Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN GERONTIK

PROPOSAL PENYULUHAN
PENYULUHAN HIPERTENSI

Disusun oleh:
Kelompok III
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ayu Cahya Budi, S.Kep


Dewi Marini, S.Kep
Deri Anggri Yarosah, S.Kep
Dimas Rhamanu, S.Kep
Elmizar, S.Kep
Julius, S.Kep

7. Lili Safitri, S.Kep


8. Mawaddah Yuspita, S.Kep
9. Mifta Hussaadah, S.Kep
10. Nixon, S.Kep
11. Ratih Nabila Putri, S.Kep
12. Sesti Artati, S.Kep

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Topik

: Hipertensi

Hari/tanggal

: Kamis / 25 Februari 2016

Waktu

: 10.00 s/d 10.45 Wib

Sasaran

: Lansia dengan Penyakit Hipertensi

Tempat

: Panti Sosial Tresna Werdha Warga Tama Indralaya

A. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan lansia dapat memahami dan mengerti apa itu
penyakit Hipertensi.
B. Tujuan Khusus
Setelah di lakukan penyuluhan :
1. Lansia di Panti Sosial Tresna Werda mampu menjelaskan pengertian
dari penyakit Hipertensi.
2. Lansia di Panti Sosial Tresna Werda mampu menyebutkan apa penyebab
dari penyakit Hipertensi
3. Lansia di Panti Sosial Tresna Werda mampu menyebutkan tanda dan
gejala dari penyakit Hipertensi.
4. Lansia di Panti Sosial Tresna Werda mampu menjelaskan cara
pengobatan dari penyakit Hipertensi.
5. Lansia di Panti Sosial Tresna Werda mampu menjelaskan cara
pencegahan dari penyakit Hipertensi.

C. Kegiatan Penyuluhan

No
1.

Tahapan
Pendahuluan
5 menit

Kegiatan
Mahasiswa
Memberikan
salam
Memperkenalkan

Kegiatan Lansia
Menjawab

Media
Leaflead

salam
Mendengarkan

diri
Menjelaskan
2.

Isi
25 menit

tujuan penyuluhan
Menjelaskan

Mendengarkan

Tentang

Menyimak

Pengertian

Memperhatikan

Hipertensi.
Menjelaskan
Tentang Penyebab
Penyakit
Hipertensi.
Menjelaskan
Tanda Dan Gejala
Hipertensi.
Menyebutkan
Komplikasi Dari
Penyakit
Hipertensi.
Menjelaskan
Tentang Cara
Pencegahan
Penyakit
Hipertensi.
Menjelaskan Cara
Pengobatan
Penyakit

Leaflead

3.

Evaluasi
10 menit

Hipertensi.
Menanyakan
Kembali

Menjawab

Definisi

Penyakit
Hipertensi.
Menanyakan
Kembali

Hal-Hal

Yang

Dapat

Menyebabkan
Penyakit
Hipertensi.
Menyakan
Kembali Tanda
Dan Gejala
Penyakit
Hipertensi.
Menjelaskan
Tentang Cara
Pencegahan
Penyakit
Hipertensi.
Menjelaskan Cara
Pengobatan
Penyakit
4.

Penutup

Hipertensi.
Membuat

5 menit

kesimpulan
Salam penutup

Mendengarkan
Menjawab
salam

D. KARAKTERISTIK AUDIENS
Audiens atau peserta penyuluhan adalah para lansia penghuni Panti Sosial
Tresna Werda Sumatera Selatan yang mengalami masalah hipertensi.
E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. MEDIA DAN ALAT
1. Poster, flipchart, dan LCD
2. Leaflet
3. Alat Tulis
4. Kamera (dokumentasi)
G. PENGORGANISASIAN
1. Ketua

: Dewi Marini

2. Fasilitator

: Dimas Rhamanu
Elmizar
Mawaddah Yuspita
Mifta Hussaadah

3. Moderator

: Deri Angri Yarosah

4. Penyaji

: Nixon

5. Nara Sumber

: Lili Safitri, Sesti Artati dan Ayu Cahya Budi

6. Notulen

: Ratih Nabilah

7. Dokumentasi

: Julius

6. Metode

: Ceramah dan tanya jawab

7. Media

: Flipchart atau LCD dan leafleat

8. Seting tempat

Penyaji

Audiens
(Lansia)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dampak positif perkembangan teknologi saat ini meliputi juga


perkembangan di dunia kesehatan, majunya pelayanan kesehatan, perbaikan
gizi dan sanitasi, meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi
berpengaruh terhadap peningkatan usia harapan hidup yang berdampak pada
peningkatan jumlah populasi lanjut usia (lansia). Lansia merupakan individu
dengan kategori umur di atas 60 tahun (Nugroho, 2008 : 1).
Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional,
telah mewujudkan berbagai hasil yang positif di berbagai bidang yaitu adanya
kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) terutama di bidang medis dan keperawatan sehingga
dapat meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta meningkatnya umur
harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut
meningkat dan cenderung bertambah lebih cepat (Darmojo, 1999). Saat ini, di
seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia
rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1.2
milyar (Nugroho, 2008 : 1).
Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health
Organization (WHO) pertumbuhan penduduk lansia (umur > 60 tahun)
meningkat secara cepat pada abad 21 ini, pada tahun 2000 di seluruh dunia
telah mencapai 425 juta jiwa ( 6,8 %). Jumlah ini diperkirakan akan
mengalami peningkatan hampir dua kali lipat pada 2025 (Depkes RI, 2007).
Di Indonesia sekitar 20 % dari semua orang dewasa menderita hipertensi
dan menurut statistik angka ini terus meningkat. Sekitar 40% dari semua
kematian di bawah usia 65 tahun adalah akibat tekanan darah tinggi. Sekitar
40% dari semua orang yang pensiun dini adalah akibat penyakit-penyakit
kardiovaskuler, dimana tekanan darah tinggi sering menjadi penyebabnya
(Wolff, 2005).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera selatan tahun
2007 didapatkan data bahwa penyakit hipertensi menempati urutan pertama
dengan jumlah penderita 58.807 jiwa, pada tahun 2008 penderita hipertensi
menempati urutan pertama dengan jumlah penderita 95.178 jiwa dan pada

tahun 2009 didapatkan data bahwa penyakit hipertensi mengalami


peningkatan jika dibandingkan tahun sebelumnya serta menempati urutan
pertama dengan jumlah penderita 103.989 jiwa (Dinkes Sumsel, 2009).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
HIPERTENSI

A.

Pengertian Hipertensi
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National On Detection, Evaluation and

Treatment of High Blood Pressuare (JNC) sebagai tekanan darah yang lebih tinggi
dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai
rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna.
Keadaan ini dikategorikan sebagai primer atau esensial (hampir 90% dari semua
kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat
dikenali, seringkali dapat diperbaiki (Doenges, 2000 : 39).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada
populasi menua, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 2002 : 896)
Hipertensi adalah istilah medis untuk penyakit tekanan darah tinggi; dan
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak diseluruh dunia,
termasuk indonesia. Hipertensi adalah penyakit yang umum, tanpa disertai gejala
khusus, dan biasanya dapat ditangani secara mudah. Namun bila dibiarkan tanpa
penanganan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang lebih parah berupa:
penyakit jantung dan pembuluh darah seperti aterosklerosis, infak miokard, gagal
jantung , infark serebri; gangguan fungsi ginjal tahap akhir, retinopati dan
kematian dini (Aulia, 2008 : 1).
B.

Etiologi Hipertensi

1) Usia

Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Hipertensi


pada orang yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas menaikan insiden
penyakit arteri koroner dan kematian prematur.
2) Kelamin
Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada wanita, namun pada
usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita mulai meningkat, sehingga
pada usia diatas 65 tahun, insiden pada wanita lebih tinggi.
3) Kegemukan (Obesitas)
Penderita hipertensi sebagian besar mempunyai berat badan berlebihan. Tetapi
tidak menutup kemungkinan orang yang berat badannya normal atau bahkan kurus
dapat menderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita
hipertensi yang obesitasnya tinggi dibandingkan yang berat badannya normal.
Logikanya, makin besar ukuran tubuh, makin banyak pula darah yang
dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan-jaringan tubuh.
Sudah dapat dipastikan volume darah yang beredar melalui pembuluh darah
meningkat sehingga menyebabkan tekanan arteri meningkat. Inilah penyebab
kenapa obesitas menyebabkan hipertensi (Marliani, 2007 :12).
4) Berat badan berlebihan
Hal ini meningkatkan berkembangnya berbagai faktor resiko dan oleh karena
itu, berat badan itu sendiri merupakan suatu bahaya terhadap kesehatan. Sebanyak
85% dari semua pengidap diabetes, 80% dari semua orang yang memiliki kadar
kolesterol darah dan atau trigliserida yang abnormal, 70% dari semua kasus

hiperurisemia (berlebihnya asam urat dalam darah), dan 60% dari semua orang
yang mengidap hipertensi adalah orang-orang yang kelebihan berat badan.
Penyebab utama dari kelebihan berat badan adalah terlalu banyak makan.
Penyebab lebih jauh lagi adalah kurangnya olahraga, yaitu gangguan yang
berhubungan dengan pekerjaan padahal begitu banyak orang yang menghabiskan
waktu kerja dibelakang meja, bangku pabrik, atau di belakang kemudi mobil.
5) Metabolisme lemak yang berlebihan.
Lemak serum yang dikenal sebagai lipid, memasok tubuh dengan energi dan
bahan pembangunan. Sebagian lemak diperoleh dari makanan yang kita konsumsi
dan sebagian lagi diciptakan oleh tubuh sendiri. Jika, sebagai akibat makanan
yang buruk, tubuh menerima lebih banyak lemak dari pada yang dibutuhkan,
kadar lemak tubuhpun meningkat. Suatu kondisi lemak darah tinggi yang kronis
(hiperlipidema) bisa memicu dan mempercepat proses perusakan dinding arterikondisi yang kita sebut arteriosclerosis. Dua jenis lemak darah-kolesterol dan
trigliserida, dan terutama kolesterol memainkan peranan penting di dalamnya.
Kolesterol sebagian besar diproduksi oleh tubuh sendiri, tapi kadar kolesterol
dalam darah dikaitkan dengan makanan kita. Tubuh mampu mengubah
karbohidrat seperti gula, tepung, roti menjadi lemak yang dikenal dengan
trigliserida. Westlund dan Nicolaysen, dua ahli epidemiologi dari norwegia,
menemukan bahwa pria-pria separuh baya yang kadar kolesterol darahnya lebih
dari 250 mg% memiliki resiko serangan jantung diatas rata-rata, dan resiko itu
meningkat seiring dengan meningkatnya kadar kolesterol.
6) Merokok

Zat yang terdapat dalam rokok dapat merusak lapisan dinding arteri berupa
plak. Ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri yang dapat
meningkatkan tekanan darah. kandungan nikotinnya bisa meningkatkan hormon
epinefrin yang bisa menyempitkan pembuluh darah arteri. Karbonmonoksidanya
dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk menggantiakan pasokan
oksigen kejaringan tubuh, kerja jantung yang lebih berat tentu dapat meningkatkan
tekanan darah (Marliani, 2007 : 13)
7) Kebiasaan minum Alkohol
Alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh
darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko
hipertensi (Marliani, 2007 :13)
8) Gejala penyakit hipertensi
mayoritas orang dengan tekanan darah sedang sampai berat tidak bisa
menyebutkan kapan tekanan darah mereka menjadi tinggi. Pada kenyataannya ,
sekitar sepertiga dari penderita hipertensi tidak menyadari keadaan mereka. Jika
gejala mulai muncul, pasien dapat mengalami nyeri dada (angina), napas pendek
atau gejala lainnya yang berhubungan dengan penyakit jantung atau kerusakan
yang mendasarinya. Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan
gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala bisa muncul bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (hipertensi). Gejala yang
dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan,
kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, serta pandangan menjadi kabur

yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
( Kesehatan dan Psikologi tahun 2009)
C.

Penggolongan Hipertensi
Penyakit hipertensi termasuk penyakit yang banyak di derita orang tanpa

mereka sendiri mengetahuinya. Penyakit hipertensi dapat mengakibatkan berbagai


hal yang menyusahkan, bahkan membahayakan jiwa. Untunglah dewasa ini
berbagai akibat yang ditimbulkannya dapat dicegah dengan perawatan dini oleh
para ahli di bidang kesehatan. Pada dasarnya, penggolongan hipertensi meliputi :
A. Hipertensi Primer
Sekitar 90% hingga 95% penyebab hipertensi belum diketahui. Jadi
sebagai pasien, kita janganlah cepat-cepat putus asa jika tekanan darah kita belum
juga turun, meskipun segala nasihat dan obat-obatan sudah dijalankan atau
diminum. Beruntunglah bahwa kita sudah mengetahui bahwa kita menderita
hipertensi. Banyak orang yang tidak menyadari dirinya menderita hipertensi
hingga tiba-tiba menderita stroke atau serangan jantung. Itulah sebabnya
hipertensi sering disebut dengan the silent killer (pembunuh diam-diam atau tanpa
diketahui). Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya itu disebut Hipertensi
Primer atau Esensial.
B. Hipertensi Sekunder
Hipertensi yang telah diketahui ada penyebabnya Hipertensi Sekunder.
Yang tergolong hipertensi sekunder antara lain :
1.

Hipertensi karena adanya gangguan ginjal

Hipertensi ini terjadi sebagai akibat gangguan baik pada pembuluh darah
yang menyuplai darah ke ginjal (hipertensi renovaskular) meskipun sel-sel ginjal
itu sendiri (hipertensi renal).

2.

Hipertensi akibat gangguan pembuluh darah


Selain gangguan di atas, hipertensi sendiri bisa menyebabkan gangguan ginjal

yang makin memperparah hipertensi tersebut. Jadi dari hipertensi primer (yang
belum diketahui penyebabnya) bisa merusak organ ginjal yang menyebabkan
hipertensinya tambah parah (hipertensi sekunder).
Begitu sebaliknya hipertensi sekunder bisa juga mempengaruhi hipertensi
dengan rusaknya ginjal, untuk itulah gangguan hipertensi sekunder mesti cepatcepat dikoreksi agar tidak menimbulkan masalah yang lebih serius, jika hipertensi
sekunder karena gangguan pembuluh darah di ginjal misalnya, koreksi bisa
dilakukan dengan operasi untuk memperbaiki pembuluh darah tersebut. Ketakutan
operasi akan menjadi masalah yang kompleks dikemudian hari, begitu pula
dengan hipertensi-hipertensi lain yang telah diketahui dan bisa diperbaiki. Karena
jika tidak cepat-cepat diperbaiki akan bisa menyerang ginjal dan memperparaah
keadaan (Tapan, 2005 : 90).

D.

Klasifikasi hipertensi

A. Klasifikasi menurut Word Health organization (WHO)


Merupakan faktor resiko dengan prevalensi tertinggi untuk penyakit
kardiovaskular diseluruh dunia. Bertambahya usia dan prevalensi obesitas turut

berperan terhadap terjadinya hipertensi. Karna hipertensi masih sulit ditangani,


diagnosis dan penanganan hipertensi sejak awal dapat membantu mencegah
penyakit kardiovaskular dan meningkatkan harapan hidup.
Klasifikasi
Tekanan darah optimal

Sistolik (mmHg)
<120

Diastolik (mmHg)
<80

Tekanan darah normal

<130

<85

Tekanan darah normal tinggi

130-139

85-89

Hipertensi ringan

140-159

90-99

Hipertensi perbatasan

140-149

90-94

Hipertensi sedang

160-179

100-109

Hipertensi berat

80

110

Hipertensi sistol terisolasi

140

<90

Sub-grup: perbatasan

140-149

<90

B. Klasifikasi menurut European Society of Hypertension (ESH)


Nilai
Sistol

Diastole

Tekanan (mmHg)
Klasifikasi
< 120
Tekanan darah optimal
120-129

Tekanan darah normal

130-139

Tekanan darah normal-tinggi

140-159

Hipertansi ringan

160-179

Hipertensi sedang

180

Hipertensi berat

140
<80

Hipertensi sistol
Tekanan darah optimal

80-84

Tekanan darah normal

85-89

Tekanan darah normal-tinggi

90-99

Hipertensi ringan

100-109

Hipertensi sedang

110
<90

Hipertensi berat
Hipertensi sistol

(Aulia,2007 : 11)
E.

Patofisiologi hipertensi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah dan

terletak di pusat Vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut kebawah korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis keganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui
system syaraf simpatis keganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetil kolin, yang akan merangsang serabut syaraf pasca ganglion
kepembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi
respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor. Individu dengan
hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan
jelas mengapa hal tersebut masih bisa terjadi.
Pada saat bersamaan di mana sistem saraf para simfatis merangsang
pembuluh darah sebagai respon rangsangan emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktifitas vasokonstriksi. Medulla adrenal
mensekresi epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal
mensekresi kortisol dan steroid lainnya yang dapat memperkuat respon
vasokonstriktor pembuluh darah.

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,


menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang permbentukan angiostenin 1
yang kemudian diubah menjadi angiostenin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi (Brunner & Suddarth, 2002 : 898).

F.

Manifestasi klinis Hipertensi


Yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai

bertahun-tahun. Gejala ada bila menunjukkan adanya kerusakan vaskuler dengan


manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang ivaskulirisasi oleh pembuluh
darah bersangkutan. Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang
paling menyertai

hipertensi. Hipertropi ventikel kini terjadi sebagai respon

peningkatan beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan


sistemik yang meningkat. Apabila jantung tidak mampu lagi menahan peningkatan
beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi klinis sebagai
nokruria (peningkatan urinari pada malam hari) keterlibatan pembuluh darah otak
dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transier yang termanifestasi
klinis sebagai peralatis sementara pada satu sisi (hemiplagia) atau gangguan tajam
penglihatan. Pada penderita stroke dan juga pada penderita hipertensi disertai

serangan iskemea, insiden infark otak mecapai 80%. (Bunner & sundart, 2002 :
899)
G.

Proses Keperawatan Pasien Dengan Hipertensi

1) Pengkajian
Mengkaji pasien dengan hipertensi yang baru saja terdeteksi, meliputi
pemantauan teliti tekanan darah dengan interval yang sering dan kemudian
dilanjutkan dengan interval dengan jadwal rutin. Apabila pasien sedang dalam
pengobatan antihipertensi, pengukuran tekanan darah wajib dilakukan untuk
menentukan apakah obat tersebut efektif dan untuk mengetahui adanya perubahan
tekanan darah yang memerlukan pergantian pengobatan.
2) Diagnosa keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan bagi pasien
dapat mencakup sebagai berikut :
1. Kurangnya pengetahuan mengenai hubungan antara aturan penanganan
dan kontrol proses penyakit ini.
2. Potensial

ketidakpatuhan

terhadap

program

perawatan

diri

berhubungan dengan efek samping terapi yang di berikan.


3) Perencanaan dan implementasi.
Meliputi pemahaman proses penyakit dan penanganannya, kepatuhan
program, perawatan diri, dan tidak adanya komplikasi.
4) Intervensi keperawatan
1. Penyuluhan pasien mengenai perawatan diri.

2. Kepatuhan pasien terhadap program asuhan dini atau terapi.


3. Perawatan diri
4. Pemantauan dan penatalaksanaan komplikasi potensial.
5) Evaluasi
1. Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat.
2. Mematuhi program asuhan dini
3. Bebas dari komplikasi.
6) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien
dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara umur, kebutuhan, dan
usia. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam, dan lebih disukai dengan
dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, dapat mengontrol hipertensi terus
menerus dan lancar, dan melindungi pasien terhadap berbagai faktor resiko dari
kematian mendadak, serangan jantung, stroke akibat peningkatan tekanan darah
mendadak (Brunner & Suddarth, 2002).
Obat obatan yang sering digunakan bagi penderita hipertensi :
1. Obat beta bloker (beta reseptor blocker)
Obat ini bekerja dengan lembut dan efektif, terutama pada kasus hipertensi
yang ringan dan sedang, terutama bagi pasien dengan system syaraf simpatis
yang hiperaktif, yang mengalami peningkatan denyut jantung dan jantung
yang berdebar-debar.
2. Hidralazin

Suatu obat hipertensi yang terkenal, makin sering digunakan sejak


digunakannya beta bloker karena manfaat anti hipertensi kedua obat ini
bekerja secara serempak. Jadi digunakan secara bersamaan dengan beta
bloker.
3. Klonidin
Klonidin adalah salah satu senjata berat, obat ini menghambat bagian dari
sistem simpatico-adrenergik yang terletak diotak, yang berfungsi menurunkan
resistensi arteri dan denyut jantung sehingga tekanan darah akan turun.
4. Guanetidin
Guanetidin adalah salah satu dari obat hipertensi yang paling kuat. Obat ini
bekerja dengan menghambat transmisi impuls dari otak ke pembuluh darah
(Wolf, 2005)
H.

Perawatan Hipertensi pada Lansia.

Perawatan hipertensi pada lansia adalah :


Suatu kegiatan untuk memberikan bantuan, bimbingan, pengawasan,
pertolongan kepada lanjut usia yang menderita penyakit hipertensi secara individu
maupun kelompok seperti dirumah/ lingkungan keluarga, panti werdha,
puskesmas maupun rumah sakit yang dilakukan oleh perawat ataupun petugas
kesehatan lainnya (Depkes, 1993).
Perawatan tekanan darah tinggi secara umum (Depkes 1993), meliputi :
a. Terapi obat-obatan dan disiplin dalam mengkonsumsi obat

Di gunakan untuk menurunkan dan mengendalikan pengaturan tekanan


darah.
b. Mengubah gaya hidup.
Selain hipertensi dapat disembuhkan dengan obat-obatan, dapat juga di
sembuhkan tanpa obat yaitu dengan perubahan gaya hidup.
c. Mengurangi kelebihan berat badan
Kelebihan bobot berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, tingkat
lipid (lemak darah) tinggi yang abnormal, diabetes, dan penyakit jantung
koroner. Kuncinya adalah dengan membatasi asupan kalori dan tingkat latihan
fisik. Penurunan bobot sebanyak 4,5 kg saja sudah sangat berarti dalam
penurunan tekanan darah tinggi. Penurunan bobot juga dapat mempercepat
turunnya tekanan darah dalam pengobatan.
d. Membatasi asupan alkohol
Alkohol bisa memberikan konstribusi terhadap hipertensi, alkohol bisa
mengurangi kemampuan pompa jantung dan kadang-kadang membuat
pengobatan hipertensi kurang efektif. Karenanya, lebih baik menghindarinya
sama sekali.
e. Membatasi Asupan natrium.
Asupan natrium yang tinggi, meskipun tidak selalu, bisa meningkatkan
tekanan darah, khususnya pada orang tua, penderita darah tinggi, dan pasien
dengan diabetes mellitus. Menghindari atau mengurangi garam adalah salah
satu contoh cara mengurangi natrium, meskipun tidak menjamin seseorang
tidak terkena hipertensi.

f. Berhenti merokok.
Merokok memang tidak menyebabkan hipertensi. namun, merokok adalah
salah satu faktor resiko utama dari penyakit kardiovaskuler. Merokok juga
menghalangi efek obat anti hipertensi. Orang yang menderita tekanan darah
tinggi, sebaiknya berhenti atau tidak merokok sama sekali.
g. Mengurangi lemak
Seorang penderita tekanan darah tinggi dengan kadar lemak yang banyak,
mungkin memerlukan modifikasi diet atau terapi obat untuk menormalkannya.
Batasan utama asupan lemak adalah kurang dari 30 % total kalori. Dietry
approaches to stop hypertension (DASH) di Amerika Serikat menyarankan diet
rendah lemak, yaitu mengkonsumsi buah dan sayuran.
h. Peranan kalium
Dalam diet, kalium bisa membantu mengurangi tekanan darah.
Mengkonsumsi buah dan sayuran yang kaya kalium bisa memperbaiki kontrol
tekanan darah seperti buah melon atau pisang. Pemberian suplemen kalium
kepada pasien yang menderita hipokalemia (kekurangan kalium) sebagai hasil
terapi diuretik juga bisa melawan hipertensi.
i. Pengukuran tekanan darah secara teratur.
Hipertensi yang tidak dirawat dapat membawa dampak yang parah.
Karenanya, pengobatan yang tepat waktu sangat penting dilakukan, sehingga
penyakit hipertensi dapat segera dikendalikan. Pengukuran tekanan darah oleh
petugas kesehatan secara teratur merupakan satu-satunya cara untuk
mengetahui apakah kita menderita tekanan darah tinggi atau tidak, karena

kebanyakan orang sering tidak merasakan suatu ketika terkena darah tinggi
(Bangun, 2002).
j. Hindari stress yang berlebihan
Karena stress yang berlebihan konstan akan bisa membuat tekanan darah
menjadi tinggi dan bersifat permanen. Seberat apapun beban stress anda,
sebaliknya tetaplah curi waktu sebentar untuk : mengalihkan perhatian untuk
beristirahat.
k. Saran yang berlaku bagi penderita hipertensi.
1. Keadaan normal
a. Cek up ke dokter setahun sekali atau dua kali,
b. Mulailah sadar akan diet/ konsultasi gizi,
c. Berolahraga secara tepat dan teratur,
d. Pola hidup sehat,
e. Tinggalkan rokok atau alkohol.
2. Keadaan standar.
a. Periksa kedokter sebulan sekali,
b. Rubah gaya hidup yang salah,
c. Mulai program diet ketat,
d. Menjalani pengobatan ringan,
e. Jaga kondisi kesehatan,
f. Berolahraga secara teratur.

3. Keadaan berat.
a. Cek rutin mingguan atau separuh bulan cek kedokter.
b. Kemungkinan rawat inap.
c. Rawat jalan lanjutkan dengan obat,
d. Diet dengan pantangan,
e. Pola hidup sehat,
f. Berolahraga
g. Mempertahankan atau berusaha mengurangi tekanan darah.
(Nugroho,1995).