Anda di halaman 1dari 4

BAB 8.

TITRASI IODOMETRI
I.
II.

Tujuan
Menentukan kadar tembaga dengan titrasi iodimetri
Dasar Teori
Peroses oksidasi reduksi atau redoks menyangkut perubahan
elektron pada zat-zat yang bereaksi. Oksidasi adalah peristiwa pelepasan
elektron dan reduksi adalah peristiwa pengikatan elektron. Iodium adalah
oksidator lemah, sedangkan iodida merupakan suatu reduktor kuat.
Persamaan reaksi pada reaksi iodium adalah:
I2 (s) + 2e2IPada titrasi dengan menggunakan iod ada dua istilah yang lazim
digunakan untuk menitrasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara
kuantitafi pada titik ekivalensi. Reaksi oksidasi yang berlangsung dengan
larutan iodium di antaranya dengan H2S,H2SO4,H2ASO4,Sn2+ dan S2O32-.
Dengan cara iodometri oksidator yang di analisis dereaksikan
dengan iodida berlebih dengan suasana larutan yang cocok, dan iodium
yang dibebaskan secara kuantitatif dititrasi antara lain dengan larutan baku
natrium tiosulfat. Cara iodometri dapat diguanakan untuk menganalisa
oksidator

yang kuat.

Di antaranya

MnO 4-,Cr2O72-,BrO3-,IO3-,CIO3-

HNO3,CU2+ dan HOCI. Pada iodimetri atau iodometri titik akhir titrasinya
didasarkan atas terbentuknya iodium bebas. Adanya iodium dapat
ditunjukkan dengan adanya indikator amilum atau dengan pelarut organik
(CHCI atau CCI4) yang dapat mengekstraksi iodium di anataranya:
a. Iodium mudah menguap
b. Dalam suasana asam, iodida akan dioksidasi oleh O2 dari udara.
4I- + O2 + 4H+
2I2 + 2H2O
Larutan iodium dalam air yang mengandung iodida berwarna
kuning sampai jingga. Indikator kanji dengan iodium yang mengandung
akan senyawa kompleks yang berwarna biru. Ada beberapa hal yang perlu
di perhatikan pada pengunaan indikator kanji, yaitu:
a. Kanji tidak larut dalam air dingin
b. Suspensi kanji tidak stabil (mudah rusak)
c. Senyawa kompleks dengan iodium dengan kanji keadaannya stabil (tidak
reversibel), jika konsentrasi I2 nya tinggi (pekat). Penambahan indikator

dilakukan setelah jumlah iodium seminimal mingkin. Indikator lainnya


dapat dipakai pada iodometri adalah CCI4 dan CHCI3.
Logam tembaga atau ion tembaga dapat ditetapkan kadarnya secara
iodometri dengan cara mengubahnya menjadi ion tembaga (II) dan
selanjutnya direaksikan dengan iodida dan I2 yang dititrasi dengan
larutan natrium tiosulfat.
2Cu2+ + 4I2CuI (s) + I2
2I2 + 2S2O3
S4O62- + 2IUntuk mendapatkan hasil titrasi yang sempurna dilakukan pada suasana
pH larutan 4-4,5. Hal ini dilakukan dengan menambahkan asam asetat
sehingga terjadinya buffer asam asetat natrium asetat. Jika pada larutan
ion tembaga (II) terdapat asam mineral, tambahkan beberapa tetes larutan
natrium karbonat sampai tidak terjadi gas dan bila ada endapan tambahkan
III.

beberapa tetes asam asetat.


Alat dan Bahan
- Alat
1. Erlenmeyer 100mL
2. Pipet tetes
3. Gelas ukur
50mL
4. Gelas ukur
10mL
5. Batang pengaduk
6. Neraca analitik
7. Alat titrasi
8. Kaca arloji

IV.

: 2 buah
: 2 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah
: 1 buah

Bahan
1. CuSO4
2. Aquades
3. KI 20%
4. Na2S2O3 (0,1N)
5. Indikator kanji 1%
6. Larutan KIO3 0,1N
7. HCI 4N
8. H2SO4
Langkah Kerja
- Standarisasi larutan Na2S2O3 (0,1N)
1. Memipet 10mL larutan standar KIO3 0,1N ke dalam erlenmeyer

2.
3.
4.
5.

Menambahkan 2mL H2SO4


Menabhakan 2,5 mL KI 20%
Menutup erlenmeyer dengan plastik hitam dan karet
Menitrasi sampel yang sudah dibuat dengan Na2S2O3 standar

sampai berwarna kuning pucat


6. Menambahkan 1mL amilum 1%
7. Melanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang dengan

pengocokan kuat
8. Menghitung konsentrasi Na2S2O3
Menentukan kadar tembaga dengan dititrasi dengan larutan standar
Na2S2O3 (0,1N)
1. Memipet 10mL CuSO4 kedalam erlenmeyer 250mL.
2. Memipet 10mL dan masukkan ke dalam erlenmeyer, di tambahkan
10mL HCI 4N, 10mL KI 20%.
3. Tutup dengan plastik hitam dan ditali dengan karet.
4. Lubangi plastik kemudian titrasi dengan larutan natrium tiosulfat
0,1N sampai berwarna kuning pucat.
5. Tambahkan indikator amilum 1% sebanyak 3 tetes lalu lanjutkan

V.

titrasi sampai warna biru tepat hilang.


6. Menghitung kadar tembaga.
Hasil Percobaan
- Standarisasi Na2S2O3 (0,1N) dengan larutan standar KIO3 0,1N.
Vol. Awal

0,00 ml

0,00 ml

0,00 ml

Vol. Akhir

10,70 ml

10,50 ml

10,60 ml

Vol. Na2S2O3

10,70 ml

10,50 ml

10,60 ml

Volume rata-rata penitir = I + II : 2 = 10,50 + 10,60 : 2 = 31,8 : 2


= 10,50ml
Konsentrasi Na2S2O3
V1 N1 = V2 N2
10ml 0,1ml = 10,55 N2
N2 = 1 : 10,60 = 0,094 N
Menentuka kadar tembaga dengan dititrasi dengan larutan standar
Na2S2O3 0,0892 N.

Vol. Awal

0,00 ml

0,00 ml

0,00 ml

Vol. Akhir

10,30 ml

10,50 ml

10,60 ml

Vol.

Na2S2O3 N10,30 ml

10,50 ml

10,60 ml

0,0892N

VI.

Volume rata-rata penitir = I + III : 2 = 10,30 + 10,60 : 2 = 21,10 : 2


= 10,50 ml
Kadar tembaga
= 100 : Vol.tembaga NNa2S2O3 VNa2S2O3 Bm/n CuSO4 : 1000
= 100 : 10 0,094 10,55 161 : 1 : 1000
= 10 159,6637 : 1000
= 10 0,1596637
= 1,596637 = 1,60 gram/ml

Pembahasan
Pada titrasi iodometri, titrasi reduksi oksidasinya menggunakan
larutan iodium. Titrasi iodometri pada percobaan ini, suatu larutan
oksidator ditambahkan dengan kalium iodida berlebih dan iodium yang
dilepaskan serta jumlah oksidator dititrasi dengan larutan baku natrium
tiosulfat Na2S2O3. Dengan melakukan percobaan yang pertama adalah
standarisasi larutan Na2S2O3. 0,1N dengan larutan KIO3 0,1N dengan
menambahkan larutan KIO3 0,1N kedalam erlenmeyer, dan campurkan
2ml H2SO4 4N serta 2,5ml KI 20% dan tutup erlenmeyer dengan plastik
hitam kemudian titrasi sampai berwarna kuning pucat dan tambahkan 1ml
amilum 1% dan titrasi dengan kocokan yang kuat. Dan hitung hasil
kosentrasi Na2S2O3. Percobaan selanjutnya menentukan kadar tembaga
dengan titrasi larutan standar Na2S2O3 ( 0,1N) dengan menambahkan
10ml. HCL 4N dan KI 205. Tutup dengan palastik kemudian titrasi dengan
larutan natrium tiosulfat 0,1N sampai berwarna kuning pucat, tambahkan
indikator amilum 1% sebanyak 3 tetes lanjut titrasi sampai warna biru
tepat hilang dan menghitung kadar tembaga.
VII.

Kesimpulan
Dari hasil semua percobaan diatas kita dapat mengetahui hasil
standarisasi Na2S2O3 0,1N dengan KIO3 0,1N dengan volume rata-rata
10,50ml dan konsentrasi 0,094N dan hasil dari kadar tembaga dengan
volume rata-rata 10,50ml dan kadar tembaga 1,60 gram/100ml.

VIII.

Daftar pustaka
Buku petunjuk praktikum kimia anorganik.