku-madura (diakses pada tanggal
26 April 2016)
http://PerilakuKomunikasiAntarBudayaSukuMadura.htm (diakses pada tanggal 26
April 2016)
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2800278/ diakses 28 April 2016

13