Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN ANAK

ATRESIA ANI DI RUANG KEMUNING BAWAH


RSUD TANGERANG
TAHUN 2016

CHRISTIANUS S. GHOE
150510004

Mengetahui
Pembimbing Akademik

Mengetahui
C.I

(Feny Kusumadewi, S.Kp, M.Kep)

PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANTEN
2016

LAPORAN PENDAHULUAN ATRESIA ANI


A. Pengertian
Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforata
meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya (Betz, 2002). Atresia ani merupakan
kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna,Wong 2003)
dalam (Nurhayati, 2009). Atresia ani atau anus imperforadis adalah suatu keadaan lubang
anus yang tidak berlubang (putra, 2012). Atresia ani adalah bentuk kelainan bawaan
dimana tidak adanya lubang dubur terutama pada bayi (Rukiyah & Yulianti, 2010).
B. Klasifikasi
Terdapat beberapa macam pengelompokkan menurut klasifikasi Ladd dan Groos (1966),
atresia ani dikelompokkan dalam 4 golongan, yaitu:
a) Stenosis rectum yang ebih rendah atau pada anus.
b) Membrane anus yang menetap.
c) Anus imperforate dan ujung rectum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak
dari peritoneum.
d) Lubang anus yang terpisah dengan dubur (Nurhayati, 2009).
C. Etiologi
Etiologi sebenarnya dari atresia ani ini belum di ketahui pasti, namun ada sumber
yang mengatakan bahwa kelainan atresia ani di sebabkan oleh beberapa faktor :
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir
tanpa lubang dubur.
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus,
rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu
keempat sampai keenam usia kehamilan (Rukiyah & Yulianti, 2010).
D. Patofisiologi
Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari
bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan

struktur anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal.
Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur
kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal. Kegagalan migrasi dapat juga
karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak
ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan
sehungga intestinal mengalami obstrksi (Nurhayati, 2009).
E. PATHWAY
F. Tanda dan Gejala
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani terjadi dalam waktu 24-48 jam. Gejala
itu dapat berupa bayi kesulitan mengeluarkan mekonium, perut kembung, muntah, tidak
bisa buang air besar, dan pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik
dapat dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan (Nurhayati, 2009).
G. Komplikasi

Obstruksi instestinal atau tersumbatnya saluran pencernaan


Bowel incontinence atau kontipasi
(putra, 2012).

H. Pemeriksaan Penunjang
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
3. Ultrasound (USG) terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh
karena massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
6. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.

7. Rontgenogram abdomen dan pelvis


Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktus urinarius.(Nurhayati, 2009)
I. Penatalaksanaan
1.
2.
3.
4.
5.

Dilakukan pembedahan untuk membentuk lubang anus


Dilakukan rujukan untuk foto rontgen
Dokter bedah akan membuatkan lubang anus sementara.
Apabila ususnya pendek, maka akan ditarik dan dibuat lubang
Apabila ususnya panjang, biasanya dibuatkan dulu lubang lewat dinding perut

J. Pengkajian
1. Pengkajian Pada Anak
a. Kaji biodata pasien.
b. Tanpa mekonium dalam 24 jam setelah lahir.
c. Kaji adanya pasase mekonium.Perhatikan bila mekonium tampak pada
orifisium yang tidak tepat.
d. Kaji feses yang seperti korban pada bayi yang lebih besar atau anak kecil yang
mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi abdomen.
e. Kaji adanya tinja dalam urine dan vagina.
2. Pengkajian Pada Orang Tua
a. Kaji riwayat kehamilan
b. Kaji riwayat infeksi
c. Kaji psikososial keluarga
d. Kaji pengetahuan keluarga
3. Pemeriksaan Fisik
a. Periksa keadaan anus. Adanya malformasi anorektal tidak terbentuk anus.
b. Perikasa ada atau tidaknya pistula rektovaginal dan fistula rekburetra
Pada pengkajian keperawatan pasien dengan atresia ani akan ditemukan
data-data sebagai berikut:
1. Penyumbatan anus ( anus tidak normal ).
2. Adanya kembung dan muntah pada 24-28 jam setelah lahir.
3. Pada bayi laki-laki dengan fistula urinary didapatkan mekonium
pada urine dan pada bayi perempuan dengan fistula urogenital
ditemukan mekonium dalam vagina.
4. Pada pemeriksaan fisik ( dengan memasukkan jari kelingking
dengan memakai sarung tangan atau juga dengan memasukkan
thermometer sepanjang 2cm ) tidak ditemukan anus secara
normal.

5. Adanya berbagai bentuk seperti stinosis rectum yang lebih rendah


atau juga pada anus.
6. Membrane anus yang menetap.
7. Adanya fistula antara rectum dan tractus urinaria.
8. Adanya fistula antara rectum, vagina atau perineum pada
perampuan.
K. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma post op colostomy.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan

dengan

ketidakmampuan dalam mencerna makanan.


4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan immobilisasi.
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya insisi pembedahan.
L. Rencana Asuhan Keperawatan
Menurut (Nanda, 2015)
1. Dx 1
: Resiko infeksi berhubungan dengan trauma post op colostomy
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selamaproses keperawatan
diharapkan pasien tidakmengalami tanda-tanda infeksi.
NOC
: Knowledge : Infection Control
Kriteria Hasil :
a. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi
b. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi
penularan serta penatalaksanaannya.
c. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
d. Jumlah leukosit dalam batas normal.
e. Menunjukkan perilaku hidup sehat.
NIC : Infection Control
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Batasi pengunjung bila perlu.


Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan.
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung.
Tingkatkan intake nutrisi.
Berikan terapi antibiotic bila perlu.

2. Dx 2 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik


Tujuan
: Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama proseskeperawatan
diharapkan nyeri berkurang / hilang.
NOC
: Pain Control

Kriteria Hasil :
a. Mengenal faktor penyebab
b. Mengenal serangan nyeri
c. Gunakan tindakan preventif
d. Gunakan tindakan pertolongan non analgetik
e. Gunakan analgetik yang tepat
NIC : Pain Management
Intervensi :
a. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor presipitasi.
b. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan.
c. Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga.
d. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab, berapa lama terjadi
e.
f.
g.
h.
i.
3. Dx 3

dan tindakan pencegahan.


Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi
Berikan analgetik sesuai anjuran
Tingkatkan tidur istirahat yang cukup
Monitor kenyamanan pasien terhadap management nyeri.
Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri.
: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhanberhubungan dengan

ketidakmampuan dalam mencerna makanan


Tujuan
: Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selamaproseskeperawatan
diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
NOC : Nutritional Status
Kriteria Hasil :
a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.
b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan.
c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.
d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
NIC : Nutrition Management
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kaji adanya alergi makanan.


Anjurkan pasien untuk meningkat intake Fe.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake protein.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.

4. Dx 4 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan immobilisasi.


Tujuan
: Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan tidak terjadi intoleransi aktivitas.
NOC : Activity Tolerance
Kriteria Hasil :
a. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik

tanpa

disertai

peningkatan

TD,Nadi,RR.
b. Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri.
NIC : Activity Theraphy
Intervensi :
a. Kolaborasi dengan tenaga rehabilitas medik dalam merencanakan
program terapi yang tepat.
b. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dapat dilakukan.
c. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas.
d. Bantu klien membuat jadwal latihan di waktu luang
5. Dx 5 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya insisi pembedahan.
Tujuan
: Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selamaproses keperawatan
diharapkan integritas kulit kembali baik / normal.
NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes
Kriteria Hasil :
a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
b. Tidak ada luka / lesi pada kulit
c. Perfusi jaringan baik
d. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah
terjadinya cedera berulang
e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan
perawatan alami
NIC : Pressure Management
Intervensi :
a. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
b. Hindari kerutan pada tempat tidur
c. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
d. Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali
e. Monitor kulit akan adanya kemerahan
f. Oleskan lotion / minyak / baby oil pada daerah yang tertekan
g. Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat.
https://www.academia.edu/8685826/ASKEP_PADA_PASIEN_ATRES
IA_ANI