Anda di halaman 1dari 50

DASAR KONVERSI ENERGI

ELEKTROMAGNET

Terdapat empat prinsip dasar yang menunjukkan bagaimana medan


magnet berfungsi dalam mesin-mesin listrik :
1. Suatu konduktor yang mengalirkan listrik akan menghasilkan medan
magnet disekitar konduktor tersebut.
2. Medan Magnet yang berubah-ubah terhadap waktu akan mengin
duksikan tegangan pada suatu belitan kumparan ( Prinsip kerja
transformator )
3. Suatu konduktor yang digerakkan memotong medan magnet akan
membangkitkan tegangan induksi pada konduktor tersebut
( Prinsip kerja Generator )
4. Suatu konduktor beraliran listrik bila berada dalam medan magnet
akan menimbulkan gaya (force) pada konduktor tersebut ( Prinsip kerja
motor )

1. Medan Magnet dan MedanListrik

Medan magnet terbentuk dari gerak elektron,


Mengingat arus listrik yang melalui suatu hantaran
merupakan aliran elektron, maka pada sekitar kawat hantaran
listrik tersebut akan ditimbulkan suatu medan magnet. Medan
magnet memiliki arah,kerapatan,dan intensitas
yang digambarkan sebagai garis-garis fluks
dan dinyatakan dengan gambar simbol fluks dalam besaran

weber.

Besaran kerapatan medan magnet dinyatakan dengan


banyaknya garis-garis fluks yang menembus suatu luas
bidang tertentu dan mempunyai simbol kerapatan

Medan Magnet dan Medan


Listrik
Fluksi dalam weber / m ( WB / m )
Intensitas medan magnet disebut sebagai kuat
medan dan dinyatakan dengan besarnya fluksi
sepanjang jarak tertentu mempunyai simbol H
kuat medan dalam ampere/m ( A/m )
Kerapatan medan B maupun kuat medan H
merupakan besaran vektoris yang mempunyai
besaran dan arah, yang besarnya B =H dengan
permeabilitas dalam henry/meter ( H/m).
Permeabilitas pada ruang bebas ( udara ) o mempunyai nilai
4 x 10 H/m.

Medan Magnet dan Medan Listrik


Material

seperti besi dan nikel mempunyai


permeabilitas yang relatif lebih tinggi dan biasanya
disebut sebagai material karakteristik
feromagnet. Besaranya fluks dapat dinyatakan dengan
B dA. Dimana dA adalah unsur luas.
Apabila suatu sumber tegangan (V) mengalirkan arus
listrik (i) melalui suatu kumparan dengan jumlah lilitan
(N) maka pada inti besi (core) akan ditimbulkan suatu
kuat medan (H). Hubungan antara arus listrik dan
medan magnet dinyatakan oleh Hukum Ampere dan
untuk persamaannya adalah Ni = Hl ampere-turn
Dengan : N = Jumlah lilitan
i = Arus listrik (A)
H = Kuat Medan
L = Panjang jalur (m)

2. Induksi tegangan-hukum
Faraday

Apabila medan magnet berubah-ubah


terhadap waktu, akibat arus bolak-balik
yang berbentuk sinusoid, suatu medan
listrik akan dibangkitkan atau diinduksikan.
Hubungan ini dinyatakan oleh Hukum
Faraday. Medan magnet atau fluks yang
berubah-ubah pada inti besi gaya gerak
listrik (ggl) sebesar :
e = -Nd
dt
e = - d / dt

Induksi tegangan-hukum
Faraday

dengan :
= N. merupakan fluks medan magnet
= Menyatakan harga fluks yang berubahubah terhadap
waktu.
Perubahan fluks yang menghasilkan gaya
gerak listrik (ggl) tersebut dapat terjadi
karena :
1. Perubahan fungsi waktu (t) akibat arus
bolak-balik yang berbentuk sinusoid
seperti diuraikan di atas.
2. Fungsi putaran () akibat perputaran rotor
pada mesin-mesin dinamis.

Induksi tegangan-hukum
Faraday
Secara lebih terperinci, hukum Faraday
dapat dituliskan sebagai berikut :
E=-d
dt B dA
eind = - d
dt
Oleh karena karena flux merupakan fungsi putaran
dan fungsi waktu (t) maka :
eind = - d (,t)
dt

d (,t) = + I dt

t
eind = - ( ) ( ) -
t
t
Atau
e (induksi) = e (rotasi) + e (trasformasi).
Untuk trasformator hanya terdapat gejala induksi karena
trasformasi yaitu e (trasformasi). Untuk mesin arus searah
hanya terdapat e (rotasi),sedangkan pada mesin arus
bolak-balik terdapat e(rotasi) maupun e(trasformasi)

Konsep rangkaian magnet


Arus listrik (i) yang dialirkan melalui
penghantar yang dibelitkan pada inti besi
yang berbentuk cincin toroidal akan
menghasilkan medan magnet yang
sebanding dengan jumlah lilitan (N)
dikalikan dengan besaran arus listrik(i).
Ampere-turn Ni ini dikenal sebagai gaya
gerak magnet (ggm) dan
dinyatakan dengan notasi F.
F = Ni ampere-turn
Gaya gerak magnet (ggm) adalah
perbedaan

Konsep rangkaian magnet


potensial magnet yang cenderung menggerak
kan fluks disekitar cincin, selain ditentuka oleh
besaran ggm, juga merupakan fungsi dari taha
nan inti besi yang membawa fluks tersebut.
Tahanan inti besi itu disebut reluktansi R dari
rangkaian magnet.
= F weber
R
Seperti juga tahanan dalam rangkaian listrik,
reluktansi berbanding lurus dengan panjang (l)

Konsep rangkaian magnet


berbanding terbalik dengan penampang luas
bidang (A), dan bergantung pada bahan
magnetik tersebut, dengan besaran l dalam
meter dan A dalam meter persegi :
R = l/ A ampere-turn/weber

Kurva magnetasi
Perhitungan

rangkaian magnet dapat pula dilakukan


pendekatan grafik dengan penjelasan sebagai berikut
:
B = /A = F/AR
= F/A(l/A)
= F/l
= H weber /m
dengan :
H = F/l = Ni/l ampere-turn/m

Kurva magnetasi

Besaran H disebut kuat medan dan merupakan


harga ggm per unit panjang. Untuk rangkaian
magnet yang seragam harga ggm per unit
panjang inti besi adalah konstan. Oleh karena itu,
harga kuat medan H sepanjang jalur inti besi
juga adalah konstan. Persamaan di atas
memperlihatkan hubungan sifat magnetik suatu
bahan dengan permeabilitas , yang dapat
ditunjukkan melalui kurva kerapatan fluks B
sebagai fungsi dari kuat medan H, yang biasanya
disebut kurva B-H atau kurva magnetasi.

Kurva magnetasi

Kurva B-H hanya dipengaruhi oleh jenis


bahan yang dipakai dan tidak bergantung
pada dimensi bahan tersebut. Apabila
diketahui harga ampere-turn Ni dan harga
panjang rata-rata jalur fluksi, maka harga
medan Ni/ l jatuh pada sumbu horizontal,
dan secara grafik dengan mudah dapat
ditentukan kerapatan fluksi B yang terletak
pada sumbu ordinat tegaknya.

Gaya Gerak Listrik


Apababila sebuah konduktor digerakkan
tegak lurus sejauh d, memotong suatu
medan magnet dengan kerapatan fluks B,
maka perubahan fluks pada konduktor
dengan panjang relatif l ialah : d = Bl.ds
dari hukum Farraday diketahui bahwa gaya
gerak listrik (ggl) e = d / dt maka :
e = B /ds/dt
ds/dt = v (kecepatan)
Jadi, e = B /v

v
B

Ar
S

Arah gaya gerak listrik ini ditentukan oleh


aturan tangan kanan dengan jempol,telunjuk
dan jari tengah yang saling tegak lurus
menunjukkan masing-masing arah v, B dan e.
Bila konduktor tersebut dihubungkan dengan
beban seperti misalnya tahanan maka pada
konduktor tersebut mengalir arus yang

menjauhi kita dan digambarkan simbol ujung


belakang anak panah (x), sedangkan arus
yang mendekati kita digambarkan dengan
simbol ujung depan anak panah (.)
Persamaan e = Bl.v dapat diartikan bahwa
apabila dalam medium medan magnet
diberikan
energi
mekanik
(untuk
menghasilkan kecepatan v), maka akan
dibangkitkan energi listrik (e) dan ini
merupakan prinsip dasar sebuah generator.

KOPEL

Arus listrik I yang dialirkan di dalam suatu medan


magnet
dengan
kecepatan
fluks
B
akan
menghasilkan gaya F sebesar :
F = BI.l
Arah gaya ini ditentukan oleh aturan tangan
kiri,dengan jempol telunjuk dan jari tengah yang
saling tegak lurus menunjukkan masing-masing
arah F, B, dan I.
Persamaan F = BI.l merupakan prinsip sebuah
motor, di mana terjadi proses perubahan energi
listrik (I) menjadi energi mekanik (F).

Bila jari-jari
dibangkitkan :
T=Fxr
= BI.l.r

rotor

adalah

r,

kopel

yang

B
U

F
Perlu diingat bahwa pada saat gaya F
dibangkitkan, konduktor bergerak di dalam medan
magnet dan seperti diketahui akan menimbulkan
gaya gerak listrik yang merupakan reaksi (lawan)
terhadap tegangan

penyebanya. Agar proses konversi energi listrik


menjadi mekanik (motor) dapat berlangsung,
tegangan sumber yang harus lebih besar
daripada gaya gerak listrik lawan.
Suatu
gerak konduktor di dalam medan
magnet akan membangkitkan tegangan yaitu:
e = Bl V dan bila dihubungkan dengan beban,
akan mengalir arus listrik (I) atau energi
mekanik berubah menjadi energi listrik
(generator).
Arus listrik (I) yang mengalir pada konduktor
tadi merupakan medan magnet dan akan
berinteraksi dengan medan magnet yang
telah ada (B). Interaksi medan magnet

merupakan gaya reaksi (lawan) terhadap


gerak mekanik yang diberikan, agar
konversi energi mekanik ke energi listrik
dapat berlangsung, energi mekanik yang
diberikan haruslah lebih besar daripada
gaya reaksi tadi.

Mesin Dinamik Elementer

Pada umumnya mesin dinamik terdiri atas


bagian yang berputar disebut rotor dan
bagian yang diam disebut stator. Di antara
rotor dan stator terdapat celah udara.

Pada stator merupakan kumparan medan


yang berbentuk kutub sepatu dan rotor
merupakan kumparan jangkar dengan
belitan
konduktor
(kumparan)
saling
dihubungkan.
Kumparan jangkar terletak pada setiap alur
rotor tersebut perlu saling dihubungkan
ujungnya untuk mendapatkan tegangan
induksi (ggl) yang lebih besar.Dengan
demikian tegangan yang dibangkitkan
berubah-ubah arahnya setiap setengah
putaran, sehingga merupakan tegangan
bolak-balik (AC), dimana :
e = Emaks. Sin t

INTERAKSI MEDAN
MAGNET

Kerja suatu mesin dinamik dapat juga dilihat


dari segi adanya interaksi antara medan
magnet stator dan rotor,yaitu :
F = B.I.
Seperti diketahui arus listrik (I) pada
persamaan diatas akan menimbulkan fluks
juga sekitar konduktor yang dilalui.
Bila kerapatan fluks akibat arus listrik (I)
dinyatakan dengan Br, sedang kerapatan fluks
akibat kumparan medan adalah Bs, maka
dapat dituliskan : T = KBrBs. Sin

Dimana : = sudut antara kedua sumbu


medan magnet Br dan Bs
K = kontanta ( x r )
Sudut dikenal sebagai sudut kopel atau
sudut daya dengan harga maksimumnya
=90. Dengan menganggap Br dan Bs
sebagai fungsi arus rotor dan arus stator,
persamaan kopel menjadi :
T = KIrIs sin
Pembahasan di atas menjelaskan bahwa
terjadinya kopel dapat dianggap sebagai
adanya interaksi antara dua medan magnet
atau antara dua arus.

ANALISA FASOR, FAKTOR DAYA


DAN PERHITUNGAN TIGA FASA

Di dalam bidang elektroteknik, persoalan yang


menyangkut
besaran-besaran
arus
dan
tegangan dapat dihitung dengan cara
melakukan pengukuran, karena besaran
tersebut memang nyata ada dalam suatu
rangkaian.
Fasor menyatakan transformasi dari fungsi
waktu ke dalam bidang kompleks yang
mengandung informasi tentang amplitudo dan
sudut fasa.

Daya Listrik
Definisi daya secara umum adalah besarnya
energi
tiap
satuan
waktu.
Satuan
Internasional untuk daya adalah Watt, yang
diambil dari nama James Watt (1736-1819)
yang menyatakan bahwa :
P=W/t
Dimana :
P = Daya (Watt)
W = Energi (Joule)
t = Waktu (Detik)

Secara umum telah diketahui bahwa disetiap


rangkaian listrik apabila terdapat beban pada
ujung saluran dan diberikan sumber tegangan
pada awal saluran, maka akan terdapat arus
yang mengalir. Dengan mensubtitusikan
persamaan energi, maka akan diperoleh :
P = W / t
P = W .I.t /t
P = V.I
Dengan pendekatan lainnya yakni dengan
mensubtitusikan persamaan Hukum Ohm dari
persamaan di atas, maka akan diperoleh
persamaan :

P =V.I
=(I.R).I
= I2 . R
Atau :
P= V . I
=V.(V/R)
= V2 / R
Dimana :
P = Daya (Watt)
V= Tegangan sumber (Volt)
I = Arus yang mengalir (Ampere)
R= Tahanan (Ohm)

Segitiga Daya
Energi disipasi beban disebut sebagai daya
aktif sehingga daya aktif (active power)
adalah daya yang terpakai untuk melakukan
energi
sebenarnya.
Daya
aktif
dilambangkan oleh huruf P dan satuannya
adalah W (Watt). Misalnya energi panas,
cahaya, mekanik dan lain-lain. Persamaan
daya aktif pada rangkaian sistem 1 phasa
dan 3 phasa adalah
P
= 3 V . I Cos
3

P1

= V . I Cos

Daya Reaktif

Energi yang hanya terserap dan kembali


kesumbernya karena sifat beban yang reaktif
disebut sebagai daya reaktif sehingga daya reaktif
adalah jumlah daya yang diperlukan untuk
pembentukan
medan
magnet
dimana
dari
pembentukan medan magnet maka akan terbentuk
fluks medan magnet. Daya reaktif dilambangkan
oleh huruf Q dan satuannya adalah VAR (Volt
Ampere Reaktif). Contoh daya yang menimbulkan
daya reaktif adalah transformator, motor, lampu
pijar dan lain-lain. Persamaan daya reaktif pada
rangkaian sistem 1 phasa dan 3 phasa adalah :

Q1 = V . I Sin
Q3 = 3 V . I Sin
Daya Semu adalah Energi total dalam
rangkaian arus bolak balik, baik yang
dihamburkan, diserap dan yang kembali
disebut sebagai daya semu sehingga daya
semu (apparent power) adalah daya yang
dihasilkan oleh perkalian antara tegangan rms
dan arus rms dalam suatu jaringan atau daya
yang merupakan hasil penjumlahan vektoris
daya aktif dan daya reaktif. Daya semu
dilambangkan oleh huruf S dan satuannya
adalah VA (Volt Ampere).

Gambar :1. Segitiga Daya

Persamaan matematis daya semu


berdasarkan gambar (1) di atas dapat
dinyatakan sebagai penjumlahan vektoris
dari daya aktif dan daya reaktif sehingga
persamaannya menjadi sebagai berikut :
Dengan demikian, persamaan matematis
daya semu pada rangkaian sistem 1 phasa
dan 3 phasa adalah :
S = P + Q
S1
=V.I
S3
= 3 V . I

Sifat Beban Listrik


Pada sistem arus bolak balik (alternating current),
arus dapat berbeda phasa dengan tegangan yang
disebabkan oleh jenis beban yang digunakan. Jenis
beban listrik dibedakan menjadi 3 bagian, yakni
beban resistif, beban induktif dan beban kapasitif.
Beban Resistif

Beban resistif yakni beban listrik resistor murni.


Contohnya lampu pijar dan pemanas. Beban ini
hanya menyerap daya aktif (Watt) dan tidak
menyerap daya reaktif (VAR) sama sekali
sehingga arus dan tegangannya se-phasa .

Gambar : 2 Arus dan Tegangan pada Beban Resistif

Beban Induktif

Beban induktif yakni beban listrik yang mengandung kumparan


kawat yang dililitkan pada sebuah inti besi. Contohnya induktor,
motor listrik, AC (Air Conditioner) dan transformator. Beban ini
mempunyai faktor daya antara 0 sampai dengan 1 lagging karena
beban ini menyerap daya aktif dan daya reaktif sehingga arus
tertinggal dari tegangan sebesar .

Gambar :3 Arus dan Tegangan pada Beban Induktif

Gambar :4 Segitiga Daya Beban Induktif

Beban Kapasitif

Beban kapasitif, yakni beban listrik yang


mengandung suatu rangkaian kapasitor.
Beban ini mempunyai faktor daya antara 0
sampai dengan 1 leading karena beban
ini menyerap daya aktif dan mengeluarkan
daya reaktif sehingga arus mendahului
tegangan sebesar .

Gambar : 5 Arus dan Tegangan pada Beban Kapasitif

Gambar : 6 Segitiga Daya Beban Kapasitif

Dari gambar segitiga daya beban di atas


terlihat bahwa dengan bertambahnya suatu
beban (induktif maupun kapasitif) akibat
adanya suatu sudut phasa yang berbeda
maka selain arus I cos, pada arus I sin
juga ikut bertambah. Hal ini mengakibatkan
perubahan nilai daya semu dan besarnya
sudut yang menyebabkan merendahnya
nilai faktor daya. Gambar di bawah
memperlihatkan perubahan sudut karena
pertambahan beban induktif

Gambar : 7 Perubahan Sudut

Dari gambar di atas memperlihatkan bahwa


sistem ini telah mengalami perubahan didalam
pembebanannya sehingga cos1 < cos2 atau
telah terjadi penurunan faktor daya yang
disebabkan oleh bertambahnya beban yang
dalam hal ini beban induktif.

Faktor daya adalah perbandingan antara daya


aktif dan daya semu atau dapat juga
didefinisikan sebagai cosinus sudut antara
daya aktif dan daya semu. Sehingga dapat
diketahui bahwa nilai daya reaktif yang tinggi
akan meningkatkan sudut ini dan hasilnya
adalah nilai faktor daya menjadi menurun.

Gambar : 8 Faktor Daya

Dari gambar di atas, maka persamaan untuk nilai


faktor daya beban dapat dirumuskan sebagai berikut :
Factor Daya = Daya aktif
Daya semu
=P/S
Factor Daya = V I Cos phi
Nilai suatu faktor daya beban akan selalu lebih kecil
sama dengan satu. Jika seluruh beban daya yang
dipasok oleh perusahaan listrik memiliki faktor daya
satu, maka daya maksimum yang ditransfer akan
setara dengan kapasitas sistem pendistribusiannya.
Sehingga dapat diketahui bahwa daya reaktif (kVAR)
harus dibuat serendah mungkin untuk daya aktif (kW)
yang sama, hal ini bertujuan untuk meminimalkan
kebutuhan daya total (kVA) atau dengan kata lain
memperbaiki faktor daya agar mendekati satu.

Penyebab

Faktor

Daya

Rendah

Faktor daya yang rendah dihasilkan oleh peralatan


listrik seperti motor-motor induksi terutama pada
beban-beban rendah dan unit-unit ballast lampu
pelepas (discharger lighting) yang memerlukan arus
magnetisasi reaktif sebagai penggeraknya serta alatalat las busur listrik yang mengalami faktor daya yang
rendah. Medan magnet dari peralatan-peralatan
tersebut memerlukan arus yang tidak bermanfaat
untuk menimbulkan kerja mekanis atau panas, tetapi
tetap diperlukan hanya sebagai pembangkit medan.
Faktor daya yang buruk tersebut menyebabkan
tegangan dan arus menjadi berbeda phasa, sehingga
perkaliannya tidak menghasilkan daya dalam Watt
tetapi dalam Volt Ampere.

Kerugian Faktor Daya Rendah

Rendahnya faktor daya disebabkan oleh


besarnya daya reaktif. Daya reaktif yang
terlalu besar ini tidak memberikan kerja,
melainkan diserap oleh saluran dan disimpan
dalam
bentuk
elektromagnetik.
Dengan
besarnya daya reaktif, maka menyebabkan
beberapa kerugian yang antara lain adalah :
1.Kapasitas penyaluran daya dari saluran
penghantar akan menurun. Bila faktor daya
rendah maka arus akan membesar sedangkan
kapasitas penghantar adalah tetap.

2.Dengan bertambahnya daya reaktif, maka


kebutuhan akan arus induktifnya akan
menjadi lebih besar sehingga untuk
mendapatkan daya nyata yang baik
diperlukan penambahan daya semu dan hal
ini berarti harus memperbesar kapasitas
(kebutuhan instalasi listrik) yaitu dengan
memperbesar rating pengaman arus lebih
dan ukuran penghantar yang lebih besar.
Sehingga diperlukan penambahan biaya
yang dengan kata lain mengakibatkan
kebutuhan listrik yang lebih besar.

3.Bertambahnya rugi-rugi pada saluran


penghantar dan peralatan listrik pada
jaringan distribusi skunder mengakibatkan
arus beban relatif menjadi lebih besar. Rugirugi ini biasanya disebut rugi-rugi tembaga
berupa
panas
yang
terjadi
pada
penghantar.

TERIMA KASIH
atas perhatiannya